<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://perspektif.co/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Perspektif</id>
	<title>Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia - Kontribusi pengguna [id]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://perspektif.co/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=Perspektif"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/Istimewa:Kontribusi_pengguna/Perspektif"/>
	<updated>2026-05-26T09:59:12Z</updated>
	<subtitle>Kontribusi pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.43.0</generator>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Kontak&amp;diff=748</id>
		<title>Kontak</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Kontak&amp;diff=748"/>
		<updated>2021-05-20T05:39:21Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Jika Anda menemukan masalah ketika mengunjungi situs atau aplikasi SABDA, Anda dapat menghubungi kami di [http://issues.sabda.org Form Laporan Masalah/Saran].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan lewatkan berita-berita terbaru di YLSA dengan mengunjungi link berikut: [http://news.sabda.org SABDA NEWS].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda juga bisa memberikan saran atau masukan dengan mengisi form pada link berikut: [http://kontak.sabda.org/?link=form4 Form Kontak].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terima kasih!&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=MediaWiki:Sidebar&amp;diff=747</id>
		<title>MediaWiki:Sidebar</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=MediaWiki:Sidebar&amp;diff=747"/>
		<updated>2021-04-27T05:44:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;* SEARCH&lt;br /&gt;
* navigation&lt;br /&gt;
** {{SITENAME}}|Perspektif&lt;br /&gt;
** Tentang|Tentang&lt;br /&gt;
** http://kontak.sabda.org/?link=form4|Kontak&lt;br /&gt;
** http://news.sabda.org|SABDA NEWS&lt;br /&gt;
* TOOLBOX&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Suku,_Bahasa_Dan_Penerjemah&amp;diff=746</id>
		<title>Suku, Bahasa Dan Penerjemah</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Suku,_Bahasa_Dan_Penerjemah&amp;diff=746"/>
		<updated>2016-04-28T10:23:36Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{william townsend}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::William Cameron Townsend mendirikan Wycliffe Bible Translators dan juga, Summer Institute of Linguistics. Bermula sebagai mahasiswa yang bertugas membagikan beberapa Alkitab berbahasa Spanyol, dia terkejut dengan keyakinan bahwa Alkitab bahasa Spanyol tidak cocok bagi suku-suku Indian di Guatemala. Dia menyelesaikan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Cakchiquel pada tahun 1931 dan melanjutkan perhatiannya ke suku-suku yang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Orang lain tidak lama kemudian menyusul usahanya. Menggunakan perkembangan linguistik dan teknologi, para penerjemah Wycliffe menjelajah seluruh dunia dalam 50 tahun terakhir, mengembangkan sistem tulisan bagi bahasa-bahasa oral, menerjemahkan beberapa bagian Alkitab, memperkaya masyarakat-masyarakat suku dan juga menfasilitasi respons mereka menghadapi tekanan kelompok mayoritas. “Paman Cam” telah diakui dan dihargai oleh raja-raja dan presiden dan juga oleh “orang kecil” di dunia. Sejumlah orang Kristen yang semakin bertambah di seluruh dunia bergabung bersama dengan visinya untuk menerjemahkan Alkitab bagi orang-orang yang belum memiliki Alkitab. Paman Cam meninggal pada tahun 1982 di usia 85.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lima puluh tahun yang lalu, ketika saya memutuskan untuk menerjemahkan Firman Allah bagi orang-orang Indian Cakchiquel, suku besar di Amerika Tengah, teman-teman mengatakan pada saya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Jangan bodoh. Orang-orang Indian tersebut tidak layak untuk menerima apa yang diperlukan untuk memperlajari bahasa aneh mereka dan menerjemahkan Alkitab bagi mereka. Mereka bahkan tidak bisa membaca. Biarkan orang-orang Indian itu belajar bahasa Spanyol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Teman-teman saya menggunakan argumen yang sama empat belas tahun kemudian, bahkan setelah melihat perubahan yang dibawa Firman Allah ke suku Cakchiquels, saya bermimpi menjangkau semua suku yang lain. Ketika saya memasukan juga kelompok suku yang kecil dan primitif di daerah Amazon ke dalam rencana saya, teman-teman saya menambahkan argumen lain. Kata seorang misionaris yang sudah tua dan berpengalaman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Mereka akan membunuhmu. Suku-suku hutan itu sudah sekarat. Mereka saling membunuh dan juga akan membunuh orang luar dengan busur atau panah mereka. Jika mereka tidak membunuhmu, malaria akan membunuhmu, atau kanomu akan terbalik di aliran sungai dan kamu akan tanpa persediaan makan dan berada di wilayah yang jauhnya sebulan lebih dari tempat pasokan. Lupakan suku-suku yang lain, dan tetaplah dengan suku Cakchiquels.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Tetapi saya tidak bisa melupakan mereka, dan suatu hari Allah memberikan saya sebuah ayat yang menyelesaikan masalah ini bagi saya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang. Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? (Mat. 18:11-12)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ayat tersebut membimbing saya, saya mencari “satu domba yang terhilang,” dan empat ribu pria dan wanita yang masih muda turut serta dengan usaha ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kami menyebut diri kami “Wycliffe Bible Translators” untuk mengenang John Wycliffe, yang pertama kali memberikan Alkitab kepada semua orang yang berbahasa Inggris. Setengah dari anggota kami terjun dalam usaha linguistik dan penerjemahan ke antara suku-suku, membawakan Firman ke tengah mereka. Setengah lainnya merupakan anggota pendukung: guru, sekretaris, pilot, mekanik, pencetak, dokter, perawat, akuntan dan orang lain yang menjaga jalur pasokan. Peralatan kami adalah linguistik dan Firman, dijalankan dalam kasih dan semangat pelayanan kepada semua orang tanpa membedakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Suku-suku tersebut sedang dijangkau. Halangan geografis, yang pada awalnya begitu kuat, sekarang ini telah diatasi oleh pesawat-pesawat kami dan radio-radio gelombang pendek. Ilmu yang baru dikembangkan yaitu linguistik deskriptif  mengatasi halangan bahasa yang aneh. Sihir, pembunuhan, takhayul, ketidakpedulian, ketakutan dan penyakit digantikan oleh Terang Firman, kemampuan baca tulis, obat-obatan dan hubungan dengan orang-orang terbaik di dunia luar. Orang-orang suku dulunya berada di luar kehidupan bangsanya sekarang sedang diubahkan. Apakah perubahan tersebut muncul di gunung-gunung di Meksiko bagian Selatan, hutan-hutan di Amazon atau daerah padang gurun di Australia, itu merupakan langkah luar biasa keluar dari yang lama kepada hal yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Pintu-pintu ke dalam suku-suku dengan cepat terbuka bagi jenis pendekatan kami. Cara program penerjemahan Alkitab dijalankan selama lima puluh tahun terakhir mendorong kita untuk penyelesaian tugas penginjilan. Untuk membawa Firman Allah kepada lebih dari 3.000 suku yang belum memiliki Alkitab, lebih banyak penerjemah dan anggota pendukung yang dibutuhkan. Kecepatan harus ditingkatkan. Setiap terjemahan membutuhkan waktu lima sampai 25 tahun bahkan lebih dan tidak hanya melibatkan ahli bahasa yang kita utus ke setiap suku tetapi juga satu atau lebih informan pribumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Secara politik, ini seperti hari bagi negara dan suku yang terabaikan. Secara rohani, ini merupakan hari mereka juga. Orang di Lukas 14:16 mengundang banyak orang ke perjamuan besar yang telah dipersiapkannya, tetapi mereka menolak. Kemudian dia mengirim utusannya ke kota-kota dan mengundang orang banyak yang ada di jalan, tetapi masih ada tempat kosong. Terakhir dia mengutus orangnya ke daerah-daerah untuk menjadi tamu. Mereka datang. Mungkin telah tiba hari yang sudah lama dinantikan, suatu kesempatan di mana para suku yang terabaikan yang tidak memiliki kesempatan akhirnya mendengar Injil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita tahu bahwa semua suku tersebut harus mendengar pesan kasih Allah, karena mereka juga termasuk dalam Amanat Agung dan dalam penglihatan nubuat tentang sejumlah besar orang-orang yang telah ditebus yang dicatat dalam Wahyu 7:9,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Mereka dapat berada di sana hanya jika mereka mendengar Firman dalam bahasa yang mereka bisa mengerti. Bagaimana lagi mereka bisa diselamatkan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kiranya Tuhan mengarahkan hati banyak orang untuk bergabung bersama kami dalam menyelesaikan tugas yang telah Tuhan berikan untuk menjangkau setiap suku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Terobosan_Orang-orang_Zaraban&amp;diff=745</id>
		<title>Terobosan Orang-orang Zaraban</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Terobosan_Orang-orang_Zaraban&amp;diff=745"/>
		<updated>2015-09-14T19:15:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;big&amp;gt;&#039;&#039;Ken Harkin dan Ted Moore&#039;&#039;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Ken Harkin dan Ted Moore bekerja bersama sebagai bagian dari tim badan multi perwakilan yang didedikasikan untuk melihat pengikut-pengikut bagi Kristus ada diantara orang-orang Zaraban. Ted meninggal ketika melayani orang-orang Zaraban. Ken dan lainnya terus melanjutkan pekerjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Catatan berikut mengenai sebuah terobosan di negara M diceritakan dalam kata-kata seorang rekan misionaris, Ted Moore. Saya (Ken) menjabat sebagai anggota pekerja tim misi Ted yang telah berdoa dan bekerja di wilayah Zaraban sejak tahun 1991. Peristiwa-peristiwa yang diceritakan di sini terjadi pada tahun 1999. Nama orang-orang dan kelompok etnis telah diubah. Salah satu orang percaya pertama di Zaraban, seorang pria bernama Abdul mulai mengikuti Kristus di tahun 1980-an. Perlu diperhatikan bahwa sebagian besar kelompok orang Zaraban tinggal di daerah terpencil yang telah sangat mendukung pernyataan fundamentalis M. Pemuda dari daerah ini telah direkrut dan dilatih untuk bertempur dalam jihad, atau perang suci M, di negara-negara terdekat. Salah satu tokoh kunci dalam cerita ini adalah Rashad, salah satu saudara Abdul. Pada waktu cerita ini, Rashad baru kembali dari pelatihan sebagai seorang pejuang jihad di negeri tetangga.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Tidak lama setelah peristiwa ini, Ted tertular penyakit yang sulit untuk diobati di wilayah di mana dia bekerja. Ted meninggal dalam beberapa hari. Dia berusia empat puluhan. Berikut ini adalah versi  yang diedit dari salah satu laporan berkala terakhir untuk teman dan keluarga yang mendukungnya. Laporan ini tidak hanya mewakili pengamatan Ted dan saya sendiri, tetapi juga beberapa rincian seperti yang diceritakan kepada kita oleh keluarga pada hari-hari dan minggu-minggu berikutnya.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pertama kali Abdul datang untuk tinggal di rumah kami, ayahnya meminta saya untuk mengambil peran membimbing dalam hidup anaknya. Saya setuju dan mengatakan kepadanya bahwa itu termasuk akan mengajar Abdul tentang iman dalam Yesus Sang Mesias, yang disetujui oleh ayahnya. Sejak saat itu, lima tahun yang lalu, visi dan doa kami adalah bahwa seluruh keluarga akan bergabung dengan Abdul menjadi pengikut Juruselamat. Demikian juga, Ken, rekan kerja saya yang terus memuridkan Abdul di tahun pertama itu, ketika Sarah dan saya ke luar negeri, memiliki keinginan dan visi yang sama untuk keluarga. Pernah dalam sebuah pesta pernikahan, anggota keluarga mengatakan kepada Ken bahwa mereka sangat berharap bahwa melalui &amp;quot;ghusl&amp;quot; (baptisan) di dalam nama Yesus mereka akan dibebaskan dari rasa takut terhadap &amp;quot;jin&amp;quot; (setan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama bertahun-tahun kami berteman dengan keluarga Abdul, Ken dan saya telah beberapa kali melakukan perjalanan dari kota dimana kami tinggal ke rumah keluarganya di daerah pedesaan yang terpencil. Sangatlah penting untuk bersama keluarganya selama liburan Idul Fitri ketika seekor hewan dipersembahkan untuk memperingati kerelaan Abraham mempersembahkan  anaknya. Berikut ini  adalah kisah kunjungan kami yang terbaru. Kami harus mengatasi penjadwalan berbeda yang sulit namun akhirnya dapat tiba pada hari Minggu pagi - sebelum liburan besar. Kami tiba tepat pada waktunya untuk melihat dan berpartisipasi dalam apa yang Allah telah lakukan di saat kami tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Surat dan Mimpi Rasyad===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami siap untuk perjalanan ini, kami telah merenungkan surat dari saudara Abdul, Rashad, yang telah saya terima dua minggu sebelumnya. Rasyad selalu ingin menjadi seorang pemimpin agama M. Suratnya penuh dengan pernyataan positif tentang bagaimana kita berdoa, seberapa sering kita berdoa dan Tuhan menjawab doa-doa kita. Dia menyebutkan perubahan dalam kehidupan dan karakter Abdul. Pada saat itu ia membaca &amp;quot;Biografi Yesus.&amp;quot; Kami yang ramah-M. Dia mengajukan beberapa pertanyaan khusus tentang kata-kata dari bagian tertentu dari Kitab Suci dan mengakhiri suratnya dengan kalimat berikut: &amp;quot;Saya ingin menjadi salah satu dari Anda. Tolong bimbing saya. &amp;quot; Kami tidak yakin apa yang sebenarnya dia maksudkan, mengingat beberapa perdebatan sengit kami dengan dia dalam pertemuan terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pergi, Ken dan Abdul bersama-sama doa. Di tengah-tengah doa, keduanya merasa sangat tergerak untuk berdoa bagi Allah untuk pergi dengan cara yang khusus di perjalanan. Ken secara khusus merasa dipimpin untuk berdoa bagi suatu keajaiban yang akan membawa seluruh keluarga terdiri dari 16 orang beriman di dalam Yesus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mobil kecil kami melakukan tindakan heroik sekali lagi, mengantarkan kami di sana Sabtu larut malam. Perjalanan pribadi tanpa kendaraan roda empat yang kokoh biasanya tidak direkomendasikan di pedalaman daerah ini. Kami mengejutkan setiap orang dalam keluarga Abdul ketika kami tiba sekitar 6:45 pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sarapan, Rashad bersemangat untuk duduk-duduk dan mengobrol dengan kami tentang surat yang telah dia kirim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mulai dengan mengatakan kepada kita tentang mimpi yang baru saja dialami pada malam sebelumnya, ketika kami masih dalam perjalanan. Dalam mimpi ia melihat seorang pria berpakaian putih dengan lengan yang terlentang. Pria itu mengatakan kepadanya bahwa ia memiliki bakat khusus untuknya dan mengirimkan utusan yang akan membimbingnya pada bakat itu. Dan sekarang di sinilah kami di depannya! Rashad bercerita banyak hal kepada kami, termasuk kenyataan bahwa ia sekarang percaya jihad adalah salah, dan bahwa jalan cinta kasih adalah jalan kebenaran dan kekuasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Putusan: &amp;quot;Kita semua akan mengikuti jalan Yesus!&amp;quot;===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berbicara tentang hal-hal yang Yesus katakan di dalam Kitab Suci mengenai ibadah palsu yang membuatnya terkesan - bagaimana ibadah kami tidak ada gunanya jika di tengah-tengah ibadah itu kita ingat ada saudara bersalah dan tidak meninggalkan ibadah kita untuk berdamai. Dia menegaskan bahwa ia ingin menjadi salah satu dari kami, mengikuti jalan Kristus dan meminta kami membimbingnya. Ken bertanya, &amp;quot;Apa yang Anda kira merupakan langkah berikutnya untuk mengikuti Yesus? &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasyad menjawab bahwa seluruh keluarga harus mendengar bahwa dia siap untuk mengikuti Yesus sehingga mereka dapat mengikuti-Nya juga. Ken dan saya saling memandang dengan tatapan tak percaya dan cukup pulih untuk mengatakan, &amp;quot;Eh, benar. Itu ide yang baik. Anda melakukan itu dan kami akan duduk di ruangan lain dan berdoa. &amp;quot;Keluarga - wanita, anak-anak, semua orang – dengan cepat berkumpul dan kami berdoa di ruangan lain. Segera, Rashad kembali dengan putusan: &amp;quot;Ya, kami semua akan mengikuti jalan Yesus Sang Mesias! &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Lebih Terkenal daripada Pepsi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, Rashad mengantar saya ke kota sehingga saya bisa menggunakan telepon untuk menelepon istri saya, Sarah. Dia bercerita tentang bagaimana ia telah mengumpulkan beberapa temannya dalam beberapa minggu terakhir menjelaskan kepada mereka tentang cara Mesias- terutama tentang doa yang nyata yang bukan hanya untuk pertunjukan. Banyak orang yang sangat tertarik. Lebih banyak orang yang terkejut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami tiba di fasilitas telepon jarak jauh di desa, Rasyad menunjukkan tanda Pepsi di jalanan. Lalu ia berkata, &amp;quot;Anda tahu nama ini, Pepsi, lebih terkenal di seluruh dunia daripada nama Yesus. Kami harus mengatasi kelemahan kita dan bersaing dengan mereka sehingga nama-Nya menjadi lebih terkenal daripada Pepsi. &amp;quot; Selama waktu itu keluarga yang memiliki perusahaan membawakan kita beberapa RC cola minuman dingin. Rashad mengatakan, &amp;quot;RC oke, tapi tidak ada Pepsi lagi untuk saya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Momen Kritis===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara kami ada di desa, Ken telah memakai peluang untuk memberikan gambaran singkat dari Injil Markus kepada sisa keluarga (beberapa belum pernah mendengar banyak kisah kehidupan Yesus sebelumnya). Dia menjelaskan bahwa &amp;quot;ghusl&amp;quot; (baptisan) adalah salah satu langkah awal ketaatan untuk masuk ke dalam jalan Yesus Sang Mesias. Dia bertanya pada masing-masing individual apakah mereka mengerti dan bersedia untuk mengikuti jalan ini. Ayah, ibu, saudara perempuan dan saudara laki-laki - mereka semua berkata, &amp;quot;Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami tiba kembali sewaktu Ken selesai memberikan tur cepatnya tentang Injil Markus. Ken dan saya masih terus tertegun. Kami mulai merasakan beratnya apa yang akan terjadi selanjutnya. Seluruh kelompok orang secara signifikan meresap dengan Injil untuk pertama kalinya dalam sejarahnya yang panjang. Apa yang kita lakukan di saat-saat kritis kemungkinan akan terulang selama bertahun-tahun diantara orang-orang Zaraban tersebut. Apa yang kami dorong untuk mereka lakukan adalah menghiasi pesan Injil ataupun membuat blok sandungan bagi banyak orang lain yang akan berusaha untuk mengikuti Kristus di masa depan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdoa lagi. Ketaatan mereka harus sederhana dan langsung. Seharusnya relevan secara budaya dan bahasa. Seharusnya direproduksi secara lokal. Seharusnya untuk pribadi tetapi komunal-dalam rumah, tetapi tidak sebagai individu yang bertindak sendiri. Seharusnya merupakan tindakan penyembahan dan pujian penuh dengan ketergantungan pada kuasa Roh Kudus. Jadi kami mulai memetakan strategi kami untuk hari upacara baptisan selanjutnya bagi seluruh keluarga yang akan diadakan sebelum perayaan Idul Fitri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul tidak mengalami semua yang baru saja terjadi dalam keluarganya, karena ia telah pergi keluar kota untuk sebuah tugas. Ken dan saya sepakat untuk tidak mengatakan apa-apa sampai kakaknya punya kesempatan untuk memberitahu dia kabar baiknya. Ketika Rasyad memberitahu Abdul bagaimana semua keluarga telah memutuskan untuk mengikuti Yesus, Abdul tertegun. Setelah kakaknya pergi meninggalkan ruangan, Abdul memeluk kami dan memuji Tuhan dengan banyak air mata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi masih ada beberapa masalah. Seorang saudara lain dan istrinya tidak pernah hadir dalam selama ini. Ken dan saya mulai khawatir bahwa ia mungkin akan mencegah semua yang kami harapkan. Jadi kami mendesak Abdul untuk pergi berbicara dengan saudara ipar tentang semua ini karena kakak masih bekerja. Abdul membulatkan tekadnya dan pergi ke dapur (ruang berdinding lumpur dengan lubang api di tengah) untuk berbicara dengannya. Dia mulai dengan pembicaraan kecil, bermain dengan bayi dan gugup berputar kepada subjek. Dia menjawab santai, &amp;quot;Oh ya, ibumu dan saudara telah menjelaskan semuanya padaku. Aku bagian dari keluarga Anda dan siap untuk melakukan hal ini. &amp;quot;Ketika Abdul kembali, ia raut wajah keheranannya meyakinkan kami bahwa semua telah berjalan dengan baik, bahkan sebelum dia mengatakan kepada kami apa yang telah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu orang terakhir yang harus diberitahu- saudara yang hilang. Sebelum kami bisa bertemu dengannya, pertama kami harus mengunjungi paman Abdul. Ini membutuhkan waktu beberapa jam. Ketika kami tiba di toko saudara laki-laki, Rashad sudah ada! Saya kira kami harus menebak. Dia sudah menjelaskan semuanya kepadanya, dan dia setuju tapi ingin bertanya satu pertanyaan di pagi hari setelah giliran malam dan sebelum upacara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mati terhadap Yang Lama, Hidup Dengan Yang Baru===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan paginya kami bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan penampungan air untuk baptisan. Saudara lain Abdul mengajukan pertanyaannya: &amp;quot;Apakah ini berarti kita menjadi orang-orang Kristen? &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul tahu apa maksudnya. Dia menjawab, &amp;quot;Tidak, kami tidak akan menjadi tukang minum alkohol, pemakan daging babi atau mencoba untuk bergabung dengan yang kelompok etnis berbeda. Kami akan mengikuti ajaran-ajaran dan kehidupan Yesus Sang Mesias. &amp;quot;Oh, bagus,&amp;quot; jawabnya. Jadi kami semua berkumpul untuk pembaptisan. Ken dan saya berbicara dalam bahasa nasional, dan Abdul menerjemahkan semuanya ke dalam dialek lokalnya. Saya memberitahu mereka tentang pengorbanan Mesias dan bagaimana Dia menawarkan pengampunan kepada kami. Ken mengatakan kepada mereka tentang kebangkitan dan kehidupan baru, kehidupan yang kekal. Kemudian Ken mengajukan tiga pertanyaan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Apakah Anda siap untuk mengikuti jalan Yesus Sang Mesias?&lt;br /&gt;
#	Apakah Anda bersedia untuk mematuhi perintah-Nya dengan iman untuk menerima &amp;quot;ghusl&amp;quot; (baptisan) dan bertobat?&lt;br /&gt;
#	Apakah Anda mengajak orang lain untuk mengikuti jalan ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul dan ayah Rashad, seorang pria pendiam yang biasa, memimpin dengan jawaban: &amp;quot;Ya, Puji Tuhan! Kami akan mengikuti jalan baru ini! Kami akan menerima &#039;ghusl. &amp;quot;Kami akan mengajak orang lain untuk bergabung dengan kami &amp;quot;bergabung! Semua orang lain mengikuti dengan sepenuh hati. Saya menjelaskan bagaimana baptisan melambangkan pencurahan Roh Kudus dalam hidup kita dan bahwa itu adalah langkah ketaatan, suatu tindakan penyembahan. Kami telah memutuskan bahwa Ken dan saya akan membaptis-ulang Abdul sehingga seluruh keluarga bisa melihat. Kemudian kami bertiga bersama-sama membaptis semua sisanya, menggunakan istilah Arab yang tepat sebagaimana layaknya di sebagian budaya M dalam urusan agama, bahkan jika mereka tidak berbicara bahasa Arab. Ken kemudian menyuruh mereka untuk mengganti pakaian mereka, dan saat mereka melakukannya, membayangkan diri mereka melepaskan kehidupan lamanya dan mengenakan yang baru. Penggambaran ini diulang lagi dan lagi oleh beberapa anggota keluarga selama dua hari berikutnya. Beberapa pertanyaan muncul lebih banyak. Ayah Abdul bertanya, &amp;quot;Haruskah kita pergi ke doa Idul Fitri seperti selalu kita lakukan atau haruskah  kita berhenti pergi? &amp;quot; Abdul menjawab bahwa sekarang doa-doa ini bisa dilakukan berdasarkan alasan yang benar, bukan untuk pamer pada orang lain, bukan sebagai sarana pengampunan dari dosa atau tugas, tapi karena kasih dan pujian bagi Allah yang menyelamatkan dan sebagai kesempatan untuk berdoa bagi komunitas kami. Kami semua pergi berdoa bersama. Kemudian tiba waktunya untuk ritual kurban anak domba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, Ken dan saya, dengan Abdul menerjemahkan, menjelaskan bagaimana kita tidak bisa merencanakan acara yang lebih sempurna untuk memasuki jalan Yesus Sang Mesias daripada hari kurban ini. Sungguh itu adalah saat yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Berlanjut di dalam Hidup yang Baru===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di hari itu, keluarga mengadakan pertemuan lain di mana mereka memutuskan mana di antara mereka yang harus menerima lebih banyak pelatihan untuk mengajarkan mereka tentang kehidupan baru mereka. Sejak Abdul tinggal dan bekerja jauh, mereka memilih Rasyad untuk melayani mereka semua dengan cara ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia senang, karena dia selalu ingin menjadi pemimpin rohani. Kami menumpangkan tangan di atasnya dan memohonkan berkat Allah padanya untuk pekerjaan ini. Mereka juga memutuskan bahwa Rasyad dan saudarinya harus datang dan tinggal di rumah kami selama seminggu pada suatu waktu setiap beberapa bulan, sehingga saudarinya akan diperlengkapi untuk mengajar para wanita juga. Itu ide yang sangat baik – sekali lagi kami tertegun. Banyak hal lain yang terjadi dalam urusan hari itu. Beberapa mulai berbagi tentang rasa damai yang mereka miliki, yang lain berbicara menggambarkan kehidupan baru mereka. Salah satu saudara menari dan bernyanyi, &amp;quot;saya memiliki hidup baru ... saya memiliki hidup baru!&amp;quot; Kami tidak yakin berapa ratus doa-doa yang dijawab dalam waktu dua hari. Kami tidak pernah melihat perubahan hati sedramatis itu di begitu banyak umat M yang datang kepada Kristus bersama-sama pada satu waktu. Jadi kami tetap terkagum-kagum sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Peristiwa-peristiwa di dalam kisah ini menyentuh banyak masalah kepemimpinan dan kontekstualisasi yang kompleks dalam waktu yang sangat singkat. Dua hal yang perlu diperjelas. Pertama, peristiwa-peristiwa dalam kisah ini adalah puncak dari 10 tahun lebih kerja keras dan tekun dari anggota-anggota beberapa organisasi. Kedua, peristiwa-peristiwa ini telah dilanjutkan dengan bertahun-tahun kerja yang sungguh-sungguh untuk: mengembangkan pemimpin, menggali kitab suci secara mendalam, mengatasi masalah pemuridan dan kontekstualisasi yang sulit, semuanya di tengah-tengah menghadapi berbagai krisis. Telah ada terobosan yang luar biasa sekaligus kemunduran yang menyakitkan. Namun peristiwa-peristiwa dalam kisah yang dramatis ini seharusnya memberi kita alasan yang kuat untuk semangat. Ted mengakhiri suratnya dengan bersukacita di dalam kenyataan bahwa &amp;quot;Dia yang Bangkit&amp;quot; hadir di antara kita dan &amp;quot;yang dapat melakukan lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan &amp;quot;(Ef 3:20)!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Budaya,_Wawasan_Dunia_dan_Konstekstualisasi&amp;diff=744</id>
		<title>Budaya, Wawasan Dunia dan Konstekstualisasi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Budaya,_Wawasan_Dunia_dan_Konstekstualisasi&amp;diff=744"/>
		<updated>2015-09-14T19:15:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: memindahkan Budaya, Wawasan Dunia dan Konstekstualisasi ke Budaya, Pandangan Dunia dan Kontekstualisasi&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;#ALIH [[Budaya, Pandangan Dunia dan Kontekstualisasi]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Budaya,_Pandangan_Dunia_dan_Kontekstualisasi&amp;diff=743</id>
		<title>Budaya, Pandangan Dunia dan Kontekstualisasi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Budaya,_Pandangan_Dunia_dan_Kontekstualisasi&amp;diff=743"/>
		<updated>2015-09-14T19:15:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: memindahkan Budaya, Wawasan Dunia dan Konstekstualisasi ke Budaya, Pandangan Dunia dan Kontekstualisasi&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{charles kraft}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan kunci bagi orang Kristen yang melayani secara lintas budaya adalah, “Apa pandangan Allah tentang budaya?” Sebagai contoh, apakah budaya Yahudi diciptakan oleh Allah dan karenanya dipaksakan kepada setiap orang yang mengikut Allah? Atau apa ada beberapa indikasi dalam Alkitab bahwa Allah memiliki pandangan yang berbeda? Saya percaya kita menemukan jawabannya dalam 1 Korintus 9:19-22, di mana Paulus mengartikulasikan pendekatannya (dan Allah) terhadap keragaman budaya. Paulus berkata, “bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi” tetapi “bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.” Pendekatannya adalah “bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang Kristen mula-mula adalah orang Yahudi. Adalah alami bagi mereka untuk percaya bahwa bentuk budaya di mana Injil datang kepada mereka merupakan bentuk yang paling benar bagi semua orang. Mereka percaya semua orang yang datang kepada Yesus juga harus bertobat dan mengikuti budaya Yahudi, tetapi Allah menggunakan rasul Paulus, yang sendirinya orang Yahudi, untuk mengajar generasi mula-mula ini dan generasi kita suatu pendekatan yang berbeda. Di dalam perikop di atas, Paulus menjelaskan pendekatan Allah. Kemudian di dalam Kisah Para Rasul 15:2 dan selanjutnya, kita menemukan Paulus sangat menentang pandangan umum dari gereja mula-mula dan mendukung hak bangsa-bangsa non-Yahudi untuk mengikuti Yesus di dalam konteks sosio-budaya mereka sendiri. Allah sendiri telah menyatakan, pertama-tama kepada Petrus (Kis. 10), dan kemudian kepada Paulus dan Barnabas, bahwa inilah cara yang benar, dengan memberikan Roh Kudus kepada bangsa-bangsa non-Yahudi yang tidak dipertobatkan ke dalam budaya Yahudi (Kis. 13-14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi Gereja terus-menerus melupakan pelajaran dari Kisah Para Rasul 15. Kita terus-menerus kembali kepada asumsi bahwa menjadi Kristen berarti menjadi seperti kita secara budaya. Setelah masa Perjanjian Baru, ketika gereja mengharuskan setiap orang untuk mengadopsi budaya Roma, Allah membangkitkan Luther untuk membuktikan bahwa Allah dapat menerima orang yang berbahasa Jerman dan beribadah dalam cara budaya Jerman. Kemudian Anglikanisme muncul untuk menunjukkan bahwa Allah dapat menggunakan bahasa dan budaya Inggris, dan Wesleyanisme bangkit untuk menunjukkan kepada rakyat jelata di Inggris bahwa Allah menerima mereka dalam budaya mereka. Jadi, senantiasa ada isu-isu budaya utama dalam perkembangan dari setiap denominasi baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sayangnya, masalah terus berlanjut. Orang-orang yang mengomunikasikan Injil terus memaksakan budaya atau denominasi mereka kepada para petobat baru. Jadi, jika kita mengikuti pendekatan Alkitab, kita harus mengadaptasi diri kita dan penyajian kita tentang pesan Allah sesuai dengan budaya orang yang menerima pesan kita, dan tidak salah menyajikan Allah seperti yang dilakukan beberapa orang Kristen Yahudi mula-mula (Kis. 15:1) dengan mengharuskan para petobat untuk menjadi seperti kita untuk bisa diterima oleh Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Definisi Budaya dan Wawasan Dunia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah budaya adalah label yang diberikan para antropolog kepada adat kebiasaan yang terstruktur dan asumsi yang mendasari wawasan dunia yang mengatur kehidupan orang. Budaya (termasuk wawasan dunia) adalah cara hidup orang, rancangan mereka untuk kehidupan, cara mereka mengatasi lingkungan biologis, fisik dan sosial. Budaya memiliki asumsi-asumsi yang dipelajari, memiliki pola (wawasan dunia), konsep dan perilaku, ditambah hasil berupa artifak (budaya secara materi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wawasan dunia, tingkatan budaya yang di dalam, merupakan perangkat asumsi-asumsi yang terstruktur secara budaya (termasuk nilai-nilai dan komitmen/kesetiaan) yang mendasari bagaimana orang menyadari dan berespons kepada realitas. Wawasan dunia tidak terpisah dari budaya. Wawasan dunia termasuk di dalam budaya sebagai tingkat terdalam dari berbagai presuposisi yang di atasnya orang mendasarkan kehidupan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah budaya bisa disamakan seperti sungai yang memiliki tingkat permukaan dan tingkat kedalaman. Permukaan dapat dilihat. Akan tetapi, kebanyakan sungai terletak di bawah permukaan dan sebagian besar tidak bisa dilihat. Apa pun yang terjadi di permukaan sungai dipengaruhi oleh fenomena di tingkat dalam seperti arus, kebersihan dan kekotoran sungai, objek lain di dalam sungai dan seterusnya. Apa yang terjadi di permukaan sebuah sungai merupakan respons dari fenomena eksternal dan sebuah manifestasi dari karakteristik pada tingkatan dalam dari sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian juga dengan budaya. Apa yang kita lihat di permukaan suatu budaya adalah perilaku manusia yang terpola. Tetapi pola atau perilaku yang terstruktur ini, meski mengesankan, merupakan bagian yang lebih kecil dari budaya. Pada kedalaman terdapat asumsi-asumsi yang kita sebut wawasan dunia, yang menjadi dasar orang mengatur perilaku pada tingkat permukaan mereka. Ketika sesuatu mempengaruhi permukaan suatu budaya, permukaan mungkin bisa berubah. Namun natur dan luas dari perubahan tersebut akan dipengaruhi oleh wawasan dunia pada tingkatan dalam yang menstruktur di dalam budaya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya (termasuk wawasan dunia) merupakan masalah struktur atau pola. Budaya tidak melakukan apa pun. Budaya seperti naskah yang diikuti oleh seorang aktor. Naskah memberi bimbingan di dalam mana para aktor biasanya beraksi, meskipun mereka bisa memilih untuk mengubah naskah, juga karena mereka telah melupakan sesuatu atau karena seseorang mengubah berbagai hal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa tingkatan budaya. Semakin tinggi tingkatannya, semakin besar keragaman termasuk di dalamnya. Sebagai contoh, kita mungkin berbicara mengenai budaya pada tingkat multinasional sebagai “budaya Barat” (atau wawasan dunia Barat), atau “budaya Asia,” atau “budaya Afrika.” Berbagai entitas budaya seperti itu mencakup sejumlah besar budaya nasional yang cukup beragam. Sebagai contoh, di dalam budaya Barat ada berbagai keragaman yang disebut Jerman, Prancis, Italia, Inggris dan Amerika. Di dalam budaya Asia ada keragaman yang disebut Tiongkok, Jepang dan Korea. Jadi, berbagai budaya nasional ini dapat memasukkan banyak subbudaya. Sebagai contoh di Amerika, kami memiliki Hispanik Amerika, India Amerika, Korea Amerika dan sebagainya. Di dalam subbudaya-subbudaya ini kita bisa berbicara tentang budaya komunitas, budaya keluarga bahkan budaya individu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, istilah “budaya” dapat merujuk pada jenis strategi (atau mekanisme mengatasi) yang digunakan orang dari banyak masyarakat yang berbeda. Jadi, kita dapat berbicara mengenai entitas seperti budaya kemiskinan, budaya orang tuli, budaya orang muda, budaya pekerja pabrik, budaya pengemudi taksi, bahkan budaya wanita. Mengidentifikasi orang dengan cara ini sering bermanfaat dalam menyusun strategi bagi penginjilan terhadap mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Orang dan Budaya ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menjadi hal umum bagi para ahli dan orang awam untuk merujuk kepada budaya seakan-akan budaya itu seorang pribadi. Kita sering mendengar berbagai pernyataan seperti “Budaya mereka membuat mereka melakukannya,” atau “Wawasan dunia mereka menentukan pandangan mereka akan realitas.” Perhatikan, kata kerja yang dimiringkan dalam pernyataan tersebut memberikan kesan bahwa suatu budaya bertingkah seperti seorang manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kuasa” yang menjaga orang tetap mengikuti naskah budaya mereka adalah sesuatu yang berada di dalam diri orang?kuasa kebiasaan. Budaya tidak memiliki kuasa di dalam dan dari dirinya sendiri. Orang secara teratur memodifikasi adat istiadat lama dan menciptakan yang baru, meskipun kebiasaan yang dihasilkan dalam kesesuaian yang besar sangatlah kuat. Penting bahwa kesaksian lintas budaya mengenali baik kemungkinan perubahan dan tempat serta kuasa kebiasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan yang kita buat diwujudkan dalam kontras antara kata budaya dan masyarakat. Budaya merujuk kepada struktur, tetapi masyarakat merujuk pada orang-orang itu sendiri. Ketika kita merasakan tekanan untuk menyesuaikan diri, adalah tekanan dari orang-orang (yaitu tekanan sosial) yang kita rasakan, bukan tekanan dari pola budaya (naskah) itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagan di bawah merangkum perbedaan antara perilaku orang dan pembentukan struktur budaya dari perilaku tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Budaya dan Wawasan Dunia Harus Dihormati ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembentukan struktur budaya/wawasan dunia berfungsi di luar diri kita dan di dalam diri kita. Kita benar-benar tenggelam di dalamnya, berhubungan dengannya seperti ikan kepada air. Dan kita biasanya sama tidak sadarnya seperti ikan yang tidak sadar perlunya air atau seperti kita biasanya tidak menyadari udara yang kita hirup. Memang, sebagian besar dari kita hanya memperhatikan budaya ketika kita pergi ke wilayah budaya lain dan mengamati adat istiadat yang berbeda dari kebiasaan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|- align=&amp;quot;center&amp;quot;&lt;br /&gt;
|width=&amp;quot;50%&amp;quot;|&#039;&#039;&#039;Orang (Masyarakat)&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|width=&amp;quot;50%&amp;quot;|&#039;&#039;&#039;Budaya&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|- align=&amp;quot;center&amp;quot;&lt;br /&gt;
|valign=&amp;quot;top&amp;quot;|&#039;&#039;&#039;Perilaku Tingkat Permukaan&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Apa yang kita lakukan, pikir, katakan atau rasakan entah sadar atau tidak sadar, sebagian besar kita lakukan secara kebiasaan dan juga secara kreatif&lt;br /&gt;
|valign=&amp;quot;top&amp;quot;|&#039;&#039;&#039;Struktur di Tingkat Permukaan&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Pola budaya yang terkait dengan apa yang biasanya kita lakukan, pikir, katakan atau rasakan.&lt;br /&gt;
|- align=&amp;quot;center&amp;quot;&lt;br /&gt;
|valign=&amp;quot;top&amp;quot;|&#039;&#039;&#039;Perilaku Tingkat Dalam&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berasumsi, menilai dan berkomitmen biasanya suatu kebiasaan tapi juga secara kreatif:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Berkenaan dengan memilih, merasakan, berpikir, menafsirkan dan menilai&lt;br /&gt;
# Berkenaan dengan menentukan arti&lt;br /&gt;
# Berkenaan dengan menjelaskan, berhubungan dengan orang lain, mengikat diri kita, dan mengadaptasi atau memutuskan untuk mencoba mengubah hal-hal yang terjadi di sekeliling kita.&lt;br /&gt;
|valign=&amp;quot;top&amp;quot;|&#039;&#039;&#039;Struktur di Tingkat Dalam&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
Pola-pola dalam hal kita menjalankan berbagai asumsi, penilaian dan komitmen dari perilaku di tingkat dalam. Pola memilih, merasakan, bernalar, menafsirkan, menilai, menjelaskan, berhubungan dengan orang lain, mengikat diri kita dan mengadaptasi atau memutuskan untuk mencoba mengubah hal-hal yang terjadi di sekeliling kita.&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, ketika kita melihat orang lain hidup menurut pola budaya dan asumsi-asumsi wawasan dunia yang berbeda dari yang kita miliki, kita sering merasa kasihan terhadap mereka, seolah-olah cara-cara mereka lebih rendah dari kita. Kita mungkin berusaha mencari cara untuk “menyelamatkan” mereka dari adat istiadat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, cara Yesus adalah menghormati budaya orang dan wawasan dunia yang menyertainya, bukan dengan merampas mereka dari hal itu. Sama seperti Yesus memasuki kehidupan budaya suku bangsa Yahudi untuk berkomunikasi dengan mereka, demikian juga kita harus masuk ke dalam jaringan kebudayaan kelompok suku bangsa yang berusaha kita menangkan. Mengikuti teladan Yesus, kita memperhatikan bahwa bekerja dari dalam budaya suatu kelompok suku melibatkan kritik alkitabiah terhadap budaya dan asumsi-asumsi wawasan dunia suku bangsa tersebut dan juga penerimaan akan keduanya sebagai titik berangkat. Jika kita harus bersaksi secara efektif, kita harus berbicara dan berperilaku dengan cara yang menghormati satu-satunya jalan hidup yang pernah mereka ketahui. Sama dengan itu, jika Gereja ingin penuh makna bagi kelompok suku yang menerima kesaksian Gereja, Gereja perlu menyesuaikan terhadap budaya mereka sama seperti yang Gereja mula-mula lakukan terhadap kehidupan berbagai suku bangsa di abad pertama. Kita menyebut gereja yang menyesuaikan diri tersebut sebagai “gereja dengan ekuivalen dinamis” (Kraft 1979), “gereja kontekstual” atau “gereja inkulturasi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Subsistem Budaya ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan wawasan dunia berada di pusat mempengaruhi semua budaya, kita dapat membagi budaya di tingkat permukaan ke dalam berbagai subsistem. Subsistem-subsistem ini menyediakan beragam ekspresi perilaku dari berbagai asumsi wawasan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para misionaris mungkin tergoda untuk menggantikan agama tradisi dengan bentuk religius Kekristenan Barat. Namun, kesaksian Kristen harus diarahkan pada wawasan dunia dari seuah kelompok suku agar kesaksian tersebut mempengaruhi masing-masing subsistem dari yang paling inti dalam budaya tersebut. Ada banyak subsistem budaya, sebagian telah digambarkan di bawah. Kelompok suku yang benar-benar sudah dipertobatkan (apakah di Amerika atau di tempat lain) perlu memanifestasikan berbagai sikap dan perilaku Kristen yang alkitabiah dalam segala kehidupan budaya mereka, bukan hanya dalam berbagai praktik agama saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita mau menjangkau kelompok suku bagi Kristus dan melihat mereka berkumpul menjadi gereja-gereja yang menghormati Kristus dan menegaskan budaya, kita akan harus menghadapi mereka dalam budaya mereka dan dalam hal wawasan dunia mereka. Diharapkan bahwa melalui memahami lebih lagi segala sesuatu tentang wawasan dunia dan budaya, kita dapat menghadapi keduanya dengan lebih bijak ketimbang kalau tidak memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Wawasan Dunia dan Perubahan Budaya ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sama seperti apa pun yang mempengaruhi akar dari sebuah pohon mempengaruhi buahnya, demikian pula apa pun yang mempengaruhi wawasan dunia sebuah kelompok suku akan mempengaruhi seluruh budaya dan, tentu saja, orang-orang yang bekerja dalam kerangka budaya suku tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus mengetahui hal ini. Ketika Dia ingin menjelaskan berbagai maksud yang penting, Dia menujukannya pada tingkat wawasan dunia. Seseorang bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?” Dia kemudian menceritakan sebuah kisah dan bertanya siapa yang bertindak baik terhadap sesamanya (Luk. 10:29-37). Dia sedang memimpin mereka untuk mempertimbangkan ulang dan mudah-mudahan mengubah nilai dasar di dalam sistem mereka. Pada kesempatan yang lain Yesus berkata, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu … siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Mat. 5:39, 43, 44).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Sekali lagi benih sedang ditanam untuk perubahan pada tingkatan wawasan dunia. ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perubahan di tingkat dalam sering menghasilkan keseimbangan. Ketidakseimbangan apa pun di pusat wawasan dunia dari sebuah budaya cenderung menghasilkan kesulitan di seluruh sisa budaya. Sebagai contoh, orang Amerika percaya di tingkat wawasan dunia mereka bahwa mereka tidak dapat dikalahkan dalam perang, tetapi kemudian mereka tidak menang di Vietnam. Dalam tahun-tahun berikutnya, suatu perasaan mendalam akan demoralisasi menjalar ke seluruh masyarakat, berkontribusi besar pada ketidakseimbangan yang terjadi di era tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang berniat baik dapat menyebabkan berbagai masalah wawasan dunia utama ketika mereka memperkenalkan berbagai perubahan yang baik dan menerapkannya pada tingkat permukaan tanpa perhatian yang tepat terhadap berbagai makna di tingkat dalam yang kepadanya orang melekat. Sebagai contoh, persyaratan yang dibuat para misionaris agar orang Afrika yang memiliki lebih dari satu istri harus menceraikan istri yang lain sebelum bisa dibaptis membawa orang Afrika Kristen dan non-Kristen kepada asumsi-asumsi wawasan dunia tertentu yang terkait dengan Allah orang Kristen. Di antaranya: Allah melawan para pemimpin dalam masyarakat Afrika, Allah tidak suka wanita mendapat pertolongan dan teman di rumah. Allah ingin pria diperbudak oleh satu istri (sama seperti orang kulit putih), dan Allah menyukai perceraian, tidak suka pertanggungjawaban sosial dan bahkan suka prostitusi. Tidak satu pun dari berbagai kesimpulan ini yang tidak rasional atau berlebihan dari sudut pandang orang Afrika. Meskipun kita percaya Allah ingin setiap manusia hanya memiliki satu istri, perubahan ini terlalu cepat dipaksakan, tidak seperti pendekatan Allah dalam Perjanjian Lama yang begitu bersabar di mana Ia membutuhkan banyak generasi untuk menghapuskan adat istiadat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan perubahan yang baik, jika perubahan tersebut diperkenalkan dalam cara yang salah dapat membawa kepada degradasi budaya atau bahkan tidak bermoral. Di antara suku Ibibio di wilayah selatan Nigeria, pesan pengampunan Allah menghasilkan banyak orang berbalik kepada Allah Kristen karena Dia dilihat lebih toleran daripada allah tradisi mereka. Para petobat melihat tidak perlu menjadi benar, karena mereka percaya Allah pasti mengampuni mereka apa pun yang pernah mereka lakukan. Di dalam suku Aborigin di Australia, di antara suku Yir Yoront, para misionaris memperkenalkan kapak baja untuk menggantikan kapak batu tradisional. Ini membawa dampak yang sangat merusak karena kapak diberikan kepada wanita dan orang muda, yang secara tradisi diharuskan meminjam kapak dari para pria yang lebih tua. Perubahan ini, meskipun memberikan teknologi yang lebih baik kepada kelompok suku di sana, menantang asumsi-asumsi wawasan dunia mereka. Ini membawa kepada kehancuran otoritas dari para pemimpin di sana, perpecahan sosial yang luas dan kepunahan dari suku tersebut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Terobosan_Orang-orang_Zaraban&amp;diff=742</id>
		<title>Terobosan Orang-orang Zaraban</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Terobosan_Orang-orang_Zaraban&amp;diff=742"/>
		<updated>2015-09-14T19:15:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;big&amp;gt;&#039;&#039;Ken harkin dan Ted Moore&#039;&#039;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Ken Harkin dan Ted Moore bekerja bersama sebagai bagian dari tim badan multi perwakilan yang didedikasikan untuk melihat pengikut-pengikut bagi Kristus ada diantara orang-orang Zaraban. Ted meninggal ketika melayani orang-orang Zaraban. Ken dan lainnya terus melanjutkan pekerjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Catatan berikut mengenai sebuah terobosan di negara M diceritakan dalam kata-kata seorang rekan misionaris, Ted Moore. Saya (Ken) menjabat sebagai anggota pekerja tim misi Ted yang telah berdoa dan bekerja di wilayah Zaraban sejak tahun 1991. Peristiwa-peristiwa yang diceritakan di sini terjadi pada tahun 1999. Nama orang-orang dan kelompok etnis telah diubah. Salah satu orang percaya pertama di Zaraban, seorang pria bernama Abdul mulai mengikuti Kristus di tahun 1980-an. Perlu diperhatikan bahwa sebagian besar kelompok orang Zaraban tinggal di daerah terpencil yang telah sangat mendukung pernyataan fundamentalis M. Pemuda dari daerah ini telah direkrut dan dilatih untuk bertempur dalam jihad, atau perang suci M, di negara-negara terdekat. Salah satu tokoh kunci dalam cerita ini adalah Rashad, salah satu saudara Abdul. Pada waktu cerita ini, Rashad baru kembali dari pelatihan sebagai seorang pejuang jihad di negeri tetangga.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Tidak lama setelah peristiwa ini, Ted tertular penyakit yang sulit untuk diobati di wilayah di mana dia bekerja. Ted meninggal dalam beberapa hari. Dia berusia empat puluhan. Berikut ini adalah versi  yang diedit dari salah satu laporan berkala terakhir untuk teman dan keluarga yang mendukungnya. Laporan ini tidak hanya mewakili pengamatan Ted dan saya sendiri, tetapi juga beberapa rincian seperti yang diceritakan kepada kita oleh keluarga pada hari-hari dan minggu-minggu berikutnya.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pertama kali Abdul datang untuk tinggal di rumah kami, ayahnya meminta saya untuk mengambil peran membimbing dalam hidup anaknya. Saya setuju dan mengatakan kepadanya bahwa itu termasuk akan mengajar Abdul tentang iman dalam Yesus Sang Mesias, yang disetujui oleh ayahnya. Sejak saat itu, lima tahun yang lalu, visi dan doa kami adalah bahwa seluruh keluarga akan bergabung dengan Abdul menjadi pengikut Juruselamat. Demikian juga, Ken, rekan kerja saya yang terus memuridkan Abdul di tahun pertama itu, ketika Sarah dan saya ke luar negeri, memiliki keinginan dan visi yang sama untuk keluarga. Pernah dalam sebuah pesta pernikahan, anggota keluarga mengatakan kepada Ken bahwa mereka sangat berharap bahwa melalui &amp;quot;ghusl&amp;quot; (baptisan) di dalam nama Yesus mereka akan dibebaskan dari rasa takut terhadap &amp;quot;jin&amp;quot; (setan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama bertahun-tahun kami berteman dengan keluarga Abdul, Ken dan saya telah beberapa kali melakukan perjalanan dari kota dimana kami tinggal ke rumah keluarganya di daerah pedesaan yang terpencil. Sangatlah penting untuk bersama keluarganya selama liburan Idul Fitri ketika seekor hewan dipersembahkan untuk memperingati kerelaan Abraham mempersembahkan  anaknya. Berikut ini  adalah kisah kunjungan kami yang terbaru. Kami harus mengatasi penjadwalan berbeda yang sulit namun akhirnya dapat tiba pada hari Minggu pagi - sebelum liburan besar. Kami tiba tepat pada waktunya untuk melihat dan berpartisipasi dalam apa yang Allah telah lakukan di saat kami tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Surat dan Mimpi Rasyad===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami siap untuk perjalanan ini, kami telah merenungkan surat dari saudara Abdul, Rashad, yang telah saya terima dua minggu sebelumnya. Rasyad selalu ingin menjadi seorang pemimpin agama M. Suratnya penuh dengan pernyataan positif tentang bagaimana kita berdoa, seberapa sering kita berdoa dan Tuhan menjawab doa-doa kita. Dia menyebutkan perubahan dalam kehidupan dan karakter Abdul. Pada saat itu ia membaca &amp;quot;Biografi Yesus.&amp;quot; Kami yang ramah-M. Dia mengajukan beberapa pertanyaan khusus tentang kata-kata dari bagian tertentu dari Kitab Suci dan mengakhiri suratnya dengan kalimat berikut: &amp;quot;Saya ingin menjadi salah satu dari Anda. Tolong bimbing saya. &amp;quot; Kami tidak yakin apa yang sebenarnya dia maksudkan, mengingat beberapa perdebatan sengit kami dengan dia dalam pertemuan terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pergi, Ken dan Abdul bersama-sama doa. Di tengah-tengah doa, keduanya merasa sangat tergerak untuk berdoa bagi Allah untuk pergi dengan cara yang khusus di perjalanan. Ken secara khusus merasa dipimpin untuk berdoa bagi suatu keajaiban yang akan membawa seluruh keluarga terdiri dari 16 orang beriman di dalam Yesus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mobil kecil kami melakukan tindakan heroik sekali lagi, mengantarkan kami di sana Sabtu larut malam. Perjalanan pribadi tanpa kendaraan roda empat yang kokoh biasanya tidak direkomendasikan di pedalaman daerah ini. Kami mengejutkan setiap orang dalam keluarga Abdul ketika kami tiba sekitar 6:45 pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sarapan, Rashad bersemangat untuk duduk-duduk dan mengobrol dengan kami tentang surat yang telah dia kirim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mulai dengan mengatakan kepada kita tentang mimpi yang baru saja dialami pada malam sebelumnya, ketika kami masih dalam perjalanan. Dalam mimpi ia melihat seorang pria berpakaian putih dengan lengan yang terlentang. Pria itu mengatakan kepadanya bahwa ia memiliki bakat khusus untuknya dan mengirimkan utusan yang akan membimbingnya pada bakat itu. Dan sekarang di sinilah kami di depannya! Rashad bercerita banyak hal kepada kami, termasuk kenyataan bahwa ia sekarang percaya jihad adalah salah, dan bahwa jalan cinta kasih adalah jalan kebenaran dan kekuasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Putusan: &amp;quot;Kita semua akan mengikuti jalan Yesus!&amp;quot;===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berbicara tentang hal-hal yang Yesus katakan di dalam Kitab Suci mengenai ibadah palsu yang membuatnya terkesan - bagaimana ibadah kami tidak ada gunanya jika di tengah-tengah ibadah itu kita ingat ada saudara bersalah dan tidak meninggalkan ibadah kita untuk berdamai. Dia menegaskan bahwa ia ingin menjadi salah satu dari kami, mengikuti jalan Kristus dan meminta kami membimbingnya. Ken bertanya, &amp;quot;Apa yang Anda kira merupakan langkah berikutnya untuk mengikuti Yesus? &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasyad menjawab bahwa seluruh keluarga harus mendengar bahwa dia siap untuk mengikuti Yesus sehingga mereka dapat mengikuti-Nya juga. Ken dan saya saling memandang dengan tatapan tak percaya dan cukup pulih untuk mengatakan, &amp;quot;Eh, benar. Itu ide yang baik. Anda melakukan itu dan kami akan duduk di ruangan lain dan berdoa. &amp;quot;Keluarga - wanita, anak-anak, semua orang – dengan cepat berkumpul dan kami berdoa di ruangan lain. Segera, Rashad kembali dengan putusan: &amp;quot;Ya, kami semua akan mengikuti jalan Yesus Sang Mesias! &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Lebih Terkenal daripada Pepsi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, Rashad mengantar saya ke kota sehingga saya bisa menggunakan telepon untuk menelepon istri saya, Sarah. Dia bercerita tentang bagaimana ia telah mengumpulkan beberapa temannya dalam beberapa minggu terakhir menjelaskan kepada mereka tentang cara Mesias- terutama tentang doa yang nyata yang bukan hanya untuk pertunjukan. Banyak orang yang sangat tertarik. Lebih banyak orang yang terkejut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami tiba di fasilitas telepon jarak jauh di desa, Rasyad menunjukkan tanda Pepsi di jalanan. Lalu ia berkata, &amp;quot;Anda tahu nama ini, Pepsi, lebih terkenal di seluruh dunia daripada nama Yesus. Kami harus mengatasi kelemahan kita dan bersaing dengan mereka sehingga nama-Nya menjadi lebih terkenal daripada Pepsi. &amp;quot; Selama waktu itu keluarga yang memiliki perusahaan membawakan kita beberapa RC cola minuman dingin. Rashad mengatakan, &amp;quot;RC oke, tapi tidak ada Pepsi lagi untuk saya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Momen Kritis===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara kami ada di desa, Ken telah memakai peluang untuk memberikan gambaran singkat dari Injil Markus kepada sisa keluarga (beberapa belum pernah mendengar banyak kisah kehidupan Yesus sebelumnya). Dia menjelaskan bahwa &amp;quot;ghusl&amp;quot; (baptisan) adalah salah satu langkah awal ketaatan untuk masuk ke dalam jalan Yesus Sang Mesias. Dia bertanya pada masing-masing individual apakah mereka mengerti dan bersedia untuk mengikuti jalan ini. Ayah, ibu, saudara perempuan dan saudara laki-laki - mereka semua berkata, &amp;quot;Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami tiba kembali sewaktu Ken selesai memberikan tur cepatnya tentang Injil Markus. Ken dan saya masih terus tertegun. Kami mulai merasakan beratnya apa yang akan terjadi selanjutnya. Seluruh kelompok orang secara signifikan meresap dengan Injil untuk pertama kalinya dalam sejarahnya yang panjang. Apa yang kita lakukan di saat-saat kritis kemungkinan akan terulang selama bertahun-tahun diantara orang-orang Zaraban tersebut. Apa yang kami dorong untuk mereka lakukan adalah menghiasi pesan Injil ataupun membuat blok sandungan bagi banyak orang lain yang akan berusaha untuk mengikuti Kristus di masa depan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdoa lagi. Ketaatan mereka harus sederhana dan langsung. Seharusnya relevan secara budaya dan bahasa. Seharusnya direproduksi secara lokal. Seharusnya untuk pribadi tetapi komunal-dalam rumah, tetapi tidak sebagai individu yang bertindak sendiri. Seharusnya merupakan tindakan penyembahan dan pujian penuh dengan ketergantungan pada kuasa Roh Kudus. Jadi kami mulai memetakan strategi kami untuk hari upacara baptisan selanjutnya bagi seluruh keluarga yang akan diadakan sebelum perayaan Idul Fitri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul tidak mengalami semua yang baru saja terjadi dalam keluarganya, karena ia telah pergi keluar kota untuk sebuah tugas. Ken dan saya sepakat untuk tidak mengatakan apa-apa sampai kakaknya punya kesempatan untuk memberitahu dia kabar baiknya. Ketika Rasyad memberitahu Abdul bagaimana semua keluarga telah memutuskan untuk mengikuti Yesus, Abdul tertegun. Setelah kakaknya pergi meninggalkan ruangan, Abdul memeluk kami dan memuji Tuhan dengan banyak air mata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi masih ada beberapa masalah. Seorang saudara lain dan istrinya tidak pernah hadir dalam selama ini. Ken dan saya mulai khawatir bahwa ia mungkin akan mencegah semua yang kami harapkan. Jadi kami mendesak Abdul untuk pergi berbicara dengan saudara ipar tentang semua ini karena kakak masih bekerja. Abdul membulatkan tekadnya dan pergi ke dapur (ruang berdinding lumpur dengan lubang api di tengah) untuk berbicara dengannya. Dia mulai dengan pembicaraan kecil, bermain dengan bayi dan gugup berputar kepada subjek. Dia menjawab santai, &amp;quot;Oh ya, ibumu dan saudara telah menjelaskan semuanya padaku. Aku bagian dari keluarga Anda dan siap untuk melakukan hal ini. &amp;quot;Ketika Abdul kembali, ia raut wajah keheranannya meyakinkan kami bahwa semua telah berjalan dengan baik, bahkan sebelum dia mengatakan kepada kami apa yang telah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu orang terakhir yang harus diberitahu- saudara yang hilang. Sebelum kami bisa bertemu dengannya, pertama kami harus mengunjungi paman Abdul. Ini membutuhkan waktu beberapa jam. Ketika kami tiba di toko saudara laki-laki, Rashad sudah ada! Saya kira kami harus menebak. Dia sudah menjelaskan semuanya kepadanya, dan dia setuju tapi ingin bertanya satu pertanyaan di pagi hari setelah giliran malam dan sebelum upacara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mati terhadap Yang Lama, Hidup Dengan Yang Baru===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan paginya kami bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan penampungan air untuk baptisan. Saudara lain Abdul mengajukan pertanyaannya: &amp;quot;Apakah ini berarti kita menjadi orang-orang Kristen? &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul tahu apa maksudnya. Dia menjawab, &amp;quot;Tidak, kami tidak akan menjadi tukang minum alkohol, pemakan daging babi atau mencoba untuk bergabung dengan yang kelompok etnis berbeda. Kami akan mengikuti ajaran-ajaran dan kehidupan Yesus Sang Mesias. &amp;quot;Oh, bagus,&amp;quot; jawabnya. Jadi kami semua berkumpul untuk pembaptisan. Ken dan saya berbicara dalam bahasa nasional, dan Abdul menerjemahkan semuanya ke dalam dialek lokalnya. Saya memberitahu mereka tentang pengorbanan Mesias dan bagaimana Dia menawarkan pengampunan kepada kami. Ken mengatakan kepada mereka tentang kebangkitan dan kehidupan baru, kehidupan yang kekal. Kemudian Ken mengajukan tiga pertanyaan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Apakah Anda siap untuk mengikuti jalan Yesus Sang Mesias?&lt;br /&gt;
#	Apakah Anda bersedia untuk mematuhi perintah-Nya dengan iman untuk menerima &amp;quot;ghusl&amp;quot; (baptisan) dan bertobat?&lt;br /&gt;
#	Apakah Anda mengajak orang lain untuk mengikuti jalan ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul dan ayah Rashad, seorang pria pendiam yang biasa, memimpin dengan jawaban: &amp;quot;Ya, Puji Tuhan! Kami akan mengikuti jalan baru ini! Kami akan menerima &#039;ghusl. &amp;quot;Kami akan mengajak orang lain untuk bergabung dengan kami &amp;quot;bergabung! Semua orang lain mengikuti dengan sepenuh hati. Saya menjelaskan bagaimana baptisan melambangkan pencurahan Roh Kudus dalam hidup kita dan bahwa itu adalah langkah ketaatan, suatu tindakan penyembahan. Kami telah memutuskan bahwa Ken dan saya akan membaptis-ulang Abdul sehingga seluruh keluarga bisa melihat. Kemudian kami bertiga bersama-sama membaptis semua sisanya, menggunakan istilah Arab yang tepat sebagaimana layaknya di sebagian budaya M dalam urusan agama, bahkan jika mereka tidak berbicara bahasa Arab. Ken kemudian menyuruh mereka untuk mengganti pakaian mereka, dan saat mereka melakukannya, membayangkan diri mereka melepaskan kehidupan lamanya dan mengenakan yang baru. Penggambaran ini diulang lagi dan lagi oleh beberapa anggota keluarga selama dua hari berikutnya. Beberapa pertanyaan muncul lebih banyak. Ayah Abdul bertanya, &amp;quot;Haruskah kita pergi ke doa Idul Fitri seperti selalu kita lakukan atau haruskah  kita berhenti pergi? &amp;quot; Abdul menjawab bahwa sekarang doa-doa ini bisa dilakukan berdasarkan alasan yang benar, bukan untuk pamer pada orang lain, bukan sebagai sarana pengampunan dari dosa atau tugas, tapi karena kasih dan pujian bagi Allah yang menyelamatkan dan sebagai kesempatan untuk berdoa bagi komunitas kami. Kami semua pergi berdoa bersama. Kemudian tiba waktunya untuk ritual kurban anak domba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, Ken dan saya, dengan Abdul menerjemahkan, menjelaskan bagaimana kita tidak bisa merencanakan acara yang lebih sempurna untuk memasuki jalan Yesus Sang Mesias daripada hari kurban ini. Sungguh itu adalah saat yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Berlanjut di dalam Hidup yang Baru===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di hari itu, keluarga mengadakan pertemuan lain di mana mereka memutuskan mana di antara mereka yang harus menerima lebih banyak pelatihan untuk mengajarkan mereka tentang kehidupan baru mereka. Sejak Abdul tinggal dan bekerja jauh, mereka memilih Rasyad untuk melayani mereka semua dengan cara ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia senang, karena dia selalu ingin menjadi pemimpin rohani. Kami menumpangkan tangan di atasnya dan memohonkan berkat Allah padanya untuk pekerjaan ini. Mereka juga memutuskan bahwa Rasyad dan saudarinya harus datang dan tinggal di rumah kami selama seminggu pada suatu waktu setiap beberapa bulan, sehingga saudarinya akan diperlengkapi untuk mengajar para wanita juga. Itu ide yang sangat baik – sekali lagi kami tertegun. Banyak hal lain yang terjadi dalam urusan hari itu. Beberapa mulai berbagi tentang rasa damai yang mereka miliki, yang lain berbicara menggambarkan kehidupan baru mereka. Salah satu saudara menari dan bernyanyi, &amp;quot;saya memiliki hidup baru ... saya memiliki hidup baru!&amp;quot; Kami tidak yakin berapa ratus doa-doa yang dijawab dalam waktu dua hari. Kami tidak pernah melihat perubahan hati sedramatis itu di begitu banyak umat M yang datang kepada Kristus bersama-sama pada satu waktu. Jadi kami tetap terkagum-kagum sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Peristiwa-peristiwa di dalam kisah ini menyentuh banyak masalah kepemimpinan dan kontekstualisasi yang kompleks dalam waktu yang sangat singkat. Dua hal yang perlu diperjelas. Pertama, peristiwa-peristiwa dalam kisah ini adalah puncak dari 10 tahun lebih kerja keras dan tekun dari anggota-anggota beberapa organisasi. Kedua, peristiwa-peristiwa ini telah dilanjutkan dengan bertahun-tahun kerja yang sungguh-sungguh untuk: mengembangkan pemimpin, menggali kitab suci secara mendalam, mengatasi masalah pemuridan dan kontekstualisasi yang sulit, semuanya di tengah-tengah menghadapi berbagai krisis. Telah ada terobosan yang luar biasa sekaligus kemunduran yang menyakitkan. Namun peristiwa-peristiwa dalam kisah yang dramatis ini seharusnya memberi kita alasan yang kuat untuk semangat. Ted mengakhiri suratnya dengan bersukacita di dalam kenyataan bahwa &amp;quot;Dia yang Bangkit&amp;quot; hadir di antara kita dan &amp;quot;yang dapat melakukan lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan &amp;quot;(Ef 3:20)!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Tiga_Jenis_Gerakan_Ke_Arah_Kristus&amp;diff=741</id>
		<title>Tiga Jenis Gerakan Ke Arah Kristus</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Tiga_Jenis_Gerakan_Ke_Arah_Kristus&amp;diff=741"/>
		<updated>2015-09-14T19:14:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{Rick Brown}}&lt;br /&gt;
{{steven hawthorne}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga jenis berbeda dari gerakan-gerakan bagi Kristus telah dijelaskan di abad yang lalu: &amp;quot;gerakan umat, &amp;quot;&amp;quot; gerakan pendirian gereja &amp;quot;dan &amp;quot;gerakan orang dalam.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Gerakan Orang Dalam===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Becky Lewis mendefinisikan gerakan orang dalam sebagai memiliki dua dinamika: komunitas yang langgeng dan mempertahankan identitas sosio-religius. Definisinya membantu kita melihat apa yang mirip dan yang berbeda di dalam tiga jenis gerakan. Semua tiga jenis gerakan berhak menyatakan untuk menggambarkan Injil yang berkembang dalam jaringan sosial atau komunitas alami yang sudah ada sebelumnya. Ketiganya merayakan tanda-tanda identitas rohani baru sebagai anggota dari kerajaan Allah dan murid-murid Yesus Kristus. Tapi ada perbedaan ketika kita melihat dengan seksama pada bagaimana dua dinamika komunitas dan identitas terlihat bekerja. Mari kita pertimbangkan masing-masing dari ketiga jenis gerakan dengan kedua dinamika dalam pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Gerakan umat===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerakan umat ini diperkenalkan oleh J. Waskom Pickett pada 1930 di India, meskipun ia menyebutnya &amp;quot; gerakan massa&amp;quot;. Gerakan ini kemudian dianalisis dan dipopulerkan oleh Donald McGavran pada tahun 1950. Dasar fenomena yang diamati adalah keputusan oleh seluruh komunitas untuk menjadi orang Kristen bersama-sama. Walaupun fokusnya adalah Kristus - McGavran sering menyebutnya sebagai &amp;quot; gerakan ke arah Kristus&amp;quot;- jaringan sosial utuh yang diharapkan meninggalkan persetujuan sosio-religius sebelumnya untuk menyandang identitas sosial Kristen tradisional. Gerakan umat  masih muncul, meskipun mereka jarang dipublikasikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehubungan dengan komunitas, gerakan umat banyak dikenal untuk mendorong seluruh keluarga, klan, suku dan kasta komunitas untuk menjadi Kristen bersama-sama. Sehubungan dengan persetujuan agama dan identitas, mereka diharapkan untuk membuat perubahan yang jelas. McGavran sering berbicara tentang kebutuhan untuk &amp;quot;mengKristenkan&amp;quot;seluruh umat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Gerakan Pendirian Jemaat===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerakan pendirian gereja diperhatikan dan ditandai dalam th 1990-an. Ciri yang paling menonjol dari gerakan ini adalah pelipatgandaan yang berkelanjutan, ditingkatkan oleh gereja berstruktur sederhana secara radikal dan diberdayakan oleh para pemimpin alami dari komunitas, yang mempertahankan dan memperluas gerakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam &amp;quot;orang-orang yang dijangkau&amp;quot; di mana ada identitas Kristen yang dihormati, gerakan pendirian gereja telah didokumentasikan untuk membawa jutaan orang kepada iman yang hidup. Mereka juga meledak di antara banyak latar orang-orang yang belum terjangkau di mana mereka biasanya menciptakan struktur gereja baru. Bahkan meskipun gereja-gereja biasanya adalah kelompok rumah sederhana dengan kepemimpinan non-profesional “orang awam”, mereka umumnya dipandang sebagai struktur sosial yang benar-benar baru dalam komunitas yang lebih besar. Menurut David Garrison, orang-orang percaya &amp;quot;membuat perubahan yang jelas dengan agama mereka sebelumnya dan mendefinisi kembali diri mereka sendiri dengan identitas Kristen yang berbeda.&amp;quot;1&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Perspektif:_Tentang_Gerakan_Orang_Kristen_Dunia&amp;diff=740</id>
		<title>Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Perspektif:_Tentang_Gerakan_Orang_Kristen_Dunia&amp;diff=740"/>
		<updated>2015-09-14T19:14:09Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Draf Buku Perspektif&lt;br /&gt;
===Intro===&lt;br /&gt;
:[[Kata Pengantar]]&lt;br /&gt;
:[[Pendahuluan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 1|Pelajaran Satu&amp;amp;mdash;Allah yang Hidup adalah Allah yang Misioner]] ===&lt;br /&gt;
:[[Allah yang Hidup adalah Allah yang Misioner]] - John Stott&lt;br /&gt;
:[[Panggilan Misi Israel]] - Walter C. Kaiser&lt;br /&gt;
:[[Kisah Mengenai Berkat Menang atas Kutuk]] - Richard Bauckham&lt;br /&gt;
:[[Pertanyaan Setiap Orang: Apa yang Allah Sedang Coba Lakukan]] - Stanley A. Ellisen&lt;br /&gt;
:[[Berkat Sebagai Transformasi]] - Sarita D. Gallagher dan Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Alkitab dalam Penginjilan Dunia]] - John R.W. Stott&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 2|Pelajaran Dua&amp;amp;mdash;Kisah Kemuliaan-Nya]] ===&lt;br /&gt;
:[[Kisah Kemuliaan-Nya (1)|Kisah Kemuliaan-Nya]] - Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Dua Kekuatan]] - Jonathan Lewis&lt;br /&gt;
:[[Kisah Kemuliaan-Nya (2)|Kisah Kemuliaan-Nya]] - Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Biarlah Bangsa-Bangsa Bersukacita]] - John Piper&lt;br /&gt;
:[[Lebih Dari Sekadar Tugas]] - Tim Dearborn&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 3|Pelajaran Tiga&amp;amp;mdash;Datanglah Kerajaan-Mu]] ===&lt;br /&gt;
:[[Injil Kerajaan (1)|Injil Kerajaan]] - George Eldon Ladd&lt;br /&gt;
:[[Hari-H Sebelum Hari Kemenangan]] - Ken Blue&lt;br /&gt;
:[[Injil Kerajaan (2)|Injil Kerajaan]] - George Eldon Ladd&lt;br /&gt;
:[[Doa: Memberontak Melawan Status Quo]] - David Wells&lt;br /&gt;
:[[Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain (1)|Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain]] - H. Cornell Goerner&lt;br /&gt;
:[[Sebuah Reaksi Keras Terhadap Rahmat]] - Patrick Johnstone&lt;br /&gt;
:[[Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain (2)|Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain]] - H. Cornell Goerner&lt;br /&gt;
:[[Inaugurasi Kerajaan-Nya]] - N.T. Wright&lt;br /&gt;
:[[Doa Strategis]] - John D. Robb&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 4|Pelajaran Empat&amp;amp;mdash;Mandat Bagi Bangsa-Bangsa]] ===&lt;br /&gt;
:[[Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain (3)|Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain]] - H. Cornell Goerner&lt;br /&gt;
:[[Rencana Manusia bagi Segala Suku Bangsa]] - Don Richardson&lt;br /&gt;
:[[Rencana Utama]] - Robert E. Coleman&lt;br /&gt;
:[[Mandat di Bukit]] - Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Amanat Agung dan Perintah Terutama]] - Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Melakukan Misi dengan Allah]] - Henry T. Blackaby dan Avery T. Willis, Jr.&lt;br /&gt;
:[[Supremasi Kristus]] - Ajith Fernando&lt;br /&gt;
:[[Terhilang]] - Robertson McQuilkin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 5|Pelajaran Lima&amp;amp;mdash;Melepaskan Injil]] ===&lt;br /&gt;
:[[Tindakan Ketaatan]] - Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Titik Balik: Membebaskan Injil]] - M.R. Thomas&lt;br /&gt;
:[[Tembok dan Lembah]] - Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Menjadi Seperti, Tetap Seperti]] - Harley Talman&lt;br /&gt;
:[[Sebuah Ciptaan Baru]] - David Anthony&lt;br /&gt;
:[[Menemukan Karya Roh Kudus dalam Suatu Komunitas]] - T. Wayne Dye&lt;br /&gt;
:[[Hasrat Apostolik]] - Floyd McClung&lt;br /&gt;
:[[Dua Struktur Misi Penebusan Allah (1)|Dua Struktur Misi Penebusan Allah]] - Ralph D. Winter&lt;br /&gt;
:[[Penderitaan dan Mati Martir: Strategi Allah dalam Dunia]] - Josef Tson&lt;br /&gt;
:[[Jika Aku Binasa]] - Brother Andrew&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 6|Pelajaran Enam&amp;amp;mdash;Ekspansi Gerakan Kristen Dunia]] ===&lt;br /&gt;
:[[Kerajaan Menyerang Balik: Sepuluh Periode dari Sejarah Penebusan]] - Ralph D. Winter&lt;br /&gt;
:[[KeKristenan Asia: Menyambut terbitnya Matahari]] - Scott Sunquist&lt;br /&gt;
:[[Dua Struktur Misi Penebusan Allah (2)|Dua Struktur Misi Penebusan Allah]] - Ralph D. Winter&lt;br /&gt;
:[[Dampak Sosial Misi Kristen]] - Robert D. Woodberry&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 7|Pelajaran Tujuh&amp;amp;mdash;Era Dalam Sejarah Misi]] ===&lt;br /&gt;
:[[Para Perintis Baru Memimpin Di Era Terakhir]] - Yvonne Wood Huneycutt&lt;br /&gt;
:[[Tiga Era Misi: Kehilangan dan Pemulihan Misi Kerajaan, 1800-2000]] - Ralph D. Winter&lt;br /&gt;
:[[Jembatan Allah]] - Donald A. McGavran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 8|Pelajaran Delapan&amp;amp;mdash;Para Pionir Gerakan Kristen Dunia]] ===&lt;br /&gt;
:[[Kemuliaan dari Hal yang Mustahil]] - Samuel Zwemer&lt;br /&gt;
:[[Sebuah Penyelidikan ke Dalam Kewajiban Orang Kristen Untuk Menggunakan Sarana Demi Pertobatan Orang Kafir]] - William Carey&lt;br /&gt;
:[[Panggilan Untuk Melayani]] - J. Hudson Taylor&lt;br /&gt;
:[[Suku, Bahasa Dan Penerjemah]] - William Cameron Townsend&lt;br /&gt;
:[[Situasi Injil]] - Jason Mandryk&lt;br /&gt;
:[[Wanita Dalam Injil]] - Marguerite Kraft - Meg Crossman&lt;br /&gt;
:[[Kaum Moravian di Eropa: Sebuah Jemaat Misioner Perintis]] - Colin A. Grant&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 9|Pelajaran Sembilan&amp;amp;mdash;Tugas yang Tersisa]] ===&lt;br /&gt;
:[[Menyelesaikan Tugas: Tantangan Kelompok Suku Yang Belum Dijangkau]] - Ralph D. Winter&lt;br /&gt;
:[[Dari Segala Bahasa]] - Barbara F. Grimes&lt;br /&gt;
:[[Apakah Allah Buta Warna Atau Penuh Warna: Injil, Globalisasi dan Etnisitas]] - Miriam Adeney&lt;br /&gt;
:[[Tantangan Perkotaan]] - Roger S. Greenway&lt;br /&gt;
:[[Siapakah Sebenarnya William Carey?]] - Vishal and Rut Mangalwadi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 10|Pelajaran Sepuluh&amp;amp;mdash;Bagaimana Mereka Akan Mendengar?]] ===&lt;br /&gt;
:[[Mengerti Budaya]] - Lloyd E.Kwast&lt;br /&gt;
:[[Bersih dan Kotor: Kesalahpahaman Lintas Budaya di India]] - Paul G. Hiebert&lt;br /&gt;
:[[Analogi Penebusan (1)|Analogi Penebusan]] - Don Richardson&lt;br /&gt;
:[[Mengubah Wawasan Dunia Melalui Kisah Alkitab]] - D. Bruce Graham&lt;br /&gt;
:[[Tim Perintis di Zambia, Afrika]] - Philip Elkins&lt;br /&gt;
:[[Analogi Penebusan (2)|Analogi Penebusan]] - Don Richardson&lt;br /&gt;
:[[Budaya, Pandangan Dunia dan Kontekstualisasi]] - Charles H. Craft&lt;br /&gt;
:[[Tiga Perjumpaan dalam Kesaksian Orang Kristen]] - Charles H. Craft&lt;br /&gt;
:[[Memuridkan Pelajar Lisan]] - International Orality Network&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 11|Pelajaran Sebelas&amp;amp;mdash;Membangun Jembatan Kasih]] ===&lt;br /&gt;
:[[Menemukan Tempat dan Melayani Berbagai Gerakan Dalam Masyarakat]] - Paul G. Hiebert&lt;br /&gt;
:[[Kejutan Budaya: Memulai dari Awal]] - Paul G. Hiebert&lt;br /&gt;
:[[Menutup Celah]] - Donald N. Larson&lt;br /&gt;
:[[Identifikasi Dalam Tugas Misi]] - William D. Reyburn&lt;br /&gt;
:[[Perbedaan yang Dibuat oleh Ikatan]] - Elizabeth S. Brewster&lt;br /&gt;
:[[Identitas dengan Integritas, Pelayanan Apostolik di Abad 21]] - Rick Love&lt;br /&gt;
:[[Transparansi Anti Google]] - L. Mak&lt;br /&gt;
:[[Tidak Dikenal, Namun Dikenal Mendorong Diri Kita sebagai Pelayan]] - Bob Blincoe&lt;br /&gt;
:[[Menemukan Tempat dan Melayani Berbagai Gerakan Dalam Masyarakat  (lanjutan)]]- &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 12|Pelajaran Dua Belas&amp;amp;mdash;Pengembangan Masyarakat Secara Kristen]] ===&lt;br /&gt;
:[[Situasi dari Kebutuhan Dunia]] - World Relief&lt;br /&gt;
:[[Penginjilan Mitra yang Utama]] - Samuel Hugh Moffett&lt;br /&gt;
:[[Pengembangan Transformasional Pekerjaan Allah dalam Mengubah Manusia dan Komunitas Mereka]] - Samuel J. Voorhies&lt;br /&gt;
:[[Babi, Kolam dan Injil]] - James W. Gustafson&lt;br /&gt;
:[[Diri Kami sebagai Pelayan]] - Andres dan Angelica Guzman&lt;br /&gt;
:[[Apa Sebenarnya Kemiskinan Itu?]] - Bryant L. Myers&lt;br /&gt;
:[[Menyembuhkan Luka Dunia]] - John Dawson&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 13|Pelajaran Tiga Belas&amp;amp;mdash;Pelipatgandaan Gereja Secara Spontan]] ===&lt;br /&gt;
:[[Gerakan-gerakan Pendirian Jemaat]]- David Garrison&lt;br /&gt;
:[[Gereja Organik]] - Neil Cole&lt;br /&gt;
:[[Penginjilan Seluruh Keluarga]] - Wee Hian Chua&lt;br /&gt;
:[[Kota-kota dan Garam: Budaya tandingan untuk Kebaikan Bersama]] - Tim Keller&lt;br /&gt;
:[[Memusnahkan HIV]] - Kay Warren&lt;br /&gt;
:[[Gereja – Kekuatan Terbesar di Dunia]] - Rick Warren &lt;br /&gt;
:[[Kebergantungan]] - Glenn Schwartz&lt;br /&gt;
:[[Misi Pulang ke Rumah]] - Andrew Jones&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 14|Pelajaran Empat Belas&amp;amp;mdash;Perintisan Pendirian Gereja]] ===&lt;br /&gt;
:[[Gereja di Dalam Setiap Suku: Pembicaraan yang Jujur tentang sebuah Hal Yang Sulit]] - Donald A. McGavran&lt;br /&gt;
:[[Asia Selatan: Sayuran, Ikan, dan tempat ibadah M Mesianik]] - Shah Ali dengan J. Dudley Woodberry&lt;br /&gt;
:[[Sebuah Gerakan Allah di antara Orang-orang Bhojpuri di India Utara]] - David L. Watson dan Paul D. Watson&lt;br /&gt;
:[[Mendirikan Gereja: Belajar Cara Keras]] - Tim dan Rebecca Lewis&lt;br /&gt;
:[[ Sebuah Gerakan bagi Yesus di Antara Kaum M]] - Rick Brown&lt;br /&gt;
:[[Spektrum C: Sebuah Alat Praktis untuk Menetapkan 6 jenis dari “Komunitas Berpusat pada Kristus” yang Ditemukan dalam Konteks M]] - John J. Travis&lt;br /&gt;
:[[Bertindak Terlalu Jauh?]] - Phil Parshall&lt;br /&gt;
:[[Haruskah Semua M Meninggalkan &amp;quot;I&amp;quot; untuk Mengikuti Yesus?]] - John J. Travis&lt;br /&gt;
:[[Budaya, Pandangan Dunia dan Kontekstualisasi (lanjutan)]] - Charles H. Kraft&lt;br /&gt;
:[[Gerakan Orang Dalam: Mempertahankan Identitas dan Kelanggengan Komunitas]] - Rebecca Lewis&lt;br /&gt;
:[[Lingkaran-lingkaran Kerajaan]] - Rebecca Lewis&lt;br /&gt;
:[[Tiga Jenis Gerakan Ke Arah Kristus]] - Rick Brown dan Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Terobosan Orang-orang Zaraban]] - Ken Harkin dan Ted Moore&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 15|Pelajaran Lima Belas&amp;amp;mdash;Pemuridan Orang Kristen Dunia]] ===&lt;br /&gt;
:[[Lebih dari Mengasihi Dunia: Melayani Anak bagi Kemuliaan-Nya yang Melebihi Segalanya]] - David Bryant&lt;br /&gt;
:[[Hidup Berdasarkan Tujuan]] - Claude Hickman - Steven C. Hawthorne - Todd Ahrend&lt;br /&gt;
:[[Hidup dengan Maksud (Intensionalitas)]] - Caroline D. Bower - Lynne Ellis&lt;br /&gt;
:[[Hanya Bersedia]] - Casey Morgan&lt;br /&gt;
:[[Semua atau Tidak Sama Sekali?]] - Greg Livingstone&lt;br /&gt;
:[[Potensi Mengagumkan Bagi Misi Ditemukan di Gereja-gereja Lokal]] - George Miley&lt;br /&gt;
:[[Missio Dei atau &amp;quot;Missio Me&amp;quot;? / Misi Allah atau Misi Saya?]] - Roger Peterson&lt;br /&gt;
:[[Mengembalikan Peran Bisnis di dalam Misi]] - Steve Rundle&lt;br /&gt;
:[[Berkat Berabistan: Melakukan Misi dengan Berbeda]] - Nicole Forcier&lt;br /&gt;
:[[Kemitraan Global]] - Bill Taylor&lt;br /&gt;
:[[Cara Lama untuk Sebuah Hari yang Baru]] - David Ruiz &lt;br /&gt;
:[[Tentmaker: Mengintegrasikan Pekerjaan dan Kesaksian]] - Ruth E. Siemens&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bacaan Tambahan ===&lt;br /&gt;
:[[Dasar Alkitabiah untuk Mandat Misi Menjangkau Dunia]] - Johannes Verkuyl&lt;br /&gt;
:[[Allah sedang Berperang]] - Gregory A. Boyd&lt;br /&gt;
:[[Memuridkan Semua Bangsa]] - John Piper&lt;br /&gt;
:[[Rasul Paulus dan Tugas Misionaris]] - Arthur F. Glasser&lt;br /&gt;
:[[Perjanjian Lausanne]]&lt;br /&gt;
:[[Sejarah Strategi Misi]] - R. Pierce Beaver&lt;br /&gt;
:[[Makedonia Baru: Sebuah Era Baru Revolusioner Dalam Misi Dimulai]] - Ralph D. Winter&lt;br /&gt;
:[[Laporan Willowbank: Komite Lausanne untuk Penginjilan Dunia]]&lt;br /&gt;
:[[Sebuah Gerakan Pemuja Kristus di India]] - Dean Hubbard&lt;br /&gt;
:[[Guntur yang Jauh: Bangsa Mongol Mengikuti Khan (Raja) di atas segala Khan (Raja)]] - Brian Hogan&lt;br /&gt;
:[[Mengapa Mengomunikasikan Injil Melalui Cerita?]] - Tom A. Steffen&lt;br /&gt;
:[[Misi dan Uang]] - Phil Parshall&lt;br /&gt;
:[[Peranan Orang Kaya yang Budiman]] - Jonathan J. Bonk&lt;br /&gt;
:[[Orang Miskin Perkotaan: Siapakah Kami?]] - Viv Grigg&lt;br /&gt;
:[[Pelipatgandaan Gereja Secara Spontan]] - George Patterson&lt;br /&gt;
:[[Implikasi Budaya dari sebuah Gereja Pribumi]] - William A. Smalley&lt;br /&gt;
:[[Kebangkitan Gereja Persia]] - Gilbert Hovsepian and Krikor Markarian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Templat:Arthur_glasser&amp;diff=739</id>
		<title>Templat:Arthur glasser</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Templat:Arthur_glasser&amp;diff=739"/>
		<updated>2015-09-14T19:00:43Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;big&amp;gt;&#039;&#039;Arthur F. Glasser&#039;&#039;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Arthur F. Glasser adalah seorang Dekan Emeritus dan Profesor Senior Teologi dan Misi dan Studi Asia Timur di School of World Mission di Fuller Theological Seminary selama bertahun-tahun. Dia melayani sebagai misionaris di Tiongkok sebelah barat dengan China Inland Mission (sekarang Missionary Fellowship luar negeri) dan juga Sekretaris OMF untuk Amerika Utara selama 12 tahun. Beliau adalah editor Missiology dari tahun 1976 sampai 1982.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Templat:Samuel_moffett&amp;diff=738</id>
		<title>Templat:Samuel moffett</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Templat:Samuel_moffett&amp;diff=738"/>
		<updated>2015-09-14T19:00:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Samuel Hugh Moffett&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Berkas:Moffett.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
::Samuel Hugh Moffett adalah Henry Winters Luce Professor dalam bidang studi Ekumene dan Misi (Pensiun) di Princeton Theological Seminary di Princeton, New Jersey. Beliau dilahirkan di Pyongyang, Korea, dari orangtua misionaris dan ia sendiri melayani sebagai seorang misionaris ke Tiongkok dan Korea. Beliau telah menulis banyak artikel dan buku di bidang misi, teologi dan sejarah.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Templat:Mak&amp;diff=737</id>
		<title>Templat:Mak</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Templat:Mak&amp;diff=737"/>
		<updated>2015-09-14T19:00:35Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;L. Mak&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::L. Mak (nama samaran) adalah orang Tiongkok dan dilahirkan di Hong Kong. Beliau melayani selama sepuluh tahun dalam sebuah negara yang tertutup, mengajar dalam universitas. Beliau pernah bekerja di Asia Timur, Amerika Utara, Afrika dan Eropa. Beliau sekarang melayani sebagai pelatih bagi para pekerja lintas budaya dan sebagai seorang konsultan bagi gereja-gereja dan berbagai badan misi mengenai identitas dan isu-isu antaragama.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Analogi_Penebusan_(2)&amp;diff=736</id>
		<title>Analogi Penebusan (2)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Analogi_Penebusan_(2)&amp;diff=736"/>
		<updated>2015-09-14T18:52:40Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Sambungan dari [[Analogi Penebusan (1)|Bagian 1]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Menggunakan Nama Lokal bagi Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kategori khusus lainnya dari analogi penebusan terkait dengan nama-nama yang dapat digunakan bagi Allah?nama alias bagi Elohim?yang ditemukan dalam ribuan bahasa di seluruh dunia. Orang Kristen melakukan kesalahan ketika kita langsung berasumsi bahwa orang kafir sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang Allah. Faktanya, sejumlah besar budaya kafir memiliki konsep yang luar biasa jelas mengenai Allah Tertinggi yang menciptakan segala sesuatu. Alkitab memberitahu kita untuk mengharapkan hal ini karena wahyu umum Allah terdapat melalui penciptaan dan kesadaran manusia. Sebagai contoh:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.	Rasul Paulus menulis, “Sebab apa yang tidak tampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rom. 1:20). Kepercayaan ini, bahwa manusia telah mengetahui sesuatu tentang Allah bahkan sebelum mereka mendengar taurat Yahudi atau Injil orang Kristen, menjadi batu penjuru dari teologi penginjilan Paulus. Dia menyatakan hal ini di kota orang Likonium yang disebut Listra, memberitakan bahwa “Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu…” dll. (Kis. 14:16-17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.	Di dalam suratnya yang terkenal kepada orang Kristen di Roma, Paulus menulis bahwa “Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela” (Rom. 2:14-15).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.	Rasul Yohanes menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang” (Yoh. 1:9). Dan Raja Salomo menulis bahwa Allah telah “memberikan kekekalan dalam hati mereka.” Dia menambahkan pernyataan peringatan bahwa manusia sendiri masih tetap “tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pkh. 3:11). Menurut sarjana bahasa Ibrani Gleason Archer, pernyataan Salomo memiliki arti bahwa manusia memiliki suatu kemampuan yang diberikan Allah untuk mengerti konsep kekekalan, dengan seluruh implikasinya yang tidak tetap bagi makhluk bermoral. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.	Raja Daudlah, yang merupakan ayah dari Salomo yang menuliskan penghargaan elegan mengenai kesaksian alam semesta tentang Allah bagi diri-Nya sendiri yang berbunyi “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi” (Mzm. 19:1-4). Daud kemudian berfokus pada matahari, menggambarkannya sebagai “yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya” dan seorang yang “girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya” (Mzm. 19:5-6). Mungkin lebih dari bagian Alkitab lain, Mazmur ini dengan tepat memperkenalkan Raja Pachacutec.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Reformasi Kecil Pachacutec ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pachacutec mungkin merupakan contoh terbaik dalam sejarah dari apa yang dimaksud Paulus, Yohanes, Salomo dan Daud dalam kutipan berbagai perikop di atas. Pachacutec adalah seorang Inka yang hidup antara tahun 1400 sampai 1448 M.  Dia juga seorang pewirausaha yang merancang dan membangun Macchu Picchu, mungkin merupakan tempat wisata gunung pertama di benua Amerika. Setelah invasi Spanyol di Peru, Macchu Picchu menjadi tempat perlindungan terakhir bagi orang Inka dari kelas atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pachacutec dan sukunya memuja matahari, yang mereka sebut Inti. Tetapi Pachacutec menjadi curiga terhadap otoritas Inti. Seperti Raja Daud, Raja Pachacutec mempelajari matahari. Matahari tidak pernah melakukan apa pun, sejauh yang bisa diceritakan Pachacutec, kecuali terbit, bersinar, melintasi jalurnya dan terbenam. Hari berikutnya, hal yang sama terjadi?terbit, bersinar, melintasi jalur, terbenam. Tidak seperti Daud yang menyamakan matahari dengan pengantin laki-laki atau seorang pahlawan, Pachacutec berkata, “Inti terlihat seperti pekerja kasar yang melakukan hal yang sama setiap hari. Dan jika dia hanya sekadar pekerja kasar, pasti dia bukan Tuhan! Jika Inti adalah Allah, Inti sekali-kali pasti akan berbuat hal yang orisinal!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berpikir lagi dan mengamati, “Hanya kabut saja sudah membuat sinar Inti menjadi suram. Jika Inti adalah Allah, tidak ada satu pun yang dapat membuat sinarnya menjadi suram!” Maka Pachacutec sampai kepada kesadaran penting?dia selama ini telah memuja benda sebagai pencipta!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi jika Inti bukan Allah, kepada siapa Pachacutec beralih? Kemudian dia teringat sebuah nama yang pernah diserukan oleh ayahnya?Viracocha! Menurut ayahnya, Viracocha tidak lain dari seorang allah yang menciptakan segala sesuatu. Semua hal termasuk Inti! Pachacutec sampai kepada keputusan yang tajam. Omong kosong tentang Inti sebagai Allah ini telah berjalan cukup jauh! Dia mengumpulkan para pendeta matahari, suatu perkumpulan kafir seperti Konsili Nicea. Berdiri di hadapan para jemaah di pertemuan itu, Pachacutec menjelaskan alasanya mengenai supremasi Viracocha. Kemudian dia memerintahkan agar Inti, sejak saat itu, hanya disebut sebagai “saudara” saja. Doa, menurut Pachacutec, harus diarahkan kepada Viracocha, Allah tertinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun umumnya mengabaikan Pachacutec, para sarjana secara luas mengelu-elukan Akhenaten, seorang raja Mesir (1379-1361 M), sebagai orang jenius yang langka karena dia berusaha menggantikan pemujaan berhala yang sangat membingungkan di Mesir kuno dengan ibadah yang lebih murni dan sederhana kepada matahari sebagai satu-satunya Allah.  Namun Pachacutec lebih maju dari Akhenaten dalam kesadarannya mengenai matahari, yang hanya bisa membutakan mata manusia, namun tidak bisa menandingi Allah yang terlalu besar untuk bisa dilihat oleh mata manusia. Jika pemujaan terhadap matahari yang dilakukan Akhenaten merupakan sebuah langkah di atas penyembahan berhala, pilihan Pachacutec bagi Allah yang tidak terlihat adalah sebuah lompatan jauh ke wilayah stratosfer!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa para sarjana modern, religius maupun sekuler, sama sekali mengabaikan orang yang mengagumkan ini? Mungkin karena Pachacutec kurang memiliki pencapaian yang lebih besar. Satu ukuran penting dari orang jenius adalah kemampuannya mengomunikasikan pandangannya kepada orang “biasa.” Para pemimpin religius yang besar dari Musa sampai Buddha dan Paulus sampai Luther semua memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hal ini. Pachacutec bahkan tidak pernah mencoba. Mempertimbangkan sebagian besar orang di sukunya terlalu bodoh untuk menghargai nilai dari Allah yang tidak terlihat ini, Pachacutec dengan sengaja membiarkan mereka tidak tahu apa-apa mengenai Viracocha. Reformasi Pachacutec, meskipun luar biasa, hanya menjadi reformasi kecil, terbatas pada kelas atas saja. Kelas atas biasanya merupakan fenomena sosial yang memiliki jangka hidup yang pendek. Kurang dari satu abad setelah kematian Pachacutec, bangsa Spanyol penakluk yang kejam menghancurkan masyarakat kelas atas dari kerajaan Pachacutec dan reformasinya berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Viracocha memang adalah Allah sejati, Allah pencipta? Atau Dia hanya sekadar fiksi khayalan dari imajinasi Pachacutec, seorang penipu? Jika Rasul Paulus hidup pada masa Pachacutec, dan jika salah satu perjalanan misinya membawanya ke Peru, akankah Paulus mencela pemikiran Pachacutec sebagai delusi?Atau Paulus akan setuju bahwa “nama Yahweh di wilayah ini adalah Viracocha.” Tidak sulit untuk menarik kesimpulan dari sikap Paulus mengenai pertanyaan ini. Ketika dia mengabarkan Injil di antara orang-orang yang berbahasa Yunani, dia tidak memaksakan sebuah nama Yahudi bagi Allah?Yehova, Yahweh, Elohim, Adonai atau El Shaddai?kepada mereka. Sebaliknya Paulus meletakkan meterai kerasulannya ke atas keputusan berusia dua ratus tahun lalu dari para penerjemah versi Septuaginta untuk Perjanjian Lama. Mereka memberi nama Allah Yahudi dengan nama Yunani?Theos. Paulus setuju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menariknya, para penerjemah Septuaginta tidak berusaha menyamakan dewa Yunani Zeus dengan Yahweh. Tidak juga Paulus. Meskipun orang Yunani meninggikan Zeus sebagai “raja para dewa,” dia juga dilihat sebagai keturunan dua dewa lain, Kronos dan Rea. Maka nama Zeus tidak memenuhi syarat untuk disamakan dengan Yahweh, yang tidak dicipta. Setelah itu, kata Latin yang berasal dari satu rumpun?Deus?menggantikan Theos sebagai nama yang sejajar dengan Yahweh yang bisa diterima orang Kristen Romawi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika Paulus memberitakan Injil di Atena, dia dengan berani menyamakan Yahweh dengan “Allah yang tidak dikenal” yang ditulis di sebuah altar tertentu di kota itu. Paulus berkata, “Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Kesempatan bagi Injil ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah prinsip muncul. Berlawanan dengan kepercayaan Saksi Yehova, tidak ada sesuatu yang di dalamnya sakral tentang kombinasi apa pun dari bunyi atau karakter abjad sebagai sebuah nama bagi Yang Mahakuasa. Dia dapat memiliki puluhan ribu nama lain (alias), jika diperlukan, dalam puluhan ribu bahasa. Mustahil untuk berbicara mengenai Pencipta yang tidak diciptakan tanpa memaknai DIA. Setiap orang yang mampu memprotes bahwa “sebagian dari atribut-Nya hilang” bertanggung jawab untuk mengisinya! Setiap kevakuman theologis yang melingkupi konsep tentang Allah dalam budaya apa pun bukan merupakan sebuah halangan bagi Injil?itu merupakan sebuah kesempatan!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Kekristenan telah tersebar ke seluruh dunia, Kekristenan terus menegaskan, sejak dari Paulus sampai sekarang, konsep Allah Tertinggi dalam ribuan tradisi manusia:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*	Ketika para misionaris Celtic menjangkau suku bangsa Anglo-Saxons di utara Eropa, mereka tidak memaksakan nama Yahudi atau Yunani bagi Allah kepada bangsa tersebut. Sebaliknya mereka menggunakan bahasa Anglo-Saxons seperti “Gött,” “God” atau “Gut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*	Pada tahun 1828 misionaris dari Baptis Amerika, George dan Sarah Boardman, menemukan suku Karen di selatan Burma yang percaya bahwa Allah yang agung yang bernama Y’wa (bayangan Yahweh) pada masa yang lampau telah memberikan sebuah buku keramat kepada para bapa leluhur mereka! Ah, bapa leluhur mereka yang nakal telah menghilangkannya! Tetapi menurut tradisi suku Karen yang masih terus bertahan, suatu hari nanti seorang saudara kulit putih akan mengembalikan buku yang hilang tersebut kepada suku Karen, mengembalikan mereka kepada persekutuan dengan Y’wa. Tradisi tersebut meramalkan bahwa saudara kulit putih ini akan muncul dengan membawa sebuah benda hitam di bawah lengannya. George Boardman, yang memiliki kebiasaan mengapit Alkitab kulit warna hitamnya di bawah lengan, menjadi saudara kulit putih tersebut, dan ratusan ribu orang-orang Karen dibaptis sebagai orang percaya dalam beberapa dekade!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*	Pada tahun 1867 misionaris Lutheran berkebangsaan Norwegia, Lars Skrefsrud, menemukan ribuan orang dari suku Santal di India menyesalkan penolakan para bapa leluhur mereka terhadap Thakur Jiu, Allah sejati. Skrefsrud menyatakan bahwa Putra dari Thakur Jiu telah datang ke bumi untuk memperdamaikan manusia yang telah diasingkan dengan diri-Nya. Hasilnya: Dalam beberapa dekade, lebih dari seratus ribu orang di suku Santal menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*	Para pionir Presbiterian di Korea menemukan nama Korea bagi Allah?Hananim, Yang Terbesar. Alih-alih mengesampingkan Hananim dan memaksakan nama asing bagi Allah, mereka memberitakan Yesus Kristus sebagai Putra Hananim. Di dalam delapan puluh tahun, lebih dari dua setengah juta orang Korea menjadi pengikut Yesus Kristus!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*	Selama tahun 1940, Albert Brant dari Sudan Interior Mission menemukan ribuan suku Gedeo di Etiopia yang percaya bahwa Magano, Sang Pencipta, suatu hari nanti akan mengutus pembawa pesan untuk berkemah di bawah pohon kurma tertentu. Secara tidak dicurigai, Albert berkemah di bawah pohon tersebut dan respons luar biasa terhadap Injil dimulai, melahirkan 250 gereja dalam waktu kurang dari tiga dekade.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah-kisah terobosan ini dapat diperbanyak sampai ratusan dari sejarah misi. Paulus, Yohanes, Salomo dan Daud memang benar! Allah tidak membiarkan diri-Nya tanpa kesaksian dari wahyu umum. Betapa tragisnya bahwa generasi-generasi sebelumnya tidak lebih cepat menaati Amanat Agung. Apa yang mungkin telah terjadi seandainya para pembawa Injil membantu Pachacutec menemukan dalam Yesus Kristus penggenapan dari apa yang dia?karena kekekalan ada dalam hatinya?tahu sebagai kebenaran?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berapa banyak Pachacutec lainnya yang akan mati tanpa kepastian? Berapa banyak generasi Pachacutec yang akan bangkit pada masa penghakiman untuk bergabung dengan orang Niniwe dan Ratu Syeba menyalahkan orang percaya yang tidak peduli (Luk. 11:31-32)? Mari kita berusaha untuk menjadi?bagi generasi kita?seperti Boardmans, Skrefruds, Brant, yang peduli dan pergi memberitakan Injil!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam generasi kita, pilihan bahasa untuk merujuk kepada Allah merupakan masalah yang menentukan. Sebagai contoh, sebagian orang Kristen percaya bahwa nama Arab M bagi &#039;&#039;God&#039;&#039;, &amp;quot;Allah&amp;quot;, tidak bisa diterima sebagai sinonim bagi Elohim. Biarlah diketahui bahwa jutaan orang Kristen di Indonesia menggunakan kata &amp;quot;Allah&amp;quot; untuk merujuk pada &#039;&#039;God&#039;&#039; dan &amp;quot;Tuhan Allah&amp;quot; untuk &#039;&#039;Tuhan Allah&#039;&#039;. Mungkin karena hal ini, orang Kristen di Indonesia telah menjadi lebih efektif dalam memenangkan orang M bagi Kristus ketimbang orang Kristen lain di dunia. Biarlah diketahui juga bahwa orang M di beberapa negara M, karena mengetahui nama Allah ini dapat menyentuh hati orang M, mereka menetapkan hukum untuk melarang orang Kristen menggunakan nama ini dalam merujuk kepada Injil Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsep-konsep seperti Anak Perdamaian di suku Sawi, hai di suku Damal, nabelan-kabelan di suku Dani, lahir baru di suku Asmat dan osuwa di suku Yali ada di jantung dari berbagai budaya manusia. Ketika para pembawa pesan Injil mengabaikan, menjelekkan atau menghapuskan kekhasan seperti ini, penolakan terhadap Injil dapat mengeras dalam budaya konkret. Tetapi ketika analogi penebusan mengidentifikasi dan menegaskan berbagai komponen budaya yang merupakan hasil dari pengaruh Allah melalui wahyu umum, Alkitab sendiri, wahyu khusus Allah, dapat diangkat sebagai penggenapan dari wahyu Allah, dari Allah dan bagi Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih ada ratusan wilayah di mana respons terhadap Injil begitu kecil bahkan tidak ada sama sekali. Di wilayah-wilayah inilah, penyelidikan yang peka terhadap budaya dapat menemukan kemungkinan yang luar biasa bagi terobosan Injil melalui analogi penebusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Apakah_Allah_Buta_Warna_Atau_Penuh_Warna:_Injil,_Globalisasi_dan_Etnisitas&amp;diff=735</id>
		<title>Apakah Allah Buta Warna Atau Penuh Warna: Injil, Globalisasi dan Etnisitas</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Apakah_Allah_Buta_Warna_Atau_Penuh_Warna:_Injil,_Globalisasi_dan_Etnisitas&amp;diff=735"/>
		<updated>2015-09-14T18:48:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{miriam adeney}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isabell Ides berumur 101 tahun ketika dia meninggal bulan Juni lalu. Seorang Indian Makah, anggota dari suku pemburu paus, dia tinggal di rumah terakhir pada jalan terakhir di ujung barat laut terjauh di Amerika Serikat. Isabell dikenal luas karena dia mencintai dan mengajar bahasa dan budaya suku Makah. Ratusan orang belajar menenun keranjang dari tangannya. Beberapa generasi belajar kata-kata dalam bahasa mereka dari bibirnya. Ibu muda membawa ikan salmon asap dari kutub utara kepadanya. Setelah mengunyah sedikit, dia bisa mengatakan kalau kayu yang mereka gunakan terlalu kering. Para arkeolog membawa keranjang-keranjang yang baru digali yang berumur 3.000 tahun kepadanya, dan dia dapat mengidentifikasi keranjang-keranjang apa itu, bagaimana mereka dibuat, dan bagaimana mereka digunakan. “Seperti kehilangan perpustakaan,” kata seorang antropolog pada saat pemakamannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Isabell juga mengajar Sekolah Minggu di gereja Sidang Jemaat Allah di wilayah reservasi orang Indian. Dia menghubungkan hidupnya yang panjang dengan iman Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Apakah keahlian Isabell membuat keranjang berarti bagi Allah, seperti juga kegiatan mengajarnya di Sekolah Minggu? Seberapa pentingkah warisan etnisnya dalam gambar besar Kerajaan Allah? Pertanyaan ini terus menggema seraya kita membahas globalisasi.1 &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penghancuran Kreatif  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada musim semi tahun 2001, perwakilan dari 34 bangsa berkumpul di Quebec untuk mendiskusikan kesepakatan pasar bebas yang akan meliputi seluruh benua Amerika. Ada banyak kekuatiran. Bagaimana bisa ada derajat untuk bermacam-macam perdagangan antara Amerika, Kanada dan Honduras atau Bolivia, antara beberapa negara terkaya dan beberapa yang termiskin di planet bumi? Bukankah negara yang kecil akan disikat? Bahkan Brazil, negara berekonomi terbesar di Amerika Latin, juga gesit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ke dalam pembahasan inilah, Kepala Ekonomi Federal Amerika Serikat, Alan Greenspan, memunculkan frasa “penghancuran kreatif.” Ya, dia berkata, semakin terbuka perdagangan dunia berarti ada beberapa “penghancuran kreatif.” Bisnis akan ditutup. Pekerjaan akan hilang. “Tak diragukan,” kata Greenspan (seperti dikutip dalam Workers, 2001), “bahwa transisi kepada ekonomi baru berteknologi tinggi yang menjadi bagian dari peningkatan perdagangan ini terbukti sulit bagi segmen besar tenaga kerja kita…. Proses penyesuaiannya menarik dengan keras tenaga kerja yang ada sekarang yang jumlahnya dibuat sangat berlebihan tanpa kesalahan dari pihak mereka.” Tetapi trauma seperti itu baru sebagian dari harga dari perkembangan. Seperti yang sering dikatakan, Anda tidak bisa membuat omelet tanpa memecahkan telur. Anda tidak bisa berkebun tanpa memangkas dahan. Anda tidak bisa menggunakan komputer tanpa sekali-kali menekan tombol hapus. Anda tidak bisa berlatih sebagai atlit tanpa menghindari berbagai kebiasaan buruk. Mengasah, menajamkan, menyingkirkan, mengurangi?semua itu merupakan istilah positif. Jadi Greenspan berbicara mengenai “penghancuran kreatif” yang tidak dapat dipisahkan dari globalisasi. Tetapi, dia menambahkan, “Sejarah mengatakan pada kita bahwa bukan hanya tidak bijak untuk menahan terjadinya inovasi, tetapi juga tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Etnisitas merupakan salah satu gelanggang penghancuran. Di dalam sistem dunia sekarang ini, nilai-nilai etnis lokal sedang diinjak-injak. Nilai-nilai budaya lebih daripada barang dagangan. Mereka adalah bagian dari warisan yang padanya kita tidak dapat menaruh sebuah harga. Namun, seperti spesies yang terancam punah, nilai-nilai budaya sedang terancam. Bagaimana seharusnya kita merespons ketika globalisasi menenggelamkan etnisitas?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Sebuah Tempat dalam Kisah  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa pandangan Allah mengenai etnisitas? Allah menciptakan kita dalam gambar-Nya, mengaruniai kita dengan kreativitas, dan menempatkan kita di dalam sebuah dunia dengan berbagai kemungkinan dan tantangan. Menerapkan kreativitas yang diberikan Allah, kita telah mengembangkan berbagai budaya di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Pada mulanya, Allah mengatakan bahwa tidak baik bagi manusia untuk sendirian. Manusia diciptakan untuk hidup dalam komunitas yang bermakna. Maka Allah memberikan berkat-Nya kepada wilayah-wilayah budaya seperti keluarga, negara, pekerjaan, ibadah, seni, pendidikan, dan bahkan berbagai perayaan. Dia memberi perhatian kepada hukum-hukum yang memelihara keseimbangan ekologi, menata hubungan sosial, menyediakan sanitasi, dan melindungi hak-hak kaum yang lemah, orang buta, orang tuli, janda, yatim piatu, orang asing, orang miskin, dan para pengutang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Dia meneguhkan dunia fisik dari mana bahan kebudayaan dikembangkan. Dia bersuka dengan tanah dan sungai yang telah diberikan-Nya pada manusia. Itu merupakan “suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun” (Ul. 11:12). Mengetahui kesukaan akan materi dari umat-Nya, Allah menempatkan mereka dalam: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•	negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan bukit-bukit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•	suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•		suatu negeri dengan minyak zaitun dan madunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•	suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•	suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga (Ul. 8:7-9). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di dalam bahasa penggambaran Perjanjian Lama, Allah memberi minyak kepada umat-Nya agar wajah mereka bersinar, anggur untuk membuat hati mereka bersuka, teman-teman yang seperti besi untuk menajamkan mereka, istri yang seperti anggur yang berbuah, dan anak-anak yang seperti anak panah. Pola ekonomi, sosial dan artistik tergabung untuk membentuk suatu kebudayaan. Inilah konteks yang di dalamnya kita hidup. Inilah tempat di mana kita dirancang untuk hidup. Sistem global mungkin menenggelamkan kita dalam realitas maya (virtual)?media, paket musik, pasar saham, hasil olahraga, dan kilasan berita?di mana berbagai tragedi besar ditayangkan berdampingan dengan iklan bir. Namun jika kita asyik tenggelam dalam tingkatan global dan maya, kita kehilangan ritme nyata dari alam dan masyarakat. Masa menabur dan menuai, dan kesehatan dari tanah, pohon dan air kita. Persahabatan, pertunangan, pernikahan, pengasuhan orangtua, mengalami penuaan, dan mati. Penciptaan, penggunaan, pemeliharaan, dan perbaikan. Ada ritme-ritme untuk hidup dalam dunia milik Allah. Semua ini diekspresikan secara lokal, melalui berbagai pola budaya yang spesifik. Mengetahui semua hal ini membantu kita mengenal diri kita sendiri, berbagai potensi kita dan berbagai keterbatasan kita, dan sumber-sumber serta urutan-urutan yang menenun susunan bagi pilihan-pilihan yang bahagia. Semua itu tidak dapat diketahui pada tingkatan global yang abstrak. Mendisiplin seorang anak, contohnya, bukan suatu yang maya. Dipecat dari pekerjaan bukanlah sebuah pengalaman media. Memiliki seorang bayi bukan sebuah permainan komputer. Berurusan dengan kanker bukan sesuatu yang abstrak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika saya tinggal di Filipina, saya melihat keluarga-keluarga yang kuat. Keramah-tamahan yang hangat. Banyak waktu dilimpahkan kepada anak-anak. Persahabatan yang terus berlanjut. Warisan kebebasan ekonomi bagi wanita. Kemampuan untuk hidup secara dermawan meski uang sedikit. Saus yang dibubuhkan pada sepotong kecil daging yang dibagikan ke banyak orang. Sebuah kesukaan dalam berbagi. Keahlian dalam seni relaksasi. Tubuh yang luwes dan lentur. Kemampuan untuk menikmati berada bersama dengan sejumlah besar orang secara terus-menerus. Karena setiap pemberian yang baik datangnya dari atas (Yak. 1:17) dan karena segala hikmat dan pengetahuan datangnya dari Yesus Kristus (Kol. 2:3), berbagai kualitas yang indah dalam budaya Filipina harus dilihat sebagai karunia dari Allah. Pencipta kita senang dengan berbagai warna. Dia menciptakan bau, dari bau bawang sampai bunga mawar. Dia membentuk setiap butiran salju yang segar. Dia melahirkan bermilyar-milyar kepribadian yang unik. Apakah mengejutkan jika Dia memprogram kita dengan kapasitas untuk menciptakan rangkaian kebudayaan yang luar biasa untuk memperkaya dunia-Nya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Budaya mengandung dosa dan harus dihakimi, hal ini akan kita bahas dalam bagian berikut. Tetapi kebanggaan etnis tidak secara otomatis adalah dosa. Itu seperti sukacita yang orangtua rasakan ketika anak mereka lulus. Anak Anda berjalan di atas panggung. Dada Anda berdetak dengan kebanggaan. Ini bukan kebanggaan yang mengorbankan tetangga Anda, yang wajahnya juga bersinar ketika anaknya lulus. Bukan, hati Anda membesar karena Anda tahu kisah anak Anda. Kesedihan yang ia pernah derita. Berbagai karunia yang telah berkembang di dalam dirinya seperti bunga yang mekar diterpa mentari. Anda sendiri menangis dan tertawa dan memberi tahun-tahun hidup Anda dalam membentuk beberapa dari kisah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Yang terbaik, etnisitas adalah perluasan dari kebanggaan keluarga yang baik adanya. Etnisitas adalah suatu perasaan identifikasi dengan orang-orang yang berbagi suatu kebudayaan dan sebuah sejarah, dengan penderitaan dan keberhasilan dari budaya tersebut, pahlawan dan martir mereka. Seperti keanggotaan dalam keluarga, etnisitas bukan sesuatu yang dihasilkan. Etnisitas diperoleh sejak lahir, itu diberikan tak peduli Anda menginginkannya atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Umat manusia diciptakan untuk hidup dalam komunitas. Di dunia sekarang ini, kita tetap merasakan kebutuhan tersebut. “Meskipun ketika kebutuhan materi kita sudah terpenuhi, tetap saja motivasi kita … daya cepat sembuh secara emosional … dan kekuatan moral … harus berasal dari suatu tempat, dari beberapa visi tentang tujuan umum yang tertanam dalam sebuah citra tentang realitas sosial yang menarik perhatian,” menurut seorang antropolog Clifford Geertz (1964, hlm. 70). Menurut Gertz, menjadi warga negara dunia terlalu kabur untuk bisa menyediakan motivasi dan kekuatan seperti itu. Kewarganegaraan dunia membuat orang biasa merasa tidak berarti. Bahkan kewarganegaraan nasional bisa menghasilkan rasa apatis. Tetapi ketika Anda adalah anggota dari sebuah kelompok etnis, Anda memiliki sesuatu perayaan yang memberi kegairahan, nilai-nilai yang memberi kerangka kognitif, pola-pola tindakan yang memberi arah kepada hari-hari Anda, dan ikatan hubungan yang mengakarkan Anda dalam suatu konteks manusia. Anda memiliki tempat dalam waktu di dalam jagad semesta ini, suatu dasar bagi keyakinan bahwa Anda adalah bagian dari keberlanjutan hidup yang mengalir dari masa lalu dan bergerak ke masa depan. Anda ada dalam cerita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ketika Etnisitas Menjadi Berhala  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menetapkan budaya.Tetapi adat-istiadat yang memuliakan Allah bukan satu-satunya realitas yang kita amati di sekitar kita. Alih-alih keindahan, kreativitas yang harmonis, dan otoritas yang dikagumi, kita sering melihat perpecahan, keterasingan, hawa nafsu, korupsi, keegoisan, ketidakadilan dan kekerasan dipupuk oleh budaya kita. Tidak ada bagian yang masih murni. Ilmu pengetahuan cenderung melayani militerisme atau hedonisme, mengabaikan moral. Seni sering kali menjadi ibadah tanpa Allah. Media massa penuh dengan penyalahgunaan verbal. Para pengusaha mendukung transaksi dagang yang curang. Politisi memenuhi kantong mereka sendiri. Para pekerja melakukan pekerjaan bermutu rendah. Para suami menipu istri mereka. Para istri memanipulasi suami mereka. Anak-anak mengabaikan orang tua mereka sebagai pribadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita tidak hanya diciptakan dalam gambar Allah. Kita juga orang berdosa. Karena kita telah memutuskan hubungan dengan Allah, budaya yang kita ciptakan menunjukkan tanda kejahatan. Maka kita dipanggil bukan hanya untuk bersuka dalam pola hikmat, keindahan, dan kebaikan yang ada dalam budaya kita, tetapi juga mengonfrontasi dan menilai pola penyembahan berhala dan eksploitasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Terkadang etnisitas berubah menjadi berhala. Seperti berhala lain di dalam masyarakat modern?uang, seks, dan kekuasaan?etnisitas pada dirinya sendiri tidaklah buruk. Namun, ketika kita meninggikannya sebagai kebaikan tertinggi, etnisitas menjadi kejahatan. Hasilnya adalah rasisme, pertikaian, perang, dan “pembantaian etnis.” Ketika etnisitas menjadi berhala, itu harus dikonfrontasi dan dihakimi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Berbagai Implikasi bagi Misi  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Etnisitas melawan kecenderungan globalisasi yang menurunkan derajat manusia. Bahkan yang terbaik, globalisasi ekonomi tetap cenderung memperlakukan nilai-nilai budaya sebagai komoditas. Etnisitas mengingatkan kita untuk tetap setia kepada nenek moyang kita dan berbagai komunitas kita. Ini merupakan penyeimbang yang penting. Apa makna etnisitas bagi misi? Kita akan menyarankan empat aplikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 1. Menerima Kelokalan  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, misi harus menegaskan kebudayaan lokal. Kita tidak melakukan ini secara tidak kritis. Bekerja dengan dan di bawah orang Kristen lokal, kita menghakimi pola-pola penyembahan berhala dan eksploitasi, seperti dijelaskan di atas. Namun kita mencintai budaya lokal. Kita menerimanya sebagai karunia Allah. Dan sementara kita tinggal di tempat itu, kita dengan senang hati mengadaptasi dimensi dari berbagai nilai lokal yang sehat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita berbicara dengan bahasa lokal. Di mana pun orang Kristen pergi, mereka menerjemahkan Alkitab. Ini diperhatikan oleh Lamin Sanneh, seorang Kristen berlatar belakang M yang adalah profesor di bidang Sejarah di Yale University. Orang M menuntut umatnya belajar bahasa Arab, karena itu adalah bahasa Allah. Tetapi orang Kristen berkata, “Allah berbicara dengan bahasa Anda.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diciptakan untuk Menciptakan Kebudayaan  	&amp;lt;br /&amp;gt;Erich Sauer&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Firman Allah kepada Adam memanggil manusia kepada pertumbuhan progresif dalam kebudayaan. Jauh dari berlawanan dengan Allah, pencapaian budaya merupakan atribut esensial dari kemuliaan manusia, sama seperti yang mereka miliki di Firdaus. Penemuan-penemuan, ilmu pengetahuan dan seni, pemurnian dan peninggian, singkatnya, kemajuan pikiran manusia, semuanya adalah kehendak Allah. Semua itu adalah tugas menguasai bumi oleh umat manusia yang bermartabat layaknya raja, pelaksanaan suatu amanat. Manusia memiliki posisi yang berotoritas, di bawah Allah dan di atas seluruh ciptaan…. Mereka diharapkan untuk menemukan potensi-potensi dari bumi, udara, dan laut, menggunakan alam dan sumber-sumbernya…. Di sini kita dapat melihat pencarian ilmiah dibayangkan terlebih dahulu, yang bertujuan memahami dan mengelompokkan dunia alami. Ini merupakan anggaran dasar ilahi bagi keragaman yang amat besar dari kegiatan manusia: agrikultur, teknologi, industri, kerajinan, dan seni. Semua ini, menurut Kekristenan adalah karunia Allah untuk memperkaya kehidupan manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diambil dari The King of the Earth: The Nobility of Man According to the Bible and Science oleh Erich Sauer, (Grand Rapids: Eerdmans, 1962).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita mendukung para pebisnis lokal. Kita mendorong artis lokal, pemusik lokal, dan penulis lokal ketimbang secara rutin mengimpor buku-buku asing atau menerjemahkannya. Kita tinggal di hotel dan rumah yang dimiliki orang lokal. Kita belajar dari pengetahuan ahli herbal lokal. Kita menjaga hutan lokal. Kita menguasai olahraga dan permainan lokal. Kita berusaha hadir di pesta dan pemakaman lokal. Kita berempati dengan pembaharu sosial lokal. Jika kita misionaris, kita akan mendisiplinkan pikiran kita agar tidak dikuasai oleh pola budaya tempat asal kita. Warisan budaya yang spesifik memang penting. Bahkan cerita epik abad ke-20 The Lord of the Rings (Tolkien, 1954) menegaskan kelokalan ini. Kolumnis Mike Hickerson (2002) mengamati:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::The Lord of the Rings menyatakan bahwa kemenangan Allah di Bumi (atau Middle-Earth) tidak lengkap kecuali jika dan hanya ketika kemenangan tersebut memenuhi “tempat-tempat terpencil”…. Perang terakhir antara yang baik dan yang jahat bukanlah suatu pertempuran yang luar biasa besar dalam sejarah – seperti kehancuran Bintang Mati – tetapi suatu pertempuran kecil, diikuti oleh rekonstruksi kecil dari tempat yang sangat kecil. Kabar Baik memenuhi setiap lembah…. Di dalam perjalanan kembali ke Shire, para Hobit meneruskan misi mereka sampai selesai. Tanpa pekerjaan mereka di antara sesama mereka, kejahatan masih memiliki pertahanan di Middle-Earth. Global itu penting, demikian juga lokal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di dalam program pelatihan misionaris, penekanan ini harus dibuat. Ada kecenderungan bagi para misionaris dari kebudayaan yang dominan untuk menyatakan warisan etnis mereka seakan-akan itulah pola Allah bagi setiap orang. Misionaris-misionaris Barat melakukan hal ini. Misionaris Tiongkok dan Korea melakukan hal ini di Asia Tengah dan Tenggara. Orang Latin melakukannya di dalam komunitas pribumi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Bahkan di dalam satu negara, para misionaris yang berasal dari populasi mayoritas mungkin kurang menghargai kebudayaan minoritas dan memperlakukannya secara buruk. Pertimbangkan undangan melalui email yang tiba pagi ini. Pesannya berbunyi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Jika Anda datang, bersediakah Anda melakukan lokakarya mengenai teologi tentang kebudayaan? Di negara kami, kami memiliki begitu banyak kelompok etnis yang berbeda, dan prasangka yang ada sangat besar. Jadi kami memiliki orang dari satu kelompok etnis bekerja dalam satu desa dengan berbagai kelompok etnis. Tetapi mereka cenderung hanya mau bekerja dengan kelompok mereka, dan datang dengan berbagai alasan untuk tidak bekerja dengan kelompok lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di sepanjang sejarah, beberapa misionaris menyamakan warisan budaya mereka dengan cara yang lebih disukai Allah. Mudah untuk mengkritik mereka dengan kemampuan untuk mengingat sesuatu. Namun, kita tidak berani mengizinkan mereka pergi karena terlalu kurang persiapan. Sementara teologi kebudayaan dari para misionaris mula-mula mungkin terlalu sempit, praktik mereka sering kali sehat. Mereka belajar bahasa lokal. Mereka menjadi sumber utama informasi budaya bagi para antropologis pertama. Tanpa pesawat, mereka tetap bertahan melalui perang, epidemik, kekeringan, dan banjir. Anak-anak dan istri mereka terkubur dalam kotoran lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sebaliknya, para misionaris masa kini senang berbicara mengenai kontekstualisasi. Tetapi apakah kita punya waktu untuk menghidupinya? Yesus menghabiskan 33 tahun tercelup ke dalam satu budaya lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 2. Menjadi Musafir ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang memiliki beberapa identitas etnis. Perhatikan situasi ini: Di pesisir barat Amerika, generasi awal orang Asia dilarang oleh hukum untuk menikahi orang dari ras Caucasus. Cukup sedikit imigran Filipina menikahi orang Amerika asli. Bayangkan tiga anak yang sudah dewasa dari keluarga tersebut hari ini. Anak pertama terlihat lebih seperti orang Filipina, anak kedua lebih seperti orang Amerika asli, dan anak ketiga lebih seperti orang Amerika. Tetapi ketiganya berganti-ganti identitas dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Selanjutnya, kebudayaan berubah secara terus-menerus. Dalam prosesnya, kombinasi identitas yang baru muncul. Wing Luke Museum yang terkenal dibuka kembali minggu ini di kota asal saya, Seattle, Washington. Museum ini dilaporkan sebagai satu-satunya museum Pan-Asia-Pasifik-Amerika di Amerika Serikat. Apa itu Pan-Asia-Pasifik-Amerika? Menurut Jack Broom dari Seattle Times itu “bukan suatu ras, kelompok etnis, atau nasionalitas.” “Itu adalah sebuah kategori sensus yang secara historis menggabungkan orang-orang dari 40 negara lebih membentuk suatu populasi dunia yang luas yang membentang dari Tahiti sampai Pakistan, Jepang sampai Indonesia, Hawai sampai India” (2008, hlm. A16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Empat belas persen dari populasi negara saya adalah orang Asia Pasifik Amerika. Meski ada penyangkalan dari Seattle Times, ini merupakan kategori etnis yang signifikan, suatu kelompok yang dapat diukur dengan identitas yang cukup untuk mendukung suatu museum yang terkenal. Di dalam sebuah jalinan hirarki dari identitas etnis, kelompok ini membentuk satu tingkat. Artikel Times juga berkata bahwa tingginya angka tersebut “mencerminkan ranting bertengger dari Barat Laut di Lingkar Pasifik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Memiliki banyak identitas bukanlah hal yang tidak biasa. Penutur bahasa Spanyol di Amerika bertumbuh 50% dari tahun 1980 sampai 1990. Kini mereka merupakan 30% dari populasi di New York. Kebanyakan juga berbahasa Inggris. Pada dekade yang sama, jumlah penutur bahasa Mandarin di Amerika meningkat 98%. Empat per lima dari mereka lebih suka untuk terus menggunakan bahasa Mandarin di rumah meskipun sebagian besar dari mereka berbahasa Inggris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Intinya, identitas etnis terletak pada penganggapan diri sebagai seorang anggota dari sebuah kebudayaan bersama, sebuah komunitas bersama, sebuah warisan bersama. Di dalam masyarakat yang multietnis, Anda mungkin tidak melihat perbedaan yang mencolok antara pola ekonomi, sosial, dan wawasan dunia dari mereka yang orangtuanya berasal dari negara lain. Mereka mungkin berbelanja pada toko yang sama dan membuat lelucon mengenai acara olahraga yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Warisan itu penting, tetapi banyak orang memiliki lebih dari satu warisan, dan pada beragam titik dalam sebuah kontinum identitas. Sebagian orang menyeimbangkan beberapa identitas yang dimilikinya. Orang mungkin tidak menyatakan hal ini dalam kata-kata, atau bahkan dalam pikiran sadar. Tetapi mereka tahu kapan mereka merasa tidak nyaman, kapan mereka merasa dijejali ke dalam kategori yang tidak sesuai, ke dalam kotak yang tidak cocok. Penting untuk menghormati cara orang mengidentifikasi diri mereka pada waktu tertentu. Akan tetapi, melakukan hal demikian mungkin mengacak kategori kita atau daftar kelompok suku yang kita miliki. Individu dari nenek moyang yang sama?bahkan saudara kandung?mungkin memilih untuk mengidentifikasi dirinya secara berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Apa identitas dari imigran pengungsi? Anak yang memiliki dua ras? Suku Indian Navaho yang ragu-ragu entahkah rumah yang menjadi tempat reservasi mereka atau kota? Kaum kosmopolitan dan orang muda yang membeli dan memakai barang dari segala tempat dan membaca, mendengar, serta menonton media dari segala tempat? Siapa suku mereka? Apakah mereka ditakdirkan menjadi kaum nomaden global?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di mana pun mereka, Injil menawarkan mereka sebuah. Allah tidak berprasangka terhadap kita. Dia menemui kita masing-masing sebagai pengecualian bahwa kita adalah seperti adanya kita, dengan identitas kita yang banyak dan saling tumpang tindih, pengembaraan kita yang unik, kekhasan perilaku individual kita. Allah tidak tidak menempatkan kita dalam kotak kecil. Apakah kita secara permanen telah kehilangan komunitas kita, atau sementara tanpa tujuan, atau sedang merangkai bagian-bagian dari beberapa warisan, Allah menyambut kita ke dalam umat-Nya. Injil menawarkan kita sebuah rumah yang melampaui berbagai struktur dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Budaya lokal merupakan karunia Allah, tetapi mereka tidak pernah cukup. Ya, seperti kata Yeremia, “Usahakanlah kesejahteraan kota” di mana kita berada (Yer. 29:7). Namun, seperti Abraham, kita tahu bahwa ini bukan tempat akhir kita. Kita tetap merupakan musafir yang sedang mencari “kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah” (Ibr. 11:8-10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 3. Membangun Jembatan  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1964, ketika berumur 14 tahun, Zia masuk sekolah khusus orang buta di Afganistan. Dia menjadi orang Kristen yang penuh sukacita. Selama beberapa tahun kemudian, dia belajar berbicara bahasa Dari, Pastu, Arab, Inggris, Jerman, Rusia, dan Urdu, dan membaca bahasa ini jika huruf Braille-nya tersedia. Selama masa pendudukan Rusia di Afganistan, Zia ditugaskan untuk memimpin sekolah khusus orang buta ini. Kemudian, karena ia tidak mau bergabung dengan Partai Komunis, ia dilemparkan ke dalam penjara. Ia melarikan diri ke Pakistan dengan menyamar sebagai pengemis buta, yang memang merupakan keadaannya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di Pakistan, karena Zia menerjemahkan Perjanjian Lama, dia ditawarkan beasiswa ke Amerika Serikat untuk belajar bahasa Ibrani. Ia menolak kesempatan itu. Mengapa? Ia terlalu sibuk melayani secara lokal. Meskipun ia tidak berpikir ia punya waktu menarik keluar dirinya untuk belajar Ibrani, ia belajar bahasa Urdu sebagai bahasa ketujuhnya demi menjangkau orang Pakistan. Akhirnya ia mati martir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Zia mewakili jutaan orang Kristen yang bersaksi selama berabad-abad yang telah menemukan bahwa Injil menghubungkan kita dengan dunia. Kita mulai secara lokal, tetapi kita tidak berhenti di sana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Hari ini dunia sangat amat membutuhkan orang-orang seperti Zia. Globalisasi ekonomi dan teknologi menghubungkan kita secara dangkal. Masyarakat harus memiliki orang-orang yang bisa membuat hubungan-hubungan yang lebih dalam. Thomas Friedman (1999) menjelajahi pemikiran ini dalam bukunya yang luar biasa, The Lexus and the Olive Tree, di mana Lexus mewakili ekonomi global dan pohon zaitun mewakili berbagai tradisi lokal. Clifford Geertz (1973) menulis mengenai ketegangan antara periodisme dan esensialisme, antara kebutuhan untuk menjadi bagian dari periode masa kini dan kebutuhan untuk mempertahankan identitas esensial kita, untuk mengetahui siapa kita. Manuel Castells (1996, hlm. 459) dalam bukunya The Rise of the Networked Society berpendapat bahwa meskipun sebuah bumi yang berjejaring berarti suatu integrasi kekuasaan, ini terjadi pada tingkat yang semakin dipisahkan dari kehidupan pribadi kita. Ia menyebutnya “skizofrenia struktural” dan memperingatkan, “Kecuali jika jembatan budaya, politik, dan fisik secara sengaja dibangun … kita mungkin sedang mengarah kepada kehidupan dalam semesta paralel yang waktunya tidak bersesuaian.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Siapa yang dapat membangun jembatan? Gerakan apa yang mencakup bangsa-bangsa, berbagai ras, jenis kelamin, ethne, kaya dan miskin, orang yang buta huruf dan orang yang bergelar Ph.D.? Sangat luar biasa untuk menyadari bahwa jarang ada orang yang lebih siap untuk berhubungan secara antarbudaya daripada gereja universal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika ikatan masyarakat terpecah, sering kali orang percaya-lah yang dapat memimpin masyarakat melintasi jembatan rekonsiliasi, menjangkau dengan genggaman tangan sukacita saudara-saudari dari pihak lain. Kesetiaan kita tidak berhenti hanya pada budaya kita sendiri. Kita adalah pengembara. Kita melangkah keluar dari kelompok kita. Memang, itu yang selalu menjadi mandat orang Kristen. Abraham dipangil untuk menjadi berkat bagi segala kaum di bumi (Kej. 12:1-3). Daud menyanyi, “ya Allah kiranya bangsa-bangsa  semuanya bersyukur kepada-Mu” (Mzm. 67:3-5). Paulus didorong oleh semangat yang besar untuk menjangkau kelompok suku yang belum terjangkau (Rom. 15:20-21). Yohanes tergetar oleh visi akan kelompok suku dan kaum dan keluarga dan bangsa berkumpul bersama di depan takhta Allah di akhir zaman (Why. 4-5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Membuat hubungan lintas budaya telah menjadi amanat kita sejak awal. Keterlibatan kita dalam globalisasi bukan berakar dalam ekonomi tetapi dalam kasih Allah akan dunia-Nya. Kita tidak boleh menjadi penyendiri, puas dengan mengurung diri. Kasih Allah mendorong kita untuk melangkah keluar dari wilayah kita. Di mana ada konflik, kita keluar sebagai pembawa damai. Di mana Injil belum dikabarkan, kita keluar sebagai saksi. Hubungan global juga memungkinkan kita keluar untuk melayani Gereja Yesus Kristus di seluruh dunia secara lebih cepat dan menyeluruh ketimbang yang pernah sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Bagi orang yang diberi banyak, mereka akan dituntut banyak. Apakah kita sedang membangun jembatan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 4. Membangun Gereja Etnis  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir, kita perlu mempertimbangkan gereja-gereja etnis yang berbeda dalam komunitas kita sendiri. Sebagian orang bertanya: “Jika pukul 11 siang hari Minggu merupakan waktu paling memisahkan orang di Amerika, bukankah gereja etnis sebetulnya rasis? Mereka jelas menguatkan penginjilan dan persekutuan. Tetapi hanya karena sesuatu berhasil tidak berarti itu benar. Iblis memiliki banyak keberhasilan juga.”2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepuluh Cara Membangun Jembatan Multi-Etnis Di Antara Berbagai Gereja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.	Menyambut. Kita harus menyambut orang dari budaya lain yang ingin bergabung dengan gereja kita, dan jika mereka begitu menginginkannya, kita harus membantu mereka menciptakan relung di mana mereka dapat beribadah dengan cara yang akrab bagi budaya mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.	Mengajar. Kita harus mengjar, berulang kali, membedakan kebenaran Alkitab tentang kesatuan dan kreativitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.	Berdoa. Kita harus berdoa satu sama lain secara teratur melampaui batasan etnis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.	Menginjili. Kita harus bekerja bersama dalam penginjilan lokal yang relevan secara budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.	Memupuk. Kita harus bekerja bersama dengan gereja-gereja etnis dalam komunitas kita untuk memupuk orang muda, sambil mendorong orang muda memelihara kebanggaan dalam warisan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.	Bertobat. Kita harus bertobat dari dominasi hegemonis atau pengabaian di satu sisi dan dari ketidaksukaan atau ketergantungan di sisi lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.	Hubungan. Kita harus menugaskan orang yang menjadi “makelar kebudayaan” yang menghubungkan jemaat kita dengan kebudayaan spesifik dari warisan budaya lain dalam komunitas kita, dan yang mengharuskan para anggota gereja bertanggung jawab menjaga hubungan yang dalam dan berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8.	Investasi. Kita harus menginvestasikan waktu dan uang secara berkorban dan merisikokan diri kita secara emosi dalam kemitraan yang kuat dan pertukaran pola-pola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9.	Membangun Pemimpin. Kita harus bekerja bersama dalam pelatihan kepemimpinan yang secara budaya relevan dan penerbitan bahan-bahan yang bermanfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10.	Belajar. Kita harus siap untuk saling belajar, percaya bahwa Firman Allah bisa datang kepada kita melalui orang-orang yang sangat berbeda dari kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Bagaimana kita menjawab hal ini? Di dalam bab ini, kita telah meletakkan dasar bagi pendapat bahwa gereja etnis dibenarkan bukan hanya untuk alasan pragmatis?karena berhasil?tetapi juga karena mereka berakar dalam doktrin penciptaan. Di dalam gambar Allah, menyatakan kreativitas yang Allah berikan, manusia telah mengembangkan beragam kebudayaan. Berbagai kebudayaan ini menawarkan bayangan akan keindahan dan kebenaran yang melengkapi, dan kritik atas kejahatan yang melengkapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Setiap gereja harus menyambut semua orang dari berbagai ras dan kebudayaan. Sebagian orang berkembang dalam gereja yang miliki beragam budaya. Sebagian lainnya memelihara tradisi mereka. Bagi mereka, kebudayaan tetap penting dalam ibadah. Mereka berdoa dengan bahasa asli mereka, dengan bahasa tubuh yang berarti, ratapan dan tiarap. Kebudayaan mereka akan mempengaruhi cara mereka menginjili, memuridkan, mengajar, mengatur administrasi, konseling, keuangan, pelayanan pemuda, pelatihan pemimpin, disiplin, pengembangan kurikulum, pemulihan bencana, pengembangan, dan advokasi. Teolog mereka melengkapi pemahaman kebudayaan lain akan Alkitab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Jemaat-jemaat yang terpisah tidaklah buruk. Apa yang buruk adalah kurangnya kasih. Kurangnya kasih ini terlalu sering ditemukan dalam gereja-gereja yang mayoritas anggotanya berasal dari cabang kebudayaan yang berada di hirarki puncak kekuasaan. Gereja yang lebih kaya dan lebih berkuasa memiliki berbagai tanggung jawab khusus. Jika saudara-saudari seiman kita kekurangan bantuan kesehatan, sekolah yang baik, atau lingkungan yang aman?atau jika mereka kekurangan tafsiran Alkitab dalam bahasa mereka, atau uang kuliah agar pendeta mereka dapat pergi ke seminari?kita tidak dapat hanya tersenyum dan melangkah pergi. Seperti yang ditulis rasul Yakobus, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!,” tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (Yak. 2:1-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di dalam konteks ini, gereja-gereja etnis memiliki nilai yang besar. Seperti mosaik, seperti kaleidoskop, seluruh spektrum kebudayaan?dan gereja-gereja etnis?memperkaya dunia milik Allah. Sama seperti keluarga yang sehat dan kuat merupakan dasar bagi komunitas yang sehat, demikian juga gereja-gereja etnis yang kuat dapat menjadi dasar bagi persekutuan multikultural yang kuat. Hanya ketika kita telah belajar tentang komitmen dan kerjasama di rumah barulah kita siap untuk mempraktikkan ketrampilan tersebut secara luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Gereja-gereja etnis etnis juga merupakan tempat yang baik untuk memulai misi global. Kita dapat bekerjasama dengan orang Kristen dari berbagai bangsa yang tinggal di kota kita?mahasiswa, pengusaha, pengunjung sementara, pengungsi, imigran. Banyak dari mereka yang mewakili kelompok suku yang “belum terjangkau.” Banyak dari mereka yang secara teratur pulang ke tanah air mereka untuk membantu menggali sumur, mendirikan klinik, mengajar di sekolah-sekolah Alkitab, menerbitkan buku-buku himne dan buku pegangan pelatihan, dll. Kita dapat berdoa dengan mereka, membantu mereka bertumbuh dewasa sebagai murid-murid Kristus, dan bersama-sama menjangkau kepada kelompok suku mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika etnisitas dihargai sebagai karunia namun tidak disembah sebagai berhala, dunia milik Allah diberkati, dan kita bisa mencicipi sorga. Mari kita menjaga visi tersebut di hadapan kita.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Apakah_Allah_Buta_Warna_Atau_Penuh_Warna:_Injil,_Globalisasi_dan_Etnisitas&amp;diff=734</id>
		<title>Apakah Allah Buta Warna Atau Penuh Warna: Injil, Globalisasi dan Etnisitas</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Apakah_Allah_Buta_Warna_Atau_Penuh_Warna:_Injil,_Globalisasi_dan_Etnisitas&amp;diff=734"/>
		<updated>2015-09-14T18:48:18Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{miriam adeney}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isabell Ides berumur 101 tahun ketika dia meninggal bulan Juni lalu. Seorang Indian Makah, anggota dari suku pemburu paus, dia tinggal di rumah terakhir pada jalan terakhir di ujung barat laut terjauh di Amerika Serikat. Isabell dikenal luas karena dia mencintai dan mengajar bahasa dan budaya suku Makah. Ratusan orang belajar menenun keranjang dari tangannya. Beberapa generasi belajar kata-kata dalam bahasa mereka dari bibirnya. Ibu muda membawa ikan salmon asap dari kutub utara kepadanya. Setelah mengunyah sedikit, dia bisa mengatakan kalau kayu yang mereka gunakan terlalu kering. Para arkeolog membawa keranjang-keranjang yang baru digali yang berumur 3.000 tahun kepadanya, dan dia dapat mengidentifikasi keranjang-keranjang apa itu, bagaimana mereka dibuat, dan bagaimana mereka digunakan. “Seperti kehilangan perpustakaan,” kata seorang antropolog pada saat pemakamannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Isabell juga mengajar Sekolah Minggu di gereja Sidang Jemaat Allah di wilayah reservasi orang Indian. Dia menghubungkan hidupnya yang panjang dengan iman Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Apakah keahlian Isabell membuat keranjang berarti bagi Allah, seperti juga kegiatan mengajarnya di Sekolah Minggu? Seberapa pentingkah warisan etnisnya dalam gambar besar Kerajaan Allah? Pertanyaan ini terus menggema seraya kita membahas globalisasi.1 &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penghancuran Kreatif  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada musim semi tahun 2001, perwakilan dari 34 bangsa berkumpul di Quebec untuk mendiskusikan kesepakatan pasar bebas yang akan meliputi seluruh benua Amerika. Ada banyak kekuatiran. Bagaimana bisa ada derajat untuk bermacam-macam perdagangan antara Amerika, Kanada dan Honduras atau Bolivia, antara beberapa negara terkaya dan beberapa yang termiskin di planet bumi? Bukankah negara yang kecil akan disikat? Bahkan Brazil, negara berekonomi terbesar di Amerika Latin, juga gesit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ke dalam pembahasan inilah, Kepala Ekonomi Federal Amerika Serikat, Alan Greenspan, memunculkan frasa “penghancuran kreatif.” Ya, dia berkata, semakin terbuka perdagangan dunia berarti ada beberapa “penghancuran kreatif.” Bisnis akan ditutup. Pekerjaan akan hilang. “Tak diragukan,” kata Greenspan (seperti dikutip dalam Workers, 2001), “bahwa transisi kepada ekonomi baru berteknologi tinggi yang menjadi bagian dari peningkatan perdagangan ini terbukti sulit bagi segmen besar tenaga kerja kita…. Proses penyesuaiannya menarik dengan keras tenaga kerja yang ada sekarang yang jumlahnya dibuat sangat berlebihan tanpa kesalahan dari pihak mereka.” Tetapi trauma seperti itu baru sebagian dari harga dari perkembangan. Seperti yang sering dikatakan, Anda tidak bisa membuat omelet tanpa memecahkan telur. Anda tidak bisa berkebun tanpa memangkas dahan. Anda tidak bisa menggunakan komputer tanpa sekali-kali menekan tombol hapus. Anda tidak bisa berlatih sebagai atlit tanpa menghindari berbagai kebiasaan buruk. Mengasah, menajamkan, menyingkirkan, mengurangi?semua itu merupakan istilah positif. Jadi Greenspan berbicara mengenai “penghancuran kreatif” yang tidak dapat dipisahkan dari globalisasi. Tetapi, dia menambahkan, “Sejarah mengatakan pada kita bahwa bukan hanya tidak bijak untuk menahan terjadinya inovasi, tetapi juga tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Etnisitas merupakan salah satu gelanggang penghancuran. Di dalam sistem dunia sekarang ini, nilai-nilai etnis lokal sedang diinjak-injak. Nilai-nilai budaya lebih daripada barang dagangan. Mereka adalah bagian dari warisan yang padanya kita tidak dapat menaruh sebuah harga. Namun, seperti spesies yang terancam punah, nilai-nilai budaya sedang terancam. Bagaimana seharusnya kita merespons ketika globalisasi menenggelamkan etnisitas?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Sebuah Tempat dalam Kisah  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa pandangan Allah mengenai etnisitas? Allah menciptakan kita dalam gambar-Nya, mengaruniai kita dengan kreativitas, dan menempatkan kita di dalam sebuah dunia dengan berbagai kemungkinan dan tantangan. Menerapkan kreativitas yang diberikan Allah, kita telah mengembangkan berbagai budaya di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Pada mulanya, Allah mengatakan bahwa tidak baik bagi manusia untuk sendirian. Manusia diciptakan untuk hidup dalam komunitas yang bermakna. Maka Allah memberikan berkat-Nya kepada wilayah-wilayah budaya seperti keluarga, negara, pekerjaan, ibadah, seni, pendidikan, dan bahkan berbagai perayaan. Dia memberi perhatian kepada hukum-hukum yang memelihara keseimbangan ekologi, menata hubungan sosial, menyediakan sanitasi, dan melindungi hak-hak kaum yang lemah, orang buta, orang tuli, janda, yatim piatu, orang asing, orang miskin, dan para pengutang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Dia meneguhkan dunia fisik dari mana bahan kebudayaan dikembangkan. Dia bersuka dengan tanah dan sungai yang telah diberikan-Nya pada manusia. Itu merupakan “suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun” (Ul. 11:12). Mengetahui kesukaan akan materi dari umat-Nya, Allah menempatkan mereka dalam: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•	negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan bukit-bukit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•	suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•		suatu negeri dengan minyak zaitun dan madunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•	suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•	suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga (Ul. 8:7-9). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di dalam bahasa penggambaran Perjanjian Lama, Allah memberi minyak kepada umat-Nya agar wajah mereka bersinar, anggur untuk membuat hati mereka bersuka, teman-teman yang seperti besi untuk menajamkan mereka, istri yang seperti anggur yang berbuah, dan anak-anak yang seperti anak panah. Pola ekonomi, sosial dan artistik tergabung untuk membentuk suatu kebudayaan. Inilah konteks yang di dalamnya kita hidup. Inilah tempat di mana kita dirancang untuk hidup. Sistem global mungkin menenggelamkan kita dalam realitas maya (virtual)?media, paket musik, pasar saham, hasil olahraga, dan kilasan berita?di mana berbagai tragedi besar ditayangkan berdampingan dengan iklan bir. Namun jika kita asyik tenggelam dalam tingkatan global dan maya, kita kehilangan ritme nyata dari alam dan masyarakat. Masa menabur dan menuai, dan kesehatan dari tanah, pohon dan air kita. Persahabatan, pertunangan, pernikahan, pengasuhan orangtua, mengalami penuaan, dan mati. Penciptaan, penggunaan, pemeliharaan, dan perbaikan. Ada ritme-ritme untuk hidup dalam dunia milik Allah. Semua ini diekspresikan secara lokal, melalui berbagai pola budaya yang spesifik. Mengetahui semua hal ini membantu kita mengenal diri kita sendiri, berbagai potensi kita dan berbagai keterbatasan kita, dan sumber-sumber serta urutan-urutan yang menenun susunan bagi pilihan-pilihan yang bahagia. Semua itu tidak dapat diketahui pada tingkatan global yang abstrak. Mendisiplin seorang anak, contohnya, bukan suatu yang maya. Dipecat dari pekerjaan bukanlah sebuah pengalaman media. Memiliki seorang bayi bukan sebuah permainan komputer. Berurusan dengan kanker bukan sesuatu yang abstrak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika saya tinggal di Filipina, saya melihat keluarga-keluarga yang kuat. Keramah-tamahan yang hangat. Banyak waktu dilimpahkan kepada anak-anak. Persahabatan yang terus berlanjut. Warisan kebebasan ekonomi bagi wanita. Kemampuan untuk hidup secara dermawan meski uang sedikit. Saus yang dibubuhkan pada sepotong kecil daging yang dibagikan ke banyak orang. Sebuah kesukaan dalam berbagi. Keahlian dalam seni relaksasi. Tubuh yang luwes dan lentur. Kemampuan untuk menikmati berada bersama dengan sejumlah besar orang secara terus-menerus. Karena setiap pemberian yang baik datangnya dari atas (Yak. 1:17) dan karena segala hikmat dan pengetahuan datangnya dari Yesus Kristus (Kol. 2:3), berbagai kualitas yang indah dalam budaya Filipina harus dilihat sebagai karunia dari Allah. Pencipta kita senang dengan berbagai warna. Dia menciptakan bau, dari bau bawang sampai bunga mawar. Dia membentuk setiap butiran salju yang segar. Dia melahirkan bermilyar-milyar kepribadian yang unik. Apakah mengejutkan jika Dia memprogram kita dengan kapasitas untuk menciptakan rangkaian kebudayaan yang luar biasa untuk memperkaya dunia-Nya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Budaya mengandung dosa dan harus dihakimi, hal ini akan kita bahas dalam bagian berikut. Tetapi kebanggaan etnis tidak secara otomatis adalah dosa. Itu seperti sukacita yang orangtua rasakan ketika anak mereka lulus. Anak Anda berjalan di atas panggung. Dada Anda berdetak dengan kebanggaan. Ini bukan kebanggaan yang mengorbankan tetangga Anda, yang wajahnya juga bersinar ketika anaknya lulus. Bukan, hati Anda membesar karena Anda tahu kisah anak Anda. Kesedihan yang ia pernah derita. Berbagai karunia yang telah berkembang di dalam dirinya seperti bunga yang mekar diterpa mentari. Anda sendiri menangis dan tertawa dan memberi tahun-tahun hidup Anda dalam membentuk beberapa dari kisah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Yang terbaik, etnisitas adalah perluasan dari kebanggaan keluarga yang baik adanya. Etnisitas adalah suatu perasaan identifikasi dengan orang-orang yang berbagi suatu kebudayaan dan sebuah sejarah, dengan penderitaan dan keberhasilan dari budaya tersebut, pahlawan dan martir mereka. Seperti keanggotaan dalam keluarga, etnisitas bukan sesuatu yang dihasilkan. Etnisitas diperoleh sejak lahir, itu diberikan tak peduli Anda menginginkannya atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Umat manusia diciptakan untuk hidup dalam komunitas. Di dunia sekarang ini, kita tetap merasakan kebutuhan tersebut. “Meskipun ketika kebutuhan materi kita sudah terpenuhi, tetap saja motivasi kita … daya cepat sembuh secara emosional … dan kekuatan moral … harus berasal dari suatu tempat, dari beberapa visi tentang tujuan umum yang tertanam dalam sebuah citra tentang realitas sosial yang menarik perhatian,” menurut seorang antropolog Clifford Geertz (1964, hlm. 70). Menurut Gertz, menjadi warga negara dunia terlalu kabur untuk bisa menyediakan motivasi dan kekuatan seperti itu. Kewarganegaraan dunia membuat orang biasa merasa tidak berarti. Bahkan kewarganegaraan nasional bisa menghasilkan rasa apatis. Tetapi ketika Anda adalah anggota dari sebuah kelompok etnis, Anda memiliki sesuatu perayaan yang memberi kegairahan, nilai-nilai yang memberi kerangka kognitif, pola-pola tindakan yang memberi arah kepada hari-hari Anda, dan ikatan hubungan yang mengakarkan Anda dalam suatu konteks manusia. Anda memiliki tempat dalam waktu di dalam jagad semesta ini, suatu dasar bagi keyakinan bahwa Anda adalah bagian dari keberlanjutan hidup yang mengalir dari masa lalu dan bergerak ke masa depan. Anda ada dalam cerita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ketika Etnisitas Menjadi Berhala  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menetapkan budaya.Tetapi adat-istiadat yang memuliakan Allah bukan satu-satunya realitas yang kita amati di sekitar kita. Alih-alih keindahan, kreativitas yang harmonis, dan otoritas yang dikagumi, kita sering melihat perpecahan, keterasingan, hawa nafsu, korupsi, keegoisan, ketidakadilan dan kekerasan dipupuk oleh budaya kita. Tidak ada bagian yang masih murni. Ilmu pengetahuan cenderung melayani militerisme atau hedonisme, mengabaikan moral. Seni sering kali menjadi ibadah tanpa Allah. Media massa penuh dengan penyalahgunaan verbal. Para pengusaha mendukung transaksi dagang yang curang. Politisi memenuhi kantong mereka sendiri. Para pekerja melakukan pekerjaan bermutu rendah. Para suami menipu istri mereka. Para istri memanipulasi suami mereka. Anak-anak mengabaikan orang tua mereka sebagai pribadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita tidak hanya diciptakan dalam gambar Allah. Kita juga orang berdosa. Karena kita telah memutuskan hubungan dengan Allah, budaya yang kita ciptakan menunjukkan tanda kejahatan. Maka kita dipanggil bukan hanya untuk bersuka dalam pola hikmat, keindahan, dan kebaikan yang ada dalam budaya kita, tetapi juga mengonfrontasi dan menilai pola penyembahan berhala dan eksploitasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Terkadang etnisitas berubah menjadi berhala. Seperti berhala lain di dalam masyarakat modern?uang, seks, dan kekuasaan?etnisitas pada dirinya sendiri tidaklah buruk. Namun, ketika kita meninggikannya sebagai kebaikan tertinggi, etnisitas menjadi kejahatan. Hasilnya adalah rasisme, pertikaian, perang, dan “pembantaian etnis.” Ketika etnisitas menjadi berhala, itu harus dikonfrontasi dan dihakimi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Berbagai Implikasi bagi Misi  ==== &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Etnisitas melawan kecenderungan globalisasi yang menurunkan derajat manusia. Bahkan yang terbaik, globalisasi ekonomi tetap cenderung memperlakukan nilai-nilai budaya sebagai komoditas. Etnisitas mengingatkan kita untuk tetap setia kepada nenek moyang kita dan berbagai komunitas kita. Ini merupakan penyeimbang yang penting. Apa makna etnisitas bagi misi? Kita akan menyarankan empat aplikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 1. Menerima Kelokalan  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, misi harus menegaskan kebudayaan lokal. Kita tidak melakukan ini secara tidak kritis. Bekerja dengan dan di bawah orang Kristen lokal, kita menghakimi pola-pola penyembahan berhala dan eksploitasi, seperti dijelaskan di atas. Namun kita mencintai budaya lokal. Kita menerimanya sebagai karunia Allah. Dan sementara kita tinggal di tempat itu, kita dengan senang hati mengadaptasi dimensi dari berbagai nilai lokal yang sehat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita berbicara dengan bahasa lokal. Di mana pun orang Kristen pergi, mereka menerjemahkan Alkitab. Ini diperhatikan oleh Lamin Sanneh, seorang Kristen berlatar belakang M yang adalah profesor di bidang Sejarah di Yale University. Orang M menuntut umatnya belajar bahasa Arab, karena itu adalah bahasa Allah. Tetapi orang Kristen berkata, “Allah berbicara dengan bahasa Anda.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diciptakan untuk Menciptakan Kebudayaan  	&amp;lt;br /&amp;gt;Erich Sauer&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Firman Allah kepada Adam memanggil manusia kepada pertumbuhan progresif dalam kebudayaan. Jauh dari berlawanan dengan Allah, pencapaian budaya merupakan atribut esensial dari kemuliaan manusia, sama seperti yang mereka miliki di Firdaus. Penemuan-penemuan, ilmu pengetahuan dan seni, pemurnian dan peninggian, singkatnya, kemajuan pikiran manusia, semuanya adalah kehendak Allah. Semua itu adalah tugas menguasai bumi oleh umat manusia yang bermartabat layaknya raja, pelaksanaan suatu amanat. Manusia memiliki posisi yang berotoritas, di bawah Allah dan di atas seluruh ciptaan…. Mereka diharapkan untuk menemukan potensi-potensi dari bumi, udara, dan laut, menggunakan alam dan sumber-sumbernya…. Di sini kita dapat melihat pencarian ilmiah dibayangkan terlebih dahulu, yang bertujuan memahami dan mengelompokkan dunia alami. Ini merupakan anggaran dasar ilahi bagi keragaman yang amat besar dari kegiatan manusia: agrikultur, teknologi, industri, kerajinan, dan seni. Semua ini, menurut Kekristenan adalah karunia Allah untuk memperkaya kehidupan manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diambil dari The King of the Earth: The Nobility of Man According to the Bible and Science oleh Erich Sauer, (Grand Rapids: Eerdmans, 1962).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita mendukung para pebisnis lokal. Kita mendorong artis lokal, pemusik lokal, dan penulis lokal ketimbang secara rutin mengimpor buku-buku asing atau menerjemahkannya. Kita tinggal di hotel dan rumah yang dimiliki orang lokal. Kita belajar dari pengetahuan ahli herbal lokal. Kita menjaga hutan lokal. Kita menguasai olahraga dan permainan lokal. Kita berusaha hadir di pesta dan pemakaman lokal. Kita berempati dengan pembaharu sosial lokal. Jika kita misionaris, kita akan mendisiplinkan pikiran kita agar tidak dikuasai oleh pola budaya tempat asal kita. Warisan budaya yang spesifik memang penting. Bahkan cerita epik abad ke-20 The Lord of the Rings (Tolkien, 1954) menegaskan kelokalan ini. Kolumnis Mike Hickerson (2002) mengamati:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::The Lord of the Rings menyatakan bahwa kemenangan Allah di Bumi (atau Middle-Earth) tidak lengkap kecuali jika dan hanya ketika kemenangan tersebut memenuhi “tempat-tempat terpencil”…. Perang terakhir antara yang baik dan yang jahat bukanlah suatu pertempuran yang luar biasa besar dalam sejarah – seperti kehancuran Bintang Mati – tetapi suatu pertempuran kecil, diikuti oleh rekonstruksi kecil dari tempat yang sangat kecil. Kabar Baik memenuhi setiap lembah…. Di dalam perjalanan kembali ke Shire, para Hobit meneruskan misi mereka sampai selesai. Tanpa pekerjaan mereka di antara sesama mereka, kejahatan masih memiliki pertahanan di Middle-Earth. Global itu penting, demikian juga lokal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di dalam program pelatihan misionaris, penekanan ini harus dibuat. Ada kecenderungan bagi para misionaris dari kebudayaan yang dominan untuk menyatakan warisan etnis mereka seakan-akan itulah pola Allah bagi setiap orang. Misionaris-misionaris Barat melakukan hal ini. Misionaris Tiongkok dan Korea melakukan hal ini di Asia Tengah dan Tenggara. Orang Latin melakukannya di dalam komunitas pribumi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Bahkan di dalam satu negara, para misionaris yang berasal dari populasi mayoritas mungkin kurang menghargai kebudayaan minoritas dan memperlakukannya secara buruk. Pertimbangkan undangan melalui email yang tiba pagi ini. Pesannya berbunyi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Jika Anda datang, bersediakah Anda melakukan lokakarya mengenai teologi tentang kebudayaan? Di negara kami, kami memiliki begitu banyak kelompok etnis yang berbeda, dan prasangka yang ada sangat besar. Jadi kami memiliki orang dari satu kelompok etnis bekerja dalam satu desa dengan berbagai kelompok etnis. Tetapi mereka cenderung hanya mau bekerja dengan kelompok mereka, dan datang dengan berbagai alasan untuk tidak bekerja dengan kelompok lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di sepanjang sejarah, beberapa misionaris menyamakan warisan budaya mereka dengan cara yang lebih disukai Allah. Mudah untuk mengkritik mereka dengan kemampuan untuk mengingat sesuatu. Namun, kita tidak berani mengizinkan mereka pergi karena terlalu kurang persiapan. Sementara teologi kebudayaan dari para misionaris mula-mula mungkin terlalu sempit, praktik mereka sering kali sehat. Mereka belajar bahasa lokal. Mereka menjadi sumber utama informasi budaya bagi para antropologis pertama. Tanpa pesawat, mereka tetap bertahan melalui perang, epidemik, kekeringan, dan banjir. Anak-anak dan istri mereka terkubur dalam kotoran lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sebaliknya, para misionaris masa kini senang berbicara mengenai kontekstualisasi. Tetapi apakah kita punya waktu untuk menghidupinya? Yesus menghabiskan 33 tahun tercelup ke dalam satu budaya lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 2. Menjadi Musafir ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang memiliki beberapa identitas etnis. Perhatikan situasi ini: Di pesisir barat Amerika, generasi awal orang Asia dilarang oleh hukum untuk menikahi orang dari ras Caucasus. Cukup sedikit imigran Filipina menikahi orang Amerika asli. Bayangkan tiga anak yang sudah dewasa dari keluarga tersebut hari ini. Anak pertama terlihat lebih seperti orang Filipina, anak kedua lebih seperti orang Amerika asli, dan anak ketiga lebih seperti orang Amerika. Tetapi ketiganya berganti-ganti identitas dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Selanjutnya, kebudayaan berubah secara terus-menerus. Dalam prosesnya, kombinasi identitas yang baru muncul. Wing Luke Museum yang terkenal dibuka kembali minggu ini di kota asal saya, Seattle, Washington. Museum ini dilaporkan sebagai satu-satunya museum Pan-Asia-Pasifik-Amerika di Amerika Serikat. Apa itu Pan-Asia-Pasifik-Amerika? Menurut Jack Broom dari Seattle Times itu “bukan suatu ras, kelompok etnis, atau nasionalitas.” “Itu adalah sebuah kategori sensus yang secara historis menggabungkan orang-orang dari 40 negara lebih membentuk suatu populasi dunia yang luas yang membentang dari Tahiti sampai Pakistan, Jepang sampai Indonesia, Hawai sampai India” (2008, hlm. A16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Empat belas persen dari populasi negara saya adalah orang Asia Pasifik Amerika. Meski ada penyangkalan dari Seattle Times, ini merupakan kategori etnis yang signifikan, suatu kelompok yang dapat diukur dengan identitas yang cukup untuk mendukung suatu museum yang terkenal. Di dalam sebuah jalinan hirarki dari identitas etnis, kelompok ini membentuk satu tingkat. Artikel Times juga berkata bahwa tingginya angka tersebut “mencerminkan ranting bertengger dari Barat Laut di Lingkar Pasifik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Memiliki banyak identitas bukanlah hal yang tidak biasa. Penutur bahasa Spanyol di Amerika bertumbuh 50% dari tahun 1980 sampai 1990. Kini mereka merupakan 30% dari populasi di New York. Kebanyakan juga berbahasa Inggris. Pada dekade yang sama, jumlah penutur bahasa Mandarin di Amerika meningkat 98%. Empat per lima dari mereka lebih suka untuk terus menggunakan bahasa Mandarin di rumah meskipun sebagian besar dari mereka berbahasa Inggris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Intinya, identitas etnis terletak pada penganggapan diri sebagai seorang anggota dari sebuah kebudayaan bersama, sebuah komunitas bersama, sebuah warisan bersama. Di dalam masyarakat yang multietnis, Anda mungkin tidak melihat perbedaan yang mencolok antara pola ekonomi, sosial, dan wawasan dunia dari mereka yang orangtuanya berasal dari negara lain. Mereka mungkin berbelanja pada toko yang sama dan membuat lelucon mengenai acara olahraga yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Warisan itu penting, tetapi banyak orang memiliki lebih dari satu warisan, dan pada beragam titik dalam sebuah kontinum identitas. Sebagian orang menyeimbangkan beberapa identitas yang dimilikinya. Orang mungkin tidak menyatakan hal ini dalam kata-kata, atau bahkan dalam pikiran sadar. Tetapi mereka tahu kapan mereka merasa tidak nyaman, kapan mereka merasa dijejali ke dalam kategori yang tidak sesuai, ke dalam kotak yang tidak cocok. Penting untuk menghormati cara orang mengidentifikasi diri mereka pada waktu tertentu. Akan tetapi, melakukan hal demikian mungkin mengacak kategori kita atau daftar kelompok suku yang kita miliki. Individu dari nenek moyang yang sama?bahkan saudara kandung?mungkin memilih untuk mengidentifikasi dirinya secara berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Apa identitas dari imigran pengungsi? Anak yang memiliki dua ras? Suku Indian Navaho yang ragu-ragu entahkah rumah yang menjadi tempat reservasi mereka atau kota? Kaum kosmopolitan dan orang muda yang membeli dan memakai barang dari segala tempat dan membaca, mendengar, serta menonton media dari segala tempat? Siapa suku mereka? Apakah mereka ditakdirkan menjadi kaum nomaden global?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di mana pun mereka, Injil menawarkan mereka sebuah. Allah tidak berprasangka terhadap kita. Dia menemui kita masing-masing sebagai pengecualian bahwa kita adalah seperti adanya kita, dengan identitas kita yang banyak dan saling tumpang tindih, pengembaraan kita yang unik, kekhasan perilaku individual kita. Allah tidak tidak menempatkan kita dalam kotak kecil. Apakah kita secara permanen telah kehilangan komunitas kita, atau sementara tanpa tujuan, atau sedang merangkai bagian-bagian dari beberapa warisan, Allah menyambut kita ke dalam umat-Nya. Injil menawarkan kita sebuah rumah yang melampaui berbagai struktur dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Budaya lokal merupakan karunia Allah, tetapi mereka tidak pernah cukup. Ya, seperti kata Yeremia, “Usahakanlah kesejahteraan kota” di mana kita berada (Yer. 29:7). Namun, seperti Abraham, kita tahu bahwa ini bukan tempat akhir kita. Kita tetap merupakan musafir yang sedang mencari “kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah” (Ibr. 11:8-10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 3. Membangun Jembatan  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1964, ketika berumur 14 tahun, Zia masuk sekolah khusus orang buta di Afganistan. Dia menjadi orang Kristen yang penuh sukacita. Selama beberapa tahun kemudian, dia belajar berbicara bahasa Dari, Pastu, Arab, Inggris, Jerman, Rusia, dan Urdu, dan membaca bahasa ini jika huruf Braille-nya tersedia. Selama masa pendudukan Rusia di Afganistan, Zia ditugaskan untuk memimpin sekolah khusus orang buta ini. Kemudian, karena ia tidak mau bergabung dengan Partai Komunis, ia dilemparkan ke dalam penjara. Ia melarikan diri ke Pakistan dengan menyamar sebagai pengemis buta, yang memang merupakan keadaannya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di Pakistan, karena Zia menerjemahkan Perjanjian Lama, dia ditawarkan beasiswa ke Amerika Serikat untuk belajar bahasa Ibrani. Ia menolak kesempatan itu. Mengapa? Ia terlalu sibuk melayani secara lokal. Meskipun ia tidak berpikir ia punya waktu menarik keluar dirinya untuk belajar Ibrani, ia belajar bahasa Urdu sebagai bahasa ketujuhnya demi menjangkau orang Pakistan. Akhirnya ia mati martir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Zia mewakili jutaan orang Kristen yang bersaksi selama berabad-abad yang telah menemukan bahwa Injil menghubungkan kita dengan dunia. Kita mulai secara lokal, tetapi kita tidak berhenti di sana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Hari ini dunia sangat amat membutuhkan orang-orang seperti Zia. Globalisasi ekonomi dan teknologi menghubungkan kita secara dangkal. Masyarakat harus memiliki orang-orang yang bisa membuat hubungan-hubungan yang lebih dalam. Thomas Friedman (1999) menjelajahi pemikiran ini dalam bukunya yang luar biasa, The Lexus and the Olive Tree, di mana Lexus mewakili ekonomi global dan pohon zaitun mewakili berbagai tradisi lokal. Clifford Geertz (1973) menulis mengenai ketegangan antara periodisme dan esensialisme, antara kebutuhan untuk menjadi bagian dari periode masa kini dan kebutuhan untuk mempertahankan identitas esensial kita, untuk mengetahui siapa kita. Manuel Castells (1996, hlm. 459) dalam bukunya The Rise of the Networked Society berpendapat bahwa meskipun sebuah bumi yang berjejaring berarti suatu integrasi kekuasaan, ini terjadi pada tingkat yang semakin dipisahkan dari kehidupan pribadi kita. Ia menyebutnya “skizofrenia struktural” dan memperingatkan, “Kecuali jika jembatan budaya, politik, dan fisik secara sengaja dibangun … kita mungkin sedang mengarah kepada kehidupan dalam semesta paralel yang waktunya tidak bersesuaian.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Siapa yang dapat membangun jembatan? Gerakan apa yang mencakup bangsa-bangsa, berbagai ras, jenis kelamin, ethne, kaya dan miskin, orang yang buta huruf dan orang yang bergelar Ph.D.? Sangat luar biasa untuk menyadari bahwa jarang ada orang yang lebih siap untuk berhubungan secara antarbudaya daripada gereja universal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika ikatan masyarakat terpecah, sering kali orang percaya-lah yang dapat memimpin masyarakat melintasi jembatan rekonsiliasi, menjangkau dengan genggaman tangan sukacita saudara-saudari dari pihak lain. Kesetiaan kita tidak berhenti hanya pada budaya kita sendiri. Kita adalah pengembara. Kita melangkah keluar dari kelompok kita. Memang, itu yang selalu menjadi mandat orang Kristen. Abraham dipangil untuk menjadi berkat bagi segala kaum di bumi (Kej. 12:1-3). Daud menyanyi, “ya Allah kiranya bangsa-bangsa  semuanya bersyukur kepada-Mu” (Mzm. 67:3-5). Paulus didorong oleh semangat yang besar untuk menjangkau kelompok suku yang belum terjangkau (Rom. 15:20-21). Yohanes tergetar oleh visi akan kelompok suku dan kaum dan keluarga dan bangsa berkumpul bersama di depan takhta Allah di akhir zaman (Why. 4-5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Membuat hubungan lintas budaya telah menjadi amanat kita sejak awal. Keterlibatan kita dalam globalisasi bukan berakar dalam ekonomi tetapi dalam kasih Allah akan dunia-Nya. Kita tidak boleh menjadi penyendiri, puas dengan mengurung diri. Kasih Allah mendorong kita untuk melangkah keluar dari wilayah kita. Di mana ada konflik, kita keluar sebagai pembawa damai. Di mana Injil belum dikabarkan, kita keluar sebagai saksi. Hubungan global juga memungkinkan kita keluar untuk melayani Gereja Yesus Kristus di seluruh dunia secara lebih cepat dan menyeluruh ketimbang yang pernah sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Bagi orang yang diberi banyak, mereka akan dituntut banyak. Apakah kita sedang membangun jembatan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 4. Membangun Gereja Etnis  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir, kita perlu mempertimbangkan gereja-gereja etnis yang berbeda dalam komunitas kita sendiri. Sebagian orang bertanya: “Jika pukul 11 siang hari Minggu merupakan waktu paling memisahkan orang di Amerika, bukankah gereja etnis sebetulnya rasis? Mereka jelas menguatkan penginjilan dan persekutuan. Tetapi hanya karena sesuatu berhasil tidak berarti itu benar. Iblis memiliki banyak keberhasilan juga.”2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepuluh Cara Membangun Jembatan Multi-Etnis Di Antara Berbagai Gereja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.	Menyambut. Kita harus menyambut orang dari budaya lain yang ingin bergabung dengan gereja kita, dan jika mereka begitu menginginkannya, kita harus membantu mereka menciptakan relung di mana mereka dapat beribadah dengan cara yang akrab bagi budaya mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.	Mengajar. Kita harus mengjar, berulang kali, membedakan kebenaran Alkitab tentang kesatuan dan kreativitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.	Berdoa. Kita harus berdoa satu sama lain secara teratur melampaui batasan etnis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.	Menginjili. Kita harus bekerja bersama dalam penginjilan lokal yang relevan secara budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.	Memupuk. Kita harus bekerja bersama dengan gereja-gereja etnis dalam komunitas kita untuk memupuk orang muda, sambil mendorong orang muda memelihara kebanggaan dalam warisan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.	Bertobat. Kita harus bertobat dari dominasi hegemonis atau pengabaian di satu sisi dan dari ketidaksukaan atau ketergantungan di sisi lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.	Hubungan. Kita harus menugaskan orang yang menjadi “makelar kebudayaan” yang menghubungkan jemaat kita dengan kebudayaan spesifik dari warisan budaya lain dalam komunitas kita, dan yang mengharuskan para anggota gereja bertanggung jawab menjaga hubungan yang dalam dan berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8.	Investasi. Kita harus menginvestasikan waktu dan uang secara berkorban dan merisikokan diri kita secara emosi dalam kemitraan yang kuat dan pertukaran pola-pola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9.	Membangun Pemimpin. Kita harus bekerja bersama dalam pelatihan kepemimpinan yang secara budaya relevan dan penerbitan bahan-bahan yang bermanfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10.	Belajar. Kita harus siap untuk saling belajar, percaya bahwa Firman Allah bisa datang kepada kita melalui orang-orang yang sangat berbeda dari kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Bagaimana kita menjawab hal ini? Di dalam bab ini, kita telah meletakkan dasar bagi pendapat bahwa gereja etnis dibenarkan bukan hanya untuk alasan pragmatis?karena berhasil?tetapi juga karena mereka berakar dalam doktrin penciptaan. Di dalam gambar Allah, menyatakan kreativitas yang Allah berikan, manusia telah mengembangkan beragam kebudayaan. Berbagai kebudayaan ini menawarkan bayangan akan keindahan dan kebenaran yang melengkapi, dan kritik atas kejahatan yang melengkapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Setiap gereja harus menyambut semua orang dari berbagai ras dan kebudayaan. Sebagian orang berkembang dalam gereja yang miliki beragam budaya. Sebagian lainnya memelihara tradisi mereka. Bagi mereka, kebudayaan tetap penting dalam ibadah. Mereka berdoa dengan bahasa asli mereka, dengan bahasa tubuh yang berarti, ratapan dan tiarap. Kebudayaan mereka akan mempengaruhi cara mereka menginjili, memuridkan, mengajar, mengatur administrasi, konseling, keuangan, pelayanan pemuda, pelatihan pemimpin, disiplin, pengembangan kurikulum, pemulihan bencana, pengembangan, dan advokasi. Teolog mereka melengkapi pemahaman kebudayaan lain akan Alkitab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Jemaat-jemaat yang terpisah tidaklah buruk. Apa yang buruk adalah kurangnya kasih. Kurangnya kasih ini terlalu sering ditemukan dalam gereja-gereja yang mayoritas anggotanya berasal dari cabang kebudayaan yang berada di hirarki puncak kekuasaan. Gereja yang lebih kaya dan lebih berkuasa memiliki berbagai tanggung jawab khusus. Jika saudara-saudari seiman kita kekurangan bantuan kesehatan, sekolah yang baik, atau lingkungan yang aman?atau jika mereka kekurangan tafsiran Alkitab dalam bahasa mereka, atau uang kuliah agar pendeta mereka dapat pergi ke seminari?kita tidak dapat hanya tersenyum dan melangkah pergi. Seperti yang ditulis rasul Yakobus, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!,” tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (Yak. 2:1-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di dalam konteks ini, gereja-gereja etnis memiliki nilai yang besar. Seperti mosaik, seperti kaleidoskop, seluruh spektrum kebudayaan?dan gereja-gereja etnis?memperkaya dunia milik Allah. Sama seperti keluarga yang sehat dan kuat merupakan dasar bagi komunitas yang sehat, demikian juga gereja-gereja etnis yang kuat dapat menjadi dasar bagi persekutuan multikultural yang kuat. Hanya ketika kita telah belajar tentang komitmen dan kerjasama di rumah barulah kita siap untuk mempraktikkan ketrampilan tersebut secara luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Gereja-gereja etnis etnis juga merupakan tempat yang baik untuk memulai misi global. Kita dapat bekerjasama dengan orang Kristen dari berbagai bangsa yang tinggal di kota kita?mahasiswa, pengusaha, pengunjung sementara, pengungsi, imigran. Banyak dari mereka yang mewakili kelompok suku yang “belum terjangkau.” Banyak dari mereka yang secara teratur pulang ke tanah air mereka untuk membantu menggali sumur, mendirikan klinik, mengajar di sekolah-sekolah Alkitab, menerbitkan buku-buku himne dan buku pegangan pelatihan, dll. Kita dapat berdoa dengan mereka, membantu mereka bertumbuh dewasa sebagai murid-murid Kristus, dan bersama-sama menjangkau kepada kelompok suku mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika etnisitas dihargai sebagai karunia namun tidak disembah sebagai berhala, dunia milik Allah diberkati, dan kita bisa mencicipi sorga. Mari kita menjaga visi tersebut di hadapan kita.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Apakah_Allah_Buta_Warna_Atau_Penuh_Warna:_Injil,_Globalisasi_dan_Etnisitas&amp;diff=733</id>
		<title>Apakah Allah Buta Warna Atau Penuh Warna: Injil, Globalisasi dan Etnisitas</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Apakah_Allah_Buta_Warna_Atau_Penuh_Warna:_Injil,_Globalisasi_dan_Etnisitas&amp;diff=733"/>
		<updated>2015-09-14T18:47:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{miriam adeney}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isabell Ides berumur 101 tahun ketika dia meninggal bulan Juni lalu. Seorang Indian Makah, anggota dari suku pemburu paus, dia tinggal di rumah terakhir pada jalan terakhir di ujung barat laut terjauh di Amerika Serikat. Isabell dikenal luas karena dia mencintai dan mengajar bahasa dan budaya suku Makah. Ratusan orang belajar menenun keranjang dari tangannya. Beberapa generasi belajar kata-kata dalam bahasa mereka dari bibirnya. Ibu muda membawa ikan salmon asap dari kutub utara kepadanya. Setelah mengunyah sedikit, dia bisa mengatakan kalau kayu yang mereka gunakan terlalu kering. Para arkeolog membawa keranjang-keranjang yang baru digali yang berumur 3.000 tahun kepadanya, dan dia dapat mengidentifikasi keranjang-keranjang apa itu, bagaimana mereka dibuat, dan bagaimana mereka digunakan. “Seperti kehilangan perpustakaan,” kata seorang antropolog pada saat pemakamannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Isabell juga mengajar Sekolah Minggu di gereja Sidang Jemaat Allah di wilayah reservasi orang Indian. Dia menghubungkan hidupnya yang panjang dengan iman Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Apakah keahlian Isabell membuat keranjang berarti bagi Allah, seperti juga kegiatan mengajarnya di Sekolah Minggu? Seberapa pentingkah warisan etnisnya dalam gambar besar Kerajaan Allah? Pertanyaan ini terus menggema seraya kita membahas globalisasi.1 &lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penghancuran Kreatif  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada musim semi tahun 2001, perwakilan dari 34 bangsa berkumpul di Quebec untuk mendiskusikan kesepakatan pasar bebas yang akan meliputi seluruh benua Amerika. Ada banyak kekuatiran. Bagaimana bisa ada derajat untuk bermacam-macam perdagangan antara Amerika, Kanada dan Honduras atau Bolivia, antara beberapa negara terkaya dan beberapa yang termiskin di planet bumi? Bukankah negara yang kecil akan disikat? Bahkan Brazil, negara berekonomi terbesar di Amerika Latin, juga gesit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ke dalam pembahasan inilah, Kepala Ekonomi Federal Amerika Serikat, Alan Greenspan, memunculkan frasa “penghancuran kreatif.” Ya, dia berkata, semakin terbuka perdagangan dunia berarti ada beberapa “penghancuran kreatif.” Bisnis akan ditutup. Pekerjaan akan hilang. “Tak diragukan,” kata Greenspan (seperti dikutip dalam Workers, 2001), “bahwa transisi kepada ekonomi baru berteknologi tinggi yang menjadi bagian dari peningkatan perdagangan ini terbukti sulit bagi segmen besar tenaga kerja kita…. Proses penyesuaiannya menarik dengan keras tenaga kerja yang ada sekarang yang jumlahnya dibuat sangat berlebihan tanpa kesalahan dari pihak mereka.” Tetapi trauma seperti itu baru sebagian dari harga dari perkembangan. Seperti yang sering dikatakan, Anda tidak bisa membuat omelet tanpa memecahkan telur. Anda tidak bisa berkebun tanpa memangkas dahan. Anda tidak bisa menggunakan komputer tanpa sekali-kali menekan tombol hapus. Anda tidak bisa berlatih sebagai atlit tanpa menghindari berbagai kebiasaan buruk. Mengasah, menajamkan, menyingkirkan, mengurangi?semua itu merupakan istilah positif. Jadi Greenspan berbicara mengenai “penghancuran kreatif” yang tidak dapat dipisahkan dari globalisasi. Tetapi, dia menambahkan, “Sejarah mengatakan pada kita bahwa bukan hanya tidak bijak untuk menahan terjadinya inovasi, tetapi juga tidak mungkin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Etnisitas merupakan salah satu gelanggang penghancuran. Di dalam sistem dunia sekarang ini, nilai-nilai etnis lokal sedang diinjak-injak. Nilai-nilai budaya lebih daripada barang dagangan. Mereka adalah bagian dari warisan yang padanya kita tidak dapat menaruh sebuah harga. Namun, seperti spesies yang terancam punah, nilai-nilai budaya sedang terancam. Bagaimana seharusnya kita merespons ketika globalisasi menenggelamkan etnisitas?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Sebuah Tempat dalam Kisah  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa pandangan Allah mengenai etnisitas? Allah menciptakan kita dalam gambar-Nya, mengaruniai kita dengan kreativitas, dan menempatkan kita di dalam sebuah dunia dengan berbagai kemungkinan dan tantangan. Menerapkan kreativitas yang diberikan Allah, kita telah mengembangkan berbagai budaya di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Pada mulanya, Allah mengatakan bahwa tidak baik bagi manusia untuk sendirian. Manusia diciptakan untuk hidup dalam komunitas yang bermakna. Maka Allah memberikan berkat-Nya kepada wilayah-wilayah budaya seperti keluarga, negara, pekerjaan, ibadah, seni, pendidikan, dan bahkan berbagai perayaan. Dia memberi perhatian kepada hukum-hukum yang memelihara keseimbangan ekologi, menata hubungan sosial, menyediakan sanitasi, dan melindungi hak-hak kaum yang lemah, orang buta, orang tuli, janda, yatim piatu, orang asing, orang miskin, dan para pengutang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Dia meneguhkan dunia fisik dari mana bahan kebudayaan dikembangkan. Dia bersuka dengan tanah dan sungai yang telah diberikan-Nya pada manusia. Itu merupakan “suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun” (Ul. 11:12). Mengetahui kesukaan akan materi dari umat-Nya, Allah menempatkan mereka dalam: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•	negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan bukit-bukit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•	suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•		suatu negeri dengan minyak zaitun dan madunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•	suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
•	suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga (Ul. 8:7-9). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di dalam bahasa penggambaran Perjanjian Lama, Allah memberi minyak kepada umat-Nya agar wajah mereka bersinar, anggur untuk membuat hati mereka bersuka, teman-teman yang seperti besi untuk menajamkan mereka, istri yang seperti anggur yang berbuah, dan anak-anak yang seperti anak panah. Pola ekonomi, sosial dan artistik tergabung untuk membentuk suatu kebudayaan. Inilah konteks yang di dalamnya kita hidup. Inilah tempat di mana kita dirancang untuk hidup. Sistem global mungkin menenggelamkan kita dalam realitas maya (virtual)?media, paket musik, pasar saham, hasil olahraga, dan kilasan berita?di mana berbagai tragedi besar ditayangkan berdampingan dengan iklan bir. Namun jika kita asyik tenggelam dalam tingkatan global dan maya, kita kehilangan ritme nyata dari alam dan masyarakat. Masa menabur dan menuai, dan kesehatan dari tanah, pohon dan air kita. Persahabatan, pertunangan, pernikahan, pengasuhan orangtua, mengalami penuaan, dan mati. Penciptaan, penggunaan, pemeliharaan, dan perbaikan. Ada ritme-ritme untuk hidup dalam dunia milik Allah. Semua ini diekspresikan secara lokal, melalui berbagai pola budaya yang spesifik. Mengetahui semua hal ini membantu kita mengenal diri kita sendiri, berbagai potensi kita dan berbagai keterbatasan kita, dan sumber-sumber serta urutan-urutan yang menenun susunan bagi pilihan-pilihan yang bahagia. Semua itu tidak dapat diketahui pada tingkatan global yang abstrak. Mendisiplin seorang anak, contohnya, bukan suatu yang maya. Dipecat dari pekerjaan bukanlah sebuah pengalaman media. Memiliki seorang bayi bukan sebuah permainan komputer. Berurusan dengan kanker bukan sesuatu yang abstrak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika saya tinggal di Filipina, saya melihat keluarga-keluarga yang kuat. Keramah-tamahan yang hangat. Banyak waktu dilimpahkan kepada anak-anak. Persahabatan yang terus berlanjut. Warisan kebebasan ekonomi bagi wanita. Kemampuan untuk hidup secara dermawan meski uang sedikit. Saus yang dibubuhkan pada sepotong kecil daging yang dibagikan ke banyak orang. Sebuah kesukaan dalam berbagi. Keahlian dalam seni relaksasi. Tubuh yang luwes dan lentur. Kemampuan untuk menikmati berada bersama dengan sejumlah besar orang secara terus-menerus. Karena setiap pemberian yang baik datangnya dari atas (Yak. 1:17) dan karena segala hikmat dan pengetahuan datangnya dari Yesus Kristus (Kol. 2:3), berbagai kualitas yang indah dalam budaya Filipina harus dilihat sebagai karunia dari Allah. Pencipta kita senang dengan berbagai warna. Dia menciptakan bau, dari bau bawang sampai bunga mawar. Dia membentuk setiap butiran salju yang segar. Dia melahirkan bermilyar-milyar kepribadian yang unik. Apakah mengejutkan jika Dia memprogram kita dengan kapasitas untuk menciptakan rangkaian kebudayaan yang luar biasa untuk memperkaya dunia-Nya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Budaya mengandung dosa dan harus dihakimi, hal ini akan kita bahas dalam bagian berikut. Tetapi kebanggaan etnis tidak secara otomatis adalah dosa. Itu seperti sukacita yang orangtua rasakan ketika anak mereka lulus. Anak Anda berjalan di atas panggung. Dada Anda berdetak dengan kebanggaan. Ini bukan kebanggaan yang mengorbankan tetangga Anda, yang wajahnya juga bersinar ketika anaknya lulus. Bukan, hati Anda membesar karena Anda tahu kisah anak Anda. Kesedihan yang ia pernah derita. Berbagai karunia yang telah berkembang di dalam dirinya seperti bunga yang mekar diterpa mentari. Anda sendiri menangis dan tertawa dan memberi tahun-tahun hidup Anda dalam membentuk beberapa dari kisah tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Yang terbaik, etnisitas adalah perluasan dari kebanggaan keluarga yang baik adanya. Etnisitas adalah suatu perasaan identifikasi dengan orang-orang yang berbagi suatu kebudayaan dan sebuah sejarah, dengan penderitaan dan keberhasilan dari budaya tersebut, pahlawan dan martir mereka. Seperti keanggotaan dalam keluarga, etnisitas bukan sesuatu yang dihasilkan. Etnisitas diperoleh sejak lahir, itu diberikan tak peduli Anda menginginkannya atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Umat manusia diciptakan untuk hidup dalam komunitas. Di dunia sekarang ini, kita tetap merasakan kebutuhan tersebut. “Meskipun ketika kebutuhan materi kita sudah terpenuhi, tetap saja motivasi kita … daya cepat sembuh secara emosional … dan kekuatan moral … harus berasal dari suatu tempat, dari beberapa visi tentang tujuan umum yang tertanam dalam sebuah citra tentang realitas sosial yang menarik perhatian,” menurut seorang antropolog Clifford Geertz (1964, hlm. 70). Menurut Gertz, menjadi warga negara dunia terlalu kabur untuk bisa menyediakan motivasi dan kekuatan seperti itu. Kewarganegaraan dunia membuat orang biasa merasa tidak berarti. Bahkan kewarganegaraan nasional bisa menghasilkan rasa apatis. Tetapi ketika Anda adalah anggota dari sebuah kelompok etnis, Anda memiliki sesuatu perayaan yang memberi kegairahan, nilai-nilai yang memberi kerangka kognitif, pola-pola tindakan yang memberi arah kepada hari-hari Anda, dan ikatan hubungan yang mengakarkan Anda dalam suatu konteks manusia. Anda memiliki tempat dalam waktu di dalam jagad semesta ini, suatu dasar bagi keyakinan bahwa Anda adalah bagian dari keberlanjutan hidup yang mengalir dari masa lalu dan bergerak ke masa depan. Anda ada dalam cerita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ketika Etnisitas Menjadi Berhala  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menetapkan budaya.Tetapi adat-istiadat yang memuliakan Allah bukan satu-satunya realitas yang kita amati di sekitar kita. Alih-alih keindahan, kreativitas yang harmonis, dan otoritas yang dikagumi, kita sering melihat perpecahan, keterasingan, hawa nafsu, korupsi, keegoisan, ketidakadilan dan kekerasan dipupuk oleh budaya kita. Tidak ada bagian yang masih murni. Ilmu pengetahuan cenderung melayani militerisme atau hedonisme, mengabaikan moral. Seni sering kali menjadi ibadah tanpa Allah. Media massa penuh dengan penyalahgunaan verbal. Para pengusaha mendukung transaksi dagang yang curang. Politisi memenuhi kantong mereka sendiri. Para pekerja melakukan pekerjaan bermutu rendah. Para suami menipu istri mereka. Para istri memanipulasi suami mereka. Anak-anak mengabaikan orang tua mereka sebagai pribadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita tidak hanya diciptakan dalam gambar Allah. Kita juga orang berdosa. Karena kita telah memutuskan hubungan dengan Allah, budaya yang kita ciptakan menunjukkan tanda kejahatan. Maka kita dipanggil bukan hanya untuk bersuka dalam pola hikmat, keindahan, dan kebaikan yang ada dalam budaya kita, tetapi juga mengonfrontasi dan menilai pola penyembahan berhala dan eksploitasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Terkadang etnisitas berubah menjadi berhala. Seperti berhala lain di dalam masyarakat modern?uang, seks, dan kekuasaan?etnisitas pada dirinya sendiri tidaklah buruk. Namun, ketika kita meninggikannya sebagai kebaikan tertinggi, etnisitas menjadi kejahatan. Hasilnya adalah rasisme, pertikaian, perang, dan “pembantaian etnis.” Ketika etnisitas menjadi berhala, itu harus dikonfrontasi dan dihakimi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Berbagai Implikasi bagi Misi  ==== &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Etnisitas melawan kecenderungan globalisasi yang menurunkan derajat manusia. Bahkan yang terbaik, globalisasi ekonomi tetap cenderung memperlakukan nilai-nilai budaya sebagai komoditas. Etnisitas mengingatkan kita untuk tetap setia kepada nenek moyang kita dan berbagai komunitas kita. Ini merupakan penyeimbang yang penting. Apa makna etnisitas bagi misi? Kita akan menyarankan empat aplikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 1. Menerima Kelokalan  =====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, misi harus menegaskan kebudayaan lokal. Kita tidak melakukan ini secara tidak kritis. Bekerja dengan dan di bawah orang Kristen lokal, kita menghakimi pola-pola penyembahan berhala dan eksploitasi, seperti dijelaskan di atas. Namun kita mencintai budaya lokal. Kita menerimanya sebagai karunia Allah. Dan sementara kita tinggal di tempat itu, kita dengan senang hati mengadaptasi dimensi dari berbagai nilai lokal yang sehat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita berbicara dengan bahasa lokal. Di mana pun orang Kristen pergi, mereka menerjemahkan Alkitab. Ini diperhatikan oleh Lamin Sanneh, seorang Kristen berlatar belakang M yang adalah profesor di bidang Sejarah di Yale University. Orang M menuntut umatnya belajar bahasa Arab, karena itu adalah bahasa Allah. Tetapi orang Kristen berkata, “Allah berbicara dengan bahasa Anda.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diciptakan untuk Menciptakan Kebudayaan  	&amp;lt;br /&amp;gt;Erich Sauer&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Firman Allah kepada Adam memanggil manusia kepada pertumbuhan progresif dalam kebudayaan. Jauh dari berlawanan dengan Allah, pencapaian budaya merupakan atribut esensial dari kemuliaan manusia, sama seperti yang mereka miliki di Firdaus. Penemuan-penemuan, ilmu pengetahuan dan seni, pemurnian dan peninggian, singkatnya, kemajuan pikiran manusia, semuanya adalah kehendak Allah. Semua itu adalah tugas menguasai bumi oleh umat manusia yang bermartabat layaknya raja, pelaksanaan suatu amanat. Manusia memiliki posisi yang berotoritas, di bawah Allah dan di atas seluruh ciptaan…. Mereka diharapkan untuk menemukan potensi-potensi dari bumi, udara, dan laut, menggunakan alam dan sumber-sumbernya…. Di sini kita dapat melihat pencarian ilmiah dibayangkan terlebih dahulu, yang bertujuan memahami dan mengelompokkan dunia alami. Ini merupakan anggaran dasar ilahi bagi keragaman yang amat besar dari kegiatan manusia: agrikultur, teknologi, industri, kerajinan, dan seni. Semua ini, menurut Kekristenan adalah karunia Allah untuk memperkaya kehidupan manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diambil dari The King of the Earth: The Nobility of Man According to the Bible and Science oleh Erich Sauer, (Grand Rapids: Eerdmans, 1962).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita mendukung para pebisnis lokal. Kita mendorong artis lokal, pemusik lokal, dan penulis lokal ketimbang secara rutin mengimpor buku-buku asing atau menerjemahkannya. Kita tinggal di hotel dan rumah yang dimiliki orang lokal. Kita belajar dari pengetahuan ahli herbal lokal. Kita menjaga hutan lokal. Kita menguasai olahraga dan permainan lokal. Kita berusaha hadir di pesta dan pemakaman lokal. Kita berempati dengan pembaharu sosial lokal. Jika kita misionaris, kita akan mendisiplinkan pikiran kita agar tidak dikuasai oleh pola budaya tempat asal kita. Warisan budaya yang spesifik memang penting. Bahkan cerita epik abad ke-20 The Lord of the Rings (Tolkien, 1954) menegaskan kelokalan ini. Kolumnis Mike Hickerson (2002) mengamati:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::The Lord of the Rings menyatakan bahwa kemenangan Allah di Bumi (atau Middle-Earth) tidak lengkap kecuali jika dan hanya ketika kemenangan tersebut memenuhi “tempat-tempat terpencil”…. Perang terakhir antara yang baik dan yang jahat bukanlah suatu pertempuran yang luar biasa besar dalam sejarah – seperti kehancuran Bintang Mati – tetapi suatu pertempuran kecil, diikuti oleh rekonstruksi kecil dari tempat yang sangat kecil. Kabar Baik memenuhi setiap lembah…. Di dalam perjalanan kembali ke Shire, para Hobit meneruskan misi mereka sampai selesai. Tanpa pekerjaan mereka di antara sesama mereka, kejahatan masih memiliki pertahanan di Middle-Earth. Global itu penting, demikian juga lokal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di dalam program pelatihan misionaris, penekanan ini harus dibuat. Ada kecenderungan bagi para misionaris dari kebudayaan yang dominan untuk menyatakan warisan etnis mereka seakan-akan itulah pola Allah bagi setiap orang. Misionaris-misionaris Barat melakukan hal ini. Misionaris Tiongkok dan Korea melakukan hal ini di Asia Tengah dan Tenggara. Orang Latin melakukannya di dalam komunitas pribumi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Bahkan di dalam satu negara, para misionaris yang berasal dari populasi mayoritas mungkin kurang menghargai kebudayaan minoritas dan memperlakukannya secara buruk. Pertimbangkan undangan melalui email yang tiba pagi ini. Pesannya berbunyi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Jika Anda datang, bersediakah Anda melakukan lokakarya mengenai teologi tentang kebudayaan? Di negara kami, kami memiliki begitu banyak kelompok etnis yang berbeda, dan prasangka yang ada sangat besar. Jadi kami memiliki orang dari satu kelompok etnis bekerja dalam satu desa dengan berbagai kelompok etnis. Tetapi mereka cenderung hanya mau bekerja dengan kelompok mereka, dan datang dengan berbagai alasan untuk tidak bekerja dengan kelompok lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di sepanjang sejarah, beberapa misionaris menyamakan warisan budaya mereka dengan cara yang lebih disukai Allah. Mudah untuk mengkritik mereka dengan kemampuan untuk mengingat sesuatu. Namun, kita tidak berani mengizinkan mereka pergi karena terlalu kurang persiapan. Sementara teologi kebudayaan dari para misionaris mula-mula mungkin terlalu sempit, praktik mereka sering kali sehat. Mereka belajar bahasa lokal. Mereka menjadi sumber utama informasi budaya bagi para antropologis pertama. Tanpa pesawat, mereka tetap bertahan melalui perang, epidemik, kekeringan, dan banjir. Anak-anak dan istri mereka terkubur dalam kotoran lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sebaliknya, para misionaris masa kini senang berbicara mengenai kontekstualisasi. Tetapi apakah kita punya waktu untuk menghidupinya? Yesus menghabiskan 33 tahun tercelup ke dalam satu budaya lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 2. Menjadi Musafir =====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang memiliki beberapa identitas etnis. Perhatikan situasi ini: Di pesisir barat Amerika, generasi awal orang Asia dilarang oleh hukum untuk menikahi orang dari ras Caucasus. Cukup sedikit imigran Filipina menikahi orang Amerika asli. Bayangkan tiga anak yang sudah dewasa dari keluarga tersebut hari ini. Anak pertama terlihat lebih seperti orang Filipina, anak kedua lebih seperti orang Amerika asli, dan anak ketiga lebih seperti orang Amerika. Tetapi ketiganya berganti-ganti identitas dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Selanjutnya, kebudayaan berubah secara terus-menerus. Dalam prosesnya, kombinasi identitas yang baru muncul. Wing Luke Museum yang terkenal dibuka kembali minggu ini di kota asal saya, Seattle, Washington. Museum ini dilaporkan sebagai satu-satunya museum Pan-Asia-Pasifik-Amerika di Amerika Serikat. Apa itu Pan-Asia-Pasifik-Amerika? Menurut Jack Broom dari Seattle Times itu “bukan suatu ras, kelompok etnis, atau nasionalitas.” “Itu adalah sebuah kategori sensus yang secara historis menggabungkan orang-orang dari 40 negara lebih membentuk suatu populasi dunia yang luas yang membentang dari Tahiti sampai Pakistan, Jepang sampai Indonesia, Hawai sampai India” (2008, hlm. A16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Empat belas persen dari populasi negara saya adalah orang Asia Pasifik Amerika. Meski ada penyangkalan dari Seattle Times, ini merupakan kategori etnis yang signifikan, suatu kelompok yang dapat diukur dengan identitas yang cukup untuk mendukung suatu museum yang terkenal. Di dalam sebuah jalinan hirarki dari identitas etnis, kelompok ini membentuk satu tingkat. Artikel Times juga berkata bahwa tingginya angka tersebut “mencerminkan ranting bertengger dari Barat Laut di Lingkar Pasifik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Memiliki banyak identitas bukanlah hal yang tidak biasa. Penutur bahasa Spanyol di Amerika bertumbuh 50% dari tahun 1980 sampai 1990. Kini mereka merupakan 30% dari populasi di New York. Kebanyakan juga berbahasa Inggris. Pada dekade yang sama, jumlah penutur bahasa Mandarin di Amerika meningkat 98%. Empat per lima dari mereka lebih suka untuk terus menggunakan bahasa Mandarin di rumah meskipun sebagian besar dari mereka berbahasa Inggris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Intinya, identitas etnis terletak pada penganggapan diri sebagai seorang anggota dari sebuah kebudayaan bersama, sebuah komunitas bersama, sebuah warisan bersama. Di dalam masyarakat yang multietnis, Anda mungkin tidak melihat perbedaan yang mencolok antara pola ekonomi, sosial, dan wawasan dunia dari mereka yang orangtuanya berasal dari negara lain. Mereka mungkin berbelanja pada toko yang sama dan membuat lelucon mengenai acara olahraga yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Warisan itu penting, tetapi banyak orang memiliki lebih dari satu warisan, dan pada beragam titik dalam sebuah kontinum identitas. Sebagian orang menyeimbangkan beberapa identitas yang dimilikinya. Orang mungkin tidak menyatakan hal ini dalam kata-kata, atau bahkan dalam pikiran sadar. Tetapi mereka tahu kapan mereka merasa tidak nyaman, kapan mereka merasa dijejali ke dalam kategori yang tidak sesuai, ke dalam kotak yang tidak cocok. Penting untuk menghormati cara orang mengidentifikasi diri mereka pada waktu tertentu. Akan tetapi, melakukan hal demikian mungkin mengacak kategori kita atau daftar kelompok suku yang kita miliki. Individu dari nenek moyang yang sama?bahkan saudara kandung?mungkin memilih untuk mengidentifikasi dirinya secara berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Apa identitas dari imigran pengungsi? Anak yang memiliki dua ras? Suku Indian Navaho yang ragu-ragu entahkah rumah yang menjadi tempat reservasi mereka atau kota? Kaum kosmopolitan dan orang muda yang membeli dan memakai barang dari segala tempat dan membaca, mendengar, serta menonton media dari segala tempat? Siapa suku mereka? Apakah mereka ditakdirkan menjadi kaum nomaden global?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di mana pun mereka, Injil menawarkan mereka sebuah. Allah tidak berprasangka terhadap kita. Dia menemui kita masing-masing sebagai pengecualian bahwa kita adalah seperti adanya kita, dengan identitas kita yang banyak dan saling tumpang tindih, pengembaraan kita yang unik, kekhasan perilaku individual kita. Allah tidak tidak menempatkan kita dalam kotak kecil. Apakah kita secara permanen telah kehilangan komunitas kita, atau sementara tanpa tujuan, atau sedang merangkai bagian-bagian dari beberapa warisan, Allah menyambut kita ke dalam umat-Nya. Injil menawarkan kita sebuah rumah yang melampaui berbagai struktur dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Budaya lokal merupakan karunia Allah, tetapi mereka tidak pernah cukup. Ya, seperti kata Yeremia, “Usahakanlah kesejahteraan kota” di mana kita berada (Yer. 29:7). Namun, seperti Abraham, kita tahu bahwa ini bukan tempat akhir kita. Kita tetap merupakan musafir yang sedang mencari “kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah” (Ibr. 11:8-10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 3. Membangun Jembatan  =====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1964, ketika berumur 14 tahun, Zia masuk sekolah khusus orang buta di Afganistan. Dia menjadi orang Kristen yang penuh sukacita. Selama beberapa tahun kemudian, dia belajar berbicara bahasa Dari, Pastu, Arab, Inggris, Jerman, Rusia, dan Urdu, dan membaca bahasa ini jika huruf Braille-nya tersedia. Selama masa pendudukan Rusia di Afganistan, Zia ditugaskan untuk memimpin sekolah khusus orang buta ini. Kemudian, karena ia tidak mau bergabung dengan Partai Komunis, ia dilemparkan ke dalam penjara. Ia melarikan diri ke Pakistan dengan menyamar sebagai pengemis buta, yang memang merupakan keadaannya yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di Pakistan, karena Zia menerjemahkan Perjanjian Lama, dia ditawarkan beasiswa ke Amerika Serikat untuk belajar bahasa Ibrani. Ia menolak kesempatan itu. Mengapa? Ia terlalu sibuk melayani secara lokal. Meskipun ia tidak berpikir ia punya waktu menarik keluar dirinya untuk belajar Ibrani, ia belajar bahasa Urdu sebagai bahasa ketujuhnya demi menjangkau orang Pakistan. Akhirnya ia mati martir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Zia mewakili jutaan orang Kristen yang bersaksi selama berabad-abad yang telah menemukan bahwa Injil menghubungkan kita dengan dunia. Kita mulai secara lokal, tetapi kita tidak berhenti di sana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Hari ini dunia sangat amat membutuhkan orang-orang seperti Zia. Globalisasi ekonomi dan teknologi menghubungkan kita secara dangkal. Masyarakat harus memiliki orang-orang yang bisa membuat hubungan-hubungan yang lebih dalam. Thomas Friedman (1999) menjelajahi pemikiran ini dalam bukunya yang luar biasa, The Lexus and the Olive Tree, di mana Lexus mewakili ekonomi global dan pohon zaitun mewakili berbagai tradisi lokal. Clifford Geertz (1973) menulis mengenai ketegangan antara periodisme dan esensialisme, antara kebutuhan untuk menjadi bagian dari periode masa kini dan kebutuhan untuk mempertahankan identitas esensial kita, untuk mengetahui siapa kita. Manuel Castells (1996, hlm. 459) dalam bukunya The Rise of the Networked Society berpendapat bahwa meskipun sebuah bumi yang berjejaring berarti suatu integrasi kekuasaan, ini terjadi pada tingkat yang semakin dipisahkan dari kehidupan pribadi kita. Ia menyebutnya “skizofrenia struktural” dan memperingatkan, “Kecuali jika jembatan budaya, politik, dan fisik secara sengaja dibangun … kita mungkin sedang mengarah kepada kehidupan dalam semesta paralel yang waktunya tidak bersesuaian.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Siapa yang dapat membangun jembatan? Gerakan apa yang mencakup bangsa-bangsa, berbagai ras, jenis kelamin, ethne, kaya dan miskin, orang yang buta huruf dan orang yang bergelar Ph.D.? Sangat luar biasa untuk menyadari bahwa jarang ada orang yang lebih siap untuk berhubungan secara antarbudaya daripada gereja universal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika ikatan masyarakat terpecah, sering kali orang percaya-lah yang dapat memimpin masyarakat melintasi jembatan rekonsiliasi, menjangkau dengan genggaman tangan sukacita saudara-saudari dari pihak lain. Kesetiaan kita tidak berhenti hanya pada budaya kita sendiri. Kita adalah pengembara. Kita melangkah keluar dari kelompok kita. Memang, itu yang selalu menjadi mandat orang Kristen. Abraham dipangil untuk menjadi berkat bagi segala kaum di bumi (Kej. 12:1-3). Daud menyanyi, “ya Allah kiranya bangsa-bangsa  semuanya bersyukur kepada-Mu” (Mzm. 67:3-5). Paulus didorong oleh semangat yang besar untuk menjangkau kelompok suku yang belum terjangkau (Rom. 15:20-21). Yohanes tergetar oleh visi akan kelompok suku dan kaum dan keluarga dan bangsa berkumpul bersama di depan takhta Allah di akhir zaman (Why. 4-5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Membuat hubungan lintas budaya telah menjadi amanat kita sejak awal. Keterlibatan kita dalam globalisasi bukan berakar dalam ekonomi tetapi dalam kasih Allah akan dunia-Nya. Kita tidak boleh menjadi penyendiri, puas dengan mengurung diri. Kasih Allah mendorong kita untuk melangkah keluar dari wilayah kita. Di mana ada konflik, kita keluar sebagai pembawa damai. Di mana Injil belum dikabarkan, kita keluar sebagai saksi. Hubungan global juga memungkinkan kita keluar untuk melayani Gereja Yesus Kristus di seluruh dunia secara lebih cepat dan menyeluruh ketimbang yang pernah sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Bagi orang yang diberi banyak, mereka akan dituntut banyak. Apakah kita sedang membangun jembatan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== 4. Membangun Gereja Etnis  =====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir, kita perlu mempertimbangkan gereja-gereja etnis yang berbeda dalam komunitas kita sendiri. Sebagian orang bertanya: “Jika pukul 11 siang hari Minggu merupakan waktu paling memisahkan orang di Amerika, bukankah gereja etnis sebetulnya rasis? Mereka jelas menguatkan penginjilan dan persekutuan. Tetapi hanya karena sesuatu berhasil tidak berarti itu benar. Iblis memiliki banyak keberhasilan juga.”2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepuluh Cara Membangun Jembatan Multi-Etnis Di Antara Berbagai Gereja&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.	Menyambut. Kita harus menyambut orang dari budaya lain yang ingin bergabung dengan gereja kita, dan jika mereka begitu menginginkannya, kita harus membantu mereka menciptakan relung di mana mereka dapat beribadah dengan cara yang akrab bagi budaya mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.	Mengajar. Kita harus mengjar, berulang kali, membedakan kebenaran Alkitab tentang kesatuan dan kreativitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.	Berdoa. Kita harus berdoa satu sama lain secara teratur melampaui batasan etnis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.	Menginjili. Kita harus bekerja bersama dalam penginjilan lokal yang relevan secara budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.	Memupuk. Kita harus bekerja bersama dengan gereja-gereja etnis dalam komunitas kita untuk memupuk orang muda, sambil mendorong orang muda memelihara kebanggaan dalam warisan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.	Bertobat. Kita harus bertobat dari dominasi hegemonis atau pengabaian di satu sisi dan dari ketidaksukaan atau ketergantungan di sisi lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.	Hubungan. Kita harus menugaskan orang yang menjadi “makelar kebudayaan” yang menghubungkan jemaat kita dengan kebudayaan spesifik dari warisan budaya lain dalam komunitas kita, dan yang mengharuskan para anggota gereja bertanggung jawab menjaga hubungan yang dalam dan berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8.	Investasi. Kita harus menginvestasikan waktu dan uang secara berkorban dan merisikokan diri kita secara emosi dalam kemitraan yang kuat dan pertukaran pola-pola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9.	Membangun Pemimpin. Kita harus bekerja bersama dalam pelatihan kepemimpinan yang secara budaya relevan dan penerbitan bahan-bahan yang bermanfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10.	Belajar. Kita harus siap untuk saling belajar, percaya bahwa Firman Allah bisa datang kepada kita melalui orang-orang yang sangat berbeda dari kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Bagaimana kita menjawab hal ini? Di dalam bab ini, kita telah meletakkan dasar bagi pendapat bahwa gereja etnis dibenarkan bukan hanya untuk alasan pragmatis?karena berhasil?tetapi juga karena mereka berakar dalam doktrin penciptaan. Di dalam gambar Allah, menyatakan kreativitas yang Allah berikan, manusia telah mengembangkan beragam kebudayaan. Berbagai kebudayaan ini menawarkan bayangan akan keindahan dan kebenaran yang melengkapi, dan kritik atas kejahatan yang melengkapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Setiap gereja harus menyambut semua orang dari berbagai ras dan kebudayaan. Sebagian orang berkembang dalam gereja yang miliki beragam budaya. Sebagian lainnya memelihara tradisi mereka. Bagi mereka, kebudayaan tetap penting dalam ibadah. Mereka berdoa dengan bahasa asli mereka, dengan bahasa tubuh yang berarti, ratapan dan tiarap. Kebudayaan mereka akan mempengaruhi cara mereka menginjili, memuridkan, mengajar, mengatur administrasi, konseling, keuangan, pelayanan pemuda, pelatihan pemimpin, disiplin, pengembangan kurikulum, pemulihan bencana, pengembangan, dan advokasi. Teolog mereka melengkapi pemahaman kebudayaan lain akan Alkitab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Jemaat-jemaat yang terpisah tidaklah buruk. Apa yang buruk adalah kurangnya kasih. Kurangnya kasih ini terlalu sering ditemukan dalam gereja-gereja yang mayoritas anggotanya berasal dari cabang kebudayaan yang berada di hirarki puncak kekuasaan. Gereja yang lebih kaya dan lebih berkuasa memiliki berbagai tanggung jawab khusus. Jika saudara-saudari seiman kita kekurangan bantuan kesehatan, sekolah yang baik, atau lingkungan yang aman?atau jika mereka kekurangan tafsiran Alkitab dalam bahasa mereka, atau uang kuliah agar pendeta mereka dapat pergi ke seminari?kita tidak dapat hanya tersenyum dan melangkah pergi. Seperti yang ditulis rasul Yakobus, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!,” tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (Yak. 2:1-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di dalam konteks ini, gereja-gereja etnis memiliki nilai yang besar. Seperti mosaik, seperti kaleidoskop, seluruh spektrum kebudayaan?dan gereja-gereja etnis?memperkaya dunia milik Allah. Sama seperti keluarga yang sehat dan kuat merupakan dasar bagi komunitas yang sehat, demikian juga gereja-gereja etnis yang kuat dapat menjadi dasar bagi persekutuan multikultural yang kuat. Hanya ketika kita telah belajar tentang komitmen dan kerjasama di rumah barulah kita siap untuk mempraktikkan ketrampilan tersebut secara luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Gereja-gereja etnis etnis juga merupakan tempat yang baik untuk memulai misi global. Kita dapat bekerjasama dengan orang Kristen dari berbagai bangsa yang tinggal di kota kita?mahasiswa, pengusaha, pengunjung sementara, pengungsi, imigran. Banyak dari mereka yang mewakili kelompok suku yang “belum terjangkau.” Banyak dari mereka yang secara teratur pulang ke tanah air mereka untuk membantu menggali sumur, mendirikan klinik, mengajar di sekolah-sekolah Alkitab, menerbitkan buku-buku himne dan buku pegangan pelatihan, dll. Kita dapat berdoa dengan mereka, membantu mereka bertumbuh dewasa sebagai murid-murid Kristus, dan bersama-sama menjangkau kepada kelompok suku mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika etnisitas dihargai sebagai karunia namun tidak disembah sebagai berhala, dunia milik Allah diberkati, dan kita bisa mencicipi sorga. Mari kita menjaga visi tersebut di hadapan kita.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Perspektif:_Tentang_Gerakan_Orang_Kristen_Dunia&amp;diff=732</id>
		<title>Perspektif: Tentang Gerakan Orang Kristen Dunia</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Perspektif:_Tentang_Gerakan_Orang_Kristen_Dunia&amp;diff=732"/>
		<updated>2015-09-14T18:41:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;Draf Buku Perspektif&lt;br /&gt;
===Intro===&lt;br /&gt;
:[[Kata Pengantar]]&lt;br /&gt;
:[[Pendahuluan]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 1|Pelajaran Satu&amp;amp;mdash;Allah yang Hidup adalah Allah yang Misioner]] ===&lt;br /&gt;
:[[Allah yang Hidup adalah Allah yang Misioner]] - John Stott&lt;br /&gt;
:[[Panggilan Misi Israel]] - Walter C. Kaiser&lt;br /&gt;
:[[Kisah Mengenai Berkat Menang atas Kutuk]] - Richard Bauckham&lt;br /&gt;
:[[Pertanyaan Setiap Orang: Apa yang Allah Sedang Coba Lakukan]] - Stanley A. Ellisen&lt;br /&gt;
:[[Berkat Sebagai Transformasi]] - Sarita D. Gallagher dan Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Alkitab dalam Penginjilan Dunia]] - John R.W. Stott&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 2|Pelajaran Dua&amp;amp;mdash;Kisah Kemuliaan-Nya]] ===&lt;br /&gt;
:[[Kisah Kemuliaan-Nya (1)|Kisah Kemuliaan-Nya]] - Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Dua Kekuatan]] - Jonathan Lewis&lt;br /&gt;
:[[Kisah Kemuliaan-Nya (2)|Kisah Kemuliaan-Nya]] - Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Biarlah Bangsa-Bangsa Bersukacita]] - John Piper&lt;br /&gt;
:[[Lebih Dari Sekadar Tugas]] - Tim Dearborn&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 3|Pelajaran Tiga&amp;amp;mdash;Datanglah Kerajaan-Mu]] ===&lt;br /&gt;
:[[Injil Kerajaan (1)|Injil Kerajaan]] - George Eldon Ladd&lt;br /&gt;
:[[Hari-H Sebelum Hari Kemenangan]] - Ken Blue&lt;br /&gt;
:[[Injil Kerajaan (2)|Injil Kerajaan]] - George Eldon Ladd&lt;br /&gt;
:[[Doa: Memberontak Melawan Status Quo]] - David Wells&lt;br /&gt;
:[[Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain (1)|Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain]] - H. Cornell Goerner&lt;br /&gt;
:[[Sebuah Reaksi Keras Terhadap Rahmat]] - Patrick Johnstone&lt;br /&gt;
:[[Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain (2)|Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain]] - H. Cornell Goerner&lt;br /&gt;
:[[Inaugurasi Kerajaan-Nya]] - N.T. Wright&lt;br /&gt;
:[[Doa Strategis]] - John D. Robb&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 4|Pelajaran Empat&amp;amp;mdash;Mandat Bagi Bangsa-Bangsa]] ===&lt;br /&gt;
:[[Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain (3)|Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain]] - H. Cornell Goerner&lt;br /&gt;
:[[Rencana Manusia bagi Segala Suku Bangsa]] - Don Richardson&lt;br /&gt;
:[[Rencana Utama]] - Robert E. Coleman&lt;br /&gt;
:[[Mandat di Bukit]] - Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Amanat Agung dan Perintah Terutama]] - Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Melakukan Misi dengan Allah]] - Henry T. Blackaby dan Avery T. Willis, Jr.&lt;br /&gt;
:[[Supremasi Kristus]] - Ajith Fernando&lt;br /&gt;
:[[Terhilang]] - Robertson McQuilkin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 5|Pelajaran Lima&amp;amp;mdash;Melepaskan Injil]] ===&lt;br /&gt;
:[[Tindakan Ketaatan]] - Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Titik Balik: Membebaskan Injil]] - M.R. Thomas&lt;br /&gt;
:[[Tembok dan Lembah]] - Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Menjadi Seperti, Tetap Seperti]] - Harley Talman&lt;br /&gt;
:[[Sebuah Ciptaan Baru]] - David Anthony&lt;br /&gt;
:[[Menemukan Karya Roh Kudus dalam Suatu Komunitas]] - T. Wayne Dye&lt;br /&gt;
:[[Hasrat Apostolik]] - Floyd McClung&lt;br /&gt;
:[[Dua Struktur Misi Penebusan Allah (1)|Dua Struktur Misi Penebusan Allah]] - Ralph D. Winter&lt;br /&gt;
:[[Penderitaan dan Mati Martir: Strategi Allah dalam Dunia]] - Josef Tson&lt;br /&gt;
:[[Jika Aku Binasa]] - Brother Andrew&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 6|Pelajaran Enam&amp;amp;mdash;Ekspansi Gerakan Kristen Dunia]] ===&lt;br /&gt;
:[[Kerajaan Menyerang Balik: Sepuluh Periode dari Sejarah Penebusan]] - Ralph D. Winter&lt;br /&gt;
:[[KeKristenan Asia: Menyambut terbitnya Matahari]] - Scott Sunquist&lt;br /&gt;
:[[Dua Struktur Misi Penebusan Allah (2)|Dua Struktur Misi Penebusan Allah]] - Ralph D. Winter&lt;br /&gt;
:[[Dampak Sosial Misi Kristen]] - Robert D. Woodberry&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 7|Pelajaran Tujuh&amp;amp;mdash;Era Dalam Sejarah Misi]] ===&lt;br /&gt;
:[[Para Perintis Baru Memimpin Di Era Terakhir]] - Yvonne Wood Huneycutt&lt;br /&gt;
:[[Tiga Era Misi: Kehilangan dan Pemulihan Misi Kerajaan, 1800-2000]] - Ralph D. Winter&lt;br /&gt;
:[[Jembatan Allah]] - Donald A. McGavran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 8|Pelajaran Delapan&amp;amp;mdash;Para Pionir Gerakan Kristen Dunia]] ===&lt;br /&gt;
:[[Kemuliaan dari Hal yang Mustahil]] - Samuel Zwemer&lt;br /&gt;
:[[Sebuah Penyelidikan ke Dalam Kewajiban Orang Kristen Untuk Menggunakan Sarana Demi Pertobatan Orang Kafir]] - William Carey&lt;br /&gt;
:[[Panggilan Untuk Melayani]] - J. Hudson Taylor&lt;br /&gt;
:[[Suku, Bahasa Dan Penerjemah]] - William Cameron Townsend&lt;br /&gt;
:[[Situasi Injil]] - Jason Mandryk&lt;br /&gt;
:[[Wanita Dalam Injil]] - Marguerite Kraft - Meg Crossman&lt;br /&gt;
:[[Kaum Moravian di Eropa: Sebuah Jemaat Misioner Perintis]] - Colin A. Grant&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 9|Pelajaran Sembilan&amp;amp;mdash;Tugas yang Tersisa]] ===&lt;br /&gt;
:[[Menyelesaikan Tugas: Tantangan Kelompok Suku Yang Belum Dijangkau]] - Ralph D. Winter&lt;br /&gt;
:[[Dari Segala Bahasa]] - Barbara F. Grimes&lt;br /&gt;
:[[Apakah Allah Buta Warna Atau Penuh Warna: Injil, Globalisasi dan Etnisitas]] - Miriam Adeney&lt;br /&gt;
:[[Tantangan Perkotaan]] - Roger S. Greenway&lt;br /&gt;
:[[Siapakah Sebenarnya William Carey?]] - Vishal and Rut Mangalwadi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 10|Pelajaran Sepuluh&amp;amp;mdash;Bagaimana Mereka Akan Mendengar?]] ===&lt;br /&gt;
:[[Mengerti Budaya]] - Lloyd E.Kwast&lt;br /&gt;
:[[Bersih dan Kotor: Kesalahpahaman Lintas Budaya di India]] - Paul G. Hiebert&lt;br /&gt;
:[[Analogi Penebusan (1)|Analogi Penebusan]] - Don Richardson&lt;br /&gt;
:[[Mengubah Wawasan Dunia Melalui Kisah Alkitab]] - D. Bruce Graham&lt;br /&gt;
:[[Tim Perintis di Zambia, Afrika]] - Philip Elkins&lt;br /&gt;
:[[Analogi Penebusan (2)|Analogi Penebusan]] - Don Richardson&lt;br /&gt;
:[[Budaya, Wawasan Dunia dan Konstekstualisasi]] - Charles H. Craft&lt;br /&gt;
:[[Tiga Perjumpaan dalam Kesaksian Orang Kristen]] - Charles H. Craft&lt;br /&gt;
:[[Memuridkan Pelajar Lisan]] - International Orality Network&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 11|Pelajaran Sebelas&amp;amp;mdash;Membangun Jembatan Kasih]] ===&lt;br /&gt;
:[[Menemukan Tempat dan Melayani Berbagai Gerakan Dalam Masyarakat]] - Paul G. Hiebert&lt;br /&gt;
:[[Kejutan Budaya: Memulai dari Awal]] - Paul G. Hiebert&lt;br /&gt;
:[[Menutup Celah]] - Donald N. Larson&lt;br /&gt;
:[[Identifikasi Dalam Tugas Misi]] - William D. Reyburn&lt;br /&gt;
:[[Perbedaan yang Dibuat oleh Ikatan]] - Elizabeth S. Brewster&lt;br /&gt;
:[[Identitas dengan Integritas, Pelayanan Apostolik di Abad 21]] - Rick Love&lt;br /&gt;
:[[Transparansi Anti Google]] - L. Mak&lt;br /&gt;
:[[Tidak Dikenal, Namun Dikenal Mendorong Diri Kita sebagai Pelayan]] - Bob Blincoe&lt;br /&gt;
:[[Menemukan Tempat dan Melayani Berbagai Gerakan Dalam Masyarakat  (lanjutan)]]- &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 12|Pelajaran Dua Belas&amp;amp;mdash;Pengembangan Masyarakat Secara Kristen]] ===&lt;br /&gt;
:[[Situasi dari Kebutuhan Dunia]] - World Relief&lt;br /&gt;
:[[Penginjilan Mitra yang Utama]] - Samuel Hugh Moffett&lt;br /&gt;
:[[Pengembangan Transformasional Pekerjaan Allah dalam Mengubah Manusia dan Komunitas Mereka]] - Samuel J. Voorhies&lt;br /&gt;
:[[Babi, Kolam dan Injil]] - James W. Gustafson&lt;br /&gt;
:[[Diri Kami sebagai Pelayan]] - Andres dan Angelica Guzman&lt;br /&gt;
:[[Apa Sebenarnya Kemiskinan Itu?]] - Bryant L. Myers&lt;br /&gt;
:[[Menyembuhkan Luka Dunia]] - John Dawson&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 13|Pelajaran Tiga Belas&amp;amp;mdash;Pelipatgandaan Gereja Secara Spontan]] ===&lt;br /&gt;
:[[Gerakan-gerakan Pendirian Jemaat]]- David Garrison&lt;br /&gt;
:[[Gereja Organik]] - Neil Cole&lt;br /&gt;
:[[Penginjilan Seluruh Keluarga]] - Wee Hian Chua&lt;br /&gt;
:[[Kota-kota dan Garam: Budaya tandingan untuk Kebaikan Bersama]] - Tim Keller&lt;br /&gt;
:[[Memusnahkan HIV]] - Kay Warren&lt;br /&gt;
:[[Gereja – Kekuatan Terbesar di Dunia]] - Rick Warren &lt;br /&gt;
:[[Kebergantungan]] - Glenn Schwartz&lt;br /&gt;
:[[Misi Pulang ke Rumah]] - Andrew Jones&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 14|Pelajaran Empat Belas&amp;amp;mdash;Perintisan Pendirian Gereja]] ===&lt;br /&gt;
:[[Gereja di Dalam Setiap Suku: Pembicaraan yang Jujur tentang sebuah Hal Yang Sulit]] - Donald A. McGavran&lt;br /&gt;
:[[Asia Selatan: Sayuran, Ikan, dan tempat ibadah M Mesianik]] - Shah Ali dengan J. Dudley Woodberry&lt;br /&gt;
:[[Sebuah Gerakan Allah di antara Orang-orang Bhojpuri di India Utara]] - David L. Watson dan Paul D. Watson&lt;br /&gt;
:[[Mendirikan Gereja: Belajar Cara Keras]] - Tim dan Rebecca Lewis&lt;br /&gt;
:[[ Sebuah Gerakan bagi Yesus di Antara Kaum M]] - Rick Brown&lt;br /&gt;
:[[Spektrum C: Sebuah Alat Praktis untuk Menetapkan 6 jenis dari “Komunitas Berpusat pada Kristus” yang Ditemukan dalam Konteks M]] - John J. Travis&lt;br /&gt;
:[[Bertindak Terlalu Jauh?]] - Phil Parshall&lt;br /&gt;
:[[Haruskah Semua M Meninggalkan &amp;quot;I&amp;quot; untuk Mengikuti Yesus?]] - John J. Travis&lt;br /&gt;
:[[Budaya, Pandangan Dunia dan Kontekstualisasi (lanjutan)]] - Charles H. Kraft&lt;br /&gt;
:[[Gerakan Orang Dalam: Mempertahankan Identitas dan Kelanggengan Komunitas]] - Rebecca Lewis&lt;br /&gt;
:[[Lingkaran-lingkaran Kerajaan]] - Rebecca Lewis&lt;br /&gt;
:[[Tiga Jenis Gerakan Ke Arah Kristus]] - Rick Brown dan Steven C. Hawthorne&lt;br /&gt;
:[[Terobosan Orang-orang Zaraban]] - Ken Harkin dan Ted Moore&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[Pelajaran 15|Pelajaran Lima Belas&amp;amp;mdash;Pemuridan Orang Kristen Dunia]] ===&lt;br /&gt;
:[[Lebih dari Mengasihi Dunia: Melayani Anak bagi Kemuliaan-Nya yang Melebihi Segalanya]] - David Bryant&lt;br /&gt;
:[[Hidup Berdasarkan Tujuan]] - Claude Hickman - Steven C. Hawthorne - Todd Ahrend&lt;br /&gt;
:[[Hidup dengan Maksud (Intensionalitas)]] - Caroline D. Bower - Lynne Ellis&lt;br /&gt;
:[[Hanya Bersedia]] - Casey Morgan&lt;br /&gt;
:[[Semua atau Tidak Sama Sekali?]] - Greg Livingstone&lt;br /&gt;
:[[Potensi Mengagumkan Bagi Misi Ditemukan di Gereja-gereja Lokal]] - George Miley&lt;br /&gt;
:[[Missio Dei atau &amp;quot;Missio Me&amp;quot;? / Misi Allah atau Misi Saya?]] - Roger Peterson&lt;br /&gt;
:[[Mengembalikan Peran Bisnis di dalam Misi]] - Steve Rundle&lt;br /&gt;
:[[Berkat Berabistan: Melakukan Misi dengan Berbeda]] - Nicole Forcier&lt;br /&gt;
:[[Kemitraan Global]] - Bill Taylor&lt;br /&gt;
:[[Cara Lama untuk Sebuah Hari yang Baru]] - David Ruiz &lt;br /&gt;
:[[Tentmaker: Mengintegrasikan Pekerjaan dan Kesaksian]] - Ruth E. Siemens&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bacaan Tambahan ===&lt;br /&gt;
:[[Dasar Alkitabiah untuk Mandat Misi Menjangkau Dunia]] - Johannes Verkuyl&lt;br /&gt;
:[[Allah sedang Berperang]] - Gregory A. Boyd&lt;br /&gt;
:[[Memuridkan Semua Bangsa]] - John Piper&lt;br /&gt;
:[[Rasul Paulus dan Tugas Misionaris]] - Arthur F. Glasser&lt;br /&gt;
:[[Perjanjian Lausanne]]&lt;br /&gt;
:[[Sejarah Strategi Misi]] - R. Pierce Beaver&lt;br /&gt;
:[[Makedonia Baru: Sebuah Era Baru Revolusioner Dalam Misi Dimulai]] - Ralph D. Winter&lt;br /&gt;
:[[Laporan Willowbank: Komite Lausanne untuk Penginjilan Dunia]]&lt;br /&gt;
:[[Sebuah Gerakan Pemuja Kristus di India]] - Dean Hubbard&lt;br /&gt;
:[[Guntur yang Jauh: Bangsa Mongol Mengikuti Khan (Raja) di atas segala Khan (Raja)]] - Brian Hogan&lt;br /&gt;
:[[Mengapa Mengomunikasikan Injil Melalui Cerita?]] - Tom A. Steffen&lt;br /&gt;
:[[Misi dan Uang]] - Phil Parshall&lt;br /&gt;
:[[Peranan Orang Kaya yang Budiman]] - Jonathan J. Bonk&lt;br /&gt;
:[[Orang Miskin Perkotaan: Siapakah Kami?]] - Viv Grigg&lt;br /&gt;
:[[Pelipatgandaan Gereja Secara Spontan]] - George Patterson&lt;br /&gt;
:[[Implikasi Budaya dari sebuah Gereja Pribumi]] - William A. Smalley&lt;br /&gt;
:[[Kebangkitan Gereja Persia]] - Gilbert Hovsepian and Krikor Markarian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Tiga_Era_Misi:_Kehilangan_dan_Pemulihan_Misi_Kerajaan,_1800-2000&amp;diff=731</id>
		<title>Tiga Era Misi: Kehilangan dan Pemulihan Misi Kerajaan, 1800-2000</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Tiga_Era_Misi:_Kehilangan_dan_Pemulihan_Misi_Kerajaan,_1800-2000&amp;diff=731"/>
		<updated>2015-09-14T18:19:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{ralph winter}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah tugas intelektual yang luar biasa besar untuk memberikan ringkasan singkat tetapi adil mengenai dua abad terakhir. Di dalam periode ini semakin banyak orang yang hidup, melakukan lebih banyak hal dan melakukan hal-hal yang lebih signifikan bagi Kerajaan Allah ketimbang semua zaman sebelumnya dalam sejarah. Tahun-tahun ini menunjukkan dasar-dasar dari dunia masa kini lebih tunduk pada pengaruh Alkitab ketimbang zaman lain dalam kisah umat manusia. Apa yang sebenarnya terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pendahuluan ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebanyakan pembahasan mengenai periode entah mengabaikan dinamika Kristen atau mengabaikan peristiwa-peristiwa sekuler. Meletakkan dua hal ini bersama-sama merupakan tujuan utama makalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus berkata, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Di sepanjang sejarah banyak tradisi besar seperti, Orthodoks, Katolik, Lutheran, Anglikan dan Presbiterian, dengan sebagian besar tindakan mereka (meskipun teologi mereka beragam), telah memahami ayat ini sebagai ayat panggilan untuk memperluas gereja sebagai sebuah institusi ketimbang perluasan Kerajaan Allah dan kehendak-Nya di bumi (lebih sedikit lagi yang memahami gagasan tentang Gereja yang mau berjuang sebagai alat Allah dalam perang). Ada perbedaan besar. Di satu sisi, walaupun gereja tidak boleh memasukkan orang tidak percaya (meski sering terjadi), Kerajaan Allah terkadang bisa melibatkan orang gereja yang sudah lahir baru bekerja bersama dengan orang di luar Gereja yang belum percaya, tetapi yang setuju bahwa kejahatan harus dilawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita kaum Injili cenderung mengabaikan frasa Injil Allah dalam Perjanjian Baru, yang lebih banyak muncul ketimbang Injil Kerajaan. Sebaliknya, kita tampaknya lebih tertarik dengan Injil Manusia untuk memperoleh lebih banyak anggota ke dalam gereja atau lebih banyak orang diselamatkan yang menjadi lebih penting daripada semua cara lain dalam memuliakan Allah. Pada masa kini kita memiliki berbagai kesempatan baru dan sumber baru yang dengannya Kerajaan Allah dapat diperluas dan nama-Nya dimuliakan. Berbagai kesempatan tersebut tidak menggantikan penginjilan namun membuatnya lebih bisa dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam 200 tahun terakhir kita tidak hanya melihat akselerasi besar dari populasi dunia, tetapi juga dampak yang besar dari penyataan Alkitab, perluasan Gereja dan perluasan pemerintahan Allah?Kerajaan-Nya. Mereka yang menyerah terhadap perluasan pemerintahan Allah sebagai anggota Gereja-Nya muncul dalam berbagai warna dan dimensi, dengan pengertian baru yang baik dan tidak terlalu baik, dan terkadang dengan sudut pandang yang bertentangan. Kita ingin melihat Kekristenan sebagaimana adanya. Jika tidak kita mungkin secara tak menyenangkan akan terkejut oleh masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita akan melihat bahwa berbagai gerakan baru ini mungkin bersifat parsial, tidak seimbang, mungkin bidat. Visi dan strategi misi juga telah berubah. Alkitab, meskipun ditafsirkan secara berbeda, tetap merupakan elemen yang stabil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengantarkan kepada dua abad terakhir yang eksplosif ini, ada berbagai peristiwa bersejarah yang terus menjadi faktor utama dalam pemahaman kita mengenai misi pada hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Berbagai Peristiwa Penting Sebelumnya ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, setelah tahun 1450, karena adanya percetakan, Alkitab dan literatur Kristen menjadi pengaruh yang besar, mendukung pendobrakan (disebut Reformasi) terhadap asumsi salah yang sudah berlangsung lama oleh orang-orang percaya yang berbahasa Latin Mediterania, bahwa penyebaran iman akan dan seharusnya terus berlanjut dalam budaya Mediterania. Hal ini tentu tidak terjadi. Meski selama berabad-abad bahasa Latin telah secara positif telah sangat membantu menyatukan para sarjana dalam wilayah yang sangat besar, apa yang telah lama dilihat sebagai “jubah Kristus tanpa jahitan” secara budaya telah menjadi pakaian motif kotak-kotak yang lebih kompleks. Pada saat yang sama, hal ini telah menjadi satu realitas yang pluralistik yang mampu menampung setiap tradisi budaya, suatu harta karun yang mampu dibawa di dalam bejana tanah “liat” dalam jumlah berapa pun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, apa yang Andrew Walls sebut sebagai “Migrasi Besar Eropa” yang meluas ke seluruh dunia. Ini dimulai ketika Kolombus pada tahun 1492 “melayari samudra.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, fenomena yang lebih penting bagi pembahasan kita adalah fakta bahwa, bersamaan dengan ekspansi perdagangan, iman dalam cabang Latin ini (dengan kekuatan dan kelemahannya, yang sebelumnya baru saja dibangkitkan kembali, selama dan setelah Reformasi) juga diperluas secara signifikan antara tahun 1600 dan 1800, menggunakan jalur laut bersama pasukannya yang setia dan memiliki determinasi yang besar – ordo Fransiscan, Dominican, dan Jesuit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Konsep Dasar ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muncul dalam 200 tahun terakhir adalah Tiga Era Misi Protestan, masing-masingnya memiliki strategi baru dalam ekspansi global Kerajaan Allah, atau setidaknya Gereja Allah. Untuk menggambarkan era-era ini, dan demi tujuan dari bab ini, saya menggunakan dua frasa: 1) Misi Gereja, yang saya definisikan sebagai memenangkan orang ke dalam Gereja di mana pun di seluruh dunia, dan karenanya memperluas keanggotaan Gereja, dan 2) Misi Kerajaan, yang kita definisikan sebagai pekerjaan gereja di luar dirinya, melampaui Misi Gereja untuk melihat agar kehendak-Nya dilaksanakan di bumi di luar Gereja. Inilah perluasan Kerajaan Allah. Misi Gereja memang mendasar dan penting tetapi tidak boleh menjadi suatu sasaran dalam dirinya sendiri. Misi tersebut juga harus dilihat sebagai sarana yang terus-menerus mengusahakan agar kehendak Allah dilaksanakan di bumi, dan menyatakan kemuliaan-Nya di antara segala kelompok suku bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang dua frasa ini, Misi Gereja dan Misi Kerajaan, Amanat Agung dengan jelas mencakup keduanya (bukan hanya “misi ke luar negeri,” atau hanya Misi Kerajaan) karena inilah tentunya yang dimaksud dengan “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:20). Karena kenyataan bahwa lebih umum untuk membedakan antara misi di tempat asal (“dalam negeri”) dan misi di tempat yang jauh (“luar negeri”), atau antara penginjilan dalam budaya yang sama dan prioritas tertinggi?merintis suatu penginjilan lintas budaya, atau misi. Di dalam bab ini, baik Misi Gereja dan Misi Kerajaan harus dilibatkan baik di tempat asal dan tempat yang jauh, baik di tempat di mana Gereja sudah ada atau belum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ketiga Era Secara Singkat ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Era Pertama, 1800-1910, mengikuti pertobatan orang Protestan untuk bermisi setelah sekian lama tertunda. Di dalam pertobatan ini Protestantisme beranjak dari sekadar menjadi gerakan religius yang mendalam dan semi politik menuju kepada kesadaran tiba-tiba akan misi global, baik Misi Gereja dan Misi Kerajaan. Pada batas tertentu pertobatan ini terjadi setelah kira-kira 300 tahun, dari tahun 1500 hingga 1800. Namun, pada beberapa tahun sebelum tahun 1800 kesadaran misi orang Protestan meningkat sangat cepat dengan dorongan Kebangunan Injili.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman yang meningkat cepat ini menghasilkan Era Pertama misi Protestan, yang dalam arti tertentu adalah Era William Carey. William Carey bagi orang Protestan, adalah orang yang membuka jalan keluar dari Eropa menuju ke wilayah pesisir di seluruh dunia, tetapi juga, pewaris sejati Kebangunan Injili, mempromosikan suatu pendekatan Kerajaan Allah yang luas. Banyak orang yang mengikuti teladannya mencerminkan kesamaan dengannya dalam spektrum perhatian yang sangat luas baik terhadap penginjilan maupun transformasi budaya, baik Misi Gereja dan Misi Kerajaan. (Lihat bab yang sangat menarik mengenai Carey yang ditulis oleh suami istri Mangalwadi). Banyak misionaris di akhir abad 19 mengikuti teladannya membangun universitas untuk mempromosikan pengetahuan dan kebenaran umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Era Kedua, 1865-1980, memperkenalkan apa yang menjadi polarisasi yang berbeda antara mereka yang memperhatikan pertobatan pribadi dan mereka yang ingin melihat “Kerajaan Allah datang di bumi.” Polarisasi ini sudah mulai terlihat nyata pada tahun 1900, tetapi sangat nyata dalam kontroversi Fundamentalis/Modernis tahun 1920-an. Di dalam misi dan gereja Amerika pada periode ini, kita sering melihat pilihan yang kurang baik antara 1) Misi Kerajaan, yang melibatkan Gereja sebagai garam dan terang dunia, memuliakan Allah di seluruh bumi, melakukan semua itu dengan (apa yang disebut pada masa itu) “memberadabkan” di samping itu juga melakukan Misi Gereja?menginjili dan memperluas gereja dan 2) Misi Gereja belaka, yang di dalamnya misi menjadi kegiatan dari badan-badan misi yang utamanya menarik para lulusan perguruan Alkitab dan orang-orang yang bukan dari latar belakang perguruan tinggi yang mewakili keluarga-keluarga yang kurang berpengaruh, terutama menekankan Injil yang berorientasi kepada sorga dan pemenuhan secara pribadi yang dimaksudkan untuk menarik orang menjadi anggota Gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pilihan yang diberlakukan atas polarisasi ini kemudian merupakan ketegangan artifisial antara menyelamatkan jiwa dan menyelamatkan jiwa plus menyelamatkan kelompok suku, masyarakat, dan alam. Percabangan ini meluas kepada, dan menjadi berbahaya di abad 20. Perhatikan, “memberadabkan” pada masa itu tidak berarti membentuk seseorang memiliki etiket tetapi menolong orang melek huruf dan memiliki penghidupan, plus mengakhiri kanibalisme, tradisi mengikat kaki, tradisi membakar janda, dan pembunuhan bayi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, Hudson Taylor, yang mewakili kutub kontroversi yang hanya mementingkan penginjilan (Misi Gereja semata), memulai dengan berani dan tanpa lelah menerobos masuk ke wilayah pedalaman di Tiongkok, bukan hanya menciptakan apa yang akhirnya menjadi badan misi terbesar ke Tiongkok, China Inland Mission (sekarang Overseas Missionary Fellowship), tetapi juga mendorong empat belas badan misi lain yang berfokus pada wilayah pedalaman?meskipun mendapat pertentangan yang cukup hebat. Secara tidak sengaja, oposisi terhadap pergerakannya ke wilayah pedalaman mulai hilang tidak lama kemudian, lebih cepat ketimbang polarisasi antara “memberadabkan” dan penginjilan, antara Misi Kerajaan dan Misi Gereja semata. Para misionaris penting lain yang ke Tiongkok bekerja dalam cara yang berbeda, kita akan melihat hal ini selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Era Ketiga, 1935 sampai sekarang, ditunjukkan dalam dua cara, 1) penemuan Townsend dan McGavran, khususnya kebutuhan akan penerjemahan Alkitab dalam kelompok-kelompok suku, dan pentingnya menciptakan suatu “gerakan yang menuju kepada Kristus” di dalam suatu “ethne (etnis)” yang spesifik, terutama mereka yang telah diterobos oleh “sebuah Jembatan Allah” (satu atau lebih orang percaya di dalam sebuah kelompok suku yang belum ditembus). Perkembangan selanjutnya adalah perhatian tambahan bagi kelompok etnis yang lebih kecil dan terlewatkan di dunia?mereka yang belum ditembus, “Kelompok-kelompok suku yang belum terjangkau.” Perhatikan bahwa perhatian dari Era Ketiga ini bukan hanya memenangkan sejumlah orang, dan tidak hanya berpikir dalam istilah definisi geopolitis dari negara-negara, wilayah pesisir atau wilayah pedalaman. Era Ketiga juga mulai merefleksikan, 2) pemulihan dari sorga secara bertahap dan disambut dengan gembira melawan polarisasi bumi yang diwarisi dari beberapa tahun terakhir dari Era Kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua dimensi ini tetap dibukakan. Akan tetapi, Misi Kerajaan, dan kemudian gagasan akan sebuah Era Kerajaan, lebih dikedepankan, secara potensial menyatukan keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat penting untuk menyadari bahwa apa yang sedang terjadi sama sekali tidak boleh diizinkan untuk mengaburkan prioritas bagi penginjilan terhadap kelompok-kelompok suku yang belum terjangkau. Memang, dimengerti dengan benar, penginjilan dalam perkataan, jika didukung “demonstrasi” oleh perbuatan, dapat memperkuat penginjilan. Tampaknya jelas bahwa prioritas tertinggi seharusnya pergi ke tempat di mana terdapat kegelapan yang paling dalam. Itu berarti pergi ke tempat-tempat di mana Yesus belum dikenal. Karena itu, berarti kita masih berbicara mengenai prioritas menjangkau ribuan “kelompok suku yang belum terjangkau.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== ERA PERTAMA: 1800-1910 ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Wilayah Pesisir, Misi Kerajaan ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misi Protestan dimulai kira-kira pada waktu orang Katolik menarik kembali misinya dengan berbagai alasan lain. Pada sekitar tahun 1800 Revolusi Prancis dan perang Napoleon sesudahnya membuat Eropa hancur, memutuskan perdagangan global Eropa dan perkembangan misi Katolik. Apa yang menyelamatkan Inggris dan Amerika dari nasib seperti Eropa adalah Kebangunan Injili yang besar lintas atlantik (di Amerika disebut, “Kebangunan Besar Koloni Tengah”). Pada akhir era ini, pada Konferensi Misionaris Sedunia di Edinburgh tahun 1910 tidak ada lagi keraguan tentang legitimasi misi Protestan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, Era Kedua, sudah dimulai pada beberapa tahun sebelumnya, pada tahun 1865. Di dalam 45 tahun periode transisi (1865-1910) ketegangan signifikan muncul mengenai misiologi yang bercabang (pemahaman tentang misi) di ladang-ladang misi yang lama dan apa yang tepat bagi permulaan-permulaan yang baru di tempat di mana tidak ada gereja. Pada masa transisi ini muncul juga polarisasi antara Misi Gereja belaka dan Misi Gereja plus Misi Kerajaan. Kita akan melihat hal ini selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Kebangunan, Keragaman dan Permusuhan ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penting untuk mengenali bahwa perluasan religius, entah di dunia Barat atau non Barat, dapat secara tidak langsung membuahkan hasil yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, perhatikan Revolusi Prancis yang mengerikan yang sebagian besarnya dipicu oleh Revolusi Amerika. Kedua revolusi tersebut menumbangkan orang dari otoritas. Tetapi Revolusi Amerika berbeda. Revolusi ini secara luas dipicu dan dibakar oleh peristiwa Kebangunan Besar. Kebangunan di wilayah pesisir ini sangat memperluas jumlah orang Baptis dan Presbiterian, memperluas Presbiterian menjadi sebuah struktur demokratis tunggal yang menjangkau dari Boston ke Charleston. Pada tahun 1789 Konstitusi Amerika dan konstitusi Presbiterian yang diperbarui ditulis secara berdekatan, hanya berselang dua blok, sebagian besarnya oleh orang yang sama dengan pengalaman yang sebagian besar sama. Orang Amerika yang mengalami Kebangunan Besar ini hanya sedikit mengetahui bahwa mimpi indah mereka akan menjadi mimpi buruk bagi orang Prancis dalam beberapa tahun kemudian. Mengapa? Masyarakat Prancis tidak diresapi oleh jemaat-jemaat lokal yang demokratis seperti di Inggris dan Amerika. Aspek-aspek yang diinginkan dalam menerapkan pengalaman Amerika untuk alasan tersebut tidak dapat mengakar di Prancis. Bahkan Revolusi Amerika hampir diambil alih oleh sejumlah besar orang yang tidak beragama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, pada tahun 1800, histeria Revolusi Prancis berpengaruh sangat kuat di Amerika. Tidak semua orang yang sudah terbebas dari otoritas Inggris rela berada di bawah otoritas Allah. Di Yale pada tahun 1800, sebagai sekolah pendidikan tinggi terbesar di Amerika, rektornya yang takut akan Tuhan, Timothy Dwight (cucu dari pendeta Injili yang berpengaruh, Jonathan Edwards) harus mengizinkan sejumlah kecil mahasiswa Kristen yang secara terbuka berdoa di dalam kantornya. Itu merupakan satu-satunya tempat yang aman dari mayoritas mahasiswa yang memusuhi dan anti agama. Sebagian dari mahasiswa itu menyebut diri mereka seperti pemimpin Revolusi Prancis?Danton, Robespierre, Marat, Hébert.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1806 para mahasiswa yang terkenal dengan “Haystack” (peristiwa doa di tumpukan jerami) di Williams College menghadapi permusuhan yang sama, dipaksa berdoa di tempat terbuka karena di kampus mereka kalah jumlah dengan mahasiswa yang anti Kristen, yang sangat ingin revolusi. (Perhatikan: Karena tidak ingin kehujanan, mereka duduk di bawah tumpukan jerami yang seperti jamur raksasa setelah sapi-sapi memakan pinggirannya.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat permusuhan lebih jauh ketika “Citizen Genet,” seorang perwakilan dari revolusi Prancis, mendarat di Charleston pada tahun 1793, dan ribuan orang yang mendukung tipe revolusi kekerasan seperti Prancis, bahkan mendukung pembunuhan George Washington, berkumpul ketika Genet bergerak ke utara ke arah ibukota. Bahkan orang-orang dari garis terluar wilayah Barat membawa miniatur alat pemenggal kepala orang sebagai simbol dari apa yang mereka pikir harus terjadi pada George Washington. Tetapi itu tidak terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, di Inggris yang tidak terlalu terganggu dengan Perang Revolusi seperti koloni-koloni yang mengundurkan diri, Kebangunan Injili terus menjadi kekuatan utama. Penginjil Inggris bernama George Whitefield telah berkontribusi banyak bagi dampak ekstensif dari Kebangunan Besar di Amerika. Dia dan John Wesley bahkan lebih menonjol dalam Kebangunan Inggris. Wesley adalah seorang yang memiliki determinasi yang kuat meskipun tubuhnya kecil dan penginjil yang terus bergerak. Dia juga merupakan reformator sosial yang serius dan tabah, sangat jelas terlibat dalam Misi Kerajaan dan Misi Gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para petobatnya dilarang menyelundup, meskipun itu merupakan cara hidup banyak orang yang tinggal di semenanjung Cornwall (garis pantai panjang yang menarik kapal-kapal dari Prancis). Tetapi dia tetapi berusaha mengubah ketimbang melanggar hukum yang sudah ada. Reformasi yang dilakukannya mempengaruhi anak yatim piatu, institusi mental, penambangan, pengadilan, dan Parlemen. Di ranjang jelang kematiannya dia menulis kepada William Wilberforce dan mendesaknya untuk melawan perbudakan. Wesley, Wilberforce dan Carey semuanya telah dipengaruhi oleh Kebangunan Injili. Sebuah surat dari Carey, setelah dia berada di India, mendorong seorang anggota Parlemen untuk bergabung ke dalam Komite bagi Pemberantasan Perbudakan. Lebih lagi, teladan spesifik dari misi William Carey ke India, dan tulisannya yang diterbitkan, Enquiry, menjadi pendorong di belakang ratusan orang lain yang pergi ke ladang misi, termasuk lima mahasiswa “Haystack” pada tahun 1806. Sebelum mereka pergi ke ladang misi, mereka mendukung berdirinya badan misi ke luar negeri yang pertama di Amerika yaitu, American Board of Commissioners for Foreign Missions (ABCFM), pada tahun 1812.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Dampak Sekunder ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Relevan terhadap fenomena dampak sekunder misi adalah juga fakta bahwa Kebangunan Injili mendorong Revolusi Industri. Setelah bertahun-tahun perjalanan Wesley yang tak kenal lelah, desa-desa di Inggris kini memiliki orang-orang yang secara moral telah diubahkan dan dapat dipercaya. Jadi? Jadi sekarang mungkin untuk produksi massal, misalnya, kepala kapak dikirim ke desa yang jauh tanpa takut tidak dibayar. Inggris telah menjadi sebuah pasar tunggal. Ini mengizinkan dan memupuk Revolusi Industri. Di Amerika, hal yang mirip terjadi sebagai hasil dari Kebangunan Kedua, yang menghasilkan sejumlah orang yang dapat dipercaya di sebelah barat sampai ke pegunungan Adirondack. Proyek itu akhirnya menjadi perusahaan penentuan kredit dan informasi yang dikenal sebagai Dun and Bradstreet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi ada kelemahannya. Mengirim kapak dalam jumlah besar ke desa-desa di Inggris?dan hal-hal lainnya?menjadikan pekerja-pekerja di desa tidak mendapat pekerjaan, semacam “globalisasi” di tingkat kota. Mereka yang menganggur kemudian tertarik ke London mencari pekerjaan (sama seperti yang terjadi di sebagian besar kota di dunia hari ini) dan membuat London sebagai sarang penderitaan dan penyakit. Pada tahun 1850, 20% pekerja laki-laki di Inggris menjadi terlalu kurang gizi untuk bisa pergi bekerja! Itu cukup untuk memicu tulisan akademis Friedrich Engel The Condition of the Working Class in England in 1844, yang menjadi cikal bakal meletusnya Komunisme. Dialah teman brilian dari Karl Marx. Para misionaris kita perlu dipersiapkan untuk berurusan dengan berbagai dampak sekunder.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh lain tentang dampak sekunder yang tidak diharapkan ini adalah pekerjaan saya sendiri di Guatemala. Selama bertahun-tahun pekerjaan misi tersebut telah menjadi keberhasilan yang kuat sebagai sebuah misi rohani. Namun globalisasi telah menghancurkan cara hidup dan oleh karena keputusasaan belaka, kini setengah dari semua ayah adalah pendatang illegal dalam negara ini, merusak ratusan keluarga, meninggalkan anak-anak untuk bertumbuh menjadi penjual narkoba dan anggota geng. Tetapi perhatikan, para misionaris yang hanya memiliki Alkitab dan tangan kosong tidak tampaknya siap mengantisipasi, terlebih lagi mampu untuk berurusan dengan dampak-dampak sekunder semacam ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Supaya kita tidak berpikir bahwa Carey yang menciptakan misi Protestan, perlu diperhatikan percikan akan minat misi yang telah mendahului usahanya, seperti, orang-orang Quaker di tahun 1600-an dan kelompok Moravia di awal tahun 1700-an. Tetapi kombinasi dari meluapnya badan-badan misi yang baru, bersama dengan penolakan signifikan terhadap gagasan misi ke luar negeri, tidak muncul pada masa yang lebih awal di lingkungan Protestan. Dan perhatikan kebetulan yang menarik, bahwa Era Protestan yang dimulai oleh Carey muncul pada saat yang sama ketika akar budaya dan ekonomi dari misi Katolik sedang dihancurkan. Namun, pada tahun 1800 ordo-ordo Katolik telah menanam basis-basis iman di seluruh dunia dalam jumlah yang banyak sekali. Akankah orang Protestan pernah mengejar ini? Ya, jika Anda menunggu 200 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pergumulan, Penolakan, Perubahan ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, Era Pertama mempromosikan kebangunan Protestan terhadap misi global. Perdebatan yang hebat tentang validitas misi memperlambat hal tersebut pada setiap langkah, tetapi setidaknya mengizinkan munculnya Era Pertama yang dimulai William Carey. Tidak ada yang spektakuler. Orang Metodis Inggris setelah tahun 1800 mengutus 35 misionaris ke Afrika Barat selama kurun waktu 35 tahun berikutnya. Penyakit tropis berarti tak seorang pun dapat hidup lebih dari 24 bulan setelah kedatangannya. Namun, tetap terus ada sukarelawan baru. Tidak heran mereka memutuskan untuk mengirimkan barang-barang mereka ke ladang misi dalam peti mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebingungan awal tentang struktur kepemimpinan misi?apakah harus dewan pengurus misi di tempat asal atau pengurus di lapangan?hampir membunuh pekerjaan Carey di India, dan selama lima tahun mengancam pekerjaan Hudson Taylor. Pada umumnya para misionaris di era ini pergi ke wilayah pesisir. Wilayah-wilayah pedalaman, biasanya lebih berbahaya, baru akan ditantang. Selama bertahun-tahun penentangan terhadap misi terus berlanjut, tidak hanya dari para teolog, pejabat gereja tetapi juga dari kekuatan sekuler, dari East India Company, yang dengan keras tidak mengizinkan misionaris ada di wilayahnya, hingga anggota Parlemen Inggris yang kepadanya dikatakan bahwa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Mengirim para misionaris ke wilayah koloni kita di Timur adalah proyek yang paling gila, paling berlebihan, paling mahal, paling bisa dipertahankan, yang pernah diusulkan oleh kaum fanatik yang bingung. Skema seperti ini sangat merusak, tidak bijaksana, tidak berguna, membahayakan, tidak menguntungkan, berlebihan. Ini melawan semua alasan dan kebijakan yang sehat. Ini membuat kedamaian dan keamanan wilayah kekuasaan kita berada dalam bahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, pada tahun 1813 kaum Injili di Parlemen mampu memaksa East India Company untuk mengizinkan setidaknya para misionaris Inggris ke India.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah tahun 1800, dua peristiwa penting terjadi. Seperti yang dinantikan dan ditakutkan orang Amerika sejak akhir Perang Revolusi, Inggris muncul kembali dengan kekuatannya pada tahun 1812. Kedua, kebangunan-kebangunan yang baru dan mendalam mulai terjadi di seluruh wilayah republik baru yang terkait dengan Atlantik. Juga pada tahun 1812, seperti yang sebelumnya telah disinggung, American Board of Commissioner for Foreign Missions didirikan. Kemudian, Inggris, sebagian karena sibuk berperang dengan Napoleon di Waterloo, secara tiba-tiba menghentikan perang mereka pada tahun 1812 melawan republik Amerika yang baru berdiri, menandatangani Perjanjian Ghent di tahun 1815. Peristiwa yang tak disangka dan mengejutkan itu, ditambah dengan Pembelian Louisiana yang luar biasa, membuka daratan Amerika Utara bagi pekerjaan (mengabaikan hak penduduk pribumi Amerika) dan hasilnya, salah satu migrasi terbesar dalam sejarah meledak ketika orang Amerika bergerak ke arah barat daratan Amerika dalam jumlah ribuan dengan menggunakan kereta pengangkut yang ditarik kuda untuk memulai kehidupan yang baru. Perkembangan yang besar itu menyediakan kebangkitan sosial yang sering kali mendukung kebangunan rohani dan pemikiran misi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, Kebangunan Besar Kedua berkembang menjadi kekuatan penuh pada periode antara akhir perang tahun 1812 (1815) dan awal Perang Saudara (1861). Di antara dua perang ini kebangunan-kebangunan rohani terjadi secara luas, dipasangkan dengan kebangkitan umum, menghasilkan transformasi positif yang paling luas yang bisa dialami negara mana pun dalam sejarah. Pada saat yang sama, perubahan ini menunjukkan kekuatan Kebangunan Injili yang terus berlanjut yang sudah menonjolkan penekanan kuat pada penginjilan dan reformasi sosial, Misi Kerajaan yang paling terbaik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Transformasi yang dihasilkan negara yang masih muda ini begitu luas sehingga kita terkadang dapat mempelajari kembali etos dan pendiri bangsa Amerika yang lebih awal, karakter Kristen yang berani dan kreatif dari periode berikutnya yang lebih Kristen. Politikus, keluarga kaya, dan para pemimpin perdagangan menciptakan banyak masyarakat yang bereformasi. Sebagai contoh American Tract Society, American Seamen’s Friend Society dan masyarakat-masyarakat untuk penghapusan perbudakan. Alexis de Tocqueville di masa lalu dan para sejarawan sekuler pada masa kini, begitu terkesan dengan kekuatan sosial yang kreatif dalam periode ini sehingga banyak yang menyebut periode ini sebagai “Kerajaan Injili.” Charles Finney, seorang pengacara yang menjadi penginjil kebangunan, merupakan simbol paling menonjol dari hal ini. Tetapi ada ribuan orang lainnya, termasuk pastor Sylvester Graham yang berkhotbah melawan penggunaan tepung putih dan memilih menggunakan tepung gandum seperti yang Allah kehendaki yang menghasilkan tepung Graham dan biskuit Graham. “Johnny Appleseed” membungkus seluruh negara bagian dengan benihnya. Semua itu merupakan aspek yang mengesankan dan memuliakan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Kreativitas, Baik dan Tidak Begitu Baik ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebangunan ini juga melibatkan kreativitas religius, baik positif dan negatif, sama seperti ladang misi pada masa kini. William Miller membawa puluhan ribu orang berdiri di atap rumah menantikan kedatangan Kristus yang sudah dekat. Joseph Smith membawa puluhan ribu orang untuk mempercayai bahwa Allah sedang memanggil “Latter-Day Saints” (Orang-orang Kudus Zaman Akhir). Mary Baker Patterson Glover Eddy menemukan Christian Science melalui bukunya Science and Health with Key to the Scriptures. Kaum Shaker membangun bangunan dengan sempurna dan melarang pernikahan. Dalam Oneida Community setiap orang dapat menikahi setiap orang. Dalam kategori berbeda, Mary Ellen White hampir sendirian menciptakan tradisi Adven Hari Ketujuh. Bahkan orang Presbiterian berdebat soal badan misi yang berbasis denominasi atau interdenominasi dan berbagai hal lainnya dan memecah denominasi mereka pada tahun 1837 ketika 1.210 pendeta mampu menarik 1.200 lainnya untuk keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kita perlu dengan serius menantikan keberagaman di tempat-tempat lain seperti ini ketika kebangunan rohani terjadi di sana. Sebagai contoh, ribuan orang melalui beragam gerakan semi Kristen yang dipimpin oleh orang Afrika sudah muncul (mungkin 70 juta orang dalam 20.000 gerakan?). Di Tiongkok, dampak sekunder dihasilkan dari Hong Xiuquan yang diindoktrinasi oleh misionaris (yang akhirnya merasa bahwa dia adalah Anak Allah yang lain) termasuk gerakan Taiping (sering disebut pemberontakan). Hong menghasilkan “Pemuja Allah” dalam jumlah yang besar dan menjadi bagian dari masyarakat di negara itu, yang menentang legitimasi otoritas orang Manchu?seperti para pemberontak Amerika dalam Revolusi Amerika, atau “Para Pemberontak” dari Selatan dalam Perang Sipil. Meskipun gerakan Hong sangat rohani, menekankan Alkitab dan pembaharuan, gerakan tersebut tidak seimbang, dan akhirnya ditundukkan oleh orang Machu dengan bantuan militer yang berarti dari Inggris dan Prancis. Kira-kira 30 juta orang mati dalam proses ini! Inikah alasannya orang di Tiongkok tetap kuatir dengan kekuatan gerakan-gerakan Kristen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Misi Kerajaan? ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang sudah bisa diketahui, periode ini secara umum menunjukkan Kekristenan baru yang berbeda yang menekankan pengampunan dosa dan ke sorga, tetapi pada saat yang sama juga mengusahakan mereka ke dalam kesehatan fisik dan reformasi sosial. Di dalam tradisi gereja aliran utama sebagian besar tekstur dari masa tersebut telah hilang. Berbagai tradisi yang memiliki akar dari Eropa terus membanjiri Amerika oleh karena imigran dari Eropa yang memiliki tradisi yang sama. Mereka dibingungkan dan bahkan ditolak oleh perspektif yang benar-benar baru ini yang disebabkan oleh Kebangunan Kedua yang luas itu. Sebagai contoh, alkohol pada tahun 1850 di Amerika terdapat di segala tempat dan dianggap sebagai kebiasaan buruk pribadi dan sosial. Sebaliknya, membuat wiski merupakan cara hidup orang Presbiterian di Skotlandia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dua gerakan yang dicetak di Amerika dan tidak teraniaya oleh banyaknya imigran yang enggan berubah ini adalah kaum Mormon dan Adven Hari Ketujuh. Mereka sampai hari ini tetap menjaga banyak karakteristik baru dari gerakan Injili pada periode transformatif ini. Berbagai karakteristik itu termasuk perhatian yang kuat terhadap misi sedunia dan juga perhatian religius, teologis serta misiologis bagi diet dan kesehatan, hingga tidak meminum teh, kopi, anggur dan minuman keras?sikap yang sulit dipercaya, merupakan sikap umum kaum Injili pada masa itu di mana kedua gerakan dengan tradisi yang tidak berhubungan ini memisahkan diri dari masyarakat umum. Masa kini, di Utah yang sebagian besarnya orang Mormon, lebih banyak pil (untuk medis atau gizi) dihasilkan di St. George daripada di kota lain di Amerika. Satu perusahaan saja memproduksi 350 juta pil per bulan. Mirip dengan itu, jutaan orang pada hari ini makan sereal dingin Kellog dan vitamin bermutu, tanpa menyadari kedua produk itu dikembangkan oleh para pemikir Adven. Tidak ada yang melebihi kualitas dan jumlah rumah sakit kaum Adven di seluruh dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misi dan penaklukkan seperti pada awal ekspansi global orang Eropa, sangat terkait. Teringat akan Perang Salib, banyak orang Amerika mengerti Kerajaan Allah termasuk muatan spiritual dan militer untuk menguasai Texas dan California dari kekuasaan Meksiko, dan kemudian mengeluarkan Inggris dari wilayah barat laut dengan cara secara tiba-tiba memindahkan perbatasan Amerika?Kanada ke Pasifik. Tidak berhenti di sana, mereka menguasai kepulauan Sandwich (sekarang Hawai) yang sudah diubahkan melalui misi, Samoa Barat, Guam, Puerto Rico dan Filipina. Misi dan penaklukkan, sama seperti ekspansi global orang Eropa di masa lalu, sangat terkait. Dalam kasus Filipina menjadi milik Amerika (hanya setelah mandi darah yang luar biasa yang sebagian besar tidak ada pemberitaannya) karena Presiden McKinley telah berlutut dalam doa mencari kehendak Allah bagi orang “barbar” Filipina yang sedang berjuang keluar dari kekuasaan Meksiko. Sementara itu, California menetapkan undang-undang yang menjamin hadiah cukup besar bagi setiap orang yang dapat membawa telinga atau kulit kepala orang Indian. Hukum yang mengerikan ini berlaku selama 50 tahun, dari 1852 sampai 1902. (Bukankah ini terdengar seperti suku Hutu beragama Kristen di Afrika Timur pada tahun 1994 yang memenggal ratusan ribu orang dari suku Tutsi?). Bagaimanapun juga, ini sangat jauh berbeda dengan pekerjaan ordo Fransiscan di antara orang Indian di California yang sabar, jika mungkin dikatakan kurang efektif. “Perang Salib” Amerika ini, seperti Perang Salib sebelumnya, merupakan percampuran yang gelisah dari agama yang mulia, politik yang hina, dan kekerasan militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Optimisme agama yang besar dan visi untuk ekspansi pada periode 1815-1860 tidak sepenuhnya hilang dalam Perang Sipil, meskipun perang itu merupakan salah satu perang yang paling tragis dan destruktif dalam sejarah. (Pembantaian gerakan Taiping di Tiongkok memakan korban jiwa 40 kali lipat sama banyaknya pada waktu yang bersamaan dengan itu.) Seperti Perang Revolusi, Perang Sipil diciptakan dan didukung oleh orang-orang yang tulus yang disemangati oleh kebangunan yang terjadi di kedua belah pihak. Seandainya Jendral Lee tidak menyadari kemurahan hati yang besar dari Lincoln di balik tawaran Jendral Grant pada persetujuan gencatan senjata Appomattox, dia tidak akan meminta para jendral Selatan untuk menyerah, dan perang gerilya masih akan terus berlangsung selama bertahun-tahun. Anehnya, beberapa sarjana melihat pencapaian penting dari perang tersebut dalam fakta bahwa sebelum perang baik negara-negara bagian yang ada di Selatan maupun di Utara sama sekali tidak bersatu apalagi secara brilian menyadari menjadi bagian dari suatu bangsa. Tetapi, perang menyatukan negara-negara bagian di Utara dan secara terpisah menyatukan negara-negara bagian di Selatan seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan gencatan senjata di Appomattox kemudian “menciptakan” satu negara yang di dalam banyak hal tidak dimungkinkan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih menjadi perhatian kita di sini adalah perang tersebut telah membunuh begitu banyak laki-laki, dari remaja sampai dewasa, sehingga wanita pada kedua belah negara bagian diizinkan bahkan dipaksa untuk mengambil alih pekerjaan di peternakan, bank dan bisnis dan bahkan mendirikan perguruan tinggi untuk wanita. Banyak perguruan tinggi elit untuk wanita pada masa kini, Bryn Mawr, Wellesley, Vassar, Radcliffe, Smith, Mt. Holyoke, Barnard, bahkan Mills di California, didirikan atau diubah menjadi perguruan tinggi oleh wanita karena ketiadaan pria-pria setelah Perang Sipil, dan ada perguruan tinggi yang didirikan dengan tujuan khusus untuk pelatihan wanita sebagai misionaris di luar negeri. (Perhatikan bahwa pada masa itu sebelum misi “awam” Hudson Taylor, sering orang berasumsi Anda harus lulusan perguruan tinggi baru bisa menjadi misionaris?dan karenanya lebih menyukai keluarga-keluarga yang kaya.) Dewan misi pertama yang semuanya wanita, Women’s Union Missionary Society, dijalankan oleh wanita dan hanya mengutus wanita, didirikan sebelum Perang Sipil tetapi berkembang setelah perang. Pada 30 tahun berikutnya, para wanita mendirikan 40 dewan misi untuk mendukung secara finansial dan/atau bekerja sama dengan dewan-dewan denominasional pria dan wanita yang sudah ada. Pada tahun 1900 berbagai dewan tersebut telah membentuk 180.000 “Women’s Missionary Societies” yang berbasis jemaat dan secara tidak langsung telah menciptakan Young Peoples Society of Christian Endeavor (CE) yang sangat berjiwa misi yang sampai hari ini bukan hanya merupakan gerakan orang muda Kristen terbesar, namun juga yang tanpanya organisasi Student Volunteer Movement for Foreign Missions yang banyak disanjung tahun 1886 tidak akan pernah memperoleh keberhasilan. Sampai tahun 1906 CE memiliki 67.000 organisasi di seluruh dunia dan empat juta anggota. Perhatikan, gerakan-gerakan ini tetap bersifat holistik dan transformasional, melibatkan Misi Kerajaan yang jelas didukung oleh Misi Gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== ERA KEDUA: 1865-1980 ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Wilayah Pedalaman, Kehilangan Misi Kerajaan ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada waktu kita mendekati akhir tahun 1800-an, beberapa hal menuntut perhatian kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pengurangan Bertahap Misi Kerajaan ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah optimisme yang melambung tinggi pada periode kebangunan rohani yang lebih awal terus berlanjut meski kemunduran yang mengerikan dari Perang Sipil dan imigrasi besar-besaran yang membuat populasi Amerika meningkat tiga kali lipat antara tahun 1850-1900 (dan terbukti sulit untuk dicerna oleh gerakan kebangunan tersebut)? Ya, dalam bentuk yang moderat di kalangan orang kaya yang adalah lulusan perguruan tinggi dan kaum Injili yang kaya. Kelompok “Gay Nineties” (1890-1899) merupakan suatu pemborosan uang keluarga yang luar biasa, beberapa dari mereka kaum Injili, yang saling bersaing untuk mengadakan pesta besar yang mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahasiswa pada akhir tahun 1900, hanya dua persen dari populasi. Tetapi, kekuatan perubahan sosial dari Evangelikalisme yang lebih awal masih tetap ada dan sebagai contohnya diekspresikan dalam himne tahun 1896, “America the Beautiful” yang melihat ke depan suatu dunia yang berubah di mana “kota-kota alabaster bersinar terang benderang oleh air mata manusia.” Lebih lanjut, Student Volunteer Movement (gerakan pada tingkatan perguruan tinggi yang umumnya dari kalangan keluarga kaya dan berpengaruh) mewakili suatu pembawaan dari optimisme sosial ini. Masa kini, sejumlah besar universitas-universitas besar bisa ditemukan di seluruh Asia, dan di setiap propinsi di Tiongkok, diciptakan oleh kekuatan zaman lalu yang masih terasa. Berbagai sekolah dan universitas, yang ditentang oleh para pendukung Carey (dan beberapa penafsir modernnya), merupakan kekuatan yang diperhitungkan dalam membuka pikiran sebagian besar dunia akan alam dan Allahnya alam. Kelas-kelas Alkitab dan ruang ibadah di 240 sekolah Kristen di India adalah salah satu penjelasan utama bagi keberadaan jutaan orang percaya yang secara budaya masih Hindu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi pada Era Pertama yang “memberadabkan” ini? Bagaimana muncul lagu yang begitu berbeda seperti “Dunia ini bukan rumahku, Kuhanya sekadar berlalu”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Munculnya Misi Gereja Saja ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin hari, dikarenakan pengaruh gelombang imigrasi yang sudah kita lihat di atas, gangguan dari pemikiran Darwin, dan “kritik tinggi” terhadap Alkitab yang merusak yang datang dari Jerman (yang menguasai universitas dan berbagai seminari aliran utama), para pemimpin Injili tidak lagi menguasai negara. Namun, ada Penyeimbang yang sangat besar dalam penginjilan di antara kelas pekerja melalui usaha D. L. Moody. Upaya itu kini menjadi kekuatan menentukan dari gerakan Kristen di Amerika, mencondongkan Injil demi keuntungan agama massa yang lebih sederhana dan kurang optimis. Berbagai peristiwa yang disarankan bagi banyak orang bahwa kepercayaan akan Kedatangan Kristus yang Kedua dengan segera membuat semua usaha untuk mengubah kembali dunia menjadi ketinggalan zaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, pada tahun 1865, J. Hudson Taylor, mendengar panggilan Allah untuk mendirikan sebuah misi untuk pergi ke pedalaman Tiongkok. Di dalam konteks struktur sosial Inggris, apa yang dilihat sebagai misi “kelas bawah” Taylor menerobos ke wilayah pedalaman, dan juga badan-badan misi lain yang mengikuti jalurnya, seperti Sudan Interior Mission, African Inland Mission, Heart of Africa Mission, dan Regions Beyond Missionary Union, dll. Selama bertahun-tahun semua badan misi ini menjadi salah satu kutub dari polarisasi yang ada dari Era Kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara kebetulan, seluruh badan misi ini mengikuti “Prinsip Iman” Taylor di mana setiap keluarga misionaris menantikan Allah untuk menyediakan, bukan gaji dari dewan pengurus misi mereka. Badan-badan misi ini kemudian disebut “misi iman,” meskipun mereka lebih secara signifikan ditandai oleh usaha mereka untuk pergi ke garis depan wilayah pedalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak seperti Carey, penekanan Taylor bukan pada apakah pergi atau tidak, tetapi ke mana harus pergi. Lebih spesifiknya, tugas Taylor adalah tahapan Perintis dan Pengasuh dari pekerjaan misi awal atau baru, berbeda dengan tahapan Kemitraan dan Partisipasi dari sudut pandang misiologis dari mereka yang bekerja di ladang misi yang sudah maju. Perhatian Taylor, yang menjadi perbedaan lanjutan, adalah agar para misionaris yang ke Tiongkok harus hanya menginjili ketika mereka pergi dengan sengaja melampaui wilayah pantai. Kepulauan Sandwich (Hawai), sebagai contoh, tidak seperti wilayah pedalaman Tiongkok, merupakan ladang yang sudah maju, dan karena itu para misionaris setelah banyak dekade dalam pekerjaan yang sukses memutuskan sudah waktunya untuk pulang ke rumah?di saat yang sama misi Taylor sedang pergi keluar!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai batas tertentu ini merupakan suatu polarisasi. Di satu sisi ada pemberadaban dan penginjilan yang merupakan perspektif dari para pemimpin di Era Pertama?William Carey dan banyak misionaris yang membaca dan menyerah kepada buku kecilnya yang sangat berpengaruh An Enquiry into the Obligation of Christians to Use Means for the Conversion of the Heathens. Sisi yang lain adalah orang-orang seperti Taylor yang merasa terpanggil untuk memulai dari awal melampaui wilayah pesisir?dengan para misionaris yang berlatar belakang kelas pekerja, menekankan hanya penginjilan. Menariknya, itu mungkin merupakan satu hasil dari iman Taylor yang dalam dan doa-doa yang bersemangat bahwa setelah 20 tahun Allah mengutus D. L. Moody yang sedikit terpelajar untuk memenangkan tujuh orang dari kelas sosial yang tinggi di Inggris. Sebagian besarnya dari antara mahasiswa Cambridge, khususnya para atlet yang dihormati termasuk C. T. Studd, bisa dibilang Michael Jordan-nya Inggris dalam cabang olahraga kriket, bergabung dengan Taylor dan akhirnya mengangkat pergumulan misi Taylor ke tingkatan kelas atas, sebuah pendekatan pernyataan yang lebih besar ketimbang murni, dan reputasi yang selayaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bahwa yang biasa disebut “Spiritual Negro,” merupakan pekerjaan dari orang-orang yang tidak berkuasa, berbicara mengenai sorga daripada tindakan sosial. Hal yang sama juga benar bagi misi dari masyarakat kelas pekerja. Ingat, perguruan tinggi pada tahun 1900, adalah untuk orang kaya yang hanya 2 persen dari populasi. Ciri khas dari misi yang mewakili orang-orang non-perguruan tinggi adalah, hal ini bisa dimengerti, tidak adanya refleksi besar apa pun tentang pemeriksaan yang teliti untuk mengadakan perubahan terhadap masyarakat?seperti tema-tema yang ada dalam lagu-lagu “Spiritual Negro.” Taylor dikenal dengan idenya yang setidaknya logis bahwa jika seribu misionaris dapat menginjili 50 orang Tiongkok per hari selama seribu hari, seluruh Tiongkok dapat diinjili. [Ini didasarkan pada asumsi bahwa ada 50 juta orang di Tiongkok yang mungkin benar pada tahun 1500. Tetapi pada masa Taylor, bahkan setelah perang Taiping yang luar biasa membinasakan kehidupan, mungkin ada 400 juta orang di Tiongkok. Tetapi ide menyapu daratan Tiongkok dengan Injil jelas].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudnya adalah para misionaris lain di Tiongkok, seperti lulusan perguruan tinggi teologi, Timothy Richard, seorang misionaris Baptis dari Inggris, sedang berusaha menghasilkan suatu sistem pendidikan yang baru pada tingkat nasional. Dan tentu saja misi Taylor sendiri tidak lama akan diambil alih oleh orang-orang lulusan perguruan tinggi yang memang memiliki visi yang lebih luas dan pengaruh sosial yang lebih besar. Namun, kedua misionaris ini memiliki dampak yang besar pada sejarah Tiongkok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, orang-orang Taylor yang pada periode awal disarankan agar tidak berlambat-lambat untuk menanam gereja, akhirnya menjalankannya dengan lebih perlahan untuk waktu yang cukup lama agar bisa menanam gereja. Tetapi mereka tetap tidak banyak memikirkan tentang mereformasi masyarakat. Pada saat Taylor sedang memperluas misinya yang luar biasa di Tiongkok di atas dasar penginjilan semata, para misionaris lain bekerja mendirikan universitas dan mempengaruhi sistem pendidikan. Pada akhirnya mereka berhasil melakukannya dengan keberhasilan yang bertahan lama. Polarisasi ini akan banyak menggambarkan banyak hal dari abad yang kemudian (abad 20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Perbedaan Kelas Muncul ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah pembawaan dari abad 19, strategi misi ”memberadabkan” yang adalah ciri khas perguruan tinggi terlihat dalam jumlah besar di dalam Student Volunteer Movement for Foreign Missions (SVM), yang diteruskan sampai awal abad 20. Kata mahasiswa (Student) dalam nama SVM berarti mahasiswa perguruan tinggi, bukan mahasiswa Institut Alkitab, meskipun 157 Institut Alkitab akan menghasilkan banyak misionaris nantinya dan menjadi perguruan tinggi pada akhir abad 20. Namun, pada akhir 1925, 75% misionaris Amerika diutus oleh gereja-gereja aliran utama, dan hampir semuanya mengenyam pendidikan di tingkat perguruan tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat yang sama, sesuatu seperti perbedaan kelas mulai muncul ketika sebagian besar kaum Injili membengkak membentuk jutaan massa yang tidak mengenyam perguruan tinggi dan dari kelas pekerja yang mendukung Moody lebih daripada Wilberforce atau bahkan Wesley. Berbagai aktivitas reformasi sosial di kemudian hari hanya sedikit diingat, jika ada yang diingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam polarisasi ini, kutub yang satu diwakili oleh Student Volunteer (Sukarelawan Mahasiswa) yang tingkatan perguruan tinggi, yang masih berpikir dalam kerangka mendirikan universitas di ladang misi dan memuliakan Allah dengan menghadapi masalah yang lebih luas dari Kerajaan Allah?Misi Kerajaan. Kutub yang lain berpikir dalam kerangka memuliakan Allah dengan mendirikan berbagai sekolah Alkitab dan menyebarkan keselamatan pribadi?Misi Gereja. Ini merupakan polarisasi dari Era Kedua. Penginjilan tetap ada di kedua kutub ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok yang satu akan mengorganisasi Ecumenical Missionary Conference pada tahun 1900 di Aula Carnegie New York, dan Presiden McKinley memberikan pidato pembukaan. Kelompok ini akan mendukung pertemuan besar pada tahun 1910 di Edinburgh, yang kemudian menjadi International Missionary Council dan pada akhirnya menjadi World Council of Churches (Dewan Gereja-gereja Sedunia).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup di dalam tumpang tindihnya Era Kedua dan Ketiga, dua orang bertipe perguruan tinggi dari Student Volunteer yaitu William Cameron Townsend, yang membuat tantangan menjangkau suku-suku terkenal dengan mendirikan Wycliffe Bible Translators, dan Donald Anderson McGavran, yang membuat semua orang sadar akan tantangan misi dalam kelompok (kasta) yang secara sosial berbeda melalui Fuller School of World Mission, yang didirikannya. Kedua orang ini, meskipun berpendidikan perguruan tinggi, berhasil menarik perhatian orang banyak yang umumnya dari kaum Injili yang tidak berpendidikan perguruan tinggi, tetapi terutama bagi orang-orang pada akhir abad 20 yang semakin banyak lulusan perguruan tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua orang ini percaya dengan pasti akan Misi Kerajaan. Townsend, sebagai contoh, memenangkan Presiden Meksiko melalui membantu sebuah desa orang Indian untuk menanam sayuran. Kerelaannya untuk bekerja sama dengan orang Katolik membuat Wycliffe Bible Translators keluar dari Interdenominational Foreign Mission Association (Asosiasi Misi Luar Negeri Interdenominasional).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok Misi Gereja yang lebih “konservatif” memasukkan banyak minoritas dari kaum Injili dalam denominasi aliran utama, ditambah semakin bertambahnya jumlah denominasi Injili yang lebih kecil dan khas serta banyak jemaat-jemaat independen, dan juga pertumbuhan jumlah kelompok Pentakosta. Lingkungan ini mudah lupa, atau pastinya bertentangan, pada tingkatan perhatian sosial dari denominasi-denominasi yang lama. Sementara itu, pengaruh terbatas dari kaum Injili dalam dunia profesi, universitas dan pemerintahan sipil di Amerika cenderung menghalangi kaum Injili untuk memperluas gagasan ekspansif tentang mengubah dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai alternatif, mereka mengembangkan konsep detail dari nubuatan alkitabiah, “akhir zaman,” kedatangan Kristus, dan Milenium, dan cenderung tidak menekankan, bahkan hampir sama sekali tidak mempedulikan reformasi sosial. Bagi mereka selama bertahun-tahun kata Kerajaan dicurigai sebagai bukti pemikiran “liberal”. Namun, mereka secara saksama aktif dalam hal-hal yang memang ada dalam kemampuan mereka untuk mereka lakukan: misi ke daerah kumuh, sebagai contohnya. Misionaris mereka di lapangan melakukan banyak hal apa yang mereka mampu, tanpa rencana perluasan, demi meringankan penderitaan dan kesakitan, tetapi prioritas tertinggi mereka adalah mendirikan institut Alkitab dan keselamatan secara pribadi, tidak banyak berkaitan dengan sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan lingkungan “aliran utama” menjadi begitu terpengaruh oleh kaum Injili dalam keanggotaan mereka, terkait dengan pandangan sumbangan dari kaum Injili. Mereka dipaksa, seperti kandidat politik di masa kini, untuk berbicara bahasa Injili. Pada saat yang sama, alasan lain bagi pengaruh kaum Injili berlatar non-perguruan tinggi yang semakin berkembang adalah karena semakin banyaknya anak-anak dari kaum Injili ini pergi ke universitas dan 157 Institut Alkitab yang semua itu kemudian berkembang menjadi Perguruan Tinggi Alkitab, menjadi perguruan tinggi umum dan menjadi universitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Peristiwa Sekuler Menegaskan Pesimisme ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi perhatikan, paruh pertama dari abad 20 memperhadapkan kedua kelompok tersebut kemunduran yang sangat besar. Berbagai peristiwa tragis cenderung membenarkan pandangan yang terkonsentrasi ke sorga, dan mendorong penggantian yang luas akan optimisme tentang dunia ini dengan pesimisme yang dalam dan pemikiran tentang pengangkatan orang-orang percaya (rapture).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abad 20 dimulai dengan Boxer Rebellion yang mematikan pada tahun 1900, yang secara mengerikan membunuh banyak misionaris dan banyak orang asing lainnya. Ironisnya, Ecumenical Missionary Conference (Konferensi Misi Ekumenis) di New York yang sangat berhasil diadakan sebulan sebelumnya. Baik pertemuan besar tersebut ataupun Kebangunan Rohani di Wales tahun 1910, ataupun Edinburgh World Missionary Conference di tahun yang sama tidak ada yang dapat sepenuhnya mengimbangi berbagai implikasi kemunduran di Tiongkok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada pula peristiwa tenggelamnya kapal Titanic pada tahun 1912, yang menjadi simbol karamnya keyakinan terhadap pencapaian manusia. Kemudian Perang Dunia Pertama terjadi dan pandemik flu global yang sering terlupakan yang membunuh lebih dari 50 juta orang (2.5 sampai 5 persen dari populasi dunia). Tahun 1920-an yang bergelora hancur dalam kepanikan tahun 1929, menuntun ke dalam tahun-tahun depresi keuangan global yang begitu dalam dan menyakitkan. Dari pergumulan ini seluruh dunia masuk ke dalam rahang Perang Dunia Kedua?yang menghasilkan satu hal baik, yaitu membawa lebih dari sepuluh juta prajurit Amerika kepada tur ke seluruh dunia dan menghasilkan 150 agen misi baru 5 tahun pertama setelah perang berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa ini teologi kedua kutub tersebut telah terpengaruhi. Seluruh tragedi ini kelihatannya menegaskan pesimisme dari orang-orang yang lulus dari Institut Alkitab tentang adanya semacam Kerajaan Allah di dalam dunia ini. Bahkan teolog-teolog aliran utama dalam tradisi Student Volunteer Movement mengembangkan berbagai teologi yang menjelaskan dan menantikan kegagalan dalam misi. Pernyataan terakhir John R. Mott di World Missionary Conference pada tahun 1910 adalah “sekarang dimulailah penaklukkan,” tetapi ini kemudian dianggap sebagai bentuk imperialistik yang memalukan dari “sifat mau mendominasi.” Sementara pada tahun 1925, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, para misionaris yang diutus oleh denominasi aliran utama masih membentuk 75% dari total populasi Amerika, pada tahun 1975 mereka berjumlah kurang dari 5% populasi Amerika. Konsep Misi Kerajaan telah mati atau sekarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, harus dikatakan bahwa penurunan tajam pengutusan misi dalam denominasi aliran utama bukan semata-mata hasil dari pesimisme teologis atau liberalisme. Itu juga dihasilkan dari fakta bahwa sasaran misi bagi mereka telah berangsur-angsur menjadi diredefinisi sebagai semata-mata Misi Gereja, penanaman jemaat. Misionaris (terutama dari kaum Injili) di dalam denominasi yang telah lama berdiri pada masa ini telah mengembangkan gerakan-gerakan dengan keanggotaannya di lapangan menjadi ratusan ribu anggota. Di dalam keadaan ini, mengutus lebih banyak misionaris ke berbagai ladang misi sesungguhnya menyiratkan (dan akan terus menyiratkan) pengalimatan kembali Amanat Agung menjadi “Pergilah ke seluruh dunia dan terlibatlah dalam gereja-gereja nasional hasil pekerjaan misi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== ERA KETIGA: 1935 SAMPAI SEKARANG ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== KELOMPOK SUKU YANG BELUM DIJANGKAU, PEMULIHAN MISI KERAJAAN ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu dua orang anggota Student Volunteer Movement dari tingkatan perguruan tinggi, Cameron Townsend dan Donald McGavran, mulai diperhatikan. Townsend begitu terburu-buru mau pergi ke ladang misi sampai dia tidak terganggu untuk menyelesaikan kuliahnya. Meskipun dia membantu memprakarsai Era Ketiga, dia pergi ke Guatemala sebagai misionaris Era Kedua, membangun di atas pekerjaan yang telah dilakukan di masa lalu. Di Guatemala, seperti di semua ladang misi lainnya, ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan para misionaris bersama dengan gereja-gereja nasional yang sudah berdiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Townsend ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi Townsend cukup peka (dan ini ditunjukkan oleh para misionaris yang lebih berpengalaman dan sudah bekerja dalam bahasa-bahasa Indian) bahwa mayoritas populasi Guatemala tidak berbahasa Spanyol. Ketika dia bergerak dari desa ke desa, berusaha membagikan Alkitab dalam bahasa Spanyol, dia akhirnya menyerah kepada fakta bahwa penginjilan dalam bahasa Spanyol tidak akan pernah menjangkau kebanyakan penduduk pribumi yang dominan di Guatemala. Dia semakin yakin akan hal ini ketika, legenda mengatakan, seorang pemimpin Indian bertanya kepadanya, “Jika Allahmu begitu pandai, mengapa Dia tidak bisa berbicara dengan bahasa kami?” Dia berteman dengan sekelompok misionaris yang lebih tua yang sudah lebih dulu menyimpulkan bahwa populasi pribumi ini perlu dijangkau dalam bahasa asli mereka. Dia baru berusia 23 tahun ketika mulai bekerja atas dasar persepektif baru ini. Tidak seorang pun bisa memperkirakan hasilnya yang spektakuler.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu Cameron Townsend bisa dibandingkan dengan William Carey dan Hudson Taylor. Seperti mereka, Townsend melihat bahwa masih ada garis depan yang belum terjangkau, dan selama hampir separuh abad dia memberi isyarat bagi kelompok-kelompok suku yang terabaikan di dunia. Dia memulai dengan berharap untuk mendorong dewan misi lama untuk menjangkau suku-suku ini. Seperti Carey dan Taylor, dia akhirnya (pada tahun 1934) memulai badan misinya sendiri, yang kemudian disebut Wycliffe Bible Translators, yang didedikasikan untuk mengajar lingusitik sebagai alat utama untuk menjangkau garis depan yang baru ini. Pada awalnya dia berpikir ada kira-kira 500 kelompok suku yang belum terjangkau di dunia. (Dia hanya memperkirakan kemungkinan sejumlah besar bahasa suku di Meksiko sendiri). Kemudian, dia merevisi angka ini menjadi 1.000, kemudian 2.000 dan sekarang lebih dari 5.000. Seraya pemahamannya akan besarnya tugas ini semakin meningkat, ukuran dari organisasinya juga meningkat, menjadi sekitar 6.000 pekerja dewasa pada tahun 2008.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== McGavran ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Townsend sedang merenung di Guatemala, Donald McGavran mulai melihat seriusnya, bukan halangan linguistik, tetapi halangan sosial dan budaya di India yang luar biasa. Townsend mengerti dan mempromosikan kenyataan adanya keragaman secara linguistik (dan yang terabaikan) dari suku-suku yang ada; McGavran menyorot dan mendukung keragaman sosial dan budaya dari kategori yang hampir universal yang disebutnya “unit-unit homogen” yang pada hari ini lebih sering disebut “kelompok suku.” Paul Hiebert, misionaris antropolog, menggunakan terminologi “segmentasi horizontal” untuk suku-suku, di mana masing-masing suku menempati wilayahnya, dan “segmentasi vertikal” untuk kelompok-kelompok suku yang tidak dibedakan oleh lokasi geografi tetapi oleh perbedaan sosial dan budaya yang kuat. Terminologi McGavran menggambarkan dua hal tersebut bahkan meski dia utamanya memikirkan tentang karakteristik segmentasi vertikal yang samar-samar di India.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali kelompok sosial seperti itu dipenetrasi melalui secara tekun mengambil keuntungan dari sebuah terobosan misiologis sejalan dengan bentuk sosial, konsep strategis McGavran, yang sudah disebutkan tentang sebuah “Jembatan Allah” bagi kelompok suku tersebut mulai memperoleh gambarannya. Konsekuensi dari kebenaran ini adalah fakta bahwa, sampai terobosan seperti itu dibuat, penginjilan secara normal dan penanaman jemaat tidak dapat dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGavran tidak mendirikan sebuah badan misi baru (Townsend melakukannya, hanya ketika badan misi yang ada tidak merespons dengan memadai tantangan pelayanan suku ini). Tetapi McGavran membangun sekolah misi terbesar di dunia dan usaha aktifnya serta berbagai tulisannya memperluas baik Gerakan Pertumbuhan Gereja maupun secara tidak langsung gerakan Misi Garis Depan (Frontier Mission). Gerakan yang pertama ditujukan untuk memperluas di dalam kelompok suku yang sudah diterobos. Gerakan yang terkemudian (yang tidak disetujuinya hingga beberapa tahun terakhir) ditujukan untuk secara sengaja mendekati seluruh kelompok suku yang belum dipenetrasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Edinburgh 1980, Titik Balik ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti Taylor sebelum mereka, selama dua puluh tahun Townsend dan McGavran hanya sedikit menarik perhatian. Tetapi pada tahun 1950-an keduanya mendapat perhatian luas. Pada tahun 1980, 46 tahun setelah gerakan organisasional Townsend, konferensi yang seperti tahun 1910 dilakukan, yang secara eksklusif diikuti oleh para pemimpin misi dan berfokus hanya pada dua jenis kelompok yang terlupakan yang ditekankan dua orang ini. World Consultation on Frontier Missions di Edinburgh pada tahun 1980 pada masa itu merupakan pertemuan misi terbesar dalam sejarah, jika diukur dari jumlah badan misi yang mengirim utusannya. Dan yang menakjubkan 57 badan misi dari Dunia Ketiga yang seluruhnya meliputi sepertiga dari total peserta, mengirim utusannya. (Tidak satu pun utusan dari Dunia Ketiga pada pertemuan tahun 1910). Pertemuan ini, meskipun tidak diketahui secara luas, sangat penting bagi Era Ketiga, menanamkan visi tentang kelompok-kelompok suku yang belum terjangkau di seluruh dunia. Pertemuan ini juga mencakup pertemuan orang muda yang bersamaan, International Student Consultation on Frontier Missions, memberi perhatian khusus bagi semua pertemuan misi di masa depan akan sebuah tujuan “antargenerasi”… ?memasukkan partisipasi orang muda yang signifikan. Kelompok mahasiswa memulai pada tahun 1983 International Journal of Frontier Missiology (ratusan artikel yang tajam dari jurnal ini seluruhnya tersedia di www.ijfm.org).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang pernah terjadi di tahap awal dari dua era pertama, Era Ketiga telah memperluas sejumlah badan misi baru. Sebagian, seperti New Tribes Mission melalui namanya menunjukkan pada penekanan baru dari era ini. Nama-nama dari badan misi lainnya, seperti Gospel Recordings dan Mission Aviation Fellowship, merujuk pada berbagai teknologi baru yang diperlukan untuk menjangkau berbagai kelompok suku dan suku-suku yang terisolasi di dunia. Beberapa badan misi di Era Kedua, seperti SIM International, tidak pernah berhenti menekankan lingkup garis depan ini dan hanya menambah staf mereka agar mereka bisa menerobos lebih jauh?kepada kelompok-kelompok suku yang sebelumnya terabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru belakangan ini banyak badan misi yang mulai menyadari bahwa suku-suku terasing bukan satu-satunya suku-suku yang terlupakan. Banyak kelompok suku lain, beberapa bahkan ada di tengah-tengah sebagian wilayah yang sudah menjadi Kristen, namun sepenuhnya terabaikan. Suku-suku ini, termasuk suku-suku terasing yang diabaikan, disebut “Kelompok Suku yang Belum Terjangkau” dan didefinisikan oleh sifat etnis dan sosiologis. Mereka adalah orang-orang yang begitu berbeda dari tradisi budaya jemaat yang sudah ada sehingga berbagai strategi misi lintas budaya (bukan teknik penginjilan biasa) yang spesifik dibutuhkan untuk mencapai “terobosan misiologis” yang penting guna menanam dasar pijakan iman yang benar-benar mempribumi di dalam tradisi budaya mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pertumbuhan dan Penurunan Polarisasi ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi ironinya adalah pada waktu misi dari berbagai denominasi yang lebih tua sedang menurun?sangat dipengaruhi oleh antipati yang telah lama berlangsung oleh sebagian besar kaum Injili terhadap aktivitas “non-penginjilan” dari misi gereja-gereja aliran utama?misi Injili “sejati” yang sedang menggantikan misi dari gereja-gereja aliran utama itu sendirinya sedang dihuni oleh orang-orang lulusan universitas yang memperoleh suatu peningkatan kesadaran akan dimensi Injil yang lebih besar?dan akan aktivitas “non-penginjilan” tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemulihan yang benar pada bagian misi Injili dari kepicikan sifat penginjilan mereka sebelumnya bahkan lebih baik lagi digambarkan, secara tak terduga, oleh pola dukungan dana dan ketertarikan dari orang muda. Di dalam periode lima tahun terakhir di abad ini, misi penanaman gereja dari Amerika Serikat bertumbuh 2.7% sementara berbagai badan Injili dalam pemulihan bantuan dan pengembangan masyarakat bertumbuh 74.8%. Namun, perbedaan antara dua kelompok ini harus dianggap sebagai kelanjutan yang tidak disambut dengan baik dari polarisasi Era Kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi Era Ketiga telah melihat adopsi dari definisi yang baru dan lebih tepat dari ethne, segala bangsa yang ada dalam Alkitab, dan secara efektif mendefinisikan kelompok-kelompok suku bangsa yang masih belum terjamah oleh penjangkauan misi, sebagai prioritas tertinggi. Era ini juga memperagakan suatu pemulihan yang mantap, meski bertahap, dari penekanan yang kaya namun sempit tentang sorga yang telah menggantikan penyatuan sorga dan bumi dalam tujuan misi di abad 19. Dalam kedua kasus ini?Kelompok-kelompok suku yang belum terjangkau atau Misi Kerajaan?Era Ketiga belum selesai. Berbagai perdebatan dan kebingungan tetap ada mengenai signifikansi dari sekelompok kecil suku bangsa yang tersisa dan juga arti sepenuhnya dari “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebingungan yang terjadi atas kata “kerajaan” ini lebih rumit ketimbang tantangan misi Kelompok-kelompok suku yang belum terjangkau. Ancaman terror dan ketakutan yang tetap ada di beberapa lingkaran di mana pembicaraan apa pun tentang memperluas Kerajaan Allah di dunia ini, bagian baiknya, adalah hasil dari berbagai kontroversi panjang dan pahit mengenai “Fundamentalis/Modernis” yang mendominasi sebagian besar paruh pertama dari abad 20. Akankah kita jatuh ke dalam hal seperti ini lagi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Polarisasi seperti itu sama sekali tidak mati, jika hanya karena, secepat kaum Injili memperoleh pengaruh dalam masyarakat, meningkatkan pendidikan umum dan misiologi mereka, dan mulai mampu untuk menjalankan rencana yang lebih ekspansif untuk mendukung pertumbuhan Gereja dan Kerajaan Allah, ribuan orang lainnya baru saja mulai beriman dan mereka umumnya membutuhkan jawaban yang sederhana. Ini mengingatkan kita pada Jesus Movement di awal tahun 1970-an yang menyapu banyak orang ke dalam teologi yang dikejar dengan sungguh-sungguh tapi simplistik yang contohnya mengakui hanya satu terjemahan Alkitab tertentu (NASB) sebagai terjemahan yang dipercaya. Faktanya, akhir tahun 1973 sekitar seperduapuluh jemaat Presbiterian di bagian Selatan mengundurkan diri untuk membentuk sebuah denominasi baru. Ini merefleksikan polarisasi yang telah kita gambarkan dan juga tingkatan sosial dari gereja-gereja kecil di wilayah pinggiran, dan gereja-gereja di kota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah memang ada transisi besar yang menjelaskan polarisasi ini? George Marsden, sejawaran yang menonjol tentang Kekristenan Amerika, mungkin sedikit berlebihan ketika dia berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Orang Kristen Amerika ini mengalami perubahan luar biasa dalam hubungan mereka dengan budaya. Merupakan “Kaum Injili” yang dihormati pada tahun 1870-an, tetapi tahun 1920-an mereka menjadi bahan tertawaan, orang-orang asing secara ideologis di negara mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang 100 tahun kemudian, James Beverley, profesor di Tyndale University di Toronto, Canada menyatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Apakah para pemimpin dalam dunia karismatik akan mengontrol obsesi akan malaikat, perjalanan ke sorga, debu emas bulu, sayap dari sorga, minyak sorga, pakaian sorga, dipenuhi emas dan perjalanan keluar tubuh? Lee Grady, editor Majalah Charisma, telah mengkritik Bentley mengenai masalah ini, terutama laporannya yang luar biasa mengenai malaikat dan cerita liarnya mengenai perjalanan teratur ke sorga. Sayangnya, Grady menerima banyak kutukan dari para pemimpin lain…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda bisa pastikan tidak banyak lulusan universitas yang kaya di antara para pendengar Bentley. Bagaimanapun juga, para misionaris perlu mengharapkan hal-hal seperti ini lebih sering di dunia non-Barat daripada yang terjadi disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi untuk mengerti daya tahan dari pecahan sosial yang mendasari polarisasi yang sedang digambarkan, kita perlu menyadari bahwa, selama beberapa dekade, di dalam pertemuan American Society of Missiology (ASM) dan Evangelical Missiological Society (EMS) tidak ada saling rujuk di antara kedua badan tersebut. Dr. George Peters dari Dallas Teological Seminary dan saya sendiri dari Fuller Teological Seminary memimpin pertemuan sampingan pada IFMA/EFMA (lihat di bawah) Konferensi besar “Greenlake 1971” mengenai Hubungan Gereja?Misi, dan merekrut 65 orang menjadi anggota pendiri dari American Society of Missiology pada tahun 1972.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, ASM dari awalnya sesungguhnya telah didominasi oleh “kaum Injili.” Namun, seperti yang diinginkan, orang lain merekruit anggota lain dari lingkungan “aliran utama” entah Katolik dan Protestan, sering dari seminari teologi. Inklusivitas ASM menyediakan alasan untuk masyarakat yang terpisah (EMS – Evangelical Missiology Society) yang utamanya terdiri dari para profesor dari Institut Perguruan Tinggi Alkitab atau sekolah-sekolah yang pernah masuk dalam kategori tersebut. Namun banyak profesor Injili menjadi anggota dari ASM dan EMS, sedangkan kedua masyarat misi ini terpisah secara abadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awal tahun 1900-an kaum Injili mendirikan berbagai Institut Alkitab ketimbang perguruan tinggi dan seminari. Tetapi ada satu seminari yang signifikan didirikan, Dallas Teological Seminary. Namun, seminari ini menunggu 60 tahun sebelum bergabung dengan Association of Theological Schools.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sama dengan itu, National Association of Evangelicals (NAE), didirikan tahun 1945, menjadi rekanan bagi National Council of Churches of Christ in the USA (NCCUSA), sedangkan Evangelical Foreign Missions Association (EFMA bersama dengan NAE, dan badan baru-baru ini berubah nama menjadi Mission Exchange) merupakan rekanan bagi Division of Overseas Ministries (DOM) dari NCCUSA. Badan-badan misi dari denominasi aliran utama dari DOM tidak bergabung dengan EFMA, sebagaimana badan-badan denominasi EFMA tidak bergabung dengan DOM. Namun sejumlah besar individu Injili ditemukan baik di dalam DOM dan EFMA. Sikap telah berubah lebih cepat daripada institusinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Tetapi Apa itu Injil Kerajaan? ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menariknya (dan pasti sangat sedikit orang berpikir seperti ini pada hari ini) kedua kutub ini?baik Student Volunteer yang berpengaruh maupun orang-orang dari Institut Alkitab yang berfokus pada sorga dan keselamatan pribadi?tidak memiliki konsep yang didefinisikan dengan sangat baik mengenai Injil Kerajaan yang melihat 40 jam kerja seminggu dari orang awam (melebihi penginjilan di tempat kerja) sebagai panggilan yang sakral. Tidak dapatkah orang awam dengan sengaja memilih karir yang berbeda yang tidak didasarkan pada tingkat gajinya tetapi pada kontribusi strategisnya terhadap kehendak Allah di bumi? Banyak masalah urgen dan berbagai kejahatan yang masih menjerit meminta solusi, tetapi sering kali sepenuhnya berada di luar kotak teologis dari mereka yang puas dengan Misi Gereja belaka. Sedihnya, sasaran penanaman Gereja di setiap kelompok suku atau sekadar memperluas Kekristenan, entah di Amerika atau di seluruh dunia, merupakan pengertian yang paling umum tentang memperluas tujuan Allah di dunia kita. Hanya ada sedikit ruang untuk konsep, terlepas dari pelayanan profesional yang berhubungan dengan gereja, dan seorang “Kristen penuh waktu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi ketika setiap orang percaya diharapkan bisa secara sadar dan sengaja terlibat “dalam misi,” apakah itu kemudian berarti tidak ada apa pun yang merupakan misi? Tidak, itu hanya berarti bahwa ada berbagai tipe misi yang berbeda. Akan selalu ada misi perintisan lintas budaya yang secara menakutkan sulit. Tetapi mereka dari antara kita yang telah sedang memperjuangkan hal tersebut sebagai prioritas tertinggi, tidak memiliki kekuatan untuk menyisihkan kata misi bagi tipe misi yang urgen seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini kita memiliki pengertian yang lebih baik tentang polarisasi antara Misi Gereja dan Misi Kerajaan yang lebih awal, agaknya dangkal dan merusak. Kita tidak perlu selamanya dikalahkan oleh ayunan pendulum antara dua kutub ini. Masa kini sebagian besar anak-anak dari orang-orang yang bertobat akibat pelayanan Moody sekarang telah menjadi orang-orang kelas menengah yang berpengaruh, sehingga orang-orang berkualifikasi perguruan tinggi kini bukan lagi suatu kelas atas yang minoritas. Pada masa kini, mereka yang dicobai untuk merasa puas dalam suatu pendekatan sederhana yang dangkal terhadap Alkitab dan misi sebagian besarnya adalah sisa-sisa kaum fundamentalis atau sekelompok baru kaum pada pinggiran hiper-karismatik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah studi kasus yang optimis dalam Era Ketiga ini adalah memperhatikan kemajuan istimewa yang dibuat oleh para pemikir dan badan misi pada masa kini mengenai apa yang disebut “Pendekatan Orang Dalam” (Insider Approach) terhadap orang M, Hindu, dan Buddha, yang hanya membuat sedikit kemajuan di masa lampau. Baru-baru ini disadari bahwa contoh Paulus (mengizinkan orang Yunani tetap sebagai orang Yunani seraya mereka mengikut Kristus) sejajar dengan mengizinkan orang M, Hindu dan Buddha untuk mempertahankan banyak dari bahasa dan budaya mereka sebagai pengikut Kristus. Fenomena signifikan ini dibahas di tempat lain dalam kursus ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Kesimpulan: Seberapa Jauh Kita Telah Sampai? ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita perlu mengenali tenaga pendorong menuju kepada pemulihan Misi Kerajaan yang penuh dalam tulisan-tulisan tiga orang. Sebagian orang mendesak bahwa mereka adalah nabi-nabi awal di Era Keempat. Profesor Carl F. H. Henry pada tahun 1947 mengeluarkan buku bersejarahnya The Uneasy Conscience of Modern Fundamentalism. Pada tahun 1957 Profesor Timothy Smith menghasilkan buku yang sangat penting Revivalism and Social Reform, menggali dampak pada masyarakat dari Kebangunan Kedua di paruh pertama abad 19. Terakhir, Profesor David O. Moberg pada tahun 1967 memberi kita bukunya yang berjudul The Great Reversal (kemudian hari diterbitkan dengan versi yang beragam), yang menjelaskan secara detail kemerosotan dari apa yang kita sebut Misi Kerajaan (melampaui transformasi pribadi) kepada suatu fokus terhadap pribadi dalam apa yang disebutkan di sini sebagai Misi Gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi rata-rata orang awam, Misi Gereja, misi yang mempromosikan dan memperluas Gereja sebagai sebuah institusi, digambarkan sebagai Kekristenan jenis “berdoa dan memberi” yang dilakukan “setelah jam kerja.” Misi Gereja bersama dengan Misi Kerajaan seharusnya menjadi tipe Kekristenan 24/7 yaitu “Kristen penuh waktu.” Apa artinya orang “Kristen penuh waktu”? Artinya misi untuk memperkenalkan Kerajaan atau Misi Kerajaan, melibatkan atau seharusnya melibatkan setiap tindakan orang awam dalam 40 jam kerjanya seminggu di samping apa yang dia bisa lakukan bagi gereja “setelah jam kerja” dalam Misi Gereja. Contoh-contohnya mungkin mengajar anak SD kelas satu sebagai sebuah panggilan kudus, bekerja pada bidang apa pun yang sah sebagai sebuah panggilan kudus tetapi peka terhadap kesempatan untuk mengejar karir dalam pengentasan perbudakan manusia secara global, atau pengentasan kemiskinan ekstrem, dll. Itulah apa yang dikatakan “Kristen penuh waktu.” Tentu saja itu juga mencakup apa yang kita sebut pelayanan Kristiani penuh waktu jika itu merupakan pilihan paling strategis yang tersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak pendeta memanggil orang tidak hanya untuk percaya, tetapi untuk rela “melayani Yesus Kristus.” Bagaimanapun, pelayanan itu bisa berarti mengajar Sekolah Minggu, membantu di dalam hal perawatan, menjadi penyambut tamu dalam kebaktian, atau mendukung para misionaris. Banyak pendeta mungkin bahkan mendorong jemaatnya untuk pergi ke luar dan melakukan pekerjaan baik, sebagai individu, tetapi mereka mungkin tidak memikirkan tentang kebutuhan bagi orang-orang gereja untuk mendukung dan/atau membentuk berbagai organisasi pelayanan yang besar dan serius yang memecahkan persoalan kejahatan besar, kejahatan percabulan, dan berbagai tragedi di dunia ini. Bagi mereka, mempromosikan entah Kerajaan Allah ataupun Gereja adalah hal yang sama. Doa Bapa Kami terlalu sering menjadi “datanglah kerajaan Kami” ketika gereja hanya mempedulikan pemenuhan pribadi dan kerohanian dari jemaatnya, rencana pembangunan fisik gereja, dll., bukan pada solusi terhadap masalah-masalah yang melampaui batas tembok gerejanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Seberapa Jauh Kita Harus Pergi? ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu hal yang paling sulit untuk dimengerti oleh beberapa orang adalah mengapa mustahil, bukan hanya tidak bijak, untuk memikirkan perkataan dan perbuatan sebagai dapat dipisahkan. Alkitab sebagai Firman Allah akan menjadi tidak lebih dari filsafat yang mengawang-awang jika tidak terus-menerus merujuk pada perbuatan Allah, perbuatan para pengikut-Nya, dan perbuatan Anak-Nya. Sama dengan itu, penjangkauan misi kita harus dipenuhi dengan perbuatan-perbuatan yang bermakna jika tidak perkataan kita akan kosong dan kita tidak menyatakan sifat Allah. World Evangelical Alliance berbicara secara bijaksana mengenai:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Misi Integral atau transformasi yang holistik [sebagai] proklamasi dan demonstrasi dari Injil. Itu bukan hanya bahwa penginjilan dan aksi sosial harus dilakukan secara bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keduanya bukan dua hal berbeda. Perhatikan kata “holistik” di sini tidak hanya berarti seluruh pribadi seseorang tetapi seluruh masyarakat, seluruh dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih jauh lagi, kaum Injili pada masa kini, yang sekarang memiliki kekayaan dan pengaruh yang jauh lebih besar, perlu menyadari bahwa hak istimewa yang semakin besar menuntut perluasan dan tanggung jawab yang diperluas dan yang lebih rumit. Jumlah uang yang dikeluarkan Bill dan Melinda Gates untuk penanggulangan malaria tidak berarti jika dibandingkan dengan dana yang diboroskan Kaum Injili setiap tahun untuk hal-hal yang tidak penting. Namun tidak ada upaya terorganisasi yang terhormat dari kaum Injili yang sekarang ada untuk menambah sokongan demi memberantas bakteri penyakit yang menimpa jutaan orang, termasuk jutaan orang Kristen. Apakah pesan konvensional gereja-gereja pada masa kini menantang para pengikut Kristus untuk dengan sengaja memilih bidang mikrobiologi seperti halnya “pelayanan Kristen”? (Perhatikan bahwa Misi Kerajaan lebih dari sekadar “aksi sosial” jika itu adalah untuk memberantas bakteri penyakit. Alkitab berbicara mengenai pemulihan bukan sekadar aksi sosial.) Ayolah! Tidak dapatkah kita memahami fakta bahwa jutaan keluarga Kristen di seluruh dunia, sekarang ini, begitu miskin dan sakit sehingga mereka tidak dapat memberi makan anak-anak mereka dan harus menjual anak-anak mereka untuk kerja paksa agar bisa makan? Di Pakistan ratusan ribu anak masuk dalam kategori ini. Setengah dari anak-anak itu mati di usia 12 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melakukan banyak pekerjaan baik, atau seperti dikatakan seseorang “sibuk bagi Yesus” secara individu bisa dikatakan “baik tapi tidak cukup baik.” Perspektif Injili kita telah begitu terindividualisasi sehingga kita hanya berpikir mengenai pekerjaan baik secara individu. Melakukan sedikit hal yang baik asalkan menyenangkan mungkin hanya menjadi suatu cara untuk membenarkan dan meyakinkan diri kita akan keselamatan pribadi kita. Memulai dengan talenta dan hal yang menjadi minat kita adalah hal yang umum tetapi itu merupakan cara dunia?itu memperoleh sesuatu secara terbalik. Jangan terbalik?ini menuju ke hulu?tetapi bagaimana minat pribadi yang subjektif bisa secara akurat memprediksikan prioritas Allah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita harus mulai dengan apa yang menjadi perhatian Allah, apa pun talenta, keinginan, dan kemampuan kita. Bagaimana jurusan universitas yang kita pilih selama 4 tahun tanpa merefleksikan prioritas Allah dapat diasumsikan menentukan arah 50 tahun ke depan? Kita harus “memberi yang terbaik bagi kemuliaan-Nya.” Ketaatan kita pasti memiliki cacat jika hanya terfokus pada apa yang dunia setujui. Kewajiban kita adalah berusaha menyebarkan pengetahuan akan kemuliaan Allah dan kerajaan-Nya, dan ini pasti mengharuskan setiap kita untuk sepenuh harap dalam doa berusaha mencari Allah untuk melakukan hal tersulit yang bisa kita lakukan dalam tugas terpenting yang bisa kita temukan. Surat 1 Yohanes 3:8 berkata, “Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” Mengikuti Yesus sama dengan pergi berperang. Pada sisi milenium ini, itulah kehidupan Kristen sesungguhnya. Di dalam perang apa yang perlu dilakukan menjadi hal terutama. Dan kesadaran sejati akan pencapaian bukanlah bahwa Anda melakukan apa yang ingin Anda lakukan, atau apa yang Anda pikir sebagai hal terbaik yang Anda bisa, tetapi apa yang Anda merasa diyakinkan merupakan hal yang paling menentukan dan paling penting. Melakukan pekerjaan baik merupakan cara alkitabiah untuk menggambarkan karakter dan kemuliaan Allah jika kita rela bertindak tanpa menyisipkan persyaratan pribadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, kita melihat Era Misi Ketiga, sejauh era ini mengenali baik kelompok suku yang belum terjangkau dan memulihkan Misi Kerajaan, menyingkapkan tuntutan yang penting, inspirasi yang tak habis-habisnya, dan janji yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Kerajaan_Menyerang_Balik:_Sepuluh_Periode_dari_Sejarah_Penebusan&amp;diff=730</id>
		<title>Kerajaan Menyerang Balik: Sepuluh Periode dari Sejarah Penebusan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Kerajaan_Menyerang_Balik:_Sepuluh_Periode_dari_Sejarah_Penebusan&amp;diff=730"/>
		<updated>2015-09-14T18:15:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{ralph winter}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia sesungguhnya telah menghapus kisahnya sendiri. Sejauh catatan paleologis (kepurbakalaan) apa pun yang kita miliki, umat manusia telah begitu sering bertarung satu sama lain dan telah menghancurkan lebih dari 90 persen hasil karya mereka sendiri. Perpustakaan mereka, literatur mereka, kota-kota mereka, karya seni mereka hampir seluruhnya sudah tiada. Bahkan yang kecil  yang tersisa dari masa lalu dibingungkan dengan bukti-bukti kejahatan yang aneh dan menyeluruh, yang secara menjijikkan telah merusak potensi manusia. Ini aneh karena kelihatannya tidak ada spesies lain yang memperlakukan sesamanya dengan kebencian yang mematikan seperti itu. Tengkorak-tengkorak tertua merupakan saksi bisu bahwa mereka dihantam dengan keras dan dipanggang agar organ tubuhnya menjadi makanan bagi manusia lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sejumlah besar bakteri penyakit juga memangkas pertumbuhan populasi. Populasi dunia pada masa Abraham diperkirakan sekitar 27 juta orang – kurang dari populasi California pada tahun 2000. Tetapi, pertumbuhan populasi yang lambat pada masa Abraham merupakan bukti mengerikan dari kombinasi menghancurkan antara wabah dan perang, keduanya menjadi saksi akan dampak dari Si Jahat. Rata-rata pertumbuhan populasi dunia waktu itu hanya seperenambelas dari rata-rata pertumbuhan global masa kini. Ketika kebencian dan penyakit ditaklukkan, populasi dunia langsung meningkat. Jika rata-rata pertumbuhan global masa kini yang relatif lambat terjadi di masa Abraham, populasi dunia kita yang sekarang ini (sekitar 6 milyar orang) telah dicapai hanya dalam waktu 321 tahun! Jadi, pada masa itu, kejahatan yang menghancurkan kehidupan pasti jauh lebih merajalela daripada sekarang. Jadi, tidak heran kita menemukan bahwa penjelasan bagi kejahatan yang aneh ini muncul dalam catatan tertulis tertua yang rinci – dokumen-dokumen yang bertahan yang dihormati oleh tradisi Yahudi, Kristen dan M, di mana para penganutnya terdiri dari lebih setengah populasi dunia. Dokumen-dokumen ini disebut “Torah” oleh orang Yahudi, “Kitab-kitab Taurat” oleh orang-orang Kristen dan “Taurat” oleh orang-orang M. Dokumen itu tidak hanya menjelaskan sumber kejahatan tetapi juga menggambarkan suatu serangan balik, dokumen tersebut mengikuti perkembangan serangan tersebut di sepanjang sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Lebih spesifik lagi, sebelas pasal pertama dari Kitab Kejadian yang membentuk suatu “pendahuluan” dari seluruh permasalahan, merupakan plot dari seluruh Alkitab. Halaman-halaman tersebut menggambarkan tiga hal: (1) ciptaan awal yang indah dan “baik”; (2) masuknya kejahatan memberontak dan merusak – manusia yang mau menjadi sama dengan Tuhan, tergoda oleh setan – sehingga menghasilkan, (3) kemanusiaan yang terperangkap dalam pemberontakan dan berada di bawah kuasa si jahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Seluruh Alkitab bukan hanya suatu kumpulan kisah yang tidak saling berhubungan seperti yang terkadang diajarkan di Sekolah Minggu. Namun, Alkitab terdiri dari drama tunggal: masuknya Kerajaan Allah, kuasa dan kemuliaan Allah yang hidup ke dalam wilayah yang dikuasai musuh. Mulai dari Kejadian 12 sampai akhir Alkitab, dan bahkan sampai pada akhir zaman, dibukakan suatu drama tunggal yang koheren tentang Kerajaan Allah yang menyerang balik. Ini akan menjadi judul bagi Alkitab itu sendiri jika dicetak secara modern (dengan Kejadian 1-11 sebagai pendahuluan bagi seluruh Alkitab). Di dalam drama yang sedang dibukakan ini kita melihat secara bertahap kuasa Allah yang tidak dapat ditolak menguasai kembali dan menebus ciptaan-Nya yang telah jatuh dengan memberikan Anak-Nya di pusat periode 4.000 tahun dimulai pada tahun 2000 SM. Secara ringkas ini dirangkum: “Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu” (1Yoh. 3:8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Serangan balik melawan Si Jahat ini jelas tidak menunggu sampai Pribadi di pusat kisah ini muncul. Memang, saya melihat ada lima periode sebelumnya yang mendahului kedatangan Kristus dan juga lima periode sesudahnya. Tujuan utama dari artikel ini adalah menggambarkan lima periode setelah Kristus. Namun, agar periode ini terlihat sebagai bagian dari satu kisah tunggal yang dibukakan dalam sepuluh periode selama 4.000 tahun, kita akan memperhatikan beberapa petunjuk mengenai lima periode awal. Tema yang menghubungkan kesepuluh periode adalah anugerah Allah yang campur tangan dalam sebuah “dunia berada di bawah kuasa si jahat” (1Yoh. 5:19), melawan musuh yang sementara ini adalah “ilah zaman ini” (2 Kor. 4:4) agar bangsa-bangsa dapat memuji nama Allah. Rencana-Nya untuk melakukan hal ini adalah dengan menjangkau segala suku bangsa melalui memberikan “berkat” yang tidak biasa kepada Abraham dan keturunannya (anak-anak Abraham melalui iman), bahkan ketika kita berdoa “Datanglah Kerajaan-Mu.” Berlawanan dengan itu, rencana Si Jahat adalah menodai nama Allah. Si Jahat mendatangkan kebencian, memunculkan penderitaan dan kerusakan atas ciptaan Allah yang baik, bahkan mungkin juga merusak urutan DNA. Alat Setan mungkin termasuk membuat bakteri yang jahat untuk merusak kepercayaan terhadap karakter Allah yang pengasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serangan balik Allah dilaksanakan melalui Berkat. Kata berkat dalam bahasa Inggris bukan merupakan terjemahan yang ideal. Kita melihat kata ini digunakan ketika Ishak memberikan “berkat” kepada Yakub dan bukan kepada Esau. Itu bukan “berkat-berkat” tetapi “berkat,” pemberian nama keluarga, tanggung jawab, tugas, dan hak istimewa. Itu bukan sesuatu yang dapat Anda terima atau dapatkan seperti sebuah kotak coklat di mana Anda bisa membawanya pergi dan makan sendirian dalam gua, atau suatu kekuasaan pribadi yang baru yang dapat Anda pertunjukkan seperti otot-otot Anda. Berkat itu merupakan sesuatu di mana Anda menjadi berada dalam suatu hubungan dan persekutuan yang permanen dengan Bapa di sorga. Itu mengembalikan “keluarga-keluarga,” yaitu, segala bangsa kepada rumah tangga Allah, kepada Kerajaan Allah, agar bangsa-bangsa tersebut “dapat memuji kemuliaan-Nya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Bangsa-bangsa tidak menyatakan kemuliaan Allah karena mereka kekurangan bukti akan kemampuan Allah untuk mengatasi kejahatan. Jika Anak Allah muncul untuk menghancurkan pekerjaan Iblis, apa yang harus dilakukan para pengikut Anak Allah dan para “pewaris kerajaan” untuk mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya? Mereka yang seperti Abraham menerimanya karena iman dan menundukkan diri mereka kepada kehendak Allah akan mewakili penyebaran Kerajaan-Nya dan otoritas di dalam dan atas segala bangsa dan suku. Berkat Allah membawa tanggung jawab yang tidak terpisahkan, sesuai dengan makna asli dari “berkat,” yang akan kita telusuri di sepanjang sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Lima Periode Pertama dari Kisah Berusia 4.000 Tahun ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah tentang “serangan balik” seperti yang kita lihat dalam Kejadian 12 dimulai sekitar tahun 2000 SM. Selama sekitar 400 tahun berikutnya, Abraham dipilih untuk memberkati bangsa-bangsa, dan pindah ke pusat geografis daratan Asia-Afrika. Pada masa Abraham, Ishak, Yakub dan Yusuf (yang sering disebut Periode Bapa-bapa Leluhur) hanya sedikit menunjukkan terobosan kesaksian bagi bangsa-bangsa di sekeliling mereka meskipun mandat utama untuk memulihkan kekuasaan Allah atas segala bangsa (Kej. 12:1-3) diulangi dua kali lagi kepada Abraham (18:18; 22:18), dan sekali pada Ishak (26:4) dan Yakub (28:14-15).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Yusuf mengomentari saudara-saudaranya, “Kalian menjual aku, tetapi Allah mengutus aku.” Maka dia sebenarnya merupakan berkat besar bagi bangsa Mesir. Bahkan Firaun mengetahui kalau Yusuf dipenuhi dengan Roh Allah (Kej. 41:38, TLB). Tetapi ini bukan sepenuhnya ketaatan misi yang disengaja seperti yang Allah inginkan. Contohnya, saudara-saudara Yusuf tidak memberi persembahan korban dan mengutus dia ke Mesir sebagai seorang misionaris! Allah sudah berada di dalam upaya misi entah mereka sudah atau belum, dan Ia memakai Yusuf untuk memberkati Mesir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Empat periode berikutnya, masing-masing kasarnya kira-kira 400 tahun, yaitu 2). Masa Penawanan, 3). Masa Hakim-hakim, 4). Masa Raja-raja dan 5). Masa Pembuangan ke Babilonia dan penyebaran (diaspora). Di sepanjang masa yang sulit ini, berkat yang dijanjikan dan misi yang diharapkan (memperluas pemerintahan Allah kepada segala bangsa di seluruh dunia) sama sekali tidak terlihat. Akibatnya, bila mana mungkin, Allah menggenapi kehendak-Nya melalui ketaatan secara sukarela dari umat-Nya, tetapi ketika harus, Dia menggenapi kehendak-Nya melalui cara paksa. Yusuf, Yunus, bangsa Israel secara keseluruhan, ketika ditawan, mewakili kategori misi penjangkauan secara terpaksa (involuntary) di mana Allah mendesak penyebaran berkat tersebut. Anak perempuan yang dibawa dalam penawanan ke rumah Naaman orang Siria mampu membagikan imannya. Naomi, yang “pergi” ke tempat yang jauh, membagikan imannya kepada anak-anaknya dan istri-istri mereka yang bukan Yahudi. Di pihak lain, Ruth, menantunya, Naaman orang Siria, dan Ratu Syeba semua “datang” secara sukarela, tertarik dengan hubungan berkat dari Allah kepada Israel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Perhatikan empat “mekanisme misi” berbeda yang berfungsi untuk memberkati semua suku bangsa yang lain: 1) pergi secara sukarela, 2) secara terpaksa pergi tanpa niat bermisi, 3) datang secara sukarela, dan 4) datang secara terpaksa (seperti orang bukan Yahudi yang dipaksa tinggal di Israel – 2 Raj. 17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita dapat melihat di setiap periode perhatian aktif Allah terhadap misi-Nya, dengan atau tanpa kerjasama penuh dari umat pilihan-Nya. Ketika Yesus datang, itu merupakan suatu “kunjungan” yang menuduh. Dia datang kepada milik-Nya, dan “tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh. 1:11). Dia diterima dengan baik di Nazaret sampai Dia mengatakan keinginan Allah untuk memberkati orang-orang bukan Yahudi. Pada waktu Dia mengatakan hal tersebut (Luk. 4:28) ledakan kemarahan sampai hendak membunuh-Nya mengkhianati fakta bahwa bangsa terpilih ini – dipilih untuk menerima dan menjadi perantara berkat tersebut (Kel. 19:5-6; Mzm. 67; Yes. 49:6) – telah jauh menyimpang. Bahkan ada beberapa “pelajar Alkitab” fanatik yang “mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mempertobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu” (Mat. 23:15). Tetapi penjangkauan demikian bukan untuk menjadi berkat bagi segala bangsa tetapi demi mempertahankan dan melindungi Israel. Dan mereka tidak selalu memastikan kalau para petobat mereka sudah “disunat hatinya” (Ul. 10:16; 30:6; Yer. 9:24-26; Rom. 2:29).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Jadi, Yesus tidak hanya datang untuk memberikan Amanat Agung tetapi juga dalam pengertian lain mengambilnya keluar. Cabang asli dipatahkan sementara cabang “dari luar” dicangkokkan (Rom. 11:13-24). Tetapi, meskipun bangsa pilihan yang harusnya melakukan misi ini enggan melakukannya – sama seperti bangsa-bangsa lainnya di kemudian hari – banyak kelompok suku bangsa yang diberkati karena kesetiaan dan kebenaran dari sebagian mereka. Kelompok-kelompok tersebut: orang Kanaan, Mesir, Filistin (dari budaya Minoan kuno), Hitit, Moab, Fenisia (Tirus dan Sidon), Asyur, Syeba (tanah ratu Syeba), Babilonia, Persia, Partia, Media, Elam dan orang Roma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Lima Periode Berikutnya dari Kisah Berusia 4.000 tahun ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Periode 2.000 tahun berikutnya adalah satu periode di mana Allah, melalui campur tangan Anak-Nya, memastikan agar bangsa-bangsa yang lain juga diberkati dan sama-sama dipanggil “untuk menjadi berkat bagi segala kaum di muka bumi.” Di semua situasi, “Kepada siapa diberi lebih, kepadanya akan dituntut lebih.” Di dalam periode ini, kita melihat “serangan balik” Kerajaan Allah dalam wilayah orang Armenia, Romawi, Celtic, Frank, Anglo, Saxon, Jerman, dan akhirnya juga perompak kafir jauh di utara yang disebut Viking. Orang-orang ini diserbu, ditaklukkan dan ditundukkan oleh kuasa Injil dan pada gilirannya diharapkan juga bisa membagikan “berkat” tersebut kepada suku bangsa lain (bukan dengan merampok mereka).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Tetapi dalam satu pengertian tertentu lima periode ini tidak begitu berbeda dari lima periode pertama. Bangsa-bangsa yang diberkati juga tidak begitu rindu membagikan berkat unit tersebut dan memperluas kerajaan yang baru ini. Suku Celtic merupakan bangsa yang paling aktif di awal millennium dan memberikan suatu respons misi yang istimewa. Kita akan melihat – seperti dalam Perjanjian Lama – pemberian berkat unik ini akan membawa tanggung jawab yang serius yang berbahaya jika tidak dipenuhi. Kita juga akan melihat berulang kali Allah menggunakan secara penuh keempat mekanisme misi-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di samping penjajahan berdarah  di masa kehadiran Kristus, Roma merupakan sebuah alat di tangan Allah untuk mempersiapkan dunia bagi kedatangan-Nya. Roma menguasai salah satu kerajaan terbesar di dunia yang pernah ada, memaksakan kedamaian Roma (“Pax Romana”) ke atas semua suku bangsa barbar. Selama berabad-abad kaisar Roma telah membangun sistem komunikasi yang luas, menggunakan 250.000 mil jalan darat yang melintasi seluruh kerajaan dan sebuah transmisi berita dan dokumen yang cepat seperti Pony Express di wilayah terluar Amerika pada waktu silam. Dalam penaklukannya, Roma mendapatkan setidaknya satu peradaban yang jauh lebih maju daripada mereka – Yunani. Pekerja seni dan guru yang sangat terdidik ditawan sebagai budak di seluruh kota besar dalam kerajaan, di mana mereka mengajar bahasa Yunani. Bahasa Yunani kemudian dimengerti dari Inggris ke India. Sama pentingnya bagi tesis kita adalah ketaatan dan kebenaran yang tidak terlihat namun ada di seluruh kerajaan – kehadiran orang Yahudi diaspora, lebih dihormati di wilayah penyebaran mereka ketimbang di tempat asal mereka! Para sarjana setuju bahwa jumlah mereka telah bertambah hingga 10 persen dari populasi Roma. Elemen yang kuat dalam kehadiran orang Yahudi ini – mereka yang “disunat hatinya” – memainkan peran besar dalam menarik banyak orang bukan Yahudi di sekitar sinagoge. Banyak orang bukan Yahudi ini, seperti rumah tangga Kornelius, menjadi pendengar dan pemuja Alkitab yang sungguh-sungguh – Perjanjian Baru menyebutnya “orang-orang yang beribadah” atau “orang yang takut akan Allah.” Hal ini membuat iman melampaui batasan etnis! Orang-orang yang takut akan Allah ini menjadi rel besi yang di atasnya gerakan Kristen diperluas. Gerakan ini pada dasarnya merupakan iman Yahudi dalam jubah bukan Yahudi, ini merupakan sesuatu yang – perhatikan karena ini penting – sulit dimengerti oleh orang Yahudi yang taat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Bagaimana lagi kitab-kitab Injil dan beberapa surat dari rasul Paulus bisa memperoleh dampak yang begitu luas di dalam begitu banyak kelompok etnis yang beragam dalam periode waktu yang begitu singkat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Berhenti dan renungkan: Yesus datang, hidup selama 33 tahun di bumi, mengonfrontasi bangsa-Nya yang seharusnya bermisi namun tidak bersemangat melakukannya, ditolak oleh banyak orang, disalibkan dan dikubur, bangkit kembali, dan sebelum kembali kepada Bapa-Nya menekankan kembali amanat yang telah berlangsung lama kepada semua yang mau berespons. Pada hari ini bahkan sejarawan yang paling agnostik terkagum-kagum melihat apa yang dimulai di sebuah kandang yang hina di Betlehem Palestina, tempat yang terbelakang dalam Kerajaan Romawi, dalam waktu kurang dari 300 tahun diberikan kekuasaan di istana Kaisar di Roma. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Ini sungguh merupakan kisah yang luar biasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tidak Ada Orang Kudus di Abad Pertengahan? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaiknya kita berhenti sebentar di sini. Jika Anda belum pernah mendengar kisah ini sebelumnya Anda mungkin dapat menghadapi masalah psikologis. Di kalangan gereja pada masa ini, kita telah melarikan diri, takut atau melupakan abad-abad pertengahan ini. Saya harap, semakin sedikit dari kita yang berpikir dalam istilah yang disebut teori “BOBO” – bahwa iman Kristen sepertinya “Ter-Tutup” (Blinked Out) setelah zaman para rasul dan “Ter-Buka” (Blinked On) kembali pada masa kini, atau pada masa “para nabi” modern muncul, apakah itu Luther, Calvin, Wesley, Joseph Smith, Ellen White atau John Wimber. Hasil dari pendekatan BOBO ini adalah Anda memiliki orang-orang kudus “awal” dan “orang-orang kudus “akhir”, tetapi tidak ada orang kudus di abad pertengahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Jadi, banyak kaum Injili sering kali tidak terlalu berminat dengan apa yang terjadi sebelum Reformasi Protestan. Mereka memiliki kesan yang kabur bahwa gereja murtad sebelum Luther dan Calvin, dan apakah memang ada Kekristenan sejati pada masa itu yang terdiri dari beberapa orang individu yang mengalami penganiayaan. Sebagai contoh, dalam buku yang berjilid banyak Twenty Centuries of Great Preaching, hanya setengah dari jilid pertama didedikasikan untuk membahas 15 abad pertama! Dalam Sekolah Minggu Injili, anak-anak kecil disibukkan dengan kisah karya Allah dari Kejadian sampai Wahyu, dari Adam sampai para rasul – dan penerbit buku Sekolah Minggu mungkin membanggakan diri tentang “kurikulum berbasis Alkitab” mereka. Tetapi ini artinya anak-anak ini tidak terekspos sama sekali mengenai hal-hal yang Allah buat dengan Alkitab antara masa para rasul dan para reformator, suatu periode yang memiliki bukti luar biasa akan kuasa unik dari Alkitab! Bagi banyak orang, sepertinya “tidak ada orang kudus di abad pertengahan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Dengan keterbatasan ruang saat ini, saya hanya bisa membahas kisah serangan balik Kerajaan Allah bagian dunia Barat saja – dan hanya garis besarnya saja. Akan sangat membantu jika kita mengetahui beragam wilayah budaya di mana invasi terjadi. Buku karya Kenneth Scott Latourette  History of Christianity memberikan detail yang luar biasa mengenai hal ini, buku ini membahas rentang waktu kisah ini melampaui zaman Alkitab. (Buku yang lebih bernilai dari buku apa pun, di luar Alkitab!) Perhatikan pola yang ditunjukkan dalam bagan di halaman 154. Istilah “kebangkitan” yang dipakai Latourette mirip dengan “renaisans” yang kita pakai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	&amp;lt;b&amp;gt;Dalam Periode I,&amp;lt;/b&amp;gt; Roma “dimenangkan” tetapi mereka tidak menjangkau orang-orang Celtic dan Goth dengan Injil. Mungkin sebagai hukumannya, orang Goth menyerang Roma dan seluruh wilayah barat (Latin) hingga kalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	&amp;lt;b&amp;gt;Dalam Periode II,&amp;lt;/b&amp;gt; Orang-orang Goth juga dimenangkan, dan mereka dan orang dari bangsa lain meskipun singkat mencapai sebuah Kerajaan Romawi “Kudus” yang baru. Tetapi kerajaan ini tidak secara efektif menjangkau lebih jauh ke utara dengan Injil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	&amp;lt;b&amp;gt;Dalam Periode III,&amp;lt;/b&amp;gt; sekali lagi, sepertinya sebagai hukuman, orang-orang Viking menyerang orang-orang barbar Celtic dan Gothic yang sudah dikristenkan ini. Akibatnya orang-orang Viking juga menjadi Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	&amp;lt;b&amp;gt;Dalam Periode IV,&amp;lt;/b&amp;gt; Eropa yang sekarang dipersatukan untuk pertama kalinya oleh iman Kristen, menjangkau orang-orang M dalam suatu usaha misi palsu yang dikenal dengan Perang Salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	&amp;lt;b&amp;gt;Dalam Periode V,&amp;lt;/b&amp;gt; Eropa sekarang menjangkau ke ujung bumi, tetapi tetap memiliki motivasi yang sangat bercampur, dibubuhi kepentingan komersial dan rohani yang mendatangkan kerusakan dan berkat. Namun, selama periode ini, seluruh dunia non-Barat tiba-tiba digerakkan dalam pertumbuhan seraya penguasa kolonial mengurangi perang dan penyakit secara drastis. Belum pernah terjadi sebelumnya ada tindakan yang begitu mempengaruhi banyak orang, meskipun juga belum pernah ada jurang pemisah yang demikian besar antara kedua belahan dunia. Apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun kemudian?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Akankah dunia non-Barat yang sudah semakin kuat akan menyerang Eropa dan Amerika sama seperti orang Goth menyerang Roma dan orang Viking meratakan Eropa? Akankah “Dunia Ketiga” menyerang ke dalam serangkaian serangan “barbar” yang baru? Akankah bangsa-bangsa yang tergabung dalam OPEC, atau orang Tiongkok berangsur-angsur memborong saham dan mengambil alih kita? Jelas, kita menghadapi reaksi dari kebangkitan dunia non-Barat yang tiba-tiba tidak dapat lagi kita kendalikan. Akan jadi apakah peran dari Injil? Bisakah kita mendapat pengertian dari siklus penjangkauan sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Periode I: Memenangkan Orang Romawi, 0-400 Masehi ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Mungkin kemenangan Kekristenan yang paling spektakuler dalam sejarah adalah mempertobatkan (atau “menaklukkan”) dari kerajaan Romawi dalam jangka waktu kira-kira 200 tahun. Ada banyak lagi yang perlu kita ketahui mengenai pertumbuhan Kekristenan di sepanjang periode ini, yang agak misterius, khususnya jika kita tidak mempertimbangkan lapisan bawah orang Yahudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untungnya, bagian awal dari kisah ini dihiasi dengan limpahan cahaya pencerahan dari surat-surat dalam Perjanjian Baru itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di dalam surat-surat tersebut kita melihat seorang Yahudi bernama Paulus dibesarkan dalam sebuah kota Yunani, berkomitmen terhadap kepemimpinan dari tradisi Yahudi pada masanya. Tiba-tiba dia diubahkan oleh Kristus dan secara berangsur-angsur mulai melihat bahwa esensi iman Yahudi yang digenapi dalam Kristus dapat beroperasi tanpa jubah Yahudi. Paulus menyadari bahwa sunat dalam hati dapat dibungkus di dalam bahasa dan budaya Yunani seperti halnya Semit! Seharusnya amat jelas bagi semua orang bahwa siapa pun dapat menjadi orang Kristen dan ditransformasi manusia batiniahnya oleh Kristus, entah dia orang Yahudi, Yunani, Barbar, Skitia, budak, orang merdeka, pria atau wanita. Orang Yunani tidak harus menjadi Yahudi – melakukan sunat secara fisik, mengambil alih kalender atau hari raya Yahudi bahkan melakukan kebiasaan puasa Yahudi – sama seperti seorang wanita diharuskan menjadi pria agar dapat diterima oleh Allah. Apa yang sejak dulu diharuskan adalah “ketaatan iman” (Rom. 1:5; 16:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Paulus mendasarkan pekerjaannya pada prinsip Alkitab yang radikal (tidak diterima oleh banyak orang Yahudi pada masanya) yaitu sunat hati yang diperhitungkan (Yer. 9), dan bahwa orang percaya baru dari budaya yang baru tidak diharuskan untuk berbicara bahasa, mengenakan pakaian, atau mengikuti adat kebiasaan dari gereja pengutus. Bagi orang Yunani ini berarti segala detail budaya dari hukum Yahudi bukan lagi suatu keharusan. Oleh karena itu, bagi orang-orang Yahudi, Paulus terus hidup sebagai seseorang “yang hidup di bawah hukum Musa,” tetapi bagi mereka yang tidak biasa dengan hukum Musa, dia memberitakan “hukum Kristus” dalam cara yang dapat dipenuhi secara dinamis dan autentik dalam lingkungan yang baru. Meskipun bagi sebagian orang Paulus terlihat “tanpa taurat,” dia melihat bahwa dirinya bukan tanpa taurat di hadapan Allah. Memang, sejauh berkaitan dengan tujuan dasar dari Hukum Musa, orang-orang percaya Yunani serta-merta mengembangkan fungsi yang sejajar dengan Hukum Musa dalam budaya mereka sendiri sementara sebagian besar dari mereka juga memegang versi Yunani dari apa yang sering disebut Perjanjian Lama. Lagi pula, Perjanjian Lama merupakan “Alkitab di masa gereja Kristen mula-mula” (juga bagi orang Yahudi), yang sejak awal membawa mereka percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita mungkin mendapat kesan bahwa kegiatan misi dalam periode ini memanfaatkan sangat sedikit upaya terorganisasi yang sengaja. Kesan tersebut mungkin diperoleh hanya karena strukturnya transparan: Paulus tampaknya bekerja di dalam struktur “tim misi” yang populer dipakai oleh orang Farisi – bahkan oleh Paulus sendiri ketika dia masih menjadi seorang Farisi! Jemaat Antiokhia yang mengutus Paulus pasti mengambil sebagian tanggung jawab. Namun, pada dasarnya, mereka “membiarkan dia pergi” ketimbang “mengutusnya untuk pergi.” Tim seperjalanannya memiliki otoritas penuh dari sebuah gereja lokal. Dia tidak mencari mandat dari Antiokhia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ada alasan yang sangat baik menganggap bahwa iman Kristen disebarkan ke banyak wilayah melalui mekanisme “pergi secara terpaksa” karena orang Kristen sering tersebar sebagai akibat penganiayaan. Kita tahu bahwa orang Kristen Arian yang melarikan diri banyak kaitannya dengan pertobatan dari orang-orang Goth. Kita memiliki kisah mengenai Ulfilas dan Patrick yang upaya misi mereka dimulai karena peristiwa penangkapan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Lagi pula, masuk akal untuk menganggap bahwa Kekristenan mengikuti rute perdagangan Kerajaan Romawi. Kita tahu bahwa ada hubungan yang dekat dan korespondensi di antara orang Kristen di Galia dan Asia Kecil. Namun kita harus menghadapi fakta bahwa orang Kristen mula-mula di Kerajaan Romawi (dan orang Kristen pada masa kini!) jarang mau dan mampu mengambil langkah-langkah praktis secara sadar untuk memenuhi Amanat Agung. Akan tetapi, melihat hasil yang luar biasa pada masa awal ini, kita semakin kagum melihat kuasa  yang sudah ada di dalam Injil itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Satu kemungkinan yang menarik dari penyaluran Injil secara alami di dalam suatu unit sosial yang ada adalah kasus yang terjadi pada orang-orang Celtic (rumpun suku Irlandia, Skotlandia, Wales, dan Britania). Penelitian sejarah menjelaskan bagi kita bahwa propinsi Galatia di Asia Kecil disebut seperti itu karena propinsi tersebut ditempati oleh Galatoi dari Eropa Barat (yang sampai abad keempat masih berbicara menggunakan bahasa asli Celtic mereka dan juga bahasa Yunani yang merupakan bagian dari Kerajaan Romawi). Entahkah jemaat Galatia dari Paulus hanyalah para pedagang Yahudi yang tinggal di propinsi Galatia, atau sejak awal merupakan orang Galatoi Celtic yang tertarik ke sinagoge sebagai “orang-orang yang takut akan Allah,” kita mencatat, apa pun itu, surat Paulus kepada jemaat Galatia khususnya sangat prihatin terhadap orang-orang yang memaksakan kepada pembaca suratnya (Galatia) kebiasaan lahiriah semata dari budaya Yahudi, dan mencampurkan kebiasaan itu dengan iman alkitabiah yang esensial yang telah diberitakan kepada orang Yahudi dan Yunani (Rom. 1:16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sebuah perkara berkenaan dengan kepentingan misi yang kuat adalah fakta bahwa pemberitaan Paulus di Galatia telah masuk ke dalam urat nadi budaya kemanusiaan Celtic yang bisa saja segera mencakup hubungan teman-teman, keluarga dan sejawat dagang menjangkau suatu wilayah yang luas di Barat. Jadi, upaya Paulus di Galatia memberikan kita satu petunjuk tentang masuknya Injil pada masa awal ke wilayah Celtic di Eropa, yang mencakup suatu kelompok wilayah yang membentang dari Eropa Selatan sampai Galicia di Spanyol, Brittany di Prancis dan hingga ke belahan barat dan utara Kepulauan Inggris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ada masa di mana tidak hanya ratusan ribu warga Romawi dan Yunani menjadi Kristen, tetapi orang-orang yang berbahasa Celtic dan suku bangsa Goth juga percaya dan mengembangkan bentuk iman alkitabiah mereka sendiri, semuanya di dalam dan di luar batasan dari Kerajaan Romawi. Sangat mungkin pekerjaan misi di balik semua hasil tersebut terjadi sebagian besar melalui proses yang tidak direncanakan yang melibatkan orang Kristen dari bagian timur Kerajaan Romawi. Apa pun kasusnya, pencapaian ini tidak bisa dianggap berasal dari insiatif misi yang direncanakan oleh orang-orang Romawi yang berbahasa Latin di Barat. Inilah poin yang ingin kami buat dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Satu buktinya adalah fakta bahwa rumah basis misi dari orang Irlandia yang paling awal (dibedakan dari tipe Latin-Romawi oleh kapel utama) mengikuti rencana dasar yang berasal dari pusat Kekristenan di Mesir. Dan bahasa Yunani, bukan Latin, yang adalah bahasa dari gereja-gereja mula-mula di Galia. Bahkan usaha misi pertama yang terorganisasi dari John Cassian dan Martin of Tours, contohnya, berasal dari Timur dengan memakai struktur komune (paguyuban) yang dimulai dari Siria dan Mesir. Untungnya, usaha terorganisasi ini disertai penekanan yang kuat akan kemampuan baca dan tulis (literasi) dan mempelajari serta menyalin manuskrip alkitabiah dan literatur klasik Yunani kuno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sama seperti para pemimpin kafir melihat, dampak menyeluruh dari bentuk baru dan yang lebih bisa diterima akan iman alkitabiah ini bertumbuh dengan sangat pesat pada tahun 300. Kita tidak tahu dengan cukup yakin alasan pribadi Konstantin pada tahun 312 menyatakan dirinya Kristen. Kita tahu bahwa ibunya di Asia Kecil adalah orang Kristen, dan ayahnya sebagai salah satu pemimpin di Galia dan Britania tidak memaksakan (dalam wilayahnya) keputusan Diocletian yang memerintahkan untuk menganiaya orang Kristen. Namun, pada waktu itu, faktor sejarah yang tidak bisa dilewatkan adalah sudah ada cukup banyak orang Kristen di dalam Kerajaan Romawi untuk membuat suatu kebijakan perubahan resmi terhadap Kekristenan, bukan hanya yang secara layak dapat dikerjakan, melainkan juga bijaksana secara politis. Saya mengingat sebuah kuliah yang dibawakan oleh almarhum Profesor Lynn White, Jr. dari UCLA, salah satu sejarawan abad pertengahan yang terkemuka. Beliau mengatakan bahwa meskipun Konstantin tidak menjadi orang Kristen, kerajaan tersebut tidak dapat lagi mengatasi Kekristenan satu dua dekade kemudian! Perkembangan Kerajaan Romawi yang begitu lama telah mengakhiri otonomi lokal dari kota-negara dan menciptakan suatu kebutuhan yang meluas akan rasa memiliki – beliau menyebutnya krisis identitas. Pada masa itu Kekristenan merupakan satu-satunya agama yang tidak memiliki nasionalisme pada akarnya, sebagian karena Kekristenan ditolak oleh orang Yahudi! Agama Kristen juga bukan agama dari salah satu suku bangsa. Mengutip perkataan White, agama Kristen telah mengembangkan “kombinasi yang tidak terkalahkan.” Namun, kebajikan ini menjadi berkat yang tercampur ketika Kekristenan menjadi satu dengan Kerajaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Jadi, kekuatan gerakan itu sendirilah yang menjelaskan mengapa keputusan penting dari kekaisaran untuk menerima Kekristenan secara hampir tak terelakkan memastikannya menjadi (lebih kurang 50 tahun kemudian) agama resmi kerajaan Romawi. Tidak lama setelah tirai kebangkitan Kekristenan diterima secara resmi sebagai agama, kepala komunitas Kristen di Roma ternyata adalah orang yang paling kuat dan terpercaya di sana. Itulah mengapa Konstantin, ketika dia memindahkan kursi pemerintahan di Konstantinopel, meninggalkan istananya (Lateran Palace yang terkenal) kepada komunitas Kristen sebagai “Gedung Putih-”nya Roma. Apa pun kasusnya, catatan sejarah menyatakan bahwa pada tahun 375, Kekristenan telah menjadi agama resmi Romawi. Jika agama Kristen hanyalah pemujaan berbasis etnis, Kekristenan bahkan tidak mungkin menjadi kandidat sebagai agama resmi Kerajaan Romawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ironisnya, ketika Kekristenan disamakan dengan tradisi budaya dan politik Romawi, ia cenderung secara otomatis mengasingkan semua yang anti-Romawi. Ini menciptakan kecurigaan dan kemudian menghasilkan pembantaian menyeluruh terhadap orang Kristen di luar perbatasan Kerajaan Roma di Arab dan Persia. (Penindasan ini berhenti setelah 3 tahun, ketika kaisar Romawi [Julian the Apostate] menentang Kekristenan dan berusaha kembali kepada dewa-dewa kafir!) Sementara itu, bahkan dalam kasus populasi yang anti Romawi di dalam kerajaan, seperti di Afrika Utara, dasar telah diletakkan bagi orang-orang yang kemudian akan menjadi M sebagai alternatif. Di satu sisi, M adalah sebuah pemisahan diri secara budaya dari Kekristenan sama seperti Kekristenan dari Yahudi membentuk iman alkitabiah. Mirip dengan itu, “M kulit hitam” Amerika hari ini dengan sengaja menolak Kekristenan sebagai agama orang “kulit putih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Jadi, kemenangan politik dari apa yang akhirnya dikenal sebagai Kekristenan pada kenyataannya merupakan berkat yang tercampur. Iman alkitabiah dapat memakai pakaian selain Yahudi, Kekristenan sekarang berpakaian jubah Romawi. Namun, jika pakaian-pakaian baru ini merupakan keharusan, agama Kristen tidak mungkin diharapkan menyebar melampaui batasan politik dari Kerajaan Romawi. Hal ini tidak terjadi, kecuali di barat. Mengapa bisa demikian?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika Kekristenan menjadi agama resmi Kerajaan Romawi, ia kurang diperlengkapi dengan bentuknya yang sekarang untuk menyelesaikan Amanat Agung ke populasi lainnya yang anti Romawi. Seperti yang kita duga, hanya Kekristenan dari variasi bidat yang diterima oleh suku-suku di Jerman ketika Roma masih kuat secara militer. Tetapi ketika orang-orang di suku tersebut menemukan kemungkinan untuk menyerang dan menaklukkan setengah wilayah barat Kerajaan Romawi, iman Kristen yang Universal dan Orthodoks tidak lagi menjadi ancaman. Orang-orang Goth dan lainnya sekarang dapat berusaha memiliki prestise bahasa dan budaya Romawi tanpa dikuasai oleh tentara Romawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, perhatikan, konsekuensi dari ancaman sebagian orang Goth barbar yang menjadi Kristen terhadap Roma: sebagai pertahanan, orang Romawi menarik pasukan mereka keluar dari Inggris. Hasilnya, tiga abad kemampuan baca tulis Romawi di Inggris selatan punah dengan adanya penyerangan baru orang barbar – Anglo, Saxon dan Frisian yang, dibandingkan dengan Goth, adalah orang-orang yang sepenuhnya kafir, kejam dan merusak. Apa yang akan terjadi sekarang? Jadi mulailah bagian “Pertama” dari dua Masa Kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Periode II: Memenangkan Orang-orang Barbar (400-800) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika suku yang lebih awal (Goth) dikristenkan ke dalam suatu bentuk iman Arian yang antagonistik, mereka menjadi ancaman militer yang semakin besar bagi Roma. Hal yang membuat ancaman ini benar-benar mengancam adalah suku Hun yang menyerang Eropa dari Asia Tengah. Ini mendesak orang-orang Visigoth yang panik (dan kemudian Ostrogoth dan Vandals) ke dalam Kerajaan. Di dalam pergolakan dan kebingungan, penyerangan mendadak suku ini secara tidak sengaja merusak seluruh jaringan pemerintahan sipil di Barat (pada masa kini Italia, Spanyol, dan Afrika Utara). Di kemudian hari mereka berusaha secara serius untuk membangunnya kembali. (Bukankah ini seperti kekacauan di masa sesudah kolonialisme di Afrika setelah Perang Dunia Kedua?) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Satu-satunya alasan kota Roma sendiri tidak dihancurkan secara fisik oleh penyerangan yang pada akhirnya tiba di gerbang kota Roma pada tahun 410 adalah orang-orang barbar Goth ini. Mereka sebenarnya sangat menghormati kehidupan dan harta milik, terutama gereja-gereja. Merupakan suatu keuntungan besar bagi warga Romawi bahwa pada masa awal usaha misi secara informal – di mana orang Kristen Latin di Roma tidak bisa mengatakan itu usaha mereka – telah menjadikan suku-suku bangsa ini setidaknya masuk kepada iman Kristen yang tidak mendalam. Bahkan orang-orang Romawi sekuler mengamati betapa beruntungnya mereka bahwa penyerangnya memiliki standar moralitas Kristen yang tinggi. (Tidak demikian dengan orang-orang Anglo dan Saxon yang menyerang Inggris).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita tergoda oleh refleksi bahwa hal ini banyak dihasilkan melalui penyebaran Injil yang tidak resmi dan hampir secara tidak sadar – yaitu, berita dan otoritas berkat diperluas ke seluruh bangsa bukan Yahudi. Betapa jauh lebih baik jika orang-orang Romawi – selama jangka waktu ratusan tahun yang pendek dengan kemajuan resmi di masa puncak mereka (310-410) sebelum orang Goth pertama kali menyerang kota Roma – memberikan tenaga dan upaya misi yang kuat? Bahkan Kekristenan yang bersifat bidat mencegah orang-orang barbar ini untuk merusak total peradaban seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang Viking pada periode ketiga. Mungkin sedikit usaha misi lagi dapat mencegah kehancuran total struktur pemerintahan Kerajaan Romawi di Barat. Sebagai contoh, pada masa kini, kemampuan negara-negara Afrika pasca kolonisasi untuk memelihara pemerintahan yang stabil sebagian besar tergantung pada tingkatan kristenisasi mereka (baik pengetahuan dan moral).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Dalam kasus apa pun, kita menghadapi fenomena di mana orang-orang dari suku yang barbar yang sebagian telah dikristenkan menjadi berani dan mampu menyerang kerajaan yang secara resmi adalah kerajaan Kristen yang telah gagal secara efektif untuk menjangkau mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entahkah orang Romawi tahu atau tidak hal ini akan terjadi (karena gagal menjangkau mereka), dan entahkah orang-orang barbar ini menjadi berani dan tidak terlalu brutal dalam penyerangan mereka karena pengaruh awal dari Kekristenan, fakta yang tak terbantahkan adalah meskipun Romawi kehilangan setengah kerajaannya di barat, dunia barbar, dalam makna yang sangat dramatis, memperoleh iman Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Hasil langsungnya: di dalam kota Roma terdapat dua “denominasi,” yang pertama Arian dan yang lainnya Athanasian. Di sana juga ada “gereja” Celtic, yang lebih merupakan rumah basis kelompok misionaris ketimbang suatu denominasi yang terbentuk dari gereja-gereja lokal. Kaum Benediktin kurang tampak seperti gereja. Mereka datang kemudian dan bersaing dengan orang Celtic dalam membangun rumah-rumah basis misi di seluruh Eropa. Pada saat orang Viking menyerang, lebih dari 1.000 rumah misi seperti itu telah tersebar di seluruh Eropa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Rumah-rumah Basis Misi =====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang Protestan, dan bahkan mungkin orang Katolik modern, harus berhenti sejenak pada fenomena ini. Masalah kita dalam mengerti alat penginjilan yang aneh ini (dan banyak disalahmengerti) sebagian besarnya bukan karena ketidaktahuan kita tentang apa yang orang-orang ini lakukan, tetapi di dalam prasangka kita yang berkembang karena para biarawan yang bermoral rusak yang hidup hampir seribu tahun setelah mereka. Sangat tidak adil jika kita membiarkan penilaian kita terhadap pekerjaan para penginjil keliling seperti Columba atau Boniface dipengaruhi oleh stagnasi para biarawan Augustinian yang kaya pada masa Luther – meskipun kita jelas memaafkan Luther karena memiliki pikiran seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Tidak diragukan “Pengikut Yesus” di periode kedua ini, entah mereka Pengelana Celtic atau yang mirip dengan mereka dalam komune (paguyuban) Benediktin, menjunjung tinggi Alkitab dengan hormat. Mereka menyanyi dari Kitab Mazmur setiap minggu sebagai disiplin rutin. Merekalah yang utamanya mampu untuk membagikan kuasa dan kemuliaan Kerajaan Allah kepada kaum barbar Anglo-Saxon dan Goth.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Memang benar bahwa banyak kebiasaan aneh (bahkan janggal dan kafir) tercampur sebagai elemen sekunder dalam berbagai bentuk Kekristenan yang aktif di sepanjang periode Kristenisasi Eropa. Benturan dan persaingan antara berbagai bentuk Kekristenan Romawi Barat dan Celtic (utamanya berasal dari Timur) sangat mungkin dihasilkan dari pengembangan elemen-elemen alkitabiah yang umum dalam iman mereka. Tetapi kita juga perlu mengingat kekacauan yang disebabkan oleh penyerangan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Masuknya Ordo =====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keadaan di masa itu, mirip dengan keadaan kacau di berbagai sudut dunia pada masa kini, struktur yang paling bertahan adalah ordo – persekutuan yang paling disiplin dan paling erat. Biara-biaranya memenuhi daratan Eropa. Lebih jauh kita harus memperhatikan bahwa komunitas Kristen yang baru ini bukan saja merupakan sumber kerohanian dan kesarjanaan di sepanjang Abad Pertengahan, tetapi mereka juga melestarikan berbagai teknologi industri Romawi – penyamakan, pengecatan, perajutan, peleburan logam, keahlian penyusunan batu, pembangunan jembatan, dll. Kontribusi sipil, kedermawanan dan keilmuan mereka secara umum kebanyakan disalahmengerti – terutama oleh kaum Protestan yang telah mengembangkan gambaran yang terlalu disederhanakan dan tidak menyenangkan mengenai “para biarawan.” Mungkin pencapaian terbesar dari komunitas Kristen yang disiplin ini adalah fakta bahwa hampir seluruh pengetahuan kita mengenai dunia Romawi berasal dari perpustakaan mereka, yang kesaksian bisunya menunjukkan penghargaan mereka, bahkan sebagai orang Kristen, terhadap para penulis “kafir” di zaman kuno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Karena itu, di zaman kita yang sekuler ini, sangat memalukan melihat bahwa jika bukan karena orang-orang Kristen di ladang misi yang sangat terdidik yang menyimpan dan menyalin manuskrip-manuskrip (tidak hanya Alkitab tetapi juga tulisan-tulisan klasik Kristen dan non-Kristen), kita tidak akan tahu banyak tentang Kerajaan Romawi pada hari ini sama seperti kita mengetahui kerajaan Maya dan Inca, atau banyak kerajaan lain yang sudah lama punah. Banyak kaum Injili yang akan terguncang membaca tulisan seorang profesor di Wheaton yang menulis satu bab yang mengapresiasi struktur ordo yang sangat disiplin ini, judulnya, “The Monastic Rescue of the Church.” Satu kalimat mengatakan: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebangkitan monastisisme, setelah amanat Kristus kepada para murid-Nya, adalah peristiwa institusional yang paling penting – dan dalam banyak hal paling membawa keuntungan - dalam sejarah Kekristenan (hlm. 84).1&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Menariknya, frasa Dunia Ketiga berasal dari masa itu ketika Yunani dan Latin menjadi dua dunia pertama dan orang-orang barbar yang tinggal di wilayah utara adalah Dunia Ketiga. Orang-orang barbar di Eropa dimenangkan oleh kesaksian dan kerja keras orang-orang Celtic dan Anglo-Saxon yang telah bertobat – “para misionaris dari Dunia Ketiga” – ketimbang upaya dari para misionaris yang diutus dari Italia atau Galia. Fakta ini sangat menentukan atas pergeseran kekuasaan yang kelihatannya permanen di Eropa Barat dari Mediterania ke Eropa Utara. Bahkan pada tahun 596, ketika misionaris Roma pertama pergi ke utara (tanpa keberanian), dia tidak sengaja bertemu dengan misionaris Irlandia yang sangat berani dan telah menjelajah tempat yang luas, Columba, salah satu pengelana Celtic terpelajar yang menjelajah sampai ke Roma dan telah menjelajah lebih jauh dari tempat tinggalnya dibandingkan perjalanan yang direncanakan Augustinus dari tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kita tidak heran kalau Konstantinopel dianggap sebagai “Roma Kedua” oleh mereka yang tinggal di Timur, sama juga dengan Aachen (Charlemagne di Prancis) dan Moskow yang kemudian bersaing untuk mendapat pengakuan sebagai Roma yang baru oleh keturunan suku Frank dan Slav yang baru dikristenkan. Baik Roma yang asli maupun semenanjung Italia sebagai wilayah tidak pernah lagi memiliki signifikansi secara politik seperti kota-kota utama dari negara-negara yang baru di kemudian hari – Spanyol, Prancis, Jerman, dan Inggris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===== Masuknya Charlemagne =====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Di akhir periode tahun 400-800, seperti di akhir dari masing-masing periode ini, terjadi kemajuan Kekristenan di dalam wadah budaya baru. Munculnya orang kuat seperti Charlemagne memfasilitasi komunikasi di seluruh Eropa Barat sampai pada tingkatan yang belum pernah terjadi selama 300 tahun. Di bawah dukungannya serangkaian masalah – sosial, teologis, politis – dengan baik dipelajari kembali dalam terang Alkitab dan tulisan-tulisan para pemimpin Kristen awal selama periode Romawi. Charlemagne bisa dikatakan Konstantin kedua, dan pengaruhnya tidak tertandingi di Eropa Barat selama setengah milenium.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Tetapi Charlemagne lebih Kristen daripada Konstantin dan jauh lebih rajin mendukung kegiatan Kristen. Seperti Konstantin, keputusan resminya tentang Kekristenan menghasilkan banyak orang Kristen yang sekadar nama. Tidak diragukan bahwa misionaris besar Boniface dibantai oleh orang Saxon karena pemimpinnya Charlemagne (yang keputusan militernya sangat tidak disetujui oleh Boniface) telah dengan kejam menindas orang-orang Saxon dalam banyak peristiwa. Jadi, sebagaimana masa lalu kita, kekuatan politik dari kekuasaan kolonial tidak membuka jalan bagi Kekristenan namun membuat orang menentang iman Kristen. Mengenai para misionaris, adalah fakta bahwa pusat pembelajaran utama yang dibuat oleh Charlemagne adalah tiruan dan penyebaran dari rumah basis misi yang baru dibentuk di pedalaman wilayah Jerman, tempat misi itu sendiri merupakan pos misi terluar hasil pekerjaan para misionaris Inggris dan Celtic yang berasal dari “pusat-pusat pengutusan” jauh di barat di pulau Iona dan Lindisfarne, Inggris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Memang, usaha serius pertama seperti pendidikan umum dimulai oleh sang pemimpin Charlemagne ini atas saran dan dorongan para misionaris Anglo-Celtic dan para sarjana dari Inggris seperti Alcuin. Proyeknya pada akhirnya membutuhkan pertolongan dari ribuan orang Kristen terpelajar dari Inggris dan Irlandia sampai kepada sekolah-sekolah pria yang didirikan di Eropa. Sulit dipercaya, tetapi guru-guru bahasa Latin Irlandia yang dulunya “barbar” (tidak pernah berbahasa Irlandia) pada akhirnya diperlukan untuk mengajar bahasa Latin di Roma. Ini menunjukkan betapa luasnya serangan suku barbar telah merusak peradaban Kerajaan Romawi. Realitas ini menggarisbawahi buku Thomas Cahill, How the Irish Saved Civilization.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Orang-orang Kristen Celtic dan orang-orang Anglo-Saxon dan Eropa yang mereka pertobatkan sangat menghargai Alkitab. Karya seni tertinggi di sepanjang abad-abad “gelap” ini adalah manuskrip-manuskrip yang “diiluminasikan” secara luar biasa, dan ornamen-ornamen dalam gedung gereja yang sangat menonjol unsur Alkitabnya, suatu saksi bisu bagi Alkitab sebagai sumber utama inspirasi mereka. Manuskrip-manuskrip para penulis klasik non Kristen, meskipun dipelihara dan disalin, tidak dicerahkan. Melalui malam  panjang kehancuran progresif bagian Barat dari Kerajaan Romawi, ketika migrasi kesukuan mengurangi hampir seluruh kehidupan di Barat ke tingkatan kesukuan mereka, dua pemikiran yang muncul kembali adalah harapan untuk membangun kejayaan yang pernah Roma capai dahulu, dan harapan membuat segala sesuatu tunduk bagi Kemuliaan Allah. Bisa dikatakan puncak dari semua ini, adalah ketika dua harapan tersebut hampir dicapai, selama karier Chalemagne yang panjang dan aktif terutama pada tahun 800. Seperti yang dikatakan oleh seorang sarjana,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sejarah panjang Eropa, dari kejatuhan Kerajaan Roma sampai berseminya Renaisans hampir seribu tahun kemudian, Charlemagne adalah satu-satunya kehadiran yang berpengaruh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Tidak heran para sarjana menyebut periode kekuasaan Charlemagne sebagai Renaisans Carolingian, dan dengan demikian menggantikan secara lebih tepat konsep periode  tunggal “masa kegelapan” yang panjang dengan perspektif yang lebih tepat, yaitu Masa Kegelapan Pertama dalam periode ini, dan Masa Kegelapan Kedua dalam periode berikutnya, di mana “Renaisans Carolingian” terletak di tengah-tengahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sayangnya, kerajaan yang dibangun kembali (kemudian disebut Kerajaan Roma yang Kudus) tidak mampu menemukan kekhasan Charlemagne dalam penggantinya; bahkan bahaya semakin jelas, ancaman baru sekarang muncul dari luar. Charlemagne sangat ingin mengkristenkan bangsanya sendiri, bangsa Jerman. Dia memberikan kepemimpinan yang bijak, bahkan rohani dalam banyak hal, tetapi tidak mendukung misi penjangkauan yang berani ke orang-orang Skandinavia jauh ke utara. Usaha misi yang dimulai oleh anaknya sudah terlambat. Fakta ini sangat berkontribusi pada keruntuhan kerajaannya, seperti yang akan kita lihat selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Periode III: Memenangkan Orang-orang Viking (800-1200) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru saja konsolidasi di Eropa Barat tercapai di bawah pemerintahan Charlemagne, telah muncul suatu ancaman baru terhadap kedamaian dan kemakmuran. Ancaman baru ini – orang-orang Viking – akan menciptakan suatu periode kedua yang lumayan gelap yang berlangsung kira-kira 250 tahun. Orang-orang brutal dari utara ini belum secara efektif diinjili. Sementara suku penyerang Romawi yang menciptakan Masa Kegelapan Pertama adalah orang-orang dari hutan, mereka sebagian besar adalah orang Kristen Arian nominal. Sebaliknya, orang-orang Viking belum beradab atau sedikit pun belum Kristen. Ada perbedaan yang lain lagi: orang-orang Viking adalah orang laut. Ini berarti pulau utama bagi tempat pelatihan misionaris, seperti Iona, atau lepas pantai yang menjorok ke laut di Lindisfarne (terhubung ke daratan hanya ketika air laut surut) meskipun aman dari serangan darat merupakan tempat yang rawan terhadap serangan dari laut. Di dalam periode baru ini kedua pusat misi ini dihancurkan berkali-kali, penghuninya dibantai atau dijual sebagai budak. Kelihatannya orang-orang Kristen di kerajaan Charlemagne jelas akan jauh lebih baik jika orang-orang Viking setidaknya menghargai iman Kristen seperti orang-orang barbar sebelumnya ketika mereka menghancurkan Roma. Sangat berlawanan dengan orang-orang Visigoth dan Vandal yang tidak menghancurkan gereja-gereja, orang-orang Viking kelihatannya sangat tertarik pada pusat-pusat biara tempat belajar dan ibadah Kristen. Mereka sangat suka menghancurkan gereja, membunuh manusia dengan pedang di dalam gereja, dan menjual para biarawan menjadi budak. Orang-orang yang biadab ini bahkan menjual anak-anak perempuan yang melawan dari tetangga Viking mereka ke Afrika Utara untuk menjadi budak. Kalimat yang ditulis pada masa itu memberi kita gambaran tentang kebrutalan mereka dalam wilayah “Kristen” di Eropa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang utara ini tidak berhenti membantai dan menawan orang Kristen, menghancurkan gereja dan membakar kota. Di mana pun, bergelimpangan mayat-mayat – pastor dan orang biasa, bangsawan, wanita dan anak-anak. Tidak ada jalan atau tempat yang tidak ada mayatnya. Kami hidup dalam tekanan dan kesusahan melihat pemandangan kehancuran orang Kristen ini.2 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak heran buku doa Anglikan berisi doa, “Dari kekejaman orang Utara, lepaskanlah kami, ya Tuhan.” Sekali lagi, ketika orang Kristen tidak menjangkau mereka, orang-orang kafir akan menghancurkan apa yang orang Kristen miliki. Dan sekali lagi, kekuatan fenomenal Kekristenan menunjukkan dirinya sendiri: penakluk menjadi takluk melalui iman tawanan mereka. Biasanya melalui para biarawan yang dijual sebagai budak, atau wanita Kristen yang dipaksa menjadi istri dan simpanan orang Viking, mereka memenangkan orang-orang barbar dari utara ini. Di dalam pemeliharaan Allah, Dia mengerjakan penebusan di tengah tragedi yang memilukan akibat penyerangan baru dari kekejaman dan kejahatan orang-orang barbar terhadap umat yang Allah kasihi. Selain itu, Dia menyerahkan Anak-Nya sendiri untuk menyelamatkan kita! Jadi, apa yang Setan maksudkan untuk kejahatan, Allah gunakan bagi kebaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam ratusan tahun sebelumnya, para sarjana Charlemagne telah mengumpulkan dengan saksama manuskrip-manuskrip masa lalu. Sekarang sebagian besar manuskrip tersebut telah dibakar oleh orang Viking. Karena begitu banyak salinan telah dibuat dan tersebar secara luas, buah karya dari kebangunan literatur Carolingian terselamatkan. Para sarjana dan misionaris mengalir dalam damai dari Irlandia ke Inggris dan ke Eropa, bahkan di luar batas dari kerajaan Charlemagne. Menerima dampak dari penyerangan baru yang kejam dari utara, ledakan semangat yang begitu besar yang menumpahkan semangat penginjilan selama tiga abad menjadi dingin dan hampir punah. Para pejuang Viking awalnya berbasis di Irlandia kemudian mengikuti jalur pengelana Irlandia mula-mula menyeberang ke Inggris dan ke Eropa, tetapi kali ini membawa kehancuran bukannya hidup baru dan harapan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa berkat yang terselubung dalam peristiwa mengerikan ini. Alfred Agung, seorang pemimpin suku (“raja”) Wessex, berhasil memimpin perlawanan gerilya, dan dia peduli tentang kekalahan fisik dan rohani. Sebagai keadaan darurat, dia meninggalkan ide untuk mempertahankan bahasa Latin sebagai pola umum dalam ibadah dan memulai perpustakaan Kristen di dalam daerah lokal – Anglo-Saxon. Ini merupakan keputusan dengan kepentingan monumental yang mungkin akan tertunda beberapa abad seandainya tragedi kedatangan orang Viking ini tidak menyediakan kebutuhan yang merupakan awal dari penemuan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, seperti kata Christopher Dawson, kehancuran yang dahsyat di Inggris dan daratan Eropa bukan “kemenangan orang kafir.” “Orang-orang utara” yang mendarat di daratan Eropa di bawah pimpinan Rollo akhirnya menjadi “orang-orang Normandia” yang dikristenkan. Orang-orang Denmark yang merebut wilayah luas di Inggris tengah (bersama dengan penyerang dari Norwegia yang menempatkan orang-orang mereka di banyak tempat lain di Inggris dan Irlandia) tidak lama kemudian juga menjadi orang Kristen sebagai akibatnya. Injil terlalu kuat. Budaya Kristen menyebar kembali masuk ke Skandinavia. Ini sebagian besar berpusat di Inggris di mana komunitas biara pertama dan para uskup misi mula-mula berasal. Apa yang hilang di Inggris, diperoleh di Skandinavia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita juga harus mengakui bahwa orang-orang Viking tidak akan tertarik entah pada gereja atau biara-biara seandainya pusat-pusat kesalehan Kristen tersebut sebagian besar tidak jatuh dalam kemewahan. Pergantian dari pola monastisisme Irlandia ke Benediktin merupakan suatu perkembangan dalam banyak hal, tetapi pergantian ini mengizinkan kemungkinan yang lebih besar bagi perkembangan kekayaan dan kemewahan yang tidak Kristen, yang menarik perhatian orang-orang Utara yang tamak. Jadi, akibat dari penyerangan adalah secara tidak langsung membersihkan dan memurnikan gerakan Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan sebelum orang-orang Viking muncul, Benedict dari Aniane mendorong suatu gerakan reformasi di sana sini. Pada tahun 910 di Cluny, gerakan tersebut mengalami langkah maju yang baru dan penting. Di antara berbagai perubahan, otoritas pusat biara dijauhkan dari politik lokal, dan untuk pertama kali seluruh jaringan rumah “anak” yang dibangun terhubung dengan satu rumah “ibu” yang kuat secara rohani. Kebangkitan yang terjadi di Cluny menghasilkan suatu sikap reformasi yang baru terhadap masyarakat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Roma, uskup terbesar di milenium pertama, Gregory I, adalah hasil dari komunitas Benediktin. Demikian juga, awal milenium kedua, Hildebrand adalah hasil dari reformasi Cluny. Penerusnya dalam reformasi sangat dikuatkan oleh kebangkitan Cistercian, yang memajukan gerakan reformasi ini lebih jauh lagi. Bekerja di belakang layar selama bertahun-tahun untuk reformasi di seluruh gereja, Hildebrand menjadi Paus Gregory VII dalam periode yang relatif singkat. Semangat reformasinya meletakan dasar bagi Paus Innocent III, yang memiliki kuasa yang lebih besar, dan melihat semua hal, kekuasaan untuk kebaikan yang lebih besar dari Paus sebelum dan sesudahnya. Gregory VII membuat langkah yang menentukan untuk mengontrol gereja dari kekuasaan sekuler melalui jawaban terhadap pertanyaan “kedudukan orang awam.” Dialah yang mengizinkan Henry IV untuk menunggu selama tiga hari di tengah salju di Canossa. Innocent III tidak hanya meneruskan reformasi Gregory, tetapi dia memiliki kekhasan sebagai Paus yang mengeluarkan kewenangan bagi serangkaian ordo misi penjelajah yang baru – para Friar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merangkum apa yang telah kita baca, periode pertama kita (0-400) berakhir dengan kehancuran Kerajaan Romawi yang sudah Kristen dan seorang kaisar Kristen, Konstantin. Periode kedua kita (400-800) diakhiri dengan rekonstitusi kerajaan itu di bawah Charlemagne, seorang barbar yang dikristenkan. (Dapatkan Anda membayangkan seorang kaisar yang memiliki kebiasaan biarawan?) Periode ketiga kita (800-1200) berakhir dengan Paus Innocent III sebagai orang terkuat di Eropa, yang didukung oleh Cluny, Cistercian dan gerakan-gerakan rohani sejenis, semuanya disebut Reformasi Gregorian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Pemandangan ini sekarang sudah menjalar ke Eropa di mana tidak ada penguasa sekuler mana pun yang dapat bertahan tanpa menghormati para pemimpin dari gerakan Kristen ini. Ini merupakan periode di mana orang-orang Kristen di Eropa tidak menjangkau melalui misi, tetapi mereka setidaknya, dengan kecepatan yang fenomenal, dirasakan kehadirannya di seluruh wilayah utara, dan juga memperdalam dasar kesarjanaan dan ibadah Kristen yang diteruskan dari Eropa di mata Charlemagne.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kejutan-kejutan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan akan terlihat pada periode berikut. Akankah Eropa sekarang berinisiatif menjangkau dengan Injil? Akankah Eropa akan tenggelam dalam kepuasan diri? Dalam beberapa aspek keduanya terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Periode IV: Memenangkan Orang M? (1200-1600) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Periode keempat dimulai dengan alat penginjilan yang luar biasa – para Friar. Setelah bencana wabah penyakit, muncul reformasi yang paling besar, paling vital, dan paling merusak di masa ini. Gerakan Kristen telah melibatkan diri selama ratusan tahun dalam misi Kristen yang paling besar dan salah tanggap yang tragis di sepanjang sejarah. Ironisnya, sebagian dari masa “Puncak” iman di akhir periode sebelumnya berakhir dengan kehancuran. Belum pernah ada sebelumnya bangsa atau kelompok bangsa melancarkan suatu usaha yang begitu bersemangat ke wilayah asing dalam nama Yesus seperti yang dilakukan Eropa dalam kegagalan tragis Perang Salib. Ini sebagian dipengaruhi oleh semangat Viking dalam gereja Kristen. Tidak heran seluruh Perang Salib utama dipimpin oleh keturunan Viking. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Meskipun Perang Salib memiliki unsur politik (sering menjadi alat pemersatu bagi para penguasa yang mau jatuh), Perang Salib tidak mungkin terjadi tanpa dukungan para pemimpin Kristen yang bersemangat tetapi salah arah. Perang Salib tidak hanya merupakan peristiwa paling berdarah bagi orang Eropa sendiri dan luka paling dalam di sisi suku bangsa M (luka yang sampai saat ini belum sembuh), tetapi juga merupakan pukulan mematikan bagi kesatuan Kristen Yunani/Latin dan kesatuan budaya di Eropa Timur. Pada akhirnya, meskipun orang Kristen Barat menguasai Yerusalem selama ratusan tahun, Perang Salib akhirnya meninggalkan Kekristenan Timur ke tangan para sultan Ottoman. Lebih buruk lagi, Perang Salib meninggalkan gambaran permanen tentang kebrutalan orang Kristen yang membantai sebagian besar manusia, menghancurkan nilai dari kata Kristen dalam misi sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ironisnya misi dari Perang Salib tidak akan dilihat begitu buruk seandainya tidak melibatkan komponen komitmen Kristen yang rendah. Pelajaran besar dari Perang Salib adalah keinginan baik, bahkan ketaatan untuk berkorban bagi Allah, bukan merupakan pengganti bagi pemahaman yang jelas akan kehendak-Nya. Bernard of Clairvaux, seorang saleh yang otentik, sangat penting dalam gerakan yang menyedihkan ini. (Kata-kata dalam himne  Jesus the Very Thought ditujukan padanya.) Dia menentang Perang Salib pertama. Di samping itu, dua orang dari ordo Fransiscan, Francis of Assisi dan Raymond Lull, menonjol sebagai orang dalam periode yang karena pengertiannya akan kehendak Allah membuat mereka menggantikan perang dan kekerasan dengan kata-kata yang lembut sebagai cara yang tepat untuk memperluas berkat Allah yang telah diberikan kepada Abraham, dan selalu dimaksudkan kepada semua anak-anak Abraham karena iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sayangnya M kurang dikenal di Eropa. Terjemahan lengkap pertama AQ ke bahasa Latin baru ada pada abad keduabelas, dan baru diterbitkan empat abad kemudian. Seandainya orang-orang Kristen Eropa berusaha untukmembaca kitab suci orang M, mereka mungkin akan terkejut melihat betapa banyak kesamaan di antara kedua iman ini. Kesarjanaan modern semakin menunjukkan kuatnya fondasi Kristen yang di atasnya M dibangun. AQ sendiri jika dibaca akan terlihat seperti kumpulan berbagai tradisi Kristen yang dianggap keramat di seluruh dunia pada abad ke-7. Sepertinya para editornya berusaha menyatukan berbagai pecahan komunitas Kristen ke dalam kerajaan Arab yang baru dibentuk pada abad ke-7, yang hampir menguasai setengah wilayah Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Namun, sebagai hasil dari Perang Salib, kesarjanaan M mulai mengubah penafsirannya terhadap AQ. Sejak saat itu, ayat-ayat AQ tentang Yesus (sekitar lebih dari 90 ayat), mulai ditafsirkan dalam sikap anti Kristen. Sebagai contoh, pada hari ini, secara umum dipercaya di seluruh dunia M bahwa Yesus tidak mati di salib. Namun ini tidak selalu masalahnya (dan AQ dapat menunjukkan penyaliban dan kebangkitan Yesus). Perubahan ini terjadi ketika orang Kristen mulai menggunakan salib sebagai simbol penaklukkan militer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Pada saat ini kita perlu berhenti sejenak merenungkan beberapa peristiwa yang mengarah ke periode keempat yang menarik ini. Mari kita melihat segala hal dari sudut pandang Allah, melangkah secara hati-hati dan teliti. Mari kita mulai perenungan kita dengan melihat lebih jauh ke belakang. Sebagai contoh, kita tahu, pada akhir periode pertama setelah tiga abad yang sulit dan penindasan, ketika semua hal kelihatannya berjalan dengan baik, penyerangan terjadi kepada Roma dan kekacauan serta kehancuran menyusul terjadi. Mengapa? Penyerangan didahului oleh suatu periode yang disebut “Renaisans Klasik.” Periode ini bisa dikatakan baik dan bisa juga tidak. Ketika orang Kristen sedang menerjemahkan Alkitab ke bahasa Latin dan bertambah fasih dalam debat teologis, ketika Eusebius of Caesarea, sejarawan resmi pemerintahan sedang menyunting kumpulan besar tulisan-tulisan Kristen mula-mula, ketika bidat-bidat dikeluarkan dari kerajaan (menjadi satu-satunya kegiatan misi Kristen kepada orang Goth), ketika Roma akhirnya secara resmi menjadi Kristen – tiba-tiba tirai turun dengan  penyerangan orang barbar ke Roma. Sekarang, dari kekacauan, Allah mendatangkan sekelompok orang baru untuk dimasukkan dalam “berkat” ini, yaitu, diperhadapkan dengan tuntutan, hak istimewa, dan tanggung jawab memperluas Kerajaan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Mirip dengan itu, pada akhir periode kedua, setelah tiga abad kekacauan selama amukan orang Goth yang akhirnya dikristenkan, ditaklukkan dan diberadabkan, Alkitab dan pengetahuan alkitabiah berkembang lebih pesat dari sebelumnya. Pusat-pusat misi yang alkitabiah dibangun oleh orang-orang Kristen Celtic dan murid-murid mereka orang Anglo-Saxon. Di dalam renaisans di masa pemerintahan Charlemagne (“Carolingian”), ribuan sekolah umum yang dipimpin oleh orang Kristen menghasilkan kemampuan literasi Alkitab dan umum secara besar-besaran. Para teolog besar bergumul dengan masalah-masalah teologis dan politis. Venerable Bede menjadi Eusebius periode ini (Charlemagne dan Bede jauh lebih Kristen daripada Konstantin dan Eusebius). Dan, sekali lagi penyerangan terjadi dan kekacauan dan kehancuran tiba. Mengapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Periode ketiga sangat mirip dengan sebelumnya. Pada awalnya, orang Viking hanya memerlukan dua setengah abad untuk takluk kepada “serangan balik Injil.”  “Renaisans” bisa dikatakan demikian, yang muncul di akhir periode ini lebih lama dan satu abad lebih dan jauh lebih menyeluruh daripada kemajuan periode sebelumnya. Perang Salib, katedral, teolog skolastik, universitas, dan yang paling penting para Friar yang diberkati – bahkan bagian awal dari Renaisans Humanistik di kemudian hari – semuanya membentuk Renaisans Abad Pertengahan 1050-1350 ini, atau “Renaisans abad keduabelas.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Tetapi tiba-tiba penyerang baru muncul – Wabah Hitam – lebih jahat dan lebih menghasilkan kekacauan dan kehancuran daripada sebelumnya. Mengapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Bagaimana kita menafsirkan bencana yang menyela apa yang kelihatannya merupakan suatu perkembangan dalam gerakan Kristen? Apakah Allah tidak puas dengan ketaatan yang tidak lengkap? Atau Setan menyerang balik setiap saat dengan keputusasaan yang lebih besar? Apakah mereka yang memperoleh berkat tersebut tidak secara memuaskan dan cukup bersemangat untuk membagikannya kepada bangsa-bangsa lain di seluruh dunia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Lebih membingungkan lagi, wabah yang membunuh sepertiga penghuni Eropa secara proporsi membunuh lebih banyak lagi orang-orang dari ordo Fransiscan: 120.000 orang mati hanya di Jerman saja. Pastilah Allah tidak sedang menghukum semangat misi mereka. Apakah Allah berusaha menghukum Perang Salib yang kekejamannya melebihi unsur Kristen dalam gerakan mereka? Jika demikian, mengapa Dia menunggu beberapa ratus tahun untuk melakukannya? Mungkin Eropa tidak dengan baik mendengarkan para Friar yang saleh. Penghukuman Allah atas Eropa mungkin dengan cara mengambil para Friar dan pesan Injil mereka. Meskipun bagi kita penghukuman tersebut lebih kepada pembawa pesan dan bukannya kepada mereka yang menolak untuk mendengar, namun bukankah hal yang sama bisa kita temukan juga dalam Perjanjian Baru? Yesus sendiri datang kepada milik-Nya, dan milik-Nya tidak menerima Dia, namun Yesus, tidak melawan tapi pergi ke atas salib. Mungkin Allah menggunakan niat jahat Setan – membinasakan pembawa pesan – sebagai penghukuman atas mereka yang memilih untuk tidak mendengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Dalam kasus apa pun, serangan Wabah Hitam, pertama pada tahun 1346 dan sepanjang dekade berikutnya, mendatangkan kemunduran yang lebih besar daripada penyerangan yang dilakukan oleh suku Goth, Anglo-Saxon atau Viking. Wabah ini pertama menghancurkan wilayah Italia dan Spanyol, kemudian menyebar ke barat dan utara, ke Prancis, Inggris, Belanda, Jerman dan Skandinavia. Pada saat wabah tersebut sudah melanda selama 40 tahun, sepertiga atau setengah dari populasi Eropa mati. Para Friar dan para pemimpin rohani yang bersungguh-sungguhlah yang paling merasakan bencana ini. Merekalah yang tetap tinggal untuk merawat orang-orang yang sakit dan mengubur yang mati. Eropa dalam kehancuran. Hasilnya? Ada tiga Paus yang saling bersaing pada saat itu, unsur manusia menjadi sangat kuat, pergolakan petani (sering dibenarkan oleh Alkitab) berubah menjadi keliaran yang besar. “Allah dunia ini” pasti senang, tetapi dari kematian, kemiskinan, kebingungan dan kesulitan yang panjang, Allah melahirkan reformasi baru yang lebih besar dari sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sekali lagi, pada akhir dari setiap periode, ada kemajuan besar terjadi. Percetakan dimulai, orang-orang Eropa akhirnya terlepas dari kebuntuan geografis mereka dan mengirim kapal-kapal untuk berdagang, dan membawa penaklukkan dan berkat rohani ke segala penjuru bumi. Dan sebagai bagian dari reformasi yang datang bersama dengan semua itu, Reformasi Protestan terlihat: desentralisasi budaya besar-besaran Eropa dan kelihatannya permanen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Orang-orang Protestan sering berpikir bahwa Reformasi adalah reaksi yang sah melawan kejahatan yang dilakukan birokrasi Kristen yang jahat yang sudah tenggelam dalam kerusakan moral dan korupsi. Tetapi “re-formasi” ini lebih dari itu. Desentralisasi besar dalam wilayah-wilayah Kristen ini dalam banyak aspek merupakan hasil dari meningkatnya vitalitas, meskipun ini tidak diketahui oleh sebagian besar orang Protestan – juga terlihat di Italia, Spanyol dan Prancis sama seperti di Moravia, Jerman dan Inggris. Di segala tempat kita melihat suatu gerakan untuk kembali ke studi Alkitab dan munculnya pembaharuan rohani dan pengabaran Injil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Injil yang sekarang diberitakan mendorong orang Jerman menjadi orang Jerman, tidak sekadar mengizinkan orang Jerman menjadi orang Kristen Roma. Meski begitu pengertian yang luar biasa ini merupakan salah satu hasil dari pembaharuan yang sedang terjadi. (Luther menghasilkan terjemahan Alkitab yang ke-empat belas bukan yang pertama dalam bahasa Jerman.) Sayangnya, penekanan yang indah terhadap pembenaran oleh iman – yang diberitakan di Italia dan Spanyol juga di Jerman di masa Luther muncul – menjadi diidentifikasikan dan disangkutpautkan dengan harapan nasional (separatis) Jerman, dan bisa dimengerti, dilihat sebagai ajaran yang berbahaya oleh kekuatan politik di Eropa Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Merupakan kesalahpahaman yang tipikal orang Protestan bahwa tidak ada kebangunan rohani yang dalam, penyelidikan Alkitab, dan doa di Eropa Selatan dan Utara pada waktu Reformasi. Masalahnya yang tampak bagi Protestan mungkin persoalan iman versus hukum, atau yang tampak bagi Katolik Roma mungkin persoalan kesatuan versus pembagian. Tetapi ukuran populer ini tidak tepat karena masalah ini jauh lebih merupakan terlalu dominannya budaya Latin dan masalah keseragaman versus keragaman. Bahasa dan budaya lokal akhirnya menang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Meskipun Paulus tidak menuntut agar orang Yunani menjadi Yahudi, namun orang Jerman telah diwajibkan menjadi Roma. Orang Anglo-Saxon dan Skandinavia setidaknya diizinkan memakai bahasa dan budaya lokal mereka dalam batasan yang tidak dikenal dalam Kekristenan di Jerman. Jerman adalah tempat di mana pemberontakan secara masuk akal akhirnya terjadi. Italia, Prancis, dan Spanyol, yang awalnya bagian dari Kerajaan Roma dan secara luas berasimilasi secara budaya dengan Roma, tidak memiliki tekanan nasional yang sama kuatnya di balik gerakan refomasi mereka dan menjadi hampir tidak relevan dalam polaritas politik dari pertempuran tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Namun – sekali lagi – meskipun kaum Protestan memenangkan pertarungan politik, dan mendapat kekuasaan untuk merumuskan kembali tradisi Kristen mereka dan jelas melihat Alkitab secara serius, mereka tidak berbicara mengenai penjangkauan misi. Sebaliknya, periode ini diakhiri dengan penyebaran secara politik dan agama oleh orang Eropa Romawi (Katolik) ke tujuh samudra. Jadi, secara keseluruhan orang Protestan tidak berbagian selama sedikitnya dua abad, variasi Kekristenan dari Katolik secara aktif mempromosikan dan mengiringi suatu gerakan sedunia dalam jangkauan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia, salah satu gerakan yang di dalamnya ada kesadaran misi Kristen yang lebih besar daripada sebelumnya. Namun setelah kehilangan wilayah Eropa yang non-Romawi dengan pemaksaan budaya Mediterania, tradisi Katolik sekarang berusaha memenangkan seluruh dunia tanpa sepenuhnya mengerti apa yang baru terjadi, dan mengapa proyek ini tidak akan berhasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Tetapi mengapa kaum Protestan bahkan tidak berusaha menjangkau keluar? Para misionaris Katolik telah melakukan hal ini selama dua ratus tahun sementara kaum Protestan tidak mengutus satu orang pun. Beberapa sarjana merujuk pada fakta bahwa kaum Protestan tidak memiliki jaringan koloni secara global. Tapi kaum Protestan di Belanda punya. Kapal-kapal mereka, tidak seperti negara-negara Katolik, tidak memuat misionaris. Inilah mengapa Jepang – ketika mereka mulai takut terhadap gerakan Kristen yang dimulai oleh para misionaris Katolik – hanya mengizinkan kapal-kapal Belanda masuk ke pelabuhan mereka. Belanda bahkan bersukacita dan membantu orang Jepang dalam membantai komunitas Kristen (Katolik). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== Renaisans dalam 5 Periode ======&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Garis hitam tebal yang lebih atas yang menandai masa 400-an tahun “periode”  dirancang agar mudah diingat, bukan untuk menetapkan realitas sejarah. Namun, ekspansi iman Kristen yang paling signifikan direfleksikan secara kasar, setidaknya dalam cara ini. Lebih penting, keberadaan dari 5 “renaisans” juga ditonjolkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Garis di bawahnya merujuk kepada halaman-halaman buku Latourette yang dikhususkannya untuk mengurai garis waktu di atasnya. Lingkaran oval yang polos menunjuk pada apa yang disebut Latourette “Kebangkitan” Kekristenan, sedangkan lingkaran oval yang berarsir menunjuk kepada “Kemunduran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal terpenting yang disingkapkan oleh perbandingan ini adalah fakta bahwa keempat “Kebangkitan” dari Latourette cocok dengan “Renaisans” pada garis tebal di atasnya. Satu-satunya perbedaan signifikan adalah dia tidak memberikan penghormatan kepada Renaisans Carolingian sebagaimana yang diberikan oleh para sarjana lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu alasan Latuorette melihat hal ini secara berbeda adalah bahwa dia prihatin sekali dengan apa yang disebut “Kekristenan” (yang logis dalam sebuah buku berjudul A History of Christianity) dan karenanya tidak menganggap gerakan M suatu ekspresi positif yang berasal dari tradisi “Yahudi” yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kasus apa pun, M, meski dimulai belakangan, menjadi sebuah perkembangan yang jauh lebih termasyhur ketimbang asuhan dan didikan Barat yang biasanya mengizinkan kita untuk menyadari. Hingga pada waktu Renaisans di periode keempat, M telah menjadi superior daripada “Kekristenan” secara politis, budaya, milter, dan bahkan jumlah. Dalam banyak hal ini sungguh benar selama lebih dari separuh periode Kristen. Ini tidaklah mengherankan karena banyak ekspansi M didirikan pada lapisan Kekristenan, sama seperti yang telah dilakukan Kekristenan yang mula-mula terhadap lapisan agama Yahudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Periode V: Sampai Ke Ujung Bumi (1600-2000) ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Periode 1600-2000 dimulai dari penaklukkan orang Eropa terhadap seluruh dunia. Selain mengambil alih sebuah benua yang bisa dikatakan kosong dengan menumbangkan kerajaan Aztec dan Inka di belahan Barat, orang-orang Eropa hanya memiliki kuasa yang kecil di wilayah di luar dunia barat yang berpenduduk padat. Namun, pada tahun 1945, orang Eropa telah memiliki kontrol terhadap 99,5% dunia non-Barat. Ini tidak bertahan lama. Orang-orang yang menempati koloni-koloni orang Eropa telah berkembang secara signifikan dalam pengetahuan Barat dan prakarsa, seperti orang Goth berkembang pesat di luar Kerajaan Romawi. Para pemimpin orang Goth memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam militer Romawi. Pada masa kini banyak pemimpin dunia non-Barat memiliki pengalaman dan latihan bertahun-tahun di institusi pendidikan dan industri di Barat. Perang dunia kedua secara luar biasa mematahkan bangsa-bangsa Barat dari genggaman kolonial mereka pada sebagian besar dunia. Itulah sebabnya: Nasionalisme meledak, dan kontrol orang Eropa mulai goncang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Hanya dua puluh lima tahun kemudian (tahun 1969), bangsa-bangsa Barat kehilangan kontrol 5% atas populasi dunia non-Barat. Saya telah menggambarkan periode 1945-1969 di mana kontrol Barat tiba-tiba runtuh ditambah dengan peningkatan yang signifikan dari gerakan Kristen dunia non-Barat dalam sebuah buku kecil berjudul The Twenty-five Unbelievable Years (1945-1969 ). Jika kita membandingkan periode ini dengan hancurnya dominasi kerajaan Romawi di barat atas wilayah taklukannya di Spanyol, Galia dan Inggris, dan hilangnya kontrol atas wilayah Eropa yang bukan bangsa Frank oleh penerus Charlemagne, kita bisa mengantisipasi – setidaknya dengan logika pembelokan paralelisme – bahwa dunia Barat tidak lama lagi akan didominasi secara signifikan oleh orang Asia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Dengan alasan tertentu, sejak kehancuran kekuatan Barat menjadi nyata, ada banyak orang yang menentang pemikiran adanya usaha misi lebih lanjut dari Barat ke dunia non-Barat. Mungkin mereka telah membingungkan/menyalahtafsirkan ketidaksesuaian kontrol politik dengan kebutuhan untuk memutuskan hubungan iman dalam situasi misi di luar negeri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Situasi yang sebenarnya adalah sangat berbeda. Faktanya, ketiadaan kontrol politik untuk pertama kalinya dalam berbagai bidang sekarang mulai mengizinkan populasi dunia non-Barat untuk menyerah kepada Kerajaan Kristus tanpa di saat yang bersamaan menyerah kepada kerajaan politik dunia Barat. Di sini kita melihat paralelnya dengan suku Frank yang menerima iman orang Roma hanya setelah Roma kehilangan kekuatan militernya. Keterbukaan baru terhadap Kekristenan Katolik ini terus berlanjut di antara orang-orang Anglo-Saxon, Jerman dan Skandinavia sampai di masa munculnya kekuasaan Kepausan yang kuat dicampur dengan kekuatan politik menjadi ancaman bagi ambisi yang sah dari suatu bangsa. Ancaman ini kemudian membawa kepada suatu Reformasi, yang mengizinkan bentuk Kekristenan yang dinasionalisasikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Pemandangan saat ini di dunia Barat memamerkan standar moralitas Kristen yang buruk dengan begitu jelas sehingga dapat menghalangi bangsa-bangsa non Kristen untuk memeluk iman Kristen, tetapi pemandangan ini juga cenderung memisahkan warisan cita-cita Kristen dari dunia Barat yang tidak dihidupi oleh mereka, dan sampai zaman ini, tetapi telah menjadi pendukung utama mereka. Ketika orang Asia menuduh bangsa Barat tidak bermoral dalam peperangan, mereka sedang merujuk pada nilai-nilai Kristen, jelas bukan nilai-nilai dari bangsa kafir apa pun di masa lalu. Dalam pengertian ini, Kekristenan telah menguasai dunia. Sebagai contoh, tidak ada lagi tradisi penyiksaan keji yang telah dikembangkan secara luar biasa di Tiongkok dan berlangsung lama, yang sepertinya dibanggakan di Tiongkok, tidak juga dihormati di mana pun, setidaknya di kalangan publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Tetapi transformasi seluruh dunia ini tidak muncul secara tiba-tiba. Bahkan pada masa kini pun, pencapaian minimal dari moralitas Kristen sedunia pada tingkatan publik telah dicapai hanya melalui pengorbanan besar dari usaha misi (selama empat abad dari Periode kelima) yang lebih berani dan lebih berniat dari zaman lainnya dalam rentang 2.000 tahun. Bagian awal dari periode kelima ini (1600-1800) hampir secara eksklusif merupakan pertunjukan Katolik Roma. Pada tahun 1800 sangat memalukan bagi orang Protestan mendengar para misionaris Katolik menganggap rendah gerakan Protestan sebagai pemurtadan hanya karena gerakan ini tidak mengutus misionaris. Tetapi pada tahun yang sama, usaha misi Katolik terpaksa mengalami penurunan karena pengurangan orang-orang ordo Jesuit dan efek gabungan dari Revolusi Prancis dan kekacauan yang ditimbulkannya sehingga memangkas akar ekonomi Eropa bagi misi-misi Katolik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Namun, tahun 1800 menandai kebangkitan orang Protestan dari dua setengah abad yang tidak aktif, jika bukan karena kemalasan teologis, dalam kaitannya dengan penjangkauan misi ke seluruh dunia. Sepanjang periode akhir ini, untuk pertama kalinya, orang Protestan memperlengkapi diri mereka dengan struktur organisasional misi yang dapat dibandingkan dengan ordo-ordo Katolik dan mulai membayar waktu yang hilang. Usaha misi Protestan dalam periode ini - meski tidak diumumkan, tidak diketahui, kurang diperhatikan dan bahkan telah dilupakan pada masa kini kecuali kritik yang tanpa pengetahuan - lebih daripada misi Katolik dan telah membuka jalan menegakkan aparatur pemerintahan yang demokratis di seluruh dunia: sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, universitas, dan dasar-dasar politik dari negara yang baru. Jika dipahami dengan benar, para misionaris Protestan dan rekan sejawat mereka Katolik Roma tentunya merupakan penggerak utama dari kekuatan luar biasa yang sedang berkembang di “Dunia Ketiga” pada hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ambil China sebagai contoh. Dua pemimpin terbesar modernnya, Sun Yat-sen dan Chiang Kai-shek adalah orang Kristen. “Empat Jalan Modernisasi” dari Deng Shiau Ping adalah penekanan prinsip dari gerakan misi Barat di Tiongkok. Para misionaris telah mendirikan universitas di setiap propinsi di China, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Tetapi jika negara Barat sendiri sekarang jatuh dan gagal ketika gelombang berbalik melalui negara-negara yang sebagian kecilnya diinjili (seperti pola yang terjadi pada periode sebelumnya), kita hanya bisa merujuk pada komentar Dawson mengenai kehancuran yang dibawa oleh orang-orang Viking – bahwa ini bukanlah “kemenangan orang-orang barbar.” Kejatuhan dunia Barat, dalam kasus itu, sebagiannya, akan dikarenakan memudarnya semangat dan kekuatan kafir di dunia non-Barat yang semakin berani dan diperkuat oleh pertemuan pertamanya dengan iman Kristen. Itu mungkin merupakan hukuman drastis bagi dunia Barat yang selalu menghabiskan uang bagi kosmetik ketimbang misi luar negeri mereka – akhir-akhir ini sepuluh kali lebih banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Dari sudut pandang sekuler dan nasionalistik, tahun-tahun ke depan mungkin menjadi periode gelap bagi dunia Barat. Harapan dan aspirasi wajar dari orang Kristen bagi negara mereka mungkin hanya menemukan sedikit dasar untuk bisa optimis. Tetapi jika masa lalu benar-benar merupakan petunjuk, ini akan menjadi gelap sebelum terang terbit. Seluruh dunia Barat dalam bentuk politiknya yang sekarang mungkin akan berubah secara radikal. Kita mungkin bahkan tidak pasti akan kelangsungan hidup negara kita sendiri. Tetapi kita memiliki alasan dari pengalaman sebelumnya bahwa orang Kristen dan iman alkitabiah jelasnya akan bertahan dalam bentuk apa pun. Kita dapat segera menghitung bahwa selama abad ke-20, penduduk dunia Barat berkurang dari 18% menjadi 8% dari seluruh populasi dunia. Tetapi kita tidak dapat pesimis total. Melampaui penderitaan Roma hadir kemenangan Injil atas kaum Barbar. Melampaui penderitaan dunia Barat kita hanya bisa berdoa akan ada kemenangan atas kuasa Setan yang sedang membelenggu jutaan orang dalam ribuan kelompok suku bangsa – suku-suku bangsa yang sudah terlalu lama “diam di negeri yang dinaungi maut” dan sekarang “telah terbit Terang” (Mat. 4:16). Dan kita bisa tahu bahwa tidak ada dasar, di masa lalu maupun sekarang, untuk berasumsi bahwa segala peristiwa berada di luar kontrol Allah yang hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Jika kita di dunia Barat menahan berkat yang kita miliki ketimbang membagikannya, maka kita akan, seperti bangsa-bangsa lain sebelum kita (Israel, Romawi, dll.) yang mungkin harus “kehilangan” berkat tersebut agar bangsa-bangsa yang tersisa dapat menerimanya. Allah belum pernah mengubah rencana-Nya selama 4.000 tahun terakhir. Namun alangkah baiknya untuk tidak berfokus pada bagaimana menahan berkat Allah bagi diri kita sendiri, melainkan berjuang dengan sengaja demi memperluas berkat yang luar biasa ini! Dengan cara itu “olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Ini satu-satunya cara kita dapat terus berada dalam berkat Allah. Penyebaran Kerajaan Allah tidak akan berhenti pada kita di Barat (meskipun hal itu bisa meninggalkan kita). “Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya” (Mat. 24:14). Allah dapat membangkitkan orang lain jika kita jatuh. Sungguh, seluruh sisa dari buku ini mengindikasikan bahwa hal ini sudah dan sedang terjadi.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Templat:Floyd_mcclung&amp;diff=729</id>
		<title>Templat:Floyd mcclung</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Templat:Floyd_mcclung&amp;diff=729"/>
		<updated>2015-09-14T18:08:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Floyd McClung&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Berkas:Mcclung.jpg|thumb]]&lt;br /&gt;
::Floyd McClung adalah direktur dari All Nations, suatu pelatihan kepemimpinan internasional dan jaringan penanaman gereja. Dia melayani sebagai Direktur Internasional dari Youth With A Mission selama bertahun-tahun. Floyd sekarang memimpin suatu pelatihan dan penjangkauan komunitas di Afrika Selatan yang bekerja di antara orang-orang miskin dan belum terjangkau. Dia telah menulis empat belas buku, termasuk The Father Heart of God dan Living on the Devil’s Doorstep.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Doa_Strategis&amp;diff=728</id>
		<title>Doa Strategis</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Doa_Strategis&amp;diff=728"/>
		<updated>2015-09-14T17:44:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{john robb}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah pohon raksasa tumbuh di bantaran Sungai Awash di lembah bertanah sangat kering sekitar dua jam berkendaraan dari Addis Ababa, Etiopia. Pohon itu sudah sangat lama berada di sana dan tampaknya akan terus ada. Karena tidak mampu membawa air di sungai itu ke dataran yang lebih tinggi, orang-orang yang hidup di sekitar wilayah tersebut menderita bencana kelaparan selama bertahun-tahun. Dalam penderitaan mereka, orang-orang tersebut pergi ke pohon tersebut untuk memohon pertolongan. Mereka menyembah pohon raksasa tersebut, percaya bahwa roh telah memberikan pohon tersebut kekuasaan ilahi. Orang-orang dewasa akan mencium batang pohon yang besar itu seraya melewatinya. Mereka berbicara kepada pohon itu dengan nada pelan dan anak-anak kecil berkata, “Pohon ini telah menyelamatkan kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika World Vision memulai sebuah proyek pembangunan pada tahun 1989, termasuk sebuah sistem irigasi untuk membuat lembah kering tersebut menjadi subur untuk pertama kalinya, pohon raksasa tersebut berdiri seperti penghalang yang menjaga tatanan lama. Pohon itu berkuasa atas komunitas di sekitarnya, memperbudak mereka dengan ketakutan. Orang-orang di sekitar pohon itu percaya bahwa roh-roh akan tenang jika dipersembahkan binatang dan memperingati hal yang dianggap tabu. Para pekerja World Vision melihat bagaimana para penduduk itu menyembah pohon tersebut dan melihat bahwa berhala ini merupakan penghalang bagi komunitas tersebut untuk masuk ke dalam kerajaan Kristus dan diubahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Suatu pagi, ketika staf World Vision sedang berdoa, salah satu janji Yesus terpikirkan mereka sebagai secara khusus relevan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi” (Mat. 21:21). Mereka mulai berdoa agar Tuhan mengalahkan Goliat yang menghalangi mereka tersebut. Tidak lama sesudah itu, seluruh komunitas tahu bahwa orang-orang Kristen ini sedang berdoa mengenai pohon tersebut. Enam bulan kemudian, pohon raksasa tersebut mulai mengering. Daun-daunnya mulai menghilang, dan akhirnya tumbang seperti raksasa yang dipukul roboh ke dalam sungai. Orang-orang menjadi terkesima. “Allah Anda telah melakukan semua ini!” kata mereka. “Allah Anda telah mengeringkan pohon ini!” Dalam beberapa minggu, sekitar seratus penduduk menerima Kristus karena mereka telah melihat kuasa-Nya dinyatakan melalui doa orang-orang Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Natur Spiritual dari Masalah-masalah Sosial ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang Kristen selama bertahun-tahun telah terpecah dalam cara yang paling efektif untuk mentransformasi dunia kita. Apakah itu melalui kesaksian verbal atau tindakan sosial? Sebenarnya, keduanya tidak dapat dipisahkan. Tanpa keduanya, tidak ada kabar baik. Ada satu hal yang mengikat kedua hal tersebut?doa. Ketika kita berdoa kepada Allah agar menyelamatkan jiwa-jiwa dan juga mendatangkan keadilan-Nya ke dalam masalah-masalah sehari-hari, penginjilan dan kegiatan sosial terhubung dalam cara yang paling mendasar. Allah yang menginspirasikan doa bagi dunia menggerakkan hati umat-Nya untuk membagikan kabar baik-Nya dan juga mendemonstrasikan kasih dan rahmat-Nya. Di mana pun kita melihat orang datang kepada Kristus, kesehatan meningkat, kesempatan ekonomi meningkat dan nilai-nilai kerajaan Allah bertumbuh, kita melihat orang-orang percaya telah mendoakannya. Oleh karena natur dari kejahatan dalam dunia ini, doa sangat penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika orang-orang Kristen menolong orang miskin dan melawan ketidakadilan, kita kadang-kadang lupa bahwa kita juga melawan para penguasa dan penghulu kegelapan. Sejak peristiwa di Taman Eden, manusia telah menguasai manusia lain dan seluruh masyarakat melalui kerjasama dengan Setan dan roh-roh jahatnya. Ini telah membawa kepada bencana kelaparan yang luas, penyakit, kemiskinan, perbudakan, ketidakadilan dan penderitaan. Kapan pun kita mencoba untuk menolong para korban dari berbagai tragedi ini, kita masuk ke dalam suatu pertempuran yang melibatkan kekuatan-kekuatan spiritual yang besar yang bekerja dalam lingkup masyarakat. Kekuatan-kekuatan spiritual itulah yang menguasai berbagai institusi yang besar, struktur-struktur dan sistem sosial. Baik Setan dan kekuatannya berusaha untuk menghancurkan umat manusia yang dibuat serupa dengan gambar Allah. Setan adalah ahli penipu, sumber penyembahan berhala yang berusaha untuk menguasai dunia. Dia melemahkan iman kepada Allah, membengkokkan nilai-nilai dan menyebarkan berbagai ideologi palsu. Dia menyusup masuk ke dalam institusi-institusi, pemerintahan, media komunikasi, sistem pendidikan dan badan-badan agamawi untuk menggoda manusia agar memuja uang, ketenaran, kesuksesan, kekuasaan, kesenangan, ilmu pengetahuan, seni, politik dan berhala-berhala religius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kekuatan-kekuatan sosial-spiritual dari kejahatan mencengkeram masyarakat dalam kegelapan, mencengkeram dalam dua cara yang berkaitan. Pertama melalui perjanjian yang jelas-jelas merupakan suatu penyembahan berhala. Kedua melalui pola pikir yang salah yang membutakan manusia akan realitas Tuhan dan kebenaran-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kehancuran yang ditimbulkan Penyembahan Berhala ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hampir seluruh Perjanjian Lama, Setan menggoda Israel untuk menjauh dari Allah dan mencoba allah lain dari Mesir, Amori, Kanaan dan Edom. Allah telah memperingatkan orang Israel apa yang akan terjadi jika mereka melakukannya, dan mereka menderita akibatnya – penindasan, perbudakan, invasi bangsa asing dan kemiskinan (Hak. 6:6; 10:16; Ul. 28). Dosa yang sama dan akibatnya juga dialami dunia masa kini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	India Utara adalah salah satu bagian dunia yang tergelap. Orang-orang India sendiri  memperkirakan ada lebih dari tiga ratus juta allah di wilayah tersebut. Kali, dewi kehancuran, adalah dewa regional yang disembah di Kolkata, Bengal Barat. Semua orang yang pernah ke Kolkata mengetahui dampak merusak dari penyembahan Kali terhadap orang-orang di kota tersebut. Di tempat lain di dunia, okultisme berada di balik beberapa ketidakadilan yang paling brutal di abad ini. Di Kamboja, Khmer Merah?yang telah membunuh sekitar dua juga orang pada tahun 1970an?didasarkan pada dua kubu-kubu pertahanan okultisme. Shiwa, dewa perusak dan pembangkit orang Hindu, dan Naga, dewa ular, dipuja di wilayah bagian utara negeri ini. Selama perang saudara di Liberia, para misionaris SIM melaporkan bahwa banyak dari pejuang di sana mempraktikkan  juju, sejenis sihir Afrika untuk mendapatkan kekuatan. Mereka memakai jimat-jimat, memanggil roh-roh untuk masuk ke dalam mereka, mabuk dan membunuh seluruh desa yang dipenuhi orang yang tidak bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Keputusasaan dari Kubu-kubu Pertahanan ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Setan tidak mempengaruhi orang melalui penyembahan berhala yang terlihat jelas atau ketakutan terhadap roh-roh, dia mengontrol mereka melalui cara berpikir yang salah yang mengunci mereka dalam kegelapan spiritual. Rasul Paulus menyebut bentuk ikatan seperti ini ketika dia berbicara mengenai “mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah” (2 Kor. 10:5). Paulus menggunakan kata Yunani hupsoma, yang diterjemahkan sebagai “siasat” atau “hal-hal yang tinggi.” Itu merupakan istilah astrologis yang berarti “lingkup di mana kekuatan astrologis memegang kekuasaan.”  Paulus mempertimbangkan bahwa mereka yang menolak Injil memiliki pola pikir yang dipengaruhi kekuasaan seperti itu. Menurut George Otis, Jr.,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Ketika Setan tidak mempengaruhi orang melalui penyembahan berhala yang terlihat jelas atau ketakutan terhadap roh-roh, dia mengontrol mereka melalui cara berpikir yang salah yang mengunci mereka dalam kegelapan spiritual. Rasul Paulus menyebut bentuk ikatan seperti ini ketika dia berbicara mengenai “mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah” (2 Kor. 10:5). Paulus menggunakan kata Yunani hupsoma, yang diterjemahkan sebagai “siasat” atau “hal-hal yang tinggi.” Itu merupakan istilah astrologis yang berarti “lingkup di mana kekuatan astrologis memegang kekuasaan.”  Paulus mempertimbangkan bahwa mereka yang menolak Injil memiliki pola pikir yang dipengaruhi kekuasaan seperti itu. Menurut George Otis, Jr.2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika Setan tidak mempengaruhi orang melalui penyembahan berhala yang terlihat jelas atau ketakutan terhadap roh-roh, dia mengontrol mereka melalui cara berpikir yang salah yang mengunci mereka dalam kegelapan spiritual. Rasul Paulus menyebut bentuk ikatan seperti ini ketika dia berbicara mengenai “mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah” (2 Kor. 10:5). Paulus menggunakan kata Yunani hupsoma, yang diterjemahkan sebagai “siasat” atau “hal-hal yang tinggi.” Itu merupakan istilah astrologis yang berarti “lingkup di mana kekuatan astrologis memegang kekuasaan.”  Paulus mempertimbangkan bahwa mereka yang menolak Injil memiliki pola pikir yang dipengaruhi kekuasaan seperti itu. Menurut George Otis, Jr.3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sebagai contoh, ide “nasib” dalam Hinduisme memenjarakan jutaan orang ke dalam kemiskinan spiritual dan ekonomi. Kekuatan nasib yang tak dapat ditanggulangi ini sangat besar dan menentukan ke dalam kasta mana Anda dilahirkan. Jika Anda dilahirkan ke dalam suatu kasta yang miskin, sangat sedikit kemungkinan Anda dapat meningkatkan kehidupan Anda menjadi seorang pengacara atau akuntan. Pemikiran inilah yang disebut kubu-kubu pertahanan Setan, suatu penipuan yang membelenggu manusia dalam ikatan kemiskinan. Berbagai upaya pengembangan di antara orang-orang yang dipenjarakan oleh wawasan dunia fatalistis ini memiliki dampak yang terbatas karena mereka yakin tidak ada yang akan berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Selain menghalangi orang untuk mencapai potensi yang telah Tuhan berikan kepada mereka, Setan dapat menggunakan kubu-kubu dalam pikiran untuk melepas kehancuran yang luar biasa. Ketika ekstrimis Hutu mengambil alih pemerintahan Rwanda pada tahun 1994, mereka menggunakan stereotipe etnis yang menggambarkan etnis Tutsi sebagai ”kecoa” yang perlu dibasmi. Hanya dalam waktu tiga bulan, kira-kira satu juta orang Tutsi, bersama dengan orang Hutu yang moderat yang menolak untuk menyerang tetangga mereka yang beretnis Tutsi, dibunuh oleh berbagai kelompok pembunuh yang berkeliaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Apa yang harus kita lakukan di tengah kejahatan sosial-spiritual? Jelas, kita harus membagikan kebenaran firman Tuhan untuk menghadapi penipuan seperti itu, tetapi kita juga harus berdoa secara sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Berurusan dengan Kejahatan Supernatural Secara Penuh Kuasa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Roh-roh jahat tidak dapat dipertobatkan atau kita tidak bisa negosiasi dengan mereka. Mereka hanya dapat diusir dengan cara yang penuh kuasa yang disebut sebagai tindakan kekerasan spiritual. Kita berpikir tentang Yesus sebagai model bagi cinta damai, kasih dan tanpa kekerasan terhadap musuh-Nya. Namun, Dia mengajarkan bahwa kita hanya memberi pipi kiri dan kanan kita pada musuh manusia saja, bukan musuh kita Iblis. Dia tidak pernah mengizinkan Setan dan roh-roh jahat melakukan cara mereka. Sebaliknya Dia bertindak dengan kuat, berotoritas, bahkan dengan keras setiap kali berhadapan dengan mereka, menghardik dan mengusir iblis-iblis ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Dia juga berbicara mengenai pergumulan yang keras dan serangan balik yang menyertai datangnya kerajaan Allah: “Kerajaan Sorga diserang dan orang yang menyerangnya mencoba menguasainya” (Mat. 11:12, NASB). Banyak sarjana Alkitab setuju kalau ayat tersebut berarti kerajaan Allah sedang diserang oleh musuh-musuh yang jahat. Umat manusia dan institusi-institusi mereka telah menangkap dan membunuh Yohanes Pembaptis. Para pemimpin agama bekerja sama dengan penguasa Romawi membunuh Yesus. Namun, di balik kekuatan manusia ini Yesus melihat pribadi yang sering disebut-Nya sebagai “pangeran dunia ini.” Dia menyebut Setan sebagai orang kuat yang harus diikat jika ingin membebaskan orang-orang yang telah dikurungnya. Mengikat orang kuat (Mrk. 3:27) melibatkan pertempuran yang keras, tetapi merupakan pertempuran yang pasti akan dimenangkan oleh Gereja melalui kuasa Allah. Yesus sendiri berjanji bahwa “alam maut tidak akan menguasainya (gereja-Nya)” (Mat. 16:18). Rasul Paulus juga menegaskan bahwa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Doa adalah senjata yang menentukan dalam pergumulan ini – dan sering menjadi senjata yang agresif dan berkuasa. Kekuatan-kekuatan ketidakadilan, penindasan dan perang begitu besar sehingga seluruh usaha kita untuk memeranginya akan gagal kecuali kita lebih dulu mengundang Tuhan masuk ke dalam pertempuran. Sampai kita mencapai kemenangan dalam doa, tiada harapan untuk terlibat dalam pertempuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Saya tidak mengatakan bahwa doa merupakan satu-satunya cara yang diperlukan untuk mengubah dunia. Banyak orang Kristen Injili sudah lama sekali menggunakan doa sebagai pengganti tindakan?membiarkan Allah yang bertanggung jawab melakukan apa yang telah Dia perintahkan kepada kita untuk kita lakukan di seluruh Alkitab. Akan tetapi, aksi sosial pun bukan pengganti doa. Masih ada misteri yang mendalam yang menyelubungi doa dan bagaimana Allah menggunakan doa kita untuk mengubah dunia. Seorang theolog bernama Walter Wink menulis:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Doa bukan sihir. Doa tidak selalu berhasil. Doa bukan sesuatu yang kita lakukan, tetapi sebuah respons terhadap apa yang telah sedang Allah lakukan di dalam kita dan di dunia. Doa-doa kita merupakan awal yang diperlukan yang membiarkan Allah bertindak tanpa melanggar kebebasan kita. Doa adalah tindakan ultimat dalam kerjasama kita dengan Allah.4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Secara paradoks, perang yang paling agresif dan sangat kuat yang kita jalani harus diperjuangkan dari hati yang hancur dan kelemahan kita. Contoh utama dari hal ini adalah kemenangan Yesus atas kuasa kegelapan melalui penghinaan dan ketidakberdayaan-Nya di atas kayu salib. Sama seperti itu, kita paling kuat melawan kejahatan ketika kita datang ke salib bersama dengan Yesus?mengakui dan menolak bekerja sama dengan kuasa-kuasa kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pelajaran yang dapat diambil dari Doa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1994, sekelompok pemimpin Kristen Kamboja menceritakan kepada saya tentang intensitas dari pertempuran spiritual yang mereka alami dan meminta bantuan dari para pemimpin doa di luar Kamboja. Saya memimpin sebuah tim untuk membantu 60 pendeta dan penginjil Kamboja dalam doa bagi bangsa mereka. Kita dengan cepat berhadapan dengan pengaruh roh pembunuhan, yang terdapat dalam ritual penyembahan Shiwa, dewa kehancuran, dan Naga, dewa ular. Naga dipercaya merupakan roh pembimbing bagi rakyat Kamboja. Roh Tuhan berbicara melalui salah satu anggota tim, “Sebagian dari kalian tangannya telah menumpahkan darah.” Di dalam ruangan tersebut ada seorang mantan Khmer Merah yang telah membunuh ratusan orang, mungkin ribuan orang. Ratap tangis yang besar menyertai informasi ini, beserta pengakuan terhadap tindakan sangat kejam dalam ladang pembantaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Perendahan diri dan pengakuan di muka umum ini membawa kepada masa di mana orang-orang Kristen Kamboja memutuskan perjanjian yang dibuat di masa lalu antara raja-raja Kamboja dengan kuasa-kuasa kegelapan. Perjanjian ini telah dibuat di kuil Angkor, di bagian utara negara ini. Curahan emosi yang mendalam dan pengakuan dosa ini memulai suatu proses rekonsiliasi yang kemudian menghasilkan pembentukan persekutuan Kristen nasional di Kamboja. Pada saat tulisan ini dibuat, jumlah gerejagereja di Kamboja telah bertumbuh dari 100 menjadi lebih dari 500. Selain itu, Khmer Merah telah menjadi sangat lemah, jika belum hancur, sebagai suatu gerakan teroris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Beberapa hal dari inisiatif doa ini merupakan pelajaran berharga bagi usaha-usaha doa yang lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;b&amp;gt; 1.	Ada banyak doa yang mendahului dan dan mengiringi usaha ini.&amp;lt;/b&amp;gt; Tim kami dan orang-orang Kristen Kamboja tidak berdoa sendiri. Kami didukung oleh ribuan orang yang bersama-sama memohon di seluruh dunia. Bersatu dalam doa?umat Allah bergabung bersama dalam doa di seluruh dunia dengan fokus khusus pada tempat dan orang tertentu?merupakan suatu kombinasi yang sangat berkuasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;b&amp;gt; 2.	Para pemimpin lokal melakukan tindakan pertobatan mewakili bangsa mereka.&amp;lt;/b&amp;gt; Tim kami bertindak sebagai pelayan dan katalis, mengakui bahwa Allah telah memberikan otoritas yang pertama kepada para pemimpin lokal untuk memutuskan perjanjian dengan kekuatan-kekuatan jahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;b&amp;gt; 3.	Merendahkan diri dan hati yang hancur merupakan hal yang penting bagi semua yang terlibat.&amp;lt;/b&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;b&amp;gt; 4.	Kami bergantung pada pimpinan Tuhan di setiap hal.&amp;lt;/b&amp;gt;  Setiap orang yang terlibat dalam usaha doa kami berusaha mendapat pimpinan Roh Allah. Kami meneliti fakta mengenai situasi masa kini yang ada dalam negara ini, sejarahnya, dan kemudian menanti arahan dari Roh Kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;b&amp;gt; 5.	Kami berdoa secara menyeluruh.&amp;lt;/b&amp;gt;Kami berdoa bagi pemerintah, masalah-masalah sosial dalam negara itu dan beragam kelompok suku bangsa yang masih belum terjangkau. Kami berdoa untuk kesatuan dan vitalitas gereja. Kami berdoa agar shalom Allah turun ke atas orang Kamboja dengan transformasi spiritual dan sosial secara terus-menerus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;b&amp;gt; 6.	Doa yang efektif adalah doa yang terus-menerus.&amp;lt;/b&amp;gt; Lama setelah kunjungan tim kami ke Kamboja, orang-orang yang ambil bagian dalam tim ini terus berdoa. Perpecahan dan konflik yang barusan terjadi diantara faksi yang berbeda dalam pemerintahan menyadarkan kami bahwa para pendoa syafaat tidak boleh lengah berdoa. Mereka harus mengawasi bangsa mereka seperti penjaga di atas menara, jika tidak Setan akan datang kembali melalu pintu belakang, menciptakan perpecahan dan kehancuran ketika paling kurang diharapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Dapatkan Sesuatu yang Baik terjadi dari Cali? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam jawaban terhadap doa-doa para pendoa syafaat, shalom Allah dan transformasi juga terjadi di Cali, Kolombia.  Sampai baru-baru ini, kota Amerika Latin ini dicengkeram oleh kartel obat bius yang tidak terkenal yang disebut Cali yang dilaporkan sebagai kelompok kriminal paling besar, paling kaya dan paling baik terorganisasi dalam sejarah. Kartel ini mengontrol sebagian besar pemerintahan dan sejumlah besar uang, mengabadikan kekerasan yang paling keji. Setiap orang yang menolak akan dibunuh. Di tengah keputusasaan, para pendeta di Cali setuju untuk bertemu setiap minggu untuk berdoa bagi kota mereka, dimulai pada bulan Januari 1995.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
		Pada bulan Mei tahun itu, para pendeta tersebut mengadakan doa siaga sepanjang malam di ruang pertemuan umum dengan kapasitas tampung 27.000 orang. Mereka berharap beberapa ribu orang lagi akan hadir dan mengisi bagian bawah. Hasilnya, 30.000 orang hadir untuk berdoa semalaman! Mengutip kata-kata salah seorang penyelenggara,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Tujuan utama dari doa kebangunan adalah menentang para kartel dan para penguasa spiritual mereka yang tidak kelihatan. Keduanya telah memerintah kota dan bangsa kami terlalu lama. Setelah merendahkan diri dihadapan Tuhan dan satu sama lain, kami secara simbolis mengulurkan tongkat kekuasaan Kristus ke atas Cali?termasuk perbudakannya dengan kokain, kekerasan dan korupsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Hasil pertama dari pertemuan doa ini adalah tidak ada pembunuhan yang terjadi selama satu hari sesudahnya. Ini merupakan berita penting karena rata-rata pembunuhan dalam satu hari adalah beberapa kali lipat. (Ada 15.000 pembunuhan di Kolombia pada enam bulan pertama tahun 1993?menjadikan masa itu memiliki tingkat rata-rata pembunuhan tertinggi di dunia, delapan kali lipat lebih besar dari Amerika Serikat.) Selama empat bulan sesudahnya, 900 polisi yang terkait dengan kartel dipecat dari kepolisian. Kemudian, beberapa pendoa syafaat melaporkan mendapat mimpi di mana mereka melihat para malaikat menangkap para pemimpin kartel obat. Di dalam enam minggu sejak penglihatan ini terjadi, pemerintahan Kolombia menyatakan perang habis-habisan terhadap para pemimpin kartel. Bulan Agustus di tahun itu?hanya tiga bulan setelah penglihatan yang Tuhan berikan kepada pendoa?pihak berwenang Kolombia telah menangkap tujuh pemimpin kartel tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Orang-orang percaya di Cali memutuskan untuk melakukan pertemuan doa semalaman yang kedua. Di dalam persiapannya, mereka mensurvei kebutuhan politik, sosial dan spiritual dalam 22 bagian administratif dari kota itu. Mereka kemudian berdoa secara spesifik tentang apa yang mereka telah pelajari. Sekali lagi, perubahan dramatis terjadi. Pihak berwenang Kolombia melancarkan investigasi anti korupsi?bukan hanya di dalam pemerintahan kota Cali, tetapi sampai kepada kantor kepala pemerintahan negara tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
		Sejak saat itu, kota Cali telah bertumbuh secara ekonomi dengan peningkatan lebih dari 25 %. Melihat dampak dari doa-doa orang percaya, walikota Cali mengumumkan “Kota ini memerlukan Yesus Kristus untuk mendatangkan damai.” Otoritas kota itu telah menyediakan pengeras suara dan tempat bagi 22 gerakan penginjilan yang beriringan dengan 40 penginjil nasional dan internasional. Statistik kejahatan menurun, dan penderita AIDS, yang tadinya tertinggi di Amerika Latin mengalami penurunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
		Gereja-gereja di Cali telah bertumbuh secara luar biasa dalam suatu “ledakan rohani.” Menurut ahli pertumbuhan gereja Peter Wagner, Cali telah menjadi kota perintis dengan kualitas yang menentukan, sejak kebangunan rohani dan hal ini menyebar ke kota-kota yang lain. Tetapi harga untuk hal ini dibayar dengan perlawanan spiritual. Pada dua tahun belakangan, lebih dari 200 pendeta di Kolombia telah dibunuh oleh gerilyawan atau pasukan paramiliter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Doa bagi Suku-suku yang Belum Terjangkau ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa yang agresif dan strategis merupakan komponen penting dalam penginjilan terhadap kelompok-kelompok suku yang belum terjangkau dengan dua alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Mendatangkan Ketaatan kepada Kristus ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, kelompok-kelompok suku yang belum terjangkau dapat didefinisikan sebagai suku-suku “tanpa gereja.” Suku-suku yang belum terjangkau bisa didefinisikan dengan ciri khas etnis, linguistik atau sosial. Namun dalam seluruh kasus, suku-suku yang belum terjangkau adalah orang-orang yang belum mengalami gerakan penanaman jemaat yang berkembang, yang mengabarkan dan mendemonstrasikan Injil Kerajaan. Allah ingin agar gereja-gereja menjadi peragaan yang terbuka dari ketaatan kepada Kristus. Setan bekerja untuk menyangkali ketaatan tersebut dengan menipu orang dalam asumsi yang diterima oleh masyarakat secara umum tentang realitas. Kita tidak dapat memastikan bagaimana kubu-kubu pertahanan ini dimulai?mungkin dengan menipu orang melalui anggapan mereka yang tinggi akan “hikmat” mereka ketika mereka mengusahakan kecukupan diri. Tetapi kita dapat melihat bahwa di tempat di mana Kristus tidak ditaati?tempat di mana tidak ada gereja?kubu-kubu seperti itu tidak memiliki penantang, terkadang selama berabad-abad, semakin kuat pada setiap generasi yang berlalu. Perang rohani yang bertekad dan berani dibutuhkan untuk melemahkan dan membongkar kubu anggapan yang menghalangi “pengenalan akan Allah” dan menolak “ketaatan terhadap Kristus” (2 Kor. 10:3-5). Tidak ada bujukan manusia yang dapat membebaskan seluruh masyarakat dari kegelapan itu. Doa sangat penting. Hanya Allah yang bisa, bekerja oleh belas kasihan-Nya mencelikkan kebutaan dari masyarakat luas untuk melihat terang Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Mengutus Para Pekerja untuk Menuai ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan kedua mengapa doa sangat penting bagi suku-suku yang belum terjangkau adalah kita perlu Allah untuk mengirimkan pekerja-Nya. Biasanya suku-suku yang belum terjangkau sangat menolak Injil atau tersembuny, sehingga sangat sedikit, jika ada, misionaris yang bekerja untuk menjangkau mereka. Kristus mengatakan kepada para pengikut pertama-Nya untuk meneliti tempat-tempat di mana tuaian besar tetapi para penuai sangat sedikit dan dengan berani memohon kepada Tuan yang empunya tuaian untuk melakukan apa yang hanya dapat dilakukan-Nya: membangkitkan dan mengutus para pekerja yang efektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sangat menggetarkan melihat terobosan luar biasa yang terjadi di antara kelompok-kelompok suku yang belum terjangkau. Dalam setiap kasus, kita dapat menemukan doa strategis yang diangkat demi kelompok suku tersebut yang mendahului terjadinya terobosan. Sejarah misi kaya dengan kisah-kisah yang sangat mengherankan tentang Allah yang memanggil para pekerja dari seluruh dunia, membuka pintu-pintu masuk, menggagalkan ancaman musuh dan mendemonstrasikan Injil secara berkuasa pada waktu yang tepat. Ketika kita bertindak di dalam doa yang bersatu, strategis dan terkoordinasi, kita lebih mampu untuk melihat bahwa gerakan Allah terkait langsung dengan doa-doa memohon kepada-Nya agar Dia bertindak. Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa Tuan yang empunya tuaian bermaksud mengutus para pekerja di antara setiap suku bangsa di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Pada masa kini kita melihat usaha-usaha bersama yang besar untuk berdoa bagi suku-suku yang belum terjangkau. Usaha “Pray Through The Window” pada tahun 1993-1999 menghubungkan doa-doa dari puluhan juta orang bagi kelompok suku-suku secara spesifik yang belum terjangkau. Ratusan tim bepergian untuk melakukan perjalanan doa di antara kelompok suku-suku ini, seperti yang tim saya lakukan di Kamboja. Perjalanan doa itu sederhananya menolong orang berdoa di tempat di mana mereka berharap Allah mencurahkan jawaban-jawaban-Nya. Karena Allah adalah inisiator awal dari doa, dan orang-orang berdoa dengan dengan berbagai cara yang limpah, kita seharusnya tidak terkejut melihat berbagai tindakan terbesar-Nya terjadi dalam menjangkau bangsa-bangsa dan mentransformasi berbagai masyarakat dalam waktu ke depan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Allah Mendengar dan Dunia Berubah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Kitab Wahyu, Rasul Yohanes menggambarkan sebuah penglihatan yang Allah berikan kepadanya mengenai sejarah umat manusia. Penglihatan tersebut dipenuhi dengan gambaran-gambaran mengenai Allah dan makhluk-makhluk di sorga saling berinteraksi satu sama lain dan dengan dunia kita. Anak Domba Allah membuka ketujuh meterai?masing-masing meterai mempengaruhi sejarah planet bumi ini. Pada akhir pasal tujuh, seluruh sorga bernyanyi dan memuji Allah, menantikan apa yang akan terjadi kemudian dalam sejarah manusia. Akan tetapi, pada awal pasal delapan, semuanya terdiam. Tujuh malaikat dengan tujuh terompet berdiri di hadapan Allah, bersiap mengumumkan nasib dunia yang akan dibukakan, tetapi mereka harus menunggu sampai malaikat kedelapan mempersembahan kemenyan kepada Allah termasuk di dalamnya seluruh doa orang kudus?doa-doa untuk keadilan dan kemenangan. Tidak ada yang bisa terjadi sampai bau harum dari doa-doa ini naik ke hadapan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Doa adalah bentuk yang paling kuat dari aksi sosial karena Allah berespons secara langsung terhadap orang yang berdoa. Doa adalah bagian paling kuat dari misi untuk suku-suku yang belum terjangkau, karena Allah melakukan apa yang bisa dilakukan hanya oleh-Nya. Bahkan dalam situasi yang paling tidak berpengharapan, Dia mematahkan kekuasaan yang palsu dari musuh, mendatangkan terang rohani, dan menghembuskan hidup bagi transformasi sosial yang langgeng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menggunakan tindakan berdoa baik demi mengubah kita dan mengubah masa depan. Seperti kata Walter Wink:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Sejarah menjadi milik para pendoa syafaat yang percaya masa depan …. Bahkan sejumlah kecil orang yang sepenuhnya berkomitmen terhadap hal baru yang tak dapat dihindarkan, di mana mereka melekatkan imajinasi mereka, dapat dengan pasti mempengaruhi bentuk yang akan terjadi di masa depan. Para pembentuk masa depan ini adalah para pendoa syafaat yang memohon akan masa depan, masa kini yang baru yang dirindukan. Mereka percaya masa depan itu ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Yesus_dan_Bangsa-Bangsa_Lain_(3)&amp;diff=727</id>
		<title>Yesus dan Bangsa-Bangsa Lain (3)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Yesus_dan_Bangsa-Bangsa_Lain_(3)&amp;diff=727"/>
		<updated>2015-09-14T17:35:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
... sambungan dari [[yesus dan Bangsa-Bangsa Lain (2)|Bagian 2]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;H. Cornell Goerner&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus memang memiliki keyakinan yang dalam tentang misi khusus kepada bangsa Yahudi. Dia menyatakan hal ini dengan sangat jelas sehingga sebagian orang menyimpulkan bahwa Dia tidak pernah membayangkan misi lain di    luar Israel. Tetapi pertimbangan yang cermat terhadap seluruh perkataan dan tindakan-Nya akan menyatakan bahwa ini merupakan sebuah persoalan strategi: Seperti yang Paulus nyatakan kemudian, misinya adalah “pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani” (Rom. 1:16; 2:10)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Perhatian Yesus terhadap Israel terlihat dalam instruksi-Nya kepada 12 murid ketika Dia mengutus mereka ke dalam misi pemberitaan Injil mereka yang pertama. “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain,” kata Yesus, “atau masuk ke dalam kota orang Samaria melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat. 10:5-6). Alasannya jelas. Waktunya sangat singkat, dan penghukuman sedang datang ke atas bangsa itu, jika tidak ada pertobatan yang cepat. Kebutuhan saat itu sangatlah urgen, lebih urgen bagi bangsa Israel daripada bangsa-bangsa bukan Yahudi, yang masa penghakiman mereka akan tiba kemudian. Memang, di dalam konteks yang sama adalah prediksi bahwa pelayanan pemberitaan para murid pada akhirnya akan diperluas kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi; “karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah” (ay. 18). Tetapi mereka lebih dahulu harus berkonsentrasi pada kota-kota Yahudi, karena waktu dan kesempatan mereka sangat pendek (ay. 23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Lukas juga menceritakan misi pemberitaan Injil yang kedua di mana tujuh puluh murid Yesus yang lain diutus berdua-dua (Luk. 10:1). Sama seperti kedua belas rasul secara simbolis mewakili dua belas suku Israel, tujuh puluh murid yang lain menjadi simbol bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Di dalam Kejadian 10, keturunan Nuh memiliki angka 70 dalam daftar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Tradisi rabi mengasumsikan bahwa angka 70 merupakan jumlah keseluruhan dari bangsa-bangsa yang tersebar ke seluruh bumi setelah peristiwa Menara Babel, dan berulang kali merujuk kepada 70 bangsa bukan Yahudi. Yesus mungkin menggunakan cara simbolisasi ini untuk tujuan jangka panjang-Nya. Kedua belas murid diutus untuk memperingatkan suku-suku Israel akan penghakiman yang akan datang. Ketujuh puluh murid yang lain diutus kemudian dalam pelatihan misi untuk mempersiapkan mereka bagi misi utama mereka kepada seluruh dunia.3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kontak dengan Orang Bukan Yahudi ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar pelayanan publik Yesus dilakukan di dalam wilayah Yahudi. Dalam beberapa keadaan, jumlah kontak pribadi dengan orang bukan Yahudi yang dicatat dalam kitab-kitab Injil adalah mengejutkan. Dia menyembuhkan orang Gadara yang dirasuk setan (Mat. 8:28-34). Di antara 10 orang kusta yang disembuhkan, satu orang adalah orang Samaria, dan Yesus berkomentar tentang fakta bahwa hanya orang asing yang kembali kepada-Nya untuk berterima kasih (Luk. 17:12-19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Seorang wanita Samaria merupakan satu-satunya pendengar dari salah satu khotbah terbesar Yesus. Wanita itu menerima kepastian bahwa waktunya sudah dekat, waktu di mana Allah akan disembah bukan hanya di Yerusalem atau di Gunung Gerizim, tetapi di seluruh dunia “dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:5-42).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Iman seorang wanita Kanaan mendapatkan upah ketika anak perempuannya disembuhkan. Banyak tafsiran yang muncul dari perkataan Yesus yang membingungkan pada awal pertemuan: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat. 15:24). Ini mungkin merupakan teguran yang disengaja terhadap para murid-Nya, yang ingin mengusir perempuan tersebut sebelum permintaannya dijawab, dan karena memiliki prasangka rasial yang adalah hal yang umum pada masa itu. Hal yang paling penting adalah Yesus melayani wanita bukan Yahudi ini dan memuji imannya di hadapan para murid-Nya dan orang-orang Yahudi yang memperhatikan (ay. 28).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kepala prajurit yang pelayannya disembuhkan dapat dipastikan adalah orang Romawi. Pemimpin dari satu regu 100 orang prajurit asing yang bermarkas di Kapernaum untuk menjaga ketertiban, ia dipandang rendah oleh orang-orang Yahudi yang membenci “pasukan penjajah” ini. Sadar akan otoritasnya sebagai orang militer, dia dengan rendah hati meyakinkan Yesus bahwa Dia tidak perlu pergi ke rumahnya untuk menyembuhkan pelayannya (dan mungkin bisa menyebabkan diri Yesus menjadi najis karena memasuki rumah orang bukan Yahudi). “katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh,” katanya dengan iman yang murni (Mat. 8:8). Yesus berbalik dan berkata kepada kerumunan orang Yahudi yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, Aku belum pernah menemukan seorang Ibrani pun yang memiliki iman sebesar pemimpin militer bukan Yahudi ini” (Mat. 8:10, parafrasa dari penulis). Yesus tidak berhenti di situ, tetapi mengatakan prediksi serius ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi (ay. 11-12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kedatangan sekelompok orang Yunani mempercepat krisis akhir dari kehidupan batin Yesus: keputusan-Nya untuk naik ke atas salib. Jelas bahwa kelompok ini bukan hanya orang Yahudi yang sudah terimbas Helenisasi (mengikuti budaya Yunani), tetapi orang asing, entahkah mereka penanya atau proselit, yang telah masuk agama Yahudi dan boleh beribadah dalam wilayah bait Allah, setidaknya di wilayah orang bukan Yahudi. Permintaan mereka untuk temu wicara menyebabkan Yesus menyatakan: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” (Yoh. 12:23). Ketertarikan yang kuat dari orang Yunani membuktikan bahwa dunia telah siap bagi misi penebusan-Nya yang akan berpuncak pada kematian-Nya yang menebus: “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” “Semua orang” ?orang Yunani dan juga Yahudi; bangsa-bangsa lain dan juga bangsa Ibrani?ini merupakan implikasi yang jelas bagi perkataan yang penting dalam Yohanes (12:32).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Minggu Terakhir ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peristiwa akhir minggu di Yerusalem mengusung kesaksian yang fasih akan fakta bahwa Yesus, menolak menjadi Mesias nasionalis Yahudi, bergerak dengan tabah menuju ke salib, sepenuhnya menyadari bahwa Dia harus menegakkan sebuah bangsa Israel yang baru, umat internasional yang multirasial, yang harus mencakup seluruh dunia dalam lingkupnya sebagai suatu kerajaan rohani. Dia memasuki Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai, untuk memenuhi nubuat Zakaria tentang seorang raja yang akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa dan wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut (Zak. 9:9-10). Dia membersihkan pelataran bagi orang bukan Yahudi di bait Allah, dengan berkata secara tajam, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa?” (Mrk. 11:17). Berdiri di bait Allah, dia menegur keras imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, para pemimpin resmi orang Yahudi, karena gagal menjadi penatalayan yang baik dari kebenaran Kerajaan Allah yang telah dipercayakan kepada Bangsa Pilihan, dan dengan serius berkata, “Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu” (Mat. 21:43). Dia menubuatkan kejatuhan Yerusalem dan kehancuran bait Allah dalam generasi tersebut (Mat. 24:34; Mrk. 13:30; Luk. 21:32); tetapi ketika ditanya mengenai akhir zaman, Dia berkata: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu. Sebab Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya” (Mat. 24:4-14). Mengenai kedatangan-Nya dalam kemuliaan, Dia dengan sengaja tidak menyatakan secara jelas, “tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri” (Mat. 24:36). Tetapi saat waktu tersebut tiba, Dia berjanji, “semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing” (25:32, tulisan miring dari penulis).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Tepat sebelum hari raya Paskah, di sebuah rumah di Betania, seorang wanita mengurapi tubuh-Nya dengan minyak wangi yang mahal. Ketika wanita tersebut ditegur karena tindakannya itu yang dianggap memboroskan uang, Yesus dengan tegas membela wanita tersebut dengan perkataan ini: “Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (26:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam berikutnya di ruang atas, bersama dengan para murid-Nya, Dia memeteraikan Perjanjian Baru bersama mereka, mengantisipasi kematian-Nya yang semakin dekat. Dia berkata, sambil memberikan cawan, “inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (ay. 28). Hanya 11 murid yang hadir, dan semua orang Yahudi. Tetapi Yesus tahu bahwa bagian inti yang kecil dari Umat Pilihan yang baru, sisa (remnant) dari orang Israel, segera akan membesar, sebanyak orang yang untuk mereka Dia mati yang mendengar kabar baik dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Doa_Strategis&amp;diff=726</id>
		<title>Doa Strategis</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Doa_Strategis&amp;diff=726"/>
		<updated>2015-09-14T17:35:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{john robb}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah pohon raksasa tumbuh di bantaran Sungai Awash di lembah bertanah sangat kering sekitar dua jam berkendaraan dari Addis Ababa, Etiopia. Pohon itu sudah sangat lama berada di sana dan tampaknya akan terus ada. Karena tidak mampu membawa air di sungai itu ke dataran yang lebih tinggi, orang-orang yang hidup di sekitar wilayah tersebut menderita bencana kelaparan selama bertahun-tahun. Dalam penderitaan mereka, orang-orang tersebut pergi ke pohon tersebut untuk memohon pertolongan. Mereka menyembah pohon raksasa tersebut, percaya bahwa roh telah memberikan pohon tersebut kekuasaan ilahi. Orang-orang dewasa akan mencium batang pohon yang besar itu seraya melewatinya. Mereka berbicara kepada pohon itu dengan nada pelan dan anak-anak kecil berkata, “Pohon ini telah menyelamatkan kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika World Vision memulai sebuah proyek pembangunan pada tahun 1989, termasuk sebuah sistem irigasi untuk membuat lembah kering tersebut menjadi subur untuk pertama kalinya, pohon raksasa tersebut berdiri seperti penghalang yang menjaga tatanan lama. Pohon itu berkuasa atas komunitas di sekitarnya, memperbudak mereka dengan ketakutan. Orang-orang di sekitar pohon itu percaya bahwa roh-roh akan tenang jika dipersembahkan binatang dan memperingati hal yang dianggap tabu. Para pekerja World Vision melihat bagaimana para penduduk itu menyembah pohon tersebut dan melihat bahwa berhala ini merupakan penghalang bagi komunitas tersebut untuk masuk ke dalam kerajaan Kristus dan diubahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Suatu pagi, ketika staf World Vision sedang berdoa, salah satu janji Yesus terpikirkan mereka sebagai secara khusus relevan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi” (Mat. 21:21). Mereka mulai berdoa agar Tuhan mengalahkan Goliat yang menghalangi mereka tersebut. Tidak lama sesudah itu, seluruh komunitas tahu bahwa orang-orang Kristen ini sedang berdoa mengenai pohon tersebut. Enam bulan kemudian, pohon raksasa tersebut mulai mengering. Daun-daunnya mulai menghilang, dan akhirnya tumbang seperti raksasa yang dipukul roboh ke dalam sungai. Orang-orang menjadi terkesima. “Allah Anda telah melakukan semua ini!” kata mereka. “Allah Anda telah mengeringkan pohon ini!” Dalam beberapa minggu, sekitar seratus penduduk menerima Kristus karena mereka telah melihat kuasa-Nya dinyatakan melalui doa orang-orang Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Natur Spiritual dari Masalah-masalah Sosial ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang Kristen selama bertahun-tahun telah terpecah dalam cara yang paling efektif untuk mentransformasi dunia kita. Apakah itu melalui kesaksian verbal atau tindakan sosial? Sebenarnya, keduanya tidak dapat dipisahkan. Tanpa keduanya, tidak ada kabar baik. Ada satu hal yang mengikat kedua hal tersebut?doa. Ketika kita berdoa kepada Allah agar menyelamatkan jiwa-jiwa dan juga mendatangkan keadilan-Nya ke dalam masalah-masalah sehari-hari, penginjilan dan kegiatan sosial terhubung dalam cara yang paling mendasar. Allah yang menginspirasikan doa bagi dunia menggerakkan hati umat-Nya untuk membagikan kabar baik-Nya dan juga mendemonstrasikan kasih dan rahmat-Nya. Di mana pun kita melihat orang datang kepada Kristus, kesehatan meningkat, kesempatan ekonomi meningkat dan nilai-nilai kerajaan Allah bertumbuh, kita melihat orang-orang percaya telah mendoakannya. Oleh karena natur dari kejahatan dalam dunia ini, doa sangat penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika orang-orang Kristen menolong orang miskin dan melawan ketidakadilan, kita kadang-kadang lupa bahwa kita juga melawan para penguasa dan penghulu kegelapan. Sejak peristiwa di Taman Eden, manusia telah menguasai manusia lain dan seluruh masyarakat melalui kerjasama dengan Setan dan roh-roh jahatnya. Ini telah membawa kepada bencana kelaparan yang luas, penyakit, kemiskinan, perbudakan, ketidakadilan dan penderitaan. Kapan pun kita mencoba untuk menolong para korban dari berbagai tragedi ini, kita masuk ke dalam suatu pertempuran yang melibatkan kekuatan-kekuatan spiritual yang besar yang bekerja dalam lingkup masyarakat. Kekuatan-kekuatan spiritual itulah yang menguasai berbagai institusi yang besar, struktur-struktur dan sistem sosial. Baik Setan dan kekuatannya berusaha untuk menghancurkan umat manusia yang dibuat serupa dengan gambar Allah. Setan adalah ahli penipu, sumber penyembahan berhala yang berusaha untuk menguasai dunia. Dia melemahkan iman kepada Allah, membengkokkan nilai-nilai dan menyebarkan berbagai ideologi palsu. Dia menyusup masuk ke dalam institusi-institusi, pemerintahan, media komunikasi, sistem pendidikan dan badan-badan agamawi untuk menggoda manusia agar memuja uang, ketenaran, kesuksesan, kekuasaan, kesenangan, ilmu pengetahuan, seni, politik dan berhala-berhala religius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kekuatan-kekuatan sosial-spiritual dari kejahatan mencengkeram masyarakat dalam kegelapan, mencengkeram dalam dua cara yang berkaitan. Pertama melalui perjanjian yang jelas-jelas merupakan suatu penyembahan berhala. Kedua melalui pola pikir yang salah yang membutakan manusia akan realitas Tuhan dan kebenaran-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kehancuran yang ditimbulkan Penyembahan Berhala ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hampir seluruh Perjanjian Lama, Setan menggoda Israel untuk menjauh dari Allah dan mencoba allah lain dari Mesir, Amori, Kanaan dan Edom. Allah telah memperingatkan orang Israel apa yang akan terjadi jika mereka melakukannya, dan mereka menderita akibatnya – penindasan, perbudakan, invasi bangsa asing dan kemiskinan (Hak. 6:6; 10:16; Ul. 28). Dosa yang sama dan akibatnya juga dialami dunia masa kini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	India Utara adalah salah satu bagian dunia yang tergelap. Orang-orang India sendiri  memperkirakan ada lebih dari tiga ratus juta allah di wilayah tersebut. Kali, dewi kehancuran, adalah dewa regional yang disembah di Kolkata, Bengal Barat. Semua orang yang pernah ke Kolkata mengetahui dampak merusak dari penyembahan Kali terhadap orang-orang di kota tersebut. Di tempat lain di dunia, okultisme berada di balik beberapa ketidakadilan yang paling brutal di abad ini. Di Kamboja, Khmer Merah?yang telah membunuh sekitar dua juga orang pada tahun 1970an?didasarkan pada dua kubu-kubu pertahanan okultisme. Shiwa, dewa perusak dan pembangkit orang Hindu, dan Naga, dewa ular, dipuja di wilayah bagian utara negeri ini. Selama perang saudara di Liberia, para misionaris SIM melaporkan bahwa banyak dari pejuang di sana mempraktikkan  juju, sejenis sihir Afrika untuk mendapatkan kekuatan. Mereka memakai jimat-jimat, memanggil roh-roh untuk masuk ke dalam mereka, mabuk dan membunuh seluruh desa yang dipenuhi orang yang tidak bersalah India Utara adalah salah satu bagian dunia yang tergelap. Orang-orang India sendiri  memperkirakan ada lebih dari tiga ratus juta allah di wilayah tersebut. Kali, dewi kehancuran, adalah dewa regional yang disembah di Kolkata, Bengal Barat. Semua orang yang pernah ke Kolkata mengetahui dampak merusak dari penyembahan Kali terhadap orang-orang di kota tersebut. Di tempat lain di dunia, okultisme berada di balik beberapa ketidakadilan yang paling brutal di abad ini. Di Kamboja, Khmer Merah?yang telah membunuh sekitar dua juga orang pada tahun 1970an?didasarkan pada dua kubu-kubu pertahanan okultisme. Shiwa, dewa perusak dan pembangkit orang Hindu, dan Naga, dewa ular, dipuja di wilayah bagian utara negeri ini. Selama perang saudara di Liberia, para misionaris SIM melaporkan bahwa banyak dari pejuang di sana mempraktikkan  juju, sejenis sihir Afrika untuk mendapatkan kekuatan. Mereka memakai jimat-jimat, memanggil roh-roh untuk masuk ke dalam mereka, mabuk dan membunuh seluruh desa yang dipenuhi orang yang tidak bersalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Keputusasaan dari Kubu-kubu Pertahanan ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Setan tidak mempengaruhi orang melalui penyembahan berhala yang terlihat jelas atau ketakutan terhadap roh-roh, dia mengontrol mereka melalui cara berpikir yang salah yang mengunci mereka dalam kegelapan spiritual. Rasul Paulus menyebut bentuk ikatan seperti ini ketika dia berbicara mengenai “mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah” (2 Kor. 10:5). Paulus menggunakan kata Yunani hupsoma, yang diterjemahkan sebagai “siasat” atau “hal-hal yang tinggi.” Itu merupakan istilah astrologis yang berarti “lingkup di mana kekuatan astrologis memegang kekuasaan.”  Paulus mempertimbangkan bahwa mereka yang menolak Injil memiliki pola pikir yang dipengaruhi kekuasaan seperti itu. Menurut George Otis, Jr.,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Ketika Setan tidak mempengaruhi orang melalui penyembahan berhala yang terlihat jelas atau ketakutan terhadap roh-roh, dia mengontrol mereka melalui cara berpikir yang salah yang mengunci mereka dalam kegelapan spiritual. Rasul Paulus menyebut bentuk ikatan seperti ini ketika dia berbicara mengenai “mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah” (2 Kor. 10:5). Paulus menggunakan kata Yunani hupsoma, yang diterjemahkan sebagai “siasat” atau “hal-hal yang tinggi.” Itu merupakan istilah astrologis yang berarti “lingkup di mana kekuatan astrologis memegang kekuasaan.”  Paulus mempertimbangkan bahwa mereka yang menolak Injil memiliki pola pikir yang dipengaruhi kekuasaan seperti itu. Menurut George Otis, Jr.2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Ketika Setan tidak mempengaruhi orang melalui penyembahan berhala yang terlihat jelas atau ketakutan terhadap roh-roh, dia mengontrol mereka melalui cara berpikir yang salah yang mengunci mereka dalam kegelapan spiritual. Rasul Paulus menyebut bentuk ikatan seperti ini ketika dia berbicara mengenai “mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah” (2 Kor. 10:5). Paulus menggunakan kata Yunani hupsoma, yang diterjemahkan sebagai “siasat” atau “hal-hal yang tinggi.” Itu merupakan istilah astrologis yang berarti “lingkup di mana kekuatan astrologis memegang kekuasaan.”  Paulus mempertimbangkan bahwa mereka yang menolak Injil memiliki pola pikir yang dipengaruhi kekuasaan seperti itu. Menurut George Otis, Jr.3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sebagai contoh, ide “nasib” dalam Hinduisme memenjarakan jutaan orang ke dalam kemiskinan spiritual dan ekonomi. Kekuatan nasib yang tak dapat ditanggulangi ini sangat besar dan menentukan ke dalam kasta mana Anda dilahirkan. Jika Anda dilahirkan ke dalam suatu kasta yang miskin, sangat sedikit kemungkinan Anda dapat meningkatkan kehidupan Anda menjadi seorang pengacara atau akuntan. Pemikiran inilah yang disebut kubu-kubu pertahanan Setan, suatu penipuan yang membelenggu manusia dalam ikatan kemiskinan. Berbagai upaya pengembangan di antara orang-orang yang dipenjarakan oleh wawasan dunia fatalistis ini memiliki dampak yang terbatas karena mereka yakin tidak ada yang akan berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Selain menghalangi orang untuk mencapai potensi yang telah Tuhan berikan kepada mereka, Setan dapat menggunakan kubu-kubu dalam pikiran untuk melepas kehancuran yang luar biasa. Ketika ekstrimis Hutu mengambil alih pemerintahan Rwanda pada tahun 1994, mereka menggunakan stereotipe etnis yang menggambarkan etnis Tutsi sebagai ”kecoa” yang perlu dibasmi. Hanya dalam waktu tiga bulan, kira-kira satu juta orang Tutsi, bersama dengan orang Hutu yang moderat yang menolak untuk menyerang tetangga mereka yang beretnis Tutsi, dibunuh oleh berbagai kelompok pembunuh yang berkeliaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Apa yang harus kita lakukan di tengah kejahatan sosial-spiritual? Jelas, kita harus membagikan kebenaran firman Tuhan untuk menghadapi penipuan seperti itu, tetapi kita juga harus berdoa secara sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Berurusan dengan Kejahatan Supernatural Secara Penuh Kuasa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Roh-roh jahat tidak dapat dipertobatkan atau kita tidak bisa negosiasi dengan mereka. Mereka hanya dapat diusir dengan cara yang penuh kuasa yang disebut sebagai tindakan kekerasan spiritual. Kita berpikir tentang Yesus sebagai model bagi cinta damai, kasih dan tanpa kekerasan terhadap musuh-Nya. Namun, Dia mengajarkan bahwa kita hanya memberi pipi kiri dan kanan kita pada musuh manusia saja, bukan musuh kita Iblis. Dia tidak pernah mengizinkan Setan dan roh-roh jahat melakukan cara mereka. Sebaliknya Dia bertindak dengan kuat, berotoritas, bahkan dengan keras setiap kali berhadapan dengan mereka, menghardik dan mengusir iblis-iblis ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Dia juga berbicara mengenai pergumulan yang keras dan serangan balik yang menyertai datangnya kerajaan Allah: “Kerajaan Sorga diserang dan orang yang menyerangnya mencoba menguasainya” (Mat. 11:12, NASB). Banyak sarjana Alkitab setuju kalau ayat tersebut berarti kerajaan Allah sedang diserang oleh musuh-musuh yang jahat. Umat manusia dan institusi-institusi mereka telah menangkap dan membunuh Yohanes Pembaptis. Para pemimpin agama bekerja sama dengan penguasa Romawi membunuh Yesus. Namun, di balik kekuatan manusia ini Yesus melihat pribadi yang sering disebut-Nya sebagai “pangeran dunia ini.” Dia menyebut Setan sebagai orang kuat yang harus diikat jika ingin membebaskan orang-orang yang telah dikurungnya. Mengikat orang kuat (Mrk. 3:27) melibatkan pertempuran yang keras, tetapi merupakan pertempuran yang pasti akan dimenangkan oleh Gereja melalui kuasa Allah. Yesus sendiri berjanji bahwa “alam maut tidak akan menguasainya (gereja-Nya)” (Mat. 16:18). Rasul Paulus juga menegaskan bahwa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Doa adalah senjata yang menentukan dalam pergumulan ini – dan sering menjadi senjata yang agresif dan berkuasa. Kekuatan-kekuatan ketidakadilan, penindasan dan perang begitu besar sehingga seluruh usaha kita untuk memeranginya akan gagal kecuali kita lebih dulu mengundang Tuhan masuk ke dalam pertempuran. Sampai kita mencapai kemenangan dalam doa, tiada harapan untuk terlibat dalam pertempuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Saya tidak mengatakan bahwa doa merupakan satu-satunya cara yang diperlukan untuk mengubah dunia. Banyak orang Kristen Injili sudah lama sekali menggunakan doa sebagai pengganti tindakan?membiarkan Allah yang bertanggung jawab melakukan apa yang telah Dia perintahkan kepada kita untuk kita lakukan di seluruh Alkitab. Akan tetapi, aksi sosial pun bukan pengganti doa. Masih ada misteri yang mendalam yang menyelubungi doa dan bagaimana Allah menggunakan doa kita untuk mengubah dunia. Seorang theolog bernama Walter Wink menulis:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Doa bukan sihir. Doa tidak selalu berhasil. Doa bukan sesuatu yang kita lakukan, tetapi sebuah respons terhadap apa yang telah sedang Allah lakukan di dalam kita dan di dunia. Doa-doa kita merupakan awal yang diperlukan yang membiarkan Allah bertindak tanpa melanggar kebebasan kita. Doa adalah tindakan ultimat dalam kerjasama kita dengan Allah.4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Secara paradoks, perang yang paling agresif dan sangat kuat yang kita jalani harus diperjuangkan dari hati yang hancur dan kelemahan kita. Contoh utama dari hal ini adalah kemenangan Yesus atas kuasa kegelapan melalui penghinaan dan ketidakberdayaan-Nya di atas kayu salib. Sama seperti itu, kita paling kuat melawan kejahatan ketika kita datang ke salib bersama dengan Yesus?mengakui dan menolak bekerja sama dengan kuasa-kuasa kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pelajaran yang dapat diambil dari Doa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1994, sekelompok pemimpin Kristen Kamboja menceritakan kepada saya tentang intensitas dari pertempuran spiritual yang mereka alami dan meminta bantuan dari para pemimpin doa di luar Kamboja. Saya memimpin sebuah tim untuk membantu 60 pendeta dan penginjil Kamboja dalam doa bagi bangsa mereka. Kita dengan cepat berhadapan dengan pengaruh roh pembunuhan, yang terdapat dalam ritual penyembahan Shiwa, dewa kehancuran, dan Naga, dewa ular. Naga dipercaya merupakan roh pembimbing bagi rakyat Kamboja. Roh Tuhan berbicara melalui salah satu anggota tim, “Sebagian dari kalian tangannya telah menumpahkan darah.” Di dalam ruangan tersebut ada seorang mantan Khmer Merah yang telah membunuh ratusan orang, mungkin ribuan orang. Ratap tangis yang besar menyertai informasi ini, beserta pengakuan terhadap tindakan sangat kejam dalam ladang pembantaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Perendahan diri dan pengakuan di muka umum ini membawa kepada masa di mana orang-orang Kristen Kamboja memutuskan perjanjian yang dibuat di masa lalu antara raja-raja Kamboja dengan kuasa-kuasa kegelapan. Perjanjian ini telah dibuat di kuil Angkor, di bagian utara negara ini. Curahan emosi yang mendalam dan pengakuan dosa ini memulai suatu proses rekonsiliasi yang kemudian menghasilkan pembentukan persekutuan Kristen nasional di Kamboja. Pada saat tulisan ini dibuat, jumlah gerejagereja di Kamboja telah bertumbuh dari 100 menjadi lebih dari 500. Selain itu, Khmer Merah telah menjadi sangat lemah, jika belum hancur, sebagai suatu gerakan teroris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Beberapa hal dari inisiatif doa ini merupakan pelajaran berharga bagi usaha-usaha doa yang lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;b&amp;gt; 1.	Ada banyak doa yang mendahului dan dan mengiringi usaha ini.&amp;lt;/b&amp;gt; Tim kami dan orang-orang Kristen Kamboja tidak berdoa sendiri. Kami didukung oleh ribuan orang yang bersama-sama memohon di seluruh dunia. Bersatu dalam doa?umat Allah bergabung bersama dalam doa di seluruh dunia dengan fokus khusus pada tempat dan orang tertentu?merupakan suatu kombinasi yang sangat berkuasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;b&amp;gt; 2.	Para pemimpin lokal melakukan tindakan pertobatan mewakili bangsa mereka.&amp;lt;/b&amp;gt; Tim kami bertindak sebagai pelayan dan katalis, mengakui bahwa Allah telah memberikan otoritas yang pertama kepada para pemimpin lokal untuk memutuskan perjanjian dengan kekuatan-kekuatan jahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;b&amp;gt; 3.	Merendahkan diri dan hati yang hancur merupakan hal yang penting bagi semua yang terlibat.&amp;lt;/b&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;b&amp;gt; 4.	Kami bergantung pada pimpinan Tuhan di setiap hal.&amp;lt;/b&amp;gt;  Setiap orang yang terlibat dalam usaha doa kami berusaha mendapat pimpinan Roh Allah. Kami meneliti fakta mengenai situasi masa kini yang ada dalam negara ini, sejarahnya, dan kemudian menanti arahan dari Roh Kudus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;b&amp;gt; 5.	Kami berdoa secara menyeluruh.&amp;lt;/b&amp;gt;Kami berdoa bagi pemerintah, masalah-masalah sosial dalam negara itu dan beragam kelompok suku bangsa yang masih belum terjangkau. Kami berdoa untuk kesatuan dan vitalitas gereja. Kami berdoa agar shalom Allah turun ke atas orang Kamboja dengan transformasi spiritual dan sosial secara terus-menerus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;b&amp;gt; 6.	Doa yang efektif adalah doa yang terus-menerus.&amp;lt;/b&amp;gt; Lama setelah kunjungan tim kami ke Kamboja, orang-orang yang ambil bagian dalam tim ini terus berdoa. Perpecahan dan konflik yang barusan terjadi diantara faksi yang berbeda dalam pemerintahan menyadarkan kami bahwa para pendoa syafaat tidak boleh lengah berdoa. Mereka harus mengawasi bangsa mereka seperti penjaga di atas menara, jika tidak Setan akan datang kembali melalu pintu belakang, menciptakan perpecahan dan kehancuran ketika paling kurang diharapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Dapatkan Sesuatu yang Baik terjadi dari Cali? ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam jawaban terhadap doa-doa para pendoa syafaat, shalom Allah dan transformasi juga terjadi di Cali, Kolombia.  Sampai baru-baru ini, kota Amerika Latin ini dicengkeram oleh kartel obat bius yang tidak terkenal yang disebut Cali yang dilaporkan sebagai kelompok kriminal paling besar, paling kaya dan paling baik terorganisasi dalam sejarah. Kartel ini mengontrol sebagian besar pemerintahan dan sejumlah besar uang, mengabadikan kekerasan yang paling keji. Setiap orang yang menolak akan dibunuh. Di tengah keputusasaan, para pendeta di Cali setuju untuk bertemu setiap minggu untuk berdoa bagi kota mereka, dimulai pada bulan Januari 1995.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
		Pada bulan Mei tahun itu, para pendeta tersebut mengadakan doa siaga sepanjang malam di ruang pertemuan umum dengan kapasitas tampung 27.000 orang. Mereka berharap beberapa ribu orang lagi akan hadir dan mengisi bagian bawah. Hasilnya, 30.000 orang hadir untuk berdoa semalaman! Mengutip kata-kata salah seorang penyelenggara,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Tujuan utama dari doa kebangunan adalah menentang para kartel dan para penguasa spiritual mereka yang tidak kelihatan. Keduanya telah memerintah kota dan bangsa kami terlalu lama. Setelah merendahkan diri dihadapan Tuhan dan satu sama lain, kami secara simbolis mengulurkan tongkat kekuasaan Kristus ke atas Cali?termasuk perbudakannya dengan kokain, kekerasan dan korupsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Hasil pertama dari pertemuan doa ini adalah tidak ada pembunuhan yang terjadi selama satu hari sesudahnya. Ini merupakan berita penting karena rata-rata pembunuhan dalam satu hari adalah beberapa kali lipat. (Ada 15.000 pembunuhan di Kolombia pada enam bulan pertama tahun 1993?menjadikan masa itu memiliki tingkat rata-rata pembunuhan tertinggi di dunia, delapan kali lipat lebih besar dari Amerika Serikat.) Selama empat bulan sesudahnya, 900 polisi yang terkait dengan kartel dipecat dari kepolisian. Kemudian, beberapa pendoa syafaat melaporkan mendapat mimpi di mana mereka melihat para malaikat menangkap para pemimpin kartel obat. Di dalam enam minggu sejak penglihatan ini terjadi, pemerintahan Kolombia menyatakan perang habis-habisan terhadap para pemimpin kartel. Bulan Agustus di tahun itu?hanya tiga bulan setelah penglihatan yang Tuhan berikan kepada pendoa?pihak berwenang Kolombia telah menangkap tujuh pemimpin kartel tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Orang-orang percaya di Cali memutuskan untuk melakukan pertemuan doa semalaman yang kedua. Di dalam persiapannya, mereka mensurvei kebutuhan politik, sosial dan spiritual dalam 22 bagian administratif dari kota itu. Mereka kemudian berdoa secara spesifik tentang apa yang mereka telah pelajari. Sekali lagi, perubahan dramatis terjadi. Pihak berwenang Kolombia melancarkan investigasi anti korupsi?bukan hanya di dalam pemerintahan kota Cali, tetapi sampai kepada kantor kepala pemerintahan negara tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
		Sejak saat itu, kota Cali telah bertumbuh secara ekonomi dengan peningkatan lebih dari 25 %. Melihat dampak dari doa-doa orang percaya, walikota Cali mengumumkan “Kota ini memerlukan Yesus Kristus untuk mendatangkan damai.” Otoritas kota itu telah menyediakan pengeras suara dan tempat bagi 22 gerakan penginjilan yang beriringan dengan 40 penginjil nasional dan internasional. Statistik kejahatan menurun, dan penderita AIDS, yang tadinya tertinggi di Amerika Latin mengalami penurunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
		Gereja-gereja di Cali telah bertumbuh secara luar biasa dalam suatu “ledakan rohani.” Menurut ahli pertumbuhan gereja Peter Wagner, Cali telah menjadi kota perintis dengan kualitas yang menentukan, sejak kebangunan rohani dan hal ini menyebar ke kota-kota yang lain. Tetapi harga untuk hal ini dibayar dengan perlawanan spiritual. Pada dua tahun belakangan, lebih dari 200 pendeta di Kolombia telah dibunuh oleh gerilyawan atau pasukan paramiliter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Doa bagi Suku-suku yang Belum Terjangkau ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa yang agresif dan strategis merupakan komponen penting dalam penginjilan terhadap kelompok-kelompok suku yang belum terjangkau dengan dua alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Mendatangkan Ketaatan kepada Kristus ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, kelompok-kelompok suku yang belum terjangkau dapat didefinisikan sebagai suku-suku “tanpa gereja.” Suku-suku yang belum terjangkau bisa didefinisikan dengan ciri khas etnis, linguistik atau sosial. Namun dalam seluruh kasus, suku-suku yang belum terjangkau adalah orang-orang yang belum mengalami gerakan penanaman jemaat yang berkembang, yang mengabarkan dan mendemonstrasikan Injil Kerajaan. Allah ingin agar gereja-gereja menjadi peragaan yang terbuka dari ketaatan kepada Kristus. Setan bekerja untuk menyangkali ketaatan tersebut dengan menipu orang dalam asumsi yang diterima oleh masyarakat secara umum tentang realitas. Kita tidak dapat memastikan bagaimana kubu-kubu pertahanan ini dimulai?mungkin dengan menipu orang melalui anggapan mereka yang tinggi akan “hikmat” mereka ketika mereka mengusahakan kecukupan diri. Tetapi kita dapat melihat bahwa di tempat di mana Kristus tidak ditaati?tempat di mana tidak ada gereja?kubu-kubu seperti itu tidak memiliki penantang, terkadang selama berabad-abad, semakin kuat pada setiap generasi yang berlalu. Perang rohani yang bertekad dan berani dibutuhkan untuk melemahkan dan membongkar kubu anggapan yang menghalangi “pengenalan akan Allah” dan menolak “ketaatan terhadap Kristus” (2 Kor. 10:3-5). Tidak ada bujukan manusia yang dapat membebaskan seluruh masyarakat dari kegelapan itu. Doa sangat penting. Hanya Allah yang bisa, bekerja oleh belas kasihan-Nya mencelikkan kebutaan dari masyarakat luas untuk melihat terang Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Mengutus Para Pekerja untuk Menuai ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan kedua mengapa doa sangat penting bagi suku-suku yang belum terjangkau adalah kita perlu Allah untuk mengirimkan pekerja-Nya. Biasanya suku-suku yang belum terjangkau sangat menolak Injil atau tersembuny, sehingga sangat sedikit, jika ada, misionaris yang bekerja untuk menjangkau mereka. Kristus mengatakan kepada para pengikut pertama-Nya untuk meneliti tempat-tempat di mana tuaian besar tetapi para penuai sangat sedikit dan dengan berani memohon kepada Tuan yang empunya tuaian untuk melakukan apa yang hanya dapat dilakukan-Nya: membangkitkan dan mengutus para pekerja yang efektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Sangat menggetarkan melihat terobosan luar biasa yang terjadi di antara kelompok-kelompok suku yang belum terjangkau. Dalam setiap kasus, kita dapat menemukan doa strategis yang diangkat demi kelompok suku tersebut yang mendahului terjadinya terobosan. Sejarah misi kaya dengan kisah-kisah yang sangat mengherankan tentang Allah yang memanggil para pekerja dari seluruh dunia, membuka pintu-pintu masuk, menggagalkan ancaman musuh dan mendemonstrasikan Injil secara berkuasa pada waktu yang tepat. Ketika kita bertindak di dalam doa yang bersatu, strategis dan terkoordinasi, kita lebih mampu untuk melihat bahwa gerakan Allah terkait langsung dengan doa-doa memohon kepada-Nya agar Dia bertindak. Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa Tuan yang empunya tuaian bermaksud mengutus para pekerja di antara setiap suku bangsa di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Pada masa kini kita melihat usaha-usaha bersama yang besar untuk berdoa bagi suku-suku yang belum terjangkau. Usaha “Pray Through The Window” pada tahun 1993-1999 menghubungkan doa-doa dari puluhan juta orang bagi kelompok suku-suku secara spesifik yang belum terjangkau. Ratusan tim bepergian untuk melakukan perjalanan doa di antara kelompok suku-suku ini, seperti yang tim saya lakukan di Kamboja. Perjalanan doa itu sederhananya menolong orang berdoa di tempat di mana mereka berharap Allah mencurahkan jawaban-jawaban-Nya. Karena Allah adalah inisiator awal dari doa, dan orang-orang berdoa dengan dengan berbagai cara yang limpah, kita seharusnya tidak terkejut melihat berbagai tindakan terbesar-Nya terjadi dalam menjangkau bangsa-bangsa dan mentransformasi berbagai masyarakat dalam waktu ke depan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Allah Mendengar dan Dunia Berubah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Kitab Wahyu, Rasul Yohanes menggambarkan sebuah penglihatan yang Allah berikan kepadanya mengenai sejarah umat manusia. Penglihatan tersebut dipenuhi dengan gambaran-gambaran mengenai Allah dan makhluk-makhluk di sorga saling berinteraksi satu sama lain dan dengan dunia kita. Anak Domba Allah membuka ketujuh meterai?masing-masing meterai mempengaruhi sejarah planet bumi ini. Pada akhir pasal tujuh, seluruh sorga bernyanyi dan memuji Allah, menantikan apa yang akan terjadi kemudian dalam sejarah manusia. Akan tetapi, pada awal pasal delapan, semuanya terdiam. Tujuh malaikat dengan tujuh terompet berdiri di hadapan Allah, bersiap mengumumkan nasib dunia yang akan dibukakan, tetapi mereka harus menunggu sampai malaikat kedelapan mempersembahan kemenyan kepada Allah termasuk di dalamnya seluruh doa orang kudus?doa-doa untuk keadilan dan kemenangan. Tidak ada yang bisa terjadi sampai bau harum dari doa-doa ini naik ke hadapan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Doa adalah bentuk yang paling kuat dari aksi sosial karena Allah berespons secara langsung terhadap orang yang berdoa. Doa adalah bagian paling kuat dari misi untuk suku-suku yang belum terjangkau, karena Allah melakukan apa yang bisa dilakukan hanya oleh-Nya. Bahkan dalam situasi yang paling tidak berpengharapan, Dia mematahkan kekuasaan yang palsu dari musuh, mendatangkan terang rohani, dan menghembuskan hidup bagi transformasi sosial yang langgeng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menggunakan tindakan berdoa baik demi mengubah kita dan mengubah masa depan. Seperti kata Walter Wink:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Sejarah menjadi milik para pendoa syafaat yang percaya masa depan …. Bahkan sejumlah kecil orang yang sepenuhnya berkomitmen terhadap hal baru yang tak dapat dihindarkan, di mana mereka melekatkan imajinasi mereka, dapat dengan pasti mempengaruhi bentuk yang akan terjadi di masa depan. Para pembentuk masa depan ini adalah para pendoa syafaat yang memohon akan masa depan, masa kini yang baru yang dirindukan. Mereka percaya masa depan itu ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Kisah_Kemuliaan-Nya_(1)&amp;diff=725</id>
		<title>Kisah Kemuliaan-Nya (1)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Kisah_Kemuliaan-Nya_(1)&amp;diff=725"/>
		<updated>2015-09-14T17:24:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{steven hawthorne}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab pada dasarnya adalah kisah mengenai Allah. Ketika kita melihat Alkitab sebagai buku pertolongan terhadap diri sendiri, kita akan menjadi bosan atau frustrasi karena menemukan Alkitab berisi kumpulan kisah yang sepertinya tidak beraturan. Bagaimana jika Alkitab sebenarnya lebih banyak bercerita mengenai Allah daripada kita? Betapa menggetarkan menemukan di setiap elemen dari Alkitab kita menemukan?laporan peristiwa, ayat-ayat yang mengandung hikmat, lirik-lirik nubuat?menyatu ke dalam satu kisah utama dari satu Pribadi yang agung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita terbiasa dengan ide bahwa Alkitab adalah kisah nyata. Kisah Alkitab begitu nyata sehingga terus berlangsung sampai saat ini. Kita biasa mendengar bahwa Alkitab adalah kisah kasih. Tetapi kita cenderung hanya melihat satu sisi dari kasih: bagaimana Allah mengasihi manusia. Jika maksud utama Alkitab adalah Allah dikasihi dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan, mungkin lebih bijaksana jika keseluruhan kisah Alkitab dibaca dari sudut pandang Allah. Ketika kita melihatnya dari sudut pandang Allah, kisah kasih yang agung ini akhirnya bisa dimengerti: Allah tidak hanya mengasihi manusia. Dia mentransformasi mereka menjadi manusia yang dapat sepenuhnya mengasihi Dia. Allah menarik manusia sebagai penyembah yang mempersembahkan secara bebas kemuliaan yang diinspirasi oleh kasih kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah hanya dapat dikasihi ketika Dia dikenal. Inilah alasan mengapa kisah Alkitab adalah kisah tentang Allah menyatakan Diri-Nya untuk menarik kepada Diri-Nya ibadah, atau kemuliaan dari bangsa-bangsa. Dengan kasih Allah yang besar di pusat, Alkitab benar-benar merupakan kisah kemuliaan-Nya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Konsep Dasar Kemuliaan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menelusuri kisah Allah sebagaimana kisah tersebut dinyatakan dalam Alkitab, kita perlu mengerti tiga gagasan yang terkait satu sama lain, yang menentukan kisah tersebut di setiap hal: kemuliaan, nama Allah dan ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kemuliaan ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan dibingungkan dengan kata yang terdengar religius “kemuliaan.” Kemuliaan adalah keindahan hubungan yang ingin dilihat hati setiap orang dan bahkan masuk ke dalamnya. Kata “kemuliaan” di dalam Alkitab merujuk kepada nilai esensial, keindahan dan nilai manusia, hal-hal yang diciptakan dan, tentu saja Sang Pencipta sendiri. Kata Ibrani untuk kemuliaan memiliki arti bobot, substansi, dan pada saat yang sama, elegan atau keindahan yang memancar. Memuliakan seseorang sama dengan mengakui nilai intrinsik dan keindahan mereka dan menyatakan hal tersebut secara terbuka. Memuliakan Allah adalah memuji atau menyatakan Dia secara terbuka dan benar. Kemuliaan ada di inti setiap ibadah sejati di sepanjang Alkitab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu (Mzm. 86:9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Kitalah … yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah (memuliakan) dalam Kristus Yesus … (Flp. 3:3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ide mengenai “kemuliaan” juga menggambarkan kehormatan yang dapat diberikan atau dihadiahkan. Ketika seseorang ditinggikan atau dibesarkan, dia, pada taraf tertentu dalam pengertian alkitabiah, dimuliakan. Allah begitu kaya akan kemuliaan sehingga Dia memberikan kehormatan yang besar ke atas pelayan manusia-Nya tanpa mengompromikan kemuliaan-Nya sedikit pun. Yesus menunjukkan kebiasaan kita dalam mencari “kemuliaan seorang dari yang lain,” namun gagal untuk “mencari kemuliaan dari Allah yang Esa” (Yoh. 5:44).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Nama Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di seluruh kisah yang lebih besar dalam Alkitab, para penulis Alkitab menggunakan ide “nama Tuhan” sebagai sebuah ide kunci. Untuk membedakan fungsi-fungsi referensi, penyataan dan reputasi, kita dapat mengerti penggunaannya dengan tiga kategori yang mudah diingat: nama identitas, penyingkapan dan nama populer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Nama Identitas ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, ada nama-nama yang digunakan untuk menyebut Allah dalam Alkitab. Allah tidak pernah tanpa nama dalam kisah-Nya. Dia menggunakan banyak nama bagi diri-Nya. Karena fungsi nama-nama tersebut adalah sebagai referensi, kita dapat menyebut nama-nama tersebut, dalam pembahasan ini, “nama identitas” Allah karena sebuah nama identitas membedakan dan mengidentifikasi seseorang. Kita dapat menyebut Allah dalam Kitab Suci sebagai “Tuhan semesta alam” demikian juga sebagai “Tuhan Maha Kuasa,” atau “Hakim seluruh bumi” atau “Raja kemuliaan.” Setiap nama tersebut betul-betul merupakan nama Allah.1&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Nama Penyingkapan ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, Allah berkenan menyatakan Diri-Nya secara akurat melalui nama apa pun dalam Alkitab. Fungsi dari nama-nama tersebut adalah sebagai penyataan. Sebagai contoh, setiap orang yang pernah beberapa saat merenungkan nama alkitabiah “Tuhan adalah gembalaku” akan memiliki pengertian yang lebih baik mengenai kebaikan Allah yang memelihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Nama Populer ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penggunaan ketiga dari “nama Tuhan” adalah yang paling limpah dalam Alkitab, meskipun kurang diketahui. “Nama Tuhan” paling sering merujuk pada pengertian reputasi publik-Nya. Saya menyebutnya “nama populer” Allah. Fungsinya adalah sebagai reputasi Allah. Nama Tuhan adalah nama global-Nya yang dikenal umum. Nama tersebut adalah memori terbuka, berdasarkan kejadian historis, yang membangun suatu reputasi yang layak untuk dipercaya di kemudian hari. Nama Tuhan adalah keseluruhan kebenaran mengenai Diri-Nya yang telah dinyatakan-Nya dan dideklarasikan dalam kisah Alkitab sejak dahulu sampai sekarang. Orang Ibrani tidak hanya menyimpan kisah ini, tetapi mereka juga menceritakannya. Tidak seperti cara dari banyak agama lain, penyataan Allah tidak pernah menjadi sesuatu yang rahasia bagi sebagian kecil orang. Yesaya memanggil bangsa Israel untuk “memberitahukan perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa,” agar bangsa-bangsa tersebut terus diingatkan kalau “nama-Nya tinggi luhur” (Yes. 12:4). Seperti yang akan kita lihat, sebagian besar kisah Alkitab menceritakan kembali apa yang telah Allah lakukan untuk membuat nama-Nya menjadi besar di antara bangsa-bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ibadah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa Allah ingin dikenal dengan presisi seperti itu? Allah ingin lebih dari sekadar dikenal secara global?Dia rindu untuk disembah secara sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Allah Menyatakan Kemuliaan untuk Menerima Kemuliaan ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemuliaan Allah mengalir dalam dua arah. Pertama, kemuliaan-Nya mengalir ke arah dunia. Dia menunjukkan kemuliaan-Nya kepada manusia di seluruh dunia. Dia menyatakan siapa diri-Nya dan apa yang telah dilakukan-Nya untuk mendatangkan arah kemuliaan yang kedua – agar manusia dapat memuliakan Dia dalam ibadah yang keluar dari kasih kepada-Nya. Allah menyatakan kemuliaan kepada segala suku bangsa agar Dia dapat menerima kemuliaan dari suku bangsa melalui ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mazmur 96 menunjukkan dua arah ini. Allah memerintahkan untuk menyatakan kemuliaan-Nya kepada bangsa-bangsa dalam ayat 2 dan 3:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa suatu penggambaran yang fasih tentang penginjilan dunia! Tetapi pemazmur melanjutkan dengan mengatakan tujuan dari penginjilan dunia dengan menggambarkan aspek kedua dari kemuliaan Allah: respons kemuliaan dari bangsa-bangsa kepada Allah dalam ayat 7 dan 9:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Kepada TUHAN, &lt;br /&gt;
::hai suku-suku bangsa ,&lt;br /&gt;
:kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!&lt;br /&gt;
:Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya,&lt;br /&gt;
:bawalah persembahan dan&lt;br /&gt;
::masuklah ke pelataran-Nya!&lt;br /&gt;
:Sujudlah menyembah kepada TUHAN&lt;br /&gt;
::dengan berhiaskan kekudusan,&lt;br /&gt;
:gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inti dari misi mengalir dari ekonomi kemuliaan yang luar biasa ini: Allah menyatakan kemuliaan-Nya kepada bangsa-bangsa untuk menerima kemuliaan dari seluruh ciptaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Sebuah Tujuan yang Melampaui Keselamatan  ==== &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia memang diselamatkan melalui pemberitaan global akan keselamatan dari Allah, tetapi nilai ultimat dari keselamatan mereka bukan dilihat dari apa mereka diselamatkan, melainkan untuk apa mereka diselamatkan yang sungguh-sungguh penting. Manusia diselamatkan untuk melayani Allah dalam ibadah. Dalam pengertian ini, kita dapat mengatakan bahwa penginjilan dunia adalah bagi Allah. Betapapun terbiasanya kita untuk melihat manusia sebagai tujuan yang sangat penting, Alkitab sangat jelas dalam hal ini: Alasan utama bagi misi adalah kelayakan kolosal dari Allah sendiri. Perhatikan logika dari Mazmur 96:2-4 :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya…. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Suatu Alasan Utama yang Lebih Besar dari Supremasi ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan utama bagi misi kelihatannya sederhana: Karena Allah itu memiliki supremasi, setiap makhluk ciptaan harus tunduk. Namun dapatkan hal ini menjadi logika di pusat alam semesta? Hati kita tidak akan percaya hal ini. Pasti ada sesuatu yang lebih dari itu. Kitab Suci jelas sekali berbicara mengenai kebenaran bahwa Allah itu kasih. Allah memanggil manusia untuk mengasihi Dia dengan segenap apa yang ada pada mereka. Sebagai respons, di mana kasih Allah dan kasih kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menuntut ibadah hanya karena Dia memiliki supremasi tidak terlihat sebagai Allah yang mengasihi. Faktanya, Allah sedemikian bahkan tidak terlihat layak dikagumi. Kegemaran Allah untuk disembah dapat membuat Dia terlihat seperti sedang bergumul dengan gambaran diri yang rendah. Adalah bodoh membicarakan kecemburuan Allah untuk disembah seakan-akan Dia seperti dewa sebuah suku yang cepat marah karena terancam oleh dewa-dewa saingannya. Allah tidak merasa terancam; sebaliknya Dia secara tak terukur merasa sedih oleh ibadah yang palsu. Ketika manusia beribadah kepada hal apa pun selain Dia, mereka menjadi seperti apa yang mereka sembah. Allah memiliki maksud yang lebih baik bagi manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ibadah yang benar itu? Ibadah terjadi ketika manusia mengenali siapa Allah dan memberikan pernyataan publik dan secara bebas mendekat kepada Allah, secara pribadi memberi ucapan syukur secara langsung kepada-Nya dan kesetiaan mereka setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibadah adalah interaksi relasional dengan Tuhan.  Itulah alasannya Allah selalu menerima kita dalam ibadah dengan membawa pemberian. Dia tidak pernah membutuhkan pemberian dalam ibadah. Tetapi pemberian itu mendatangkan yang memberi. Inilah alasannya bangsa-bangsa didorong untuk datang membawa pemberian, memberi pemberian yang terbaik kepada Allah (Mzm. 96:8 dan banyak ayat lainnya). Melalui korban dan pemberian mereka, mereka memberi diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Sepenuhnya Memberikan Kasih-Nya ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa Allah begitu berhasrat akan penyembahan? Ada dua alasan: Dia menyukai kasih yang tulus yang diberikan kepada-Nya dalam ibadah yang benar. Alasan yang kedua: melalui mengundang manusia ke dalam ibadah yang benar, Allah dapat sepenuhnya memberikan kasih-Nya kepada mereka. Anda dapat melihatnya dalam Mazmur 96:6:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keagungan dan semarak” tidak merujuk pada pengalaman diri Allah. Sebaliknya, bersama dengan “kekuatan dan kehormatan” (bagian yang paralel dengan bagian ini menyebut “sukacita” yaitu 1 Taw. 16:27), merupakan ciri dari kehadiran Allah yang akan dialami manusia yang mendekati Dia di dalam ibadah yang benar. Tidak ada yang lebih agung dan semarak bagi manusia daripada ditinggikan dan ditempatkan di hadapan kehadiran Allah sebagai raja yang agung dan mulia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibadah adalah cara manusia memuliakan Allah. Ketika dilihat dari sudut pandang Allah, kita dapat melihat bahwa ibadah juga merupakan cara Allah memuliakan manusia – dalam segala arti yang terbaik membawa manusia ke dalam kehormatannya yang tertinggi. Ibadah memenuhi kasih Allah. Dia begitu mengasihi manusia sehingga Dia mau meninggikan mereka kepada sesuatu yang lebih dari sekadar kebesaran; Dia ingin membawa mereka kepada kedekatan yang dihormati untuk-Nya. Rentangkan pikiran dan hati Anda sejauh mungkin, tetapi Anda tidak akan pernah bisa mengerti apa yang telah Allah siapkan bagi mereka yang mengasihi Dia (1 Kor. 2:9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Yohanes pernah mencicipi “keagungan dan semarak” dari apa yang dia saksikan dalam penglihatan di Wahyu 5:1-14. Dia mendengar segala kumpulan di sorga menaikkan suara mereka memuji keagungan Allah bahwa Dia sendiri telah menebus manusia dari segala bangsa dan bahasa. Mengapa Allah mau menebus manusia yang rendah dengan harga yang sangat mahal yaitu darah Anak-Nya? Lebih lagi, mengapa Dia telah menebus manusia dari setiap etnis? Apa nilai mereka? Nilai mereka adalah: Mereka akan menjadi imamat rajani bagi-Nya. Sejumlah manusia dari setiap suku bangsa akan dengan senang hati memberikan kemuliaan dan kehormatan yang berbeda dari suku mereka masing-masing kepada Allah. Masing-masing suku bangsa memiliki nilai yang kekal karena darah Kristus. Setiap suku bangsa yang telah ditebus memiliki tempat di hadapan-Nya. Allah telah menetapkan hati-Nya yang luar biasa untuk membawa mereka ke hadapan-Nya. Ini yang harus terlihat. Kasih Allah yang tak terbalas bagi setiap suku bangsa merupakan inti dari setiap upaya misi yang sejati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemazmur merenungkan fanatisme Allah bagi setiap kelompok suku di bumi. Allah memanggil setiap “kaum dari suku-suku bangsa,” di mana mereka dihubungkan oleh darah dan pernikahan dari generasi ke generasi. Masing-masing kaum ini memiliki sejarah dan tujuan di hadapan Allah. Secara bahasa formal mereka diundang ke hadapan-Nya di mana Dia bertakhta sebagai raja (Mzm. 96:7-9). Mereka tidak datang dengan tangan kosong, tetapi mereka harus membawa kepada Allah sebuah contoh kemuliaan yang unik dan kekuatan dari suku mereka. Suku-suku bangsa harus menyatakan pujian kepada Tuhan dalam bahasa mereka masing-masing, namun tak satu suku pun memberikan tebakan spekulatif tentang apa itu pujian yang benar. Hanya kebenaran yang Allah telah nyatakan mengenai Diri-Nya sendiri – ”kemuliaan nama-Nya” – yang adalah substansi dan ukuran yang benar dari pujian yang layak (ay. 8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Alkitab Sebagai Kisah Allah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab adalah drama yang sangat mengherankan tentang kasih Allah yang menarik penyembahan dari bangsa-bangsa. Ingat tesis dasarnya: Allah menyatakan kemuliaan-Nya kepada segala suku bangsa agar Dia menerima kemuliaan dari seluruh ciptaan. Dimensi ganda dari kemuliaan ini dapat menolong kita mengerti campur aduk yang tampak dari kisah kuno ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Abraham  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Abraham tiba di tanah perjanjian, dia tidak menonjol sebagai seorang misionaris yang hebat, bagaimanapun kita mendefinisikan peran tersebut. Abraham tidak tercatat sebagai seorang penginjil besar. Abraham dikeluarkan dari Mesir dengan dipermalukan (Kej. 12:10-20). Bangsa-bangsa tetangga di sekitar Abraham membuat dia takut sehingga dia berbohong mengenai keluarganya. Alasan Abraham berbohong mengenai istrinya tidak menunjukkan keyakinan seorang penginjil bahwa kehidupan dapat berubah: “Takut akan Allah tidak ada di tempat ini” (Kej. 20:11). Tetapi dari semua kegagalannya, Abraham melakukan hal terutama yang dapat dilakukannya ketika pertama kali tiba di tanah yang baru: Tindakan pertama Abraham adalah menegakkan keberlangsungan ibadah umum kepada Allah. “Lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN” (Kej. 12:7-8). Kaum keluarganya mungkin merupakan satu-satunya yang beribadah di mezbah itu, tetapi Allah secara eksplisit disembah nama-Nya secara terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Diberkati untuk Menjadi Berkat, untuk Menjadi Berkat ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu peristiwa Abraham menyelamatkan para tetangganya dari sekelompok suku bangsa yang datang merampok (Kej. 14). Setelah kemenangan yang luar biasa, Abraham menolak menerima hadiah yang berlimpah dari raja Sodom. Jika Abraham menerima pemberian tersebut, dia tahu bahwa sejak saat itu, dia dan keluarganya akan dianggap tinggal di bawah dukungan kota itu. Sebaliknya Abraham memilih menempatkan dirinya di hadapan bangsa-bangsa lain sebagai kaum yang secara khusus diberkati oleh Tuhan.3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hadapan bangsa-bangsa yang mengamati, Abraham secara tegas menyebut Tuhan sebagai pribadi yang akan memberkati dia. Perkataan Abraham yang berani (Kej. 14:21-24) ditegaskan melalui pemberian yang Abraham persembahkan kepada Tuhan. Abraham mempersembahkan kekayaan Sodom dan juga bangsa-bangsa lain kepada Tuhan. Dia membantu bangsa-bangsa asing memberikan persepuluhan kepada Tuhan, suatu tindakan ibadah formal yang dikenal pada waktu itu (Kej. 14:18-20). Dengan Melkisedek sebagai imam yang memimpin, Abraham berfungsi sebagai imam yang mempersembahkan pemberian ibadah mewakili bangsa-bangsa lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abraham diberkati untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (Kej. 12:1-3). Namun tujuan Allah lebih dari sekadar memberkati bangsa-bangsa. Allah sendiri dipuji! Melkisedek secara terbuka mengakui bahwa Abraham diberkati oleh Tuhan. Melalui kuasa Allah, Abraham telah menjadi berkat bagi bangsa-bangsa sekitar dengan menyelamatkan keluarga yang diperbudak dan harta benda mereka. Tetapi hasil terbesar adalah bahwa Allah sendiri akan dipuji! Perhatikan perkataan Melkisedek: “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi … dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi …” (Kej. 14:18-20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang kita pelajari dari seluruh rangkaian kejadian ini? Abraham menjadikan nama Tuhan dikenal melalui keberlangsungan ibadahnya. Allah membuat nama-Nya besar oleh kuasa penebusan dramatis melalui umat-Nya. Hasilnya adalah sejumlah besar bangsa berkumpul memberi hormat di mana Allah disembah secara eksplisit dalam kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Tujuan Global Ditegaskan oleh Ketaatan dalam Ibadah ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Momen terpenting dari hidup Abraham adalah peristiwa ibadah (Kej. 22). Allah memerintahkan Abraham membawa anaknya Ishak untuk menjadi korban ibadah. Perintah tersebut merupakan sebuah ujian untuk membuktikan akan menjadi apa Abraham dan keluarganya. Akankah Allah menemukan hasrat keimaman yang taat akan Allah (secara harfiah, “takut akan Allah,” Kej. 22:12)? Akankah Abraham membuktikan dirinya benar-benar bersemangat  memberikan ibadah yang Allah inginkan? Jika benar, Allah akan menemukan di dalam diri Abraham jenis iman yang Allah ingin untuk dilipatgandakan di antara bangsa-bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda sudah mengetahui kisah ini. Pada saat Abraham taat dalam ibadah tersebut, Tuhan berbicara dari atas dengan sumpah, menyatakan tujuan global-Nya dengan penuh kuasa untuk memberkati semua bangsa di bumi melalui keluarga Abraham (Kej. 22:18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Peristiwa Eksodus ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah lebih banyak bertindak demi nama-Nya daripada mendapat ibadah awal dari Abraham. Allah menyatakan diri secara global dengan cara yang besar dalam peristiwa Eksodus. Sekilas, peristiwa Eksodus tidak terlihat sebagai peristiwa misi yang besar. Ribuan orang Mesir mati. Dukacita meliputi seluruh keluarga di Mesir. Apa yang Allah lakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop kuncinya adalah Keluaran 9:13-16 di mana Musa memberi peringatan terakhir pada Firaun, dengan perkataan yang berani tentang tujuan Tuhan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Bangunlah pagi-pagi dan berdirilah menantikan Firaun dan katakan kepadanya: Beginilah firman TUHAN, Allah orang Ibrani: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku. Sebab sekali ini Aku akan melepaskan segala tulah-Ku terhadap engkau sendiri, terhadap pegawai-pegawaimu dan terhadap rakyatmu, dengan maksud supaya engkau mengetahui, bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi. Bukankah sudah lama Aku dapat mengacungkan tangan-Ku untuk membunuh engkau dan rakyatmu dengan penyakit sampar, sehingga engkau terhapus dari atas bumi; akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatan-Ku, dan supaya nama-Ku dimashyurkan di seluruh bumi (tulisan miring dari saya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bahwa Allah tidak pernah mengatakan, “Biarkanlah umat-Ku pergi!” Itu baru setengah kalimat, tanpa tujuannya, yang dengan jelas dikemukakan setiap kali Musa mengatakannya. Perhatikan seluruh seruan tersebut: “Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Kel. 8:1, 20; 9:1, 13; 10:3)4 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Firaun mengerti dengan jelas seluruh tuntutan Musa agar bangsa Israel dilepaskan untuk beribadah. Firaun mungkin mengira kalau permohonan untuk bebas beribadah merupakan suatu taktik tersembunyi untuk menyusun rencana melarikan diri. Mungkin banyak orang Ibrani telah melakukan kesalahan yang sama. Berapa banyak dari mereka yang mungkin berpikir kalau rencana untuk beribadah kepada Tuhan di padang belantara merupakan tipuan untuk mengecoh yang berkuasa? Apakah itu mengherankan bahwa banyak dari mereka tetap terpaku pada kenyamanan, diet, keamanan dan hiburan? Mereka lambat mengerti kalau dalam peristiwa keluarnya mereka, Allah memiliki tujuan bagi Diri-Nya sendiri di hadapan bangsa-bangsa. Mereka telah menjungkirbalikkan keselamatan tersebut: mereka benar-benar berpikir bahwa penyelamatan terhadap mereka merupakan perhatian utama Tuhan. Sebaliknya, Allah sedang mengorkestrasi rencana yang luar biasa untuk menarik perhatian bangsa-bangsa kepada Diri-Nya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Allah Menarik Perhatian Global bagi Nama-Nya ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah memilih Diri-Nya sendiri dari segala allah di bumi. Dia membuat “nama abadi” bagi Diri-Nya melalui peristiwa Eksodus (Yes. 63:11-14 dan Neh. 9:9-10). Dia ingin setiap orang di Mesir dan bangsa-bangsa lain mengetahui bahwa mutlaknya tidak ada allah lain seperti Diri-Nya, satu-satunya Allah yang hidup. Dia ingin dunia menyaksikan sekumpulan besar budak berbaris untuk beribadah kepada-Nya. Allah menegakkan reputasi-Nya sebagai Allah yang lebih besar dan sangat berbeda (sungguh kudus, bukan sekadar lebih kudus) dari allah-allah lain yang pernah dipikirkan oleh manusia?Allah yang agung, indah dan mahakuasa. Peristiwa Eksodus dimaksudkan sebagai titik rujukan bagi segala penyataan yang berikutnya kepada dunia mengenai karakter-Nya, kekudusan-Nya dan kuasa-Nya. Bagaimana bisa kekacauan yang terjadi di Mesir menyatakan Allah yang hidup? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Menghakimi Ilah-ilah Mesir ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa sarjana telah mencatat bahwa setiap tulah di Mesir ditujukan terhadap ilah-ilah palsu Mesir atau struktur kekuasaan yang bersifat menindas yang dihormati secara fanatis.  Beberapa ilah Mesir, seperti Sungai Nil, atau dewa matahari, secara langsung dipermalukan oleh tulah darah dan kegelapan. Ilah-ilah yang lain secara langsung dipermalukan dengan mempertunjukkan ketidakmampuan mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Ada ilah yang dipuja karena dapat menangkal serbuan serangga atau melindungi ternak dari penyakit. Petinggi agama yang berkuasa dipermalukan. Militer Mesir yang sangat ditakuti secara ringkas dilenyapkan. Mengapa Allah menghancurkan Mesir di hadapan dunia yang menyaksikan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menjalankan penghukuman “kepada semua allah di Mesir” (Kel. 12:12). Allah tidak bermaksud menghancurkan manusia, tetapi menghancurkan sekumpulan allah palsu yang sangat dihormati di muka bumi. Jika Allah mau menghancurkan bangsa Mesir Dia dapat melakukannya dengan cepat. “Bukankah sudah lama Aku dapat mengacungkan tangan-Ku untuk membunuh engkau …, sehingga engkau terhapus dari atas bumi; akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup … supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi” (Kel. 9:15-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Bangsa-bangsa Memperhatikan ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah berhasil? Apakah dunia memperhatikan ketika Allah menjadikan nama-Nya besar? Kehancuran yang dicatat dalam kitab Keluaran tidak terlihat dalam tulisan Mesir kuno berupa simbol-simbol, tetapi kita harus mengerti bahwa peristiwa yang merusak nama Mesir ini tidak pernah dilupakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab melaporkan bahwa gelombang Laut Merah belum sepenuhnya surut ketika Musa memimpin bangsa Israel bernyanyi, “TUHAN, itulah nama-Nya…. Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu?” Kemudian mereka mulai menyebutkan beberapa bangsa-bangsa di sekitar mereka, menyatakan dengan jelas bahwa: “Bangsa-bangsa mendengarnya, merekapun menggigil …” (Kel. 15:3, 11, 14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yitro telah dimasukkan ke dalam keluarga Musa, tetapi tidak mengikuti kepercayaan orang Yahudi. Dia pasti telah mendengar tentang Allah orang Ibrani selama bertahun-tahun dari Musa. Mungkin banyak orang dan kota telah mendengar sesuatu mengenai Allah yang luar biasa ini tanpa percaya atau beribadah kepada-Nya. Tetapi perhatikan perkataan Yitro setelah tulah di Mesir. “Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, karena memang orang-orang ini telah bertindak angkuh terhadap mereka” (Kel. 18:11). Yitro adalah seorang imam kepala dari sebuah suku bangsa asing, berkualifikasi untuk menilai masalah religius (Kel. 18:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya kita membaca kisah Musa melawan orang Mesir pada hari ini, sepertinya Mesir hanyalah salah satu kerajaan jahat yang menganiaya budak. Pada zaman Musa sudah merupakan pengetahuan umum kalau Mesir adalah sebuah kompleks dari kekuatan religius, ekonomi dan militer yang secara tak terelakkan dijerat dengan kekuatan-kekuatan rohani. Allah mengatasi sistem tersebut untuk menunjukkan apa inti semuanya ini?sesuatu kekuatan rohani yang jahat dan menakutkan, yang diabdikan untuk menghalangi orang-orang yang ingin beribadah kepada Allah. Allah telah memberkati Mesir, tetapi Mesir telah menjadikan dirinya musuh Tuhan. “Penghukuman” Tuhan melalui tulah dan peristiwa di Laut Merah (Kel. 12:12) jangan dimengerti semata-mata sebagai hukuman bagi perbuatan yang salah. Intervensi Allah menghancurkan kuk kejahatan untuk membebaskan manusia. Mengapa mereka dibebaskan? “Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku.” Allah telah mengorkestrasi peristiwa Eksodus agar kemuliaan-Nya dinyatakan dengan membuat nama-Nya dikenal secara global. Kemudian, dengan dunia menyaksikan, Dia menarik umat bagi Diri-Nya untuk menegakkan suatu cara ibadah di mana bangsa-bangsa lain dapat ikut serta di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penaklukan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penaklukan Kanaan harus dimengerti dalam terang Tuhan memenangkan sebuah umat, umat yang kudus bagi diri-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Bagi umat ini, dan melalui kesaksian mereka, Dia akan menarik setiap suku bangsa lainnya untuk menghormati dan mengenal Dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ganjaran yang Adil ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara sekilas bagi pembaca moderen, penaklukan tersebut terlihat seperti perebutan wilayah yang bersifat genosida ketimbang sebuah tindakan dari Allah yang penuh kasih dan baik. Tetapi melihat lebih dekat bagian Alkitab yang terkait menunjukkan bahwa Tuhan menetapkan penaklukan Kanaan dengan tujuan ganda. Pertama, Tuhan memberikan ganjaran yang adil bagi “kejahatan” orang-orang di wilayah tersebut (Ul. 9:5). Lama sebelum peristiwa ini, Allah telah mengatakan kepada Abraham bahwa “kedurjanaan orang Amori itu belum genap” (Kej. 15:16). Allah mengizinkan dosa terjadi secara penuh. Kita mungkin membayangkan bagaimana perasaan orang Kanaan tentang murka Allah. Satu pernyataan tercatat mengenai penaklukan dari orang Kanaan berasal dari seorang raja yang mengakui pelaksanaan yang adil dari keadilan Allah: “sesuai dengan yang kulakukan itu, demikianlah dibalaskan Allah kepadaku” (Hak. 1:7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Menghancurkan Ibadah yang Palsu ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, dan yang terutama, mengenai alasan untuk kekejaman menyeluruh dari penaklukan orang Ibrani adalah: Allah sedang menghancurkan sistem ibadah yang palsu demi mempertahankan devosi tunggal dari umat-Nya dan kekudusan nama-Nya. Hampir setiap bagian yang menggambarkan pemikiran di belakang penaklukan wilayah Kanaan memberikan alasan ini: ibadah orang Kanaan dapat dengan cepat membuat orang Ibrani “menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain” (Ul. 4:15-24; 6:13-15; 7:1-8; dst.). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yosua dan Musa keduanya menyerukan alasan yang sama yang Allah berikan bagi kekerasan dari penaklukan: pada intinya, semua itu merupakan suatu penghancuran terhadap ibadah yang palsu. Allah telah mengamanatkan penghancuran agar Israel jangan pernah “mengakui nama allah mereka dan bersumpah demi nama itu, dan beribadah atau sujud menyembah kepada mereka” (Yos. 23:7). Meskipun ada beberapa kesulitan untuk sepenuhnya memahami bagian cerita tentang umat Allah, satu hal yang jelas mengenai penaklukan ini: tujuannya adalah murni berkaitan dengan ibadah. Tujuan Allah bukanlah agar Israel menjadi satu-satunya bangsa yang beribadah kepada-Nya. Tujuan-Nya adalah untuk memastikan agar Dia menjadi satu-satunya Allah yang mereka sembah dalam ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pemujaan Berhala akan Menajiskan Nama Allah ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemujaan berhala sepertinya tidak menjadi ancaman bagi orang percaya pada hari ini. Keempat perintah pertama dari Sepuluh Perintah Tuhan dapat membingungkan atau bahkan membuat kita jadi bosan. Mengapa Allah begitu bersemangat tentang pemujaan berhala? Tanpa mengerti tujuan global Allah untuk kemuliaan-Nya, kelihatannya Allah terlalu berlebihan berkenaan dengan kebiasaan primitif yang menjijikan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi mari kita melihat pemujaan berhala dari sudut pandang Allah. Allah telah membedakan nama-Nya jauh di atas allah-allah lain. Setiap jenis pemujaan berhala pada akhirnya akan berdampak pada pengotoran (yaitu menjadikannya sebagai hal yang biasa) nama Allah, nama yang Allah telah pilih dan gaungkan ke seluruh dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan kembali peristiwa penaklukan Kanaan. Tujuan dari invasi bukan karena Israel layak mendapatkan wilayah milik orang lain. Allah mengatakan dengan jelas secara berulang-ulang kepada Israel kalau mereka dikhususkan atau dipilih bukan karena kebenaran mereka sendiri atau jumlah mereka yang banyak (Ul. 7:6-7). Israel berulang kali diberitahu bahwa Allah akan menghancurkan mereka sama cepatnya jika mereka berbalik dari menyembah Dia dan beribadah kepada allah lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan Alkitab memperlihatkan secara jelas kalau orang Ibrani beberapa kali hampir dihancurkan sepenuhnya oleh Allah. Mengapa? Bukankah Allah secara khusus mengasihi dan menyelamatkan mereka? Untuk semua kasih khusus yang Allah  telah janjikan kepada keturunan Abraham, Allah berketetapan hati bekerja demi kemuliaan-Nya. Allah tidak segan untuk menunda dan berurusan dengan generasi yang lain. Masalah pokok dalam setiap keadaan kritis adalah ibadah umat Allah dan kesaksian mereka bagi kemuliaan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu contoh membuat tujuan Allah yang tetap ini menjadi jelas: pemberontakan di Kadesy. Orang Israel telah mengikuti Allah melalui suatu cara terbuka di hadapan Allah, dan sedang berada di puncak pemenuhan tujuan Allah. Mata-mata dikirim untuk melihat wilayah tersebut dan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Sepuluh mata-mata membuat takut seluruh bangsa, menyebabkan pemberontakan histeris umat Israel demi keamanan diri mereka (Bil. 13:17 – 14:10). Allah sudah siap untuk menghancurkan seluruh bangsa Israel dan memulai dari awal dengan Musa, membuat dari Musa dan keturunannya bangsa lain yang “lebih besar dan kuat” daripada orang-orang Ibrani ini. Masalahnya bukanlah bahwa umat Israel telah melakukan perbuatan yang begitu buruk sehingga Allah menjadi sangat marah. Allah hanya menginginkan sebuah bangsa yang setidaknya akan percaya kepada-Nya demi tujuan-Nya dapat dilaksanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musa bercakap-cakap dengan Tuhan, mengatakan apa yang sebelumnya pernah dia katakan (Kel. 32:1-14) bahwa bangsa-bangsa lain sedang memperhatikan. Bangsa-bangsa tersebut telah mendengar nama Tuhan dan jangan sampai mereka berkata hal yang salah karena apa yang akan Allah lakukan sekarang ini. “Jadi jikalau Engkau membunuh bangsa ini sampai habis, maka bangsa-bangsa yang mendengar kabar tentang Engkau (secara harfiah “nama”) itu nanti berkata: Oleh karena TUHAN tidak berkuasa membawa bangsa ini masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya …” Musa menantang Allah, mengatakan bahwa bangsa-bangsa tersebut akan menyimpulkan kalau Allah orang Ibrani itu adalah Allah yang lemah – menjanjikan sesuatu tetapi tidak dipenuhi (Bil. 14:15-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Musa meminta Allah meninggikan Diri-Nya sesuai dengan apa yang Allah sendiri firmankan: “TUHAN itu berpanjang sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran …”  Surga mungkin terdiam sejenak, dan kemudian Allah berkata bahwa Dia telah mengampuni Israel sesuai doa Musa. Kemudian, saya kira, Allah meninggikan suara-Nya, mengutarakan ekspresi yang paling kuat yang mungkin ada: “Hanya, demi Aku yang hidup dan kemuliaan TUHAN memenuhi seluruh bumi” (Bil. 14:17-21).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang ingin Allah katakan? Artinya Allah akan terus menggunakan bangsa Israel, tetapi menunggu generasi berikutnya. Meskipun Allah menunda, Dia tetap secara kekal berketetapan hati melaksanakan tujuan-Nya di bumi: memenuhi bumi dengan “kemuliaan Tuhan.” Untuk memenuhi tujuan tersebut membutuhkan umat yang taat, beribadah dan bersaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bait Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin bait Allah disebutkan pertama kali secara jelas adalah di dataran Moab sebelum Yosua memimpin bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian. Musa memberitahu perintah Allah untuk memusnahkan sama sekali “segala tempat, di mana bangsa-bangsa … beribadah kepada allah mereka.” Tempat ibadah ini tidak akan didirikan dari bekas tempat ibadah bangsa lain, tetapi tempat ibadah bangsa lain tersebut harus dimusnahkan sama sekali agar “nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu.” Nama Allah tidak pernah boleh diidentikkan dengan nama allah lain. Sebaliknya suatu tempat yang baru dan khusus akan dibangun, “sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana” (Ul. 12:2-14, terutama ayat 5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan pernyataan Allah mengenai tujuan dari tempat ibadah: “sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana.” Allah ingin melakukan dua hal dalam tempat khusus ini. Pertama, Dia ingin menyatakan Diri-Nya melalui “nama-Nya.” Tempat tersebut akan menjadi tempat penyataan ketika orang-orang yang beribadah terus menerus meninggikan karakter Allah dan memberitakan kisah tentang Allah dan bernyanyi tentang karya-Nya. Kedua, Allah menginginkan sebuah tempat pertemuan, tempat untuk berelasi, tempat untuk bersemayam. Sejak pertama kali bait Allah disebut, Allah sudah menyatakan keinginan-Nya untuk menikmati kedekatan di antara umat-Nya sebagai Tuhan yang ditinggikan, “supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka” (Kel. 25:8). Untuk “berdiam” merupakan suatu urusan relasional. Itulah ibadah yang disempurnakan. Allah mendekat kepada umat-Nya seraya mereka mendekat kepada-Nya. Salomo mengetahui kalau bait Allah bukan tempat tinggal Allah yang tetap. Ketika Salomo mempersembahkan bangunan bait Allah yang sudah jadi itu, dia berdoa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::“Tetapi benarkah Allah hendak diam bersama dengan manusia di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini” (2 Taw. 6:18). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daud telah merancang bait Allah sebagai tempat untuk mendekati Allah dengan pujian. Salomo menaruh para penyanyi dan pemusik yang telah ayahnya rencanakan. Para penyanyi ini harus terus “memuji dan memuliakan TUHAN” mengutip sebagian lagu Daud, dan tidak diragukan menggunakan himne puji-pujian Daud yang ditemukan dalam 1 Tawarikh 16:23-33 (salah satu versi yang mengikuti Mzm. 96, telah dibahas di atas), yang secara eksplisit memanggil “suku-suku bangsa” untuk beribadah kepada Allah (ay. 28).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut doa dedikasi Salomo, rumah Tuhan adalah tempat di mana Tuhan akan melihat, mendengar dan menjawab umat-Nya. Namun rumah Tuhan itu tidak hanya bagi orang Israel. Salomo menyebut “segala bangsa.” Salomo tahu bahwa tujuan Allah bagi bait Allah adalah menyambut segala bangsa untuk beribadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salomo mengetahui kisah ini sampai di situ. Allah telah membuat Diri-Nya dikenal luas. Orang-orang dari bangsa-bangsa lain akan berusaha mengenal Allah Israel secara pribadi. Dengarkan doa Salomo yang luar biasa ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Juga apabila seorang asing, yang tidak termasuk umat-Mu Israel, datang dari negeri jauh oleh karena nama-Mu, sebab orang akan mendengar tentang nama-Mu yang besar dan tentang tangan-Mu yang kuat dan lengan-Mu yang teracung – dan ia datang berdoa di rumah ini, maka Engkaupun kiranya mendengarkannya di sorga, tempat kediaman-Mu yang tetap, dan Engkau kiranya bertindak sesuai dengan segala yang diserukan kepada-Mu oleh orang asing itu, supaya segala bangsa di bumi mengenal nama-Mu, sehingga mereka takut akan Engkau sama seperti umat-Mu Israel … (1Raj. 8:41-43).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salomo tidak berdoa agar beberapa orang datang, tetapi agar banyak orang dari segala bangsa datang beribadah. Salomo berdoa agar segala bangsa dapat bertemu Tuhan ketika mereka datang ke rumah Tuhan untuk berdoa dan beribadah. Salomo tidak meminta agar bangsa-bangsa lain dapat mengenal Tuhan menurut cara mereka, tetapi agar mereka dapat mengenal Tuhan sama seperti yang dilakukan Israel. Salomo membayangkan segala suku bangsa bergabung bersama Israel dengan cara yang sama, rendah hati, bersukacita, memuji bersama dengan Tuhan – dengan “takut akan Tuhan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bangsa-bangsa Mulai Datang ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah laporan mengenai nama Allah tersebar ke seluruh dunia? Apakah bangsa-bangsa asing akan datang ke rumah Tuhan dan belajar takut akan Tuhan? Apakah Allah menjawab doa Salomo? Jawaban terbaik untuk pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “Ya” dan “Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan menunjukkan bahwa setelah bait Allah selesai (1 Raj. 9:25), Ratu Syeba “mendengar kabar tentang Salomo, berhubung dengan nama TUHAN” (10:1, penekanan dari saya). Ratu Syeba datang untuk belajar, dia mendengarkan hikmat Salomo (ay. 8), dan pergi dengan pengertian akan Allah yang setia dengan kovenan-Nya “mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya.” Sebagai seorang penguasa yang juga memiliki kekuasaan yang besar, Ratu Syeba menyadari kalau Allah sendiri yang telah menegakkan kekuasaan Salomo, dan dia berharap agar melalui pemerintahan Allah, akan ada “keadilan dan kebenaran” (ay. 9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ini adalah peristiwa yang terpisah? Tampaknya tidak. Beberapa ayat kemudian menyatakan bahwa, “Seluruh bumi berikhtiar menghadap Salomo untuk menyaksikan hikmat yang telah ditaruh Allah di dalam hatinya,“ (ay. 24). Dunia tidak menghormati Salomo karena dia pintar dalam mengadili. Dunia mengenali bahwa Allah sendiri yang telah memberikan hikmat ke dalam hati Salomo. Dan apa pelajaran pertama yang Salomo tunjukkan kepada dunia? “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan” (Ams. 1:7, 9:10). Salomo sedang memperkenalkan kepada dunia ibadah kepada Allah dan hidup yang berhikmat di bawah pemerintahan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan Allah sepertinya sedang dipenuhi. Nama-Nya menjadi besar. Israel sedang membuat-Nya terkenal agar bangsa-bangsa dapat mengenal Allah secara pribadi. Apa yang mungkin dapat menghalangi rencana Allah membawa bangsa-bangsa mendekat kepada diri-Nya? Hanya satu hal. Masalah yang dengan keras Allah peringatkan kepada umat-Nya: penyembahan berhala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari semua hal yang mungkin ditakutkan, hal yang paling menakutkan terjadi – Salomo sendiri yang membuka jalan kepada penyembahan berhala yang menjijikkan itu. Itu merupakan salah satu ironi terbesar dalam sejarah. Bayangkan harapan yang brilian dengan kekayaan dan keinginan dari bangsa-bangsa berpaling ke Israel. Salomo telah menyucikan bait Allah dalam pemandangan dengan kemuliaan yang tak dapat dibayangkan. Dia menutup peristiwa tersebut dengan berkat yang menyatakan tujuan dari bangunan dan bangsa, “supaya segala bangsa di bumi tahu, bahwa Tuhanlah Allah, dan tidak ada yang lain” (1 Raj. 8:60).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hanya tiga pasal setelah puncak pembukaan pintu bagi bangsa-bangsa untuk mengenal dan takut kepada nama Tuhan, hati Salomo berbalik “kepada allah-allah lain.” Salomo juga membangun bukit pengorbanan bagi allah lain yang dekat dengan gunung Tuhan yang kudus (1 Raj. 11:1-8). Apakah orang percaya yang membaca bagian ini tidak merasa kecewa hingga merasa mual? Jika ibadah memang berjalan murni dan stabil setidaknya satu generasi kemudian, kita tidak akan kesulitan untuk berspekulasi tentang apa yang mungkin terjadi kemudian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kesetiaan Tuhan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rencana Allah itu sederhana: Allah akan membuat nama-Nya besar dan Israel dapat membuat nama-Nya dikenal. Allah selalu bertujuan untuk memilih nama-Nya dari antara allah-allah lain, dan kemudian menyambut bangsa-bangsa untuk beribadah kepada-Nya secara pribadi karena nama-Nya telah dinyatakan melalui kesaksian dari bangsa Israel. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah ini sejak saat itu menjadi sebuah pergumulan jatuh bangun yang diperpanjang dengan penyembahan berhala. Beragam peristiwa membaharui kesetiaan untuk beribadah kepada Tuhan, tetapi diikuti dengan keadaan rendah yang mencengangkan menajiskan kembali nama Tuhan. Masalah terbesar di seluruh generasi adalah kemuliaan Allah melalui ibadah orang Israel. Pada waktu-waktu tertentu orang Israel sangat mengabaikan ibadah kepada Allah sehingga generasi demi generasi akan berlalu tanpa memperhatikan sedikit pun peraturan sederhana di mana Allah telah mengundang Israel untuk bertemu dengan-Nya (ketetapan-ketetapan untuk ibadah yang ada dalam kitab-kitab Musa). Kata-kata dari beberapa nabi menunjukkan bahwa bahkan ketika pola ibadah diikuti, pola tersebut hanya dijalankan secara dangkal. Para nabi telah membongkar ibadah yang sekadar rutinitas, menunjukkan bahwa ibadah tersebut sangat kekurangan keadilan dan kebaikan yang seharusnya menguat di belakang setiap ibadah dan doa kepada Allah (Yes. 1:11-15; Am. 5:21-24; Mik. 6:6-8). Meskipun Allah menunda kegoncangan besar Israel dan Yehuda, Ia akhirnya memisahkan bangsa Israel dari tanah perjanjian, yang merupakan tanda berkat Allah. Mereka dibuang ke negeri yang jauh. Kemudian tragedi terbesar terjadi: Rumah Allah dibakar dan diruntuhkan hingga menjadi puing-puing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendekati akhir masa pembuangan, Daniel berseru kepada Allah untuk menegakkan kembali janji-Nya untuk memulihkan bait Allah dan umat-Nya. Daniel sangat menyadari seluruh hal ini, bagaimana Allah telah membawa umat-Nya keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan kuasa-Nya … “memasyhurkan nama-Mu, seperti pada hari ini” (Dan. 9:15). Perhatian Daniel yang jauh lainnya adalah reruntuhan bait Allah di Yerusalem yang seharusnya menunjukkan kemuliaan telah menjadi penghinaan yang berkelanjutan terhadap kemuliaan Allah “bagi semua orang yang di sekeliling kami.” Daniel berdoa agar Tuhan mau memulihkan umat-Nya dan kota-Nya sehingga kemuliaan nama Tuhan juga akan dipulihkan. Daniel tidak mendasarkan permintaannya pada kebesaran Israel, tetapi “Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!” (Dan. 9:16-19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yehezkiel, yang hampir sezaman dengan Daniel, menyatakan tema yang sama. Allah telah menahan murka-Nya berulang kali untuk tidak menghancurkan Israel, tetapi Tuhan menahan murka-Nya adalah bagi kepentingan nama-Nya (Yeh. 20:5-22). Perlakuan Allah terhadap Israel bukan semata pilih kasih, tetapi satu-satunya hanya bagi kemuliaan nama-Nya di antara bangsa-bangsa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang. Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa (Yeh. 36:22-23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Nasib Israel: Kemuliaan dari Segala Bangsa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daniel dan Yehezkiel bukan satu-satunya nabi yang melihat kisah yang sedang berlangsung tentang Israel sebenarnya berfokus pada nama dan kemuliaan Allah. Nabi-nabi lainnya dan pemazmur juga berbicara tentang sejarah dan tujuan Israel dalam kerangka bangsa-bangsa dibawa kepada Tuhan karena nama-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan kemuliaan yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian! Katakanlah kepada Allah: “Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu. Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu” (Mzm. 66:1-4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu; mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN (Mzm. 138:4-5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut (Hab. 2:14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu. Dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia orang-orang yang memuja Aku, yang terserak-serak, akan membawa persembahan kepada-Ku (Zef. 3:9-10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi nama-Ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam (Mal. 1:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini hanya sebagian contoh dari kalimat profetis yang mengaitkan identitas Israel dengan puncak tujuan Allah: kemuliaan Allah di bumi menarik semua suku bangsa beribadah kepada-Nya. Ketika umat Allah akhirnya dibawa kembali ke tanah perjanjian, membangun kembali bait Allah menjadi prioritas utama. Hagai menjelaskan bahwa bait Allah diperuntukan untuk kemuliaan Allah, dan bagi kemuliaan yang lebih besar yang belum pernah ada sebelumnya. “Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam” (Hag. 1:8; 2:7). Setelah pembuangan bangsa Israel menghindari penyembahan berhala. Tetapi keinginan akan suatu kejayaan bagi bangsa mereka, yang merupakan kemuliaan yang lebih kecil dari kemuliaan Tuhan, tidak pernah datang. Mereka menantikan seorang mesias pembebas yang akan membebaskan mereka dari penindasan. Mereka hampir melewatkan Mesias tersebut ketika Dia datang, karena visi Yesus mengenai penebusan adalah agar kerajaan Allah ditegakkan di antara segala suku bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kemuliaan Allah dalam Kristus  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kristus adalah puncak dari kisah kemuliaan Allah. Pada akhir segala sesuatu, Kristus akan membeli dan membawa manusia dari segala suku dan bahasa untuk memuliakan Bapa. Maka tidak mengherankan melihat bagaimana setiap tindakan-Nya merupakan bagian dari membawa kisah kemuliaan Allah kepada puncaknya bagi segala bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus menyimpulkan pelayanan-Nya dalam kerangka membawa kemuliaan Bapa-Nya ke seluruh dunia: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::“Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” Dan apa pekerjaan tersebut? “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia” (Yoh. 17:4, 6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Menguduskan Nama Tuhan ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa yang Yesus ajarkan kepada para murid-Nya dapat dengan mudah disalahmengerti karena terjemahan yang kurang baik, terutama terjemahan Inggris kuno, “Hallowed be Thy name.” Doa ini bukan suatu pernyataan pujian. Doa ini secara eksplisit merupakan suatu permintaan dalam bahasa aslinya: “Bapa … kuduskanlah nama-Mu!” Bisa juga dikalimatkan sebagai berikut, “Bapa tinggikan, nyatakan, bukakan nama-Mu kepada segala bangsa di bumi. Jadilah terkenal karena nama-Mu memang mashyur. Buatlah seluruh bangsa di bumi mengenal dan memuji Engkau!” Doa ini dapat didoakan secara paling menyeluruh seperti yang Yesus ajarkan: “di bumi seperti di sorga.” Doa ini tidak diragukan keutamaannya bagi setiap orang percaya. Doa ini harus dapat dimengerti. Yesus jelas sekali sedang mengajarkan Gereja-Nya untuk berdoa bagi pemenuhan tujuan yang sudah dinyatakan sejak masa lalu dalam Taurat, kisah-kisah, lagu-lagu dan nubuat-nubuat Israel bagi kemuliaan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam satu peristiwa perjumpaan dengan seorang perempuan Samaria, Yesus menyatakan maksud Allah kepada perempuan itu dan bangsa-bangsa bukan Yahudi lainnya: “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian” (Yoh. 4:23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Sebuah Rumah Ibadah bagi Segala Bangsa ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kebanyakan waktu pelayanan publik-Nya dan saat yang paling penuhi belas kasih, Yesus membuat pernyataan tentang ibadah dari bangsa-bangsa. Dia membersihkan bait Allah dari komersialisasi religius yang membentuk penghalang bagi bangsa-bangsa untuk mendekati Allah. Yesus mengutip Yesaya 56:7, “rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.” Para pemimpin agama yang sedang mendengar Yesus pasti langsung mengetahui kalau Yesus sedang mengutip dari Yesaya 56:6-7. Yesus ingin mereka mendengar seluruhnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN, … mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kematian-Nya, Yesus menyatakan tujuan hidup-Nya, dan tujuan kematian-Nya yang sudah dekat (Yoh. 12:24-32). Dia secara terbuka mempertimbangkan pilihan yang ada dengan meminta Bapa untuk menyelamatkan-Nya dari kematian: “Apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini?” Tetapi alih-alih meminta untuk diselamatkan, Yesus berkata, “sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.” Apa tujuannya? Tujuannya terpancar keluar dari hati-Nya dalam pernyataan-Nya yang berikut. Tujuan ini menjadi doa kematian dan kehidupan-Nya: “Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Dan kemudian, dengan kekaguman dan kebingungan  orang-orang di sekitar-Nya, Allah Bapa sendiri menjawab Yesus dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya (nama-Ku), dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!” Jawaban Allah masih tetap mengguntur, ketika Bapa bagi kemuliaan nama-Nya yang besar. Yesus mengatakan bahwa jawaban tersebut tidak datang untuk Dia, tetapi bagi para pengikut-Nya yang juga akan memutuskan untuk mengikut Bapa-Nya (12:30) sesuai dengan tujuan Allah sejak dahulu kala. Bagaimana kematian Yesus memuliakan nama Allah? “apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (12:32).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Bersambung ke [[Kisah Kemuliaan-Nya (2)|bagian 2]]&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Kisah_Kemuliaan-Nya_(2)&amp;diff=724</id>
		<title>Kisah Kemuliaan-Nya (2)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Kisah_Kemuliaan-Nya_(2)&amp;diff=724"/>
		<updated>2015-09-14T17:21:51Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
... Sambungan dari [[Kisah Kemuliaan-Nya (1)|bagian 1]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;big&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Steven C. Hawthorne&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pelayanan dari Kemuliaan yang Semakin Bertambah dengan Paulus  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus melihat kehidupannya sebagai kelanjutan dari tujuan yang sudah ada sejak dahulu kala menuju kepada saat di mana seluruh bangsa akan sujud beribadah kepada Allah. Pernyataan paling jelas dari Paulus mengenai tujuan dari misinya adalah “untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya” (Rom. 1:5, penekanan dari saya). Paulus melihat seluruh dunia terbagi menjadi dua kategori: tempat di mana Kristus dimuliakan dan tempat di mana Kristus tidak dimuliakan. Paulus betul-betul bertekad memprioritaskan upayanya untuk berjerih payah di tempat di mana Kristus tidak dikenal (Rom. 15:20).8&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita dapat melihat dua arah dari kemuliaan Allah dalam pelayanan Paulus. Di satu sisi dia melayani untuk memuliakan Allah dengan menyatakan Kristus kepada bangsa-bangsa?membuat Kristus “dikenal.” Tetapi hasrat terbesar Paulus, hal yang membuat Paulus bersukacita adalah apa yang dibawa kembali kepada Allah dari bangsa-bangsa tersebut. “Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan [menjadi imam] Injil  Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus. Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah”  (Rom. 15:15-17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambisi Paulus yang kuat untuk “memberitakan Injil” didasarkan pada perintah yang jauh lebih mendasar (atau dalam ungkapan Paulus sendiri, “kasih karunia telah dianugerahkan”) dari Allah untuk menjadi “imam dari Injil.” Tidak ada gambaran yang salah di sini. Paulus melihat dirinya berada di hadapan Allah, melayani bangsa-bangsa seperti seorang imam, mengajarkan dan mengarahkan mereka untuk mendekat kepada Allah, menolong mereka membawa kemuliaan mereka sebagai bangsa untuk dipersembahkan kepada Allah, sesuatu yang menyenangkan Allah. Tugas Paulus bukan untuk mengubah masyarakat dan budaya. Roh Allah pada saat itu bekerja mentransformasi dan menguduskan peragaan kemuliaan seterbaik mungkin dari segala suku bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus bekerja keras membayar harga yang besar dengan sebuah visi yang mulia di hadapannya. Visi tersebut merupakan sesuatu yang dianggapnya sebagai sesuatu yang layak untuk dikerjakan dan dinantikan. “Dengan satu suara” dari berbagai aliran orang percaya, Yahudi dan bukan Yahudi, lemah dan kuat, akan bersama-sama “memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom. 15:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Suatu Latihan Bagi Kemuliaan Kekal ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di akhir sejarah, kita akan sangat terkagum-kagum tentang betapa limpahnya kasih Allah telah dipenuhi. Kasih-Nya akan bertakhta dengan memenangkan devosi yang bersungguh-sungguh dari segala bangsa. Yesus akan menggenapi seluruh janji yang Dia berikan kepada Bapa-Nya, “Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka …” (Yoh. 17:26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sejarah berlalu, kita akan menemukan bahwa seluruh ibadah dari segala bangsa di seluruh generasi merupakan suatu latihan untuk peristiwa yang lebih besar dari kasih dan kemuliaan, tetap melibatkan kemuliaan yang diperindah dari segala bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sorga akan memenuhi bumi: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya  dan Ia akan menjadi Allah mereka” (Why. 21:3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala suku bangsa akan bertahan secara kekal. Kotanya adalah sorga di bumi akan dihiasi oleh raja dari segala bangsa yang secara terus-menerus dating membawa harta benda dan buah dari suku-suku bangsa ke hadapan takhta Allah (Why. 21:22-26). Kita akan melayani Dia, terpesona dan dimuliakan dengan memiliki nama-Nya pada wajah kita. Dengan memandang wajah-Nya, kita akan melayani Dia sebagai imam-imam yang dikasihi-Nya (why. 22:1-5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Untuk Apa Penginjilan Dunia Ada?  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai saat ini kita telah berseru, “Kiranya seluruh bumi mendengar suara-Nya!” Mari kita terus menyuarakan Firman-Nya kepada segala makhluk. Tetapi segera akan datang suatu hari, yang telah diperhitungkan sebelumnya, seluruh bumi akan mendengarnya. Apa yang akan terjadi setelah itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada seruan yang lain, jauh lebih awal. Seruan bagi nasib dunia. Seruan tersebut harus lebih disuarakan pada hari ini: “Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu!” (Mzm. 67:3-5). Sekarang kita mendengar semakin banyaknya ucapan syukur dari bangsa-bangsa. Marilah kita memusatkan afeksi kita yang paling dalam dan rencana kita yang paling berani pada kemuliaan di mana setiap suku bangsa mengasihi Allah dengan yang terbaik dari masyarakat mereka yang telah dikuduskan. Suatu pengharapan yang luar biasa!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Perubahan-Perubahan Dalam Praktik ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penekanan pada kemuliaan Allah lebih dari sekadar suatu bunga dekorasi yang menghiasi Amanat Agung. Kita harus semakin bekerja sama dengan suatu hasrat bersama agar Kristus dapat dikenal dan dipuji dalam setiap suku bangsa. Suatu visi “doksologis” (berkaitan dengan kemuliaan) dari penginjilan dunia menawarkan hikmat praktis yang mendasar untuk menyelesaikan tugas yang tersisa. Masuk ke dalam kisah tentang kemuliaan-Nya dapat membantu kita dalam tiga hal praktis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 1.Memperdalam Dasar Motif Kita untuk Sebuah Kasih bagi Kemuliaan Tuhan ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penginjilan dunia adalah bagi Allah. Adalah umum untuk bekerja dari keprihatinan bagi kesulitan orang?melihat apakah mereka diselamatkan dari neraka, atau melayani mereka untuk keutuhan komunal, atau keduanya. Belas kasihan seperti itu alkitabiah dan diperlukan. Namun, kasih kita bagi orang lain mendapatkan keseimbangan dan kuasa ketika semangat kita yang besar itu agar Allah dimuliakan melalui kebaikan yang ditunjukkan dalam nama-Nya; dan lebih dari itu, agar Allah secara pribadi mendapat ucapan terima kasih dari orang yang telah diubahkan melalui kuasa Injil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus sangat tergerak belas kasihan-Nya yang limpah ketika Dia melihat sejumlah besar orang banyak seperti domba yang tak bergembala, tetapi Dia tidak menanggapi kebutuhan yang terlihat secara kasat mata. Yesus sengaja membentuk ulang visi-Nya bagi sejumlah besar orang yang sama dengan metafora yang berbeda. Yesus melihat mereka tidak hanya sebagai domba yang terhilang tetapi memiliki nilai yang besar di mata Allah: “Tuaian-Nya.” Siapa yang dapat memahami sukacita Allah terhadap pemenuhan tuaian yang diterima-Nya dari kehidupan manusia? Yesus mulai melakukan hal tersebut. Melalui visi tersebut Yesus memohon agar Tuhan yang memiliki tuaian mengirimkan pekerja untuk tuaian tersebut (Mat. 9:35-38). Yesus mengetahui, bahwa di dalam cara Allah, bekerja secara sukarela memiliki nilai yang kecil. Apa pun yang memiliki kuasa yang tinggal tetap berasal dari “pengutusan” Allah yang otentik. Belas kasihan mengalir seperti sungai dari seseorang yang benar-benar diutus.&lt;br /&gt;
Upaya-upaya misi yang motivasinya berasal dari respons belas kasihan terhadap kesulitan manusia tidak akan bertahan lama. Daya tarik karena rasa bersalah untuk menolong orang yang terluka atau terhilang tetap akan sedikit melembutkan hati kita. Namun, pada praktiknya, orang-orang yang ditolong ini akan melelahkan dan menyulitkan orang-orang percaya dengan hanya sedikit ketaatan. Pekerjaan yang mahal dan sulit perlu dilakukan. Jerih payah seperti itu tidak dapat ditopang oleh semangat yang sementara dan cepat padam yang dihasilkan karena melihat jiwa-jiwa yang akan binasa dan membutuhkan pertolongan. Tujuan global Allah merupakan pekerjaan yang sudah dimulai sejak dahulu kala, lebih dari sekadar kebutuhan mendesak. Pada saat ini, lebih dari saat-saat sebelumnya, orang percaya perlu dibina dalam keinginan yang kuat untuk semangat yang menjangkau lebih luas bagi kemuliaan Allah. Dengan kepastian bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya, kita dapat sangat tergerak oleh kebutuhan-kebutuhan orang lain sambil bertindak dengan berani bagi tujuan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 2. Mendefinisikan Tugas sebagai Semakin Menyatakan Kemuliaan Allah===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pernah ada hari di mana orang-orang Kristen begitu mengambil kepedulian bagi penjangkauan segala bangsa di dunia. Memperhatikan kelompok-kelompok suku dan budaya mereka menolong kita merencanakan komunikasi Injil yang efektif kepada budaya tertentu. Pendekatan pada kelompok suku tampak sangat berguna untuk mengevaluasi perkembangan dan penempatan tugas yang berbeda secara proporsional bagi kerjasama yang efektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun demikian, pendekatan terhadap kelompok suku ini telah menjadi isu pokok. Selama bertahun-tahun, sebagian orang menolak seluruh pendekatan ini dan melihatnya sebagai pemecah kesatuan dari gereja-gereja atau sebagai penutup bagi sikap menjengkelkan dominasi kolonial oleh orang Barat. Baru-baru ini, sebagian orang lain secara diam-diam telah membuang pendekatan ini dan menggantinya dengan paradigma yang lain yang lebih dapat dijalankan. Bahkan ketika negara-bangsa dapat terpecah dalam satu malam ke dalam persaingan berbagai kelompok suku bangsa yang membentuk negara tersebut, pendekatan negara demi negara untuk penginjilan masih tetap terbukti menarik. Pendekatan geografis lainnya berkisar dari menandai pusat-pusat perkotaan, hingga menggambar jendela dengan garis lintang utara dan selatan, hingga ke pemetaan sejumlah kekuatan spiritual yang melawan Injil. Tentu, suku-suku bangsa di bumi memang merupakan entitas geografis, urban, dan nasional. Kita perlu memperhatikan dimensi-dimensi di atas sebagai faktor-faktor penting dalam membentuk pendekatan yang berguna bagi suku apa pun. Tetapi sasaran kita jangan direduksi untuk mendekati suku-suku bangsa hanya demi ”menabrak” mereka sebagai “target.” Kita harus memiliki tujuan yang lebih dari sekadar perjumpaan dengan Injil. Kita harus memiliki tujuan untuk melihat hasilnya berupa ibadah yang taat kepada Allah yang mungkin memiliki kekhasan tersendiri bagi kelompok suku tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya setuju bahwa bukanlah pendekatan kelompok suku yang penting, tetapi hasil dari kelompok suku. Apa hasil dari Injil? Pasti lebih dari sekadar setiap pribadi memiliki kesempatan untuk terbebas dari hukuman. Allah telah berjanji untuk mendapatkan kemuliaan dari ketaatan terhadap diri-Nya dari setiap suku dan bahasa. Allah merindukan akan curahan kasih, kebenaran, hikmat dan penyembahan yang khas dari setiap suku. Ini merupakan alasan paling baik untuk menanam gereja-gereja pribumi. Titik pandang demikian mengangkat perbedaan yang indah dari setiap kelompok suku, dan pada waktu yang sama, memperbesar nilai perluasan dari terobosan Injil ke setiap tempat. Masalah geografis menjadi semakin penting. Setiap kota dan tempat menjadi lebih penting sebagai tempat bagi pernyataan unik dari kerajaan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 3. Mengintegrasikan Upaya-upaya Bagi Kemuliaan Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikotomi yang palsu antara penginjilan dan aksi sosial dapat dikesampingkan dengan suatu pendekatan doksologis. Banyak pendapat yang bertebaran mengenai bagian mana pada manusia yang lebih penting: Lebih pentingkah menyelamatkan jiwa atau memulihkan suatu komunitas? Pertanyaan ini secara setara berlawanan bagi kita semua. Respons yang umum terhadap pertanyaan ini adalah generalisasi yang kabur yang mengatakan bahwa kita perlu memperlakukan masalah ini sebagai “keduanya/dan” ketimbang “ini/itu.” Kita mungkin mampu untuk melakukan lebih baik. Bagaimana jika kedua hal ini diuji dan dipegang untuk apa yang kembali kepada Allah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemuliaan kembali kepada Allah dari pemberitaan Injil atau semacam perbuatan baik yang dilakukan dalam nama-Nya. Kemuliaan yang lebih besar digemakan kembali ketika seluruh komunitas melihat tangan Kristus yang mengubah hidup mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang secara tak perlu mengusulkan mandat ganda untuk membentuk suatu titik keseimbangan. Apa yang biasa disebut mandat budaya menjadi istilah untuk tugas memenuhi bumi diseimbangkan dengan mandat penginjilan untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Bukankah tujuan Allah itu tunggal yaitu untuk dilayani oleh segala bangsa dan di segala tempat di muka bumi? Pelayanan dari bangsa-bangsa harus merupakan sebuah ketaatan hidup yang total dari keadilan dan kebenaran. Persembahan ibadah yang kini dibawa kepada Allah melalui Kristus harus berupa kata dan karya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam visi bagi kemuliaan Allah terdapat substansi kesatuan sejati antara gereja-gereja. Dengan suatu kecemburuan untuk memuliakan Tuhan secara khas dari segala bangsa, kita dapat dengan mudah mengesampingkan tuntutan akan keseragaman ibadah dan pengaturan. Kita dapat bersuka dalam keragaman gaya dalam kebenaran, kedamaian, dan sukacita, sementara secara umum mengakui satu kebenaran tunggal dalam pribadi Kristus.&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Kisah_Kemuliaan-Nya_(1)&amp;diff=723</id>
		<title>Kisah Kemuliaan-Nya (1)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Kisah_Kemuliaan-Nya_(1)&amp;diff=723"/>
		<updated>2015-09-14T17:20:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{steven hawthorne}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab pada dasarnya adalah kisah mengenai Allah. Ketika kita melihat Alkitab sebagai buku pertolongan terhadap diri sendiri, kita akan menjadi bosan atau frustrasi karena menemukan Alkitab berisi kumpulan kisah yang sepertinya tidak beraturan. Bagaimana jika Alkitab sebenarnya lebih banyak bercerita mengenai Allah daripada kita? Betapa menggetarkan menemukan di setiap elemen dari Alkitab kita menemukan?laporan peristiwa, ayat-ayat yang mengandung hikmat, lirik-lirik nubuat?menyatu ke dalam satu kisah utama dari satu Pribadi yang agung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita terbiasa dengan ide bahwa Alkitab adalah kisah nyata. Kisah Alkitab begitu nyata sehingga terus berlangsung sampai saat ini. Kita biasa mendengar bahwa Alkitab adalah kisah kasih. Tetapi kita cenderung hanya melihat satu sisi dari kasih: bagaimana Allah mengasihi manusia. Jika maksud utama Alkitab adalah Allah dikasihi dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan, mungkin lebih bijaksana jika keseluruhan kisah Alkitab dibaca dari sudut pandang Allah. Ketika kita melihatnya dari sudut pandang Allah, kisah kasih yang agung ini akhirnya bisa dimengerti: Allah tidak hanya mengasihi manusia. Dia mentransformasi mereka menjadi manusia yang dapat sepenuhnya mengasihi Dia. Allah menarik manusia sebagai penyembah yang mempersembahkan secara bebas kemuliaan yang diinspirasi oleh kasih kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah hanya dapat dikasihi ketika Dia dikenal. Inilah alasan mengapa kisah Alkitab adalah kisah tentang Allah menyatakan Diri-Nya untuk menarik kepada Diri-Nya ibadah, atau kemuliaan dari bangsa-bangsa. Dengan kasih Allah yang besar di pusat, Alkitab benar-benar merupakan kisah kemuliaan-Nya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Konsep Dasar Kemuliaan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menelusuri kisah Allah sebagaimana kisah tersebut dinyatakan dalam Alkitab, kita perlu mengerti tiga gagasan yang terkait satu sama lain, yang menentukan kisah tersebut di setiap hal: kemuliaan, nama Allah dan ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kemuliaan ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan dibingungkan dengan kata yang terdengar religius “kemuliaan.” Kemuliaan adalah keindahan hubungan yang ingin dilihat hati setiap orang dan bahkan masuk ke dalamnya. Kata “kemuliaan” di dalam Alkitab merujuk kepada nilai esensial, keindahan dan nilai manusia, hal-hal yang diciptakan dan, tentu saja Sang Pencipta sendiri. Kata Ibrani untuk kemuliaan memiliki arti bobot, substansi, dan pada saat yang sama, elegan atau keindahan yang memancar. Memuliakan seseorang sama dengan mengakui nilai intrinsik dan keindahan mereka dan menyatakan hal tersebut secara terbuka. Memuliakan Allah adalah memuji atau menyatakan Dia secara terbuka dan benar. Kemuliaan ada di inti setiap ibadah sejati di sepanjang Alkitab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu (Mzm. 86:9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Kitalah … yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah (memuliakan) dalam Kristus Yesus … (Flp. 3:3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ide mengenai “kemuliaan” juga menggambarkan kehormatan yang dapat diberikan atau dihadiahkan. Ketika seseorang ditinggikan atau dibesarkan, dia, pada taraf tertentu dalam pengertian alkitabiah, dimuliakan. Allah begitu kaya akan kemuliaan sehingga Dia memberikan kehormatan yang besar ke atas pelayan manusia-Nya tanpa mengompromikan kemuliaan-Nya sedikit pun. Yesus menunjukkan kebiasaan kita dalam mencari “kemuliaan seorang dari yang lain,” namun gagal untuk “mencari kemuliaan dari Allah yang Esa” (Yoh. 5:44).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Nama Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di seluruh kisah yang lebih besar dalam Alkitab, para penulis Alkitab menggunakan ide “nama Tuhan” sebagai sebuah ide kunci. Untuk membedakan fungsi-fungsi referensi, penyataan dan reputasi, kita dapat mengerti penggunaannya dengan tiga kategori yang mudah diingat: nama identitas, penyingkapan dan nama populer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Nama Identitas ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, ada nama-nama yang digunakan untuk menyebut Allah dalam Alkitab. Allah tidak pernah tanpa nama dalam kisah-Nya. Dia menggunakan banyak nama bagi diri-Nya. Karena fungsi nama-nama tersebut adalah sebagai referensi, kita dapat menyebut nama-nama tersebut, dalam pembahasan ini, “nama identitas” Allah karena sebuah nama identitas membedakan dan mengidentifikasi seseorang. Kita dapat menyebut Allah dalam Kitab Suci sebagai “Tuhan semesta alam” demikian juga sebagai “Tuhan Maha Kuasa,” atau “Hakim seluruh bumi” atau “Raja kemuliaan.” Setiap nama tersebut betul-betul merupakan nama Allah.1&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Nama Penyingkapan ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, Allah berkenan menyatakan Diri-Nya secara akurat melalui nama apa pun dalam Alkitab. Fungsi dari nama-nama tersebut adalah sebagai penyataan. Sebagai contoh, setiap orang yang pernah beberapa saat merenungkan nama alkitabiah “Tuhan adalah gembalaku” akan memiliki pengertian yang lebih baik mengenai kebaikan Allah yang memelihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Nama Populer ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penggunaan ketiga dari “nama Tuhan” adalah yang paling limpah dalam Alkitab, meskipun kurang diketahui. “Nama Tuhan” paling sering merujuk pada pengertian reputasi publik-Nya. Saya menyebutnya “nama populer” Allah. Fungsinya adalah sebagai reputasi Allah. Nama Tuhan adalah nama global-Nya yang dikenal umum. Nama tersebut adalah memori terbuka, berdasarkan kejadian historis, yang membangun suatu reputasi yang layak untuk dipercaya di kemudian hari. Nama Tuhan adalah keseluruhan kebenaran mengenai Diri-Nya yang telah dinyatakan-Nya dan dideklarasikan dalam kisah Alkitab sejak dahulu sampai sekarang. Orang Ibrani tidak hanya menyimpan kisah ini, tetapi mereka juga menceritakannya. Tidak seperti cara dari banyak agama lain, penyataan Allah tidak pernah menjadi sesuatu yang rahasia bagi sebagian kecil orang. Yesaya memanggil bangsa Israel untuk “memberitahukan perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa,” agar bangsa-bangsa tersebut terus diingatkan kalau “nama-Nya tinggi luhur” (Yes. 12:4). Seperti yang akan kita lihat, sebagian besar kisah Alkitab menceritakan kembali apa yang telah Allah lakukan untuk membuat nama-Nya menjadi besar di antara bangsa-bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ibadah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa Allah ingin dikenal dengan presisi seperti itu? Allah ingin lebih dari sekadar dikenal secara global?Dia rindu untuk disembah secara sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Allah Menyatakan Kemuliaan untuk Menerima Kemuliaan ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemuliaan Allah mengalir dalam dua arah. Pertama, kemuliaan-Nya mengalir ke arah dunia. Dia menunjukkan kemuliaan-Nya kepada manusia di seluruh dunia. Dia menyatakan siapa diri-Nya dan apa yang telah dilakukan-Nya untuk mendatangkan arah kemuliaan yang kedua – agar manusia dapat memuliakan Dia dalam ibadah yang keluar dari kasih kepada-Nya. Allah menyatakan kemuliaan kepada segala suku bangsa agar Dia dapat menerima kemuliaan dari suku bangsa melalui ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mazmur 96 menunjukkan dua arah ini. Allah memerintahkan untuk menyatakan kemuliaan-Nya kepada bangsa-bangsa dalam ayat 2 dan 3:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa suatu penggambaran yang fasih tentang penginjilan dunia! Tetapi pemazmur melanjutkan dengan mengatakan tujuan dari penginjilan dunia dengan menggambarkan aspek kedua dari kemuliaan Allah: respons kemuliaan dari bangsa-bangsa kepada Allah dalam ayat 7 dan 9:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Kepada TUHAN, &lt;br /&gt;
::hai suku-suku bangsa ,&lt;br /&gt;
:kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!&lt;br /&gt;
:Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya,&lt;br /&gt;
:bawalah persembahan dan&lt;br /&gt;
::masuklah ke pelataran-Nya!&lt;br /&gt;
:Sujudlah menyembah kepada TUHAN&lt;br /&gt;
::dengan berhiaskan kekudusan,&lt;br /&gt;
:gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inti dari misi mengalir dari ekonomi kemuliaan yang luar biasa ini: Allah menyatakan kemuliaan-Nya kepada bangsa-bangsa untuk menerima kemuliaan dari seluruh ciptaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Sebuah Tujuan yang Melampaui Keselamatan  ==== &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia memang diselamatkan melalui pemberitaan global akan keselamatan dari Allah, tetapi nilai ultimat dari keselamatan mereka bukan dilihat dari apa mereka diselamatkan, melainkan untuk apa mereka diselamatkan yang sungguh-sungguh penting. Manusia diselamatkan untuk melayani Allah dalam ibadah. Dalam pengertian ini, kita dapat mengatakan bahwa penginjilan dunia adalah bagi Allah. Betapapun terbiasanya kita untuk melihat manusia sebagai tujuan yang sangat penting, Alkitab sangat jelas dalam hal ini: Alasan utama bagi misi adalah kelayakan kolosal dari Allah sendiri. Perhatikan logika dari Mazmur 96:2-4 :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya…. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Suatu Alasan Utama yang Lebih Besar dari Supremasi ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan utama bagi misi kelihatannya sederhana: Karena Allah itu memiliki supremasi, setiap makhluk ciptaan harus tunduk. Namun dapatkan hal ini menjadi logika di pusat alam semesta? Hati kita tidak akan percaya hal ini. Pasti ada sesuatu yang lebih dari itu. Kitab Suci jelas sekali berbicara mengenai kebenaran bahwa Allah itu kasih. Allah memanggil manusia untuk mengasihi Dia dengan segenap apa yang ada pada mereka. Sebagai respons, di mana kasih Allah dan kasih kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menuntut ibadah hanya karena Dia memiliki supremasi tidak terlihat sebagai Allah yang mengasihi. Faktanya, Allah sedemikian bahkan tidak terlihat layak dikagumi. Kegemaran Allah untuk disembah dapat membuat Dia terlihat seperti sedang bergumul dengan gambaran diri yang rendah. Adalah bodoh membicarakan kecemburuan Allah untuk disembah seakan-akan Dia seperti dewa sebuah suku yang cepat marah karena terancam oleh dewa-dewa saingannya. Allah tidak merasa terancam; sebaliknya Dia secara tak terukur merasa sedih oleh ibadah yang palsu. Ketika manusia beribadah kepada hal apa pun selain Dia, mereka menjadi seperti apa yang mereka sembah. Allah memiliki maksud yang lebih baik bagi manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ibadah yang benar itu? Ibadah terjadi ketika manusia mengenali siapa Allah dan memberikan pernyataan publik dan secara bebas mendekat kepada Allah, secara pribadi memberi ucapan syukur secara langsung kepada-Nya dan kesetiaan mereka setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibadah adalah interaksi relasional dengan Tuhan.  Itulah alasannya Allah selalu menerima kita dalam ibadah dengan membawa pemberian. Dia tidak pernah membutuhkan pemberian dalam ibadah. Tetapi pemberian itu mendatangkan yang memberi. Inilah alasannya bangsa-bangsa didorong untuk datang membawa pemberian, memberi pemberian yang terbaik kepada Allah (Mzm. 96:8 dan banyak ayat lainnya). Melalui korban dan pemberian mereka, mereka memberi diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Sepenuhnya Memberikan Kasih-Nya ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa Allah begitu berhasrat akan penyembahan? Ada dua alasan: Dia menyukai kasih yang tulus yang diberikan kepada-Nya dalam ibadah yang benar. Alasan yang kedua: melalui mengundang manusia ke dalam ibadah yang benar, Allah dapat sepenuhnya memberikan kasih-Nya kepada mereka. Anda dapat melihatnya dalam Mazmur 96:6:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Keagungan dan semarak” tidak merujuk pada pengalaman diri Allah. Sebaliknya, bersama dengan “kekuatan dan kehormatan” (bagian yang paralel dengan bagian ini menyebut “sukacita” yaitu 1 Taw. 16:27), merupakan ciri dari kehadiran Allah yang akan dialami manusia yang mendekati Dia di dalam ibadah yang benar. Tidak ada yang lebih agung dan semarak bagi manusia daripada ditinggikan dan ditempatkan di hadapan kehadiran Allah sebagai raja yang agung dan mulia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibadah adalah cara manusia memuliakan Allah. Ketika dilihat dari sudut pandang Allah, kita dapat melihat bahwa ibadah juga merupakan cara Allah memuliakan manusia – dalam segala arti yang terbaik membawa manusia ke dalam kehormatannya yang tertinggi. Ibadah memenuhi kasih Allah. Dia begitu mengasihi manusia sehingga Dia mau meninggikan mereka kepada sesuatu yang lebih dari sekadar kebesaran; Dia ingin membawa mereka kepada kedekatan yang dihormati untuk-Nya. Rentangkan pikiran dan hati Anda sejauh mungkin, tetapi Anda tidak akan pernah bisa mengerti apa yang telah Allah siapkan bagi mereka yang mengasihi Dia (1 Kor. 2:9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Yohanes pernah mencicipi “keagungan dan semarak” dari apa yang dia saksikan dalam penglihatan di Wahyu 5:1-14. Dia mendengar segala kumpulan di sorga menaikkan suara mereka memuji keagungan Allah bahwa Dia sendiri telah menebus manusia dari segala bangsa dan bahasa. Mengapa Allah mau menebus manusia yang rendah dengan harga yang sangat mahal yaitu darah Anak-Nya? Lebih lagi, mengapa Dia telah menebus manusia dari setiap etnis? Apa nilai mereka? Nilai mereka adalah: Mereka akan menjadi imamat rajani bagi-Nya. Sejumlah manusia dari setiap suku bangsa akan dengan senang hati memberikan kemuliaan dan kehormatan yang berbeda dari suku mereka masing-masing kepada Allah. Masing-masing suku bangsa memiliki nilai yang kekal karena darah Kristus. Setiap suku bangsa yang telah ditebus memiliki tempat di hadapan-Nya. Allah telah menetapkan hati-Nya yang luar biasa untuk membawa mereka ke hadapan-Nya. Ini yang harus terlihat. Kasih Allah yang tak terbalas bagi setiap suku bangsa merupakan inti dari setiap upaya misi yang sejati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemazmur merenungkan fanatisme Allah bagi setiap kelompok suku di bumi. Allah memanggil setiap “kaum dari suku-suku bangsa,” di mana mereka dihubungkan oleh darah dan pernikahan dari generasi ke generasi. Masing-masing kaum ini memiliki sejarah dan tujuan di hadapan Allah. Secara bahasa formal mereka diundang ke hadapan-Nya di mana Dia bertakhta sebagai raja (Mzm. 96:7-9). Mereka tidak datang dengan tangan kosong, tetapi mereka harus membawa kepada Allah sebuah contoh kemuliaan yang unik dan kekuatan dari suku mereka. Suku-suku bangsa harus menyatakan pujian kepada Tuhan dalam bahasa mereka masing-masing, namun tak satu suku pun memberikan tebakan spekulatif tentang apa itu pujian yang benar. Hanya kebenaran yang Allah telah nyatakan mengenai Diri-Nya sendiri – ”kemuliaan nama-Nya” – yang adalah substansi dan ukuran yang benar dari pujian yang layak (ay. 8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Alkitab Sebagai Kisah Allah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab adalah drama yang sangat mengherankan tentang kasih Allah yang menarik penyembahan dari bangsa-bangsa. Ingat tesis dasarnya: Allah menyatakan kemuliaan-Nya kepada segala suku bangsa agar Dia menerima kemuliaan dari seluruh ciptaan. Dimensi ganda dari kemuliaan ini dapat menolong kita mengerti campur aduk yang tampak dari kisah kuno ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Abraham  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Abraham tiba di tanah perjanjian, dia tidak menonjol sebagai seorang misionaris yang hebat, bagaimanapun kita mendefinisikan peran tersebut. Abraham tidak tercatat sebagai seorang penginjil besar. Abraham dikeluarkan dari Mesir dengan dipermalukan (Kej. 12:10-20). Bangsa-bangsa tetangga di sekitar Abraham membuat dia takut sehingga dia berbohong mengenai keluarganya. Alasan Abraham berbohong mengenai istrinya tidak menunjukkan keyakinan seorang penginjil bahwa kehidupan dapat berubah: “Takut akan Allah tidak ada di tempat ini” (Kej. 20:11). Tetapi dari semua kegagalannya, Abraham melakukan hal terutama yang dapat dilakukannya ketika pertama kali tiba di tanah yang baru: Tindakan pertama Abraham adalah menegakkan keberlangsungan ibadah umum kepada Allah. “Lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN” (Kej. 12:7-8). Kaum keluarganya mungkin merupakan satu-satunya yang beribadah di mezbah itu, tetapi Allah secara eksplisit disembah nama-Nya secara terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Diberkati untuk Menjadi Berkat, untuk Menjadi Berkat ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu peristiwa Abraham menyelamatkan para tetangganya dari sekelompok suku bangsa yang datang merampok (Kej. 14). Setelah kemenangan yang luar biasa, Abraham menolak menerima hadiah yang berlimpah dari raja Sodom. Jika Abraham menerima pemberian tersebut, dia tahu bahwa sejak saat itu, dia dan keluarganya akan dianggap tinggal di bawah dukungan kota itu. Sebaliknya Abraham memilih menempatkan dirinya di hadapan bangsa-bangsa lain sebagai kaum yang secara khusus diberkati oleh Tuhan.3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di hadapan bangsa-bangsa yang mengamati, Abraham secara tegas menyebut Tuhan sebagai pribadi yang akan memberkati dia. Perkataan Abraham yang berani (Kej. 14:21-24) ditegaskan melalui pemberian yang Abraham persembahkan kepada Tuhan. Abraham mempersembahkan kekayaan Sodom dan juga bangsa-bangsa lain kepada Tuhan. Dia membantu bangsa-bangsa asing memberikan persepuluhan kepada Tuhan, suatu tindakan ibadah formal yang dikenal pada waktu itu (Kej. 14:18-20). Dengan Melkisedek sebagai imam yang memimpin, Abraham berfungsi sebagai imam yang mempersembahkan pemberian ibadah mewakili bangsa-bangsa lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abraham diberkati untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (Kej. 12:1-3). Namun tujuan Allah lebih dari sekadar memberkati bangsa-bangsa. Allah sendiri dipuji! Melkisedek secara terbuka mengakui bahwa Abraham diberkati oleh Tuhan. Melalui kuasa Allah, Abraham telah menjadi berkat bagi bangsa-bangsa sekitar dengan menyelamatkan keluarga yang diperbudak dan harta benda mereka. Tetapi hasil terbesar adalah bahwa Allah sendiri akan dipuji! Perhatikan perkataan Melkisedek: “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi … dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi …” (Kej. 14:18-20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang kita pelajari dari seluruh rangkaian kejadian ini? Abraham menjadikan nama Tuhan dikenal melalui keberlangsungan ibadahnya. Allah membuat nama-Nya besar oleh kuasa penebusan dramatis melalui umat-Nya. Hasilnya adalah sejumlah besar bangsa berkumpul memberi hormat di mana Allah disembah secara eksplisit dalam kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tujuan Global Ditegaskan oleh Ketaatan dalam Ibadah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Momen terpenting dari hidup Abraham adalah peristiwa ibadah (Kej. 22). Allah memerintahkan Abraham membawa anaknya Ishak untuk menjadi korban ibadah. Perintah tersebut merupakan sebuah ujian untuk membuktikan akan menjadi apa Abraham dan keluarganya. Akankah Allah menemukan hasrat keimaman yang taat akan Allah (secara harfiah, “takut akan Allah,” Kej. 22:12)? Akankah Abraham membuktikan dirinya benar-benar bersemangat  memberikan ibadah yang Allah inginkan? Jika benar, Allah akan menemukan di dalam diri Abraham jenis iman yang Allah ingin untuk dilipatgandakan di antara bangsa-bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda sudah mengetahui kisah ini. Pada saat Abraham taat dalam ibadah tersebut, Tuhan berbicara dari atas dengan sumpah, menyatakan tujuan global-Nya dengan penuh kuasa untuk memberkati semua bangsa di bumi melalui keluarga Abraham (Kej. 22:18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Peristiwa Eksodus ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah lebih banyak bertindak demi nama-Nya daripada mendapat ibadah awal dari Abraham. Allah menyatakan diri secara global dengan cara yang besar dalam peristiwa Eksodus. Sekilas, peristiwa Eksodus tidak terlihat sebagai peristiwa misi yang besar. Ribuan orang Mesir mati. Dukacita meliputi seluruh keluarga di Mesir. Apa yang Allah lakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop kuncinya adalah Keluaran 9:13-16 di mana Musa memberi peringatan terakhir pada Firaun, dengan perkataan yang berani tentang tujuan Tuhan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Bangunlah pagi-pagi dan berdirilah menantikan Firaun dan katakan kepadanya: Beginilah firman TUHAN, Allah orang Ibrani: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku. Sebab sekali ini Aku akan melepaskan segala tulah-Ku terhadap engkau sendiri, terhadap pegawai-pegawaimu dan terhadap rakyatmu, dengan maksud supaya engkau mengetahui, bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi. Bukankah sudah lama Aku dapat mengacungkan tangan-Ku untuk membunuh engkau dan rakyatmu dengan penyakit sampar, sehingga engkau terhapus dari atas bumi; akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatan-Ku, dan supaya nama-Ku dimashyurkan di seluruh bumi (tulisan miring dari saya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan bahwa Allah tidak pernah mengatakan, “Biarkanlah umat-Ku pergi!” Itu baru setengah kalimat, tanpa tujuannya, yang dengan jelas dikemukakan setiap kali Musa mengatakannya. Perhatikan seluruh seruan tersebut: “Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Kel. 8:1, 20; 9:1, 13; 10:3)4 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Firaun mengerti dengan jelas seluruh tuntutan Musa agar bangsa Israel dilepaskan untuk beribadah. Firaun mungkin mengira kalau permohonan untuk bebas beribadah merupakan suatu taktik tersembunyi untuk menyusun rencana melarikan diri. Mungkin banyak orang Ibrani telah melakukan kesalahan yang sama. Berapa banyak dari mereka yang mungkin berpikir kalau rencana untuk beribadah kepada Tuhan di padang belantara merupakan tipuan untuk mengecoh yang berkuasa? Apakah itu mengherankan bahwa banyak dari mereka tetap terpaku pada kenyamanan, diet, keamanan dan hiburan? Mereka lambat mengerti kalau dalam peristiwa keluarnya mereka, Allah memiliki tujuan bagi Diri-Nya sendiri di hadapan bangsa-bangsa. Mereka telah menjungkirbalikkan keselamatan tersebut: mereka benar-benar berpikir bahwa penyelamatan terhadap mereka merupakan perhatian utama Tuhan. Sebaliknya, Allah sedang mengorkestrasi rencana yang luar biasa untuk menarik perhatian bangsa-bangsa kepada Diri-Nya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Allah Menarik Perhatian Global bagi Nama-Nya ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah memilih Diri-Nya sendiri dari segala allah di bumi. Dia membuat “nama abadi” bagi Diri-Nya melalui peristiwa Eksodus (Yes. 63:11-14 dan Neh. 9:9-10). Dia ingin setiap orang di Mesir dan bangsa-bangsa lain mengetahui bahwa mutlaknya tidak ada allah lain seperti Diri-Nya, satu-satunya Allah yang hidup. Dia ingin dunia menyaksikan sekumpulan besar budak berbaris untuk beribadah kepada-Nya. Allah menegakkan reputasi-Nya sebagai Allah yang lebih besar dan sangat berbeda (sungguh kudus, bukan sekadar lebih kudus) dari allah-allah lain yang pernah dipikirkan oleh manusia?Allah yang agung, indah dan mahakuasa. Peristiwa Eksodus dimaksudkan sebagai titik rujukan bagi segala penyataan yang berikutnya kepada dunia mengenai karakter-Nya, kekudusan-Nya dan kuasa-Nya. Bagaimana bisa kekacauan yang terjadi di Mesir menyatakan Allah yang hidup? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Menghakimi Ilah-ilah Mesir ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa sarjana telah mencatat bahwa setiap tulah di Mesir ditujukan terhadap ilah-ilah palsu Mesir atau struktur kekuasaan yang bersifat menindas yang dihormati secara fanatis.  Beberapa ilah Mesir, seperti Sungai Nil, atau dewa matahari, secara langsung dipermalukan oleh tulah darah dan kegelapan. Ilah-ilah yang lain secara langsung dipermalukan dengan mempertunjukkan ketidakmampuan mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Ada ilah yang dipuja karena dapat menangkal serbuan serangga atau melindungi ternak dari penyakit. Petinggi agama yang berkuasa dipermalukan. Militer Mesir yang sangat ditakuti secara ringkas dilenyapkan. Mengapa Allah menghancurkan Mesir di hadapan dunia yang menyaksikan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menjalankan penghukuman “kepada semua allah di Mesir” (Kel. 12:12). Allah tidak bermaksud menghancurkan manusia, tetapi menghancurkan sekumpulan allah palsu yang sangat dihormati di muka bumi. Jika Allah mau menghancurkan bangsa Mesir Dia dapat melakukannya dengan cepat. “Bukankah sudah lama Aku dapat mengacungkan tangan-Ku untuk membunuh engkau …, sehingga engkau terhapus dari atas bumi; akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup … supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi” (Kel. 9:15-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Bangsa-bangsa Memperhatikan ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah berhasil? Apakah dunia memperhatikan ketika Allah menjadikan nama-Nya besar? Kehancuran yang dicatat dalam kitab Keluaran tidak terlihat dalam tulisan Mesir kuno berupa simbol-simbol, tetapi kita harus mengerti bahwa peristiwa yang merusak nama Mesir ini tidak pernah dilupakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab melaporkan bahwa gelombang Laut Merah belum sepenuhnya surut ketika Musa memimpin bangsa Israel bernyanyi, “TUHAN, itulah nama-Nya…. Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu?” Kemudian mereka mulai menyebutkan beberapa bangsa-bangsa di sekitar mereka, menyatakan dengan jelas bahwa: “Bangsa-bangsa mendengarnya, merekapun menggigil …” (Kel. 15:3, 11, 14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yitro telah dimasukkan ke dalam keluarga Musa, tetapi tidak mengikuti kepercayaan orang Yahudi. Dia pasti telah mendengar tentang Allah orang Ibrani selama bertahun-tahun dari Musa. Mungkin banyak orang dan kota telah mendengar sesuatu mengenai Allah yang luar biasa ini tanpa percaya atau beribadah kepada-Nya. Tetapi perhatikan perkataan Yitro setelah tulah di Mesir. “Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, karena memang orang-orang ini telah bertindak angkuh terhadap mereka” (Kel. 18:11). Yitro adalah seorang imam kepala dari sebuah suku bangsa asing, berkualifikasi untuk menilai masalah religius (Kel. 18:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seraya kita membaca kisah Musa melawan orang Mesir pada hari ini, sepertinya Mesir hanyalah salah satu kerajaan jahat yang menganiaya budak. Pada zaman Musa sudah merupakan pengetahuan umum kalau Mesir adalah sebuah kompleks dari kekuatan religius, ekonomi dan militer yang secara tak terelakkan dijerat dengan kekuatan-kekuatan rohani. Allah mengatasi sistem tersebut untuk menunjukkan apa inti semuanya ini?sesuatu kekuatan rohani yang jahat dan menakutkan, yang diabdikan untuk menghalangi orang-orang yang ingin beribadah kepada Allah. Allah telah memberkati Mesir, tetapi Mesir telah menjadikan dirinya musuh Tuhan. “Penghukuman” Tuhan melalui tulah dan peristiwa di Laut Merah (Kel. 12:12) jangan dimengerti semata-mata sebagai hukuman bagi perbuatan yang salah. Intervensi Allah menghancurkan kuk kejahatan untuk membebaskan manusia. Mengapa mereka dibebaskan? “Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku.” Allah telah mengorkestrasi peristiwa Eksodus agar kemuliaan-Nya dinyatakan dengan membuat nama-Nya dikenal secara global. Kemudian, dengan dunia menyaksikan, Dia menarik umat bagi Diri-Nya untuk menegakkan suatu cara ibadah di mana bangsa-bangsa lain dapat ikut serta di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penaklukan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penaklukan Kanaan harus dimengerti dalam terang Tuhan memenangkan sebuah umat, umat yang kudus bagi diri-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Bagi umat ini, dan melalui kesaksian mereka, Dia akan menarik setiap suku bangsa lainnya untuk menghormati dan mengenal Dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Ganjaran yang Adil ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara sekilas bagi pembaca moderen, penaklukan tersebut terlihat seperti perebutan wilayah yang bersifat genosida ketimbang sebuah tindakan dari Allah yang penuh kasih dan baik. Tetapi melihat lebih dekat bagian Alkitab yang terkait menunjukkan bahwa Tuhan menetapkan penaklukan Kanaan dengan tujuan ganda. Pertama, Tuhan memberikan ganjaran yang adil bagi “kejahatan” orang-orang di wilayah tersebut (Ul. 9:5). Lama sebelum peristiwa ini, Allah telah mengatakan kepada Abraham bahwa “kedurjanaan orang Amori itu belum genap” (Kej. 15:16). Allah mengizinkan dosa terjadi secara penuh. Kita mungkin membayangkan bagaimana perasaan orang Kanaan tentang murka Allah. Satu pernyataan tercatat mengenai penaklukan dari orang Kanaan berasal dari seorang raja yang mengakui pelaksanaan yang adil dari keadilan Allah: “sesuai dengan yang kulakukan itu, demikianlah dibalaskan Allah kepadaku” (Hak. 1:7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Menghancurkan Ibadah yang Palsu ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, dan yang terutama, mengenai alasan untuk kekejaman menyeluruh dari penaklukan orang Ibrani adalah: Allah sedang menghancurkan sistem ibadah yang palsu demi mempertahankan devosi tunggal dari umat-Nya dan kekudusan nama-Nya. Hampir setiap bagian yang menggambarkan pemikiran di belakang penaklukan wilayah Kanaan memberikan alasan ini: ibadah orang Kanaan dapat dengan cepat membuat orang Ibrani “menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain” (Ul. 4:15-24; 6:13-15; 7:1-8; dst.). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yosua dan Musa keduanya menyerukan alasan yang sama yang Allah berikan bagi kekerasan dari penaklukan: pada intinya, semua itu merupakan suatu penghancuran terhadap ibadah yang palsu. Allah telah mengamanatkan penghancuran agar Israel jangan pernah “mengakui nama allah mereka dan bersumpah demi nama itu, dan beribadah atau sujud menyembah kepada mereka” (Yos. 23:7). Meskipun ada beberapa kesulitan untuk sepenuhnya memahami bagian cerita tentang umat Allah, satu hal yang jelas mengenai penaklukan ini: tujuannya adalah murni berkaitan dengan ibadah. Tujuan Allah bukanlah agar Israel menjadi satu-satunya bangsa yang beribadah kepada-Nya. Tujuan-Nya adalah untuk memastikan agar Dia menjadi satu-satunya Allah yang mereka sembah dalam ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Pemujaan Berhala akan Menajiskan Nama Allah ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemujaan berhala sepertinya tidak menjadi ancaman bagi orang percaya pada hari ini. Keempat perintah pertama dari Sepuluh Perintah Tuhan dapat membingungkan atau bahkan membuat kita jadi bosan. Mengapa Allah begitu bersemangat tentang pemujaan berhala? Tanpa mengerti tujuan global Allah untuk kemuliaan-Nya, kelihatannya Allah terlalu berlebihan berkenaan dengan kebiasaan primitif yang menjijikan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi mari kita melihat pemujaan berhala dari sudut pandang Allah. Allah telah membedakan nama-Nya jauh di atas allah-allah lain. Setiap jenis pemujaan berhala pada akhirnya akan berdampak pada pengotoran (yaitu menjadikannya sebagai hal yang biasa) nama Allah, nama yang Allah telah pilih dan gaungkan ke seluruh dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan kembali peristiwa penaklukan Kanaan. Tujuan dari invasi bukan karena Israel layak mendapatkan wilayah milik orang lain. Allah mengatakan dengan jelas secara berulang-ulang kepada Israel kalau mereka dikhususkan atau dipilih bukan karena kebenaran mereka sendiri atau jumlah mereka yang banyak (Ul. 7:6-7). Israel berulang kali diberitahu bahwa Allah akan menghancurkan mereka sama cepatnya jika mereka berbalik dari menyembah Dia dan beribadah kepada allah lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan Alkitab memperlihatkan secara jelas kalau orang Ibrani beberapa kali hampir dihancurkan sepenuhnya oleh Allah. Mengapa? Bukankah Allah secara khusus mengasihi dan menyelamatkan mereka? Untuk semua kasih khusus yang Allah  telah janjikan kepada keturunan Abraham, Allah berketetapan hati bekerja demi kemuliaan-Nya. Allah tidak segan untuk menunda dan berurusan dengan generasi yang lain. Masalah pokok dalam setiap keadaan kritis adalah ibadah umat Allah dan kesaksian mereka bagi kemuliaan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu contoh membuat tujuan Allah yang tetap ini menjadi jelas: pemberontakan di Kadesy. Orang Israel telah mengikuti Allah melalui suatu cara terbuka di hadapan Allah, dan sedang berada di puncak pemenuhan tujuan Allah. Mata-mata dikirim untuk melihat wilayah tersebut dan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Sepuluh mata-mata membuat takut seluruh bangsa, menyebabkan pemberontakan histeris umat Israel demi keamanan diri mereka (Bil. 13:17 – 14:10). Allah sudah siap untuk menghancurkan seluruh bangsa Israel dan memulai dari awal dengan Musa, membuat dari Musa dan keturunannya bangsa lain yang “lebih besar dan kuat” daripada orang-orang Ibrani ini. Masalahnya bukanlah bahwa umat Israel telah melakukan perbuatan yang begitu buruk sehingga Allah menjadi sangat marah. Allah hanya menginginkan sebuah bangsa yang setidaknya akan percaya kepada-Nya demi tujuan-Nya dapat dilaksanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musa bercakap-cakap dengan Tuhan, mengatakan apa yang sebelumnya pernah dia katakan (Kel. 32:1-14) bahwa bangsa-bangsa lain sedang memperhatikan. Bangsa-bangsa tersebut telah mendengar nama Tuhan dan jangan sampai mereka berkata hal yang salah karena apa yang akan Allah lakukan sekarang ini. “Jadi jikalau Engkau membunuh bangsa ini sampai habis, maka bangsa-bangsa yang mendengar kabar tentang Engkau (secara harfiah “nama”) itu nanti berkata: Oleh karena TUHAN tidak berkuasa membawa bangsa ini masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya …” Musa menantang Allah, mengatakan bahwa bangsa-bangsa tersebut akan menyimpulkan kalau Allah orang Ibrani itu adalah Allah yang lemah – menjanjikan sesuatu tetapi tidak dipenuhi (Bil. 14:15-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Musa meminta Allah meninggikan Diri-Nya sesuai dengan apa yang Allah sendiri firmankan: “TUHAN itu berpanjang sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran …”  Surga mungkin terdiam sejenak, dan kemudian Allah berkata bahwa Dia telah mengampuni Israel sesuai doa Musa. Kemudian, saya kira, Allah meninggikan suara-Nya, mengutarakan ekspresi yang paling kuat yang mungkin ada: “Hanya, demi Aku yang hidup dan kemuliaan TUHAN memenuhi seluruh bumi” (Bil. 14:17-21).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang ingin Allah katakan? Artinya Allah akan terus menggunakan bangsa Israel, tetapi menunggu generasi berikutnya. Meskipun Allah menunda, Dia tetap secara kekal berketetapan hati melaksanakan tujuan-Nya di bumi: memenuhi bumi dengan “kemuliaan Tuhan.” Untuk memenuhi tujuan tersebut membutuhkan umat yang taat, beribadah dan bersaksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bait Allah ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin bait Allah disebutkan pertama kali secara jelas adalah di dataran Moab sebelum Yosua memimpin bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian. Musa memberitahu perintah Allah untuk memusnahkan sama sekali “segala tempat, di mana bangsa-bangsa … beribadah kepada allah mereka.” Tempat ibadah ini tidak akan didirikan dari bekas tempat ibadah bangsa lain, tetapi tempat ibadah bangsa lain tersebut harus dimusnahkan sama sekali agar “nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu.” Nama Allah tidak pernah boleh diidentikkan dengan nama allah lain. Sebaliknya suatu tempat yang baru dan khusus akan dibangun, “sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana” (Ul. 12:2-14, terutama ayat 5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan pernyataan Allah mengenai tujuan dari tempat ibadah: “sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana.” Allah ingin melakukan dua hal dalam tempat khusus ini. Pertama, Dia ingin menyatakan Diri-Nya melalui “nama-Nya.” Tempat tersebut akan menjadi tempat penyataan ketika orang-orang yang beribadah terus menerus meninggikan karakter Allah dan memberitakan kisah tentang Allah dan bernyanyi tentang karya-Nya. Kedua, Allah menginginkan sebuah tempat pertemuan, tempat untuk berelasi, tempat untuk bersemayam. Sejak pertama kali bait Allah disebut, Allah sudah menyatakan keinginan-Nya untuk menikmati kedekatan di antara umat-Nya sebagai Tuhan yang ditinggikan, “supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka” (Kel. 25:8). Untuk “berdiam” merupakan suatu urusan relasional. Itulah ibadah yang disempurnakan. Allah mendekat kepada umat-Nya seraya mereka mendekat kepada-Nya. Salomo mengetahui kalau bait Allah bukan tempat tinggal Allah yang tetap. Ketika Salomo mempersembahkan bangunan bait Allah yang sudah jadi itu, dia berdoa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::“Tetapi benarkah Allah hendak diam bersama dengan manusia di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidaklah dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini” (2 Taw. 6:18). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daud telah merancang bait Allah sebagai tempat untuk mendekati Allah dengan pujian. Salomo menaruh para penyanyi dan pemusik yang telah ayahnya rencanakan. Para penyanyi ini harus terus “memuji dan memuliakan TUHAN” mengutip sebagian lagu Daud, dan tidak diragukan menggunakan himne puji-pujian Daud yang ditemukan dalam 1 Tawarikh 16:23-33 (salah satu versi yang mengikuti Mzm. 96, telah dibahas di atas), yang secara eksplisit memanggil “suku-suku bangsa” untuk beribadah kepada Allah (ay. 28).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut doa dedikasi Salomo, rumah Tuhan adalah tempat di mana Tuhan akan melihat, mendengar dan menjawab umat-Nya. Namun rumah Tuhan itu tidak hanya bagi orang Israel. Salomo menyebut “segala bangsa.” Salomo tahu bahwa tujuan Allah bagi bait Allah adalah menyambut segala bangsa untuk beribadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salomo mengetahui kisah ini sampai di situ. Allah telah membuat Diri-Nya dikenal luas. Orang-orang dari bangsa-bangsa lain akan berusaha mengenal Allah Israel secara pribadi. Dengarkan doa Salomo yang luar biasa ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Juga apabila seorang asing, yang tidak termasuk umat-Mu Israel, datang dari negeri jauh oleh karena nama-Mu, sebab orang akan mendengar tentang nama-Mu yang besar dan tentang tangan-Mu yang kuat dan lengan-Mu yang teracung – dan ia datang berdoa di rumah ini, maka Engkaupun kiranya mendengarkannya di sorga, tempat kediaman-Mu yang tetap, dan Engkau kiranya bertindak sesuai dengan segala yang diserukan kepada-Mu oleh orang asing itu, supaya segala bangsa di bumi mengenal nama-Mu, sehingga mereka takut akan Engkau sama seperti umat-Mu Israel … (1Raj. 8:41-43).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salomo tidak berdoa agar beberapa orang datang, tetapi agar banyak orang dari segala bangsa datang beribadah. Salomo berdoa agar segala bangsa dapat bertemu Tuhan ketika mereka datang ke rumah Tuhan untuk berdoa dan beribadah. Salomo tidak meminta agar bangsa-bangsa lain dapat mengenal Tuhan menurut cara mereka, tetapi agar mereka dapat mengenal Tuhan sama seperti yang dilakukan Israel. Salomo membayangkan segala suku bangsa bergabung bersama Israel dengan cara yang sama, rendah hati, bersukacita, memuji bersama dengan Tuhan – dengan “takut akan Tuhan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bangsa-bangsa Mulai Datang ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah laporan mengenai nama Allah tersebar ke seluruh dunia? Apakah bangsa-bangsa asing akan datang ke rumah Tuhan dan belajar takut akan Tuhan? Apakah Allah menjawab doa Salomo? Jawaban terbaik untuk pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “Ya” dan “Tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan menunjukkan bahwa setelah bait Allah selesai (1 Raj. 9:25), Ratu Syeba “mendengar kabar tentang Salomo, berhubung dengan nama TUHAN” (10:1, penekanan dari saya). Ratu Syeba datang untuk belajar, dia mendengarkan hikmat Salomo (ay. 8), dan pergi dengan pengertian akan Allah yang setia dengan kovenan-Nya “mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya.” Sebagai seorang penguasa yang juga memiliki kekuasaan yang besar, Ratu Syeba menyadari kalau Allah sendiri yang telah menegakkan kekuasaan Salomo, dan dia berharap agar melalui pemerintahan Allah, akan ada “keadilan dan kebenaran” (ay. 9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ini adalah peristiwa yang terpisah? Tampaknya tidak. Beberapa ayat kemudian menyatakan bahwa, “Seluruh bumi berikhtiar menghadap Salomo untuk menyaksikan hikmat yang telah ditaruh Allah di dalam hatinya,“ (ay. 24). Dunia tidak menghormati Salomo karena dia pintar dalam mengadili. Dunia mengenali bahwa Allah sendiri yang telah memberikan hikmat ke dalam hati Salomo. Dan apa pelajaran pertama yang Salomo tunjukkan kepada dunia? “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan” (Ams. 1:7, 9:10). Salomo sedang memperkenalkan kepada dunia ibadah kepada Allah dan hidup yang berhikmat di bawah pemerintahan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan Allah sepertinya sedang dipenuhi. Nama-Nya menjadi besar. Israel sedang membuat-Nya terkenal agar bangsa-bangsa dapat mengenal Allah secara pribadi. Apa yang mungkin dapat menghalangi rencana Allah membawa bangsa-bangsa mendekat kepada diri-Nya? Hanya satu hal. Masalah yang dengan keras Allah peringatkan kepada umat-Nya: penyembahan berhala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dari semua hal yang mungkin ditakutkan, hal yang paling menakutkan terjadi – Salomo sendiri yang membuka jalan kepada penyembahan berhala yang menjijikkan itu. Itu merupakan salah satu ironi terbesar dalam sejarah. Bayangkan harapan yang brilian dengan kekayaan dan keinginan dari bangsa-bangsa berpaling ke Israel. Salomo telah menyucikan bait Allah dalam pemandangan dengan kemuliaan yang tak dapat dibayangkan. Dia menutup peristiwa tersebut dengan berkat yang menyatakan tujuan dari bangunan dan bangsa, “supaya segala bangsa di bumi tahu, bahwa Tuhanlah Allah, dan tidak ada yang lain” (1 Raj. 8:60).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hanya tiga pasal setelah puncak pembukaan pintu bagi bangsa-bangsa untuk mengenal dan takut kepada nama Tuhan, hati Salomo berbalik “kepada allah-allah lain.” Salomo juga membangun bukit pengorbanan bagi allah lain yang dekat dengan gunung Tuhan yang kudus (1 Raj. 11:1-8). Apakah orang percaya yang membaca bagian ini tidak merasa kecewa hingga merasa mual? Jika ibadah memang berjalan murni dan stabil setidaknya satu generasi kemudian, kita tidak akan kesulitan untuk berspekulasi tentang apa yang mungkin terjadi kemudian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kesetiaan Tuhan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rencana Allah itu sederhana: Allah akan membuat nama-Nya besar dan Israel dapat membuat nama-Nya dikenal. Allah selalu bertujuan untuk memilih nama-Nya dari antara allah-allah lain, dan kemudian menyambut bangsa-bangsa untuk beribadah kepada-Nya secara pribadi karena nama-Nya telah dinyatakan melalui kesaksian dari bangsa Israel. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah ini sejak saat itu menjadi sebuah pergumulan jatuh bangun yang diperpanjang dengan penyembahan berhala. Beragam peristiwa membaharui kesetiaan untuk beribadah kepada Tuhan, tetapi diikuti dengan keadaan rendah yang mencengangkan menajiskan kembali nama Tuhan. Masalah terbesar di seluruh generasi adalah kemuliaan Allah melalui ibadah orang Israel. Pada waktu-waktu tertentu orang Israel sangat mengabaikan ibadah kepada Allah sehingga generasi demi generasi akan berlalu tanpa memperhatikan sedikit pun peraturan sederhana di mana Allah telah mengundang Israel untuk bertemu dengan-Nya (ketetapan-ketetapan untuk ibadah yang ada dalam kitab-kitab Musa). Kata-kata dari beberapa nabi menunjukkan bahwa bahkan ketika pola ibadah diikuti, pola tersebut hanya dijalankan secara dangkal. Para nabi telah membongkar ibadah yang sekadar rutinitas, menunjukkan bahwa ibadah tersebut sangat kekurangan keadilan dan kebaikan yang seharusnya menguat di belakang setiap ibadah dan doa kepada Allah (Yes. 1:11-15; Am. 5:21-24; Mik. 6:6-8). Meskipun Allah menunda kegoncangan besar Israel dan Yehuda, Ia akhirnya memisahkan bangsa Israel dari tanah perjanjian, yang merupakan tanda berkat Allah. Mereka dibuang ke negeri yang jauh. Kemudian tragedi terbesar terjadi: Rumah Allah dibakar dan diruntuhkan hingga menjadi puing-puing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendekati akhir masa pembuangan, Daniel berseru kepada Allah untuk menegakkan kembali janji-Nya untuk memulihkan bait Allah dan umat-Nya. Daniel sangat menyadari seluruh hal ini, bagaimana Allah telah membawa umat-Nya keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan kuasa-Nya … “memasyhurkan nama-Mu, seperti pada hari ini” (Dan. 9:15). Perhatian Daniel yang jauh lainnya adalah reruntuhan bait Allah di Yerusalem yang seharusnya menunjukkan kemuliaan telah menjadi penghinaan yang berkelanjutan terhadap kemuliaan Allah “bagi semua orang yang di sekeliling kami.” Daniel berdoa agar Tuhan mau memulihkan umat-Nya dan kota-Nya sehingga kemuliaan nama Tuhan juga akan dipulihkan. Daniel tidak mendasarkan permintaannya pada kebesaran Israel, tetapi “Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!” (Dan. 9:16-19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yehezkiel, yang hampir sezaman dengan Daniel, menyatakan tema yang sama. Allah telah menahan murka-Nya berulang kali untuk tidak menghancurkan Israel, tetapi Tuhan menahan murka-Nya adalah bagi kepentingan nama-Nya (Yeh. 20:5-22). Perlakuan Allah terhadap Israel bukan semata pilih kasih, tetapi satu-satunya hanya bagi kemuliaan nama-Nya di antara bangsa-bangsa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bukan karena kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, tetapi karena nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa di mana kamu datang. Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa (Yeh. 36:22-23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Nasib Israel: Kemuliaan dari Segala Bangsa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daniel dan Yehezkiel bukan satu-satunya nabi yang melihat kisah yang sedang berlangsung tentang Israel sebenarnya berfokus pada nama dan kemuliaan Allah. Nabi-nabi lainnya dan pemazmur juga berbicara tentang sejarah dan tujuan Israel dalam kerangka bangsa-bangsa dibawa kepada Tuhan karena nama-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan kemuliaan yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian! Katakanlah kepada Allah: “Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu. Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu” (Mzm. 66:1-4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu; mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN (Mzm. 138:4-5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut (Hab. 2:14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu. Dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia orang-orang yang memuja Aku, yang terserak-serak, akan membawa persembahan kepada-Ku (Zef. 3:9-10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi nama-Ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam (Mal. 1:11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini hanya sebagian contoh dari kalimat profetis yang mengaitkan identitas Israel dengan puncak tujuan Allah: kemuliaan Allah di bumi menarik semua suku bangsa beribadah kepada-Nya. Ketika umat Allah akhirnya dibawa kembali ke tanah perjanjian, membangun kembali bait Allah menjadi prioritas utama. Hagai menjelaskan bahwa bait Allah diperuntukan untuk kemuliaan Allah, dan bagi kemuliaan yang lebih besar yang belum pernah ada sebelumnya. “Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam” (Hag. 1:8; 2:7). Setelah pembuangan bangsa Israel menghindari penyembahan berhala. Tetapi keinginan akan suatu kejayaan bagi bangsa mereka, yang merupakan kemuliaan yang lebih kecil dari kemuliaan Tuhan, tidak pernah datang. Mereka menantikan seorang mesias pembebas yang akan membebaskan mereka dari penindasan. Mereka hampir melewatkan Mesias tersebut ketika Dia datang, karena visi Yesus mengenai penebusan adalah agar kerajaan Allah ditegakkan di antara segala suku bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kemuliaan Allah dalam Kristus  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kristus adalah puncak dari kisah kemuliaan Allah. Pada akhir segala sesuatu, Kristus akan membeli dan membawa manusia dari segala suku dan bahasa untuk memuliakan Bapa. Maka tidak mengherankan melihat bagaimana setiap tindakan-Nya merupakan bagian dari membawa kisah kemuliaan Allah kepada puncaknya bagi segala bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus menyimpulkan pelayanan-Nya dalam kerangka membawa kemuliaan Bapa-Nya ke seluruh dunia: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::“Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” Dan apa pekerjaan tersebut? “Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia” (Yoh. 17:4, 6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Menguduskan Nama Tuhan ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa yang Yesus ajarkan kepada para murid-Nya dapat dengan mudah disalahmengerti karena terjemahan yang kurang baik, terutama terjemahan Inggris kuno, “Hallowed be Thy name.” Doa ini bukan suatu pernyataan pujian. Doa ini secara eksplisit merupakan suatu permintaan dalam bahasa aslinya: “Bapa … kuduskanlah nama-Mu!” Bisa juga dikalimatkan sebagai berikut, “Bapa tinggikan, nyatakan, bukakan nama-Mu kepada segala bangsa di bumi. Jadilah terkenal karena nama-Mu memang mashyur. Buatlah seluruh bangsa di bumi mengenal dan memuji Engkau!” Doa ini dapat didoakan secara paling menyeluruh seperti yang Yesus ajarkan: “di bumi seperti di sorga.” Doa ini tidak diragukan keutamaannya bagi setiap orang percaya. Doa ini harus dapat dimengerti. Yesus jelas sekali sedang mengajarkan Gereja-Nya untuk berdoa bagi pemenuhan tujuan yang sudah dinyatakan sejak masa lalu dalam Taurat, kisah-kisah, lagu-lagu dan nubuat-nubuat Israel bagi kemuliaan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam satu peristiwa perjumpaan dengan seorang perempuan Samaria, Yesus menyatakan maksud Allah kepada perempuan itu dan bangsa-bangsa bukan Yahudi lainnya: “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian” (Yoh. 4:23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Sebuah Rumah Ibadah bagi Segala Bangsa ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kebanyakan waktu pelayanan publik-Nya dan saat yang paling penuhi belas kasih, Yesus membuat pernyataan tentang ibadah dari bangsa-bangsa. Dia membersihkan bait Allah dari komersialisasi religius yang membentuk penghalang bagi bangsa-bangsa untuk mendekati Allah. Yesus mengutip Yesaya 56:7, “rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.” Para pemimpin agama yang sedang mendengar Yesus pasti langsung mengetahui kalau Yesus sedang mengutip dari Yesaya 56:6-7. Yesus ingin mereka mendengar seluruhnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN, … mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kematian-Nya, Yesus menyatakan tujuan hidup-Nya, dan tujuan kematian-Nya yang sudah dekat (Yoh. 12:24-32). Dia secara terbuka mempertimbangkan pilihan yang ada dengan meminta Bapa untuk menyelamatkan-Nya dari kematian: “Apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini?” Tetapi alih-alih meminta untuk diselamatkan, Yesus berkata, “sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.” Apa tujuannya? Tujuannya terpancar keluar dari hati-Nya dalam pernyataan-Nya yang berikut. Tujuan ini menjadi doa kematian dan kehidupan-Nya: “Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Dan kemudian, dengan kekaguman dan kebingungan  orang-orang di sekitar-Nya, Allah Bapa sendiri menjawab Yesus dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya (nama-Ku), dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!” Jawaban Allah masih tetap mengguntur, ketika Bapa bagi kemuliaan nama-Nya yang besar. Yesus mengatakan bahwa jawaban tersebut tidak datang untuk Dia, tetapi bagi para pengikut-Nya yang juga akan memutuskan untuk mengikut Bapa-Nya (12:30) sesuai dengan tujuan Allah sejak dahulu kala. Bagaimana kematian Yesus memuliakan nama Allah? “apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (12:32).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
... Bersambung ke [[Kisah Kemuliaan-Nya (2)|bagian 2]]&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Alkitab_dalam_Penginjilan_Dunia&amp;diff=722</id>
		<title>Alkitab dalam Penginjilan Dunia</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Alkitab_dalam_Penginjilan_Dunia&amp;diff=722"/>
		<updated>2015-09-14T17:18:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{john stott}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa Alkitab, penginjilan dunia bukan hanya tidak mungkin melainkan sesungguhnya tidak dapat dibayangkan. Alkitablah yang meletakkan kepada kita tanggung jawab untuk menginjili dunia, memberikan kita Injil untuk dikabarkan, mengatakan kepada kita bagaimana mengabarkannya dan menjanjikan kepada kita bahwa Injil itu adalah kekuatan Allah bagi keselamatan setiap orang yang percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih lagi, Alkitab merupakan fakta sejarah yang bisa diamati, baik mengenai masa lampau maupun masa kini, bahwa tingkatan komitmen gereja bagi penginjilan dunia sebanding dengan tingkatan keyakinan gereja terhadap otoritas Alkitab. Kapan pun orang Kristen kehilangan keyakinan mereka terhadap Alkitab, mereka juga kehilangan gairah bagi penginjilan. Sebaliknya, kapan pun mereka yakin terhadap Alkitab, maka mereka bertekad bagi penginjilan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan mengembangkan empat alasan mengapa Alkitab harus ada bagi penginjilan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Mandat bagi Penginjilan Dunia ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, Alkitab memberikan kita mandat bagi penginjilan dunia. Kita jelas memerlukannya. Dua fenomena terlihat semakin berkembang di mana-mana. Pertama adalah fanatisme religius dan kedua pluralisme religius. Orang fanatik menunjukkan jenis kegairahan yang tidak rasional yang (jika dimungkinkan) akan menggunakan kekuatan untuk memaksakan kepercayaan atau menghapuskan ketidakpercayaan. Pluralisme religius mendorong kecenderungan yang berlawanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapan pun semangat fanatisme religius atau kebalikannya, ketidakpedulian religius menguasai, penginjilan dunia sangat ditolak. Orang fanatik menolak untuk mendukung rival yang diwakilkan oleh penginjilan, dan orang pluralis menolak tuntutan eksklusif dari Injil. Penginjil Kristen dianggap sebagai membuat penyusupan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan ke dalam urusan pribadi orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghadapi perlawanan ini kita perlu mengerti dengan jelas tentang mandat apa yang Alkitab berikan kepada kita. Ini bukan hanya Amanat Agung, (sama pentingnya), tetapi seluruh penyataan yang ada dalam Alkitab. Saya akan mengulangi hal ini secara singkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya ada satu Allah yang hidup dan sejati, Pencipta alam semesta, Tuhan segala bangsa dan Allah atas semua roh makhluk ciptaan. Sekitar 4.000 tahun yang lalu Dia memanggil Abraham dan membuat sebuah kovenan dengannya, berjanji bukan hanya memberkati Abraham tetapi juga melalui keturunannya untuk memberkati seluruh kaum di bumi (Kej. 12:1-4). Teks Alkitab ini merupakan salah satu batu fondasi misi Kristen. Karena keturunan Abraham (yang melaluinya semua bangsa akan diberkati) adalah Kristus dan umat Kristus. Jika melalui iman kita menjadi milik Kristus, kita juga adalah anak rohani Abraham dan mempunyai tanggung jawab terhadap umat manusia.  Demikian juga para nabi Perjanjian Lama telah diberitahu sebelumnya tentang bagaimana Allah akan membuat Kristus sebagai pewaris dan terang bagi bangsa-bangsa (Mzm.2;8; Yer.42:6; 49:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Yesus datang, Dia mendukung janji-janji tersebut.  Memang benar, selama pelayanan-Nya di bumi Dia dibatasi “kepada domba-domba yang hilang dari orang Israel” (Mat. 10:6; 15:24), tetapi Dia bernubuat bahwa banyak, “orang akan datang dari timur dan barat dan dari utara dan selatan,” dan akan “duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga” (Mat. 8:11; Luk. 13:29). Lebih jauh setelah kebangkitan-Nya dan dalam penantian akan kenaikan-Nya Yesus membuat pernyataan yang luar biasa bahwa “segala kuasa di sorga dan di bumi” telah diberikan kepada-Nya (Mat.28:18). Sebagai konsekuensi otoritas-Nya atas alam semesta inilah Dia memerintahkan para pengikut-Nya untuk menjadikan segala bangsa sebagai murid-Nya, membaptis mereka ke dalam komunitas-Nya yang baru dan mengajarkan mereka segala sesuatu yang telah diajarkan-Nya (Mat. 28:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Roh Kudus dari kebenaran dan kuasa turun ke atas mereka, orang Kristen mula-mula mulai menjalankan misi ini. Mereka menjadi saksi bagi Kristus sampai ke ujung bumi (Kis. 1:18).  Lebih lanjut mereka melakukannya “karena nama-Nya” (Rom. 1:5; 3 Yoh. 7).  Mereka tahu Allah telah meninggikan Yesus, menempatkan-Nya di sebelah kanan Allah dan memberi-Nya kedudukan tertinggi agar setiap lidah mengaku ketuhanan-Nya. Mereka merindukan bahwa Yesus harus menerima kehormatan sesuai dengan nama-Nya. Selain itu, pada suatu hari Dia akan datang dalam kemuliaan untuk menyelamatkan, untuk menghakimi dan untuk memerintah. Jadi apa yang akan memenuhi masa di antara dua kedatangan-Nya ini? Misi ke seluruh dunia oleh Gereja!  Yesus berkata akhir zaman tidak akan datang sampai Injil telah diberitakan ke seluruh dunia (bdk. Mat. 24:14; 28:20; Kis. 1:8). Kedua ujung ini akan bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, mandat kita untuk penginjilan dunia adalah seluruh Alkitab. Mandat ini bisa ditemukan dalam tindakan penciptaan oleh Allah (Karena semua manusia sebagai makhluk ciptaan bertanggung jawab kepada-Nya), dalam karakter Allah (sebagai yang menjangkau, mengasihi, berbelas kasihan, tidak rela jika ada yang binasa, menginginkan agar semua bertobat), dalam janji-janji Allah (agar segala bangsa diberkati melalui keturunan Abraham dan menjadi pewaris Mesias), dalam Kristus Tuhan (sekarang ditinggikan dengan otoritas atas alam semesta, menerima pengakuan dari seluruh alam semesta), dalam Roh Allah (yang menyadarkan dosa, menjadi saksi bagi Kristus, dan mendorong gereja untuk menginjili) dan dalam Gereja Tuhan (yang terdiri dari berbagai bangsa, komunitas yang misioner, di bawah perintah untuk menginjili sampai Kristus kembali). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimensi global dari misi Kristen ini tidak bisa ditolak. OrangKristen secara individu dan gereja-gereja lokal yang tidak berkomitmen bagi penginjilan dunia sedang menyangkal (entah melalui ketidaktahuan atau ketidaktaatan) bagian esensial dari identitas yang Allah berikan kepada mereka. Mandat alkitabiah bagi penginjilan dunia tidak dapat dihindari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Berita bagi Penginjilan Dunia ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, Alkitab memberi kita berita bagi penginjilan dunia. Perjanjian Lausanne mendefinisikan penginjilan dalam istilah penginjil. Paragraf keempat dimulai dengan: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menginjili adalah menyebarkan kabar baik bahwa Yesus Kristus telah mati bagi dosa-dosa kita dan telah dibangkitkan dari antara orang mati sesuai dengan Kitab Suci, dan sebagai Tuhan yang bertakhta, Kristus kini menawarkan pengampunan dosa dan Roh yang memerdekakan bagi semua yang bertobat dan percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berita kita berasal dari Alkitab. Meskipun demikian, ketika kita kembali ke Alkitab untuk mendapatkan berita tersebut, kita berhadapan dengan suatu dilema. Di satu sisi berita tersebut diberikan kepada kita. Kita tidak menciptakan kabar tersebut; berita tersebut telah dipercayakan kepada kita sebagai “deposit” yang berharga, di mana kita sebagai pelayan yang setia harus menjaga dan memeliharanya bagi rumah Allah (1 Tim. 6:20; 2 Tim. 1:12-14; 2 Kor. 4:1-2). Di sisi yang lain, berita tersebut tidak diberikan kepada kita sebagai suatu formula tunggal, rapih dan matematis, namun di dalam keragaman formula yang kaya, yang di dalamnya berbagai gambaran yang berbeda atau metafora digunakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi hanya ada satu kabar baik, yang disetujui oleh para rasul (1 Kor. 15:11), dan Paulus mengatakan kutuk Allah dapat jatuh kepada setiap orang – termasuk dirinya – yang mengabarkan Injil yang “berbeda” dari Injil orisinil tentang kasih karunia Allah yang telah dikabarkan oleh para rasul (Gal. 1:6-8). Tetapi para rasul memberitakan kabar baik yang satu ini secara beragam – secara pengorbanan (pencurahan dan pemercikan darah Kristus), secara mesianik (terwujudnya pemerintahan yang telah Allah janjikan sebelumnya), secara legal (Hakim menyatakan orang yang bersalah menjadi tidak bersalah), secara personal (Bapa memperdamaikan anak-anak-Nya yang menyimpang), secara penyelamatan (Pembebas dari sorga turun untuk menyelamatkan yang tidak berdaya), secara kosmik (Tuhan alam semesta mengklaim kekuasaan-Nya atas alam semesta); dan ini baru sebagian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kabar baik tersebut tetap satu kabar baik namun beragam. Kabar tersebut “diberikan,” tetapi diadaptasi secara kultural bagi pendengarnya. Sekali kita mengerti hal ini, kita terhindar dari membuat dua kesalahan yang berlawanan. Pertama adalah kesalahan yang saya sebut “keluwesan total.” Baru-baru ini saya mendengar seorang pemimpin gereja di Inggris menyatakan bahwa tidak ada yang namanya Injil sampai kita memasuki situasi di mana kita harus bersaksi. Kita tidak membawa apa-apa ke dalam situasi tersebut, kata pemimpin gereja tersebut; kita menemukan Injil hanya ketika kita telah tiba dalam situasi tersebut. Perhatikan, saya setuju sepenuhnya dengan kebutuhan untuk peka terhadap setiap situasi, tetapi jika ini poin yang ingin dikatakan oleh pemimpin gereja tersebut, dia menyatakannya terlalu berlebihan. Memang ada Injil yang dinyatakan atau diberikan itu dan kita tidak memiliki kebebasan untuk memalsukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesalahan yang berlawanan dengan yang pertama saya sebut “kekakuan total.” Di dalam kasus ini si penginjil berlaku seolah-oleh Allah telah memberikan serangkaian formula yang tepat yang harus kita ulangi kata per kata, dan gambaran tertentu yang harus kita gunakan secara tetap. Hal ini membawa kepada perbudakan kata atau gambaran atau keduanya. Beberapa penginjil jatuh ke dalam penggunaan jargon yang basi, sedangkan yang lain merasa wajib di setiap saat untuk menyebut “darah Kristus” atau “pembenaran oleh iman” atau “kerajaan Allah” atau gambaran lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara dua ekstrem ini ada cara ketiga dan yang lebih baik. Cara ini menggabungkan komitmen terhadap fakta pewahyuan dengan komitmen terhadap tugas kontekstualisasi. Cara ini menerima bahwa hanya formulasi alkitabiah dari Injil yang diterima sebagai norma yang permanen, dan bahwa setiap usaha untuk memberitakan Injil dalam ungkapan modern harus membenarkan dirinya sebagai suatu ekspresi otentik dari Injil yang alkitabiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun cara ini menolak untuk membuang formulasi-formulasi alkitabiah dan juga menolak untuk mengutip formulasi-formulasi tersebut secara kaku dan tidak imajinatif. Sebaliknya, kita harus terus terlibat dalam pergumulan yang terus menerus (melalui doa, belajar, dan diskusi) untuk menghubungkan Injil yang ada pada kita dengan situasi yang ada. Karena Injil datang dari Allah kita harus menjaganya; karena Injil dimaksudkan untuk dibagikan kepada manusia modern kita harus menafsirkannya. Kita harus menggabungkan kesetiaan (terus mempelajari teks Alkitab) dengan kepekaan (terus mempelajari keadaan masa kini). Hanya dengan begitu kita dapat berharap dengan kesetiaan dan relevansi untuk menghubungkan Firman kepada dunia, Injil kepada konteks, Kitab Suci kepada budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Model bagi Penginjilan Dunia ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, Alkitab memberi kita model bagi penginjilan dunia. Selain berita (apa yang harus kita katakan) kita membutuhkan sebuah model (bagaimana kita harus mengatakannya). Alkitab menyediakan hal ini juga: karena Alkitab tidak hanya berisi Injil; Alkitab adalah Injil. Di seluruh Alkitab Allah sendiri sebenarnya yang sedang menginjili, yaitu, mengomunikasikan kabar baik kepada dunia. Anda pasti ingat pernyataan Paulus mengenai Kejadian 12:3 bahwa “Kitab Suci … telah lebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham” (Gal. 3:8). Seluruh Kitab Suci memberitakan Injil; Allah menginjili melalui Kitab Suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Kitab Suci itu sendiri merupakan penginjilan ilahi, Alkitab dapat menjadi alasan mengapa kita dapat belajar bagaimana memberitakan Injil dengan mencermati bagaimana Allah telah melakukannya. Allah telah memberikan kita suatu model penginjilan yang indah di dalam proses inspirasi alkitabiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang langsung mengejutkan kita adalah keagungan Allah dalam perendahan diri-Nya.  Allah memiliki kebenaran yang agung untuk dinyatakan tentang diri-Nya dan Kristus, belas kasih-Nya dan keadilan-nya, dan kepenuhan keselamatan-Nya. Dan Allah memilih untuk membukakan semuanya melalui kosa kata dan tata bahasa manusia, melalui manusia, gambaran dan budaya manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun melalui media bahasa dan gambaran manusia yang rendah ini, Allah menyatakan Firman-Nya. Doktrin Injili kita tentang inspirasi Alkitab menekankan kepengarangan ganda. Manusia berbicara dan Allah berbicara. Manusia berbicara atas nama Allah (2 Ptr. 1:21) dan Allah berbicara melalui manusia (Ibr. 1:1). Kata-kata yang diucapkan dan ditulis sama sama dari Allah dan manusia. Allah menetapkan apa yang ingin dikatakan-Nya, tetapi tidak mematikan kepribadian manusia yang berbicara. Manusia menggunakan kemampuan mereka secara bebas, tetapi tidak mendistorsi pesan ilahi. Orang Kristen ingin menegaskan hal yang sama terkait dengan Inkarnasi, klimaks dari Allah yang mengomunikasikan diri-Nya sendiri. “Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh. 1:14). Firman Allah yang kekal, yang sejak kekekalan telah bersama dengan Allah dan adalah Allah, agen yang melalui-Nya alam semesta diciptakan, menjadi manusia, secara khusus manusia Yahudi Palestina abad pertama. Dia menjadi kecil, lemah, miskin, dan rapuh. Dia mengalami derita dan lapar, dan terekspos kepada pencobaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya termasuk dalam “daging,” Ia menjadi seorang manusia.  Tetapi, ketika Dia menjadi salah satu dari kita, Dia tidak berhenti menjadi diri-Nya. Dia tetap selamanya Firman Allah yang kekal atau Anak Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara mendasar, prinsip yang sama diilustrasikan dalam inspirasi Kitab Suci dan inkarnasi Anak Allah. Firman menjadi daging. Allah mengomunikasikan diri-Nya melalui menjadikan diri-Nya sebagai manusia. Dia menjadi sama seperti kita, namun tanpa menghilangkan identitas-Nya. Prinsip “indentifikasi tanpa kehilangan identitas” inilah model bagi seluruh penginjilan, khususnya penginjilan lintas budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian dari kita menolak untuk diidentifikasikan (disamakan) dengan orang-orang yang kita klaim sedang kita layani. Kita tetap menjadi diri kita, tidak menjadi seperti mereka. Kita tetap menjauh. Kita terus berpegang pada warisan budaya kita dalam pandangan yang keliru bahwa warisan tersebut merupakan bagian yang harus ada dari identitas kita. Kita tidak rela untuk melepaskannya. Kita bukan hanya mempertahankan berbagai praktik budaya kita dengan kekerasan hati yang garang, tetapi kita juga memperlakukan warisan budaya dari tempat yang kita adopsi tanpa rasa hormat yang patut diterimanya. Jadi kita mempraktikkan semacam penjajahan budaya ganda, memaksakan budaya kita sendiri kepada orang lain dan merendahkan budaya mereka. Ini bukan cara Kristus, yang mengosongkan diri-Nya sendiri dari kemuliaan-Nya dan merendahkan diri-Nya untuk melayani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Utusan Injil lintas budaya lainnya melakukan kesalahan yang berlawanan dengan kesalahan di atas. Mereka begitu bertekad untuk mengindentifikasikan diri mereka dengan orang yang mereka layani sehingga mereka menyerahkan berbagai standar-standar dan nilai-nilai Kristen mereka. Sekali lagi, ini bukan cara Kristus, karena di dalam keadaan-Nya sebagai manusia pun Dia tetap Allah sejati. Perjanjian Lausanne mengekspresikan prinsip ini seperti demikian: “Para pemberita Injil Kristus harus dengan rendah hati berusaha mengosongkan diri mereka dari semua hal kecuali otentisitas pribadi mereka, untuk bisa menjadi pelayan bagi orang lain” (paragraf 10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita harus bergumul dengan alasan-alasan mengapa orang menolak Injil, dan secara khusus memberi bobot terkait dengan berbagai faktor budaya. Beberapa orang menolak Injil bukan karena mereka melihat Injil sebagai sesuatu yang salah, tetapi mereka melihat itu sebagai sesuatu yang asing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
René Padilla dikritik di Lausanne [Kongres Penginjilan Dunia tahun 1974-ed.] karena mengatakan bahwa Injil yang dibawa oleh beberapa misionaris dari Eropa dan Amerika Utara berupa sebuah “budaya Kekristenan,” berita tentang kekristenan yang telah terdistorsi oleh budaya materialistik, konsumer dari dunia Barat. Sangat menyakitkan bagi kita orang Eropa mendengar dia berkata seperti itu, tetapi dia tentu saja benar. Setiap kita perlu menempatkan Injil yang kita beritakan kepada penyelidikan yang lebih kritis, dan dalam sebuah situasi lintas budaya, pengabar Injil asing perlu dengan rendah hati berusaha meminta pertolongan orang Kristen lokal untuk mencermati distorsi budaya dari berita mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang yang lain menolak Injil karena mereka melihat Injil sebagai ancaman bagi budaya mereka sendiri. Kristus tentu saja menantang setiap budaya. Di mana pun kita mewartakan Injil, baik kepada orang Hindu atau Budha, Yahudi atau M, sekuler atau Marxis, Yesus Kristus mengonfrontasi mereka dengan tuntutan-Nya untuk mengganti apa pun yang menjadi kesetiaan mereka dengan kesetiaan kepada diri-Nya. Kristus adalah Tuhan dari setiap pribadi dan setiap budaya. Ancaman dan konfrontasi seperti itu tidak dapat dihindari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi apakah Injil yang kita beritakan memberikan ancaman lain yang tidak perlu bagi orang yang kita beritakan, karena Injil yang kita beritakan mengharuskan penghapusan kebiasaan yang tidak merugikan atau tampak merusak kesenian, arsitektur, musik dan perayaan nasional, atau karena kita yang memberitakan Injil tersebut memiliki kesombongan budaya dan buta terhadap budaya lain? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ringkasnya, ketika Allah berbicara kepada kita dalam Kitab Suci Dia menggunakan bahasa manusia, dan ketika Dia berbicara kepada kita melalui Kristus, Dia menjadi manusia. Agar dapat menyatakan diri-Nya, Dia mengosongkan dan merendahkan diri-Nya. Inilah model penginjilan yang Alkitab berikan kepada kita. Di setiap penginjilan yang otentik selalu ada pengosongan diri dan merendahkan diri; tanpa hal tersebut kita melawan Injil dan salah mewakili Kristus yang kita beritakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Kuasa bagi Penginjilan Dunia ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat, Alkitab memberikan kita kuasa bagi penginjilan dunia. Saya tidak perlu menekankan kebutuhan kita akan kuasa, karena kita menyadari betapa rapuhnya kemampuan manusia kita dibandingkan dengan besarnya tugas yang harus kita jalankan. Kita juga menyadari baju zirah merupakan pelindung bagi hati manusia. Lebih buruk lagi, kita menyadari akan realitas kebencian dan kekuatan setan, dan kekuatan kejahatan yang ada di bawah pimpinannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang canggih mungkin merendahkan kepercayaan kita, dan mengejeknya, untuk membuat lelucon mereka lebih masuk akal. Namun kita sebagai orang Kristen Injili cukup naif untuk percaya apa yang Yesus dan para rasul-Nya ajarkan. Bagi kita, fakta yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh, tertuang dalam perkataan Yohanes, “seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat” (1 Yoh. 5:19). Karena sampai mereka dibebaskan oleh Yesus Kristus dan masuk ke dalam kerajaan-Nya, semua laki-laki dan perempuan adalah budak Setan. Lebih lagi, kita melihat kuasa si jahat dalam dunia masa kini – dalam kegelapan pemujaan berhala dan ketakutan terhadap roh, kepercayaan terhadap roh dan fatalisme, beribadah kepada dewa yang bukan Allah, keserakahan materialisme di dunia Barat, penyebaran komunisme ateistik, penyebaran bidat-bidat yang tidak masuk akal, kekerasan dan agresi, dan penurunan yang menyeluruh dari standar kebaikan dan kebenaran yang absolut. Semua hal di atas merupakan pekerjaan pribadi yang disebut Kitab Suci sebagai pembohong, penipu, pemfitnah dan pembunuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konversi dan regenerasi orang Kristen adalah mujizat dari anugerah Allah. Keduanya merupakan puncak dari pertempuran antara kuasa Kristus dan Setan atau (dalam gambaran apokaliptis yang jelas) antara Anak Domba dan Naga. Perampasan rumah orang kuat hanya dimungkinkan karena orang kuat tersebut telah diikat oleh Dia yang lebih kuat, dan melalui kematian dan kebangkitan-Nya telah melucuti dan mengalahkan pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa kejahatan (Mat. 12:27-29; Luk. 11:20-22; Kol. 2:15).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika demikian bagaimana kita dapat masuk ke dalam kemenangan Kristus dan mengalahkan kuasa setan? Biarlah Luther yang menjawab pertanyaan kita: ein wörtlein will ihn fällen (“sebuah perkataan singkat akan mengalahkannya”). Ada kuasa dalam Firman Allah dan dalam pemberitaan Injil. Ekspresi yang paling dramatis mengenai hal ini dalam Perjanjian Baru kita temukan dalam 2 Korintus 4. Paulus menggambarkan “ilah zaman ini” telah “membutakan pikiran orang-orang yang tidak percaya, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus” (ay. 4 NIV).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika pikiran manusia telah dibutakan, bagaimana mereka dapat melihat? Hanya melalui Firman Allah. Karena Allahlah yang mengatakan “Dari dalam gelap akan terbit terang” Dia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita “beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (ay. 6). Rasul Paulus kemudian menyamakan hati yang belum diregenerasi dengan kekacauan di masa penciptaan dan menghubungkan regenerasi dengan perintah Allah, “Jadilah terang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Setan membutakan pikiran manusia, dan Allah menerangi hati manusia, apa yang dapat kita harap untuk kontribusikan dalam perjumpaan ini? Apakah tidak lebih baik bagi kita untuk mundur dari medan pertempuran dan meninggalkan keduanya bertempur? Tidak, ini bukan kesimpulan yang didapat Paulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, antara ayat 4 dan 6, yang menggambarkan aktivitas Allah dan Setan, ayat 5 menggambarkan pekerjaan pemberita Injil: “kami beritakan … Yesus Kristus sebagai Tuhan.” Karena terang yang ingin dihalangi setan agar tidak dilihat manusia dan terang yang diberikan Allah kepada manusia adalah Injil, maka kita perlu memberitakan Injil! Memberitakan Injil, jauh dari tidak perlu, merupakan hal yang harus dilakukan. Memberitakan Injil adalah sarana yang Allah tentukan untuk mengalahkan pangeran kegelapan dan agar terang dapat masuk ke dalam hati manusia. Ada kuasa dalam Injil Allah – kuasa-Nya yang menyelamatkan (Rom. 1:16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita mungkin sangat lemah. Saya terkadang berharap kita lebih lemah lagi. Menghadapi kekuatan kejahatan, kita sering kali tergoda untuk menunjukkan kekuatan orang Kristen dan terlibat dalam percekcokan kecil dalam penginjilan. Tetapi di dalam kelemahan kita kekuatan Kristus menjadi sempurna dan perkataan manusia yang lemah dikuatkan oleh kuasa Roh. Jadi, ketika kita lemah kita kuat (1 Kor. 2:1-5; 2 Kor. 12:9-10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== Kabarkan Ke Seluruh Dunia! ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita tidak menghabiskan seluruh kekuatan kita untuk berdebat mengenai Firman Tuhan; marilah kita mulai menggunakannya. Firman Tuhan akan membuktikan kalau Firman itu berasal dari Tuhan melalui kuasa ilahinya. Kabarkan ke seluruh dunia! Hanya ketika setiap misionaris dan penginjil mengabarkan Injil yang sesuai dengan Alkitab dengan kesetiaan dan kepekaan, dan setiap pengkhotbah merupakan seorang yang mengeksposisi Firman Tuhan dengan setia! Barulah Tuhan akan menyatakan kuasa-Nya yang menyelamatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa Alkitab penginjilan dunia mustahil dilakukan. Karena tanpa Alkitab kita tidak memiliki Injil untuk diberitakan ke segala bangsa, tidak ada jaminan yang mengharuskan Injil diberitakan kepada mereka, tidak mengerti bagaimana mengerjakan tugas yang telah diberikan, dan tidak ada harapan akan keberhasilan. Alkitablah yang memberi kita mandat, berita, model dan kuasa yang kita perlukan bagi penginjilan dunia. Jadi marilah kita memilikinya kembali melalui belajar dengan tekun dan merenungkannya. Marilah kita mendengarkan panggilannya, mengerti pesannya, mengikuti pengarahannya dan percaya pada kuasanya. Marilah kita mengangkat suara kita dan memberitakannya.&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Allah_yang_Hidup_adalah_Allah_yang_Misioner&amp;diff=721</id>
		<title>Allah yang Hidup adalah Allah yang Misioner</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Allah_yang_Hidup_adalah_Allah_yang_Misioner&amp;diff=721"/>
		<updated>2015-09-14T16:40:38Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{john stott}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jutaan orang di dunia pada masa kini secara ekstrem memusuhi upaya misi kristen. Mereka menganggap hal itu mengganggu secara politis (karena kegiatan itu melonggarkan bahan perekat yang mengikat budaya nasional) dan picik secara religius (karena hal tersebut menuntut klaim eksklusif bagi Yesus), sedangkan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut dibayangkan menderita suatu imperialisme yang arogan. Usaha untuk mempertobatkan orang kepada Kristus ditolak dan dianggap sebagai gangguan yang tidak dapat dimaafkan dalam kehidupan pribadi mereka. “Agama saya adalah urusan saya,” kata mereka.  ”Urus urusanmu sendiri, dan biarkan saya mengurus urusan saya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, penting bagi orang Kristen untuk mengerti dasar-dasar di mana misi Kristen diletakkan. Hanya dengan begitu kita akan mampu bertekun dalam tugas misi, dengan keberanian dan kerendahan hati, meskipun dunia salah mengerti dan menentang. Lebih jelasnya, orang Kristen alkitabiah memerlukan dukungan Alkitab, karena kita percaya Alkitab merupakan wahyu tentang Allah dan kehendak-Nya. Jadi kita bertanya: Apakah Allah memang telah mewahyukan dalam Alkitab bahwa “misi” merupakan kehendak-Nya bagi umat-Nya? Hanya dengan demikian kita akan dipuaskan. Karena kemudian hal itu menjadi persoalan menaati Allah, apa pun yang orang lain pikirkan atau katakan. Saat ini kita akan berfokus pada Perjanjian Lama, meskipun seluruh Alkitab penuh dengan bukti bahwa misi merupakan tujuan misioner Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Panggilan Abraham==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah kita dimulai sekitar empat ribu tahun yang lalu dengan seorang yang bernama Abraham, atau lebih tepatnya, Abram, sebagaimana ia dipanggil pada waktu itu.  Kisah ini merupakan kisah panggilan Allah kepada Abraham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.  Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” (Kej. 12:1-3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah membuat suatu janji kepada Abraham (sebuah janji yang terdiri dari bagian yang berbeda, seperti yang akan kita lihat nanti).  Pemahaman akan janji tersebut merupakan suatu keharusan untuk mengerti Alkitab dan misi Kristen. Ayat-ayat di atas mungkin merupakan ayat-ayat yang paling menyatukan dalam Alkitab; seluruh tujuan Allah diringkaskan di sini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui suatu pendahuluan kita perlu melihat latar dari janji Allah ini, konteks yang di dalamnya janji tersebut diberikan.  Kemudian kita akan membagi seluruh pelajaran kita ke dalam dua bagian. Pertama, Janji (apa sebenarnya yang Allah katakan hendak Dia lakukan ) dan kedua – lebih panjang dari yang pertama – Penggenapan Janji (bagaimana Allah telah dan akan memegang janji-Nya). Kita akan memulai dari latar belakang terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Latar Belakang Janji Allah==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejadian 12 dimulai dengan: “Berfirmanlah TUHAN kepada Abraham.” Kalimat tersebut terdengar mendadak sebagai pembuka sebuah pasal yang baru. Kita terdorong untuk bertanya: “Siapakah “TUHAN” yang berbicara kepada Abraham ini?” dan “Siapa Abraham ini yang kepadanya TUHAN berfirman?” Kalimat ini tidak diperkenalkan secara tiba-tiba ke dalam teks. Kalimat ini memiliki pengertian yang besar. Kalimat ini merupakan kunci yang membuka seluruh Kitab Suci. Sebelas pasal sebelumnya mengarah kepada kalimat ini; seluruh isi Alkitab sesudahnya mengikuti dan memenuhi kalimat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas, apa latar belakang bagi teks ini?  Inilah latar belakangnya. “TUHAN” yang memilih dan memanggil Abraham adalah TUHAN yang sama yang pada mulanya menciptakan langit dan bumi dan pada puncak karya kreatif-Nya menciptakan pria dan wanita, makhluk yang unik yang segambar dengan-Nya. Dengan kata lain, kita tidak boleh lupa bahwa Alkitab dimulai dengan alam semesta, bukan dengan planet bumi; kemudian dengan bumi, bukan dengan Palestina; kemudian dengan Adam yang adalah bapa umat manusia, bukan dengan Abraham bapa umat pilihan. Oleh karena itu, Allah yang adalah Pencipta alam semesta, bumi dan seluruh umat manusia tidak pernah boleh kita turunkan ke status ilah suku atau allah kecil seperti Kamos ilah orang Moab, atau Milkom (atau Molokh) ilah orang Amon, atau Baal ilah para pria, atau Asytoret ilah para wanita bangsa Kanaan.  Kita juga tidak boleh menganggap bahwa Allah memilih Abraham dan keturunannya karena Ia telah kehilangan minat terhadap bangsa-bangsa lain atau mengabaikan mereka. Pemilihan bukanlah sinonim bagi elitisme. Sebaliknya, yang akan segera kita lihat, Allah memilih satu orang dan keluarganya agar, melalui mereka, semua kaum di bumi diberkati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, kita seharusnya tersinggung ketika Kekristenan diturunkan menjadi salah satu bab dalam sebuah buku mengenai agama-agama dunia seolah-olah agama Kristen hanya merupakan salah satu pilihan di antara banyak agama, atau ketika orang berkata tentang “Allah orang Kristen” seakan-akan ada Allah yang lain! Tidak, hanya ada satu Allah yang hidup dan benar yang telah menyatakan diri-Nya secara penuh dan tuntas dalam diri Anak-Nya yang tunggal Yesus Kristus.  Monoteisme terletak pada basis dari misi. Seperti tulisan Paulus kepada Timotius, “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Tim. 2:5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan kitab Kejadian berlanjut dari penciptaan segala sesuatu oleh Allah yang tunggal dan penciptaan manusia yang segambar dengan-Nya, kepada pemberontakan kita melawan Pencipta kita dan kepada penghakiman Allah atas makhluk ciptaan-Nya yang memberontak – suatu penghakiman yang kemudian dibebaskan oleh janji kabar baik-Nya yang pertama bahwa suatu hari keturunan wanita akan “meremukkan” kepala si ular (3:15).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Delapan pasal selanjutnya (Kej. 4-11) menggambarkan akibat-akibat Kejatuhan yang bersifat merusak tersebut dalam pengertian keterasingan umat manusia secara progresif dari Allah dan dari sesama kita manusia.  Inilah latar belakang di mana panggilan dan janji Allah tiba kepada Abraham. Segala sesuatu di sekitar merupakan kemerosotan moral, kegelapan dan pembubaran. Masyarakat terus mengalami disintegrasi. Namun Allah Sang Pencipta tidak meninggalkan umat manusia yang telah diciptakan-Nya seturut dengan gambar-Nya (Kej. 9:6).  Dari keadaan tidak mengenal Allah yang tersebar luas ini, Allah memanggil seorang manusia dan keluarganya dan berjanji untuk memberkati tidak hanya keluarganya, tetapi juga seluruh dunia, melalui keluarganya.  Keterserakkan tidak akan terus berlanjut tanpa terkendalikan; sebuah proses besar untuk mengumpulkan kembali kini akan dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Janji yang Terdiri Dari Bagian-Bagian yang Berbeda==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas janji apa yang Allah berikan kepada Abraham? Itu adalah sebuah janji yang terdiri dari beberapa bagian. Masing-masing janji tersebut dijabarkan dalam bagian-bagian yang mengikuti panggilan terhadap Abraham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Janji Mengenai Tanah===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panggilan Allah tampaknya telah tiba kepada Abraham dalam dua tahap: pertama di Ur Kasdim ketika ayahnya masih hidup (11:31; 15:7) dan ketika di Haran setelah ayahnya mati (11:32; 12:1). Abraham harus meninggalkan tanah kelahirannya, dan sebagai gantinya, Allah akan memberikan kepadanya tanah yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Abraham dengan murah hati mengizinkan keponakannya Lot untuk memilih tempat di mana ia ingin menetap (Lot memilih lembah Yordan yang subur), Allah berkata kepada Abraham: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan ke barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya” (13:14-15).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Janji Mengenai Keturunan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abraham harus meninggalkan sanak saudaranya dan rumah ayahnya, dan sebagai ganti kehilangan keluarganya Allah akan membuat keturunannya “sebuah bangsa yang besar.”  Untuk menunjukkan hal ini, Allah kemudian mengubah namanya dari Abram (“bapa yang ditinggikan”) menjadi Abraham (“bapa sejumlah besar bangsa”) karena Allah berkata kepadanya, “engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa” (Kej. 17:5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah memberi penglihatan lain kepada Abraham, menyuruhnya melihat ke langit bukan ke darat. Pada suatu malam gelap yang cerah Allah membawa Abraham keluar dari tendanya dan berkata kepada Abraham, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang.” Suatu perintah yang tidak masuk akal! Mungkin Abraham mulai menghitung, “1,2,3,5,10,20,30…,” tetapi dia pasti akan langsung menyerah. Itu merupakan tugas yang mustahil. Allah kemudian berkata kepadanya, “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Kita kemudian membaca, “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN.” Meskipun Abraham saat itu mungkin sudah berumur delapan puluh tahun dan meskipun dia dan Sara tetap belum memiliki anak, Abraham tetap percaya pada janji Tuhan dan “TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Maka, karena Abraham percaya kepada Allah, Allah melihat itu sebagai kebenaran (15:5-6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Janji Mengenai Berkat===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata memberkati dan berkat muncul lima kali dalam Kejadian 12:2-3. Berkat yang Allah janjikan kepada Abraham akan tercurah kepada seluruh umat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memberkati engkau.” Allah telah memperhitungkan iman Abraham sebagai kebenaran atau (meminjam ungkapan Perjanjian Baru) telah “membenarkannya melalui iman.” Tiada berkat yang lebih besar yang terkandung di situ. Itulah berkat dasar dari kovenan anugerah yang beberapa tahun kemudian Allah jabarkan kepada Abraham: “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu … menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu” (17:7-8). Allah kemudian memberi mereka sunat sebagai tanda lahiriah yang dapat dilihat mengenai kovenan anugerah-Nya atau sumpah untuk menjadi Allah mereka. Di sinilah pertama kali kita mendengar dalam Kitab Suci formula kovenan yang sering diulangi di kemudian hari: “Aku menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Penggenapan yang Progresif==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah tanah, sebuah keturunan, sebuah berkat – Tetapi apa hubungan semua itu dengan misi?  Untuk itu, mari kita lanjutkan pembahasan kita dari janji kepada penggenapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh pertanyaan mengenai penggenapan nubuat Perjanjian Lama merupakan pertanyaan yang sulit yang sering disalahmengerti dan memiliki banyak perbedaan pendapat. Hal yang khususnya penting adalah prinsip bahwa para penulis Perjanjian Baru sendiri memahami bahwa nubuat Perjanjian Lama tidak hanya memiliki satu melainkan biasanya tiga penggenapan – masa lalu, masa kini, dan masa depan. Penggenapan pada masa lalu merupakan penggenapan yang langsung atau historis dalam kehidupan bangsa Israel. Penggenapan pada masa kini merupakan penggenapan masa antara atau penggenapan Injil dalam Kristus dan Gereja-Nya. Masa depan akan merupakan penggenapan ultimat atau eskatologis di dalam langit yang baru dan bumi yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Penggenapan Historis yang Langsung ==&lt;br /&gt;
Janji Allah kepada Abraham menerima penggenapan historis yang langsung dalam keturunan fisiknya, yaitu bangsa Israel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Keturunan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Janji Allah kepada Abraham mengenai suatu keturunan yang sangat besar bahkan tidak terhitung banyaknya dikonfirmasi kepada putranya, Ishak (Kej. 26:4, “seperti bintang di langit”), dan cucunya, Yakub (32:12, “seperti pasir di laut”).  Secara bertahap janji tersebut mulai terwujud secara harfiah.  Mungkin kita bisa mengambil beberapa tahapan dalam perkembangan janji ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahap pertama berkaitan dengan tahun-tahun perbudakan di Mesir, yang tentangnya tertulis, “Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu digenapi mereka” (Kel. 1:7; bdk. Kis. 7:17).  Tahap berikutnya tiba beberapa ratus tahun kemudian ketika Raja Salomo menyebut Israel “suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya” (1 Raj. 3:8). Tahap ketiga kira-kira tiga ratus lima puluh tahun setelah Salomo; Yeremia memperingatkan bangsa Israel akan penghakiman dan pengasingan yang segera terjadi dan kemudian menambahkan janji Allah tentang pemulihan: “Seperti tentara langit tidak terbilang dan seperti pasir laut tidak tertakar, demikianlah Aku akan membuat banyak keturunan hamba-Ku Daud” (Yer. 33:22).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Tanah Perjanjian===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian banyaknya bagi keturunan Abraham; bagaimana dengan tanah? Sekali lagi kita memperhatikan dengan puji sembah dan rasa syukur atas kesetiaan Allah terhadap janji-Nya. Karena ingat akan janji-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub maka Tuhan pertama-tama membebaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir dan memberikan wilayah yang kemudian dalam kisah ini disebut  “tanah perjanjian” (Kel. 2:24; 3:6; 32:13), dan kemudian memulihkan mereka ke tanah tersebut kira-kira tujuh ratus tahun kemudian setelah pembuangan mereka di Babilon. Meskipun demikian, baik Abraham maupun keturunannya tidak pernah sepenuhnya mewarisi tanah tersebut. Seperti tertulis dalam Kitab Ibrani 11 “Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu.” Sebaliknya, “sebagai orang asing dan pendatang di bumi ini” mereka “merindukan sebuah kota yang telah dipersiapkan Allah bagi mereka” (Ibr. 11:8-16, 39, 40).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Berkat===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah telah memegang janji-Nya mengenai keturunan dan tanah, setidaknya sebagian. Bagaimana dengan berkat? Di gunung Sinai Tuhan menegaskan dan memperjelas kovenan-Nya dengan Abraham dan bersumpah demi diri-Nya untuk menjadi Allah Israel (mis Kel. 19:3-6). Di seluruh sisa Perjanjian Lama, Allah terus memberkati mereka yang taat dan menghakimi mereka yang tidak taat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin contoh yang paling dramatis muncul di awal nubuatan Hosea, di mana Hosea diperintahkan untuk memberi nama ketiga anaknya sesuai dengan gambaran penghakiman Allah yang besar dan progresif terhadap bangsa Israel. Anak pertamanya (laki-laki) diberi nama “Yizreel,” yang artinya “Allah akan menyerakkan.” Kemudian lahir anak perempuannya “Lo-Ruhama,” yang artinya “tidak disayangi,” karena Allah berkata Ia tidak akan lagi mengasihani atau mengampuni umat-Nya kaum Israel. Terakhir dia mendapat anak laki-laki “Lo-Ami,” yang berarti ”bukan umat-Ku” karena Allah berkata bahwa mereka bukanlah umat-Nya lagi. Betapa nama-nama yang mengerikan bagi umat pilihan Allah! Nama-nama tersebut terdengar seperti kontradiksi yang menghancurkan janji kekal Allah kepada Abraham.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi Allah tidak berhenti di situ. Karena melampaui penghakiman yang sedang datang akan ada suatu pemulihan, yang digambarkan dalam kalimat yang sekali lagi menggemakan janji kepada Abraham: “Tetapi kelak, jumlah orang Israel akan seperti pasir laut, yang tidak dapat ditakar dan tidak dapat dihitung” (Hos. 1:10). Dan kemudian penghakiman yang tersirat dalam nama-nama anak-anak dari Hosea akan dipulihkan. Akan ada pengumpulan sebagai ganti penyerakkan (“Yizreel” nama yang bisa bermakna ganda dan dapat berarti keduanya), “tidak disayangi” akan disayangi, dan “bukan umat-Ku” akan menjadi “anak-anak Allah yang hidup” (Hos. 1:10-2:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang luar biasa adalah Rasul Paulus dan Petrus mengutip kedua ayat ini dari Hosea. Mereka melihat penggenapan janji tersebut tidak hanya pada multiplikasi selanjutnya dari bangsa Israel tetapi juga dimasukkannya bangsa-bangsa lain ke dalam komunitas Yesus: “kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan” (1 Ptr. 2:9-10; bdk. Rom. 9:25-26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudut pandang Perjanjian Baru ini sangat mendasar ketika kita membaca nubuat-nubuat Perjanjian Lama, karena apa yang luput dari pengertian kita dalam Perjanjian Lama adalah penjelasan yang jelas tentang bagaimana berkat yang dijanjikan Allah ini akan meluap dari Abraham dan keturunannya kepada “seluruh kaum di muka bumi.” Meskipun bangsa Israel digambarkan sebagai “terang untuk menerangi bangsa-bangsa” dan memiliki misi untuk “menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa” (Yes. 42:1-6; 49:6), kita tidak melihat hal ini terjadi. Hanya di dalam Tuhan Yesus sendiri nubuat-nubuat ini digenapi, karena hanya di masa Tuhan Yesus bangsa-bangsa sesungguhnya dimasukkan ke dalam komunitas orang tebusan.  Inilah yang akan kita bahas selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Penggenapan Injil di Masa Antara==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Janji Allah kepada Abraham menerima masa antara atau penggenapan Injil dalam Kristus dan Gereja-Nya..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Keturunan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir seluruh kata pertama dari seluruh Perjanjian Baru adalah kata mengenai Abraham. Injil Matius dimulai dengan, “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak…” Jadi, Matius melihat kembali kepada Abraham, bukan hanya berkenaan dengan silsilah tetapi juga berkenaan dengan Injil Yesus Kristus. Dia tahu bahwa apa yang dicatatnya adalah penggenapan janji Allah kepada Abraham di masa lampau sekitar dua ribu tahun yang lalu. (Lihat juga Lukas 1:45-55, 67-75.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sejak awal Matius mengenali bahwa bukan hanya keturunan lahiriah Abraham yang memenuhi syarat untuk mewarisi janji-janji tersebut, tetapi semacam keturunan rohani, yaitu pertobatan dan iman di dalam Mesias yang akan datang.  Inilah perkataan Yohanes Pembaptis kepada kumpulan besar orang yang mendengarkan dia: “Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak Abraham dari batu-batu ini!” (Mat. 3:9; Luk. 3:8; bdk. Yoh. 8:33-40). Implikasi dari perkataan Yohanes ini pasti telah mengejutkan para pendengarnya karena “adalah kepercayaan waktu itu bahwa tidak ada keturunan Abraham yang dapat hilang.” 1 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Allah telah membangkitkan anak-anak bagi Abraham, jika bukan dari batu-batu, maka dari sumber yang sama-sama mustahilnya – yaitu bangsa-bangsa non-Yahudi!  Jadi Matius, meskipun merupakan penulis Injil yang paling Yahudi di antara keempat penulis Injil yang lain menulis perkataan Yesus ini, “Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap” (Mat. 8:11-12; bdk. Luk. 13:28-29).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sulit bagi kita untuk memahami betapa mengejutkan dan menggegerkan perkataan ini telah terdengar bagi para pendengar Yahudi pada masa Yohanes Pembaptis dan Yesus. Mereka adalah keturunan Abraham, jadi mereka berhak atas janji-janji yang Allah buat dengan Abraham. Siapa orang-orang luar yang harus berbagian dalam janji-janji ini, bahkan dengan jelas merampas mereka sedangkan mereka sendiri akan dibuang? Mereka sangat marah. Mereka agaknya telah melupakan bahwa bagian dari kovenan Allah dengan Abraham menjanjikan suatu curahan berkat kepada semua bangsa. Sekarang orang-orang Yahudi harus mengetahui bahwa dalam hubungan dengan Yesus Sang Mesias, yang adalah Keturunan Abraham sendiri, bahwa segala bangsa akan diberkati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasul Petrus setidaknya sudah mulai mengerti hal ini dalam khotbah keduanya, tepat setelah Pentakosta. Di dalam khotbahnya dia mengatakan kepada sekumpulan besar orang Yahudi: “Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu … perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu” (Kis. 3:25-26). Perkataan tersebut adalah pernyataan yang sangat penting karena Petrus menafsirkan berkat tersebut dalam pengertian pertobatan moral dan kebenaran serta keadilan dan karena, jika Yesus diutus “pertama” ke orang-orang Yahudi, Yesus bisa dikatakan diutus juga kepada bangsa-bangsa lain, yaitu “segala kaum di muka bumi” yang “masih jauh” (bdk. Kis. 2:39), namun yang sekarang turut berbagian dalam berkat tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, pada Rasul Pauluslah tema agung ini mengalami perkembangan yang penuh. Karena dia dipanggil dan diutus untuk menjadi rasul bagi bangsa-bangsa lain. Kepada dialah disingkapkan maksud rahasia Allah yang kekal untuk menjadikan orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi “ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus” (Ef. 3:6). Paulus menyatakan dengan amat berani, “Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham” (Rom. 9:6-7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas siapa saja yang merupakan keturunan sejati Abraham, ahli-ahli waris sejati dari janji Allah kepadanya? Paulus tidak meninggalkan kita dalam keraguan. Mereka adalah orang-orang percaya di dalam Kristus apa pun ras mereka. Di dalam Roma 4 Paulus menunjukkan bahwa Abraham tidak hanya menerima pembenaran melalui iman tapi juga menerima berkat ini sebelum Abraham disunat. Oleh sebab itu, Abraham adalah bapa semua orang yang, entah disunat atau tidak (yaitu, Yahudi atau bukan Yahudi), “mengikuti jejak iman Abraham” (Rom. 4:9-12). Jika kita “mengikuti iman Abraham,” maka “Abraham adalah bapa kita semua – seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa” (ay. 16-17). Maka, bukan keturunan lahiriah dari Abraham maupun sunat lahiriah sebagai orang Yahudi yang menjadikan seseorang sungguh-sungguh anak Abraham yang sejati, melainkan iman. Keturunan Abraham yang sejati adalah orang-orang percaya di dalam Yesus Kristus, entah mereka orang Yahudi maupun bukan Yahudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Tanah Perjanjian===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, apa “tanah perjanjian” yang diwarisi oleh keturunan Abraham? Surat kepada jemaat Ibrani merujuk kepada “tempat perhentian” yang dimasuki umat Allah dengan iman (Ibr. 4:3), dan dalam suatu pernyataan yang luar biasa Paulus merujuk kepada “janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia” (Rom. 4:13). Kita hanya beranggapan Paulus memaksudkan hal yang sama ketika Ia menulis kepada jemaat Korintus bahwa di dalam Kristus “segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya kamu punya” (1 Kor. 3:21-23). Orang-orang Kristen, melalui anugerah Allah yang ajaib, adalah pewaris segala sesuatu bersama dengan Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajaran yang mirip diberikan Paulus mengenai natur dari berkat yang dijanjikan dan yang penerimanya dalam Galatia 3. Pertama Paulus mengulangi bagaimana Abraham dibenarkan melalui iman dan kemudian berkata: “Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham” dan mereka juga “diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu” (ay. 6-9). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Berkat===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas apa berkat yang dengannya segala bangsa akan diberkati (ay. 8)? Singkatnya, itulah berkat keselamatan. Kita berada dalam kutuk Taurat, tetapi Kristus telah menebus kita darinya dengan menjadi kutuk menggantikan kita, supaya “di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu” (ay. 10-14). Kristus menanggung kutuk kita agar kita bisa mewarisi berkat Abraham, berkat pembenaran (ay. 8) dan berkat Roh Kudus yang berdiam di dalam kita (ay. 14). Paulus menyimpulkannya dalam ayat terakhir dari pasal ini (ay. 29): “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita belum selesai.  Ada tahap ketiga dari penggenapan yang masih akan datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Penggenapan Ultimat==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Janji Allah kepada Abraham akan menerima penggenapan ultimat atau eskatologis dalam nasib akhir dari semua orang tebusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Keturunan, Tanah dan Berkat===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Kitab Wahyu ada satu lagi referensi mengenai janji Allah kepada Abraham (7:9 dst.). Yohanes melihatnya dalam sebuah penglihatan “sekumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya.” Itu merupakan sebuah kumpulan internasional, diperoleh “dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa.” Mereka “berdiri di hadapan takhta,” simbol pemerintahan Allah sebagai raja. Artinya, kerajaan-Nya akhirnya tiba, dan mereka semua menikmati semua berkat dari pemerintahan anugerah-Nya. Dia menaungi mereka dengan kehadiran-Nya. Hari-hari mereka di padang belantara dengan kelaparan, kehausan dan panas terik telah berakhir. Akhirnya mereka telah memasuki tanah perjanjian, yang sekarang digambarkan bukan sebagai “tanah yang berlimpah dengan susu dan madu,” tetapi sebagai tanah yang diairi dengan “mata air kehidupan” yang tidak pernah kering. Tetapi bagaimana mereka sampai bisa mewarisi berkat-berkat ini? Sebagian karena mereka telah “keluar dari kesusahan besar,” tetapi utamanya karena “mereka telah membasuh jubah mereka dan menjadikannya putih dalam darah Anak Domba”; artinya, mereka telah dibersihkan dari dosa dan dipakaikan kebenaran melalui jasa kematian Yesus Kristus semata. “Oleh karena itulah mereka berdiri di hadapan takhta Allah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara pribadi, saya sangat tersentuh melihat sejenak penggenapan final di dalam masa kekekalan yang akan datang dari janji Allah di masa yang lalu kepada Abraham. Semua elemen inti dari janji tersebut bisa ditemukan. Karena di sinilah keturunan rohani Abraham, suatu “kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya,” sama tak terhitung banyaknya seperti pasir di pantai dan seperti bintang di langit. Di sini juga “semua kaum di bumi” diberkati, karena kumpulan besar orang banyak yang tak terhitung itu terdiri dari berbagai suku bangsa. Di sinilah juga tanah yang dijanjikan yaitu berkat yang melimpah yang mengalir dari pemerintahan Allah yang rahmani.  Dan yang terpenting adalah Yesus Kristus, Benih Abraham, yang telah mencurahkan darah-Nya bagi penebusan kita dan yang telah memberikan berkat-Nya kepada semua orang berseru kepada-Nya untuk diselamatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==Kesimpulan==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Izinkan saya untuk mencoba menyimpulkan apa yang telah kita pelajari mengenai Allah dari janji-Nya kepada Abraham dan penggenapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pertama, Dia adalah Allah dari Sejarah===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah bukanlah suatu aliran peristiwa yang terjadi secara acak, karena Allah sedang mengerjakan di dalam waktu sebuah rencana yang telah dipikirkan-Nya sejak kekekalan yang lampau dan akan digenapi di dalam kekekalan yang akan datang. Di dalam proses historis ini Yesus Kristus, sebagai Keturunan Abraham, adalah tokoh kunci. Marilah kita bersukacita, karena jika kita adalah murid Kristus, kita adalah keturunan Abraham. Kita berasal dari silsilah rohani Abraham. Jika kita telah menerima berkat pembenaran melalui iman, diterima oleh Allah dan Roh Kudus berdiam di dalam diri kita, maka kita adalah pewaris masa kini dari janji yang telah dibuat untuk Abraham empat ribu tahun yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kedua, Dia adalah Allah dari Kovenan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah cukup bermurah hati untuk membuat janji-janji, dan Dia selalu  memegang janji yang dibuat-Nya. Dia adalah Allah yang penuh kasih dan setia.  Ini tidak berarti bahwa Dia selalu memenuhi janji-Nya dengan segera. Abraham dan Sara “telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya” (Ibr. 11:13). Maksudnya, meskipun Ishak dilahirkan bagi mereka sebagai penggenapan janji, keturunan mereka belum banyak, demikian juga tanah belum diberikan kepada mereka, dan bangsa-bangsa juga belum diberkati. Semua janji Allah menjadi kenyataan, namun janji-janji itu diwariskan “melalui iman dan kesabaran” (Ibr. 6:12). Kita harus puas untuk menunggu waktu Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ketiga, Dia adalah Allah dari Berkat===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku akan memberkati engkau,” Allah berkata kepada Abraham (Kej. 12:2). “... pertama-tama Allah ... mengutus-Nya (Yesus) kepada kamu supaya Ia memberkati kamu,” Petrus mengulangi. Sikap Allah terhadap umat-Nya positif, membangun dan memperkaya. Penghakiman adalah “perbuatan ganjil” Allah (Yes. 28:21). Prinsip dan karakteristik karya-Nya adalah untuk memberkati umat-Nya dengan keselamatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Keempat, Dia adalah Allah dari Belas Kasih===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya selalu mendapat penghiburan dari pernyataan dalam Wahyu 7:9, bahwa kumpulan orang tebusan di sorga akan “sangat banyak dan tidak terhitung jumlahnya.” Saya tidak mengetahui bagaimana ini bisa terjadi, karena orang Kristen kelihatannya selalu menjadi kelompok yang minoritas, namun Alkitab menyatakan hal itu sebagai penghiburan bagi kita. Meskipun tidak ada orang Kristen alkitabiah bisa menjadi seorang Universalis (percaya bahwa semua manusia akhirnya pasti akan diselamatkan), karena Alkitab mengajarkan realitas yang mengerikan dan neraka yang kekal, seorang Kristen alkitabiah bisa – bahkan harus – menegaskan bahwa orang yang telah ditebus akan menjadi sekumpulan besar orang dari semua suku bangsa yang begitu banyak sampai tidak terhitung jumlahnya. Karena janji Allah pasti akan digenapi, dan keturunan Abraham akan menjadi tidak terhitung seperti debu di bumi, bintang di langit dan pasir di pantai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kelima, Dia adalah Allah dari Misi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangsa-bangsa tidak dikumpulkan secara otomatis. Jika Allah pernah berjanji untuk memberkati “seluruh kaum di muka bumi,” Dia berjanji untuk melakukannya “melalui keturunan Abraham” (Kej. 12:3; 22:18). Kini kita adalah keturunan Abraham melalui iman, dan kaum di muka bumi akan diberkati hanya jika kita pergi memberitakan Injil kepada mereka. Inilah maksud Allah yang jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya berdoa agar kalimat ini, “seluruh kaum di muka bumi,” boleh ditulis dalam hati kita.  Ungkapan inilah lebih daripada ungkapan apa pun lainnya yang menyatakan bahwa Allah yang hidup dari Alkitab adalah Allah yang misioner. Ungkapan ini juga yang menyalahkan semua kesempitan pandangan kita dan nasionalisme yang picik, kesombongan rasial kita (entah kulit putih maupun kulit hitam), paternalisme kita yang bersikap meremehkan dan imperialisme yang arogan.  Betapa berani kita mengadopsi suatu sikap yang bermusuhan, menghina bahkan acuh tak acuh kepada setiap orang dari warna kulit atau budaya yang berbeda jika Allah kita adalah Allah dari “seluruh kaum di muka bumi”? Kita perlu menjadi orang Kristen global dengan visi global, karena kita memiliki Allah global. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, kiranya Tuhan menolong kita untuk tidak pernah melupakan janji-Nya kepada Abraham empat ribu tahun yang lalu: “olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Kontak&amp;diff=720</id>
		<title>Kontak</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Kontak&amp;diff=720"/>
		<updated>2014-03-19T07:06:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;!--&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;Jika Anda memiliki saran, masukan, ataupun Anda ingin menambahkan bahan, Anda dapat menghubungi kami menggunakan formulir di bawah ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;emailform&amp;gt;&lt;br /&gt;
 {| &lt;br /&gt;
 | Nama: || &amp;lt;emailform name=40 /&amp;gt; || &lt;br /&gt;
 |-&lt;br /&gt;
 | Email: || &amp;lt;emailform from=40 /&amp;gt; ||&lt;br /&gt;
 |-&lt;br /&gt;
 | Komentar:&lt;br /&gt;
 | colspan=&amp;quot;2&amp;quot; | &amp;lt;emailform comments=80x8 /&amp;gt;&lt;br /&gt;
 |-&lt;br /&gt;
 | colspan=&amp;quot;3&amp;quot; align=&amp;quot;center&amp;quot; | &amp;lt;emailform submit=&amp;quot;Kirim Komentar&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
 |}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/emailform&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;emailform result&amp;gt;&lt;br /&gt;
Terima kasih atas komentar Anda!&lt;br /&gt;
{| width=&amp;quot;300px&amp;quot;&lt;br /&gt;
| &#039;&#039;&#039;Dari:&#039;&#039;&#039; &amp;lt;emailform name /&amp;gt; &amp;lt;emailform from/&amp;gt;&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar:&#039;&#039;&#039; &amp;lt;emailform comments /&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/emailform&amp;gt;&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;includeonly&amp;gt;Anda tidak perlu mendaftar untuk meninggalkan komentar.&lt;br /&gt;
&amp;lt;discussion /&amp;gt;&amp;lt;/includeonly&amp;gt;&lt;br /&gt;
--&amp;gt;&lt;br /&gt;
Jika Anda memiliki saran, masukan, ataupun Anda ingin menambahkan bahan, Anda dapat menghubungi kami di webmaster(at)sabda.org&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terima kasih atas komentar Anda!&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Kontak&amp;diff=719</id>
		<title>Kontak</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Kontak&amp;diff=719"/>
		<updated>2014-03-19T07:02:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;noinclude&amp;gt;Jika Anda memiliki saran, masukan, ataupun Anda ingin menambahkan bahan, Anda dapat menghubungi kami menggunakan formulir di bawah ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;!--&lt;br /&gt;
&amp;lt;emailform&amp;gt;&lt;br /&gt;
 {| &lt;br /&gt;
 | Nama: || &amp;lt;emailform name=40 /&amp;gt; || &lt;br /&gt;
 |-&lt;br /&gt;
 | Email: || &amp;lt;emailform from=40 /&amp;gt; ||&lt;br /&gt;
 |-&lt;br /&gt;
 | Komentar:&lt;br /&gt;
 | colspan=&amp;quot;2&amp;quot; | &amp;lt;emailform comments=80x8 /&amp;gt;&lt;br /&gt;
 |-&lt;br /&gt;
 | colspan=&amp;quot;3&amp;quot; align=&amp;quot;center&amp;quot; | &amp;lt;emailform submit=&amp;quot;Kirim Komentar&amp;quot; /&amp;gt;&lt;br /&gt;
 |}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/emailform&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;emailform result&amp;gt;&lt;br /&gt;
Terima kasih atas komentar Anda!&lt;br /&gt;
{| width=&amp;quot;300px&amp;quot;&lt;br /&gt;
| &#039;&#039;&#039;Dari:&#039;&#039;&#039; &amp;lt;emailform name /&amp;gt; &amp;lt;emailform from/&amp;gt;&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Komentar:&#039;&#039;&#039; &amp;lt;emailform comments /&amp;gt;&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/emailform&amp;gt;&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;includeonly&amp;gt;Anda tidak perlu mendaftar untuk meninggalkan komentar.&lt;br /&gt;
&amp;lt;discussion /&amp;gt;&amp;lt;/includeonly&amp;gt;&lt;br /&gt;
--&amp;gt;&lt;br /&gt;
Jika Anda memiliki saran, masukan, ataupun Anda ingin menambahkan bahan, Anda dapat menghubungi kami di webmaster(at)sabda.org&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terima kasih atas komentar Anda!&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Kemuliaan_dari_Hal_yang_Mustahil&amp;diff=718</id>
		<title>Kemuliaan dari Hal yang Mustahil</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Kemuliaan_dari_Hal_yang_Mustahil&amp;diff=718"/>
		<updated>2013-12-18T15:35:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{samuel zwemer}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Ketika Robert Wilder mengunjungi Hope College pada tahun 1887 mewakili Student Volunteer Movement (SVM), Samuel Zwemer sedang menyelesaikan tahun terakhirnya di sana. Menjawab tantangan Wilder, Zwemer menjadi sukarelawan dan kemudian mengorganisasi suatu misi ke Tanah Arab dengan beberapa mahasiswa lainnya. Setelah 23 tahun bersama Arabian Mission di Basrah, Bahrain, Muscat, Kuwait dan melayani sebagai kandidat sekretaris pertama di SVM, Zwemer memulai karir sebagai pembicara dan penulis yang memancar keluar ke dunia M dari sebuah pusat studi interdenominasional di Kairo. Sebagai seorang penulis yang sangat produktif dan berbakat, Zwemer menulis banyak buku dan artikel untuk menantang gereja agar menginjili orang M, memberikan kajian kesarjanaan mengenai M historis dan populer dan menghasilkan berbagai tulisan serta traktat dalam bahasa Arab bagi orang M dan orang Kristen di Timur Tengah. Selama 36 tahun beliau menyunting “The M World,” sebuah jurnal tiga bulanan dalam bahasa Inggris mengenai peristiwa-peristiwa terkini di dunia M dan sebuah forum bagi strategi misi di antara orang M, melengkapi pelayanan ini dengan penginjilan pribadi di antara mahasiswa dan dosen di Al Azhar, suatu pusat pelatihan terkenal bagi misionaris M di Kairo. Zwemer merupakan seorang pemimpin injili terkemuka, pembicara yang dihormati dalam berbagai pertemuan SVM dan kekuatan pendorong di balik konferensi Kairo tahun 1906 dan Lucknow tahun 1911 yang memulai suatu pendekatan yang tidak terlalu konfrontasional dan lebih positif terhadap orang M. James Hunt mengamati negarawan ini, “Dia mungkin disebut sebagai orang yang memiliki satu ide. Meskipun minat dan pengetahuannya luas, saya tidak pernah berbicara selama sepuluh menit bersamanya tanpa berbelok kepada M….” tulisan “Kemuliaan dari Hal yang Mustahil” diambil dari terbitan SVM tahun 1911.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tantangan dari ladang-ladang yang belum ditempati di seluruh dunia merupakan satu tantangan bagi iman yang besar dan, kaena itu, satu pengorbanan besar. Kerelaan kita untuk berkorban bagi suatu usaha selalu sejajar dengan proporsi iman kita dalam usaha tersebut. Iman memiliki kejeniusan untuk mengubah hal yang mustahil menjadi kenyataan. Sekali orang-orang didominasi oleh keyakinan bahwa satu hal harus dilakukan, mereka tidak akan berhenti sampai hal tersebut terselesaikan. Kita memiliki “perintah untuk berbaris,” seperti kata Iron Duke (Arthur Wesley, Duke of Wellington), dan karena Pemimpin Tertinggi kita bukannya tidak hadir, tetapi ada bersama dengan kita, hal yang mustahil bukan hanya menjadi praktis tetapi menjadi keharusan. Charles Spurgeon, berkotbah dari nas, “Segala kuasa telah diberikan kepada-Ku... Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa,” menggunakan perkataan ini: “Anda memiliki sebuah faktor yang mutlak tidak terbatas di sini, dan apa yang penting mengenai faktor lainnya yang mungkin ada. ’Saya akan melakukan sebanyak yang saya mampu,’ kata seseorang. Setiap orang bodoh dapat melakukannya. Barangsiapa yang percaya di dalam Kristus, ia melakukan apa yang ia tidak dapat lakukan, mencoba hal yang mustahil dan menunjukkannya.”1&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Kemunduran yang sering terjadi dan kegagalan yang nyata tidak pernah mematahkan semangat pionir sejati. Mati martir yang terkadang terjadi hanya merupakan pendorong yang menyegarkan. Perlawanan merupakan perangsang untuk melakukan aktivitas yang lebih besar. Kemenangan besar tidak pernah mungkin tanpa pengorbanan besar. Jika kemenangan atas Port Arthur membutuhkan peluru manusia2,  kita tidak mungkin berharap untuk memenangkan tempat-tempat strategis di dunia non-Kristen tanpa adanya korban jiwa. Apakah penting berapa banyak yang mati atau berapa banyak uang yang kita pakai untuk membuka pintu-pintu yang tertutup, dan menempati ladang-ladang yang berbeda, jika kita benar-benar percaya bahwa misi tersebut adalah peperangan dan kemuliaan Raja sedang dipertaruhkan? Perang selalu berarti darah dan harta. Perhatian utama kita haruslah menjaga semangat perjuangan dan menang berapa pun harga atau pengorbanannya. Ladang-ladang yang belum terjangkau di dunia ini harus  memiliki Kalvari mereka sebelum ladang-ladang tersebut memiliki Pentakosta mereka. Raymond Lull, misionaris pertama bagi dunia M, mengekspresikan pemikiran yang sama dalam bahasa abad pertengahan ketika dia menulis:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Seperti seorang lapar yang begitu cepat bertindak dan mengambil sejumlah besar makanan karena laparnya, demikian juga pelayan-Mu merasakan keinginan besar untuk mati agar dia bisa memuliakan Engkau. Pelayan-Mu bekerja cepat-cepat siang dan malam untuk menyelesaikan pekerjaannya agar dia dapat menyerahkan darah dan air matanya untuk dicurahkan bagi Engkau.3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rindu Kampung Halaman yang Dibalikkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ladang-ladang yang belum digarap di dunia ini menanti mereka yang rela untuk tersendiri bagi Kristus. Bagi misionaris perintis perkataan Tuhan Yesus Kristus bagi para rasul ketika Dia menunjukkan tangan dan kaki-Nya, memiliki kekuatan khusus: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh. 20:21). Dia datang ke dalam dunia, dan dunia merupakan ladang misi yang besar yang belum tergarap. “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh. 1:11). Dia datang dan sambutan buat-Nya adalah ejekan, hidup-Nya, penderitaan-Nya dan takhta-Nya, Salib. Ketika Dia datang, Dia mengharapkan kita juga pergi. Kita harus mengikuti jejak langkah-Nya. Misionaris perintis, dalam mengatasi halangan dan kesulitan, memiliki kesempatan istimewa bukan hanya mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya, tetapi juga persekutuan dalam penderitaan-Nya. Bagi orang-orang di tanah Somalia, Mongolia atau Afganistan, Arabia atau Nepal, Sudan atau Etiopia, ia mungkin berkata seperti Paulus, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat” (Kol. 1:24; bdk. Mrk. 12:44 dan Luk. 21:4). Bukankah ini kemuliaan dari hal yang mustahil! Siapa yang secara alami lebih suka meninggalkan kehangatan dan kenyamanan lingkungan keluarga dan rumah dan kasih dari lingkaran keluarganya untuk mencari domba yang hilang, yang tangisannya terdengar sayup-sayup di tengah badai yang meraung-raung? Namun inilah kemuliaan dari tugas yang tidak dapat ditahan bahwa ikatan rumah atau kebutuhan keluarga tidak dapat menahan mereka yang telah ditangkap oleh visi dan semangat dari Gembala Agung. Karena jiwa-jiwa yang terhilang adalah domba-domba-Nya, dan Dia membuat kita sebagai gembala bukan sebagai pekerja upahan, kita harus membawa mereka kembali. [Seperti kata-kata dalam sebuah himne]:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Meskipun jalan berbatu dan curam Aku pergi ke padang belantara untuk menemukan dombaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata P. T. Forsyth:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Tidak ada yang lebih baik atau lebih menyedihkan bagi saya daripada cara di mana para misionaris melupakan kasih di tempat tinggalnya, mati bagi tanah air asalnya, dan mengikat hati mereka dengan orang-orang yang mereka menangkan dan layani; sehingga mereka tidak bisa lagi tenang di Inggris, tetapi harus kembali meletakkan tulang-tulang mereka di tempat di mana mereka menghabiskan hati mereka bagi Kristus. Betapa kasar tampaknya patriotisme yang umum di samping kerinduan akan kampung halaman yang dibalikkan ini, semangat bagi kerajaan Allah yang tidak memiliki batas dan tidak pilih kasih terhadap ras, hasrat dari Kristus yang tak bertempat tinggal!4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	James Gilmour di Mongolia, David Livingstone di Afrika Tengah, Grenfell di Kongo, Keith Falconer di Arab, Dr. Rijnhart dan Nona Annie Taylor di Tibet, Chalmers di Papua New Guinea, Morrison di Tiongkok, Henry Martyn di Persia, dan semua orang lain seperti mereka memiliki “kerinduan akan kampung halaman yang dibalikkan,” hasrat yang kuat untuk melihat negara tersebut mereka sebagai kampung halam mereka yang paling membutuhkan Injil. Di dalam hasrat ini semua hasrat yang lain mati, di hadapan visi ini semua visi lain memudar, panggilan ini menenggelamkan semua suara yang lain. Mereka adalah para pionir  Kerajaan Allah, penunjuk jalan dari Allah, yang rindu untuk melintasi batas dan menemukan wilayah baru atau memenangkan kerajaan baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Semangat Pionir ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para penunjuk jalan dari Allah ini tidak pergi dengan senjata perang, tetapi dengan pedang Roh dan api Kebenaran, membuka lebar jalan bagi mereka yang mengikuti selanjutnya. Bekas luka-luka mereka merupakan tanda kerasulan mereka, dan mereka juga bersuka dalam kesusahan besar. Seperti para Rasul yang menjadi pionir, “senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami” dan membuktikan diri mereka sebagai “pelayan Kristus … di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Thomas Valpy French, Uskup dari Lahore, yang disebut oleh Dr. Eugene Stock sebagai “misionaris yang paling terhormat di antara semua misionaris dari Church Missionary Society,” memiliki semangat pionir yang sejati dan mengenal kemuliaan dari hal yang mustahil. Dia adalah seorang raksasa intelektual dan rohani. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Hidup bersama beliau sama dengan minum dari udara yang penuh dengan kerohanian. Seperti udara di Engadine (wilayah tujuan favorit turis di Swiss) bagi tubuh, demikian juga kedekatan dengan beliau bagi jiwa. Bersama dengan beliau merupakan suatu pendidikan. Bagi beliau tidak ada satu pun yang tidak bisa dikorbankan?tempat tinggal, istri, kesehatan?jika panggilan Tuhan jelas. Tetapi semua orang tahu bahwa Dia hanya meminta mereka melakukan apa yang telah dilakukan-Nya dan akan selalu dia lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Setelah 40 tahun kerja keras yang berlimpah dan berbuah di India, Thomas menyerahkan jabatannya sebagai uskup dan berencana untuk menjangkau wilayah pedalaman Arab dengan Injil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Dan ketika Mackay, dari Uganda, dalam seruan luar biasannya bagi misi ke orang-orang Arab di Oman meminta “enam orang muda, dari universitas-universitas Inggris, untuk melakukan petualangan dalam iman,”5 veteran berhati singa yang telah melayani selama enam puluh enam tahun ini meresponi sendirian. Inilah kemuliaan dari hal yang mustahil. Namun dari Muscat dia menulis hal ini sebelum kematiannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Jika saya tidak mendapat orang yang bisa dengan setia membantu dan menuntun saya dalam perjalanan ke wilayah pedalaman ini, yang biasa berurusan dengan orang Arab dan bisa mendapatkan kebutuhan yang umum dibutuhkan (Saya butuh sedikit saja), saya mungkin mencoba Bahrain, atau Hodeidah dan Sana, dan jika itu juga gagal, kembali ke Afrika Utara, di beberapa tempat tinggi; karena tanpa rumah kami sendiri iklimnya akan sangat tak tertahankan bagi saya? setidaknya selama bulan-bulan yang sangat panas?maka pekerjaan seseorang akan terhenti. Tetapi saya tidak mau menyerah, tolong saya Tuhan, meskipun sementara, rencana saya bagi wilayah pedalaman, kecuali, seluruh jalan sudah ditutup, maka itu merupakan kegilaan untuk berusaha menjalankannya.6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak akan menyerah?dan dia tidak menyerah sampai mati. Demikian juga Gereja Kristus tidak boleh menyerah dari pekerjaan yang telah dijalani Mackay dan orang lain seperti dia yang telah menyerahkan hidup mereka di Oman. Ini terus berlanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ambisi Apostolik ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Propinsi-propinsi yang belum ada pelayan di Arab dan Sudan menanti orang-orang dengan semangat seperti Uskup French tersebut. Karena ambisi untuk menjangkau dari pusat-pusat yang sudah ditempati ke wilayah-wilayah yang jauh di luar, bahkan meski pusat-pusat tersebut masih kekurangan pekerja dan perlu bantuan, itu bukan sesuatu yang berlebihan atau fantastik, tetapi benar-benar apostolik. “Ya, saya memiliki ambisi,” kata Paulus, “bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: “Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya”” (Rom. 15:20-21). Dia menulis ini ketika sedang meninggalkan kota sepenting Korintus, dan seterusnya mengatakan bahwa inilah alasannya mengapa dia belum mengunjungi Roma, tetapi dia berharap dapat melakukannya dalam perjalanannya menuju ke Spanyol! Jika ujung terluar dari Kerajaan Roma menjadi bagian dari program Paulus, yang telah memberitakan Kristus dari Yerusalem ke Ilirikum pada abad pertama, kita pasti, pada awal abad 20, tidak boleh memiliki ambisi yang kurang dari itu untuk memasuki setiap ladang yang belum ditempati sehingga “Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Tidak ada contoh dari seorang Rasul yang terdorong untuk pergi ke luar negeri di bawah dorongan sebuah perintah yang berani. Masing-masing pergi sebagai seorang kekasih kepada tunangannya pada tujuan yang telah ditunjukkannya. Semua itu merupakan tindakan naluriah dan alamiah. Mereka juga secara setara diatur oleh visi yang umum, tetapi mereka memiliki visi masing-masing yang menarik mereka ke mana pun mereka dibutuhkan. Pada masa-masa awal Kekristenan, tidak ada yang namanya semangat perhitungan. Kebanyakan rasul mati di luar Palestina, meskipun logika manusia akan melarang mereka untuk meninggalkan tempat mereka sampai tempat itu dikristenkan. Naluri perhitungannya adalah kematian bagi iman, dan seandainya para rasul mengizinkan itu mengontrol motivasi dan tindakan mereka, mereka akan telah berkata: “kebutuhan di Yerusalem begitu besar, tanggung jawab kami bagi bangsa kami sendiri begitu jelas, sehingga kami harus menjalankan prinsip kemurahan hati dimulai di rumah sendiri. Setelah kami sudah memenangkan orang-orang di Yerusalem, Yudea dan Tanah Suci secara keseluruhan, maka barulah tiba waktunya untuk pergi keluar; tetapi masalah kami secara politik, moral dan agama belum terselesaikan di sini sehingga sangat tidak masuk akal untuk meletakkan beban baru di punggung kami”7&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Besarnya tugas dan sulitnya tugas tersebutlah yang memacu gereja mula-mula. Kemustahilannya yang tampak itulah yang menjadi kemuliaannya, sifatnya yang mendunia, keagungannya. Hal tersebut berlaku buat hari ini. Neesima dari Jepang menulis:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Saya senang merenungkan pertumbuhan yang luar biasa dari Kekristenan di dunia, dan percaya bahwa jika kekristenan menemukan hambatan apa pun kekristenan tetap akan maju lebih cepat dan lebih gesit seperti aliran air mengalir lebih cepat ketika aliran tersebut menemukan rintangan pada jalurnya.8&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Harapan dan Kesabaran ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia yang membajak tanah yang belum pernah dibajak harus membajak dalam pengharapan. Allah tidak pernah mengecewakan umat-Nya. Tuaian selalu mengikuti masa benih. Misionaris Hogberg menulis dari Asia Tengah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Ketika kami baru tiba di ladang kami, adalah mustahil untuk mengumpulkan beberapa orang untuk mendengar kabar baik Injil. Kami tidak dapat mengumpulkan satu anak pun untuk sekolah. Kami tidak dapat menyebarkan Injil atau traktat. Ketika membangun tempat baru, kami juga memiliki tempat ibadah kecil. Kemudian kami berpikir, “Akankah ruang ini bisa dipenuhi oleh orang M yang mendengar Injil?” Tempat ibadah kecil kami telah dipenuhi dengan para pendengar Injil dan bahkan memiliki ruang yang lebih besar! Semakin hari kami berkhotbah sampai batas tenaga kami, dan orang M tidak lagi menolak mendengar kebenaran Injil. Seorang M berkata kepada saya, “sebelum kedatangan kalian tidak seorang pun berbicara atau berpikir mengenai Yesus Kristus, sekarang di setiap tempat orang mendengar nama-Nya.” Pada awal pekerjaan kami mereka membuang Injil dan membakarnya, atau mengembalikannya kepada kami?sekarang mereka membelinya, mencium kitab tersebut, dan menyentuhkannya ke dahi dan memasukkannya ke dalam hati, mereka menunjukkan rasa hormat tertinggi yang dapat dilakukan seorang M terhadap sebuah buku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Tapi pekerja pionir harus panjang sabar. Ketika Judson sedang terbaring, terikat dengan rantai di ruang tahanan bawah tanah di Burma, sesama tahanan bertanya dengan ejekan tentang prospek bertobatnya seorang kafir. Judson dengan tenang menjawab, “Prospeknya sejelas janji-janji Allah.” 10 Hanya ada sedikit negara pada hari ini yang tidak seterbuka, atau di mana kesulitannya lebih besar, seperti di Burma ketika Judson menghadapinya dan kemudian menang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tantangan dari Pintu Tertutup ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prospek bagi penginjilan di seluruh ladang yang belum digarap adalah “sejernih janji Allah.” Mengapa kita harus menunggu lama untuk menginjili mereka? Robert E. Speer berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Penginjilan dunia pada generasi ini bukan hanya sekadar semboyan. Ini bukan moto yang harus diberi tanda secara sembrono. Penginjilan dunia dalam generasi ini adalah panggilan Yesus Kristus kepada semua orang murid-Nya untuk meletakkan dirinya ke atas salib, sendirinya berjalan mengikuti jejak Yesus, yang meskipun kaya, bagi kita Dia menjadi miskin, sehingga kita melalui kemiskinan-Nya bisa menjadi kaya, sendirinya tidak mengindahkan nyawanya, agar dia dapat menyerahkannya seperti Kristus menyerahkan nyawa-Nya bagi penebusan dunia.11&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Siapa yang mau melakukan hal ini di ladang yang belum ditempati? Para sukarelawan mahasiswa hari ini tidak boleh puas sampai semboyan ini, terutama bagi mereka, mendapat aplikasi praktis di lading-ladang yang paling terabaikan dan paling sulit, dan juga negara-negara di mana tuaian sudah menguning dan panggilan bagi jumlah penuai semakin meningkat. Permohonan akan kekurangan lebih kuat daripada kesempatan. Pencarian kesempatan bukan merupakan kata terakhir dalam misi. Pintu yang terbuka memanggilnya, pintu yang tertutup menantang orang yang berhak untuk masuk. Ladang-ladang yang belum ditempati di dunia ini, memiliki tuntutan yang khas dalam bobot dan urgensi. “Dalam abad ke-20 dari sejarah Kristen ini seharusnya tidak ada lagi ladang yang belum ditempati. Gereja terikat untuk membereskan kondisi yang menyedihkan ini sedapat mungkin tanpa penundaan.”12&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Menghasilkan Hidup, Bukan Mendapatkan Penghasilan ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, ladang-ladang yang belum ditempati merupakan tantangan bagi semua orang yang hidupnya tidak ditempati oleh panggilan tertinggi dan terbaik ini, yang hidupnya hanya disibukkan oleh hal-hal yang remeh atau hal-hal yang tidak berarti. Ada mata-mata yang belum pernah dicerahkan oleh sebuah visi yang agung, pikiran yang belum pernah dicengkeram oleh pemikiran yang tidak egois, hati yang belum pernah tergetar dengan hasrat bagi keberdosaan orang lain, dan tangan yang belum pernah lelah atau kuat dalam mengangkat beban yang besar. Bagi mereka, pengetahuan akan jutaan orang tanpa Kristus di wilayah yang belum ditempati seharusnya menjadi seperti panggilan baru dari Makedonia, dan visi yang mencengangkan akan kehendak Allah bagi mereka. Seperti Uskup Brent berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Kita tidak akan pernah tahu ukuran kapasitas moral yang kita miliki sampai kita berusaha menyatakannya dalam tindakan. Sebuah petualangan dengan beberapa proporsi bukanlah tidak umum dibutuhkan oleh orang muda untuk menentukan dan memperbaiki kekuatan kelaki-lakiannya.13&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ada ujian yang lebih heroik bagi kekuatan kelaki-lakian selain bekerja sebagai pionir di ladang misi? Inilah kesempatan bagi mereka yang di tempat asalnya mungkin tidak akan pernah menemukan sudut ruang bagi kapasitas tersembunyinya, yang mungkin tidak akan pernah menemukan ruang lingkup yang cukup di mana pun bagi semua kemampuan pikiran dan jiwa mereka. Ada ratusan mahasiswa Kristen yang berharap menghabiskan hidup mereka mempraktikkan hukum atau beberapa usaha perdagangan sebagai mata pencaharian mereka, meskipun memiliki cukup kekuatan dan talenta untuk masuk ke ladang-ladang yang belum ditempati ini. Ada dokter-dokter muda yang mungkin mengumpulkan di sekeliling mereka di beberapa tempat misi baru ribuan orang yang “menderita ketakutan akan kekafiran dan M,” dan mengangkat beban penderitaan mereka, tetapi yang sekarang membatasi usaha mereka di Utica di mana seni penyembuhan tunduk pada hukum persaingan dan terlalu sering diukur oleh buku kas dan laporan arus kas. Mereka sedang menghasilkan mata pencaharian, mereka mungkin bisa menghasilkan kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Uskup Phillips Brooks pernah memberi tantangan dari tugas besar ini dengan kalimat ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Jangan berdoa untuk mendapat hidup yang mudah; berdoa agar menjadi manusia yang lebih kuat. Jangan berdoa untuk mendapat tugas yang sesuai dengan kekuatanmu; berdoa untuk mendapat kekuatan yang sesuai dengan tugas-tugasmu. Maka pelaksanaan pekerjaanmu tidak akan menjadi mujizat, tetapi engkau akan menjadi mujizat tersebut.14&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak bisa memilih kalimat yang lebih cocok lagi jika dia sedang berbicara mengenai penginjilan di ladang yang belum ditempati di dunia dengan semua kesulitan yang menjengkelkan dan kemustahilan yang mulia itu. Allah dapat memberi kita kekuatan untuk tugas tersebut. Dia cukup bagi mereka yang sudah pergi di masa lalu, dan tetap cukup bagi mereka yang pergi pada hari ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
	Menghadapi jutaan orang dalam kegelapan dan kejatuhan, mengetahui kondisi mereka dari kesaksian orang-orang yang pernah mengunjungi wilayah ini, tugas besar yang belum selesai ini, tugas yang belum pernah dicoba ini, menyerukan pada hari ini kepada mereka yang mau bertekun dan menderita untuk menyelesaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bukan Pengorbanan, Tetapi Kesempatan Istimewa ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika David Livingstone mengunjungi Cambridge University, pada 4 Desember 1857, dia membuat permohonan tulus bagi benua itu (Afrika), yang pada waktu itu hampir seluruhnya merupakan ladang yang belum digarap. Perkataannya, yang bisa dikatakan merupakan permintaan terakhirnya dan kesaksian bagi para mahasiswa, berkenaan dengan Afrika, bisa menjadi penutup dari buku ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Bagi saya, saya tidak pernah berhenti bersukacita bahwa Allah telah menunjuk saya untuk kedudukan ini. Orang-orang membicarakan mengenai pengorbanan yang telah saya buat dalam menghabiskan sebagian besar hidup saya di Afrika. Dapatkah hal tersebut disebut pengorbanan ketika hal tersebut hanya mengembalikan secuil dari utang kita yang begitu besar kepada Allah, yang tidak akan pernah dapat kita bayar kembali? Apakah ini yang namanya pengorbanan ketika yang kita lakukan mendatangkan upah dalam kegiatan yang sehat, kesadaran melakukan hal yang baik, kedamaian pikiran, dan membawa harapan tujuan akhir yang mulia pada akhirnya? Jauhkan kata itu dari pendengaran saya, dan pikiran seperti itu! Itu sama sekali bukan pengorbanan. Katakanlah itu suatu kesempatan istimewa. Kekuatiran, sakit, penderitaan, atau bahaya, sekarang dan yang akan datang, dengan mengorbankan kenyamanan dan kebaikan yang bisa diberikan hidup ini, mungkin membuat kita terdiam, dan membuat semangat menjadi pudar, dan jiwa kecut, tetapi biarlah itu hanya terjadi seketika. Semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan di dalam dan bagi kita. Saya tidak pernah berkorban. Saya memohon agar kalian semua bisa mengarahkan perhatian ke Afrika. Saya tahu bahwa dalam beberapa tahun saya akan mati negara itu, yang sekarang sudah terbuka. Jangan biarkan negara itu tertutup lagi! Saya akan kembali ke Afrika untuk berusaha membuka jalan bagi perdagangan dan Kekristenan. Lanjutkan pekerjaan yang saya telah mulai. Saya serahkan kepada kalian semua.15   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Terobosan_Orang-orang_Zaraban&amp;diff=717</id>
		<title>Terobosan Orang-orang Zaraban</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Terobosan_Orang-orang_Zaraban&amp;diff=717"/>
		<updated>2013-12-18T15:34:11Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;big&amp;gt;&#039;&#039;ken harkin dan Ted Moore&#039;&#039;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Ken Harkin dan Ted Moore bekerja bersama sebagai bagian dari tim badan multi perwakilan yang didedikasikan untuk melihat pengikut-pengikut bagi Kristus ada diantara orang-orang Zaraban. Ted meninggal ketika melayani orang-orang Zaraban. Ken dan lainnya terus melanjutkan pekerjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Catatan berikut mengenai sebuah terobosan di negara M diceritakan dalam kata-kata seorang rekan misionaris, Ted Moore. Saya (Ken) menjabat sebagai anggota pekerja tim misi Ted yang telah berdoa dan bekerja di wilayah Zaraban sejak tahun 1991. Peristiwa-peristiwa yang diceritakan di sini terjadi pada tahun 1999. Nama orang-orang dan kelompok etnis telah diubah. Salah satu orang percaya pertama di Zaraban, seorang pria bernama Abdul mulai mengikuti Kristus di tahun 1980-an. Perlu diperhatikan bahwa sebagian besar kelompok orang Zaraban tinggal di daerah terpencil yang telah sangat mendukung pernyataan fundamentalis M. Pemuda dari daerah ini telah direkrut dan dilatih untuk bertempur dalam jihad, atau perang suci M, di negara-negara terdekat. Salah satu tokoh kunci dalam cerita ini adalah Rashad, salah satu saudara Abdul. Pada waktu cerita ini, Rashad baru kembali dari pelatihan sebagai seorang pejuang jihad di negeri tetangga.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Tidak lama setelah peristiwa ini, Ted tertular penyakit yang sulit untuk diobati di wilayah di mana dia bekerja. Ted meninggal dalam beberapa hari. Dia berusia empat puluhan. Berikut ini adalah versi  yang diedit dari salah satu laporan berkala terakhir untuk teman dan keluarga yang mendukungnya. Laporan ini tidak hanya mewakili pengamatan Ted dan saya sendiri, tetapi juga beberapa rincian seperti yang diceritakan kepada kita oleh keluarga pada hari-hari dan minggu-minggu berikutnya.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pertama kali Abdul datang untuk tinggal di rumah kami, ayahnya meminta saya untuk mengambil peran membimbing dalam hidup anaknya. Saya setuju dan mengatakan kepadanya bahwa itu termasuk akan mengajar Abdul tentang iman dalam Yesus Sang Mesias, yang disetujui oleh ayahnya. Sejak saat itu, lima tahun yang lalu, visi dan doa kami adalah bahwa seluruh keluarga akan bergabung dengan Abdul menjadi pengikut Juruselamat. Demikian juga, Ken, rekan kerja saya yang terus memuridkan Abdul di tahun pertama itu, ketika Sarah dan saya ke luar negeri, memiliki keinginan dan visi yang sama untuk keluarga. Pernah dalam sebuah pesta pernikahan, anggota keluarga mengatakan kepada Ken bahwa mereka sangat berharap bahwa melalui &amp;quot;ghusl&amp;quot; (baptisan) di dalam nama Yesus mereka akan dibebaskan dari rasa takut terhadap &amp;quot;jin&amp;quot; (setan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama bertahun-tahun kami berteman dengan keluarga Abdul, Ken dan saya telah beberapa kali melakukan perjalanan dari kota dimana kami tinggal ke rumah keluarganya di daerah pedesaan yang terpencil. Sangatlah penting untuk bersama keluarganya selama liburan Idul Fitri ketika seekor hewan dipersembahkan untuk memperingati kerelaan Abraham mempersembahkan  anaknya. Berikut ini  adalah kisah kunjungan kami yang terbaru. Kami harus mengatasi penjadwalan berbeda yang sulit namun akhirnya dapat tiba pada hari Minggu pagi - sebelum liburan besar. Kami tiba tepat pada waktunya untuk melihat dan berpartisipasi dalam apa yang Allah telah lakukan di saat kami tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Surat dan Mimpi Rasyad===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami siap untuk perjalanan ini, kami telah merenungkan surat dari saudara Abdul, Rashad, yang telah saya terima dua minggu sebelumnya. Rasyad selalu ingin menjadi seorang pemimpin agama M. Suratnya penuh dengan pernyataan positif tentang bagaimana kita berdoa, seberapa sering kita berdoa dan Tuhan menjawab doa-doa kita. Dia menyebutkan perubahan dalam kehidupan dan karakter Abdul. Pada saat itu ia membaca &amp;quot;Biografi Yesus.&amp;quot; Kami yang ramah-M. Dia mengajukan beberapa pertanyaan khusus tentang kata-kata dari bagian tertentu dari Kitab Suci dan mengakhiri suratnya dengan kalimat berikut: &amp;quot;Saya ingin menjadi salah satu dari Anda. Tolong bimbing saya. &amp;quot; Kami tidak yakin apa yang sebenarnya dia maksudkan, mengingat beberapa perdebatan sengit kami dengan dia dalam pertemuan terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pergi, Ken dan Abdul bersama-sama doa. Di tengah-tengah doa, keduanya merasa sangat tergerak untuk berdoa bagi Allah untuk pergi dengan cara yang khusus di perjalanan. Ken secara khusus merasa dipimpin untuk berdoa bagi suatu keajaiban yang akan membawa seluruh keluarga terdiri dari 16 orang beriman di dalam Yesus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mobil kecil kami melakukan tindakan heroik sekali lagi, mengantarkan kami di sana Sabtu larut malam. Perjalanan pribadi tanpa kendaraan roda empat yang kokoh biasanya tidak direkomendasikan di pedalaman daerah ini. Kami mengejutkan setiap orang dalam keluarga Abdul ketika kami tiba sekitar 6:45 pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sarapan, Rashad bersemangat untuk duduk-duduk dan mengobrol dengan kami tentang surat yang telah dia kirim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mulai dengan mengatakan kepada kita tentang mimpi yang baru saja dialami pada malam sebelumnya, ketika kami masih dalam perjalanan. Dalam mimpi ia melihat seorang pria berpakaian putih dengan lengan yang terlentang. Pria itu mengatakan kepadanya bahwa ia memiliki bakat khusus untuknya dan mengirimkan utusan yang akan membimbingnya pada bakat itu. Dan sekarang di sinilah kami di depannya! Rashad bercerita banyak hal kepada kami, termasuk kenyataan bahwa ia sekarang percaya jihad adalah salah, dan bahwa jalan cinta kasih adalah jalan kebenaran dan kekuasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Putusan: &amp;quot;Kita semua akan mengikuti jalan Yesus!&amp;quot;===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berbicara tentang hal-hal yang Yesus katakan di dalam Kitab Suci mengenai ibadah palsu yang membuatnya terkesan - bagaimana ibadah kami tidak ada gunanya jika di tengah-tengah ibadah itu kita ingat ada saudara bersalah dan tidak meninggalkan ibadah kita untuk berdamai. Dia menegaskan bahwa ia ingin menjadi salah satu dari kami, mengikuti jalan Kristus dan meminta kami membimbingnya. Ken bertanya, &amp;quot;Apa yang Anda kira merupakan langkah berikutnya untuk mengikuti Yesus? &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasyad menjawab bahwa seluruh keluarga harus mendengar bahwa dia siap untuk mengikuti Yesus sehingga mereka dapat mengikuti-Nya juga. Ken dan saya saling memandang dengan tatapan tak percaya dan cukup pulih untuk mengatakan, &amp;quot;Eh, benar. Itu ide yang baik. Anda melakukan itu dan kami akan duduk di ruangan lain dan berdoa. &amp;quot;Keluarga - wanita, anak-anak, semua orang – dengan cepat berkumpul dan kami berdoa di ruangan lain. Segera, Rashad kembali dengan putusan: &amp;quot;Ya, kami semua akan mengikuti jalan Yesus Sang Mesias! &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Lebih Terkenal daripada Pepsi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, Rashad mengantar saya ke kota sehingga saya bisa menggunakan telepon untuk menelepon istri saya, Sarah. Dia bercerita tentang bagaimana ia telah mengumpulkan beberapa temannya dalam beberapa minggu terakhir menjelaskan kepada mereka tentang cara Mesias- terutama tentang doa yang nyata yang bukan hanya untuk pertunjukan. Banyak orang yang sangat tertarik. Lebih banyak orang yang terkejut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami tiba di fasilitas telepon jarak jauh di desa, Rasyad menunjukkan tanda Pepsi di jalanan. Lalu ia berkata, &amp;quot;Anda tahu nama ini, Pepsi, lebih terkenal di seluruh dunia daripada nama Yesus. Kami harus mengatasi kelemahan kita dan bersaing dengan mereka sehingga nama-Nya menjadi lebih terkenal daripada Pepsi. &amp;quot; Selama waktu itu keluarga yang memiliki perusahaan membawakan kita beberapa RC cola minuman dingin. Rashad mengatakan, &amp;quot;RC oke, tapi tidak ada Pepsi lagi untuk saya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Momen Kritis===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara kami ada di desa, Ken telah memakai peluang untuk memberikan gambaran singkat dari Injil Markus kepada sisa keluarga (beberapa belum pernah mendengar banyak kisah kehidupan Yesus sebelumnya). Dia menjelaskan bahwa &amp;quot;ghusl&amp;quot; (baptisan) adalah salah satu langkah awal ketaatan untuk masuk ke dalam jalan Yesus Sang Mesias. Dia bertanya pada masing-masing individual apakah mereka mengerti dan bersedia untuk mengikuti jalan ini. Ayah, ibu, saudara perempuan dan saudara laki-laki - mereka semua berkata, &amp;quot;Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami tiba kembali sewaktu Ken selesai memberikan tur cepatnya tentang Injil Markus. Ken dan saya masih terus tertegun. Kami mulai merasakan beratnya apa yang akan terjadi selanjutnya. Seluruh kelompok orang secara signifikan meresap dengan Injil untuk pertama kalinya dalam sejarahnya yang panjang. Apa yang kita lakukan di saat-saat kritis kemungkinan akan terulang selama bertahun-tahun diantara orang-orang Zaraban tersebut. Apa yang kami dorong untuk mereka lakukan adalah menghiasi pesan Injil ataupun membuat blok sandungan bagi banyak orang lain yang akan berusaha untuk mengikuti Kristus di masa depan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdoa lagi. Ketaatan mereka harus sederhana dan langsung. Seharusnya relevan secara budaya dan bahasa. Seharusnya direproduksi secara lokal. Seharusnya untuk pribadi tetapi komunal-dalam rumah, tetapi tidak sebagai individu yang bertindak sendiri. Seharusnya merupakan tindakan penyembahan dan pujian penuh dengan ketergantungan pada kuasa Roh Kudus. Jadi kami mulai memetakan strategi kami untuk hari upacara baptisan selanjutnya bagi seluruh keluarga yang akan diadakan sebelum perayaan Idul Fitri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul tidak mengalami semua yang baru saja terjadi dalam keluarganya, karena ia telah pergi keluar kota untuk sebuah tugas. Ken dan saya sepakat untuk tidak mengatakan apa-apa sampai kakaknya punya kesempatan untuk memberitahu dia kabar baiknya. Ketika Rasyad memberitahu Abdul bagaimana semua keluarga telah memutuskan untuk mengikuti Yesus, Abdul tertegun. Setelah kakaknya pergi meninggalkan ruangan, Abdul memeluk kami dan memuji Tuhan dengan banyak air mata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi masih ada beberapa masalah. Seorang saudara lain dan istrinya tidak pernah hadir dalam selama ini. Ken dan saya mulai khawatir bahwa ia mungkin akan mencegah semua yang kami harapkan. Jadi kami mendesak Abdul untuk pergi berbicara dengan saudara ipar tentang semua ini karena kakak masih bekerja. Abdul membulatkan tekadnya dan pergi ke dapur (ruang berdinding lumpur dengan lubang api di tengah) untuk berbicara dengannya. Dia mulai dengan pembicaraan kecil, bermain dengan bayi dan gugup berputar kepada subjek. Dia menjawab santai, &amp;quot;Oh ya, ibumu dan saudara telah menjelaskan semuanya padaku. Aku bagian dari keluarga Anda dan siap untuk melakukan hal ini. &amp;quot;Ketika Abdul kembali, ia raut wajah keheranannya meyakinkan kami bahwa semua telah berjalan dengan baik, bahkan sebelum dia mengatakan kepada kami apa yang telah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu orang terakhir yang harus diberitahu- saudara yang hilang. Sebelum kami bisa bertemu dengannya, pertama kami harus mengunjungi paman Abdul. Ini membutuhkan waktu beberapa jam. Ketika kami tiba di toko saudara laki-laki, Rashad sudah ada! Saya kira kami harus menebak. Dia sudah menjelaskan semuanya kepadanya, dan dia setuju tapi ingin bertanya satu pertanyaan di pagi hari setelah giliran malam dan sebelum upacara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mati terhadap Yang Lama, Hidup Dengan Yang Baru===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan paginya kami bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan penampungan air untuk baptisan. Saudara lain Abdul mengajukan pertanyaannya: &amp;quot;Apakah ini berarti kita menjadi orang-orang Kristen? &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul tahu apa maksudnya. Dia menjawab, &amp;quot;Tidak, kami tidak akan menjadi tukang minum alkohol, pemakan daging babi atau mencoba untuk bergabung dengan yang kelompok etnis berbeda. Kami akan mengikuti ajaran-ajaran dan kehidupan Yesus Sang Mesias. &amp;quot;Oh, bagus,&amp;quot; jawabnya. Jadi kami semua berkumpul untuk pembaptisan. Ken dan saya berbicara dalam bahasa nasional, dan Abdul menerjemahkan semuanya ke dalam dialek lokalnya. Saya memberitahu mereka tentang pengorbanan Mesias dan bagaimana Dia menawarkan pengampunan kepada kami. Ken mengatakan kepada mereka tentang kebangkitan dan kehidupan baru, kehidupan yang kekal. Kemudian Ken mengajukan tiga pertanyaan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Apakah Anda siap untuk mengikuti jalan Yesus Sang Mesias?&lt;br /&gt;
#	Apakah Anda bersedia untuk mematuhi perintah-Nya dengan iman untuk menerima &amp;quot;ghusl&amp;quot; (baptisan) dan bertobat?&lt;br /&gt;
#	Apakah Anda mengajak orang lain untuk mengikuti jalan ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul dan ayah Rashad, seorang pria pendiam yang biasa, memimpin dengan jawaban: &amp;quot;Ya, Puji Tuhan! Kami akan mengikuti jalan baru ini! Kami akan menerima &#039;ghusl. &amp;quot;Kami akan mengajak orang lain untuk bergabung dengan kami &amp;quot;bergabung! Semua orang lain mengikuti dengan sepenuh hati. Saya menjelaskan bagaimana baptisan melambangkan pencurahan Roh Kudus dalam hidup kita dan bahwa itu adalah langkah ketaatan, suatu tindakan penyembahan. Kami telah memutuskan bahwa Ken dan saya akan membaptis-ulang Abdul sehingga seluruh keluarga bisa melihat. Kemudian kami bertiga bersama-sama membaptis semua sisanya, menggunakan istilah Arab yang tepat sebagaimana layaknya di sebagian budaya M dalam urusan agama, bahkan jika mereka tidak berbicara bahasa Arab. Ken kemudian menyuruh mereka untuk mengganti pakaian mereka, dan saat mereka melakukannya, membayangkan diri mereka melepaskan kehidupan lamanya dan mengenakan yang baru. Penggambaran ini diulang lagi dan lagi oleh beberapa anggota keluarga selama dua hari berikutnya. Beberapa pertanyaan muncul lebih banyak. Ayah Abdul bertanya, &amp;quot;Haruskah kita pergi ke doa Idul Fitri seperti selalu kita lakukan atau haruskah  kita berhenti pergi? &amp;quot; Abdul menjawab bahwa sekarang doa-doa ini bisa dilakukan berdasarkan alasan yang benar, bukan untuk pamer pada orang lain, bukan sebagai sarana pengampunan dari dosa atau tugas, tapi karena kasih dan pujian bagi Allah yang menyelamatkan dan sebagai kesempatan untuk berdoa bagi komunitas kami. Kami semua pergi berdoa bersama. Kemudian tiba waktunya untuk ritual kurban anak domba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, Ken dan saya, dengan Abdul menerjemahkan, menjelaskan bagaimana kita tidak bisa merencanakan acara yang lebih sempurna untuk memasuki jalan Yesus Sang Mesias daripada hari kurban ini. Sungguh itu adalah saat yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Berlanjut di dalam Hidup yang Baru===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di hari itu, keluarga mengadakan pertemuan lain di mana mereka memutuskan mana di antara mereka yang harus menerima lebih banyak pelatihan untuk mengajarkan mereka tentang kehidupan baru mereka. Sejak Abdul tinggal dan bekerja jauh, mereka memilih Rasyad untuk melayani mereka semua dengan cara ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia senang, karena dia selalu ingin menjadi pemimpin rohani. Kami menumpangkan tangan di atasnya dan memohonkan berkat Allah padanya untuk pekerjaan ini. Mereka juga memutuskan bahwa Rasyad dan saudarinya harus datang dan tinggal di rumah kami selama seminggu pada suatu waktu setiap beberapa bulan, sehingga saudarinya akan diperlengkapi untuk mengajar para wanita juga. Itu ide yang sangat baik – sekali lagi kami tertegun. Banyak hal lain yang terjadi dalam urusan hari itu. Beberapa mulai berbagi tentang rasa damai yang mereka miliki, yang lain berbicara menggambarkan kehidupan baru mereka. Salah satu saudara menari dan bernyanyi, &amp;quot;saya memiliki hidup baru ... saya memiliki hidup baru!&amp;quot; Kami tidak yakin berapa ratus doa-doa yang dijawab dalam waktu dua hari. Kami tidak pernah melihat perubahan hati sedramatis itu di begitu banyak umat M yang datang kepada Kristus bersama-sama pada satu waktu. Jadi kami tetap terkagum-kagum sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Peristiwa-peristiwa di dalam kisah ini menyentuh banyak masalah kepemimpinan dan kontekstualisasi yang kompleks dalam waktu yang sangat singkat. Dua hal yang perlu diperjelas. Pertama, peristiwa-peristiwa dalam kisah ini adalah puncak dari 10 tahun lebih kerja keras dan tekun dari anggota-anggota beberapa organisasi. Kedua, peristiwa-peristiwa ini telah dilanjutkan dengan bertahun-tahun kerja yang sungguh-sungguh untuk: mengembangkan pemimpin, menggali kitab suci secara mendalam, mengatasi masalah pemuridan dan kontekstualisasi yang sulit, semuanya di tengah-tengah menghadapi berbagai krisis. Telah ada terobosan yang luar biasa sekaligus kemunduran yang menyakitkan. Namun peristiwa-peristiwa dalam kisah yang dramatis ini seharusnya memberi kita alasan yang kuat untuk semangat. Ted mengakhiri suratnya dengan bersukacita di dalam kenyataan bahwa &amp;quot;Dia yang Bangkit&amp;quot; hadir di antara kita dan &amp;quot;yang dapat melakukan lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan &amp;quot;(Ef 3:20)!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Mengapa_Mengomunikasikan_Injil_Melalui_Cerita%3F&amp;diff=716</id>
		<title>Mengapa Mengomunikasikan Injil Melalui Cerita?</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Mengapa_Mengomunikasikan_Injil_Melalui_Cerita%3F&amp;diff=716"/>
		<updated>2013-12-18T15:04:16Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{tom steffen}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Reconnecting God’s Story to Ministry: Crosscultural Storytelling at Home and Abroad, 2005. &#039;&#039;Digunakan dengan ijin dari William Carey Library, Pasadena, CA&#039;&#039;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kira saya telah cukup belajar bahasa dan budaya Ifugao (Filipina) yang memungkinkan saya untuk melakukan penginjilan publik. Saya mengembangkan beberapa pelajaran Alkitab yang mengikuti outline berdasarkan topik yang kami terima di pelatihan sebelum terjun ke lapangan: Alkitab, Allah, Setan, manusia, dosa, penghakiman dan Yesus Kristus. Saya mulai dengan memperkenalkan kepada para pendengar Ifugo saya tentang dasar-otoritas (Alkitab). Lalu dengan cepat saya melanjutkan ke bagian kedua dari outline (Allah), dan seterusnya, memuncak pada Yesus Kristus. Saya menyajikan pelajaran-pelajaran itu dalam sebuah format berdasarkan topik dengan sistematis. Sasaran saya bukan hanya untuk mengomunikasikan Injil, tetapi juga mengomunikasikannya sedemikian rupa sehingga orang Ifugao dapat menjelaskannya kepada orang lain dengan efektif. Namun ketika saya mengajar, saya segera menyadari bahwa orang Ifugao kesulitan untuk mengikuti presentasi berdasarkan topik dan bahkan lebih sulit untuk menjelaskan isinya kepada orang lain. Saya bingung. Sesuatu harus diubah, maka saya menambahkan sejumlah cerita dari Perjanjian Lama untuk menggambarkan konsep abstrak (teoritis) dalam pelajaran melalui tokoh-tokoh dan benda-benda bergambar (konkrit). Saya menceritakan kisah tentang penciptaan, Kejatuhan, Kain dan Habel, Air bah, pelarian dari Mesir, pemberian Sepuluh Perintah Allah, Kemah Suci, Elia dan Dewa Baal, semua yang bisa memberikan fondasi untuk kisah Yesus. Respon mereka adalah fenomenal. Bukan hanya sesi penginjilan itu menjadi hidup, para penerima menjadi penginjil instan, menceritakan kisah-kisah itu kepada teman-teman dengan antusias dan efektif. Sejak itu saya mengintegrasikan cerita-cerita dalam semua usaha penginjilan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kembali kepada Keampuhan dari Cerita===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah orang Ifugao memperkenalkan kembali kepada saya akan keampuhan dari cerita, saya mulai meneliti topiknya.1 Saya segera menemukan bahwa banyak disiplin ilmu, termasuk manajemen, kesehatan mental dan fisik, apologetika, teologi dan antropologi sangat bergantung pada bercerita. Namun, sayangnya, bercerita telah menjadi seni yang hilang bagi banyak pekerja Kristen dalam kaitannya dengan penginjilan. Sedikit yang menyajikan Injil dengan menggunakan kisah-kisah Perjanjian Lama untuk meletakkan dasar yang kuat untuk memahami kehidupan Kristus, atau menghubungkan kisah-kisah tentang pengharapan sebagai target kisah keputusasaan dari audiens. Sebaliknya, banyak yang memilih untuk menguraikan empat atau lima hukum rohani dan membuktikan keabsahannya masing-masing dengan argumen yang tajam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejumlah mitos berongga membuat berat sebelah pilihan terhadap bercerita dalam penginjilan: (1) cerita adalah untuk anak-anak; (2) cerita adalah untuk hiburan; (3) orang dewasa lebih suka pemikiran yang rumit, objektif, dan proporsional; (4) tokoh berasal dari dogma, kredo, dan teologi; (5) bercerita adalah buang-buang waktu dalam hal gagal untuk sampai ke masalah yang lebih inti. Sebagai akibat dari hal-hal ini dan mitos lain yang berkaitan, banyak pekerja Kristen telah mengesampingkan bercerita. Untuk membantu menghubungkan kembali kisah Allah dengan pemuridan-penginjilan, saya akan menyoroti tujuh alasan mengapa bercerita harus menjadi sebuah ketrampilan yang dipraktekkan oleh semua orang yang mengomunikasikan Injil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====1.Bercerita adalah Bentuk Komunikasi Universal====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak peduli kemana Anda bepergian di dunia ini, Anda akan menemukan bahwa orang senang bercerita dan mendengarkan cerita. Anak-anak, remaja dan orang yang lebih tua semuanya suka untuk memasuki pengalaman hidup orang lain melalui cerita. Apa pun topik yang dibahas, cerita menjadi bagian integral dalam dialog. Cerita dapat digunakan untuk memperdebatkan satu maksud, menyelipkan humor, menggambarkan wawasan penting, menghibur teman yang sedih, menantang kejuaraan atau sekadar menghabiskan waktu. Apapun penggunaannya, sebuah cerita memiliki cara yang unik dalam menemukan jalan menuju sebuah percakapan.Cerita diperdengarkan di mana saja. Pas untuk diperdengarkan di gereja dan penjara, di rumah dan di sekeliling api unggun. Tidak hanya bercerita, orang-orang memiliki kebutuhan untuk melakukannya. Hal ini membawa kita ke alasan kedua untuk bercerita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====2. Lebih Dari Setengah Penduduk Dunia Memilih Mode Pembelajaran yang Konkrit====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang yang buta huruf dan semi-terpelajar di dunia mungkin melebihi jumlah orang yang dapat membaca.2 Orang-orang dengan latar belakang tersebut cenderung mengekspresikan diri lebih melalui bentuk-bentuk yang konkrit (cerita dan lambang) daripada konsep-konsep yang abstrak (pemikiran tentang dalil dan filsafat). Jumlah orang Amerika yang lebih memilih mode komunikasi yang konkrit bertambah. Hal ini disebabkan, setidaknya sebagian, karena sebuah perubahan besar dalam pilihan komunikasi. Salah satu alasan di balik perubahan ini (dan tingkat melek huruf yang menurun) adalah televisi. Dengan rara-rata suara TV sekarang sekitar 13 detik, dan rata-rata panjang gambar kurang dari tiga detik (seringkali tanpa logika linier), maka tidak mengherankan jika mereka yang di bawah pengaruh televisi memiliki sedikit waktu atau keinginan untuk membaca. Akibatnya, bisnis koran terus berkurang sementara perusahaan produksi video berkembang biak. Jika pekerja Kristen terlalu banyak mengandalkan fondasi penginjilan dan pengajaran yang harfiah dan abstrak, dua per tiga dunia mungkin mengalihkan perhatiannya ke tempat yang lain. 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====3. Cerita Menghubungkan Imajinasi dan Emosi Kita====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komunikasi yang efektif tidak hanya menyentuh pikiran kita, tetapi juga menjangkau pusat emosi, yaitu hati. Tidak seperti prinsip, aturan, dan dalil, cerita membawa kita dalam sebuah perjalanan yang terbuka-di akhir yang menyentuh keseluruhan pribadi. Cerita memberikan tanggal, waktu, tempat, nama, dan kronologi, hal-hal itu secara bersamaan membangkitkan air mata, keceriaan, rasa takut, kemarahan, percaya diri, keyakinan, sarkasme, keputusasaan dan harapan. Cerita membawa para pendengarnya ke dalam kehidupan para tokohnya. Para pendengar (peserta) tidak hanya mendengar apa yang terjadi pada tokoh-tokoh tersebut; melalui imajinasi mereka seolah mengalami sendiri masuk ke dalam pengalaman itu. Herbert Schneidau dengan cepat menangkap maksud ini ketika dia menyatakan: “Cerita memiliki cara untuk membuka perasaan-perasaan yang bisanya kita lumpuhkan itu.” 4 Orang-orang menghargai cerita karena mencerminkan kehidupan mereka sendiri, menenun bersama-sama kenyataan dan perasaan. Cerita melepaskan imajinasi, membuat pembelajaran menjadi sebuah pengalaman yang menarik dan yang mengubah hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Gaya Mayoritas Sastra Alkitab&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Pemikiran yang terorganisir 10%&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Narasi (Cerita) 75%&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Puisi 15%&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====4. Sekitar 75% dari Alkitab adalah Cerita====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga gaya dasar sastra mendominasi penulisan Alkitab, yaitu format cerita, puisi, dan pemikiran yang terorganisir, namun cerita adalah yang dominan (lihat gambar di atas). Selama berabad-abad, para penulis Alkitab mendokumentasikan banyak macam tokoh: dari raja sampai budak, dari orang yang mengikuti Allah sampai mereka yang hidup bagi keuntungan pribadi. Kisah-kisah seperti itu menjadi cermin yang merefleksikan perspektif kita sendiri tentang kehidupan, dan yang lebih penting, perspektif Allah. Charles Koller dengan cerdik menunjukkan: Alkitab tidak diberikan untuk mengungkapkan kehidupan Abraham, Ishak, dan Yakub, namun untuk menyingkapkan tangan Allah dalam kehidupan Abraham, Ishak, dan Yakub; bukan sebagai penyataan tentang Maria, Martha, dan Lazarus, namun sebagai pernyataan tentang Juruselamat Maria, Martha, dan Lazarus.5 Puisi mencakup sekitar 15% dari Alkitab. Nyanyian, ratapan, dan amsal memberi kepada para pembaca dan pendengar berbagai jalan untuk mengekspresikan dan mengalami emosi-emosi yang dalam. Bagian-bagian Alkitab ini menunjukkan sisi perasaan orang-orang, dan menerangi perasaan-perasaan Allah juga. Yang 10% sisanya terdiri dalam format pemikiran terorganisir. Tulisan-tulisan Rasul Paulus yang dipengaruhi Yunani termasuk dalam kategori ini, dimana pemikiran logis dan linier mendominasi. Banyak orang Barat dididik dalam tradisi Yunani, termasuk saya, lebih memilih untuk menghabiskan sebagian besar waktu dalam gaya sastra Kitab Suci yang paling sedikit ini. Namun, jika Allah mengomunikasikan sebagian besar berita-Nya kepada dunia melalui cerita, apa yang disarankan kepada para pekerja Kristen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====5. Semua Agama Mayoritas Menggunakan Cerita untuk Mensosialisasikannya kepada Para Petobat yang Muda dan Potensial untuk menjadi Pengikut dan untuk Mengindoktinasi Para Anggota. ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budha, M, Hindu, Yudaisme, Kristen – semua memakai cerita untuk menambah (dan membatasi) keanggotaan dan memastikan kesetiaan generasi yang sekarang ini. Mereka menggunakan cerita untuk membedakan anggota yang sejati dari yang palsu, membedakan perilaku yang bisa diterima dari perilaku yang tidak bisa diterima. Cerita menciptakan komunitas yang berkomitmen. Entah Paulus sedang menginjili orang Yahudi maupun non-yahudi, audiens mendengar cerita yang relevan. Orang-orang Yahudi yang tidak percaya mendengar tentang para pahlawan budaya, seperti Abraham, Musa, dan Daud (Kis 13:13-43). Orang-orang non-Yahudi mendengar tentang Allah yang berkuasa di balik kisah penciptaan (Kis 14:8-18; 17:16-34). Orang-orang percaya yang sudah dewasa iman mendengar cerita yang sama dengan penekanan yang berbeda. Bisakah salah satu alasan untuk hal ini adalah bahwa cerita memberikan cara yang tidak mengganggu dan tidak mengancam dalam menantang dasar keyakinan dan perilaku seseorang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====6. Cerita Menciptakan Para Penginjil Instan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang merasa mudah untuk mengulangi cerita yang bagus. Entah inti cerita itu tentang gosip hangat atau Injil Yesus Kristus, sesuatu yang di dalamnya setiap kita mau mendengar dan menceritakan kisah-kisah tersebut. Menahan cerita yang bagus adalah seperti menolak setoples biskuit kesukaan Anda. Cepat atau lambat, desakannya terlalu kuat dan biskuit-biskuit pun dimakan, kisahnya akan diceritakan. Kisah-kisah akan diceritakan lagi. Karena teman Ifugao saya bisa mengaitkan pengalaman kehidupan tokoh-tokoh Alkitab dengan baik, mereka tidak hanya mengaplikasikan cerita-cerita itu pada kehidupan mereka, mereka dengan segera menceritakan lagi kepada keluarga dan teman-teman, bahkan sebelum mereka berpindah kepercayaan kepada Yesus Kristus. Cerita menciptakan tukang cerita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====7. Yesus Mengajar Teologi Melalui Cerita====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus tidak pernah menulis buku tentang teologi sistematik, namun Dia mengajarkan teologi kemanapun Dia pergi. Sebagai seorang pemikir yang holistik, Yesus sering menggunakan kisah parabolik untuk mengusik audiens ke dalam refleksi tentang cara-cara pemikiran yang baru tentang kehidupan. Ketika para pendengar Yesus bergumul dengan konsep baru yang diperkenalkan melalui perumpamaan, mereka ditantang untuk meneliti tradisi, bentuk baru gambar Allah, dan mengubah tingkah laku mereka. Cerita mendorong orang untuk berjumpa dengan Allah dan berubah. Tidaklah nyaman untuk diperhadapkan dengan tantangan dari cerita-cerita Yesus: untuk melangkah keluar dari perahu, berbalik dari anggota keluarga, menambah belas kasihan kepada orang lain, mencari hal yang tersembunyi dan memberikan benda dan kekayaan kepada orang miskin – tidak satupun yang menarik. Namun cerita-cerita itu telah membuka kemungkinan-kemungkinan yang menjadikannya sulit untuk tetap puas dengan kehidupan seperti sebelumnya. Kemanapun arah yang diambil oleh pendengar, mereka tidak menemukan jalan tengah. Mereka telah bertemu Allah. Cerita Yesus, dikemas dengan teologi, dilandasi akal, imajinasi dan emosi untuk berbenturan, menuntut adanya sebuah perubahan ketaatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kesimpulan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab mulai dengan kisah penciptaan dan berakhir dengan penglihatan penciptaan kembali oleh Allah. Di antara alfa dan omega dihujani begitu banyak dengan bermacam kisah lainnya. Cerita mendominasi Kitab Suci, namun cerita jarang menjadi strategi pekerja Kristen. Leland Ryken dengan meyakinkan bertanya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa Alkitab berisi begitu banyak cerita? Mungkinkah kisah-kisah itu mengungkapkan beberapa kebenaran dan pengalaman yang tidak ada dalam bentuk karya sastra lain – dan jika demikian, apakah itu? Apa perbedaaan dalam gambaran kita tentang Allah ketika kita membaca kisah dimana Allah bertindak, dibandingkan dengan pernyataan-pernyataan teologis tentang sifat Allah? Apa yang dikomunikasikan Alkitab melalui imajinasi kita yang tidak dikomunikasikan melalui akal kita? Jika Alkitab menggunakan imajinasi sebagai salah satu cara mengomunikasikan kebenaran, bukankah seharusnya kita juga menunjukkan keyakinan yang sama dalam kekuatan imajinasi untuk menyampaikan kebenaran religius? Jika ya, apakah akan menjadi awal yang baik untuk menghormati kualitas cerita di Alkitab dalam eksposisi kita tentangnya? 6 Bukankah ini adalah waktunya bagi para pekerja Kristen untuk merevitalisasi satu hal yang paling tua, yang paling universal, dan bentuk seni yang paling ampuh di dunia, yaitu bercerita? Saya yakin akan hal ini. Saya juga percaya bahwa pekerja Kristen, dengan latihan dan praktek, dapat dengan efektif mengomunikasikan kisah sempurna Yesus Kristus, dan menghubungkannya dengan cerita belum selesai dari audiens yang disasar. Menyajikan sebuah gambaran luas kisah-kisah Perjanjian lama dan Baru yang memperkenalkan sejarah penebusan akan menyoroti Cerita Utama (Yesus Kristus) dari Buku Cerita Suci (Alkitab) bagi para pendengarnya. Jika ini terjadi, Injil akan jauh lebih mudah untuk dimengerti, dan lebih sering dikomunikasikan kepada keluarga dan teman-teman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Laporan_Willowbank:_Komite_Lausanne_untuk_Penginjilan_Dunia&amp;diff=715</id>
		<title>Laporan Willowbank: Komite Lausanne untuk Penginjilan Dunia</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Laporan_Willowbank:_Komite_Lausanne_untuk_Penginjilan_Dunia&amp;diff=715"/>
		<updated>2013-12-18T15:04:14Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dimana pun manusia mengembangkan organisasi sosial, seni dan ilmu pengetahuan, pertanian dan teknologi, kreativitas mereka merefleksikan Pencipta mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“The Willowbank Report,”(Laporan Willowbank) digunakan dengan ijin dari Komite Lausanne untuk Penginjilan Dunia, 1978.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“The Willowbank Report”(Laporan Willowbank) adalah produk dari perundingan tentang “Injil dan Budaya” Januari 1978, disponsori oleh Komite Lausanne untuk Penginjilan Dunia dan diselenggarakan di Willowbank, Somerset Bridge, Bermuda. Ada 33 teolog, antropolog, ahli bahasa, misionaris, dan pendeta yang hadir. Laporan itu menyatakan isi dari 17 makalah tertulis yang dibagikan di muka, ringkasan dari makalah-makalah tersebut dan tanggapan terhadapnya muncul selama perundingan dan pandangan-pandangan diungkapkan dalam diskusi pleno dan kelompok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===1. Dasar Alkitab tentang Budaya===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena manusia adalah ciptaan Allah, beberapa dari kebudayaan mereka kaya akan keindahan dan kebaikan. Karena dia jatuh, semua itu tercemar dengan dosa dan beberapa darinya adalah jahat.” (Kovenan Lausanne, alinea 10). Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, dalam rupa-Nya sendiri dengan menganugerahkan kepada mereka kecakapan manusia yang khas, yaitu kecakapan rasional, moral, sodial, kreatif dan spiritual. Dia juga mengatakan kepada mereka untuk beranak cucu, untuk memenuhi bumi dan menaklukkannya (Kej 1:26-28). Perintah ilahi ini adalah asal dari budaya manusia. Dasar kebudayaan adalah kontrol kita terhadap alam (yakni, lingkungan kita) dan pengembangan kita adalah kontrol atas bentuk-bentuk organisasi sosial. Sejauh kita menggunakan kekuatan kreatif kita untuk mematuhi perintah Allah, kita memuliakan Allah, melayani sesama dan memenuhi bagian penting dari takdir kita di bumi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sekarang kita jatuh. Semua pekerjaan kita disertai dengan keringat dan susah payah (Kej 3: 17-19), dan dinodai oleh keegoisan. Jadi tidak ada budaya kita yang sempurna dalam kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Dalam jantung setiap budaya – entah kita mengidentifikasi jantung ini sebagai agama atau sudut pandang dunia – merupakan sebuah unsur dari egosentris, pemujaan manusia atas dirinya sendiri. Oleh karena itu sebuah budaya tidak dapat ditempatkan di bawah ketuhanan Kristus tanpa sebuah perubahan kesetiaan yang radikal. Untuk semua itu, penegasan bahwa kita diciptakan dalam gambar Allah masih berlaku (Kej 9:6; Yak 3:9), meskipun rupa ilahi telah tercemar oleh dosa. Dan Allah masih mengharapkan kita untuk mengelola bumi dan makhluk-makhluknya (Kej 9:1-3,7), dan di dalam anugerah umum-Nya membuat semua orang berdaya cipta, banyak akal dan bermanfaat dalam upaya-upaya mereka. Jadi, meskipun Kejadian 3 mencatat kejatuhan manusia, dan Kejadian 4 mencatat pembunuhan Kain oleh Habel, keturunan Kainlah yang digambarkan sebagai inovator-inovator budaya, membangun kota, peternakan, dan membuat alat-alat musik dan alat-alat logam (Kej 4:17-22).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak dari kami penginjil Kristen di masa lalu telah terlalu negatif terhadap budaya. Kami tidak melupakan kejatuhan manusia dan ketersesatan yang membutuhkan keselamatan di dalam Kristus. Namun kami ingin memulai Laporan ini dengan sebuah penegasan yang positif tentang martabat manusia dan pencapaian budaya manusia. Dimanapun manusia mengembangkan organisasi sosial, seni dan ilmu pengetahuan, pertanian dan teknologi, kreativitas mereka merefleksikan Pencipta mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===2. Sebuah Definisi Budaya===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya adalah sebuah istilah yang tidak mudah rentan terhadap definisi. Dalam arti luas, budaya berarti cara terpola dimana orang-orang melakukan hal-hal bersama-sama. Jika ada kehidupan yang sama dan tindakan kerja sama, haruslah ada kesepakatan, diutarakan atau tidak, tentang sejumlah banyak hal. Namun istilah “budaya” umumnya tidak digunakan kecuali unit yang bersangkutan lebih besar daripada keluarga yaitu kesatuan-kesatuan atau yang diperluas. Budaya menyiratkan ukuran homogenitas. Namun, jika unitnya lebih besar daripada klan atau suku kecil, budaya akan mencakup sejumlah sub-budaya, dan sub-sub budaya dari sub-budaya, yang di dalamnya beragam variasi dan keanekaragaman adalah mungkin. Jika variasinya melampaui batasan tertentu, budaya tandingan akan terjadi, dan ini mungkin membuktikan proses yang destruktif. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya menahan orang-orang bersama-sama selama suatu rentang waktu. Budaya diterima dari masa lampau, namun tidak melalui proses warisan alamiah. Budaya harus dipelajari lagi oleh setiap generasi. Ini terjadi secara luas melalui proses penyerapan terhadap lingkungan sosial, terutama di keluarga. Dalam banyak masyarakat, unsur-unsur tertentu dari budaya dikomunikasikan secara langsung dalam upacara pengenalan dan melalui banyak bentuk lain dari perintah yang dimaksudkan. Tindakan yang sesuai dengan budaya umumnya ada pada tingkat bawah sadar. Ini berarti bahwa budaya yang diterima meliputi segala sesuatu dalam kehidupan manusia. Di pusatnya ada sebuah sudut pandang dunia, yaitu, pemahaman umum tentang sifat alam semesta dan tentang tempat seseorang di dalamnya. Ini mungkin “religius” (berkenaan dengan Allah, atau dewa-dewa dan roh-roh, hubungan kita dengan mereka), atau mungkin mengungkapkan konsep “sekuler” tentang realitas, seperti dalam masyarakat Marxis.Dari sudut pandang dunia dasar ini mengalir baik standar-standar penilaian maupun nilai-nilai (tentang apa yang baik dalam arti yang diinginkan, tentang apa yang diterima menurut kehendak umum masyarakat, dan tentang pertentangan) dan standar-standar perilaku (mengenai hubungan antara individu, antara jenis kelamin dan generasi, dengan masyarakat dan dengan orang-orang di luar masyarakat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya terikat erat dengan bahasa, dan diungkapkan dalam peribahasa, mitos, cerita rakyat, dan berbagai bentuk seni, yang menjadi bagian dari perabotan mental semua anggota kelompoknya. Budaya mengatur tindakan-tindakan yang dilakukan dalam komunitas – tindakan ibadah atau kesejahteraan umum; hukum dan administrasi hukum; kegiatan sosial seperti tarian dan permainan; unit yang lebih kecil dari tindakan seperti klub-klub dan lembaga-lembaga, asosiasi-asosiasi untuk berbagai keperluan umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya tidak pernah statis; ada proses perubahan yang terus-menerus. Namun ini harus bertahap dalam mengambil bagian di dalam norma-norma yang diterima; kalau tidak budaya akan terganggu. Penalti terburuk yang dapat ditimbulkan pada pemberontakan adalah pengucilan dari komunitas sosial yang ditegaskan secara budaya.Laki-laki dan perempuan membutuhkan sebuah keberadaan yang disatukan. Partisipasi dalam budaya adalah salah satu faktor yang memberikan kepada mereka rasa memiliki. Ini memberikan rasa aman, identitas, martabat, menjadi bagian dari keseluruhan yang lebih besar, dan ambil bagian baik dalam kehidupan generasi masa lalu maupun dalam pengharapan untuk masa depan masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petunjuk Alkitabiah untuk memahami budaya manusia ditemukan dalam dimensi manusia rangkap tiga, tanah dan sejarah yang merupakan fokus perhatian Perjanjian Lama. Etnis, teritorial dan historis (siapa, dimana dan dari mana kita) muncul di sana sebagai sumber rangkap tiga dari bentuk-bentuk ekonomis, ekologis, sosial dan artistik dari kehidupan manusia di Israel, bentuk-bentuk tenaga kerja dan produksi dan sebagainya dari kekayaan dan kesejahteraan. Model ini memberikan perspektif untuk menafsirkan semua budaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin kita dapat mencoba untuk meringkas berbagai arti ini sebagai berikut: Budaya adalah sistem terpadu dari kepercayaan-kepercayaan (tentang Allah atau realitas atau makna tertinggi), dari nilai-nilai (tentang apa yang benar, baik, indah dan normatif), dari kebiasaan (bagaimana berperilaku, berhubungan dengan orang lain, berbicara, berdoa, berpakaian, bekerja, bermain, berdagang, bertani, makan, dll.) dan dari institusi-institusi yang mengungkapkan kepercayaan, nilai-niali, dan kebiasaan ini (pemerintah, pengadilan hukum, kuil atau gereja, keluarga, sekolah, rumah sakit, pabrik, toko, serikat, klub, dll.), yang menyatukan masyarakat bersama dan memberikan kepadanya rasa identitas, martabat, rasa aman dan kesinambungan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===3. Budaya dalam Penyataan Alkitab===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengungkapan diri pribadi Allah dalam Alkitab diberikan dalam hal budaya para pendengarnya sendiri. Jadi kita harus bertanya pada diri kita sendiri apa yang menjadi tugas komunikasi lintas budaya kita saat ini. Para penulis Alkitab memanfaatkan dengan kritis materi budaya apapun yang tersedia bagi mereka untuk pengungkapan berita mereka.Sebagai contoh, Perjanjian Lama mengacu beberapa kali kepada monster laut Babel bernama “Lewiatan,” sedangkan bentuk “kovenan” dengan umat-Nya menyerupai “perjanjian” daerah kekuasaan orang Het kuno dengan para pengikutnya. Para penulis juga memanfaatkan secara insidental pemakaian dari gambaran konseptual alam semesta “tingkat tiga,” meskipun mereka tidak demikian menegaskan kosmologi pra-Copernican. Kita melakukan sesuatu yang mirip ketika kita berbicara tentang matahari “terbit” dan “tenggelam.” Demikian pula, bahasa Perjanjian Baru dan bentuk-bentuk pemikiran yang dijejakkan dalam budaya Yahudi maupun Yunani, dan Paulus tampaknya telah mengambil dari kosa kata filsafat Yunani. Namun proses yang melaluinya para penulis Alkitab meminjam kata-kata dan penggambaran dari lingkungan pergaulan budaya mereka, dan menggunakan itu dengan kreatif, dikuasai oleh Roh Kudus sehingga mereka bersih dari kesalahan atau implikasi palsu dan dengan demikian mengubah itu menjadi kendaraan bagi kebenaran dan kebaikan. Fakta-fakta yang tidak diragukan ini memunculkan sejumlah pertanyaan yang kita gumuli. Kami menyebutkan lima:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sifat Inspirasi Alkitab====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah pemakaian kata-kata dan ide-ide dari budaya para penulis Alkitab sendiri bertentangan dengan inspirasi ilahi? Tidak. Kita telah mencatat genre-genre sastra yang berbeda di Kitab Suci, dan bentuk-bentuk yang berbeda dari proses inspirasi yang mereka nyatakan secara tidak langsung. Misalnya,ada perbedaan yang luas dalam bentuk antara pekerjaan para nabi, menerima penglihatan dan perkataan Tuhan, dan sejarawan dan para penulis surat. Namun Roh yang sama secara unik menginspirasi mereka semua. Allah menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan latar belakang budaya dari para penulis (meskipun penyataan-Nya terus-menerus melampaui ini), dan dalam setiap kejadian hasilnya adalah sama, yaitu Firman Allah melalui kata-kata manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bentuk dan Arti====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap komunikasi memiliki baik makna (apa yang mau kita katakan) maupun bentuk (bagaimana kita mengatakannya). Keduanya – bentuk dan arti – selalu sama-sama memiliki, di dalam Alkitab maupun dalam buku-buku dan ucapan lain. Lalu bagaimanakah seharusnya sebuah pesan diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa yang lain? Sebuah terjemahan harfiah dari bentuk (“korespondensi formal”) dapat menyembunyikan atau mengubah arti. Dalam kasus tersebut, cara yang lebih baik adalah dengan menemukan dalam bahasa yang lain sebuah ungkapan yang menjadikan dampak yang setara pada pendengar sekarang seperti pada pendengar asal. Ini dapat melibatkan perubahan bentuk untuk mempertahankan arti. Ini disebut “kesetaraan dinamis.” Perhatikan, misalnya, terjemahan RSV dari Roma 1:17, yang menyatakan bahwa dalam Injil “the righteousness of God is revealed through faith for faith.” [“kebenaran Allah dinyatakan melalui iman karena iman.”] Ini memberikan terjemahan kata per kata dari bahasa Yunani asli, yaitu terjemahan “korespondensi formal.” Namun ini membuat arti kata bahasa Yunani “kebenaran” dan “dari iman kepada iman” menjadi tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah terjemahan seperti TEV – “the gospel reveals how God puts people right with himself: it is through faith from beginning to end”[Injil mengungkapkan bagaimana Allah membenarkan orang-orang di hadapan-Nya: ini adalah melalui iman sejak awal sampai akhir”] – mengabaikan prinsip korespondensi satu-satu antara kata-kata Yunani dan Inggris; namun mengungkapkan arti dari kalimat asli dengan lebih memadai. Upaya untuk menghasilkan terjemahan “kesetaraan dinamis” juga dapat membawa penerjemah kepada pemahaman Kitab Suci yang lebih dalam, sekaligus menjadikan teksnya lebih bermakna bagi orang-orang dari bahasa lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa bentuk Alkitab (kata, gambaran, metafora) harus dipertahankan, bagaimanapun, karena merupakan simbol penting yang diulang-ulang dalam Kitab Suci (misalnya, salib, domba, atau cawan). Sementara mempertahankan bentuk, penerjemah akan berusaha untuk mengeluarkan artinya. Sebagai contoh, dalam TEV menerjemahkan Markus 14:36 -—“take this cup of suffering away from me” [“ambillah cawan penderitaan ini dari-Ku”] – bentuk (yaitu gambaran “cawan”) dipertahankan, namun kata “penderitaan” ditambahkan untuk memperjelas artinya. Menulis dalam bahasa Yunani, para penulis Perjanjian Baru menggunakan kata-kata yang memiliki sejarah yang panjang dalam dunia sekuler, namun menginvestasikan kata-kata tersebut dengan makna Kristen sebagaimana Yohanes menyebut Yesus sebagai “Logos.”[“Firman”]. Ini berbahaya karena “logos” memiliki arti yang bervariasi dalam sastra dan filsafat Yunani, dan asosiasi bukan Kristen diragukan menempel pada kata itu. Jadi Yohanes mengatur judulnya di dalam konteks pengajaran, menegaskan bahwa Logos adalah awal, adalah bersama Allah, adalah Allah, adalah agen ciptaan, adalah terang dan kehidupan manusia, dan menjadi manusia (Yoh 1:1-14). Demikian pula, beberapa orang Kristen India telah mengambil resiko meminjam kata Sansekerta “avatar” (keturunan), digunakan dalam Hinduisme untuk apa yang disebut “inkarnasi” Wisnu, dan menerapkannya, dengan keamanan penjelasan yang seksama, untuk inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus. Namun orang lain telah menolak untuk melakukannya, dengan alasan tidak ada pengamanan yang memadai untuk mencegah salah tafsir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sifat Normatif Kitab Suci====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kovenan Lausanne menyatakan bahwa Alkitab adalah “tanpa kesalahan dalam semua yang ditegaskannya” (alinea 2). Ini meletakkan pada kita tugas eksegetis untuk membedakan apa yang Kitab Suci tegaskan. Arti penting dari pesan Alkitab harus dipertahankan apapun resikonya. Meskipun beberapa bentuk asli dimana arti yang diungkapkan dapat berubah demi komunikasi lintas budaya, kami percaya bahwa mereka juga memiliki kualitas normatif tertentu. Karena Allah sendiri memilih mereka sebagai kendaraan yang sepenuhnya sesuai atas wahyu-Nya. Jadi setiap formulasi baru dan penjelasan dalam setiap generasi dan budaya harus diperiksa kesetiaannya dengan mengacu kembali pada yang asli. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pengkondisian Budaya Kitab Suci====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami belum mampu mencurahkan waktu sebanyak yang kami inginkan untuk masalah pengkondisian budaya Alkitab. Kami setuju bahwa beberapa perintah di Alkitab (misalnya, mengenai jilbab perempuan di muka umum dan saling membasuh kaki) mengacu pada adat budaya yang sekarang telah usang di banyak bagian dunia. Dihadapkan pada teks seperti itu, kami percaya bahwa respon yang tepat bukanlah ketaatan seperti budak ataupun pengabaian yang tidak bertanggung jawab, melainkan pertama-tama penegasan kritis terhadap arti inti dari teks dan kemudian terjemahannya ke dalam budaya kita sendiri.Misalnya, arti inti dari perintah saling membasuh kaki adalah saling mengasihi harus terungkap dalam pelayanan yang rendah hati. Jadi dalam beberapa budaya kita bisa saling membersihkan sepatu sebagai gantinya. Jelas bagi kami bahwa tujuan seperti “perubahan budaya” tidak untuk menghindari ketaatan melainkan untuk membuatnya sejaman dan otentik. Pertanyaan kontroversial tentang status perempuan tidak dibahas di Perundingan kami. Namun kami mengakui kebutuhan untuk mencari pemahaman yang mencoba dengan integritas untuk melakukan keadilan atas emua pengajaran berdasarkan Alkitab, dan yang melihat hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai keduanya berakar dalam tatanan yang dibuat dan pada saat yang sama berubah oleh tatanan baru yang diperkenalkan oleh Yesus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pekerjaan Roh Kudus yang Berkelanjutan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah penekanan kami pada norma Kitab Suci yang menentukan dan permanen berarti bahwa kami berpikir Roh Kudus kini telah berhenti bekerja? Tidak, memang tidak. Namun sifat dari pelayanan pengajaran-Nya telah berubah. Kami percaya bahwa karya “inspirasi”-Nya telah selesai, dalam pengertian bahwa kanon Kitab Suci sudah ditutup, namun karya “iluminasi”-Nya berlanjut baik dalam setiap pertobatan (misalnya 2 Kor 4:6) maupun dalam kehidupan orang Kristen dan Gereja. Jadi kita pelu secara terus-menerus berdoa agar Dia akan mencerahkan mata hati kita sehingga kita dapat mengenal kepenuhan tujuan Allah bagi kita (Ef 1:17 dst) dan mungkin tidak takut-takut tetapi berani dalam membuat keputusan dan melaksanakan tugas-tugas baru hari ini.Kami telah dibuat menyadari bahwa pengalaman Roh Kudus mengungkapkan penerapan kebenaran Allah untuk kehidupan pribadi dan gereja sering kurang jelas daripada yang seharusnya: kami semua membutuhkan keterbukaan yang lebih sensitif pada titik ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Perintah-perintah dalam Kejadian 1:26-28 kadang-kadang disebut sebagai “mandat budaya” yang Tuhan berikan kepada umat manusia. Seberapa jauh itu dipenuhi hari ini?&lt;br /&gt;
#	Dalam pengertian definisi budaya di atas, apa saja unsur-unsur khas utama budaya Anda sendiri?&lt;br /&gt;
#	Jika Anda bisa dua bahasa, buatlah kalimat dengan satu bahasa dan kemudian cobalah untuk menemukan terjemahan “kesetaraan dinamis” ke dalam bahasa yang lain.&lt;br /&gt;
#	Berikan contoh lain dari “perubahan budaya” yang mempertahankan “arti inti” teks Alkitab namun mengubahnya ke dalam budaya Anda sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===4. Memahami Firman Tuhan Hari Ini===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor budaya hadir tidak hanya dalam penyataan-diri Allah di Kitab Suci, tetapi juga dalam penafsiran kita tentangnya. Sekarang kita beralih ke topik ini. Semua orang Kristen peduli untuk memahami Firman Allah, namun ada cara yang berbeda dalam berusaha untuk melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pendekatan Tradisional====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang paling umum untuk datang langsung ke kata-kata dari teks Alkitab, dan untuk mempelajari kata-kata tanpa kesadaran bahwa para penulis konteks budaya berbeda dari budaya para pembacanya. Para pembaca menafsirkan teks seolah telah ditulis dalam bahasanya sendiri, budaya dan zamannya sendiri.Kami menyadari bahwa banyak Alkitab yang bisa dibaca dan dipahami dengan cara ini, terutama jika terjemahannya baik. Karena Allah memaksudkan Firman-Nya bagi orang-orang biasa; tidak dianggap sebagai pelestarian para ahli; kebenaran sentral keselamatan adalah gamblang untuk dilihat oleh semua orang; Kitab Suci “useful for teaching the truth, rebuking error, correcting faults and giving instruction for right living” [“bermanfaat untuk mengajar kebenaran, menegur kesalahan, mengoreksi kesalahan dan memberikan instruksi untuk hidup benar”] (2 Tim 3:16, TEV); dan Roh Kudus telah diberikan untuk menjadi Guru kita. Kelemahan dari pendekatan “populer” ini, bagaimanapun, adalah bahwa itu tidak berusaha untuk pertama-tama memahami teks dalam konteks aslinya; dan, karena itu, beresiko untuk kehilangan arti sesungguhnya yang Allah maksudkan dan mengganti yang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendekatan kedua melakukan berdasarkan keseriusan konteks historis dan budaya yang asli. Pendekatan ini juga berusaha untuk menemukan arti teks dalam bahasa aslinya, dan bagaimana itu berkaitan dengan seluruh isi Kitab Suci. Semua ini adalah disiplin yang penting karena Allah mengatakan Firman-Nya kepada orang-orang tertentu dalam konteks dan zaman tertentu. Jadi pemahaman kita tentang pesan Allah akan bertumbuh ketika kita meneliti hal-hal ini secara mendalam. Kelemahan dari penekanan “historis,” bagaimanapun, adalah bahwa pendekatan ini gagal untuk mempertimbangkan bahwa Kitab Suci mungkin berkata kepada pembaca kontemporer. Pendekatan ini semacam menghentikan makna dari Alkitab pada zaman dan budayanya. Dengan demikian bertanggung jawab untuk menganalisa teks tanpa menerapkannya, dan untuk memperoleh pengetahuan akademik tanpa ketaatan. Penafsir juga mungkin cenderung membesar-besarkan kemungkinan objektivitas yang lengkap dan mengabaikan perkiraan budayanya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pendekatan Kontekstual====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendekatan ketiga dimulai dengan menggabungkan unsur-unsur positif dari keduanya, pendekatan “populer” dan “historis.” Dari pendekatan “historis” perlu adanya studi konteks dan bahasa aslinya, dan dari pendekatan “populer’ perlunya mendengarkan Firman Allah dan menaatinya. Namun itu lebih jauh daripada ini. Pendekatan ini dengan serius memperhatikan konteks budaya para pembaca kontemporer sekaligus teks Alkitab, dan menyadari bahwa sebuah dialog harus dikembangkan di antara keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebutuhan untuk interaksi dinamis antara teks dan penafsir inilah yang kita ingin tekankan. Para pembaca hari ini tidak bisa sampai kepada teks dalam kevakuman pribadi, dan seharusnya tidak mencobanya. Melainkan, mereka harus sampai dengan kesadaran akan kepedulian yang berasal dari latar belakang budaya mereka, situasi pribadi, dan tanggung jawab kepada orang lain. Kepedulian ini akan mempengaruhi pertanyaan yang diajukan ke Kitab Suci. Apa yang diterima kembali, bagaimanapun, tidak akan hanya jawaban, tetapi lebih banyak pertanyaan. Ketika kita membicarakan Kitab Suci, Kitab Suci membicarakan kita. Kita mendapati bahwa praduga yang dikondisikan secara budaya tertantang dan pertanyaan kita dikoreksi. Pada kenyataannya, kita dipaksa untuk merumuskan pertanyaan kita sebelumnya dan untuk meminta yang baru. Jadi interaksi yang hidup berlanjut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam proses interaksi ini, pengetahuan kita tentang Allah dan tanggapan kita terhadap kehendak-Nya terus-menerus diperdalam. Semakin kita mengenal Dia, semakin besar tanggung jawab kita untuk taat kepada-Nya dalam situasi kita sendiri, dan semakin kita merespon dengan taat, semakin Dia membuat diri-Nya dikenal. Pertumbuhan dalam pengetahuan, kasih, dan ketaatan yang berkesinambungan inilah yang merupakan tujuan dan keuntungan dari pendekatan kontekstual. Keluar dari konteks dimana Firman-Nya semula diberikan, kita mendengar Allah berbicara kepada kita dalam konteks kontemporer, dan kita menemukannya sebagai pengalaman yang mengubahkan. Proses ini adalah semacam spiral ke atas dimana Kitab Suci tetap selalu sentral dan normatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Komunitas yang Belajar====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami ingin menekankan bahwa tugas pemahaman Kitab Suci bukanlah hanya untuk individu-individu tetapi seluruh komunitas Kristen, berbicara sebagai persekutuan kontemporer maupun historis. Ada banyak cara dimana gereja lokal dan regional dapat melihat kehendak Allah dalam budaya zaman ini sendiri. Kristus masih menunjuk para pendeta dan guru di dalam gereja-Nya. Dan sebagai jawaban atas doa yang mengandung harapan Dia katakan kepada umat-Nya, terutama melalui pemberitaan Firman-Nya dalam konteks ibadah.Selain itu, ada tempat untuk “pengajaran dan nasihat satu terhadap yang lain” (Kol 3:16) baik dalam kelompok pemahaman Alkitab maupun dalam perundingan gereja-gereja sealiran, serta untuk mendengarkan dengan tenang suara Allah dalam Kitab Suci, yang merupakan unsur yang sangat diperlukan dalam kehidupan Kristiani orang-orang percaya. Gereja juga merupakan persekutuan historis dan telah menerima warisan masa lalu yang kaya akan teologi Kristen, liturgi, dan kesetiaan. Tidak ada kelompok orang percaya yang dapat mengabaikan warisan ini tanpa resiko pemiskinan rohani. Pada saat yang sama, tradisi ini tidak boleh diterima secara tidak kritis, entah itu datang dalam bentuk serangkaian perbedaan denominasional atau dalam cara lain namun diuji oleh Kitab Suci itu menyatakan untuk menjelaskan. Juga tidak boleh dikenakan pada gereja manapun, melainkan disediakan bagi orang-orang yang menggunakannya sebagai bahan sumber daya yang berharga, sebagai penyeimbang semangat kemerdekaan, dan sebagai penghubung dengan Gereja universal. Jadi Roh Kudus memerintahkan umat-Nya melalui bermacam-macam guru baik dari masa lalu maupun masa kini. Kita saling membutuhkan. Hanya “dengan semua orang kudus” inilah kita dapat mulai memahami semua dimensi kasih Allah (Ef 3:18,19). Roh “menerangi pikiran umat Allah dalam setiap kebudayaan untuk melihat kebenarannya (yaitu kebenaran Kitab Suci) yang baru melalui mata mereka sendiri dan dengan demikian mengungkapkan kepada seluruh Gereja lebih banyak warna lagi tentang hikmat Allah” (Kovenan Lausanne, alinea 2, menggemakan Ef 3:10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Keheningan Kitab Suci====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami juga mempertimbangkan masalah keheningan Kitab Suci, yaitu, bidang-bidang doktrin dan etika yang Alkitab tidak berbicara secara eksplisit tentangnya. Ditulis dalam dunia Yahudi kuno dan Graeco-Romawi, Kitab Suci tidak mengalamatkan secara langsung, misalnya, untuk Hindu, Budha, atau M hari ini, atau untuk teori sosio-ekonomi Marxis atau teknologi modern. Namun demikian, kami percaya adalah hak bagi gereja untuk dibimbing oleh Roh Kudus untuk mencari Kitab Suci sebagai panutan dan prinsip yang akan memampukannya untuk mengembangkan pikiran Tuhan Kristus dan juga mampu untuk membuat keputusan-keputusan Kristen yang otentik. Proses ini akan berlangsung paling bermanfaat di dalam komunitas orang percaya karena menyembah Allah dan terlibat dalam ketaatan aktif di dunia. Kami mengulangi bahwa ketaatan Kristen adalah sebanyak pendahuluan untuk memahami sebagai konsekuensi dari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Dapatkah Anda mengingat contoh-contoh tentang bagaimana salah satu dari dua “pendekatan tradisional” terhadap pembacaan Alkitab telah menyebabkan Anda tersesat?&lt;br /&gt;
#	Pilih teks yang terkenal seperti Matius 6:24-34 (kecemasan dan ambisi) atau Lukas 10:25-38 (orang Samaria yang baik hati) dan menggunakan “pendekatan kontekstual” dalam mempelajarinya. Mari mengembangkan dialog antara Anda dan teks, pada waktu Anda mengajukan pertanyaan tentangnya dan itu mengajukan pertanyaan tentang Anda. Tuliskan tahap-tahap interaksinya.&lt;br /&gt;
#	Diskusikan beberapa cara praktis untuk mencari bimbingan Roh Kudus hari ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===5. Isi dan Komunikasi Injil===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memikirkan komunikasi Allah tentang Injil kepada kita dalam Kitab Suci, kita sekarang masuk ke dalam inti perhatian kita, tanggung jawab kita untuk mengomunikasikannya kepada orang lain, yaitu, untuk menginjili. Namun sebelum kita memikirkan komunikasi Injil, kita harus mempertimbangkan isi Injil yang harus dikomunikasikan. Karena “menginjili adalah menyebarkan kabar baik...” (Kovenan Lausanne, alinea 4). Oleh karena itu, tidak ada penginjilan tanpa kabar baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Alkitab dan Injil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Injil dapat ditemukan dalam Alkitab. Sesungguhnya, ada pengertian dimana seluruh Alkitab adalah Injil, dari Kejadian sampai Wahyu. Untuk tujuan utama seluruhnya adalah untuk menjadi saksi bagi Kristus, untuk memberitakan kabar baik bahwa Dia adalah Pemberi Hidup dan Tuhan dan untuk meyakinkan orang-orang supaya percaya kepada-Nya (misalnya, Yoh 5:39, 40; 20:31; 2 Tim 3:15).Alkitab memberitakan kisah Injil dalam berbagai bentuk. Injil adalah seperti sebuah berlian yang bersegi banyak, dengan aspek yang berbeda yang berdaya tarik bagi orang yang berbeda dalam budaya yang berbeda. Injil memiliki kedalaman yang belum kita mengerti. Injil menantang setiap usaha untuk menguranginya menjadi sebuah formulasi yang rapi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Intisari Injil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, adalah penting untuk mengidentifikasi apa yang ada pada intisari Injil. Kita mengetahui tema sentral Allah sebagai Pencipta, universalitas dosa, Yesus Kristus sebagai Anak Allah, Tuhan dari semua, dan Juruselamat melalui kematian-Nya yang menebus dan kebangkitan-Nya, perlunya pertobatan, kedatangan Roh Kudus dan kuasa mengubahkan-Nya, persekutuan dan misi Gereja Kristen dan harapan akan kedatangan Kristus kembali. Sementara ini adalah unsur-unsur dasarInjil, perlu untuk menambahkan bahwa tidak ada pernyataan teologis yang bebas-budaya/terlepas dari budaya. Oleh karena itu, semua formulasi teologis harus dinilai berdasarkan Alkitab itu sendiri, yang ada di atas semua itu. Nilai mereka harus dinilai oleh kesetiaan mereka pada Alkitab serta relevansinya dengan pesan yang mereka terapkan pada budaya mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam keinginan kami untuk mengomunikasikan Injil dengan efektif, kami sering disadarkan tentang unsur-unsur itu di dalamnya yang tidak disukai oleh orang-orang. Sebagai contoh, salib selalu menjadi sebuah pelanggaran bagi orang yang sombong dan juga kebodohan bagi orang yang bijaksana. Namun Paulus, karena hal itu, tidak menghilangkannya dari beritanya. Sebaliknya, dia terus memberitakan salib, dengan kesetiaan dan dengan resiko penganiayaan, percaya bahwa Kristus yang disalibkan adalah hikmat dan kuasa Allah. Kita juga, meskipun berkepentingan untuk mengkontekskan berita kami dan menghapus semua pelanggaran yang tidak perlu, harus menolak godaan untuk mengakomodasi itu untuk kesombongan dan prasangka manusia. Alkitab telah diberikan kepada kita. Tanggung jawab kita bukanlah untuk mengeditnya tetapi untuk memberitakannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Rintangan Budaya untuk Komunikasi Injil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada saksi Kristen yang dapat berharap untuk mengomunikasikan Injil jika dia mengabaikan faktor budaya. Hal ini terutama benar dalam kasus misionaris. Karena mereka sendiri adalah hasil dari satu budaya dan pergi ke orang-orang yang adalah hasil dari budaya lainnya. Maka pastilah mereka terlibat dalam komunikasi lintas budaya, dengan semua tantangan yang menarik dan tuntutan yang rewel. Dua masalah utama menghadang mereka. Kadang-kadang orang menolak Injil bukan karena mereka pikir itu palsu tetapi karena mereka menganggap hal itu sebagai ancaman bagi budaya mereka, terutama struktur masyarakat mereka, dan solidaritas nasional dan suku mereka. Untuk beberapa hal ini tidak bisa dihindari. Yesus Kristus adalah pengganggu sekaligus pembawa perdamaian. Dia adalah Tuhan, dan menuntut kesetiaan kita secara total. Dengan demikian, beberapa orang Yahudi abad pertama memandang Injil sebagai merendahkan Yudaisme dan menuduh Paulus “mengajar orang dimana-mana untuk menentang bangsa, hukum, dan tempat ini,” yaitu bait Allah (Kis 21:28). Demikian pula, beberapa orang Roma abad pertama takut akan stabilitas negara, karena menurut pandangan mereka, para misionaris Kristen, dengan mengatakan bahwa, “ada Raja yang lain, yaitu Yesus,” tidak setia kepada Kaisar dan menganjurkan kebiasaan yang tidak sesuai dengan hukumpraktek Roma (Kis 16:21; 17:7). Hari ini pun Yesus masih menantang banyakkeyakinan yang dihargai dan adat istiadat dari setiap budaya dan masyarakat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat yang sama, ada ciri-ciri dari setiap budaya yang tidak bertentangan dengan ketuhanan Kristus, dan yang karena itu tidak perlu diancam atau dibuang, melainkan dipertahankan dan diubah. Utusan Injil perlu mengembangkan sebuah pemahaman yang mendalam tentang budaya lokal dan penghargaan yang tulus terhadapnya. Hanya dengan begitu mereka akan mampu melihat apakah penolakannya adalah terhadap beberapa tantangan yang tidak bisa dihindari dari Yesus Kristus ataukah terhadap beberapa perlakuan atas budaya yang, apakah itu khayalan atau nyata, tidaklah penting. Masalah lainnya adalah bahwa Injil sering disampaikan kepada orang-orang dalam bentuk budaya yang asing. Lalu misionaris dibenci dan berita mereka ditolak karena pekerjaan mereka tidak dilihat sebagai usaha untuk menginjili namun sebagai usaha untuk memaksakan adat istiadat dan cara hidup mereka. Dimana misionaris mendatangkan cara berpikir dan perilaku yang aneh kepada mereka, atau sikap superioritas ras, paternalisme, atau keasyikan dengan barang-barang, komunikasi yang efektif akan terhalangi. Kadang-kadang dua kesalahan budaya disatukan bersama-sama, dan utusan Injil bersalah atas imperialisme budaya yang melemahkan budaya lokal yang tidak perlu dan juga memaksakan budaya asing sebagai gantinya. Beberapa misionaris didampingi penakluk Spanyol atas Mexico dan Peru abad ke-18Katolik Amerika Latin dan penjajah Protestan Afrika dan Asia merupakan contoh historis kesalahan ganda ini. Sebaliknya, Rasul Paulus tetap menjadi teladan tertinggi dari seseorang yang kesombongan atas hak istimewa budayanya sendiri pertama-tama dilucuti oleh Yesus Kristus (Flp 3:4-9) dan kemudian diajar untuk beradaptasi dengan budaya lain, menjadikan dirinya sebagai budak mereka dan menjadi “semua hal untuk semua orang” agar dengan demikian menyelamatkan orang-orang (1 Kor 9:19-23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kepekaan Budaya dalam Mengomunikasikan Injil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saksi yang peka lintas budaya tidak akan sampai pada lingkungan pelayanan mereka dengan Injil yang pra-paket. Mereka pastilah telah memiliki pemahaman yang jelas tentang kebenaran Injil “yang diberikan.” Namun mereka akan gagal untuk berkomunikasi dengan sukses jika mereka berusaha untuk memaksakan ini pada orang-orang tanpa referensi pada situasi budaya mereka sendiri dan orang-orang kepada siapa mereka pergi. Hanya dengan keterlibatan aktif yang penuh kasih dengan orang-orang lokal, berpikir dalam pola pemikiran mereka, memahami sudut pandang dunia mereka, mendengarkan pertanyaan mereka, dan merasakan beban mereka, maka seluruh komunitas orang percaya (yang mana misionaris adalah bagian darinya) akan mampu meresponi kebutuhan mereka. Dengan doa, pemikiran, dan pencarian hati yang sama, di dalam kebergantungan pada Roh Kudus, orang asing dan orang percaya lokal bisa belajar bersama-sama bagaimana menghadirkan Kristus dan mengkontekstualisasikan Injil dengan tingkat kesetiaan dan relevansi yang setara. Kita tidak mengatakan bahwa itu akan mudah, meskipun beberapa budaya Dunia Ketiga memiliki daya tarik alamiah terhadap budaya yang berdasarkan Alkitab. Namun kami percaya bahwa pemahaman kreatif yang baru muncul ketika komunitas orang percaya yang dipimpin Roh mendengarkan dan bereaksi dengan peka terhadap kebenaran Kitab Suci dan juga kebutuhan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kesaksian Kristen di Dunia M====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepedulian diungkapkan tentang perhatian yang memadai telah diberikan pada Perundingan kami terhadap berbagai masalah misi Kristen di dunia M, meskipun ada sekitar 600 juta M hari ini [Ed. Catatan: lebih dari 1 milyar pada tahun 1998]. Di satu sisi, kebangkitan agama dan misi M terjadi di banyak negerei; di sisi lain, terjadi keterbukaan yang baru terhadap Injil di sejumlah komunitas yang melemahkan hubungan mereka dengan budaya tradisional M. Ada kebutuhan untuk mengenali ciri khas M yang memberikan peluang yang unik bagi kesaksian Kristen. Meskipun ada unsur M yang tidak sesuai dengan Injil, ada juga unsur-unsur dengan tingkat dari apa yang disebut “pertobatan.”Misalnya, pemahaman Kristen kita tentang Allah, dinyatakan dalam seruan lantang Luther berkaitan dengan keadilan, “Biarlah Allah menjadi Allah,” juga bisa berfungsi sebagai sampai dengan definisi M. Iman M dalam kesatuan ilahi, penekanan pada kewajiban manusia untuk beribadah kepada Allah dengan benar, dan ucapan penolakan penyembahan berhala juga bisa dianggap sebagai sejalan dengan tujuan Allah bagi kehidupan manusia sebagaimana dinyatakan dalam Yesus Kristus. Saksi Kristen kontemporer harus belajar rendah hati dan penuh harap untuk mengidentifikasi, menghargai, dan menerangi hal-hal ini dan nilai-nilai lainnya. Mereka juga harus bergumul untuk perubahan – dan, jika mungkin, integrasi – dari semua yang relevan dalam ibadah, doa, puasa, seni, arsitektur, dan kaligrafi M.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua ini berlangsung hanya di dalam apresiasi yang realistis terhadap situasi saat ini di negara-negara M yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan sekularisasi. Kewajiban sosial akan kekayaan baru dan kemiskinan tradisional, ketegangan kemerdekaan politis, dan pembubaran serta frustasi Palestina yang tragis – semua ini mengupayakan bidang-bidang kesaksian Kristen yang relevan. Yang terakhir telah melahirkan puisi yang sangat bersemangat, satu catatan yang di dalamnya adalah paradigma Yesus yang menderita. Hal-hal ini dan unsur lainnya meminta kepekaan Kristen yang baru dan kesadaran yang nyata akan kebiasaan diri sendiri tertutup yang mana Gereja telah lama bekerja untuk Timur Tengah. Di tempat lain, paling tidak di sub-Sahara Afrika, sikap-sikapnya lebih fleksibel dan kemungkinan-kemungkinannya lebih berubah-ubah. Untukmenghadapi tantangan misionaris yang lebih memadai, upaya-upaya yang baru dibutuhkan untuk mengembangkan cara-cara hubungan orang-orang percaya dengan para pencari, jika perlu ada di luar bentuk-bentuk tradisional gereja. Inti dari rasa tanggung jawab menginjili yang hidup terhadap M selalu adalah kualitas personil Kristen dan pemuridan dan kasih Kristus yang mendesak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sebuah Perkiraan Hasil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Utusan Injil yang telah membuktikan dalam pengalaman mereka sendiri bahwa “kekuatan Allah yang menyelamatkan” (Rm 1:16) dengan benar mengharapkan itu terjadi sama dalam pengalaman orang lain juga. Kami mengakui bahwa kadang-kadang, seperti iman seorang kafir perwira dipermalukan ketidakpercayaan Israel pada zaman Yesus (Mat 8:10), jadi hari ini pengharapan percaya orang Kristen dalam budaya lain kadang memunculkan kurangnya iman misionaris. Jadi kami mengingatkan diri kami sendiri akan janji Allah melalui keturunan Abraham untuk memberkati semua keturunan di bumi dan melalui Injil untuk menyelamatkan orang-orang yang percaya (Kej 12:1-4; 1 Kor 1:21). Berdasarkan hal-hal ini dan banyak janji lainlah kami mengingatkan semua utusan Injil, termasuk diri kami sendiri, untuk memandang Allah untuk menyelamatkan orang-orang dan membangun Gereja-Nya. Pada saat yang sama, kami tidak melupakan peringatan Tuhan tentang penindasan dan penderitaan. Hati manusia keras. Orang-orang tidak selalu menerima Injil, bahkan ketika komunikasi tidak bercacat dalam teknik dan komunikasi baik dalam karakternya. Tuhan kita sendiri sangat nyaman dengan budaya yang di dalamnya Dia mengajar, namun Dia dan berita-Nya dipandang rendah dan ditolak, dan Perumpamaan-Nya tentang Penabur tampaknya memperingatkan kita bahwa sebagian besar benih yang kita tabur tidak akan menghasilkan buah. Ada sebuah misteri di sini yang tidak dapat kita pahami. “Roh bertiup kemana Dia mau” (Yoh 3:8). Ketika berupaya untuk mengomunikasikan Injil dengan perhatian, kesetiaan, dan semangat, kita menyerahkan hasilnya kepada Allah dalam kerendahan hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Dalam teks di atas, Laporan menolak untuk memberikan “formulasi yang rapi” dari Injil, namun mengidentifikasi “intisari”nya. Apakah Anda ingin menambahkan “tema-tema sentral” ini, atau mengurangi, atau memperkuatnya?&lt;br /&gt;
#	Jelaskan “dua kesalahan budaya.” Dapatkah Anda memikirkan contohnya? Bagaimana kesalahan tersebut dapat dihindari?&lt;br /&gt;
#	Pikirkan situasi budaya orang yang ingin Anda menangkan bagi Kristus. Apakah maksud “kepekaan budaya” dalam kasus Anda? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===6. Dicari: Utusan Injil yang Rendah Hati!===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami percaya bahwa kunci utama untuk komunikasi Kristen yang meyakinkan ditemukan dalam diri komunikator itu sendiri dan orang macam apa mereka. Dia harus pergi tanpa mengatakan bahwa mereka perlu menjadi orang-orang beriman Kristen, mengasihi dan suci. Artinya, mereka harus memiliki pengalaman pribadi dan bertumbuh dari kuasa Roh Kudus yang mengubahkan, sehingga citra Yesus Kristus terlihat lebih jelas dalam karakter dan sikap mereka.Di atas segalanya kami ingin melihat pada diri mereka, dan terutama dalam diri kami sendiri, “kelemahlembutan dan keramahan Kristus” (2 Kor 10:1); denga kata lain, kepekaan yang rendah hati akan kasih Kristus. Jadi penting untuk mempercayai ini bahwa kami mengabdikan seluruh bagian Laporan kami untuk itu. Selain itu, karena, kami tidak ingin menunjuk kepada orang lain tetapi kepada diri kami sendiri, kami akan menggunakan semuanya dengan bentuk jamak orang pertama. Pertama, kami memberikan analisa kerendahan hati Kristen dalam situasi misionaris; dan kedua, kami beralih ke Inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus sebagai model yang kami ingin ikuti oleh anugerah-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sebuah Analisa Kerendahan Hati Misionaris====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, ada kerendahan hati untuk mengakui masalah yang dihadirkan oleh budaya, dan tidak menghindari atau terlalu menyederhanakannya. Sebagaimana telah kami lihat, budaya yang berbeda telah sangat mempengaruhi penyataan alkitabiah, diri kami sendiri, dan orang-orang yang kepada mereka kami pergi. Sebagai hasilnya, kami memiliki beberapa keterbatasan pribadi dalam mengomunikasikan Injil. Karena kami adalah tawanan (disadari maupun tidak) dari budaya kami sendiri, dan pemahaman kami tentang budaya, baik di Alkitab maupun di negara dimana kami melayani, sangatlah tidak sempurna. Ini adalah interaksi antara semua budaya ini yang merupakan masalah komunikasi; ini menjadikan semua orang yang bergumul dengan rendah hati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, ada kerendahan hati untuk bersusah payah memahami dan menghargai budaya mereka yang kami datangi. Keinginan inilah yang membawa secara wajar ke dalam dialog yang sebenarnya “yang tujuannya adalah untuk mendengarkan dengan peka supaya memahami” (Kovenan Lausanne, alinea 4). Kami menyesali ketidaktahuan yang menganggap bahwa kami memiliki semua jawaban dan bahwa satu-satunya peran kami adalah untuk mengajar. Kami harus banyak belajar. Kami menyesal juga atas sikap yang menghakimi. Kami tahu kami seharusnya tidak pernah mengutuk atau menghina buadaya lain, melainkan menghormatinya. Kamitidakmenganjurkan baik itu kesombongan yang memaksakan budaya kami kepada budaya lain, atau sinkretisme yang mencampur Injil dengan unsur budaya yang tidak sesuai dengan Injil, melainkan membagikan kabar baik dengan rendah hati – yang dimungkinkan dengan saling menghormati pertemanan yang sejati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, ada kerendahan hati untuk memulai komunikasi kami dimana orang-orang sebenarnya berada dan tidak di mana kami ingin menjadikan mereka. Inilah yang kami lihat yang Yesus lakukan, dan kami inginuntuk mengikuti teladan-Nya. Terlalu sering kami telah mengabaikan ketakutan dan rasa frustasi orang-orang, kesakitan dan keasyikan mereka, dan kelaparan, kemiskinan, kekurangan atau penindasan mereka, sebenarnya “kebutuhan yang dirasakan” mereka mungkin kadang-kadang menjadi gejala terhadap kebutuhan yang lebih dalam yang tidak segera dirasakan atau dikenali oleh orang-orang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang dokter tidak selalu menerima diagnosa pasien itu sendiri. Namun demikian, kami melihat kebutuhan untuk mulai dimana orang-orang berada, namun tidak berhenti di situ. Kami menerima tanggung jawab kami untuk dengan lembut dan sabar membimbing mereka melihat diri mereka sendiri, seperti kami melihat diri kami sendiri, sebagai pemberontak kepada siapa Injil ditujukan secara langsung dengan sebuah berita pengampunan dan pengharapan. Untuk memulai dimana orang-orang berada tidaklah untuk membagikan berita yang tidak relevan; untuk tinggal dimana mereka ada dan tidak pernah membawa mereka kepada keutuhan kabar baik Allah, adalah tidak untuk memberitakan Injil yang terpotong. Kepekaan yang rendah hati dari kasih akan menghindari kedua kesalahan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat, ada kerendahan hati untuk mengakui bahwa bahkan misionaris yang paling berbakat, berdedikasi, dan berpengalaman pun jarang bisa mengomunikasikan Injil dalam bahasa atau budaya lain seefektif orang Kristen lokal yang terlatih. Kenyataan ini telah diakui dalam beberapa tahun terakhir oleh Bible Societies,yang kebijakannya telah berubah dari penerjemahan penerbitan oleh misionaris (dengan bantuan orang-orang lokal) menjadi pelatihan bahasa ibu kepada para ahli untuk melakukan penerjemahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya orang-orang Kristen lokal dapat menjawab pertanyaan, “Allah, bagaimana Engkau mengatakan ini dalam bahasa kami?” dan “Allah, apakah arti ketaatan yang Kau maksudkan dalam budaya kami?” Oleh karena itu, entah kami menerjemahkan Alkitab maupun mengomunikasikan Injil, orang-orang Kristen lokal sangat diperlukan. Merekalah yang harus memikul tanggung jawab untuk mengkontekstualisasikan Injil dalam bahasa dan budaya mereka sendiri. Akankah saksi lintas budaya dalam hal itu tidaklah berlebih-lebihan; namun kami akan diterima jika saja kami cukup rendah hati untuk melihat komunikasi yang baik sebagai perusahaan tim, yang di dalamnya semua orang percaya bekerja sama sebagai mitra. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelima, ada kerendahan hati untuk percaya kepada Roh Kudus Allah, yang selalu menjadi komunikator utama, yang sendirian membuka mata orang buta dan membawa orang kepada kelahiran baru. “Tanpa kesaksian-Nya, kesaksian kami adalah sia-sia” (Kovenan Lausanne, alinea 14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Inkarnasi sebagai Contoh Kesaksian Kristen====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami telah bertemu untuk Perundingan kami dalam beberapa hari di waktu Natal, yang mungkin dapat disebut kejadian yang paling spektakuler tentang pengenalan budaya dalam sejarah manusia, karena oleh Inkarnasi-Nya Anak Manusia menjadi orang Yahudi Galilea abad pertama. Kami juga ingat bahwa Yesus memaksudkan misi umat-Nya di dunia dengan contoh diri-Nya sendiri. “Seperti Bapa telah mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu,”kata-Nya (Yoh 20:21; bandingkan 17:18). Kami bertanya kepada diri sendiri, karenanya, tentang implikasi dari Inkarnasi bagi kami semua. Pertanyaannya adalah pertanyaan tentang kepedulian khusus pada saksi lintas budaya, ke negara manapun mereka pergi, meskipun kami telah berpikir khususnya tentang mereka yang berasal dari Barat yang melayani di Dunia Ketiga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merenungkan Filipi 2, kami telah melihat bahwa merendahkan-diri Kristus dimulai dalam pikiran-Nya: “Dia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai hal yang harus dipertahankan.” Jadi kami diperintahkan untuk menjadikan pikiran-Nya ada di dalam kami, dan di dalam kerendahan hati pikiran untuk “memperhitungkan” orang lain lebih baik atau lebih penting daripada diri kami sendiri. “Pikiran” atau “perspektif” Kristus ini merupakan pengenalan nilai tertinggi dari manusia dan dari hak-hak istimewa untuk melayani mereka. Saksi-saksi itu yang memiliki pikiran Kristus akan memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap orang-orang yang mereka layani, dan terhadap budaya mereka. Dua kata kerja karenanya menunjukkan tindakan yang kepadanya pikiran Kristus memimpin-Nya: “Dia mengosongkan diri-Nya sendiri... Dia merendahkan diri-Nya...” Yang pertama berbicara tentang pengorbanan (yang Dia tinggalkan) dan pelayanan yang kedua, bahkan lebih rendah (bagaimana Dia mengidentifikasi diri-Nya sendiri dengan kita dan menempatkan diri-Nya di pembuangan kita). Kami telah mencoba untuk memikirkan apa maksud dari dua tindakan ini bagi-Nya, dan mungkin bagi saksi lintas budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mulai dengan penolakan terhadap Dia. Pertama, penolakan status. “Dia meletakkan kemuliaan-Nya dengan lembut,” kami bernyanyi pada hari Natal. Karena kami tidak bisa memahami seperti apa kemuliaan kekal-Nya, adalah mustahil untuk memahami kesengsaraan dari mengosongkan diri-Nya. Namun yang pasti Dia menyerahkan hak, hak istimewa dan kuasa yang Dia nikmati sebagai Anak Allah.“Status” dan “simbol status” berarti banyak di dunia modern, namun ganjil di misionaris. Kami percaya bahwa dimanapun misionaris berada mereka tidak boleh memegang kendali atau bekerja sendirian, namun selalu bersama – dan sebaiknya di bawah – orang-orang Kristen lokal yang bisa memberi nasihat dan bahkan mengarahkan mereka. Dan apa pun tanggung jawab misionaris, haruslah mengungkapkan sikap “tidak mendominasi namun melayani” (Kovenan Lausanne, alinea 11). Selanjutnya penolakan terhadap kemerdekaan. Kami telah melihat Yesus – meminta air dari seorang perempuan Samaria, tinggal di rumah orang lain dan memakai uang orang lain karena Dia sendiri tidak memilikinya, meminjam perahu, keledai, ruangan atas, dan bahkan terkubur dalam kuburan pinjaman. Demikian pula, utusan lintas budaya, terutama selama tahun-tahun pertama pelayanan mereka, perlu untuk belajar saling bergantung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, penolakan terhadap kekebalan. Yesus mengekspos diri-Nya sendiri terhadap godaan, kesedihan, keterbatasan, kebutuhan ekonomi dan penderitaan. Jadi misionaris haruslah memperkirakan untuk mungkin menjadi rentan terhadap godaan baru, bahaya, dan penyakit, iklim yang asing, dan kesepian yang tidak biasa, dan mungkin kematian. Beralih dari tema penolakan kepada tema identifikasi, kami terkagum lagi pada kesempurnaan identifikasi Juruselamat kami dengan kami, terutama karena ini diajarkan dalam Surat Ibrani. Dia juga memiliki “daging dan darah,” yang dicobai seperti kami, belajar ketaatan melalui penderitaan-Nya dan merasakan kematian bagi kami (Ibr 2:14-18; 4:15; 5:8). Selama pelayanan-Nya di muka umum Yesus berteman dengan orang miskin dan tidak berdaya, menyembuhkan orang sakit, memberi makan orang yang lapar, menyentuh orang yang tidak terjangkau dan mempertaruhkan reputasi-Nya dengan bergaul dengan orang-orang yang ditolak oleh masyarakat. Perluasan pengidentifikasian diri kami sendiri dengan orang-orang yang kami datangi adalah masalah kontroversi. Tentu saja pasti termasuk menguasai bahasa mereka, membenamkan diri kami sendiri ke dalam budaya mereka, belajar untuk berpikir seperti mereka, merasakan seperti mereka, berbuat seperti mereka. Pada tingkat sosio-ekonomi kami tidak yakin bahwa kami harus “menjadi pribumi” secara prinsip karena upaya seorang asing untuk melakukan ini mungkin terlihat tidak otentik namun berpura-pura.Namun kami juga tidak berpikir bahwa harus ada perbedaan yang mencolok antara gaya hidup kami dengan gaya hidup orang di sekitar kami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara ekstrim-ekstrim ini, kami melihat kemungkinan pengembangan standar hidup yang mengungkapkan jenis kasih yang peduli dan berbagi, dan yang menganggap wajar untuk bertukar keramahan dengan orang lain secara timbal balik, tanpa malu-malu. Sebuah penelusuran tes identifikasi adalah seberapa jauh kami merasa bahwa kami adalah bagian dari orang-orang itu , dan masih banyak – seberapa jauh kami merasa bahwa kami adalah bagian dari mereka. Apakah kami berpartisipasi secara wajar dalam hari-hari nasional atau hari thanksgiving atau kedukaan secara kesukuan? Apakah kami mengeluh bersama mereka dalam penindasan yang mereka alami dan bergabung dalam peperangan mereka demi keadilan dan kemerdekaan? Jika negara dilanda gempa bumi atau tertelan dalam perang sipil, apakah naluri kami adalah untuk tinggal dan menderita bersama orang-orang yang kami kasihi, atau naluri untuk pulang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun Yesus mengidentifikasi diri-Nya sendiri sepenuhnya dengan kami, Dia tidak kehilangan identitas-Nya sendiri. Dia tetap menjadi diri-Nya sendiri. “Dia turun dari surga...dan menjadi manusia” (Kredo Nicea); namun untuk menjadi salah satu dari kita Dia tidak berhenti menjadi Allah. Hanya dengan begitu, “penginjil Kristus harus dengan rendah hati berusaha untuk mengosongkan diri mereka sendiri dari semua kecuali keaslian pribadi mereka” (Kovenan Lausanne, alinea 10). Inkarnasi mengajarkan identifikasi tanpa kehilangan identitas. Kami percaya bahwa pengorbanan diri yang sejati membawa kepada penemuan diri yang sejati. Di dalam pelayanan yang rendah hati terdapat sukacita yang melimpah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.	Jika kunci utama untuk komunikasi terletak pada diri komunikator, menjadi orang macam apakah seharusnya mereka?&lt;br /&gt;
2.	Berikan analisa Anda sendiri tentang kerendahan hati yang harus dimiliki semua saksi Kristen. Dimana Anda memberikan penekanan Anda? &lt;br /&gt;
3.	Karena Inkarnasi melibatkan baik “penolakan” maupun “identifikasi,” jelaslah sangat mahal bagi Yesus. Apakah yang menjadi harga dari “inkarnasi penginjilan” saat ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===7. Pertobatan dan Budaya===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami telah memikirkan hubungan antara pertobatan dan budaya dalam dua cara. Pertama, efek apa yang dimiliki oleh pertobatan terhadap situasi budaya dari petobat, cara berpikirnya dan bertindaknya, dan sikap mereka terhadap lingkungan sosial mereka? Kedua, efek apa yang dimiliki budaya terhadap pemahaman kami sendiri tentang pertobatan? Kedua pertanyaan itu penting. Namun kami mau mengatakan jika unsur-unsur dalam pandangan tradisional penginjilan kami tentang pertobatan adalah lebih bersifat budaya daripada alkitabiah, maka itu perlu diubah. Terlalu sering kami berpikir tentang pertobatan sebagai sebuah krisis, bukannya sebuah proses juga; atau kami telah melihat pertobatan sebagai sebagian besar pengalaman secara pribadi, melupakan konsekuensi publik dan tanggung jawab sosialnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sifat Radikal Pertobatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami yakin bahwa sifat radikal pertobatan kepada Yesus Kristus perlu untuk ditegaskan kembali dalam gereja kontemporer, karena kami selalu dalam bahaya meremehkan itu, seolah-olah itu tidak lebih daripada perubahan di permukaan, dan reformasi diri. Namun para penulis Perjanjian Baru menulisnya sebagai pengungkapan keluar dari regenerasi atau kelahiran baru oleh Roh Kudus, sebuah penciptaan kembali, dan kebangkitan dari kematian rohani. Konsep kebangkitan tampaknya menjadi sangat penting. Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian adalah awal dari ciptaan Allah yang baru, dan dengan anugerah Allah melalui penyatuan dengan Kristus yang kami ambil bagian dalam kebangkitan ini. Kami dengan demikian telah memasuki masa yang baru dan telah mengalami kuasa dan sukacita kebangkitan. Ini adalah dimensi eskatologis dari pertobatan Kristen. Pertobatan adalah bagian integral dari Pembaharuan Besar yang telah Allah mulai, dan yang akan dibawa sampai kepada klimaks kemenangan ketika Kristus datang dalam kemuliaan-Nya. Pertobatan meliputi juga putusnya dengan masa lampau yang begitu sempurna sehingga dikatakan dalam istilah kematian. Kami telah disalibkan bersama Kristus. Melalui salib-Nya kami telah mati terhadap dunia yang tidak bertuhan, pandangannya, dan standar-standarnya. Kamu juga telah “menanggalkan” seperti pakaian lama Adam, kemanusiaan kami yang sebelumnya dan yang jatuh. Yesus mengingatkan kami bahwa berpalingnya dari masa lalu ini mungkin melibatkan pengorbanan yang menyakitkan, bahkan kehilangan keluarga dan harta benda (mis., Luk 14:25 dst.). Adalah penting untuk menerima bersama-sama aspek negatif dan positif dari pertobatan, kematian dan kebangkitan, menanggalkan yang lama dan mengenakan yang baru. Karena bagi kami yang mati, hidup kembali, namun hidup yang sekarang menjalani kehidupan yang baru, untuk dan di bawah Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Ketuhanan Yesus Kristus====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mengerti dengan jelas bahwa arti mendasar dari pertobatan adalah perubahan kesetiaan. Dewa-dewa dan tuan-tuan lain – pemberhalaan setiap orang – sebelumnya menguasai kami. Namun sekarang Yesus Kristus adalah Tuhan. Prinsip yang mengatur kehidupan pertobatan adalah bahwa ada di bawah ketuhanan Kristus atau (karena sampai kepada hal yang sama) dalam Kerajaan Allah. Otoritas-Nya menguasai kami secara total. Jadi kesetiaan baru yang memerdekakan pastilah membawa kepada penilaian ulang terhadap semua aspek dalam hidup kami dan secara khusus terhadap sudut pandang dunia kami, perilaku kami, dan hubungan-hubungan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, sudut pandang dunia kami. Kami sepakat bahwa intisari setiap budaya adalah semacam “agama,” bahkan jika itu adalah agama yang tidak religius seperti Marxisme. “Budaya adalah agama yang kelihatan” (J.H. Bavink). Dan “agama” adalah seluruh kelompok kepercayaan dan nilai-nilai dasar, yang merupakan alasan mengapa untuk tujuan kami, kami menggunakan “sudut pandang dunia” sebagai ungkapan yang setara. Pertobatan kepada Kristus yang sejati terikat, karenanya, untuk menyerang intisari warisan budaya kami. Yesus Kristus bersikeras mencabut dari pusat dunia kami berhala apapun yang memerintah di sana sebelumnya, dan menduduki tahta itu sendirian. Ini adalah perubahan kesetiaan yang radikal yang merupakan pertobatan, atau setidaknya awal dari pertobatan.Kemudian setelah Kristus telah mengambil tempat-Nya yang sah, segala sesuatu yang lain mulai beralih. Gelombang kejut mengalir dari pusat ke sekeliling. Petobat harus memikirkan kembali keyakinan-keyakinan mendasarnya. Ini adalah metanoia, “pertobatan” dipandang sebagai perubahan pikiran, penggantian “pikiran daging” dengan “pikiran Kristus.” Tentu saja, pengembangan sudut pandang dunia Kristen yang terintegrasi memakan waktu seumur hidup, namun itu ada pada dasarnya sejak awal. Jika itu bertumbuh, konsekuensi-konsekuensi bersifat meledak tidak bisa diprediksi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, perilaku kami. Ketuhanan Yesus menantang standar moral dan seluruh gaya hidup etika kami. Terus terang, ini bukanlah “pertobatan” melainkan “buah yang tepat dengan pertobatan” (Mat 3:8), perubahan tingkah laku yang keluar dari perubahan pandangan. Baik pikiran kami maupun kehendak kami harus tunduk pada ketaatan Kristus (lih. 2 Kor 10:5; Mat 11:29,30; Yoh 13:13). Mendengarkan studi kasus pertobatan, kami terkesan dengan keunggulan kasih dalam pengalaman petobat baru. Pertobatan memberikan baik dari pembalikan yang terlalu asyik dengan diri sendiri untuk repot-repot dengan orang lain maupun dari fatalisme yang menganggap adalah mustahil untuk membantu mereka. Pertobatan adalah palsu jika tidak membebaskan kami untuk mengasihi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, hubungan-hubungan kami. Meskipun petobat harus melakukan yang terbaik untuk menghindari perpecahan dengan bangsa, suku, dan keluarga, kadang-kadang konflik yang menyakitkan timbul. Jelas juga bahwa pertobatan melibatkan perpindahan dari satu komunitas ke komunitas yang lain, yaitu, dari kemanusiaan yang jatuh kepada kemanusiaan Allah yang baru. Itu terjadi sejak awal Hari Pentakosta: “Selamatkanlah dirimu dari angkatan yang jahat ini,” Petrus berseru.Jadi mereka yang menerima pesan-Nya dibaptis ke dalam masyarakat yang baru, mengabdikan diri mereka ke persekutuan yang baru, dan menemukan bahwa Tuhan terus menambahkan jumlah mereka tiap-tiap hari (Kis 2:40-47). Pada saat yang sama, “perpindahan” mereka dari satu kelompok ke kelompok lain berarti bahwa mereka secara rohani berbeda bukan berpisah secara sosial. Mereka tidak meninggalkan dunia. Sebaliknya, mereka memperoleh komitmen baru untuk itu, dan pergi ke dalamnya untuk bersaksi dan melayani.Kami semua harus menyemangati pengharapan besar dari pertobatan radikal yang demikian di zaman kami, melibatkan para petobat dalam pikiran yang baru, cara hidup yang baru, komunitas yang baru, dan misi yang baru, semua di bawah ketuhanan Kristus. Namun sekarang kami merasa perlu untuk membuat beberapa kualifikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Petobat dan Budayanya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertobatan tidak boleh “membudayakan” seorang petobat. Benar, sebagaimana kita telah melihat, Tuhan Yesus sekarang mempertahankan kesetiaan-Nya, dan segala sesuatu dalam konteks budaya harus ada di bawah pengawasan Tuhan. Hal ini berlaku untuk semua budaya, bukan hanya budaya Hindu, Budha, M, atau budaya animistik tetapi juga untuk budaya Barat yang semakin materialistis. Kritik ini dpat menyebabkan tabrakan, sebagai unsur dari budaya berada di bawah penghakiman Kristus dan harus ditolak. Pada titik ini, pada pantulan, para petobat mungkin malah mencoba untuk mengadopsi budaya penginjil; upaya haruslah tegas namun ditolak dengan lembut. Petobat harus didorong untuk melihat hubungannya dengan masa lalu sebagai kombinasi perputusan dan kelanjutan. Bagaimanapun para petobat sangat merasa mereka perlu untuk meninggalkan demi Kristus, mereka masih orang yang sama dengan warisan yang sama dan keluarga yang sama. “Pertobatan tidak merapikan; pertobatan membuat ulang.” Itu selalu tragis, meskipun dalam beberapa situasi tidak bisa dihindari, ketika pertobatan seseorang kepada Kristus ditafsirkan oleh orang lain sebagai pengkhianatan terhadap budaya aslinya sendiri. Jika mungkin, daripada konflik dengan budayanya sendiri, para petobat baru harus berusaha untuk mengidentifikasi dengan kebahagiaan, harapan, penderitaan dan pergumulan budaya mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kasus sejarah menunjukkan bahwa para petobat sering melewati tiga tahap: (1) ”penolakan” (ketika mereka melihat diri mereka sendiri sebagai “orang yang baru dalam Kristus” dan menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu); (2) “akomodasi” (ketika mereka menemukan warisan etnis dan budaya mereka, dengan godaan untuk mengkompromikan iman Kristen yang baru ditemukan dalam hubungan dengan warisan mereka); dan (3) “pembentukan kembali identitas” (ketika salah satu penolakan dari masa lalu atau akomodasi untuk itu dapat meningkatkan, atau lebih disukai, mereka bisa bertumbuh ke dalam kesadaran diri yang seimbang dalam Kristus dan dalam budaya). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertempuran Kuasa====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yesus adalah Tuhan” berarti lebih daripada bahwa Dia adalah Tuhan atas sudut pandang dunia, standar, dan hubungan-hubungan petobat secara individu, dan bahkan lebih daripada itu Dia adalah Tuhan atas budaya. Ini berarti bahwa Dia adalah Tuhan atas kuasa-kuasa, telah ditinggikan oleh Bapa atas kedaulatan universal; pemerintah-pemerintah dan kuasa-kuasa dibuat tunduk kepada-Nya (1 Ptr 3:22). Sebagian dari kami, terutama mereka yang dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin, telah berbicara baik tentang realitas kuasa iblis maupun perlunya untuk menunjukkan supremasi Yesus atas mereka. Karena pertobatan mencakup sebuah pertempuran kuasa. Orang-orang memberikan kesetiaan kepada Kristus ketika mereka melihat bahwa kuasa-Nya lebih tinggi daripada sihir atau guna-guna, kutukan dan berkat dari dukun, dan kedengkian roh-roh jahat, dan bahwa keselamatan-Nya adalah kebebasan yang nyata dari kuasa iblis dan kematian. Tentu saja, beberapa orang mempertanyakan pada hari ini apakah sebuah keyakinan dalam roh sesuai dengan pemahaman ilmu pengetahuan modern kita tentang alam semesta. Kami ingin menegaskan, karena itu, terhadap mitos mekanistik yang padanya sudut pandang dunia yang khas Baratterletak, realitas kepandaian iblis yang bersangkutan dengan segala cara, terbuka dan rahasia, untuk tidak mempercayai Yesus Kristus dan mencegah orang-orang datang kepada-Nya. Kami pikir adalah penting, dalam penginjilan di semua budaya, untuk mengajarkan realitas dan keseluruhan kuasa iblis, dan untuk menyatakan bahwa Allah telah meninggikan Kristus sebagai Tuhan dari semua dan bahwa Kristus, yang benar-benar memiliki segala kuasa, bagaimanapun kita mungkin gagal untuk mengetahui ini, bisa (ketika kita mewartakan Dia) menerobos sudut pandang dunia apapun dalam pikiran siapa saja untuk menjadikan ketuhanan-Nya dikenal dan menghasilkan perubahan hati dan pandangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami ingin menekankan bahwa kuasa adalah milik Kristus. Kuasa dalam tangan manusia selalu berbahaya. Kami telah mengingatkan tema yang berulang di dua surat Paulus kepada jemaat Korintus – bahwa kuasa Allah, yang jelas terlihat dalam salib Kristus, bekerja melalui kelemahan manusia (mis. 1 Kor 1:18-2:5; 2 Kor 4:7; 12:9,10). Orang duniawi menyembah kuasa; orang Kristen yang memilikinya tahu akan bahayanya. Lebih baik menjadi lemah, karena kemudian kami menjadi kuat. Kami secara khusus menghormati para martir Kristen masa kini (mis. Di Afrika Timur) yang telah meninggalkan cara kekuasaan, dan mengikuti jalan salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertobatan Individu dan Kelompok====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertobatan tidak harus dipahami sebagai selalu dan hanya pengalaman individu, meskipun itu telah menjadi pola harapan Barat selama bertahun-tahun. Sebaliknya, tema kovenan di Perjanjian Lama dam pembaptisan rumah tangga di Perjanjian Baru harus mengarahkan kami untuk menginginkan, bekerja bagi dan mengharapkan keduanya yaitu pertobatan keluarga dan kelompok.Banyak penelitian penting yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menjadi “gerakan rakyat” dari perspektif teologis dan juga sosiologis. Secara teologis, kami mengenali penekanan berdasarkan Alkitab pada solidaritas setiap etnos, yaitu negara atau bangsa. Secara sosiologis, kami mengenali bahwa setiap masyarakat terdiri dari berbagai sub-kelompok, sub-budaya atau unit-unit homogen. Jelas bahwa orang-orang paling siap menerima Injil ketika Injil diberikan kepada mereka dengan cara yang tepat – dan tidak asing – kepada budaya mereka, dan ketika mereka dapat merresponinya bersama dan di antara orang-orang mereka sendiri.Masyarakat yang berbeda memiliki prosedur yang berbeda dalam membuat keputusan kelompok, mis., dengan konsensus, oleh kepala keluarga atau oleh pemimpin kelompok. Kami mengakui keabsahan dimensi bersama dari pertobatan sebagai bagian dari proses keseluruhannya, serta kebutuhan bagi setiap anggota dari kelompok terutama untuk ambil bagian di dalamnya secara pribadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Apakah Pertobatan itu Tiba-Tiba atau Bertahap?====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertobatan lebih sering setahap demi setahap daripada yang ajaran penginjilan tradisional mungkinkan. Memang, mungkin ini hanyalah perbantahan tentang kata-kata. Pembenaran dan regenerasi, yang satu menyampaikan status baru dan yang lain menyampaikan hidup yang baru, adalah karya Allah dan terjadi seketika, meskipun kita tidak menyadarinya ketika itu terjadi. Pertobatan, di sisi lain, adalah tindakan kita sendiri (digerakkan oleh anugerah Allah) berpaling kepada Allah dalam penyesalan dan iman. Meskipun mungkin itu mencakup sebuah masa genting yang disadari, seringkali lambat dan kadang-kadang melelahkan. Terlihat pada latar belakang kosa kata Ibrani dan Yunani, pertobatan pada dasarnya adalah berpaling kepada Allah, yang berlanjut sampai seluruh bidang kehidupan dibawa ke dalam cara yang semakin radikal di bawah ketuhanan Kristus. Pertobatan mencakup perubahan sempurna dan pembaharuan total dalam pikiran dan karakter sesuai dengan rupa Kristus (Rm 12:1,2). Namun, kemajuan ini tidak selalu terjadi. Kami telah memberikan beberapa pemikiran untuk fenomena meyedihkan yang disebut “kembali ke kebiasaan lama” (diam-diam menjauh dari Kristus) dan “murtad” (penolakan terbuka akan Dia). Ini memiliki berbagai alasan. Beberapa orang beralih dari Kristus ketika mereka kecewa dengan Gereja; yang lain menyerah terhadap tekanan-tekanan sekularisme atau tekanan dari budaya mereka yang sebelumnya. Fakta-fakta ini menantang kita baik untuk mewartakan Injil sepenuhnya dan juga untuk lebih teliti dalam mengasuh para petobat dalam iman dan melatih mereka untuk pelayanan. Salah satu anggota Perundingan kami telah menjelaskan pengalamannya dalam hal berpaling yang pertama kepada Kristus (menerima keselamatan-Nya dan mengakui ketuhanan-Nya) yang kedua kepada budaya (menemukan kembali asal-usul alamiah dan identitasnya), dan yang ketiga kepada dunia (menerima misi yang diberikan padanya oleh Kristus). Kami setuju bahwa pertobatan seringkali adalah sebuah pengalaman yang rumit, dan bahwa bahasa Alkitab tentang “berbalik” digunakan dalam cara dan konteks yang berbeda. Pada saat yang sama, kami semua menekankan bahwa komitmen pribadi kepada Yesus Kristus adalah mendasar. Di dalam Dia saja kami mendapatkan keselamatan, hidup baru, dan identitas peribadi. Pertobatan juga pasti menghasilkan sikap dan hubungan yang baru, dan mendatangkan keterlibatan yang bertanggung jawab dalam gereja kami, budaya kami, dan dunia kami. Akhirnya, pertobatan adalah sebuah perjalanan, ziarah, dengan tantangan,yang sama sekali baru, keputusan, dan berpaling kepada Tuhan sebagai titik acuan yang konstan, sampai Dia datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Bedakan antara “regenerasi” dan “pertobatan” menurut Perjanjian Baru.&lt;br /&gt;
#	“Yesus adalah Tuhan.” Apakah artinya ini bagi Anda dalam budaya Anda sendiri? Apakah unsur-unsur warisan budaya Anda yang Anda rasakan? (a) Anda harus, dan (b) Anda tidak perlu, tinggalkan demi Kristus? &lt;br /&gt;
#	Apa yang tiba-tiba dan apa yang (atau mungkin) adalah bertahap dalam pertobatan Kristen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===8. Gereja dan Budaya===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam proses pembentukan gereja, seperti dalam komunikasi dan penerimaan Injil, pertanyaan tentang budaya adalah sangat penting. Jika Injil harus disesuaikan konteks, begitu juga gereja. Sesungguhnya, sub-judul dari Perundingan kami adalah “Kontekstualisasi Dunia dan Gereja dalam Sebuah Situasi Misionaris.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pendekatan Tradisional, Yang Lebih Lama====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama ekspansi misionaris di awal abad ke-19, secara umum dianggap bahwa gereja “pada misi lapangan” menjadi contoh untuk gereja “di rumah.” Kecenderungannya adalah untuk menghasilkan replika yang hampir persis. Arsitektur gothic, liturgi buku doa, pakaian kependetaan, alat musik, himne dan lagu, proses pengambilan keputusan, sinode dan komite, kepala dan pembantu gerejawi – semua diekspor dan secara jelas diperkenalkan ke dalam gereja-gereja baru yang didirikan oleh misi. Ditambahkan pula bahwa pola-pola ini juga sangat ingin diadopsi oleh orang-orang Kristen baru, bukan ditetapkan oleh teman-teman Barat mereka, yang kebiasaan dan cara ibadahnya telah diperhatikan. Namun semua ini didasarkan pada anggapan yang salah bahwa Alkitab memberikan instruksi secara rinci tentang hal-hal tersebut dan bahwa pola pengaturan, ibadah, pelayanan dan kehidupan gereja rumah itu sendiri adalah contoh. Dalam reaksi terhadap sistem ekspor yang monokultural ini, para pemikir perintis misionaris seperti Henry Venn dan Rufus Anderson di tengah-tengah abad ke-19 dan Roland Allen di awal abad ke-20 mempopulerkan konsep gereja “pribumi,” yanga akan “mengatur sendiri, mandiri, dan menyebarkan sendiri.” Mereka mengajukan kasus mereka dengan baik. Mereka menunjukkan bahwa kebijakan rasul Paulus adalah untuk mendirikan gereja, bukan untuk mendirikan pangkalan misi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka juga menambahkan argumen pragmatis sesuai Alkitab, yaitu bahwa kepribumian sangat diperlukan bagi pertumbuhan gereja dalam kedewasaan dan misi. Henry Venn dengan yakin menantikan hari ketika misi akan memberikan semua tanggung jawab kepada gereja-gereja nasional, dan ketika dia menyebut “misi mematikan untuk menyelamatkan” akan terjadi. Pandangan-pandangan ini diterima secara luas dan sangat berpengaruh.Namun, di zaman kami, mereka dikritik, bukan karena cita-cita itu sendiri, tetapi karena cara yang seringkali diterapkan. Beberapa misi, misalnya, telah menerima kebutuhan kepemimpinan pribumi dan kemudian telah merekrut dan melatih pemimpin lokal, mengindoktrin mereka (kata ini keras namun bukan curang) dalam cara berpikir dan prosedur Barat. Membuat pemimpin lokal menjadi kebarat-baratan ini lalu melestarikan gereja yang tampak sangat Barat, dan orientasi asing telah berlangsung, hanya sedikit terselubung dengan penampilan pribumi. Sekarang, oleh karena itu, konsep kehidupan gereja pribumi yang lebih radikal perlu dikembangkan, yang dengannya setiap gereja bisa menemukan dan mengungkapkan jati dirinya sebagai tubuh Kristus di dalam budayanya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Model Kesetaraan Dinamis====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan perbedaan antara “bentuk” dengan “arti,” dan antara “korespondensi formal” dengan “kesetaraan dinamis,” yang telah dikembangkan dalam teori terjemahan dan yang padanya kami telah memberikan komentar, disarankan bahwa sebuah analogi bisa ditarik antara penerjemahan Alkitab dengan formasi gereja. “Korespondensi formal” berbicara tentang peniruan yang membudak, entah dalam menerjemahkan kata ke dalam bahasa lain atau mengekspor contoh gereja ke budaya lain. Sama seperti terjemahan “kesetaraan dinamis”, bagaimanapun, berupaya untuk menyampaikan kepada pembaca sekarang, arti yang setara dengan yang disampaikan kepada pembaca aslinya, dengan menggunakan bentuk budaya yang tepat, demikian juga gereja “kesetaraan dinamis.” Itu akan melihat budayanya seperti terjemahan Alkitab yang baik melihat bahasanya. Itu akan mempertahankan arti dan fungsi yang mendasar yang Perjanjian Baru sebutkan tentang gereja, namun akan berusaha untuk mengungkapkan hal-hal ini dalam bentuk yang setara dengan aslinya dan pas dengan budaya lokal. Kami semua mendapati bahwa model ini bermanfaat dan meyakinkan, dan kami sangat menegaskan cita-cita yang berusaha untuk diungkapkan. Itusudah sepantasnya menolak impor dan tiruan asing, dan struktur yang kaku. Itu sudah sepatutnya melihat Perjanjian Baru untuk prinsip formulasi gereja, daripada melihat pada tradisi atau budaya, dan sama patutnya melihat pada budaya lokal untuk bentuk yang tepat dimana di dalamnya prinsip-prinsip ini harus diungkapkan. Kita semua (bahkan mereka yang melihat keterbatasan model ini) berbagi visi yang sedang dicoba untuk dijelaskan.Jadi, Perjanjian Baru menunjukkan bahwa gereja selalu merupakan komunitas yang beribadah, “imamat kudus untuk mempersembahkan persembahan rohani kepada Allah melalui Yesus Kristus” (1 Ptr 2:5), namun bentuk ibadah (termasuk ada atau tidak adanya berbagai jenis liturgi, upacara, musik, warna, drama, dll.) akan dikembangkan oleh gereja sesuai dengan budaya pribumi. Demikian pula, gereja selalu merupakan komunitas yang bersaksi dan melayani, namun metode penginjilan dan program keterlibatan sosialnya akan bervariasi. Sekali lagi, Allah menginginkan semua gereja untuk memiliki pengawasan pastoral, namun bentuk pengaturan dan pelayanan mungkin sangat berbeda, dan pemilihan, pelatihan, pentahbisan, pelayanan, pakaian, pembayaran dan pertanggungjawaban pendetanya akan ditetnukan oleh gereja sesuai dengan prinsip berdasarkan Alkitab dan cocok dengan budaya lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan yang diajukan tentang model “kesetaraan dinamis” adalah apakah dengan sendirinya cukup besar dan cukup dinamis untuk memberi semua panduan yang dibutuhkan. Analogi antara terjemahan Alkitab dengan formasi gereja tidaklah tepat. Dalam kontrol pekerjaan penerjemah sebelumnya, dan ketika tugas selesai adalah mungkin untuk membuat perbandingan dari dua teks. Setelahnya, bagaimanapun, yang asli yang kepadanya kesetaraan diusahakan bukanlah teks yang terperinci namun rangkaian sekilas pelaksanaan gereja mula-mula, membuat perbandingan lebih sulit, dan bukannya penerjemah yang mengontrol, seluruh komunitas iman haruslah terlibat. Selanjutnya, penerjemah bertujuan pada keobyektifan pribadi, namun ketika gereja lokal berusaha untuk menghubungkan dirinya sendiri secara tepat dengan budaya lokal, untuk menemukan keobyektifan hampir mustahil. Dalam banyak situasi terjebak dalam “sebuah pertemuan antara dua peradaban” (peradaban masyarakat itu sendiri dan peradaban misionaris).Selain itu, mungkin ada kesulitan yang besar dalam menanggapi suara-suara yang bertentangan di komunitas lokal. Beberapa menuntut adanya perubahan (dalam hal melek huruf, pendidikan, teknologi, pengobatan modern, industrialisasi, dll.) sedangkan yang lainnya bersikeras dengan budaya lama dan menolak datangnya zaman yang baru. Dipertanyakan apakah model “kesetaraan dinamis” cukup dinamis untuk menghadapi tantangan semacam ini. Tes ini atau model lain untuk membantu gereja-gereja berkembang dengan tepat, adalah entah bisa memampukan umat Allah untuk menangkap dalam hati dan pikiran mereka rancangan luar biasa gereja mereka yang adalah ekspresi lokal. Setiap model menyajikan hanya gambaran sebagian. Gereja lokal perlu untuk pada akhirnya mengandalkan tekanan dinamis dari sejarah Tuhan yang Hidup. Karena Dialah yang akan membimbing umat-Nya di setiap zaman untuk mengembangkan gereja mereka sedemikian rupa baik untuk mematuhi perintah yang telah diberikan-Nya dalam Kitab Suci maupun untuk merefleksikan unsur-unsur yang baik dari budaya lokal mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kebebasan Gereja====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika setiap gereja adalah untuk mengembangkan dengan kreatif sedemikian rupa untuk menemukan dan mengekspresikan dirinya sendiri, gereja haruslah bebas untuk melakukannya. Ini adalah hak asasinya. Karena setiap gereja adalah gereja Allah. Dipersatukan dengan Kristus, gereja adalah tempat tinggal Allah melalui Roh-Nya (Ef 2:22). Beberapa misi dan misionaris telah lambat mengenalinya dan menerima implikasinya dalam arah bentuk pribumi dan pelayanan setiap anggota. Ini merupakan satu dari banyak alasan yang telah mendatangkan Gereja-gereja Mandiri, terutama di Afrika, yang mengusahakan cara-cara pengekspresian diri yang baru dalam hal budaya lokal. Meskipun para pemimpin gereja juga kadang-kadang menghambat perkembangan pribumi, kesalahan utama terletak di tempat lain. Tidaklah adil untuk menggeneralisasi. Situasinya selalu beragam. Pada generasi awal, ada misi yang tidak pernah mewujudkan semangat dominasi. Di abad ini, beberapa gereja telah bermunculan yang tidak pernah ada di bawah pengawasan misionaris, telah menikmati pengaturan diri sendiri sejak awal. Di kasus lain misi telah tunduk total pada kuasa sebelumnya, sehingga beberapa misi mendirikan gereja sekarang sepenuhnya otonom, dan banyak misi sekarang bekerja dalam kemitraan yang sungguh-sungguh dengan gereja-gereja. Namun ini bukanlah gambaran seluruhnya. Gereja lain masih hampir sepenuhnya terhalangi dari mengembangkan identitas dan program mereka sendiri dengan kebijakan yang ditetapkan dari jauh, dengan pengenalan dan kelanjutan tradisi asing, dengan penggunaan kepemimpinan asing, dengan proses pengambilan keputusan asing, dan terutama dengan penggunaan uang yang manipulatif. Mereka yang mempertahankan kontrol tersebut dapat benar-benar tidak menyadari cara dimana tindakan mereka dihargai dan di sisi lain berpengalaman. Itu bisa dirasakan oleh gereja-gereja yang bersangkutan untuk menjadi tirani. Kenyataan bahwa ini tidak dimaksudkan ataupun disadari menggambarkan secara sempurna bagaimana kami semua (entah kami mengetahuinya atau tidak) terlibat dalam budaya yang telah menjadikan siapa diri kami. Kami sangat menentang “keasingan” seperti itu, dimanapun itu ada, sebagai hambatan serius terhadap kedewasaan dan misi, dan sebagai pemadaman Roh Kudus Allah. Dalam protes terhadap kelanjutan kontrol asing–lah beberapa tahun yang lalu panggilan itu dilakukan untuk menarik semua misionaris. Dalam debat ini beberapa dari kami mau menghindari kata “pertangguhan” karena telah menjadi istilah yang penuh emosi dan kadang-kadang menandakan sebuah kebencian terhadap konsep “misionaris” yang sama. Yang lainnya ingin mempertahankan kata itu untuk menekankan kebenaran yang diungkapkan. Bagi kami itu berarti bukan sebuah penolakan terhadap personil misionaris dan uang mereka, tetapi hanya penolakan terhadap penyalahgunaannya sedemikian rupa untuk mencekik inisiatif lokal. Kami semua setuju dengan pernyataan dari Kovenan Lausanne bahwa “pengurangan misionaris dan uang asing ... kadang-kadang mungkin diperlukan untuk menfasilitasi pertumbuhan gereja nasional dalam kemandirian...” (alinea 9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Struktur Kekuasaan dan Misi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang baru saja kami tulis adalah bagian dari permasalahan yang jauh lebih luas, yang tidak bisa kami abaikan. Dunia zaman sekarang tidak terdiri dari masyarakat atom yang terisolasi, namun merupakan sistem global yang saling terpadu dari ekonomi, politik, teknologi, dan ideologi struktur makro, yang pasti menghasilkan banyak eksploitasi dan penindasan. Apa kaitannya dengan misi? Dan mengapa kami mengangkatnya di sini? Sebagian karena konteks dimana Injil harus diberitakan kepada semua bangsa hari ini. Sebagian juga karena hampir semua dari kami baik di Dunia Ketiga, atau tinggal dan bekerja di sana, atau telah melakukan itu atau telah mengunjungi beberapa negara di situ. Jadi kami telah melihat dengan mata kami sendiri kemisikinan massa, kami merasa untuk mereka dan bersama mereka, dan kami mengerti bahwa penderitaan mereka adalah sebagian karena sistem ekonomi yang sebagian besar dikendalikan oleh negara-negara Atlantik Utara (meskipun negara lain sekarang juga terlibat). Kami yang merupakan warga negara Amerika Utara atau negara-negara Eropa tidak bisa menghindari beberapa perasaan malu, dengan alasan penindasan yang di dalamnya negara-negara kami dalam berbagai tingkat telah terlibat. Tentu saja, kami tahu bahwa terjadi penindasan di banyak negara hari ini, dan kami menentangnya dimana-mana. Namun sekarang kami membicarakan diri kami sendiri, negara kami sendiri dan tanggung jawab kami sebagai orang Kristen. Sebagian besar misionaris-misionaris dunia dan uang misionaris berasal dari negara-negara ini, seringkali dengan pengorbanan pribadi yang besar. Namun kami harus mengakui bahwa beberapa misionaris itu sendiri mencerminkan sikap neo-kolonial dan bahkan mempertahankannya, bersama dengan pos terdepan kekuasaan dan eksploitasi barat seperti Afrika Selatan.Jadi apa yang harus kami lakukan? Satu-satunya respons yang jujur adalah untuk mengatakan bahwa kami tidak tahu. Kursi kecaman berbau kemunafikan. Kami tidak mempunyai solusi yang siap pakai untuk ditawarkan bagi permasalahan seluruh dunia ini. Sesungguhnya, kami sendiri merasa menjadi korban dari sistem. Namun kami juga adalah bagian darinya. Jadi kami merasa hanya mampu membuat komentar-komentar ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, Yesus sendiri terus-menerus mengidentifikasi diri-Nya dengan orang miskin dan lemah. Kami menerima kewajiban untuk mengikuti jejak-Nya dalam hal ini seperti dalam hal lainnya. Setidaknya dengan kasih yang berdoa dan memberi, kami bermaksud untuk memperkuat solidaritas dengan mereka. Namun, Yesus berbuat lebih daripada mengidentifikasi. Dalam ajaran-Nya dan ajaran para rasul akibat wajar dari kabar baik terhadap orang yang tertindas adalah putusan penghakiman atas penindas (mis., Luk 6:24-26; Yak 5:1-6). Kami mengakui bahwa dalam situasi ekonomi yang rumit, tidaklah mudah untuk mengidentifikasi para penindas untuk mengecam mereka tanpa menggunakan retorika melengking yang tidak beresiko atau menyelesaikan apapun. Namun demikian, kami menerima bahwa ada saat-saat ketika itu adalah tugas kami sebagai orang Kristen untuk berbicara menentang ketidakadilan dalam nama Tuhan yang adalah Allah atas keadilan dan pembenaran. Kami akan mencari dari Dia keberanian dan hikmat untuk melakukannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, Perundingan telah menyatakan keprihatinannya tentang sinkretisme di gereja-gereja Dunia Ketiga. Namun kami tidak lupa bahwa gereja-gereja Barat menjadi korban dosa yang sama. Memang, mungkin bentuk yang paling berbahaya dari sinkretisme di dunia hari ini adalah usaha untuk mencampur Injil pengampunan peribadi dengan sikap (bahkan sifat setan) duniawi terhadap kekayaan dan kekuasaan.Kami sendiri tidak bersalah dalam hal ini. Namun kami ingin menjadi orang Kristen yang berintegrasi yang untuk mereka Yesus adalah benar-benar Tuhan atas semua. Jadi kami yang adalah bagian, atau berasal dari Barat, akan memeriksa diri kami sendiri dan berusaha untuk membersihkan diri kami dari sinkretisme gaya Barat. Kami setuju bahwa “keselamatan yang kami akui pasti akan mengubah kamu dalam totalitas peribadai dan tanggung jawab sosial kami. Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Kovenan Lausanne, alinea 5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bahaya dari Kedaerahan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami telah menekankan bahwa Gereja harus dimungkinkan untuk mempribumi, dan untuk “merayakan, bernyanyi dan menari” Injil dalam media budaya itu sendiri. Pada saat yang sama, kami ingin menjadi waspada dengan bahaya dari proses ini. Beberapa gereja di semua enam benua bersukacita dan bersyukur atas penemuan warisan budaya lokal mereka, namun tidak menjadi sombong karenanya (sebuah bentuk sovinisme) atau bahkan memutlakkannya (sebuah bentuk penyembahan berhala). Lebih umum daripada salah satu ekstrim-ektrim ini, bagaimanapun, adalah “kedaerahan,” yaitu, semacam tempat pengasingan diri ke dalam budaya mereka sendiri ketika mereka terpisah terkatung-katung dari Gereja yang lain dan dari dunia yang lebih luas. Ini merupakan sikap diri yang sering muncul di gereja-gereja Barat dan juga di Dunia Ketiga. Ini menyangkal Allah atas ciptaan dan penebusan. Ini untuk menyatakan kebebasan seseorang, yang hanya akan memasuki ikatan yang lainnya. Kami memperhatikan pada tiga alasan utama mengapa kami pikir sikap ini harus dihindari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, setiap gereja adalah bagian dari Gereja universal. Umat Allah oleh anugerah-Nya adalah komunitas multi-ras, multi-nasional, multi-budaya yang unik. Komunitas ini adalah ciptaan Allah yang baru, kemanusiaan-Nya yang baru, dimana Kristus telah menghapuskan semua hambatan (lihat Ef 2 dan 3). Karena itu tidak ada ruang bagi rasisme dalam masyarakat Kristen, atau bagi sukuisme – entah dalam bentuk kesukuan Afrika, atau dalam bentuk kelas-kelas sosial Eropa, atau sistem kasta India. Di sampingkegagalan gereja, visi tentang komunitas kasih supra-etnis ini bukanlah mimpi yang romantis, namun adalah perintah Tuhan. Oleh karena itu, sementara bersukacita dalam warisan budaya dan pengembangan bentuk-bentuk pribumi kami sendiri, kami harus selalu ingat bahwa identitas utama kami sebagai orang Kristen bukan pada budaya tertentu namun di dalam Tuhan dan Tubuh-Nya yang satu (Ef 4:3-6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, masing-masing gereja menyembah Allah yang Hidup, Allah atas keragaman budaya. Jika kami bersyukur kepada-Nya untuk warisan budaya kami, kami harus bersyukur kepada-Nya untuk warisan budaya-budaya lainnya juga. Gereja kami tidak pernah boleh menjadi begitu terikat budaya sehingga pengunjung dari budaya lain tidak merasa diterima. Sesungguhnya, kami percaya itu memperkaya orang Kristen, jika mereka memiliki peluang, untuk mengembangkan dwi-budaya dan bahkan adanya multi-budaya, seperti Rasul Paulus yang adalah seorang Ibrani karena keturunan Ibrani, sekaligus menguasai bahasa Yunani dan seorang warga negara Roma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, setiap gereja harus masuk ke dalam “kemitraan ...dalam memberi dan menerima” (Flp. 4:15). Tidak ada gereja, atau berusaha untuk menjadi, sanggup mencukupi keperluan dirinya sendiri. Jadi gereja-gereja harus berkembang dengan saling berhubungan dalam doa, persekutuan, pertukaran pelayanan dan kerja sama. Asalkan kami berbagi kebenaran sentral yang sama (termasuk ketuhanan Kristus yang tertinggi, otoritas Kitab Suci, perlunya pertobatan, percaya diri dalam kuasa Roh Kudus, dan kewajiban hidup kudus dan bersaksi), kami harus keluar dan tidak malu-malu mengusahakan persekutuan; dan kami harus berbagi karunia roh dan pelayanan, pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, dan sumber keuangan. Prinsip yang sama berlaku untuk gereja. Sebuah gereja harus bebas untuk menolak bentuk budaya asing dan mengembangkan budayanya sendiri; gereja juga harus bebas untuk meminjam dari yang lainnya. Dengan demikian ada kedewasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu contoh dari ini berkaitan dengan teologi. Para saksi lintas budaya tidak boleh berusaha untuk memaksakan tradisi teologis siap pakai kepada gereja dimana mereka melayani, baik melalui ajaran pribadi atau melalui literatur atau dengan mengontrol kurikulum seminari dan sekolah Alkitab. Karena setiap tradisi teologis mengandung dua elemen yang dipertanyakan secara alkitabiah dan telahmemecah-belah secara gerejawi dan menghilangkan unsur-unsur yang, mungkin ketika tidak berdampak besar di negara asalnya, mungkin kepentingan yang besar sekali dalam konteks lain. Pada saat yang sama, meskipun para misionaris seharusnya tidak memaksakan tradisi mereka sendiri pada yang lain, mereka juga seharusnya tidak menolak mereka masuk ke sana (dalam bentuk buku, pengakuan, katekismus, liturgi dan himne), karena diragukan kalau itu menyatakan sebuah warisan iman yang kaya. Selain itu, meskipun kontroversi teologis dari gereja yang lebih lama seharusnya tidak diekspor ke gereja-gereja yang lebih baru, namun pemahaman akan masalah, dan karya Roh Kudus dalam terungkapnya sejarah doktrin Kristen, seharusnya membantu untuk melindungi mereka dari pengulangan yang tidak menguntungkan dari pertempuran yang sama. Jadi kami harus berusaha dengan perhatian yang sama untuk menghindari imperialisme teologis atau kedaerahan teologis. Teologi gereja harus dikembangkan oleh komunitas iman dari Kitab Suci dalam interaksi dengan teologi-teologi lain di masa lalu dan masa kini, dan dengan budaya lokal serta kebutuhan-kebutuhannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bahaya Sinkretisme====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi gereja berusaha untuk mengungkapkan dirinya sendiri dalam bentuk budaya lokal, gereja segera harus menghadapi masalah tentang unsur-unsur budaya yang jahat atau memiliki hubungan yang jahat. Bagaimana seharusnya gereja menyikapi ini? Unsur-unsur yang pada hakekatnya adalah palsu atau jahat jelas tidak bisa diterima dalam Kekristenan tanpa terjerumus ke dalam sinkretisme. Ini adalah bahaya bagi semua gereja di semua budaya. Jika kejahatan ada dalam pergaulan saja, bagaimanapun, kami percaya adalah benar untuk berusaha “membaptis”nya dalam Kristus. Ini merupakan prinsip yang dilakukan William Booth ketika dia menciptakan kata-kata Kristen ke musik yang populer, mempertanyakan mengapa kejahatan harus memperoleh lagu-lagu yang terbaik. Maka banyak gereja Afrika sekarang memakai drum untuk mengajak orang beribadah, meskipun sebelumnya tidak bisa diterima, karena dikaitkan dengan tarian perang dan ritual pengantara. Namun prinsip ini menimbulkan masalah. Dalam reaksi yan tepat terhadap orang asing, bermain-main yang tidak tepat dengan unsur Iblis budaya lokal kadang-kadang terjadi. Maka gereja, yang adalah hamba Yesus Kristus yang pertama dan terutama, harus belajar untuk meneliti semua budaya, baik asing maupun lokal, dalam terang ketuhanan dan wahyu Allah. Dengan pedoman apakah, karenanya, sebuah gereja menerima atau menolak ciri-ciri budaya dalam proses konteksualisasi? Bagaimana gereja mencegah atau mendeteksi dan menghilangkan bid’ah (ajaran yang salah) dan sinkretisme (pembawaan bahaya dari cara hidup yang lama)? Bagaimana gereja dapat melindungi dirinya sendiri dari menjadi “gereja rakyat” yang di dalamnya gereja dan masyarakat hampir sama? Satu model tertentu yang kami pelajari adalah Gereja di Bali, Indonesia, yang sekarang sekitar 40 tahun usianya. Pengalamannya telah memberikan pedoman sebagai berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komunitas orang percaya pertama-tama mencari Kitab Suci dan belajar banyak kebenaran berdasarkan Alkitab yang penting. Kemudian mereka mengamati gereja-gereja lain (mis. Sekitar Mediterania) menggunakan arsitektur untuk melambangkan kebenaran Kristen. Ini penting karena orang Bali adalah orang yang sangat “visual” dan menghargai tanda-tanda visual. Jadi diputuskan, misalnya, untuk mengungkapkan penegasan iman mereka akan Trinitas, ada atap tingkat tiga bergaya Bali untuk bangunan gereja mereka. Lambang itu pertama-tama ditetapkan oleh dewan tua-tua yang, setelah mempelajari baik faktor-faktor alkitabiah maupun budaya, merekomendasikannya kepada jemaat lokal.Pendeteksian dan penghapusan bid’ah mengikuti pola yang sama. Ketika orang percaya mencurigai sebuah kesalahan dalam hidup atau ajaran, mereka akan melaporkannya kepada penatua, yang akan membawanya ke dewan para penatua. Setelah mempertimbangkan urusannya, mereka pada gilirannya akan menyampaikan rekomendasi kepada gereja lokal siapa yang memutuskan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah perlindungan yang paling penting dari gereja? Untuk pertanyaan ini jawabannya adalah: “kami percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Penguasa dari semua kuasa.” Dengan pemberitaan kuasa-Nya, “yang sama kemarin dan hari ini dan selama-lamanya,” dengan menekankan setiap waktu pada sifat normatif Kitab Suci, dengan mempercayai para penatua dengan kewajiban untuk merefleksikan Kitab Suci dan budaya, dengan menghancurkan semua rintangan terhadap persekutuan, dan dengan membangun ke dalam struktur, katekismus, bentuk seni, drama, dll., pengingat yang terus-menerus dari posisi Yesus Kristus yang ditinggikan, gereja-Nya telah bertahan dalam kebenaran dan kekudusan. Kadang-kadang, di berbagai bagian di dunia, unsur budaya bisa diadopsi yang sangat mengganggu hati nurani yang sangat sensitif, terutama dari para petobat baru. Ini adalah masalah “saudara yang lebih lemah”yang kepadanya Paulus menulis berkaitan dengan berhala-daging. Karena berhala itu bukan apa-apa, Paulus sendiri memiliki kebebasan hati nurani untuk makan daging-daging ini. Tetapi demi orang-orang Kristen “yang lebih lemah” dengan hati nurani yang kurang terdidik, yang akan tersinggung melihat dia makan daging, dia menahan diri, setidaknya dalam situasi khusus dimana ketersinggunggan tersebut beralasan. Prinsipnya masih berlaku hari ini. Kitab Suci memandang serius hati nurani dan memberitahu kita untuk tidak melanggarnya. Hati nurani perlu diajar supaya menjadi “kuat,” namun sementara hati nurani “lemah” haruslah dihormati. Hati nurani yang kuat akan membebaskan kita; namun kasih membatasi kebebasan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pengaruh Gereja Pada Budaya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menyesalkan pesimisme yang menyebabkan beberapa orang Kristen tidak menetujui keterlibatan budaya secara aktif dalam dunia, dan sikap menyerah yang membujuk orang Kristen lainnya bahwa hal-hal itu dapat berakibat tidak baik dan karenanya harus dalam ketidakaktifan menunggu Kristus untuk memperbaikinya ketika Dia datang. Banyak contoh historis yang bisa diberikan, diambil dari berbagai zaman dan negera, tentang pengaruh yang kuat yang – di bawah Allah – Gereja telah berikan pada budaya yang ada, membersihkan, menjahit, mempercantiknya untuk Kristus. Meskipun semua usaha tersebut telah memiliki kekurangan, tidaklah membuktikan kekeliruan keberanian untuk berusaha. Namun kami memilih, untuk mendasarkan tanggung jawab budaya Gereja pada Kitab Suci daripada pada sejarah. Kami telah mengingatkan diri kami sendiri bahwa saudara dan saudari kami diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, dan bahwa kami diperintahkan untuk menghormati, mengasihi dan melayani mereka dalam setiap bidang kehidupan. Untuk argumen dari penciptaan Allah ini kami menambahkan lagi dari kerajaan-Nya yang masuk ke dalam dunia melalui Yesus Kristus. Semua otoritas adalah milik Kristus. Dialah Tuhan alam semesta dan juga Gereja. Dan Dia telah mengutus kami ke dalam dunia untuk menjadi garam dan terang. Sebagai komunitas-Nya yang baru, Dia mengharapkan kami untuk menembus masyarakat.Jadi kami harus menantang apa yang jahat dan menegaskan apa yang baik; menerima dan berusaha untuk meningkatkan semua yang bermanfaat dan memperkaya dalam kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, pertanian, industri, pendidikan, pengembangan komunitas dan kesejahteraan sosial; mengecam ketidakadilan dan mendukung orang yang tidak berdaya dan tertindas; menyebarkan kabar baik Yesus Kristus, yakni kekuatan yang paling membebaskan dan manusiawi di dunia; dan terlibat secara aktif dalam pekerjaan baik dari kasih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun, dalam kegiatan sosial dan budaya seperti dalam penginjilan, kami harus menyerahkan hasilnya kepada Allah, kami yakin bahwa Dia akan memberkati upaya kami dan memakainya untuk mengembangkan komunitas kami kesadaran yang baru tentang apa yang “benar, mulia, adil, suci, indah, dan terhormat” (Flp. 4:8). Tentu saja, Gereja tidak bisa memaksakan standar-standar Kristen pada masyarakat yang tidak mau, namun dapat memberi komentar pada mereka baik argumen maupun teladan. Semua ini akan membawa kemuliaan bagi Allah dan kesempatan kemanusiaan yang lebih besar kepada sesama kami manusia yang Dia ciptakan dan kasihi. Sebagaimana Kovenan Lausanne menuliskannya, “gereja harus berusaha untuk mengubah dan memperkaya budaya, semuanya bagi kemuliaan Allah” (alinea 10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, optimisme yang naif adalah sama bodohnya dengan pesimisme yang gelap. Di keduanya, kami mencari realisme Kristen yang bijaksana. Di satu sisi, Yesus Kristus memerintah. Di sisi yang lain, Dia belum memusnahkan kekuatan iblis; mereka masih mengamuk. Jadi dalam setiap budaya orang Kristen mendapati diri mereka dalam sebuah situasi konflik dan seringkali menderita. Kami dipanggil untuk melawan “penghulu-penghulu dunia yang gelap ini” (Ef 6:12). Jadi kami saling membutuhkan. Kami harus mengenakan perlengkapan senjata Allah, dan terutama senjata perkasa dari doa orang percaya. Kami juga ingat peringatan Kristus dan rasul-rasul-Nya bahwa sebelum akhir zaman akan ada sebuah wabah kejahatan dan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beberapa kejadian dan perkembangan di dunia kami zaman sekarang menunjukkan bahwa roh Antikristus yang akan datang sedang bekerja bukan hanya di dunia non-Kristen, tetapi juga di masyarakat yang sebagian Kristen dan bahkan di gereja-gereja sendiri. “Karena itu kami menolak gagasan mimpi yang membanggakan diri sendiri bahwa orang dapat membangun suatu utopia di bumi.” (Kovenan Lausanne, alinea 15), dan fantasi tak beralasan bahwa masyarakat akan berkembang menuju kesempurnaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, sementara dengan penuh semangat bekerja di bumi, kami mengharapkan dengan penuh sukacita penantian kembalinya Kristus, dan pengharapan akan surga dan bumi yang baru dimana di dalamnya kebenaran akan berdiam. Lalu karenanya budaya tidak hanya akan diubah, ketika bangsa-bangsa akan membawa kemuliaan mereka ke dalam Yerusalem yang Baru (Why 21:24-26), tetapi juga seluruh ciptaan akan dibebaskan dari ikatan saat ini dari perbudakan yang sia-sia, pembusukan dan penderitaan, untuk ambil bagian dalam kebebasan anak-anak Allah yang mulia (Rm 8:18-25).Kemudian pada akhirnya, semua lutut akan bertelut kepada Kristus dan semua lidah akan mengakui bahwa Dia adalah Tuhan, kemuliaan bagi Allah Bapa (Flp. 2:9-11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Apakah gereja lokal Anda “bebas” untuk mengembangkan keinginannya sendiri? Jika tidak, kekuatan apa yang menghalanginya?&lt;br /&gt;
#	Beberapa hal yang sulit telah dipaparkan dalam teks ini mengenai “struktur kekuasaan.” Apakah Anda setuju? Jika ya, dapatkah Anda berbuat sesuatu berkaitan dengan hal itu?&lt;br /&gt;
#	“Kedaerahan” dan “sinkretisme” keduanya adalah kesalahan gereja yang mencoba untuk mengungkapkan identitasnya dalam bentuk budaya lokal. Apakah gereja Anda melakukan salah satunya? Bagaimana kesalahan itu bisa dihindari tanpa menanggalkan budaya asli?&lt;br /&gt;
#	Haruskah gereja di negara Anda berbuat lebih untuk “mengubah dan memperkaya” budaya nasionalnya? Jika ya, dengan cara apa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===9. Budaya, Etika Kristen dan Gaya Hidup===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mempertimbangkan beberapa faktor budaya dalam pertobatan Kristen, kami akhirnya sampai pada hubungan antara budaya dan perilaku etis Kristiani. Karena kehidupan baru yang Kristus berikan kepada umat-Nya terkait dengan hal gaya hidup yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpusat Kepada Kristus dan Serupa Dengan Kristus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu tema yang dibahas dalam Perundingan kami adalah ketuhanan Yesus Kristus yang tertinggi. Dia adalah Tuhan atasalam semesta dan Gereja; Dia adalah juga Tuhan atas individu orang percaya. Kami mendapati diri kami dilingkupi oleh kasih Kristus. Itu merajut kami dan membuat kami tidak bisa lepas. Karena kami menikmati barunya hidup melalui kematian-Nya bagi kami, kami tidak memiliki alternatif (dan tidak ada keinginan) selain untuk hidup bagi Dia yang telah mati bagi kami dan bangkit kembali (2 Kor 5: 14,15). Loyalitas kami pertama adalah kepada-Nya, berusaha untuk menyenangkan Dia, menjalani hidup yang layak untuk Dia, dan menaati Dia.Hal ini memerlukan penolakan dari semua kesetiaan yang lebih rendah. Jadi kami dilarang untuk menyesuaikan diri sendiri dengan standar dunia ini; yaitu, dengan budaya apapun yang tidak menghormati Allah, dan diperintahkan untuk diubah dalam perilaku kami melalui pembaharuan pikiran yang melaksanakan kehendak Allah.Kehendak Allah ditaati secara sempurna oleh Yesus. Oleh karena itu hal yang paling menonjol dari seorang Kristen bukanlah budayanya, melainkan keserupaannya dengan Kristus.” Sebagaimana Letter to Diognetus pertengahan abad kedua menyatakannya: “Orang Kristen tidak dibedakan dari orang lain berdasarkan negara atau perkataan atau adat istiadat..mereka mengikuti adat istiadat negara dalam hal pakaian, makanan, dan kehidupan sehari-hari lainnya, tetapi kondisi kewarganegaraan yang mereka tunjukkan adalah indah...dengan kata lain, seperti jiwa di dalam tubuh, demikianlah orang Kristen di dalam dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Standar Moral dan Praktek Budaya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya tidak pernah statis. Budaya bervariasi dari tempat ke tempat dan dari waktu ke waktu. Dan sepanjang sejarah gereja yang panjang di berbagai negara, Kekristenan, dalam ukuran tertentu, telah memusnahkan budaya, melestarikannya, dan akhirnya menciptakan budaya yang baru menggantikan yang lama. Jadi dimana pun orang Kristen perlu untuk berpikir dengan serius tentang bagaimana hidup baru mereka di dalam Kristus berkaitan dengan budaya zaman sekarang. Dalam tulisan Perundingan awal kami, dua model serupa ditetapkan di hadapan kami. Yang satu menyatakan bahwa ada beberapa kategori kebiasaan yang perlu dibedakan. Kategori pertama mencakup praktek-praktek yang akan diharapkan untuk segera ditinggalkan oleh petobat karena sama sekali tidak sesuai dengan Injil Kristen (mis., penyembahan berhala, kepemilikan budak, sihir dan ilmu gaib, perburuan kepala, permusuhan keluarga, ritual prostitusi, dan semua diskriminasi ras pribadi berdasarkan ras, warna kulit, kelas atau kasta). Kategori kedua mungkin mencakup kebiasaan lembaga yang bisa ditoleransi untuk sementara namun diharapkan akan hilang secara bertahap (mis., sistem kasta, perbudakan dan poligami). Kategori ketiga mungkin berhubungan dengan tradisi pernikahan, terutama pertanyaan dari kerabat, yang membuat gereja-gereja dibagi, sedangkan kategori keempat menempatkan “urusan yang sepele” yang berkaitan hanya dengan kebiasaan dan bukan dengan moral, dan karenanya bisa dipertahankan tanpa kompromi (mis., kebiasaan makan dan mandi, bentuk salam publik kepada lawan jenis, gaya rambut dan pakaian, dll.).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model kedua yang telah kami anggap membedakan antara perjumpaan “langsung” dan “tidak langsung”antara Kristus dengan budaya, yang kira-kira sesuai dengan kategori pertama dan kedua dari model yang lain. Diterapkan di Fiji abad ke-19 dalam studi kasus yang disajikan kepada kami, diasumsikan bahwa akan ada “perjumpaan langsung” dengan praktek-praktek tidak manusiawi seperti kanibalisme, pembunuhan janda, bayi, ayah, dan diharapkan petobat meninggalkan kebiasaan ini berdasarkan pertobatan. Perjumpaan “tidak langsung” akan terjadi, bagaimanapun, baik ketika masalah moral tidak begitu jelas (mis., beberapa kebiasaan pernikahan, ritual permulaan, hari raya, perayaan musikal yang meliputi nyanyian, tarian dan alat musik) atau ketika itu menjadi kelihatan hanya setelah petobat mulai menerapkan iman barunya dalam kehidupan Kristen. Beberapa praktek ini tidak perlu dibuang, melainkan dibersihkan dari unsur najis dan diberi makna Kristen. Kebiasaan lama dapat diberi lambang yang baru, tarian yang lama bisa merayakan berkat yang baru dan kerajinan tua bisa digunakan untuk tujuan yang baru. Meminjam ungkapan dari Perjanjian Lama, pedang dapat ditempa menjadi bajak dan tombak menjadi pisau pemangkas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kovenan Lausanne menyatakan, Injil tidak mensyaratkan superioritas budaya manapun, tetapi mengevaluasi semua budaya menurut kriterianya sendiri tentang kebenaran dan kebajikan, dan bersikeras pada kemutlakan moral dalam semua budaya” (alinea 10). Kami ingin mendukung ini, dan menekankan bahwa bahkan dalam relativitas zaman sekarang ini, kemutlakan moral tetap. Sesungguhnya, gereja yang mempelajari Kitab Suci tidak boleh kesulitan untuk memilah apa yang menjadi bagian kategori pertama atau “perjumpaan langsung.” Prinsip-prinsip Kitab Suci di bawah bimbingan Roh Kudus juga akan menuntun mereka mengenai kategori “perjumpaan tidak langsung.” Sebuah tes tambahan adalah menanyakan apakah sebuah praktek meningkatkan atau mengurangi kehidupan manusia. Akan terlihat bahwa studi kami telah difokuskan terutama pada situasi dimana gereja-gereja yang lebih baru harus menentukan sikap moral terhadap kejahatan tertentu. Namun kami telah diingatkan bahwa Gereja perlu untuk melawan kejahatan dalam budaya Barat juga. Di Barat abad ke-20, seringkali contoh yang lebih rumit namun kurang mengerikan dari kejahatan yang ditentang oleh kehadiran Fiji di abad ke-19. Sejalan dengan kanibalisme adalah ketidakadilan sosial yang “memakan” orang miskin; pembunuhan janda, penindasan kaum wanita; pembunuhan bayi, aborsi; pembunuhan ayah, pengabaian keji terhadap warga senior; perang suku, Perang Dunia I dan II; ritual prostitusi, persetubuhan dengan siapa saja. Memikirkan paralelisme, perlu diingat baik rasa bersalah yang ditambahkan mengikuti bangsa-bangsa Kristen secara nominal, dan juga keberanian orang Kristen melawan kejahatan tersebut, dan besarnya (meskipun tidak sempurna) keberhasilan yang telah dimenangkan dalam mengurangi kejahatan-kejahatan ini. Kejahatan terdapat dalam banyak bentuk, namun universal, dan dimanapun kejahatan muncul orang Kristen harus melawan dan menolaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Proses Perubahan Budaya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah cukup bagi para petobat untuk membuat penolakan pribadi terhadap kejahatan di budaya mereka; seluruh gereja perlu bekerja untuk penghapusan kejahatan tersebut. Maka penting untuk menanyakan bagaimana budaya berubah di bawah pengaruh Injil. Tentu saja, kejahatan dan Iblis berakar kuat dalam sebagian besar budaya, namun Kitab Suci meminta pertobatan nasional dan reformasi, dan sejarah mencatat banyak kejadian perubahan budaya untuk yang lebih baik. Dalam beberapa kasus budaya tidaklah selalu menolak perubahan yang diperlukan seperti kelihatannya. Bagaimanapun, perhatian yang besar diperlukan, ketika berusaha untuk memulainya. Pertama, orang berubah karena dan jika mereka menginginkannya.” Ini terlihat aksiomatis (sudah jelas kebenarannya). Selanjutnya, mereka menginginkan perubahan hanya jika mereka merasakan keuntungan positif dari perubahan itu. Hal-hal ini akan perlu dengan seksama dibahas dan ditunjukkan dengan sabar, apakah orang Kristen menyarankan di negara berkembang keuntungan dari melek huruf atau pentingnya air yang bersih, atau di negara Barat pentingnya pernikahan dan kehidupan keluarga yang stabil. Kedua, saksi lintas budaya di Dunia Ketiga perlu untuk benar-benar menghormati dibangunnya mekanisme perubahan sosial pada umumnya, dan “prosedur inovasi yang benar” di setiap budaya tertentu. Ketiga, penting untuk diingat bahwa hampir semua kebiasaan melakukan fungsi pentingya di dalam budaya, dan bahwa bahkan praktek sosial yang tidak diinginkan bisa menjalankan fungsi “konstruksif.” Bahwa menjadi begitu, sebuah kebiasaan tidak boleh dimusnahkan tanpa pertama-tama memilah fungsinya dan kemudian mengganti dengan kebiasaan lain untuk menjalankan fungsi yang sama. Sebagai contoh, mungkin benar untuk ingin melihat hilangnya beberapa ritual pengenalan yang berkaitan dengan sunat remaja dan beberapa bentuk pendidikan seks yang menyertainya. Ini bukan untuk menyangkali bahwa ada banyak nilai dalam proses pengenalan; perhatian yang besar harus diberikan untuk melihat pengganti yang memadai tersedia untuk ritual dan bentuk pengenalan yang hati nurani Kristen akan ingin untuk melihatnya hilang. Keempat, adalah penting sekali untuk mengenali bahwa beberapa praktek budaya memiliki landasan teologis. Jika ini demikian, budaya hanya akan berubah jika teologinya berubah. Karena itu, jika janda dibunuh supaya suami mereka tidak bisa memasuki dunia berikutnya tanpa pengawasan, atau jika orang yang lebih tua dibunuh sebelum kepikunan menyerang, supaya di dunia berikutnya mereka bisa cukup kuat untuk bertarung dan berburu, maka pembunuhan demikian, karena didasaskan pada eskatologi yang salah, akan bisa dihapuskan jika sebuah alternatif yang lebih baik, harapan Kristen, diterima pada tempatnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Dapatkah “keserupaan dengan Kristus” diakui dalam semua budaya? Apa unsur-unsurnya?&lt;br /&gt;
#	Dalam budaya Anda, apa yang Anda harapkan untuk segera ditinggalkan oleh para petobat baru?&lt;br /&gt;
#	Sebutkan beberapa “kebiasaan kelembagaan” di negara Anda yang orang Kristen harapkan akan “hilang secara bertahap” (mis., poligami, sistem kasta, perceraian yang mudah, atau beberapa bentuk penindasan). Langkah aktif apa yang harus dilakukan orang Kristen untuk membawa perubahan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kesimpulan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perundingan kami telah meninggalkan untuk kami pengertian , yang tidak diragukan lagi, mengenai pentingnya budaya yang meresap. Penulisan dan pembacaan Alkitab, pekabaran Injil, pertobatan, gereja dan perbuatan – semuanya dipengaruhi oleh budaya. Karena itu sangatlah penting bahwa semua gereja mengkontekstualisasikan Injil supaya mengabarkannya dengan efektif di budaya mereka sendiri.Untuk tugas penginjilan ini, kita semua tahu kebutuhan kita yang mendesak tentang pelayanan Roh Kudus. Dia adalah Roh Kebenaran yang bisa mengajar setiap gereja bagaimana menghubungkan budaya yang menyelubunginya. Dia juga adalah Roh kasih, dan kasih adalah “Bahasa – yang dimengerti di semua budaya manusia.” Jadi kiranya Allah memenuhi kita dengan Roh-Nya! Kemudian, berbicara kebenaran di dalam kasih, kita akan bertumbuh ke arah Kristus yang adalah Kepala dari Tubuh, bagi kemuliaan kekal Allah (Ef 4:15). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;CATATAN:&#039;&#039;&#039; Kutipan yang tidak dikaitkan dalam laporan ini diambil dari berbagai tulisan yang disajikan pada Perundingan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Templat:Rebecca_lewis&amp;diff=714</id>
		<title>Templat:Rebecca lewis</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Templat:Rebecca_lewis&amp;diff=714"/>
		<updated>2013-12-18T15:01:51Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;big&amp;gt;&#039;&#039;Rebecca Lewis&#039;&#039;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Rebecca Lewis telah bekerja dengan suaminya dalam pelayanan M selama 30 tahun, delapan di antaranya dihabiskan di Afrika Utara. Beliau juga mengajar sejarah di tingkat universitas selama delapan tahun terakhir.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Templat:Rebecca_Lewis&amp;diff=713</id>
		<title>Templat:Rebecca Lewis</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Templat:Rebecca_Lewis&amp;diff=713"/>
		<updated>2013-12-18T15:01:47Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;big&amp;gt;&#039;&#039;Rebecca Lewis&#039;&#039;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Rebecca Lewis telah bekerja dengan suaminya dalam pelayanan M selama 30 tahun, delapan di antaranya dihabiskan di Afrika Utara. Beliau juga mengajar sejarah di tingkat universitas selama delapan tahun terakhir.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Kebangkitan_Gereja_Persia&amp;diff=712</id>
		<title>Kebangkitan Gereja Persia</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Kebangkitan_Gereja_Persia&amp;diff=712"/>
		<updated>2013-12-18T14:55:17Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{gilbert hovsepian}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{rikor markarian}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang Kristen telah lama menganggap Iran salah satu negara yang paling tertutup untuk Injil Kristus dalam zaman modern. Namun, dalam kenyataannya, gerakan persekutuan gereja terus berkembang biak muncul dan menyebar ke seluruh Iran dalam generasi kami sendiri.Kisah bagaimana ini terjadi mungkin adalah contoh yang paling menarik dari kedaulatan Allah yang bekerja untuk mencapai tujuan-Nya yang tidak berubah di antara bangsa-bangsa. Pada awal tahun1960an, dua dekade sebelum Iran tertutup sepenuhnya dari pekerjaan misi modern, sebuah tim misionaris dari AS memulai pekerjaan di antara komunitas Armenia Persia di Teheran. Sebagian besar orang Armenia adalah keturunan orang buangan yang dipaksa keluar ke Iran tahun 1604. Selama berabad-anad, mereka mengembangkan sebuah budaya, dialek, dan penampilan unik ketika mereka berasimilasi ke dalam bangsa tuan rumah mereka. Para misionaris mengenali potensi orang-orang Armenia Persia ini untuk menjadi “jembatan-orang” antara M dan Kristen, dan begitulah mereka memulai pekerjaan di antara orang Armenia Persia dengan pemikiran ini. Kita akan melihat hasil upaya mereka, namun untuk benar-benar memahami tangan Allah di dalam kisah yang luar biasa ini, kita pertama-tama harus kembali ke 1500 tahun ke waktu kelahiran Gereja Persia Kuno. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai akhir abad ke-3, sebagian besar orang-orang percaya di Kerajaan Persia adalah orang Yahudi atau keturunan Asyur. Namun sekitar tahun 300 Masehi, gerakan Roh Kudus yang penuh kuasa dapat terlihat di antara orang Persia asli juga. Gereja di Armenia adalah hasil dari kebangkitan rohani di antara orang-orang Persia yang dinamis ini di akhir abad ke-3. Gregory Sang Iluminator, seorang misionaris lintas-budaya yang diutus dari Gereja Persia Kuno, adalah alat di Armenia untuk menjadi satu dari negara Kristen yang pertama. Di tahun 301 Masehi, Armenia menjadi yang pertama dari banyak kerajaan di Timur yang memeluk agama Kristen pada tingkat nasional. Sejarah ini sampai ke jantung identitas bangsa Armenia, dan bangsa Armenia tidak pernah bisa melupakan bagaimana upaya yang sungguh-sungguh dari seorang misionaris lintas-budaya dari Persia membentuk sejarah mereka sendiri. Sayangnya, terobosan di antara orang Persia berumur pendek. Di tahun 312 Masehi, jenderal Romawi Konstantinus dipimpin untuk percaya bahwa dia harus menang di dalam nama salib. Pertobatannya masuk Kristen dan kemudian naik menjadi berkuasa sebagai kaisar Roma tiba-tiba mendatangkan dimensi politik bagi iman Persia yang baru. Sejak saat itu, orang Kristen di dalam Kerajaan Persia dipandang sebagai sekutu potensial bagi Kekaisaran Romawi, dan sebuah gelombang baru penganiayaan yang diorganisir pemerintah dimulai. Pada akhir abad ke-4, ratusan tibu orang mati sebagai martir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, dengan kedatangan M di abad ke-7,gereja Persia yang masih muda dan belum berpengalaman semakin lama semakin menurun dan kemudian lenyap. Kisah Gereja Armenia berbeda dari kisah Gereja Persia. Ketika juga dianiaya dan nantinya dikenakan kontrol M yang keras, Gereja Armenia tetap teguh ketika gereja Persia akhirnya menghilang. Menariknya, gereja-gereja di Asia dan Afrika Utara yang bertahan dari pendudukan M hanyalah gereja-gereja yang memiliki Kitab Suci dalam bahasa mereka. Gereja Armenia, Syria, dan Koptik adalah beberapa contohnya. Namun, di antara bangsa Persia, Berber dan Arab, tidak ada Alkitab yang tersedia dalam bahasa ibu mereka. Kesalahan itu tidak diperbaiki sampai zaman modern, dan kemungkinan tidaklah kebetulan bahwa dengan adanya Alkitab di negeri-negeri ini, Gereja mulai bertumbuh lagi. Di Persia kelahiran kembali itu telah menjadi satu dari yang paling luar biasa yang pernah disaksikan oleh dunia selama bertahun-tahun, dan dalam providensia Allah, Dia mengijinkan Gereja Armenia memainkan peran khusus di dalam Kerajaan besar ini ke depannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Sebuah Solidaritas Muncul===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sekarang kembali ke Iran di awal tahun 1960an. Salah satu dari lima murid di tim misionaris Amerika itu adalah seorang Armenia bernama Haik Hovsepian. Di akhir tahun 1960-an, Haik menerima panggilan dari Allah untuk pergi menjadi misionaris ke sebelah utara propinsi Mazandaran dengan tujuan khusus memulai sebuah pekerjaan di antara orang M. Meskipun secara resmi ditugaskan oleh gereja di Teheran untuk tujuan ini, bebannya bagi orang M adalah satu yang sedikit orang Armenia Persi miliki atau pahami di masa itu. Sebagian besar orang menganggap dia hanya membuang-buang waktunya. Namun, setelah sekitar delapan tahun bekerja, lima gereja rumah didirikan dengan 20 orang percaya berlatar belakang M di tahun 1976. Meskipun hanya sebuah permulaan yang kecil, entah bagaimana Haik memiliki perasaan bahwa Allah sedang membangun sebuah fondasi bagi pekerjaan yang jauh lebih besar. Dikaruniai bakat musik, satu dari investasi paling penting yang dia buat di Gereja Persia masa yang akan datang adalah terjemahannya dan lagu ciptaannya berjumlah lebih dari 150 lagu penyembahan dalam bahasa Farsi. Menurut orang-orang yang mengenalnya, dia memimpikan suatu hari lagu-lagu seperti itu akan dinyanyikan oleh jutaan orang percaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1981, Gereja Persia di Mazandaran telah bertumbuh menjadi sekitar 60 anggota, dan banyak pemimpin yang muncul. Di tahun itu, Haik menjawab sebuah permintaan dan kembali ke Teheran untuk menjadi pemimpin &#039;&#039;Council of Protestant Ministers &#039;&#039;(sebuah kelompok yang kira-kira setara dengan &#039;&#039;National Association of Evangelicals &#039;&#039;di Amerika Serikat). Pengangatan dirinya di tempat tugas ini adalah sangat tepat bagi gereja di Iran. Hanya dua tahun setelah Ayatollah Khomenei (seorang ulama M yang berpengaruh dengan visi untuk meng-I-kan negara) menahan pemerintahan Iran, dan gereja yang muncul di Iran mulai merasakan tekanan dari pemerintah yang semakin bermusuhan. Namun, gereja di Iran bukanlah satu-satunya kelompok yang meradang di bawah rezim yang baru. Orang-orang Persia sendiri mulai bereaksi dengan cara yang negatif terhadap larangan keras yang dikenakan oleh pelaksanaan hukum M. Pemberontakan diam-diam di kalangan orang muda (70% penduduk Iran berusia di bawah 30 tahun) mulai membangun momentum. Jika pemerintah menentang sesuatu, orang-orang dari kalangan usia ini menganutnya. Ketika pemerintah membakar bendera Amerika, mereka membungkus diri mereka ke dalamnya. Yang paling penting, ketika pemerintah mulai menyita Alkitab-Alkitab, mereka tidak sabar untuk mendapatkan satu. Perlahan tapi pasti, semacam solidaritas mulai terbangun di antara orang percaya Armenia yang dianiaya dengan orang muda Iran “yang teraniaya.” Dengan melanggar hukum, Haik mulai mendorong gereja-gereja Injili Armenia untuk membuka pintu mereka kepada orang-orang Persia dan mulai memakai bahasa Farsi dalam ibadah mereka. Ketika orang-orang percaya Persia mulai mengalir ke dalam gereja-gereja, pemerintah mengeluarkan ultimatum menuntut bahwa semua orang percaya seperti itu harus dilaporkan. Sebagai tanggapan, Haik dengan berani mengerahkan gereja-gereja untuk mengirim tanggapan balik kepada pemerintah yang sama: Kami tidak akan pernah tunduk pada tuntutan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Sebuah Momen yang Menentukan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhir tahun 1980-an, jumlah orang percaya Persia yang berlatar belakang Muslin bertambah menjadi ribuan orang. Lalu di tahun 1990-an, dua arus berjumpa untuk mengubah momentum menjadi satu dari peristiwa terbesar yang menentukan dalam sejarah Kekristenan Persia. Yang pertama adalah gelombang pemerintah yang mengatur pengambilan tindakan keras dan pembunuhan para pemimpin Kristen (termasuk Haik Hovsepian di tahun 1994, yang berkampanye untuk menghentikan hukuman mati petobat Persia yang menerima perhatian nasional dan juga internasional). Hasilnya adalah ratusan pemimpin awam Persia bangkit untuk menggantikan para martir ini dan gerakan gereja rumah nasional lahir. Sesungguhnya, keberanian Haik dan martir-martir lainnya, baik orang Armenia maupun Persia, memiliki dampak yang mendalam pada gereja Injili, namun paling terutama terhadap orang-orang percaya Persia itu sendiri. Pada pemakaman Haik, ratusan orang percaya Persia baru muncul keluar untuk menghormati dia meskipun kehadiran agen-agen pemerintah mendokumentasikan semua yang hadir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua ini adalah fondasi bangunan Allah untuk apa yang akan terjadi selanjutnya. Di tahun 2000, siaran satelit Kristen mulai menyinarkan Injil ke hampir semua rumah di Iran. Hal ini dimungkinkan oleh fakta bahwa jutaan sajian satelit telah secara ilegal diselundupkan ke Iran oleh anggota korup pemerintahan yang sama yang telah melarang mereka. Program-program satelit Kristen menjadi kelangsungan hidup bagi gereja di Iran. Selanjutnya, ketika orang-orang Iran tahu bahwa pemerintah Iran berusaha untuk mengacaukan siaran, mereka menjadi sensasi semalam. Survei nasional terakhir menunjukkan bahwa lebih dari 70% populasi menyaksikan program satelit Kristen. Survei yang sama menunjukkan bahwa setidaknya satu juta orang telah menjadi orang percaya, dan jutaan lebih berada di ambangnya. Pertumbuhan ini terjadi begitu cepat sehingga gereja bawah tanah hampir tidak dapat mengimbangi. Dalam satu contoh, sebuah gereja rumah mulai dengan dua orang beberapa tahun yang lalu sekarang telah berlipat ganda menjadi lebih dari 20 kelompok. Pemimpin jaringan ini mengatakan, Memulai gereja di Iran itu mudah! Kemanapun Anda menginjili, orang-orang siap menerima Injil, atau mereka sudah menjadi orang percaya melalui siaran satelit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melatih para pemimpin juga mudah, kata pemimpin lain. Pemerintah telah meninggalkan orang-orang muda dengan tidak ada yang dikerjakan, sehingga orang-orang percaya menggunakan waktu bersama satu sama lain setiap harinya. Mereka selalu berkumpul untuk berdoa, studi Alkitab dan penginjilan. Jika satu kelompok mencapai 25 orang, mereka dibagi menjadi dua kelompok dan mulai lagi. Dalam waktu dua tahun, seorang percaya diharapkan menjadi pemimpin dari sebuah persekutuan gereja rumah dan untuk memuridkan para pemimpin baru. Sekarang ada begitu banyak orang percaya di Iran, para penyiar satelit telah mulai memindahkan haluan ke program yang lebih berorientasi pemuridan. Seperti di Tiongkok, pelipatgandaan gereja-gereja rumah yang cepat sekali melalui strategi “pembelahan-sel” telah menghasilkan jaringan-jaringan yang terorganisir dengan baik. Ada sedikitnya 1.000 kelompok, kebanyakan merupakan buah dari pemuridan yang sungguh-sungguh oleh Haik Makhaz dari beberapa lusin pemimpin inti Persia di Teheran selama akhir 1980-an dan awal 1990-an. Salah satu dari pemimpin-pemimpin ini, misalnya, membawahi 137 persekutuan gereja rumah. Jaringan-jaringan yang terorganisir ini berkembang sekalipun adatekanan besar dari pemerintah. Di awal 2008, agen intelijen pemerintah masuk ke sebuah jaringan dari sekitar 50 gereja dengan meresponi siaran satelit sebagai calon pencari. Dari sana, mereka mampu untuk bekerja dengan cara mereka ke dalam seluruh jaringan. Mereka mengumpulkan orang-orang percaya bergabung dengan kelompok-kelompok ini dan memaksa mereka untuk menandatangani sebuah dokumen yang menguraikan hukuman mereka jika mereka pernah berkumpul lagi. Karena masalah keamanan yang begitu diperketat, koordinasi antara gereja bawah tanah dan pelayanan siaran satelit menjadi semakin sulit, meskipun banyak yang mencari solusi kreatif untuk menjembatani pemisahan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pemimpin jaringan-jaringan gereja rumah telah berulang kali mengungkapkan bahwa satu dari kebutuhan yang paling besar adalah lebih banyak Alkitab dalam bahasa Farsi. Kisah-kisah tentang bagaimana Allah telah memakai Kitab Suci untuk membawa seluruh keluarga kepada Kristus terus mengalir dari Iran. Ada rasa lapar yang luar biasa dan permintaan yang luas untuk Alkitab. Sebuah terjemahan baru dikoordinasi oleh Pelayanan Elam (juga didirikan oleh orang Armenia Persia) telah memiliki dampak yang besar. Gilbert Hovsepian saat ini sedang mempersiapkan sebuah versi audio untuk dirilis dalam tahun ini. Telah dikatakan bahwa bahkan jika 10 juta Alkitab tersedia hari ini di Iran, itu tidak akan cukup. Seorang wanita yang secara pribadi mendistribusikan 20.000 Alkitab mengatakan bahwa dia belum pernah satu kali pun ditolak; melainkan, sebagian besar menerimanya sebagai harta terbesar yang pernah diberikan kepada mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kelahiran Kembali Gereja Persia===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama berabad-abad, etnisitas dan himpunan religius telah dianggap identik. Jika seseorang adalah Armenia, telah dianggap bahwa orang itu Kristen. Jika seseorang itu Persia, telah dianggap selama berabad-abad bahwa orang itu M. Di sepuluh tahun terakhir ini, sebuah istilah baru telah tersebar luas di seluruh Iran, yang bisa secara harfiah diterjemahkan “Persia-Kristen,” atau secara konseptual diterjemahkan sebagai “M-Kristen” (&#039;&#039;farsimasihi&#039;&#039;). Jika seseorang melihat Anda memakai salib, mereka mungkin bertanya, “Apakah Anda orang Armenia?” atau “Apakah Anda menjadi orang Armenia?” Namun hari ini pertanyaannya telah berubah. Karena orang percaya sering ditanyai apakah mereka Persia-Kristen (dan bukan Armenia) itu menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya selama berabad-abad, seseorang dapat dikenali sebagai Kristen tanpa terlihat oleh komunitas Persia yang lebih besar sebagai seorang pengkhianat bangsa Persia. Identitas baru ini sangatlah signifikan, menjadi saksi kehadiran sebuah gerakan berkembang biak-sendiri yang benar-benar pribumi. Telah lama dipercaya bahwa sebuah terobosan di antara orang-orang Persia bisa memiliki dampak yang signifikan terhadap masyarakat sekitar di Asia Tengah dan Timur Tengah. Hal ini sudah jelas terbukti menjadi peristiwa di Iran sendiri. Para misionaris Persia saat ini pergi keluar kepada masyarakat minoritas terdekat seperti Azeri, Luri, dan Kurdi, dengan pendanaan berasal langsung dari orang-orang percaya Persia sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Potensi untuk gerakan rakyat besar-besaran bagi Kristus di Iran belumlah sebesar ini sejak abad ke-4. Meskipun semua ini adalah alasan untuk bersukacita, adalah penting untuk mengingat bahwa Gereja Persia telah ada di sini sebelumnya. Seperti yang terjadi 1.600 tahun yang lalu, pemerintah mulai menanggapi dengan tegas untuk membendung gelombang gerakan luas ini. Meskipun saat ini gerakan ini sedang memasuki periode pencobaan yang baru, kali ini mereka memiliki jaringan orang percaya, gereja, dan pelayanan internasional yang kuat, berdiri siap membantu mereka.Sekarang mereka memiliki Alkitab dalam bahasa Farsi, lagu-lagu penyembahan yang dikontekstualisasikan, program pelatihan kepemimpinan dan siaran satelit. Dan yang terakhir namun bukan yang tidak penting, mereka memiliki janji Yesus, yang mengatakan, “Aku akan membangun gereja-Ku.” Tanpa diragukan lagi, gerakan Roh Kudus di Iran adalah bukti dari kenyataan gerakan yang tertinggi dan abadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Misi_dan_Uang&amp;diff=711</id>
		<title>Misi dan Uang</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Misi_dan_Uang&amp;diff=711"/>
		<updated>2013-12-18T14:55:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{phil parshall}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gary, seorang misionaris muda yang menonjol di negara Asia Selatan, tergerak untuk ambil bagian yang signifikan dalam memimpin tiga pria paruh baya kepada Kristus. Para petani pekerja keras dengan pendapatan rendah ini dari latar belakang M senang berkesempatan untuk menghabiskan waktu setiap minggu minum teh manis dan mendiskusikan iman baru mereka dengan Gary. Penguatan atas panggilan Gary yang indah adalah memiliki persekutuan dengan tiga orang percaya pertama di sebuah daerah dengan beberapa juta orang M.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu siang mendung di bulan Januari, para pria itu tiba di rumah kecil yang disewa Gary dengan permintaan yang mendesak. Mereka mengeluhkan angin dingin yang bertiup tanpa henti masuk melewati celah retakan gubuk ilalang mereka. Meskipun Gary sengaja menerapkan gaya hidup yang sederhana, jelaslah bagi orang-orang percaya itu bahwa dua anak perempuannya nyaman terbungkus pakaian hangat. Juru bicara kelompok itu bertanya apakah Gary mau berbagi selimut dan pakaian &#039;&#039;castoff &#039;&#039; menolong anak-anak mereka melawan angin dingin yang berhembus melalui rumah mereka setiap malam. Bagaimana Anda menanggapi permintaan-permintaan yang tampaknya masuk akal? Masalah apa yang mempersulit sebuah respon? Nanti di artikel ini Anda akan menemukan jawaban Gary kepada orang-orang itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perspektif Alkitab===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Renungkan nasihat-nasihat ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukas 6:30: “Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lukas 12:33: “Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 Yoh 3:17: “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yakobus 2:15-17, lebih khusus untuk dilema Gary: Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,dan seorang dari antara kamu berkata: &amp;quot;Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!,&amp;quot; tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah ayat-ayat Kitab suci yang berkuasa yang biasanya bertemu dengan eksposisi yang memotong makna sederhana dari teks. Saya, juga, merasa bersalah. Jika saya mengikuti nasihat-nasihat ini untuk kesimpulan harfiah mereka di Bangladesh, maka saya akan berakhir dengan berdiri telanjang di sebuah lapangan terbuka! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu misionaris agak kaya yang tinggal di sebuah negara miskin di Asia berusaha untuk menjadi seorang yang harfiah. Setiap pagi sekerumunan orang yang sulit diatur, berpakaian pengemis menunggu dengan tidak sabar di pintu gerbangnya untuk jatah harian mereka. Bahkan kemudian, uang yang diberikan hanya untuk membeli makanan pokok, tentu saja tidak cukup untuk membeli baju hangat bagi tubuh mereka yang menggigil. Dan kemudian, satu hari para pengemis tiba mendapati rumah dalam keadaan kosong. Misionaris itu telah keluar dan pulang kembali ke tanah airnya dimana dia tidak lagi harus menghadapi dilema hermeneutis. Sementara bagi para pengemis, reaksi emosi mereka terhadap kekurangan yang mendadak adalah lebih berupa kemarahan daripada penghargaan atas bantuan yang telah mereka terima selama beberapa tahun terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan ada variasi pada tema uang dan misi, seperti, siapakah orang-orang “Barat”? Apakah mereka pejabat-pejabat jangka pendek atau orang-orang yang berkomitmen di lapangan untuk bertahun-tahun? Para pekerja yang menginjili diperkenalkan dengan satu set permasalahan yang unik. Mereka mungkin dianggap sebagai orang yang kaya raya, sekaligus saluran yang sangat baik bagi pekerjaan yang menguntungkan. Kehidupan perkotaan dibandingkan dengan pedesaan akan menempatkan orang Barat dalam hubungan yang berbeda dengan sasaran audiensnya. Melayani di kalangan orang kaya mengurangi kemungkinan-kemungkinan kerepotan keuangan, sementara orang miskin memperburuk konflik yang mungkin terjadi. Uang membangun dan uang menghancurkan. Sisi positifnya, pendanaan Barat telah membantu penginjilan yang banyak sekali dan proyek-proyek sosial sepanjang sejarah. Orang miskin memiliki keuntungan fisik dan rohani dari tindakan nyata dari belas kasihan. Namun, sisi buruknya adalah luncuran membahayakan dari pihak penerima. Saya belum melihat sebuah hubungan ketergantungan seperti itu yang saya rasa baik. Selama bertahun-tahun di Bangladesh, saya adalah “bos” dari sepuluh pekerja administrasi dalam korespondensi yang luas sekolah di ibu kota, Dhaka. Saya juga terlibat dalam beberapa bantuan penjangkauan yang menolong ribuan orang miskin di negara terkepung kami. Hasil akhir dari interaksi ini dalam beberapa hal tunduk kepada saya, yakni saya dipanggil “Boro Sahib,” yang setara dengan “V.I.P” dalam bahasa Inggris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi saya ini adalah sebutan tidak nyaman yang menandakan dominasi sekaligus jarak dalam hubungan. Bagi orang Benggala, ini menjadi indikasi tentang fakta bahwa saya adalah orang yang berkuasa, yang dari saya banyak hal baik dapat diperoleh. Setelah beberapa tahun, istri saya dan saya pergi untuk tinggal di rumah kontrakan di sebuah kota kecil jauh dari Dhaka. Sejak hari pasangan ini tiba sampai mereka pergi, saya hanya disebut sebagai “Bhai” atau “saudara.” Dengan tidak ada karyawan dan tanpa perangkap kesombongan, “orang berkuasa” ini telah meninggalkan semua sisa prestise. Saya sekarang jauh lebih menyatu dengan kaum M yang saya datang untuk berinkarnasi di tengah-tengahnya. Saya telah disambut ke dalam persaudaraannya. Betapa senang rasanya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kemungkinan Solusi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada cara yang saya dapat harapkan untuk mendalilkan jawaban yang pasti terhadap masalah yang sangat besar ini dalam sedikit paragraf berikut. Yang bisa saya harapkan untuk dicapai adalah membuat sedikit saran yang mungkin bisa menolong beberapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Masalah Gaya Hidup===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah masalah yang tidak mau pergi. Bahkan pihak luar yang paling berdedikasi mendapati hal ini sangat sulit untuk menurunkan standar hidupnya kepada sasaran audiens di dalam konteks kemiskinan. Mereka yang dengan tulus berusaha, seringkali mendapati ujian emosional dan fisik yang terlalu berat untuk ditanggung. Pada titik itu, mereka pindah ke kota besar dengan fasilitas yang ditawarkan atau kalau tidak, kembali ke negara asal mereka.Bagi beberapa orang, sebuah misi yang ditinggalkan dari masa kolonial menawarkan alternatif terasing. Pengaturan rumah yang aman dan nyaman adalah sebuah mata air di tengah padang pasir(kadang-kadang harfiah). Namun saya tidak pernah merasa nyaman dengan solusi tersebut. Kami dipanggil untuk menjadi terang dalam masyarakat. Paradoks dari hal ini dapat kadang kala terlihat dalam rumah-rumah orang asing yang-dinyalakan-generatorsementara orang lokal duduk di keremangan berkumpul bersama mengelilingi lampu minyak kecil. Bahkan jika itu secara finasial bijaksana untuk menempati rumah tersebut, saya merasa sekaranglah waktunya untuk memindahkan orang-orang kami dan pindah ke perumahan di dalam komunitas yang disasar. Telah menjadi kehormatan bagi keluarga saya untuk tidak pernah tinggal di komunitas biara Kristen selama karier misionaris kami. Siapakah sasaran audiens kita? Jika itu orang kaya, maka kecocokan gaya hidup dengan mereka cukup baik menurunkan ini sebagai sebuah masalah. Namun sebuah pelayanan kepada orang miskin memperburuk rumitnya proses identifikasi. Tampaknya bijaksana bagi saya untuk masuk ke sebuah wilayah pelayanan sebagai seseorang dengan profil serendah mungkin. Kemudian, sesuai keperluan, semakin naik. Mereka yang datang pada tingkat yang lebih tinggi jarang berpindah ke bawah. Namun kestabilan emosi dan fisik yang baik sangatlah penting. Saya mengenal misionaris-misionaris yang bersiteguh dalam kesederhanaan hanya untuk dipaksa pulang hancur dalam pikiran dan tubuhnya. Skenario seperti itu tidak menguntungkan siapa pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Dukungan Para Pelayan Lokal===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang Barat seringkali berorientasi pada hasil. Mereka berpendapat bahwa begitu lebih banyak yang bisa dicapai dalam pelayanan pendirian gereja dengan menempatkan orang lokal yang dibayar. Mereka mengenal orang-orang, menguasai bahasa mereka, dapat hidup sederhana, dan setuju untuk melakukan tugas yang diberikan kepada mereka oleh penyokong keuangan mereka. Hasil yang lebih banyak dengan lebih sedikit. Apa yang lebih baik daripada itu? Nah...beberapa hal bisa lebih baik. Ketergantungan (karena selama uang terus ada) ada di tingkat yang tertinggi. Saya bisa memberi banyak ilustrasi kemarahan warga negara yang mengutuk orang asing ketika dia menutup katup pendanaan asing. Lalu ada persepsi tentang pelayan di sebagian penduduk Kristen lokal, yaitu, sasaran audiens. Mereka meremehkan penyebar “agama asing” yang hanyalah penjaja bayaran, melakukan penawaran orang ekspat dengan uang yang banyak. Masalah-masalah ini mengecilkan hati. Dalam pengalaman misi saya sendiri, tim saya menemukan beberapa cara untuk mengatasi masalah ini.Salah satu cara progresif bagi tim kami adalah untuk meminta pinjaman dari orang percaya berlatar belakang M (M Background Believer-MBB) dari Operation Mobilization (OM). Penginjil berkualitas ini mengenal M dan dia mengenal orang-orangnya, termasuk cerita rakyat mereka. Dia dan keluarganya hidup sederhana, seperti kami orang Barat juga berusaha untuk melakukannya. Dan yang terbaik dari semuanya, kami adalah rekan dalam pelayanan. OM memberi keluarga itu dengan uang saku, sehingga menjadi sumber pendanaan yang lebih tidak langsung. Karena kompetensinya, kami tidak pernah mendengar M menyebut dirinya penunjukan “penjaja.” Dalam wilayah geografis itu tidak pernah ada seorang M yang datang kepada Kristus. Saat ini di sana ada lebih dari 660 MBB. Orang percaya nasional ini adalah busi yang membuat semuanya terjadi.Di Filipina, kami memiliki hak istimewa untuk bekerja dengan gereja-gereja yang mau terlibat dalam pendirian gereja diantara penduduk. Menyenangkan untuk melihat orang-orang Kristen Filipina terlibat, tidak hanya untuk pergi, tetapi juga untuk mendukung. Sangat menggetarkan hati untuk melihat Gereja Tionghoa-Filipina mengambil tanggung jawab keuangan untuk para penginjil non-Tionghoa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Permasalahan Lain===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun bagaimana dengan permintaan pinjaman yang tak henti-hentinya di negara-negara tertentu yang sangat miskin? Selama bertahun-tahun, saya menyerah kepada permohonan-permohonan itu. Sayangnya, saya kehilangan keduanya, uang dan “teman-teman.” Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menutup bisnis pinjaman dan hanya memberi hibah. Jumlahnya ditentukan berdasarkan kebutuhan, saran dari orang lain, dan yang terakhir, tapi bukan yang terkecil, dengan berdoa. Sebanyak mungkin, saya berusaha untuk tetap sinkron dengan yang diberikan oleh komunitas sekitar...dan ditambah sedikit karena saya, bagaimanapun, adalah orang asing yang kaya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan akhirnya, kembali ke Gary. Saat dia menghadapi orang-orang percaya baru itu, dia menyadari baju pemberiannya akan berakibat tiga hal: 1) membuat anak-anak mereka hangat; 2) tanda bagi orang-orang M yang sedang melihat bahwa tiga orang ini telah mengkhianati agama dan masyarakat demi keuntungan material; 3) mengaktifkan sindrom ketergantungan yang tidak hanya akan memperlambat kehidupan rohani mereka, tapi juga menghalangi, jika tidak membatasi, gerakan bagi Kristus di masa yang akan datang di wilayah itu. Semua yang di atas dikomunikasikan dengan rendah hati kepada orang-orang yang sedang berdiri di depan Gary dengan penuh harap. Mereka diyakinkan dengan kemampuan Allah yang menjawab-doa untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tanpa banyak antusiasme, mereka kembali ke desa mereka yang beberapa mil jauhnya. Gary berdoa banyak selama minggu berikutnya. Ketika mereka datang lagi, mereka dengan sukacita memberitahu bagaimana Tuhan memenuhi kebutuhan mereka dan bahwa segalanya baik sekarang. Dalam dekade berikutnya ketiga pria ini menjadi fondasi untuk sebuah kelompok yang sekarang lebih dari 500 orang percaya yang dibaptis. Di wilayah itu, ketergantungan dana asing telah minim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada satu ukuran yang cocok untuk semua. Akan diperlukan lebih banyak pelaksanaan pencobaan dan adaptasi dalam konteks masing-masing. Namun saya yakin bahwa ini harus menjadi pelita pembakar di depan dalam pembahasan misiologis kami. Pendekatan kami menentukan apakah kita sedang membangun fondasi di atas batu atau di atas pasir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Pelajaran_15&amp;diff=710</id>
		<title>Pelajaran 15</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Pelajaran_15&amp;diff=710"/>
		<updated>2013-12-18T14:54:55Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Perspektif&amp;quot; yang  telah Anda dapatkan dalam kursus ini memberikan sudut pandang dari mana Anda dapat melihat Allah Anda sedang mencapai tujuan-Nya. Anda sekarang dapat melihat bagaimana tangan Allah bergerak cepat karena Anda telah mengamati Zaman Dahulu yang mengungkapkan rencana-Nya melalui semua sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga membantu Anda melihat apa yang belum terlihat. Anda dapat berdoa, bahkan ketika Anda tidak melihat jawabannya segera, karena Anda dapat melihat kemuliaan-Nya datang seperti fajar pada setiap orang dan kota. Anda mungkin tidak akan pernah dapat membaca Alkitab dengan sudut pandang berpusat pada diri lagi. Anda akan melihat Kristus, dan Dia dimuliakan dimanapun Anda melihat. Dia mungkin belum dihormati, atau bahkan disebutkan, tetapi Anda dapat melihat hari-Nya sepasti Abraham melihat Ishak datang. Sekarang Anda tahu pelebaran kerajaan-Nya bisa terlihat dalam gereja-gereja baru, komunitas yang diubahkan dan pendamaian antarbangsa. Anda telah menelusuri fakta-fakta yang secara angka mengenai pelebaran kerajaan-Nya. Lebih banyak orang yang masuk ke dalam berkat  ketuhanan –Nya daripada sebelumnya. Anda bisa merasakan perang rohani berkecamuk, tetapi Anda dapat melihat kedatangan kemuliaan -Nya. Ya, Anda melihat hal-hal secara berbeda sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajaran ini adalah tentang bagaimana visi  dapat mengintegrasikan hidup Anda bagi  tujuan global-Nya. Kita akan belajar tentang peran penting dari pengutus dan pekerjaan khusus mobilisasi. Kami akan menandai jalur untuk menjadi misionaris yang efektif. Kita akan menemukan nilai kemitraan yang strategis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang Anda telah memiliki perspektif tentang Gerakan Dunia Kristen, maka Anda tidak bisa hanya menjadi penonton. Langkah ke dalam gerakan. Allah memberi Anda suatu tempat dan sebuah peran. Ketika Tuhan memanggil orang-orang, Ia tidak memanggil mereka untuk pergi dari Dia ke tempat yang jauh. Tuhan selalu memanggil hamba-Nya lebih dekat kepada-Nya. Dia mungkin akan memanggil Anda untuk menjadi lebih dekat kepada-Nya ketika Dia bekerja di antara orang miskin di Kairo, atau pemeluk Hindu Delhi, atau kaum M Jakarta. Dia mungkin memanggil Anda untuk bersamaNya di saat Dia memperbaharui gereja-Nya di Amerika untuk memiliki iman yang beresiko dan harapan yang berkobar. Anda mungkin tidak tahu ke mana Anda akan pergi, atau apa yang Dia ingin untuk Anda lakukan bertahun-tahun dari sekarang, tetapi Anda mengenal Dia yang telah berjanji untuk memnuhi bumi dengan kemuliaan. Anda telah menggenggam tujuan di mana Dia telah mencurahkan segenap hati-Nya sendiri. Anda bebas untuk mengikuti-Nya dengan harapan sepenuh hati yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Kerja Tim&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya pahlawan yang bertindak sendirian hanyalah gambaran atau fiksi. Kisah nyata dari pencapaian dan prestasi selalu terungkap sebagai kisah kerja tim. Di dalam Kristus, kehidupan seseorang diperkaya dengan orang lain. Satu-satunya cara untuk bertukar ilusi ketenaran dan kepentingan diri sendiri bagi anugerah kebesaran dan berkat Allah adalah dengan berjalan dalam kemitraan dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Mempelajari pelajaran ini akan membantu Anda:&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*	Menggambarkan apa artinya menjadi seorang Kristen Dunia.&lt;br /&gt;
*	Menjelaskan apa yang dimaksud dengan &amp;quot;gaya hidup masa perang &amp;quot;dan mengapa penting bagi orang Kristen untuk menyesuaikan gaya hidup mereka bagi alasan global Kristus.&lt;br /&gt;
*	Menjelaskan disiplin dan praktek-praktek khusus yang membantu orang Kristen Dunia memperoleh kehidupan bermakna yang  strategis di dalam tujuan Allah.&lt;br /&gt;
*	Menjelaskan berbagai cara yang orang-orang percaya biasa dapat mengambil inisiatif untuk terlibat dengan tujuan Allah yang lebih besar, melampaui peran misionaris tradisional dan pengutus yang berdoa dan memberi.&lt;br /&gt;
*	Menjelaskan faktor-faktor yang berkontribusi bagi misi jangka pendek yang dilakukan dengan baik.&lt;br /&gt;
*	Menjelaskan integrasi bisnis dan misi dan beberapa tantangannya yang unik.&lt;br /&gt;
*	Mengidentifikasi beberapa cara yang paling berguna untuk menentukan apa yang mungkin menjadi kontribusi terbaik untuk misi global Allah.&lt;br /&gt;
*	Menjelaskan nilai strategis menjangkau pengunjung internasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Orang_Miskin_Perkotaan:_Siapakah_Kami%3F&amp;diff=709</id>
		<title>Orang Miskin Perkotaan: Siapakah Kami?</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Orang_Miskin_Perkotaan:_Siapakah_Kami%3F&amp;diff=709"/>
		<updated>2013-12-18T14:54:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{viv grigg}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Dari Cry of the Urban Poor, 1992, MARC Publications. Digunakan dengan ijin dari penulis.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana jika ukuran populasi dunia M atau Hindu berlipat ganda setiap sepuluh tahun? Selanjutnya, seandainya blok populasi ini ditemukan sebagai kalangan di antara yang paling responsif terhadap Injil di dunia? Bagaimana ini akan memengaruhi strategi misi Kristen kita sekarang? Apakah kita akan menerima tantangan itu? Jawabannya adalah “Ya!” yang dramatis. Namun jumlah penghuni liar perkotaan dan penghuni kawasan kumuh di kota-kota besar dunia merupakan sebuah blok besar seperti M ataupun Hindu; jumlahnya berlipat ganda setiap dekade, dan semua indikator menunjukkan itu merupakan sebuah kelompok yang responsif.Secara logis, misionaris harus mengayun strategi mereka untuk menjadikan kelompok-kelompok ini sebagai target prioritas mereka. Sebagian besar orang yang pindah ke kota-kota-mega akan pindah ke kawasan kumuh (Bangkok), daerah kumuh (Manila), kota-kota kumuh (Afrika Selatan), &#039;&#039;bustees&#039;&#039; (India), &#039;&#039;bidonvilles&#039;&#039; (Maroko), &#039;&#039;favelas&#039;&#039; (Brasil), &#039;&#039;casbahs &#039;&#039;(Aljazair), &#039;&#039;ranchitos&#039;&#039; (Venezuela), &#039;&#039;ciudades perdidas&#039;&#039; (Meksiko) dan &#039;&#039;barriadas&#039;&#039; atau &#039;&#039;pueblos jovenes&#039;&#039; (Peru). Saya akan menjelaskan ini secara umum dengan istilah daerah liar. Hal-hal ini cenderung menjadi harapan pemukiman kumuh. Penghuni mereka telah datang mencari pekerjaan, menemukan beberapa tanah kosong dan lama kelamaan menjadi mapan. Mereka membangun rumah mereka, mencari pekerjaan dan mengembangkan beberapa hubungan komunal yang serupa dengan yang ada di desa-desa asal mereka. Dalam harapan pemukiman kumuh, kekuatan-kekuatan sosial dan pengharapan-pengharapan menciptakan tingkat penerimaan yang tinggi terhadap Injil.Misi hari ini harus menjangkau suku terakhir dan memenuhi komitmen awal bagi orang miskin perkotaan. Namun strategi misi yang baru harus juga berfokus pada titik penting peperangan rohani untuk kota-kota-mega. Dalam sasaran yang luas ini, misi untuk orang miskin perkotaan menjadi target sentral, karena mereka adalah korban utama penindasan dan kejahatan kota-kota-mega dan negara-negara bangsa. Mereka terbayang besar di dalam hati Allah. Di antara kelompok orang yang paling banyak dijangkau hari ini adalah orang-orang pindahan yang miskin yang telah berpindah ke kota dan hidup dalam komunitas daerah liar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama 40 tahun terakhir, sekitar dua milyar orang lebih telah pindah dari daerah pedesaan ke kota-kota. Dalam 10 tahun ke depan, 500 juta yang lain akan naik bus dengan banyak barang datang ke kota-kota. Bagi sebagian besar dari mereka, langkah pertama adalah masuk ke daerah liar, yaitu pusat dari kegelapan besar dan kegiatan setan. Antara tahun 1950 dan 1980, pertumbuhan perkotaan di kota-kota mega Dunia Ketiga naik dari 275 juta menjadi hanya di bawah satu milyar. Pada tahun 2000, hampir dua kali lipat mencapai lebih dari 1,85 milyar. Dimana pun bisa ditemukan lahan, gubuk dan tempat tinggal dari kayu akan didirikan. Sedikit pemerintah yang memiliki kapasitas untuk mencegahnya atau untuk melayani kebutuhan orang-orang yang berdatangan itu. Bahkan Amerika Serikat tidak dapat kebal ketika ekonominya melemah. Beberapa yang paling miskin dari orang miskin tinggal di rumah-rumah lumpur di jalanan kota Dhaka yang modern di Bangladesh. Di kota yang berpenduduk lebih dari 12 juta orang ini, diperkirakan 3,5 juta tinggal di lebih dari 3.000 kawasan liar. Karena kurangnya bahan baku dan faktor-faktor lainnya, ada sedikit kemungkinan bagi pertumbuhan industri kota untuk mengikuti gelombang migrasi itu. Hampir semua pertumbuhan penduduk dunia dalam dekade berikutnya akan ada di kota-kota. Penduduk pedesaan akan cenderung tetap pada tingkat saat ini. Biasanya ada satu kota-mega per negara. Sebuah kota-mega cenderung menguras sumber daya dari seluruh negerinya. Birokrasinya mengunci potensi bagi pertumbuhan di kota-kota yang lebih kecil. Kota terbesar berikutnya, lazimnya, hanya 10% dari ukuran kota-mega. Chiang Mai, kota terbesar kedua di Thailand, misalnya, 30 kali lebih kecil daripada Bangkok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Harapan di Tengah-tengah Keputusasaan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang teman saya, seorang pengusaha Kiwi, bertanya kepada dua orang di jalanan di Calcutta, “Bisnis apa yang akan kamu kerjakan jika kamu melakukannya di jalanan?” Mereka menjawab, “kami akan mendirikan warung teh.” Beberapa pembicaraan lebih lanjut mendatangkan sebuah kesimpulan bahwa yang pantas adalah untuk mendapatkan $100. Untuk mendapatkan jalanan yang tidak ditempati membutuhkan waktu 10 hari pencarian. Mereka hanya harus membayar polisi sebesar dua rupee yang wajar setiap hari untuk perlindungan, namun membayar mafia lokal memotong keuntungan mereka sampai nol. Tidak mampu membayar mafia, maka anggota keluarga akan dipukuli. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kota Sukacita===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Calcutta, oh Calcutta! Sebuah kota dimana kuasa kegelapan telah mendapatkan begitu banyak kontrol atas kepemimpinan politik dan peradilan sehingga hanya kegelapan yang berlaku, dan mafia menguasai masyarakat kota. Kemiskinan dan kejahatan menang dan menempati kehidupan orang-orang biasa sampai mereka tidak betah dengan penderitaan. Calcutta dikenal sebagai “Kota Sukacita” karena sebuah novel karya Dominique Lapierre yang dengan jelas melukiskan penghuni perkotaan yang miskin merayakan kehidupan yang bermartabat di tengah-tengah ketidakadilan yang menyiksa. 1&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Calcutta memiliki lebih banyak kemiskinan dan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi daripada kota lain di dunia. Saya menyusuri jalanan, dan satu sosok seperti hantu yang kurang makan, bayi di gendongan, mengejar saya memohon, memohon. Ada empat dari mereka yang berjuang setiap hari di wilayah ini. Seorang yang diamputasi gemetar memegang cangkirnya di sudut; seorang pria tua tergeletak di jalan yang lebih jauh, hampir mati. Pada tahun 1981, Geoffrey Moorehouse memperkirakan bahwa ada 400.000 orang laki-laki di kota tanpa pekerjaan.2 Sensus tahun 1981 menyebutkan di angka 851.806. Tapash Ganguly berkomentar bahwa, di tahun 1985, mungkin tidak ada kota lain yang memiliki satu juta pemuda berpendidikan yang terdaftardi pertukaran pekerjaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kemiskinan di seluruh India, namun tidak ada kemiskinan pada skala Calcutta. Di luar pengemis, ada 48.000 sampai 200.000 orang yang tinggal secara permanen di jalanan. Sebuah survei pada tahun 1980-an menunjukkan bahwa dua per tiga dari mereka memiliki beberapa jenis pekerjaan biasa, sedangkan 20% adalah pengemis. Sebagian besar memiliki beberapa jenis pekerjaan paruh waktu atau mendapatkan uang dengan berjualan sayuran, kertas, kayu bakar dan barang sisa. Pertanian dan kerajinan kecil, bukan manufaktur yang besar atau modern, adalah (dan masih) pekerjaan utama masyarakatnya. Sebanyak 80% dari perluasan permukaan tanah seluas 1.350 kilometer persegi, ada 3,15 juta &#039;&#039;bustee&#039;&#039; dan penghuni kawasan kumuh. 4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada tingkat kemiskinan yang masih lebih rendah daripada yang dialami oleh pengemis, orang yang tinggal di jalanan, atau penghuni &#039;&#039;bustee&#039;&#039;, yaitu kemiskinan orang yang mendekati kematian. Sekarat terlihat di sepanjang jalanan. Seorang pria tua, matanya menatap kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa orang yang lewat meninggalkan sedikit uang receh. Sebuah kunjungan bersama &#039;&#039;Brothers of Charity &#039;&#039;kepada orang-orang yang tidur di jalanandi bawah jembatan layang yang belum selesai dibangun. Sebuah permohonan menyedihkan dari seorang ibu penuh uban menggigil hebat kena demam meminta beberapa uang receh untuk membeli obat. Di belakangnya, dua anak laki-laki yang gendut perutnya saja menunjukkan gizi buruk tingkat pertama mereka. Tuntutan sehari-hari Calcutta yang kita hadapi bukan hanya kemiskinan, bukan hanya ketidakmanusiawian, tetapi juga wajah pucat menjelang ajal ini. Beban meningkat karena mengetahui bahwa kelekatan yang terlalu dalam pada kemiskinan yang terus-menerus diduga mengakibatkan lima kali dari jumlah orang keluar dari tanah pedesaan di generasi berikutnya. Kenyataannya adalah di sana tidak ada lagi lahan, tidak mungkin lagi ada pembagian pertanian. Produktivitas pertanian yang meningkat hanya akan menambah migrasi, karena akan meningkatkan jumlah anak-anak yang hidup tanpa memperbaiki kualitas kehidupan pedesaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertengkaran terus-menerus dari para politikus Benggala adalah kematian bagi orang-orang miskin ini, juga merupakan terlepasnyaekonomi yang diperkenalkan oleh sebuah pemerintahan negara Marxis teoritis – dalam kenyataan sebuah dominasi terus berlanjut oleh kelas penguasa yang kaya.Belenggu abadi kasta dan budaya Hindu menambah kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perbedaan Antara Orang Miskin Perkotaan Dunia Pertama dengan Dunia Ketiga===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan menjadi sebuah kesalahan untuk mempertimbangkan bahwa orang miskin hanya dapat ditemukan di daerah kumuh atau kawasan liar. Atau bahwa orang-orang di pemukiman kumuh pastilah semuanya miskin. Kumuh dan kemiskinan tidak dapat disamakan. Dan bahkan di kalangan orang miskin, ada struktur kelas atau peringkat. Lalu apa hubungan antara penghuni kawasan liar dengan kemiskinan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas kemiskinan adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kemiskinan ketika orang tidak memiliki kecukupan mutlak untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka, yaitu pangan, sandang, tempat tinggal. Sesungguhnya, banyak yang berada dalam kemiskinan mutlak kelaparan sampai mati. Di dalam kategori ini ada banyak tingkat. Misalnya, kita bisa berbicara tentang gizi buruktingkat satu, dua dan tiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri-ciri Kemiskinan Dunia Pertama dan Dunia Ketiga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{|class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
!Dunia Pertama	&lt;br /&gt;
!Dunia Ketiga&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Relatif sedikit dalam masyarakat&lt;br /&gt;
|Persentase populasi yang signifikan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Objek diskriminasi&lt;br /&gt;
|Berawal di kelas bawah dan menengah&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Mobilitas meningkat yang sulit&lt;br /&gt;
|Mobilitas meningkat dari akar perkotaan dan pedesaan&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Mobilitas Pekerjaan yang terbatas&lt;br /&gt;
|Tenaga kerja yang fleksibel dan adaptif&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Sulit untuk mendapatkan pekerjaan tetap&lt;br /&gt;
|Generasi kerja yang berinflasi sendiri&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|Kemiskinan/kesejahteraan “yang pasti”	&lt;br /&gt;
|Pencarian nafkah sehari-hari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
Kemiskinan relatif ditemukan di negara maju dan diukur dengan melihat pada standar hidup seseorang yang relatif terhadap yang lain dalam komunitas atau bangsanya. Hal ini kadang-kadang disebut kemiskinan sekunder. Kemiskinan relatif adalah ukuran sejauh mana orang berada pada batasan masyarakat. Ukuran kemiskinan relatif atau sekunder ini sering dalam pengertian bukan pada tingkat materi atau ekonomi, namun pada kapasitas untuk memiliki dan membeli barang dan jasa dan memiliki peluang untuk pengembangan. Hal ini seringkali merupakan sebuah pengecualian dari peluang dan partisipasi, sebuah batasan dari masyarakat. Status batasan ini dikaitkan dengan dan disebabkan oleh (atau penyebab dari) standar hidup materi yang rendah dalam hubungan untuk menghadirkan perspektif sosial tentang bagaimana seseorang harus hidup dengan baik. Untuk tidak memiliki mobil di kota New Zealand, misalnya, berarti dia miskin dan sangat tidak mampu berperan dalam masyarakat. Hal ini tidak berlaku di Lima, Peru. Sebuah studi Organisasi Tenaga Kerja Internasional memakai ukuran dari pendapatan untuk menetapkan garis standar kemiskinan, membagi pendapatan total dalam negara dengan populasinya, sehingga menentukan tingkat relatif ini terhadap yang lain di dalam negara. Jadi ketika berbicara tentang kemiskinan di kawasan liar di Dunia Ketiga, kita secara umum berbicara tentang sesuatu yang muncul pada sebuah tingkat yang bahkan tidak terlihat diantara orang miskin di negara Barat. Kelas menengah Calcutta lebih miskin daripada orang miskin di Los Angeles.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Definisi kemiskinan juga adalah, lebih luasnya, sebuah masalah historis yang terus ada. Orang miskin di Manila tidaklah semiskin seperti kelas menengah di Inggris bahkan 400 tahun yang lalu. Namun mereka miskin dibandingkan dengan kelas menengah di negara mana pun di dunia saat ini. Definisi kemiskinan kita telah berubah dengan ketersediaan teknologi yang memungkinkan kita untuk menikmati hidup yang lebih sehat dan lebih bahagia.Kemiskinan juga dapat didefinisikan dalam pengertian dari bisa menjadi apa manusia dan masyarakatnya, dalam hal visi di masa depan dari gaya hidup yang wajar, atau ideal. Ahli Alkitab baru-baru ini menyatukan definisi mereka seputar tema shalom di Perjanjian Lama – damai yang keluar dari sebuah masyarakat yang adil dan aman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Keputusasaan Orang Kumuh, Harapan Orang Kumuh===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karakteristik fisik dan budaya dari setiap masyarakat liar berbeda dari satu negara kenegara lain. Namun proses yang menghasilkan mereka dan kejahatan yang ada adalah universal di antara kota-kota besar di negara-negara Dunia Ketiga. Kita perlu membedakan antara pusat-kota kumuh yang ada dengan komunitas liar yang baru, karena yang terakhir itu adalah yang lebih sering dijangkau dengan Injil. Pusat-kota kumuh adalah rumah-rumah petak yang membusuk dan tempat tinggal dimana dulunya ada penduduk kelas menengah dan atas yang baik. Mereka mungkin dilukiskan sebagai keputusasaan daerah kumuh, menarik mereka yang telah kehilangan keinginan untuk berusaha dan mereka yang tidak bisa mengatasi. Namun di sana juga ada imigran baru, tinggal dekat kesempatan kerja, dan ribuan mahasiswa, mencari mobilitas ke atas pendidikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Sao Paulo, sekitar setengah dari imigran miskin yang datang ke kota itu pertama-tama mendapati tempat tinggal di &#039;&#039;favelas&#039;&#039;, atau kota-kota kumuh. Yang setengah lagi pindah ke corticos (perumahan pusat-kota yang mati), kemudian dalam empat tahun pindah turun ke dalam &#039;&#039;favelas&#039;&#039;. Di Lima disebut tugurios. Dalam keputusasaan perkumuhan kota-dalam ada sedikit perpaduan sosial, atau harapan positif untuk memfasilitasi respon untuk Injil. Karena itu adalah wilayah orang miskin yang lebih tua dari beberapa generasi yang berbuat dosa, mereka tidaklah responsif, dan karenanya bukan merupakan prioritas tinggi untuk perintisan gereja. Dalam hal respon, adalah lebih strategis untuk fokus pada kawasan liar, yang cenderung menjadi harapan bagi orang kumuh. Di sini, orang-orang telah menemukan pijakan ke dalam kota, beberapa lahan kosong, pekerjaan dan beberapa hubungan komunal yang mirip dengan &#039;&#039;barrio &#039;&#039;di rumah asal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Tugas ke Depan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ke dalam kondisi ini Yesus mengatakan, “Dan inilah hidup yang kekal, mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus yang telah Kau utus.” (Yoh 17:3). Konfrontasi hidup dan mati melibatkan bantuan, pengembangan, organisasi, dan politik. Namun sebagaimana Francis Xavier yang brilian (seorang misionaris perintis untuk Asia) belajar di awal kehidupan, masalah dunia ini tidak ditentukan oleh politik dan kekuatan, namun oleh misteri anugerah dan iman. Dalam khotbah salib datangnya pemenang atas kematian yang lambat melanda kota itu. Akhirnya pastilah gerakan orang-orang benar yang bisa mengubah turun naiknya makanan. Pertanyaannya adalah bagaimana menghasilkan gerakan pemuridan di kalangan orang-orang miskin ini dan kemudian di kalangan orang kaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendefinisikan kemiskinan, jenisnya, penyebab, dan respon yang potensial, merupakan langkah yang penting dalam proses menghasilkan gerakan tersebut. Sebuah pemahaman tentang luasnya kebutuhan dan lingkup respon yang potensialmemungkinkan kita untuk membayangkan baik pada teologi – yaitu, respon-respon Allah – maupun pada kemungkinan strategis untuk diterapkan saatkita berjalan bersama Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Guntur_yang_Jauh:_Bangsa_Mongol_Mengikuti_Khan_(Raja)_di_atas_segala_Khan_(Raja)&amp;diff=708</id>
		<title>Guntur yang Jauh: Bangsa Mongol Mengikuti Khan (Raja) di atas segala Khan (Raja)</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Guntur_yang_Jauh:_Bangsa_Mongol_Mengikuti_Khan_(Raja)_di_atas_segala_Khan_(Raja)&amp;diff=708"/>
		<updated>2013-12-18T14:54:49Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{brian hogan}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada abad ke-13, suku-suku Mongol, disatukan di bawah Jenghis Khan, bergemuruh melintasi padang rumput Asia Tengah yang luas dan meneror dunia yang dikenal. Dalam waktu singkat, penunggang kuda ini telah mengukir sebuah kerajaan kerdil gabungan Cyrus dan Caesar. Kerajaan Mongol tidak bertahan lama. Bangsa Mongol memeluk Budha Tibet dan menjadi sebuah pedalaman yang mundur diperintah oleh penggantian dinasti-dinasti Tiongkok. Pada tahun 1921, Sebuah revolusi Komunis mengubah Mongolia menjadi negara satelit Soviet “independen” yang pertama. Semua misionaris diusir sebelum ada gereja yang didirikan, dan kegelapan Komunisme menyelimuti negara yang “tertutup”ini.Mongolia adalah salah satu dari sangat sedikit negara di bumi tanpa gereja dan tanpa orang percaya nasional yang diketahui. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pintu Mulai Terbuka===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah 70 tahun tertutup dari dunia luar, Mongolia memperoleh kebebasan dan kemerdekaan bersama dengan negara-negara blok Soviet lainnya di awal tahun 1990, dan pertahanan Setan terhadap Injil menjadi runtuh. Strategi-strategi kreatif memicu awalnya. Sebuah tim terdiri dari orang-orang percaya Amerika asli memasuki Mongolia sebagai wisatawan di tahun 1990. Kunjungan mereka menghasilkan banyak minat di antara orang Mongol dan bahkan menarik perhatian pers nasional. Di akhir kunjungan kedua mereka di tahun 1991, mereka telah membaptis di depan umum 36 orang percaya Mongol yang baru. Pemandangan rohani Mongolia tidak pernah akan sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasangan muda Swedia, Magnus dan Maria, datang ke Mongolia berniat untuk mendirikan gereja. Ketika mereka mulai mempelajari bahasa di ibu kota, Ulaan Baatar, pertemanan pun berkembang dengan orang-orang percaya Mongolia yang baru dan sangat muda di gereja-gereja berkembang di kota itu. Maria dan Magnus mengadakan beberapa penggerebekan sampai ke Erdenet, kota terbesar ketiga di Mongol, dengan tim penginjilan Mongolia jangka pendek dari sebuah gereja di ibu kota Ulaan Baatar. Perjalanan-perjalanan ini menghasilkan 14 gadis remaja yang meresponi ajaran tentang iman dan pertobatan. Magnus membaptis murid-murid yang pertama ini pada Januari 1993, awal dari gereja di Erdenet. Empat belas gadis muda – bukan awal yang sangat menguntungkan. Persekutuan yang baru membutuhkan bantuan di-tempat jika ingin bertumbuh menjadi sesuatu yang lebih. Pada bulan Februari, pasangan muda itu pindah ke Erdenet ditemani oleh salah satu murid terbaik di kelas bahasa Inggris mereka, orang percaya perempuan Mongolia berusia 19 tahun bernama Bayaraa. Ketika Magnus dan Maria melayani bersama dan memuridkan Bayaraa, hubungan mereka menjadi sepertisebuah jembatan dwi-budaya yang efektif. Magnus dan Maria memperoleh wawasan yang penting ke dalam budaya Mongolia yang menuntun pelayanan mereka. Bayaraa adalah seorang penginjil yang alamiah. Apa yang dia pelajari tentang Yesus dan Alkitab dari Magnus dan Maria, dia langsung gunakan untuk mengarahkan banyak orang kepada Tuhan. Para murid dengan cepat dikelola menjadi tiga kelompok yang bertemu di rumah-rumah. Mereka berkumpul untuk berdoa, bersekutu dan mengajar dalam suasana mendukung dan keadaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sejak awal mereka telah diajar untuk menaati perintah sederhana Tuhan Yesus Kristus. Mereka belajar untuk mengasihi Allah dan sesama, untuk berdoa, memberi dengan murah hati, bertobat dan percaya, membaptis, merayakan Perjamuan Tuhan dan untuk mengajar orang lain untuk mengasihi dan menaati Yesus. Ketika gadis-gadis itu membawa teman-teman mereka kepada Kristus, kelompok itu menjadi berlipat ganda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Magnus tidak bisa memimpin meningkatnya jumlah kelompok, orang-orang percaya yang begitu aktif dan setia diperlengkapi dan dilepaskan ke dalam kepemimpinan. Setelah beberapa waktu, mereka memulai sebuah perkumpulan yang lebih besar, “Ibadah Perayaan,” sebulan sekali untuk mengumpulkan kelompok rumah-rumah untuk ibadah dan persekutuan gabungan. Setelah satu tahun, jumlah pengikut Kristus yang dibaptis telah bertumbuh menjadi 120 – hampir semuanya adalah gadis remaja! Ini bukanlah gereja multigenerasi dari seluruh keluarga yang para pendiri gereja impikan – ini separuhnya adalah kelompok orang muda. Setelah satu tahun belajar bahasa di Ulaan Baatar, istri saya Louise, ketiga anak perempuan kami dan saya pindah ke Erdenet bergabung dengan Magnus, Maria, dan Bayaraa. Setahun kemudian, orang-orang lain dari Rusia, Amerika, dan Swedia bergabung dalam jajaran tim kami. Selain tiga anggota Korps Perdamaian, tim kami adalah kehadiran asing satu-satunya dari Erdenet – kami sama sekali berbeda. Kami berusaha untuk bekerja dari balik layar sehingga gerakan akan terlihat kepemimpinan Mongolia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Terobosan Menuju Arus Utama===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menyadari bahwa gadis-gadis remaja bukanlah fondasi terbaik untuk memulai sebuah gerakan gereja. Pada saat itu, bagaimanapun, kaum muda bukanlah satu-satunya yang merespon dimana saja di Mongolia. Jadi kami bekerja dengan hasil yang Tuhan berikan dan berdoa untuk sebuah terobosan untuk mulai menjangkau seluruh keluarga. Kami mendirikan “penatua sementara” (dimulai dengan dua orang yang lebih muda dan Bayaraa) untuk memulai proses yang memungkinkan kepemimpinan gereja gaya Mongolia untuk berkembang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Terobosan Hubungan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada perbedaan yang besar antara kaum muda kami, lingkaran teman-teman perkotaan kami dan jantung masyarakat tradisional Mongolia yang berorientasi pada keluarga. Tiga kota Mongolia adalah relatif baru dan menetapkan struktur sosial perkotaan berlapis oleh Komunisme terhadap sebuah masyarakat kesukuan yang nomaden – dan struktur sosial nomaden terlihat oleh semua sebagai lebih sah dan otentik dari keduanya. Bahkan para petobat kami sebelumnya memiliki kesan bahwa Injil tidaklah relevan untuk “orang Mongol yang asli.” Meskipun Mongolia 50% telah menjadi masyarakat perkotaan, bagi pengertian orang Mongol, “orang Mongol yang asli” adalah penggembala berkuda dan penghuni gher (tenda-tenda bundar tradisional bulu kempa). Seorang remaja perkotaan bertumbuh besar di sebuah bangunan apartemen yang tidak pernah duduk di atas kuda bukanlah seorang Mongolian asli. Injil akan terlihat hanya sebagai impor luar negeri, seperti Coca Cola, jika itu hanya dianut oleh penghuni kota. Jika Yesus hendak “menjadi orang Mongolia,” Dia perlu untuk masuk ke dalam kehidupan para penggembala nomaden. Sebuah tim jangka pendek berkunjung untuk berdoa bagi orang yang sakit di beberapa gher tradisional di pinggiran kota. Allah menjawab doa secara dramatis. Orang lumpuh, orang tuli, orang bisu, dan orang buta semuanya sembuh, dan beberapa setan diusir.Penyembuhan-penyembuhan ini memberikan sebuah segel keaslian yang diakui oleh orang-orang Mongol yang lebih tua. Berita itu tersebar dengan cepat sekali dan persekutuan diberi nutrisi dengan pertumbuhan dari kelompok segala usia di kota itu. Kaum muda perkotaan sangat terkejut bahwa “orang Mongol yang asli” menjadi beriman. Dengan segera dua orang Mongol tradisional yang lebih tua bergabung dalam jajaran penatua-sementara kami. Ketika orang-orang ini, yang adalah kepala rumah tangga yang terhormat, mulai memimpin gereja-gereja rumah dan pelayanan, itu membuat perbedaan dalam mendapatkan kredibilitas bagi gerakan di dalam budaya yang lebih besar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Terobosan Pemahaman===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor kedua dalam penerimaan kabar baik yang tiba-tiba oleh orang Mongol tradisional adalah keputusan oleh tim kami dan “penatua-dalam-pelatihan” untuk mulai memakai istilah Mongolia “&#039;&#039;Borkhan&#039;&#039;” untuk mengacu kepada Allah di Alkitab. Beberapa abad sebelumnya, ketika para misionaris Budha Tibet tiba di Mongolia, mereka mengadopsi “&#039;&#039;Borkhan&#039;&#039;,” istilah generik Mongolia untuk “allah” bagi tujuan-tujuan mereka. Pada awal tahun 90-an, hampir semua orang percaya di Mongolia menggunakan istilah lain untuk Allah, &#039;&#039;Yertontsin Ezen&#039;&#039;, yang merupakan istilah yang sama sekali baru, yang dibuat oleh penerjemah dalam usaha untuk menghindari kebingungan yang mungkin muncul atau sinkretisme dengan kepercayaan-kepercayaan agama Budha. Namun istilah yang baru, yang bisa diterjemahkan “Tuan atas Alam Semesta,” terdengar asing dan tidak asli di telinga Mongolia. Istilah itu tidak memiliki makna hakiki bagi mereka dan pada dasarnya adalah kata asing yang dibuat dari unsur-unsur Mongolia. Meskipun penatua-dalam-pelatihan Erdenet terbiasa menggunakan istilah &#039;&#039;Yertontsin Ezen&#039;&#039;, mereka memutuskan bahwa istilah tradisional &#039;&#039;Borkhan&#039;&#039; akan lebih tepat dan dapat diterima dan mampu diisi dengan makna berdasarkan Alkitab. Perubahan ini datang tepat waktu kepada orang banyak secara tiba-tiba terbuka, yang menyaksikan penyembuhan dan pembebasan. Allah yang melakukan keajaiban-keajaiban ini memiliki sebuah nama yang tidak terdengar seperti fiksi ilmiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mengembangkan Kepemimpinan Pribumi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama periode pertumbuhan yang meledak ini, tim kami sangat berhati-hati untuk berada “di balik layar,” memberikan pelatihan magang bagi penatua yang ada. Ada perhatian untuk melakukan segala sesuatu dengan cara-cara yang dengan mudah bisa ditiru – pembaptisan di bak mandi, lagu-lagu ibadah tidak diimpor, dll. Tim itu mengingat apa yang telah kami pelajari dari misionaris veteran George Patterson sebelum sampai ke Mongolia. Dia menuju ke intisari pemuridan, mengatakan, “Orang-orang diselamatkan untuk menaati Tuhan Yesus Kristus dalam kasih.” Kami memastikan perintah dasar Yesus diajarkan sedemikian rupa sehingga para murid dapat segera merespon dalam ketaatan. Gereja-gereja rumah memampukan, mendukung, dan mendorong praktek-praktek ini meresponi ajaran dari Firman Allah. Orang-orang percaya saling menolong melalukan Firman dan tidak hanya mendengarnya saja, seringkali menemukan cara bekerja sama untuk menaati secara bersama-sama. Namun ada masalah serius dari sudut pandang kami dimana norma-norma budaya masyarakat Mongolia bertentangan dengan beberapa ajaran moral di Kitab Suci. Penatua dalam pelatihan didorong menyelidiki Kitab Suci untuk mencari solusi bagi masalah dosa dalam gereja yang ada. Titik-titik buta budaya di daerah kemurnian seksual dan pacaran ditangani dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan, lalu mengajar dan melaksanakan hal-hal itu. Solusi yang dibuat oleh para pemimpin Mongol ini keduanya berdasarkan Alkitab dan benar secara budaya – jauh lebih baik daripada solusi yang mungkin dibuat oleh kami para misionaris. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja Mongolia yang muncul tampak jauh berbeda dari gereja-gereja rumah tim kami di Swedia, Rusia, atau Amerika. Drama dan kesaksian dengan cepat menjadi ciri-ciri yang menonjol dari pertemuan perayaan besar (yang diadakan awalnya satu atau dua kali sebulan sampai akhirnya seminggu sekali). “Tim drama” menulis dan membuat sandiwara mereka sendiri, drama dan tarian drama dari kisah-kisah Alkitab dan kehidupan keseharian orang Mongolia. Ini menjadi alat pengajaran dan penginjilan yang ampuh. Selalu disediakan waktu untu kesaksian dari “orang Mongolia yang asli” – sering orang-orang percaya yang baru dalam usia 60-an baru datang dari padang rumput yang luas. Kisah keselamatan yang panjang, dan bagi telinga orang Barat, bertele-tele, melingkupi persekutuan dalam ketakjuban dan kekaguman. Allah menggerakkan hati orang-orang mereka – berbalutkan Mongolia yang paling tradisional. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Afghanistan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiongkok&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja Induk Erdenet&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja Anak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja Cucu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menunjukkan batasan budaya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ekspansi Gerakan Erdenet*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang Mongolia Minoritas&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khalka Mongol&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah model tiga-generasi mewakili sebagian dari pembiakan perintisan gereja oleh tim YWAM di Erdenest, Mongolia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Penggambaran ini adalah sebagian. Ikon mewakili beberapa gereja di setiap lokasi. Lokasi tambahan dikeluarkan untuk kejelasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibadah muncul dari hati mereka ketika mereka menyanyikan lagu-lagu baru yang ditulis oleh orang-orang mereka sendiri dalam bahasa mereka sendiri dengan gaya musik yang unik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukanlah mode asing atau impor!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tim ekspatriat kami memusatkan usaha-usaha kami pada pemuridan, memperlengkapi dan melepas orang Mongol untuk memimpin dalam pembangunan gereja dan penjangkauan jiwa-jiwa yang terhilang. Sekolah pemuridan dibentuk dan di kelas ketiga seluruhnya dipimpin oleh orang Mongol. Dengan penekanan pada “belajar dengan melakukan,” para pemimpin baru dilatih secara lokal dalam pelayanan daripada diutus keluar. Kepemimpinan pertemuan-pertemuan rumah telah diserahkan kepada mereka hampir secara langsung, dan segera orang-orang percaya Mongol juga bertanggung jawab lebih banyak untuk ibadah-ibadah mingguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mengatasi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua kemajuan dan pertumbuhan ini tidak diabaikan oleh Si musuh. Bermula pada bulan November 1994, tim kami dan bakal gereja mengalami dua bulan penuh dengan serangan rohani yang tidak henti-hentinya: tiga kelompok kultus menyasar kota kami, gereja hampir terpecah, para pemimpin jatuh dalam dosa dan beberapa kerasukan setan. Tim kami menjadi semakin putus asa dan keluar.Akhirnya, dua kematian yang mendadak dan yang tidak bisa dijelaskan mengguncang tim misionaris dan gereja. Anak saya satu-satunya, Jedidiah, lahir pada 2 November. Di pagi hari Natal apartemen kami berdering dengan jeritan ketika Louise mendapati tubuh Jedidiah yang dingin dan tidak bernyawa– meninggal karena Sindrom Kematian Bayi yang Mendadak di usia dua bulan. Kami menguburkan anak kami dan serpihan hati kami dalam tanah yang beku di lereng bukit berangin di luar kota. Hari berikutnya seorang gadis muda meninggal karena sebab yang tidak diketahui. Sebagai respon, orang-orang percaya dan tim kami berkumpul selama 24 jam berdoa dan berpuasa. Pukul tiga dini hari, sebuah terobosan terjadi dan semua orang mengetahuinya. Gereja tidak pernah kewalahan oleh sebuah serangan peperangan rohani seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pertumbuhan yang Meledak===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu keindahan dari pertemuan di rumah-rumah adalah, sementara gereja-gereja lain di Mongolia sangat terhambat oleh pelecehan pemerintah, biasanya dalam bentuk pengusiran dari tempat-tempat pertemuan hari Minggu, gereja di Erdent tidak terpengaruh oleh perpindahan seperti itu – karena ibadah biasanya dilakukan di ruang keluarga di seluruh kota! Pertumbuhan terjadi di kelompok-kelompok rumah, dan bahkan berlangsung berbulan-bulan tanpa “ibadah perayaan” yang tidak membuatnya melambat. Ketika banyak gereja-gereja rumah berkumpul, dipersatukan dalam kehadiran Allah, orang-orang percaya dikuatkan, saat mereka melihat jumlah mereka terus bertambah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Awal Gerakan Pendirian Gereja===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sama menggembirakannya awal ini di Erdenet, ini masih semacam visi yang Allah telah berikan kepada tim kami. Kami menyadari pendirian satu gereja di satu kota tidak akan menjadi terobosan untuk menjangkau seluruh bangsa dan lain-lainnya. Kami menghendaki sebuah gerakan pribumi dan secara spontan melipatgandakan gereja di antara orang-orang Mongol, dan orang-orang percaya Mongol sendiri perlu ambil bagian dalam tujuan ini. Pada baptisan yang mula-mula, Magnus membagikan visi ini dengan tubuh Kristus yang baru: untuk menjangkau semua keluarga Erdenet dengan Injil, untuk mendirikan anak gereja di propinsi sebelah dan untuk menjangkau bangsa-bangsa di bumi yang belum terjangkau. Orang-orang percaya yang baru, tanpa tahu apa dan bagaimana, dengan penuh suka cita meresponi dengan sangat antusias. Kami melatih semua murid untuk melihat gereja sebagai organisme yang hidup bukannya sebuah organisasi – “gereja induk” yang sehat-lah yang akan berkembang biak menjadi gereja anak dan gereja cucu. Para pemimpin dilatih untuk melanjutkan visi itu – “Allah ingin merintis gereja-gereja baru melalui gereja kami”- di hadapan para anggota. Sekitar satu setengah tahun perkembangan gereja, “para pemimpin sementara” Mongol memutuskan untuk dengan sopan menolak dana lagi dari gereja-gereja pendukung luar negeri. Dana itu telah digunakan untuk memberi gaji pekerja gereja Erdenet untuk sekitar satu tahun. Jemaat mereka sendiri, telah diajar untuk menuruti perintah Yesus untuk memberi dengan murah hati, sekarang memenuhi semua kebutuhan gereja dengan persembahan lokal. Jika gereja asing bersikeras mengirimkan dana, mereka memutuskan untuk memakainya bagi pembangunan gereja-gereja “anak” dengan pemahaman bahwa ini juga hanya untuk sementara. Selama tahun kedua gereja, para penatua mengutus tim dan mendirikan gereja anak di sebuah kota yang berjarak 60 km jauhnya. Karena mereka dari kelompok orang yang sama, mendirikan jemaat lagi adalah mudah bagi orang Mongolia. Para pemimpin yang diangkat Tuhan bagi gereja anak ini segera mulai mengutus tim untuk mendirikan gereja cucu di kota-kota lain bahkan yang lebih jauh dari Erdenet. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Akhir dari Permulaan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah hanya tiga tahun kerja oleh tim kami di Erdenet, kami menyadari bahwa usaha-usaha kami telah menghasilkan buah yang baik dan kami sendiri telah “menghasilkan sebuah pekerjaan.” Di awal tahun 1996, kami telah sukses membuat model dan menyerahkan semua pelayanan dan fungsi dalam gerakan gereja kepada murid-murid Mongolia. Orang-orang Mongol mengerjakan segala sesuatunya dan kami hanya mengawasi. Saat manis bercampur pahit yang menjadi tujuan kami selama ini telah tiba. Sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibadah Paskah dikemas – hanya ruangan dengan orang-orang berdiri. Hampir 800 orang memenuhi ruangan terbesar di Erdenet dengan banyak lagi orang yang ditolak oleh pihak berwenang, yang menutup pintu-pintu ketika mereka melihat kerumunan orang banyak. Mereka yang berhasil masuk berkumpul untuk menyembah Yesus dan menyaksikan upacara menandai penyerahan otoritas tim perintisan gereja asing kami kepada para penatua lokal. Kami menjelaskan dan memerankan analogi perlombaan lari estafet untuk melukiskan dengan jelas mengenai apa yang terjadi. Sebuah tongkat diserahkan dari keluarga kami dan Magnus, yang mewakili perintis gereja, kepada sekelompok pemimpin Mongolia yang berpakaian nasional lengkap. Mereka begitu siap! Tongkat sudah diserahkan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah gereja Mongolia pribumi sepenuhnya berada di tangan orang Mongolia – dan pada gilirannya tangan-tangan itu dengan teguh ada dalam tangan Yesus yang berlubang paku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluarga kami meninggalkan Mongolia pada hari itu juga, dan seluruh tim yang tersisa pergi di bulan Juni pada waktu perjanjian mengajar bahasa Inggris mereka berakhir. Tanpa keberadaan kami, gereja-gereja Mongolia terus bertumbuh dan berlipat ganda. Mereka memulai sejumlah pelayanan belas kasihan juga. Mereka mulai memberi makan dan pakaian kepada anak-anak jalanan, merawat ibu tunggal dan mencegah aborsi, serta bahkan mendirikan gereja di antara para pemulung. Semua inisiatif ini benar-benar dari dan oleh orang-orang percaya Mongolia. Gerakan itu berlanjut. Pada tahun 2008, gereja di Erdenet telah melahirkan 15 gereja anak di kota-kota yang tersebar di seluruh negeri. Beberapa gereja anak mereka telah berkembang biak dari satu sampai enam gereja cucu. Sebuah laporan yang sangat memuaskan – mengingat kami memulai hanya dengan gadis-gadis remaja! Gerakan ini juga sulit pada pekerjaan lintas-budaya. Tim para pendiri gereja Mongol telah diutus ke orang M di dua negara lain, ke orang-orang suku di hutan yang menganut animisme, dan juga telah memulai gerakan-gerakan pendirian gereja di antara beberapa suku Mongolia lainnya. Lima dari gereja anak dan empat dari gereja cucu adalah misionaris pendirian gereja di antara kelompok etnis yang berbeda. Sebuah sekolah pelatihan misionari di Erdenet melatih kekuatan misi yang ada di gereja Mongolia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah tampaknya telah membuat tanah rohani Mongolia sangat subur untuk pendirian gereja. Injil terus melakukan karyanya memberi hidup dan mengubah komunitas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja-gereja terus bertumbuh dan berkembang biak. Perkiraan konservatif menyatakan bahwa jumlah orang percaya bertumbuh hanya dari dua orang di tahun 1990 menjadi lebih dari 50.000 orang percaya di tahun 2005. Mongolia telah berubah dari sebuah misi lapangan menjadi sebuah kekuatan misi yang ampuh – mengutus lebih banyak misionaris per orang percaya daripada bangsa manapun di Bumi. Seperti dalam zaman sebelumnya, Mongol sekali lagi bergemuruh menggila ke negara-negara di luar bukit tandus mereka – kali ini di bawah kepemimpinan “khan di atas segala khan” – Raja Yesus!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Laporan_Willowbank:_Komite_Lausanne_untuk_Penginjilan_Dunia&amp;diff=707</id>
		<title>Laporan Willowbank: Komite Lausanne untuk Penginjilan Dunia</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Laporan_Willowbank:_Komite_Lausanne_untuk_Penginjilan_Dunia&amp;diff=707"/>
		<updated>2013-12-18T14:54:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dimana pun manusia mengembangkan organisasi sosial, seni dan ilmu pengetahuan, pertanian dan teknologi, kreativitas mereka merefleksikan Pencipta mereka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“The Willowbank Report,”(Laporan Willowbank) digunakan dengan ijin dari Komite Lausanne untuk Penginjilan Dunia, 1978.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“The Willowbank Report”(Laporan Willowbank) adalah produk dari perundingan tentang “Injil dan Budaya” Januari 1978, disponsori oleh Komite Lausanne untuk Penginjilan Dunia dan diselenggarakan di Willowbank, Somerset Bridge, Bermuda. Ada 33 teolog, antropolog, ahli bahasa, misionaris, dan pendeta yang hadir. Laporan itu menyatakan isi dari 17 makalah tertulis yang dibagikan di muka, ringkasan dari makalah-makalah tersebut dan tanggapan terhadapnya muncul selama perundingan dan pandangan-pandangan diungkapkan dalam diskusi pleno dan kelompok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===1. Dasar Alkitab tentang Budaya===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena manusia adalah ciptaan Allah, beberapa dari kebudayaan mereka kaya akan keindahan dan kebaikan. Karena dia jatuh, semua itu tercemar dengan dosa dan beberapa darinya adalah jahat.” (Kovenan Lausanne, alinea 10). Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, dalam rupa-Nya sendiri dengan menganugerahkan kepada mereka kecakapan manusia yang khas, yaitu kecakapan rasional, moral, sodial, kreatif dan spiritual. Dia juga mengatakan kepada mereka untuk beranak cucu, untuk memenuhi bumi dan menaklukkannya (Kej 1:26-28). Perintah ilahi ini adalah asal dari budaya manusia. Dasar kebudayaan adalah kontrol kita terhadap alam (yakni, lingkungan kita) dan pengembangan kita adalah kontrol atas bentuk-bentuk organisasi sosial. Sejauh kita menggunakan kekuatan kreatif kita untuk mematuhi perintah Allah, kita memuliakan Allah, melayani sesama dan memenuhi bagian penting dari takdir kita di bumi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sekarang kita jatuh. Semua pekerjaan kita disertai dengan keringat dan susah payah (Kej 3: 17-19), dan dinodai oleh keegoisan. Jadi tidak ada budaya kita yang sempurna dalam kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Dalam jantung setiap budaya – entah kita mengidentifikasi jantung ini sebagai agama atau sudut pandang dunia – merupakan sebuah unsur dari egosentris, pemujaan manusia atas dirinya sendiri. Oleh karena itu sebuah budaya tidak dapat ditempatkan di bawah ketuhanan Kristus tanpa sebuah perubahan kesetiaan yang radikal. Untuk semua itu, penegasan bahwa kita diciptakan dalam gambar Allah masih berlaku (Kej 9:6; Yak 3:9), meskipun rupa ilahi telah tercemar oleh dosa. Dan Allah masih mengharapkan kita untuk mengelola bumi dan makhluk-makhluknya (Kej 9:1-3,7), dan di dalam anugerah umum-Nya membuat semua orang berdaya cipta, banyak akal dan bermanfaat dalam upaya-upaya mereka. Jadi, meskipun Kejadian 3 mencatat kejatuhan manusia, dan Kejadian 4 mencatat pembunuhan Kain oleh Habel, keturunan Kainlah yang digambarkan sebagai inovator-inovator budaya, membangun kota, peternakan, dan membuat alat-alat musik dan alat-alat logam (Kej 4:17-22).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak dari kami penginjil Kristen di masa lalu telah terlalu negatif terhadap budaya. Kami tidak melupakan kejatuhan manusia dan ketersesatan yang membutuhkan keselamatan di dalam Kristus. Namun kami ingin memulai Laporan ini dengan sebuah penegasan yang positif tentang martabat manusia dan pencapaian budaya manusia. Dimanapun manusia mengembangkan organisasi sosial, seni dan ilmu pengetahuan, pertanian dan teknologi, kreativitas mereka merefleksikan Pencipta mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===2. Sebuah Definisi Budaya===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya adalah sebuah istilah yang tidak mudah rentan terhadap definisi. Dalam arti luas, budaya berarti cara terpola dimana orang-orang melakukan hal-hal bersama-sama. Jika ada kehidupan yang sama dan tindakan kerja sama, haruslah ada kesepakatan, diutarakan atau tidak, tentang sejumlah banyak hal. Namun istilah “budaya” umumnya tidak digunakan kecuali unit yang bersangkutan lebih besar daripada keluarga yaitu kesatuan-kesatuan atau yang diperluas. Budaya menyiratkan ukuran homogenitas. Namun, jika unitnya lebih besar daripada klan atau suku kecil, budaya akan mencakup sejumlah sub-budaya, dan sub-sub budaya dari sub-budaya, yang di dalamnya beragam variasi dan keanekaragaman adalah mungkin. Jika variasinya melampaui batasan tertentu, budaya tandingan akan terjadi, dan ini mungkin membuktikan proses yang destruktif. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya menahan orang-orang bersama-sama selama suatu rentang waktu. Budaya diterima dari masa lampau, namun tidak melalui proses warisan alamiah. Budaya harus dipelajari lagi oleh setiap generasi. Ini terjadi secara luas melalui proses penyerapan terhadap lingkungan sosial, terutama di keluarga. Dalam banyak masyarakat, unsur-unsur tertentu dari budaya dikomunikasikan secara langsung dalam upacara pengenalan dan melalui banyak bentuk lain dari perintah yang dimaksudkan. Tindakan yang sesuai dengan budaya umumnya ada pada tingkat bawah sadar. Ini berarti bahwa budaya yang diterima meliputi segala sesuatu dalam kehidupan manusia. Di pusatnya ada sebuah sudut pandang dunia, yaitu, pemahaman umum tentang sifat alam semesta dan tentang tempat seseorang di dalamnya. Ini mungkin “religius” (berkenaan dengan Allah, atau dewa-dewa dan roh-roh, hubungan kita dengan mereka), atau mungkin mengungkapkan konsep “sekuler” tentang realitas, seperti dalam masyarakat Marxis.Dari sudut pandang dunia dasar ini mengalir baik standar-standar penilaian maupun nilai-nilai (tentang apa yang baik dalam arti yang diinginkan, tentang apa yang diterima menurut kehendak umum masyarakat, dan tentang pertentangan) dan standar-standar perilaku (mengenai hubungan antara individu, antara jenis kelamin dan generasi, dengan masyarakat dan dengan orang-orang di luar masyarakat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya terikat erat dengan bahasa, dan diungkapkan dalam peribahasa, mitos, cerita rakyat, dan berbagai bentuk seni, yang menjadi bagian dari perabotan mental semua anggota kelompoknya. Budaya mengatur tindakan-tindakan yang dilakukan dalam komunitas – tindakan ibadah atau kesejahteraan umum; hukum dan administrasi hukum; kegiatan sosial seperti tarian dan permainan; unit yang lebih kecil dari tindakan seperti klub-klub dan lembaga-lembaga, asosiasi-asosiasi untuk berbagai keperluan umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya tidak pernah statis; ada proses perubahan yang terus-menerus. Namun ini harus bertahap dalam mengambil bagian di dalam norma-norma yang diterima; kalau tidak budaya akan terganggu. Penalti terburuk yang dapat ditimbulkan pada pemberontakan adalah pengucilan dari komunitas sosial yang ditegaskan secara budaya.Laki-laki dan perempuan membutuhkan sebuah keberadaan yang disatukan. Partisipasi dalam budaya adalah salah satu faktor yang memberikan kepada mereka rasa memiliki. Ini memberikan rasa aman, identitas, martabat, menjadi bagian dari keseluruhan yang lebih besar, dan ambil bagian baik dalam kehidupan generasi masa lalu maupun dalam pengharapan untuk masa depan masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petunjuk Alkitabiah untuk memahami budaya manusia ditemukan dalam dimensi manusia rangkap tiga, tanah dan sejarah yang merupakan fokus perhatian Perjanjian Lama. Etnis, teritorial dan historis (siapa, dimana dan dari mana kita) muncul di sana sebagai sumber rangkap tiga dari bentuk-bentuk ekonomis, ekologis, sosial dan artistik dari kehidupan manusia di Israel, bentuk-bentuk tenaga kerja dan produksi dan sebagainya dari kekayaan dan kesejahteraan. Model ini memberikan perspektif untuk menafsirkan semua budaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin kita dapat mencoba untuk meringkas berbagai arti ini sebagai berikut: Budaya adalah sistem terpadu dari kepercayaan-kepercayaan (tentang Allah atau realitas atau makna tertinggi), dari nilai-nilai (tentang apa yang benar, baik, indah dan normatif), dari kebiasaan (bagaimana berperilaku, berhubungan dengan orang lain, berbicara, berdoa, berpakaian, bekerja, bermain, berdagang, bertani, makan, dll.) dan dari institusi-institusi yang mengungkapkan kepercayaan, nilai-niali, dan kebiasaan ini (pemerintah, pengadilan hukum, kuil atau gereja, keluarga, sekolah, rumah sakit, pabrik, toko, serikat, klub, dll.), yang menyatukan masyarakat bersama dan memberikan kepadanya rasa identitas, martabat, rasa aman dan kesinambungan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===3. Budaya dalam Penyataan Alkitab===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengungkapan diri pribadi Allah dalam Alkitab diberikan dalam hal budaya para pendengarnya sendiri. Jadi kita harus bertanya pada diri kita sendiri apa yang menjadi tugas komunikasi lintas budaya kita saat ini. Para penulis Alkitab memanfaatkan dengan kritis materi budaya apapun yang tersedia bagi mereka untuk pengungkapan berita mereka.Sebagai contoh, Perjanjian Lama mengacu beberapa kali kepada monster laut Babel bernama “Lewiatan,” sedangkan bentuk “kovenan” dengan umat-Nya menyerupai “perjanjian” daerah kekuasaan orang Het kuno dengan para pengikutnya. Para penulis juga memanfaatkan secara insidental pemakaian dari gambaran konseptual alam semesta “tingkat tiga,” meskipun mereka tidak demikian menegaskan kosmologi pra-Copernican. Kita melakukan sesuatu yang mirip ketika kita berbicara tentang matahari “terbit” dan “tenggelam.” Demikian pula, bahasa Perjanjian Baru dan bentuk-bentuk pemikiran yang dijejakkan dalam budaya Yahudi maupun Yunani, dan Paulus tampaknya telah mengambil dari kosa kata filsafat Yunani. Namun proses yang melaluinya para penulis Alkitab meminjam kata-kata dan penggambaran dari lingkungan pergaulan budaya mereka, dan menggunakan itu dengan kreatif, dikuasai oleh Roh Kudus sehingga mereka bersih dari kesalahan atau implikasi palsu dan dengan demikian mengubah itu menjadi kendaraan bagi kebenaran dan kebaikan. Fakta-fakta yang tidak diragukan ini memunculkan sejumlah pertanyaan yang kita gumuli. Kami menyebutkan lima:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sifat Inspirasi Alkitab====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah pemakaian kata-kata dan ide-ide dari budaya para penulis Alkitab sendiri bertentangan dengan inspirasi ilahi? Tidak. Kita telah mencatat genre-genre sastra yang berbeda di Kitab Suci, dan bentuk-bentuk yang berbeda dari proses inspirasi yang mereka nyatakan secara tidak langsung. Misalnya,ada perbedaan yang luas dalam bentuk antara pekerjaan para nabi, menerima penglihatan dan perkataan Tuhan, dan sejarawan dan para penulis surat. Namun Roh yang sama secara unik menginspirasi mereka semua. Allah menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan latar belakang budaya dari para penulis (meskipun penyataan-Nya terus-menerus melampaui ini), dan dalam setiap kejadian hasilnya adalah sama, yaitu Firman Allah melalui kata-kata manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bentuk dan Arti====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap komunikasi memiliki baik makna (apa yang mau kita katakan) maupun bentuk (bagaimana kita mengatakannya). Keduanya – bentuk dan arti – selalu sama-sama memiliki, di dalam Alkitab maupun dalam buku-buku dan ucapan lain. Lalu bagaimanakah seharusnya sebuah pesan diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa yang lain? Sebuah terjemahan harfiah dari bentuk (“korespondensi formal”) dapat menyembunyikan atau mengubah arti. Dalam kasus tersebut, cara yang lebih baik adalah dengan menemukan dalam bahasa yang lain sebuah ungkapan yang menjadikan dampak yang setara pada pendengar sekarang seperti pada pendengar asal. Ini dapat melibatkan perubahan bentuk untuk mempertahankan arti. Ini disebut “kesetaraan dinamis.” Perhatikan, misalnya, terjemahan RSV dari Roma 1:17, yang menyatakan bahwa dalam Injil “the righteousness of God is revealed through faith for faith.” [“kebenaran Allah dinyatakan melalui iman karena iman.”] Ini memberikan terjemahan kata per kata dari bahasa Yunani asli, yaitu terjemahan “korespondensi formal.” Namun ini membuat arti kata bahasa Yunani “kebenaran” dan “dari iman kepada iman” menjadi tidak jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah terjemahan seperti TEV – “the gospel reveals how God puts people right with himself: it is through faith from beginning to end”[Injil mengungkapkan bagaimana Allah membenarkan orang-orang di hadapan-Nya: ini adalah melalui iman sejak awal sampai akhir”] – mengabaikan prinsip korespondensi satu-satu antara kata-kata Yunani dan Inggris; namun mengungkapkan arti dari kalimat asli dengan lebih memadai. Upaya untuk menghasilkan terjemahan “kesetaraan dinamis” juga dapat membawa penerjemah kepada pemahaman Kitab Suci yang lebih dalam, sekaligus menjadikan teksnya lebih bermakna bagi orang-orang dari bahasa lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa bentuk Alkitab (kata, gambaran, metafora) harus dipertahankan, bagaimanapun, karena merupakan simbol penting yang diulang-ulang dalam Kitab Suci (misalnya, salib, domba, atau cawan). Sementara mempertahankan bentuk, penerjemah akan berusaha untuk mengeluarkan artinya. Sebagai contoh, dalam TEV menerjemahkan Markus 14:36 -—“take this cup of suffering away from me” [“ambillah cawan penderitaan ini dari-Ku”] – bentuk (yaitu gambaran “cawan”) dipertahankan, namun kata “penderitaan” ditambahkan untuk memperjelas artinya. Menulis dalam bahasa Yunani, para penulis Perjanjian Baru menggunakan kata-kata yang memiliki sejarah yang panjang dalam dunia sekuler, namun menginvestasikan kata-kata tersebut dengan makna Kristen sebagaimana Yohanes menyebut Yesus sebagai “Logos.”[“Firman”]. Ini berbahaya karena “logos” memiliki arti yang bervariasi dalam sastra dan filsafat Yunani, dan asosiasi bukan Kristen diragukan menempel pada kata itu. Jadi Yohanes mengatur judulnya di dalam konteks pengajaran, menegaskan bahwa Logos adalah awal, adalah bersama Allah, adalah Allah, adalah agen ciptaan, adalah terang dan kehidupan manusia, dan menjadi manusia (Yoh 1:1-14). Demikian pula, beberapa orang Kristen India telah mengambil resiko meminjam kata Sansekerta “avatar” (keturunan), digunakan dalam Hinduisme untuk apa yang disebut “inkarnasi” Wisnu, dan menerapkannya, dengan keamanan penjelasan yang seksama, untuk inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus. Namun orang lain telah menolak untuk melakukannya, dengan alasan tidak ada pengamanan yang memadai untuk mencegah salah tafsir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sifat Normatif Kitab Suci====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kovenan Lausanne menyatakan bahwa Alkitab adalah “tanpa kesalahan dalam semua yang ditegaskannya” (alinea 2). Ini meletakkan pada kita tugas eksegetis untuk membedakan apa yang Kitab Suci tegaskan. Arti penting dari pesan Alkitab harus dipertahankan apapun resikonya. Meskipun beberapa bentuk asli dimana arti yang diungkapkan dapat berubah demi komunikasi lintas budaya, kami percaya bahwa mereka juga memiliki kualitas normatif tertentu. Karena Allah sendiri memilih mereka sebagai kendaraan yang sepenuhnya sesuai atas wahyu-Nya. Jadi setiap formulasi baru dan penjelasan dalam setiap generasi dan budaya harus diperiksa kesetiaannya dengan mengacu kembali pada yang asli. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pengkondisian Budaya Kitab Suci====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami belum mampu mencurahkan waktu sebanyak yang kami inginkan untuk masalah pengkondisian budaya Alkitab. Kami setuju bahwa beberapa perintah di Alkitab (misalnya, mengenai jilbab perempuan di muka umum dan saling membasuh kaki) mengacu pada adat budaya yang sekarang telah usang di banyak bagian dunia. Dihadapkan pada teks seperti itu, kami percaya bahwa respon yang tepat bukanlah ketaatan seperti budak ataupun pengabaian yang tidak bertanggung jawab, melainkan pertama-tama penegasan kritis terhadap arti inti dari teks dan kemudian terjemahannya ke dalam budaya kita sendiri.Misalnya, arti inti dari perintah saling membasuh kaki adalah saling mengasihi harus terungkap dalam pelayanan yang rendah hati. Jadi dalam beberapa budaya kita bisa saling membersihkan sepatu sebagai gantinya. Jelas bagi kami bahwa tujuan seperti “perubahan budaya” tidak untuk menghindari ketaatan melainkan untuk membuatnya sejaman dan otentik. Pertanyaan kontroversial tentang status perempuan tidak dibahas di Perundingan kami. Namun kami mengakui kebutuhan untuk mencari pemahaman yang mencoba dengan integritas untuk melakukan keadilan atas emua pengajaran berdasarkan Alkitab, dan yang melihat hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai keduanya berakar dalam tatanan yang dibuat dan pada saat yang sama berubah oleh tatanan baru yang diperkenalkan oleh Yesus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pekerjaan Roh Kudus yang Berkelanjutan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah penekanan kami pada norma Kitab Suci yang menentukan dan permanen berarti bahwa kami berpikir Roh Kudus kini telah berhenti bekerja? Tidak, memang tidak. Namun sifat dari pelayanan pengajaran-Nya telah berubah. Kami percaya bahwa karya “inspirasi”-Nya telah selesai, dalam pengertian bahwa kanon Kitab Suci sudah ditutup, namun karya “iluminasi”-Nya berlanjut baik dalam setiap pertobatan (misalnya 2 Kor 4:6) maupun dalam kehidupan orang Kristen dan Gereja. Jadi kita pelu secara terus-menerus berdoa agar Dia akan mencerahkan mata hati kita sehingga kita dapat mengenal kepenuhan tujuan Allah bagi kita (Ef 1:17 dst) dan mungkin tidak takut-takut tetapi berani dalam membuat keputusan dan melaksanakan tugas-tugas baru hari ini.Kami telah dibuat menyadari bahwa pengalaman Roh Kudus mengungkapkan penerapan kebenaran Allah untuk kehidupan pribadi dan gereja sering kurang jelas daripada yang seharusnya: kami semua membutuhkan keterbukaan yang lebih sensitif pada titik ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Perintah-perintah dalam Kejadian 1:26-28 kadang-kadang disebut sebagai “mandat budaya” yang Tuhan berikan kepada umat manusia. Seberapa jauh itu dipenuhi hari ini?&lt;br /&gt;
#	Dalam pengertian definisi budaya di atas, apa saja unsur-unsur khas utama budaya Anda sendiri?&lt;br /&gt;
#	Jika Anda bisa dua bahasa, buatlah kalimat dengan satu bahasa dan kemudian cobalah untuk menemukan terjemahan “kesetaraan dinamis” ke dalam bahasa yang lain.&lt;br /&gt;
#	Berikan contoh lain dari “perubahan budaya” yang mempertahankan “arti inti” teks Alkitab namun mengubahnya ke dalam budaya Anda sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===4. Memahami Firman Tuhan Hari Ini===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor budaya hadir tidak hanya dalam penyataan-diri Allah di Kitab Suci, tetapi juga dalam penafsiran kita tentangnya. Sekarang kita beralih ke topik ini. Semua orang Kristen peduli untuk memahami Firman Allah, namun ada cara yang berbeda dalam berusaha untuk melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pendekatan Tradisional====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang paling umum untuk datang langsung ke kata-kata dari teks Alkitab, dan untuk mempelajari kata-kata tanpa kesadaran bahwa para penulis konteks budaya berbeda dari budaya para pembacanya. Para pembaca menafsirkan teks seolah telah ditulis dalam bahasanya sendiri, budaya dan zamannya sendiri.Kami menyadari bahwa banyak Alkitab yang bisa dibaca dan dipahami dengan cara ini, terutama jika terjemahannya baik. Karena Allah memaksudkan Firman-Nya bagi orang-orang biasa; tidak dianggap sebagai pelestarian para ahli; kebenaran sentral keselamatan adalah gamblang untuk dilihat oleh semua orang; Kitab Suci “useful for teaching the truth, rebuking error, correcting faults and giving instruction for right living” [“bermanfaat untuk mengajar kebenaran, menegur kesalahan, mengoreksi kesalahan dan memberikan instruksi untuk hidup benar”] (2 Tim 3:16, TEV); dan Roh Kudus telah diberikan untuk menjadi Guru kita. Kelemahan dari pendekatan “populer” ini, bagaimanapun, adalah bahwa itu tidak berusaha untuk pertama-tama memahami teks dalam konteks aslinya; dan, karena itu, beresiko untuk kehilangan arti sesungguhnya yang Allah maksudkan dan mengganti yang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendekatan kedua melakukan berdasarkan keseriusan konteks historis dan budaya yang asli. Pendekatan ini juga berusaha untuk menemukan arti teks dalam bahasa aslinya, dan bagaimana itu berkaitan dengan seluruh isi Kitab Suci. Semua ini adalah disiplin yang penting karena Allah mengatakan Firman-Nya kepada orang-orang tertentu dalam konteks dan zaman tertentu. Jadi pemahaman kita tentang pesan Allah akan bertumbuh ketika kita meneliti hal-hal ini secara mendalam. Kelemahan dari penekanan “historis,” bagaimanapun, adalah bahwa pendekatan ini gagal untuk mempertimbangkan bahwa Kitab Suci mungkin berkata kepada pembaca kontemporer. Pendekatan ini semacam menghentikan makna dari Alkitab pada zaman dan budayanya. Dengan demikian bertanggung jawab untuk menganalisa teks tanpa menerapkannya, dan untuk memperoleh pengetahuan akademik tanpa ketaatan. Penafsir juga mungkin cenderung membesar-besarkan kemungkinan objektivitas yang lengkap dan mengabaikan perkiraan budayanya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pendekatan Kontekstual====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendekatan ketiga dimulai dengan menggabungkan unsur-unsur positif dari keduanya, pendekatan “populer” dan “historis.” Dari pendekatan “historis” perlu adanya studi konteks dan bahasa aslinya, dan dari pendekatan “populer’ perlunya mendengarkan Firman Allah dan menaatinya. Namun itu lebih jauh daripada ini. Pendekatan ini dengan serius memperhatikan konteks budaya para pembaca kontemporer sekaligus teks Alkitab, dan menyadari bahwa sebuah dialog harus dikembangkan di antara keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebutuhan untuk interaksi dinamis antara teks dan penafsir inilah yang kita ingin tekankan. Para pembaca hari ini tidak bisa sampai kepada teks dalam kevakuman pribadi, dan seharusnya tidak mencobanya. Melainkan, mereka harus sampai dengan kesadaran akan kepedulian yang berasal dari latar belakang budaya mereka, situasi pribadi, dan tanggung jawab kepada orang lain. Kepedulian ini akan mempengaruhi pertanyaan yang diajukan ke Kitab Suci. Apa yang diterima kembali, bagaimanapun, tidak akan hanya jawaban, tetapi lebih banyak pertanyaan. Ketika kita membicarakan Kitab Suci, Kitab Suci membicarakan kita. Kita mendapati bahwa praduga yang dikondisikan secara budaya tertantang dan pertanyaan kita dikoreksi. Pada kenyataannya, kita dipaksa untuk merumuskan pertanyaan kita sebelumnya dan untuk meminta yang baru. Jadi interaksi yang hidup berlanjut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam proses interaksi ini, pengetahuan kita tentang Allah dan tanggapan kita terhadap kehendak-Nya terus-menerus diperdalam. Semakin kita mengenal Dia, semakin besar tanggung jawab kita untuk taat kepada-Nya dalam situasi kita sendiri, dan semakin kita merespon dengan taat, semakin Dia membuat diri-Nya dikenal. Pertumbuhan dalam pengetahuan, kasih, dan ketaatan yang berkesinambungan inilah yang merupakan tujuan dan keuntungan dari pendekatan kontekstual. Keluar dari konteks dimana Firman-Nya semula diberikan, kita mendengar Allah berbicara kepada kita dalam konteks kontemporer, dan kita menemukannya sebagai pengalaman yang mengubahkan. Proses ini adalah semacam spiral ke atas dimana Kitab Suci tetap selalu sentral dan normatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Komunitas yang Belajar====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami ingin menekankan bahwa tugas pemahaman Kitab Suci bukanlah hanya untuk individu-individu tetapi seluruh komunitas Kristen, berbicara sebagai persekutuan kontemporer maupun historis. Ada banyak cara dimana gereja lokal dan regional dapat melihat kehendak Allah dalam budaya zaman ini sendiri. Kristus masih menunjuk para pendeta dan guru di dalam gereja-Nya. Dan sebagai jawaban atas doa yang mengandung harapan Dia katakan kepada umat-Nya, terutama melalui pemberitaan Firman-Nya dalam konteks ibadah.Selain itu, ada tempat untuk “pengajaran dan nasihat satu terhadap yang lain” (Kol 3:16) baik dalam kelompok pemahaman Alkitab maupun dalam perundingan gereja-gereja sealiran, serta untuk mendengarkan dengan tenang suara Allah dalam Kitab Suci, yang merupakan unsur yang sangat diperlukan dalam kehidupan Kristiani orang-orang percaya. Gereja juga merupakan persekutuan historis dan telah menerima warisan masa lalu yang kaya akan teologi Kristen, liturgi, dan kesetiaan. Tidak ada kelompok orang percaya yang dapat mengabaikan warisan ini tanpa resiko pemiskinan rohani. Pada saat yang sama, tradisi ini tidak boleh diterima secara tidak kritis, entah itu datang dalam bentuk serangkaian perbedaan denominasional atau dalam cara lain namun diuji oleh Kitab Suci itu menyatakan untuk menjelaskan. Juga tidak boleh dikenakan pada gereja manapun, melainkan disediakan bagi orang-orang yang menggunakannya sebagai bahan sumber daya yang berharga, sebagai penyeimbang semangat kemerdekaan, dan sebagai penghubung dengan Gereja universal. Jadi Roh Kudus memerintahkan umat-Nya melalui bermacam-macam guru baik dari masa lalu maupun masa kini. Kita saling membutuhkan. Hanya “dengan semua orang kudus” inilah kita dapat mulai memahami semua dimensi kasih Allah (Ef 3:18,19). Roh “menerangi pikiran umat Allah dalam setiap kebudayaan untuk melihat kebenarannya (yaitu kebenaran Kitab Suci) yang baru melalui mata mereka sendiri dan dengan demikian mengungkapkan kepada seluruh Gereja lebih banyak warna lagi tentang hikmat Allah” (Kovenan Lausanne, alinea 2, menggemakan Ef 3:10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Keheningan Kitab Suci====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami juga mempertimbangkan masalah keheningan Kitab Suci, yaitu, bidang-bidang doktrin dan etika yang Alkitab tidak berbicara secara eksplisit tentangnya. Ditulis dalam dunia Yahudi kuno dan Graeco-Romawi, Kitab Suci tidak mengalamatkan secara langsung, misalnya, untuk Hindu, Budha, atau Islam hari ini, atau untuk teori sosio-ekonomi Marxis atau teknologi modern. Namun demikian, kami percaya adalah hak bagi gereja untuk dibimbing oleh Roh Kudus untuk mencari Kitab Suci sebagai panutan dan prinsip yang akan memampukannya untuk mengembangkan pikiran Tuhan Kristus dan juga mampu untuk membuat keputusan-keputusan Kristen yang otentik. Proses ini akan berlangsung paling bermanfaat di dalam komunitas orang percaya karena menyembah Allah dan terlibat dalam ketaatan aktif di dunia. Kami mengulangi bahwa ketaatan Kristen adalah sebanyak pendahuluan untuk memahami sebagai konsekuensi dari itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Dapatkah Anda mengingat contoh-contoh tentang bagaimana salah satu dari dua “pendekatan tradisional” terhadap pembacaan Alkitab telah menyebabkan Anda tersesat?&lt;br /&gt;
#	Pilih teks yang terkenal seperti Matius 6:24-34 (kecemasan dan ambisi) atau Lukas 10:25-38 (orang Samaria yang baik hati) dan menggunakan “pendekatan kontekstual” dalam mempelajarinya. Mari mengembangkan dialog antara Anda dan teks, pada waktu Anda mengajukan pertanyaan tentangnya dan itu mengajukan pertanyaan tentang Anda. Tuliskan tahap-tahap interaksinya.&lt;br /&gt;
#	Diskusikan beberapa cara praktis untuk mencari bimbingan Roh Kudus hari ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===5. Isi dan Komunikasi Injil===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memikirkan komunikasi Allah tentang Injil kepada kita dalam Kitab Suci, kita sekarang masuk ke dalam inti perhatian kita, tanggung jawab kita untuk mengomunikasikannya kepada orang lain, yaitu, untuk menginjili. Namun sebelum kita memikirkan komunikasi Injil, kita harus mempertimbangkan isi Injil yang harus dikomunikasikan. Karena “menginjili adalah menyebarkan kabar baik...” (Kovenan Lausanne, alinea 4). Oleh karena itu, tidak ada penginjilan tanpa kabar baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Alkitab dan Injil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Injil dapat ditemukan dalam Alkitab. Sesungguhnya, ada pengertian dimana seluruh Alkitab adalah Injil, dari Kejadian sampai Wahyu. Untuk tujuan utama seluruhnya adalah untuk menjadi saksi bagi Kristus, untuk memberitakan kabar baik bahwa Dia adalah Pemberi Hidup dan Tuhan dan untuk meyakinkan orang-orang supaya percaya kepada-Nya (misalnya, Yoh 5:39, 40; 20:31; 2 Tim 3:15).Alkitab memberitakan kisah Injil dalam berbagai bentuk. Injil adalah seperti sebuah berlian yang bersegi banyak, dengan aspek yang berbeda yang berdaya tarik bagi orang yang berbeda dalam budaya yang berbeda. Injil memiliki kedalaman yang belum kita mengerti. Injil menantang setiap usaha untuk menguranginya menjadi sebuah formulasi yang rapi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Intisari Injil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, adalah penting untuk mengidentifikasi apa yang ada pada intisari Injil. Kita mengetahui tema sentral Allah sebagai Pencipta, universalitas dosa, Yesus Kristus sebagai Anak Allah, Tuhan dari semua, dan Juruselamat melalui kematian-Nya yang menebus dan kebangkitan-Nya, perlunya pertobatan, kedatangan Roh Kudus dan kuasa mengubahkan-Nya, persekutuan dan misi Gereja Kristen dan harapan akan kedatangan Kristus kembali. Sementara ini adalah unsur-unsur dasarInjil, perlu untuk menambahkan bahwa tidak ada pernyataan teologis yang bebas-budaya/terlepas dari budaya. Oleh karena itu, semua formulasi teologis harus dinilai berdasarkan Alkitab itu sendiri, yang ada di atas semua itu. Nilai mereka harus dinilai oleh kesetiaan mereka pada Alkitab serta relevansinya dengan pesan yang mereka terapkan pada budaya mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam keinginan kami untuk mengomunikasikan Injil dengan efektif, kami sering disadarkan tentang unsur-unsur itu di dalamnya yang tidak disukai oleh orang-orang. Sebagai contoh, salib selalu menjadi sebuah pelanggaran bagi orang yang sombong dan juga kebodohan bagi orang yang bijaksana. Namun Paulus, karena hal itu, tidak menghilangkannya dari beritanya. Sebaliknya, dia terus memberitakan salib, dengan kesetiaan dan dengan resiko penganiayaan, percaya bahwa Kristus yang disalibkan adalah hikmat dan kuasa Allah. Kita juga, meskipun berkepentingan untuk mengkontekskan berita kami dan menghapus semua pelanggaran yang tidak perlu, harus menolak godaan untuk mengakomodasi itu untuk kesombongan dan prasangka manusia. Alkitab telah diberikan kepada kita. Tanggung jawab kita bukanlah untuk mengeditnya tetapi untuk memberitakannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Rintangan Budaya untuk Komunikasi Injil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada saksi Kristen yang dapat berharap untuk mengomunikasikan Injil jika dia mengabaikan faktor budaya. Hal ini terutama benar dalam kasus misionaris. Karena mereka sendiri adalah hasil dari satu budaya dan pergi ke orang-orang yang adalah hasil dari budaya lainnya. Maka pastilah mereka terlibat dalam komunikasi lintas budaya, dengan semua tantangan yang menarik dan tuntutan yang rewel. Dua masalah utama menghadang mereka. Kadang-kadang orang menolak Injil bukan karena mereka pikir itu palsu tetapi karena mereka menganggap hal itu sebagai ancaman bagi budaya mereka, terutama struktur masyarakat mereka, dan solidaritas nasional dan suku mereka. Untuk beberapa hal ini tidak bisa dihindari. Yesus Kristus adalah pengganggu sekaligus pembawa perdamaian. Dia adalah Tuhan, dan menuntut kesetiaan kita secara total. Dengan demikian, beberapa orang Yahudi abad pertama memandang Injil sebagai merendahkan Yudaisme dan menuduh Paulus “mengajar orang dimana-mana untuk menentang bangsa, hukum, dan tempat ini,” yaitu bait Allah (Kis 21:28). Demikian pula, beberapa orang Roma abad pertama takut akan stabilitas negara, karena menurut pandangan mereka, para misionaris Kristen, dengan mengatakan bahwa, “ada Raja yang lain, yaitu Yesus,” tidak setia kepada Kaisar dan menganjurkan kebiasaan yang tidak sesuai dengan hukumpraktek Roma (Kis 16:21; 17:7). Hari ini pun Yesus masih menantang banyakkeyakinan yang dihargai dan adat istiadat dari setiap budaya dan masyarakat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat yang sama, ada ciri-ciri dari setiap budaya yang tidak bertentangan dengan ketuhanan Kristus, dan yang karena itu tidak perlu diancam atau dibuang, melainkan dipertahankan dan diubah. Utusan Injil perlu mengembangkan sebuah pemahaman yang mendalam tentang budaya lokal dan penghargaan yang tulus terhadapnya. Hanya dengan begitu mereka akan mampu melihat apakah penolakannya adalah terhadap beberapa tantangan yang tidak bisa dihindari dari Yesus Kristus ataukah terhadap beberapa perlakuan atas budaya yang, apakah itu khayalan atau nyata, tidaklah penting. Masalah lainnya adalah bahwa Injil sering disampaikan kepada orang-orang dalam bentuk budaya yang asing. Lalu misionaris dibenci dan berita mereka ditolak karena pekerjaan mereka tidak dilihat sebagai usaha untuk menginjili namun sebagai usaha untuk memaksakan adat istiadat dan cara hidup mereka. Dimana misionaris mendatangkan cara berpikir dan perilaku yang aneh kepada mereka, atau sikap superioritas ras, paternalisme, atau keasyikan dengan barang-barang, komunikasi yang efektif akan terhalangi. Kadang-kadang dua kesalahan budaya disatukan bersama-sama, dan utusan Injil bersalah atas imperialisme budaya yang melemahkan budaya lokal yang tidak perlu dan juga memaksakan budaya asing sebagai gantinya. Beberapa misionaris didampingi penakluk Spanyol atas Mexico dan Peru abad ke-18Katolik Amerika Latin dan penjajah Protestan Afrika dan Asia merupakan contoh historis kesalahan ganda ini. Sebaliknya, Rasul Paulus tetap menjadi teladan tertinggi dari seseorang yang kesombongan atas hak istimewa budayanya sendiri pertama-tama dilucuti oleh Yesus Kristus (Flp 3:4-9) dan kemudian diajar untuk beradaptasi dengan budaya lain, menjadikan dirinya sebagai budak mereka dan menjadi “semua hal untuk semua orang” agar dengan demikian menyelamatkan orang-orang (1 Kor 9:19-23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kepekaan Budaya dalam Mengomunikasikan Injil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saksi yang peka lintas budaya tidak akan sampai pada lingkungan pelayanan mereka dengan Injil yang pra-paket. Mereka pastilah telah memiliki pemahaman yang jelas tentang kebenaran Injil “yang diberikan.” Namun mereka akan gagal untuk berkomunikasi dengan sukses jika mereka berusaha untuk memaksakan ini pada orang-orang tanpa referensi pada situasi budaya mereka sendiri dan orang-orang kepada siapa mereka pergi. Hanya dengan keterlibatan aktif yang penuh kasih dengan orang-orang lokal, berpikir dalam pola pemikiran mereka, memahami sudut pandang dunia mereka, mendengarkan pertanyaan mereka, dan merasakan beban mereka, maka seluruh komunitas orang percaya (yang mana misionaris adalah bagian darinya) akan mampu meresponi kebutuhan mereka. Dengan doa, pemikiran, dan pencarian hati yang sama, di dalam kebergantungan pada Roh Kudus, orang asing dan orang percaya lokal bisa belajar bersama-sama bagaimana menghadirkan Kristus dan mengkontekstualisasikan Injil dengan tingkat kesetiaan dan relevansi yang setara. Kita tidak mengatakan bahwa itu akan mudah, meskipun beberapa budaya Dunia Ketiga memiliki daya tarik alamiah terhadap budaya yang berdasarkan Alkitab. Namun kami percaya bahwa pemahaman kreatif yang baru muncul ketika komunitas orang percaya yang dipimpin Roh mendengarkan dan bereaksi dengan peka terhadap kebenaran Kitab Suci dan juga kebutuhan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kesaksian Kristen di Dunia Islam====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepedulian diungkapkan tentang perhatian yang memadai telah diberikan pada Perundingan kami terhadap berbagai masalah misi Kristen di dunia Islam, meskipun ada sekitar 600 juta M hari ini [Ed. Catatan: lebih dari 1 milyar pada tahun 1998]. Di satu sisi, kebangkitan agama dan misi Islam terjadi di banyak negerei; di sisi lain, terjadi keterbukaan yang baru terhadap Injil di sejumlah komunitas yang melemahkan hubungan mereka dengan budaya tradisional Islam. Ada kebutuhan untuk mengenali ciri khas Islam yang memberikan peluang yang unik bagi kesaksian Kristen. Meskipun ada unsur Islam yang tidak sesuai dengan Injil, ada juga unsur-unsur dengan tingkat dari apa yang disebut “pertobatan.”Misalnya, pemahaman Kristen kita tentang Allah, dinyatakan dalam seruan lantang Luther berkaitan dengan keadilan, “Biarlah Allah menjadi Allah,” juga bisa berfungsi sebagai sampai dengan definisi Islam. Iman Islam dalam kesatuan ilahi, penekanan pada kewajiban manusia untuk beribadah kepada Allah dengan benar, dan ucapan penolakan penyembahan berhala juga bisa dianggap sebagai sejalan dengan tujuan Allah bagi kehidupan manusia sebagaimana dinyatakan dalam Yesus Kristus. Saksi Kristen kontemporer harus belajar rendah hati dan penuh harap untuk mengidentifikasi, menghargai, dan menerangi hal-hal ini dan nilai-nilai lainnya. Mereka juga harus bergumul untuk perubahan – dan, jika mungkin, integrasi – dari semua yang relevan dalam ibadah, doa, puasa, seni, arsitektur, dan kaligrafi Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua ini berlangsung hanya di dalam apresiasi yang realistis terhadap situasi saat ini di negara-negara Islam yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan sekularisasi. Kewajiban sosial akan kekayaan baru dan kemiskinan tradisional, ketegangan kemerdekaan politis, dan pembubaran serta frustasi Palestina yang tragis – semua ini mengupayakan bidang-bidang kesaksian Kristen yang relevan. Yang terakhir telah melahirkan puisi yang sangat bersemangat, satu catatan yang di dalamnya adalah paradigma Yesus yang menderita. Hal-hal ini dan unsur lainnya meminta kepekaan Kristen yang baru dan kesadaran yang nyata akan kebiasaan diri sendiri tertutup yang mana Gereja telah lama bekerja untuk Timur Tengah. Di tempat lain, paling tidak di sub-Sahara Afrika, sikap-sikapnya lebih fleksibel dan kemungkinan-kemungkinannya lebih berubah-ubah. Untukmenghadapi tantangan misionaris yang lebih memadai, upaya-upaya yang baru dibutuhkan untuk mengembangkan cara-cara hubungan orang-orang percaya dengan para pencari, jika perlu ada di luar bentuk-bentuk tradisional gereja. Inti dari rasa tanggung jawab menginjili yang hidup terhadap M selalu adalah kualitas personil Kristen dan pemuridan dan kasih Kristus yang mendesak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sebuah Perkiraan Hasil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Utusan Injil yang telah membuktikan dalam pengalaman mereka sendiri bahwa “kekuatan Allah yang menyelamatkan” (Rm 1:16) dengan benar mengharapkan itu terjadi sama dalam pengalaman orang lain juga. Kami mengakui bahwa kadang-kadang, seperti iman seorang kafir perwira dipermalukan ketidakpercayaan Israel pada zaman Yesus (Mat 8:10), jadi hari ini pengharapan percaya orang Kristen dalam budaya lain kadang memunculkan kurangnya iman misionaris. Jadi kami mengingatkan diri kami sendiri akan janji Allah melalui keturunan Abraham untuk memberkati semua keturunan di bumi dan melalui Injil untuk menyelamatkan orang-orang yang percaya (Kej 12:1-4; 1 Kor 1:21). Berdasarkan hal-hal ini dan banyak janji lainlah kami mengingatkan semua utusan Injil, termasuk diri kami sendiri, untuk memandang Allah untuk menyelamatkan orang-orang dan membangun Gereja-Nya. Pada saat yang sama, kami tidak melupakan peringatan Tuhan tentang penindasan dan penderitaan. Hati manusia keras. Orang-orang tidak selalu menerima Injil, bahkan ketika komunikasi tidak bercacat dalam teknik dan komunikasi baik dalam karakternya. Tuhan kita sendiri sangat nyaman dengan budaya yang di dalamnya Dia mengajar, namun Dia dan berita-Nya dipandang rendah dan ditolak, dan Perumpamaan-Nya tentang Penabur tampaknya memperingatkan kita bahwa sebagian besar benih yang kita tabur tidak akan menghasilkan buah. Ada sebuah misteri di sini yang tidak dapat kita pahami. “Roh bertiup kemana Dia mau” (Yoh 3:8). Ketika berupaya untuk mengomunikasikan Injil dengan perhatian, kesetiaan, dan semangat, kita menyerahkan hasilnya kepada Allah dalam kerendahan hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Dalam teks di atas, Laporan menolak untuk memberikan “formulasi yang rapi” dari Injil, namun mengidentifikasi “intisari”nya. Apakah Anda ingin menambahkan “tema-tema sentral” ini, atau mengurangi, atau memperkuatnya?&lt;br /&gt;
#	Jelaskan “dua kesalahan budaya.” Dapatkah Anda memikirkan contohnya? Bagaimana kesalahan tersebut dapat dihindari?&lt;br /&gt;
#	Pikirkan situasi budaya orang yang ingin Anda menangkan bagi Kristus. Apakah maksud “kepekaan budaya” dalam kasus Anda? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===6. Dicari: Utusan Injil yang Rendah Hati!===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami percaya bahwa kunci utama untuk komunikasi Kristen yang meyakinkan ditemukan dalam diri komunikator itu sendiri dan orang macam apa mereka. Dia harus pergi tanpa mengatakan bahwa mereka perlu menjadi orang-orang beriman Kristen, mengasihi dan suci. Artinya, mereka harus memiliki pengalaman pribadi dan bertumbuh dari kuasa Roh Kudus yang mengubahkan, sehingga citra Yesus Kristus terlihat lebih jelas dalam karakter dan sikap mereka.Di atas segalanya kami ingin melihat pada diri mereka, dan terutama dalam diri kami sendiri, “kelemahlembutan dan keramahan Kristus” (2 Kor 10:1); denga kata lain, kepekaan yang rendah hati akan kasih Kristus. Jadi penting untuk mempercayai ini bahwa kami mengabdikan seluruh bagian Laporan kami untuk itu. Selain itu, karena, kami tidak ingin menunjuk kepada orang lain tetapi kepada diri kami sendiri, kami akan menggunakan semuanya dengan bentuk jamak orang pertama. Pertama, kami memberikan analisa kerendahan hati Kristen dalam situasi misionaris; dan kedua, kami beralih ke Inkarnasi Allah dalam Yesus Kristus sebagai model yang kami ingin ikuti oleh anugerah-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sebuah Analisa Kerendahan Hati Misionaris====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, ada kerendahan hati untuk mengakui masalah yang dihadirkan oleh budaya, dan tidak menghindari atau terlalu menyederhanakannya. Sebagaimana telah kami lihat, budaya yang berbeda telah sangat mempengaruhi penyataan alkitabiah, diri kami sendiri, dan orang-orang yang kepada mereka kami pergi. Sebagai hasilnya, kami memiliki beberapa keterbatasan pribadi dalam mengomunikasikan Injil. Karena kami adalah tawanan (disadari maupun tidak) dari budaya kami sendiri, dan pemahaman kami tentang budaya, baik di Alkitab maupun di negara dimana kami melayani, sangatlah tidak sempurna. Ini adalah interaksi antara semua budaya ini yang merupakan masalah komunikasi; ini menjadikan semua orang yang bergumul dengan rendah hati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, ada kerendahan hati untuk bersusah payah memahami dan menghargai budaya mereka yang kami datangi. Keinginan inilah yang membawa secara wajar ke dalam dialog yang sebenarnya “yang tujuannya adalah untuk mendengarkan dengan peka supaya memahami” (Kovenan Lausanne, alinea 4). Kami menyesali ketidaktahuan yang menganggap bahwa kami memiliki semua jawaban dan bahwa satu-satunya peran kami adalah untuk mengajar. Kami harus banyak belajar. Kami menyesal juga atas sikap yang menghakimi. Kami tahu kami seharusnya tidak pernah mengutuk atau menghina buadaya lain, melainkan menghormatinya. Kamitidakmenganjurkan baik itu kesombongan yang memaksakan budaya kami kepada budaya lain, atau sinkretisme yang mencampur Injil dengan unsur budaya yang tidak sesuai dengan Injil, melainkan membagikan kabar baik dengan rendah hati – yang dimungkinkan dengan saling menghormati pertemanan yang sejati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, ada kerendahan hati untuk memulai komunikasi kami dimana orang-orang sebenarnya berada dan tidak di mana kami ingin menjadikan mereka. Inilah yang kami lihat yang Yesus lakukan, dan kami inginuntuk mengikuti teladan-Nya. Terlalu sering kami telah mengabaikan ketakutan dan rasa frustasi orang-orang, kesakitan dan keasyikan mereka, dan kelaparan, kemiskinan, kekurangan atau penindasan mereka, sebenarnya “kebutuhan yang dirasakan” mereka mungkin kadang-kadang menjadi gejala terhadap kebutuhan yang lebih dalam yang tidak segera dirasakan atau dikenali oleh orang-orang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang dokter tidak selalu menerima diagnosa pasien itu sendiri. Namun demikian, kami melihat kebutuhan untuk mulai dimana orang-orang berada, namun tidak berhenti di situ. Kami menerima tanggung jawab kami untuk dengan lembut dan sabar membimbing mereka melihat diri mereka sendiri, seperti kami melihat diri kami sendiri, sebagai pemberontak kepada siapa Injil ditujukan secara langsung dengan sebuah berita pengampunan dan pengharapan. Untuk memulai dimana orang-orang berada tidaklah untuk membagikan berita yang tidak relevan; untuk tinggal dimana mereka ada dan tidak pernah membawa mereka kepada keutuhan kabar baik Allah, adalah tidak untuk memberitakan Injil yang terpotong. Kepekaan yang rendah hati dari kasih akan menghindari kedua kesalahan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat, ada kerendahan hati untuk mengakui bahwa bahkan misionaris yang paling berbakat, berdedikasi, dan berpengalaman pun jarang bisa mengomunikasikan Injil dalam bahasa atau budaya lain seefektif orang Kristen lokal yang terlatih. Kenyataan ini telah diakui dalam beberapa tahun terakhir oleh Bible Societies,yang kebijakannya telah berubah dari penerjemahan penerbitan oleh misionaris (dengan bantuan orang-orang lokal) menjadi pelatihan bahasa ibu kepada para ahli untuk melakukan penerjemahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya orang-orang Kristen lokal dapat menjawab pertanyaan, “Allah, bagaimana Engkau mengatakan ini dalam bahasa kami?” dan “Allah, apakah arti ketaatan yang Kau maksudkan dalam budaya kami?” Oleh karena itu, entah kami menerjemahkan Alkitab maupun mengomunikasikan Injil, orang-orang Kristen lokal sangat diperlukan. Merekalah yang harus memikul tanggung jawab untuk mengkontekstualisasikan Injil dalam bahasa dan budaya mereka sendiri. Akankah saksi lintas budaya dalam hal itu tidaklah berlebih-lebihan; namun kami akan diterima jika saja kami cukup rendah hati untuk melihat komunikasi yang baik sebagai perusahaan tim, yang di dalamnya semua orang percaya bekerja sama sebagai mitra. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelima, ada kerendahan hati untuk percaya kepada Roh Kudus Allah, yang selalu menjadi komunikator utama, yang sendirian membuka mata orang buta dan membawa orang kepada kelahiran baru. “Tanpa kesaksian-Nya, kesaksian kami adalah sia-sia” (Kovenan Lausanne, alinea 14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Inkarnasi sebagai Contoh Kesaksian Kristen====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami telah bertemu untuk Perundingan kami dalam beberapa hari di waktu Natal, yang mungkin dapat disebut kejadian yang paling spektakuler tentang pengenalan budaya dalam sejarah manusia, karena oleh Inkarnasi-Nya Anak Manusia menjadi orang Yahudi Galilea abad pertama. Kami juga ingat bahwa Yesus memaksudkan misi umat-Nya di dunia dengan contoh diri-Nya sendiri. “Seperti Bapa telah mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu,”kata-Nya (Yoh 20:21; bandingkan 17:18). Kami bertanya kepada diri sendiri, karenanya, tentang implikasi dari Inkarnasi bagi kami semua. Pertanyaannya adalah pertanyaan tentang kepedulian khusus pada saksi lintas budaya, ke negara manapun mereka pergi, meskipun kami telah berpikir khususnya tentang mereka yang berasal dari Barat yang melayani di Dunia Ketiga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merenungkan Filipi 2, kami telah melihat bahwa merendahkan-diri Kristus dimulai dalam pikiran-Nya: “Dia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai hal yang harus dipertahankan.” Jadi kami diperintahkan untuk menjadikan pikiran-Nya ada di dalam kami, dan di dalam kerendahan hati pikiran untuk “memperhitungkan” orang lain lebih baik atau lebih penting daripada diri kami sendiri. “Pikiran” atau “perspektif” Kristus ini merupakan pengenalan nilai tertinggi dari manusia dan dari hak-hak istimewa untuk melayani mereka. Saksi-saksi itu yang memiliki pikiran Kristus akan memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap orang-orang yang mereka layani, dan terhadap budaya mereka. Dua kata kerja karenanya menunjukkan tindakan yang kepadanya pikiran Kristus memimpin-Nya: “Dia mengosongkan diri-Nya sendiri... Dia merendahkan diri-Nya...” Yang pertama berbicara tentang pengorbanan (yang Dia tinggalkan) dan pelayanan yang kedua, bahkan lebih rendah (bagaimana Dia mengidentifikasi diri-Nya sendiri dengan kita dan menempatkan diri-Nya di pembuangan kita). Kami telah mencoba untuk memikirkan apa maksud dari dua tindakan ini bagi-Nya, dan mungkin bagi saksi lintas budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mulai dengan penolakan terhadap Dia. Pertama, penolakan status. “Dia meletakkan kemuliaan-Nya dengan lembut,” kami bernyanyi pada hari Natal. Karena kami tidak bisa memahami seperti apa kemuliaan kekal-Nya, adalah mustahil untuk memahami kesengsaraan dari mengosongkan diri-Nya. Namun yang pasti Dia menyerahkan hak, hak istimewa dan kuasa yang Dia nikmati sebagai Anak Allah.“Status” dan “simbol status” berarti banyak di dunia modern, namun ganjil di misionaris. Kami percaya bahwa dimanapun misionaris berada mereka tidak boleh memegang kendali atau bekerja sendirian, namun selalu bersama – dan sebaiknya di bawah – orang-orang Kristen lokal yang bisa memberi nasihat dan bahkan mengarahkan mereka. Dan apa pun tanggung jawab misionaris, haruslah mengungkapkan sikap “tidak mendominasi namun melayani” (Kovenan Lausanne, alinea 11). Selanjutnya penolakan terhadap kemerdekaan. Kami telah melihat Yesus – meminta air dari seorang perempuan Samaria, tinggal di rumah orang lain dan memakai uang orang lain karena Dia sendiri tidak memilikinya, meminjam perahu, keledai, ruangan atas, dan bahkan terkubur dalam kuburan pinjaman. Demikian pula, utusan lintas budaya, terutama selama tahun-tahun pertama pelayanan mereka, perlu untuk belajar saling bergantung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, penolakan terhadap kekebalan. Yesus mengekspos diri-Nya sendiri terhadap godaan, kesedihan, keterbatasan, kebutuhan ekonomi dan penderitaan. Jadi misionaris haruslah memperkirakan untuk mungkin menjadi rentan terhadap godaan baru, bahaya, dan penyakit, iklim yang asing, dan kesepian yang tidak biasa, dan mungkin kematian. Beralih dari tema penolakan kepada tema identifikasi, kami terkagum lagi pada kesempurnaan identifikasi Juruselamat kami dengan kami, terutama karena ini diajarkan dalam Surat Ibrani. Dia juga memiliki “daging dan darah,” yang dicobai seperti kami, belajar ketaatan melalui penderitaan-Nya dan merasakan kematian bagi kami (Ibr 2:14-18; 4:15; 5:8). Selama pelayanan-Nya di muka umum Yesus berteman dengan orang miskin dan tidak berdaya, menyembuhkan orang sakit, memberi makan orang yang lapar, menyentuh orang yang tidak terjangkau dan mempertaruhkan reputasi-Nya dengan bergaul dengan orang-orang yang ditolak oleh masyarakat. Perluasan pengidentifikasian diri kami sendiri dengan orang-orang yang kami datangi adalah masalah kontroversi. Tentu saja pasti termasuk menguasai bahasa mereka, membenamkan diri kami sendiri ke dalam budaya mereka, belajar untuk berpikir seperti mereka, merasakan seperti mereka, berbuat seperti mereka. Pada tingkat sosio-ekonomi kami tidak yakin bahwa kami harus “menjadi pribumi” secara prinsip karena upaya seorang asing untuk melakukan ini mungkin terlihat tidak otentik namun berpura-pura.Namun kami juga tidak berpikir bahwa harus ada perbedaan yang mencolok antara gaya hidup kami dengan gaya hidup orang di sekitar kami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara ekstrim-ekstrim ini, kami melihat kemungkinan pengembangan standar hidup yang mengungkapkan jenis kasih yang peduli dan berbagi, dan yang menganggap wajar untuk bertukar keramahan dengan orang lain secara timbal balik, tanpa malu-malu. Sebuah penelusuran tes identifikasi adalah seberapa jauh kami merasa bahwa kami adalah bagian dari orang-orang itu , dan masih banyak – seberapa jauh kami merasa bahwa kami adalah bagian dari mereka. Apakah kami berpartisipasi secara wajar dalam hari-hari nasional atau hari thanksgiving atau kedukaan secara kesukuan? Apakah kami mengeluh bersama mereka dalam penindasan yang mereka alami dan bergabung dalam peperangan mereka demi keadilan dan kemerdekaan? Jika negara dilanda gempa bumi atau tertelan dalam perang sipil, apakah naluri kami adalah untuk tinggal dan menderita bersama orang-orang yang kami kasihi, atau naluri untuk pulang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun Yesus mengidentifikasi diri-Nya sendiri sepenuhnya dengan kami, Dia tidak kehilangan identitas-Nya sendiri. Dia tetap menjadi diri-Nya sendiri. “Dia turun dari surga...dan menjadi manusia” (Kredo Nicea); namun untuk menjadi salah satu dari kita Dia tidak berhenti menjadi Allah. Hanya dengan begitu, “penginjil Kristus harus dengan rendah hati berusaha untuk mengosongkan diri mereka sendiri dari semua kecuali keaslian pribadi mereka” (Kovenan Lausanne, alinea 10). Inkarnasi mengajarkan identifikasi tanpa kehilangan identitas. Kami percaya bahwa pengorbanan diri yang sejati membawa kepada penemuan diri yang sejati. Di dalam pelayanan yang rendah hati terdapat sukacita yang melimpah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.	Jika kunci utama untuk komunikasi terletak pada diri komunikator, menjadi orang macam apakah seharusnya mereka?&lt;br /&gt;
2.	Berikan analisa Anda sendiri tentang kerendahan hati yang harus dimiliki semua saksi Kristen. Dimana Anda memberikan penekanan Anda? &lt;br /&gt;
3.	Karena Inkarnasi melibatkan baik “penolakan” maupun “identifikasi,” jelaslah sangat mahal bagi Yesus. Apakah yang menjadi harga dari “inkarnasi penginjilan” saat ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===7. Pertobatan dan Budaya===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami telah memikirkan hubungan antara pertobatan dan budaya dalam dua cara. Pertama, efek apa yang dimiliki oleh pertobatan terhadap situasi budaya dari petobat, cara berpikirnya dan bertindaknya, dan sikap mereka terhadap lingkungan sosial mereka? Kedua, efek apa yang dimiliki budaya terhadap pemahaman kami sendiri tentang pertobatan? Kedua pertanyaan itu penting. Namun kami mau mengatakan jika unsur-unsur dalam pandangan tradisional penginjilan kami tentang pertobatan adalah lebih bersifat budaya daripada alkitabiah, maka itu perlu diubah. Terlalu sering kami berpikir tentang pertobatan sebagai sebuah krisis, bukannya sebuah proses juga; atau kami telah melihat pertobatan sebagai sebagian besar pengalaman secara pribadi, melupakan konsekuensi publik dan tanggung jawab sosialnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sifat Radikal Pertobatan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami yakin bahwa sifat radikal pertobatan kepada Yesus Kristus perlu untuk ditegaskan kembali dalam gereja kontemporer, karena kami selalu dalam bahaya meremehkan itu, seolah-olah itu tidak lebih daripada perubahan di permukaan, dan reformasi diri. Namun para penulis Perjanjian Baru menulisnya sebagai pengungkapan keluar dari regenerasi atau kelahiran baru oleh Roh Kudus, sebuah penciptaan kembali, dan kebangkitan dari kematian rohani. Konsep kebangkitan tampaknya menjadi sangat penting. Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian adalah awal dari ciptaan Allah yang baru, dan dengan anugerah Allah melalui penyatuan dengan Kristus yang kami ambil bagian dalam kebangkitan ini. Kami dengan demikian telah memasuki masa yang baru dan telah mengalami kuasa dan sukacita kebangkitan. Ini adalah dimensi eskatologis dari pertobatan Kristen. Pertobatan adalah bagian integral dari Pembaharuan Besar yang telah Allah mulai, dan yang akan dibawa sampai kepada klimaks kemenangan ketika Kristus datang dalam kemuliaan-Nya. Pertobatan meliputi juga putusnya dengan masa lampau yang begitu sempurna sehingga dikatakan dalam istilah kematian. Kami telah disalibkan bersama Kristus. Melalui salib-Nya kami telah mati terhadap dunia yang tidak bertuhan, pandangannya, dan standar-standarnya. Kamu juga telah “menanggalkan” seperti pakaian lama Adam, kemanusiaan kami yang sebelumnya dan yang jatuh. Yesus mengingatkan kami bahwa berpalingnya dari masa lalu ini mungkin melibatkan pengorbanan yang menyakitkan, bahkan kehilangan keluarga dan harta benda (mis., Luk 14:25 dst.). Adalah penting untuk menerima bersama-sama aspek negatif dan positif dari pertobatan, kematian dan kebangkitan, menanggalkan yang lama dan mengenakan yang baru. Karena bagi kami yang mati, hidup kembali, namun hidup yang sekarang menjalani kehidupan yang baru, untuk dan di bawah Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Ketuhanan Yesus Kristus====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mengerti dengan jelas bahwa arti mendasar dari pertobatan adalah perubahan kesetiaan. Dewa-dewa dan tuan-tuan lain – pemberhalaan setiap orang – sebelumnya menguasai kami. Namun sekarang Yesus Kristus adalah Tuhan. Prinsip yang mengatur kehidupan pertobatan adalah bahwa ada di bawah ketuhanan Kristus atau (karena sampai kepada hal yang sama) dalam Kerajaan Allah. Otoritas-Nya menguasai kami secara total. Jadi kesetiaan baru yang memerdekakan pastilah membawa kepada penilaian ulang terhadap semua aspek dalam hidup kami dan secara khusus terhadap sudut pandang dunia kami, perilaku kami, dan hubungan-hubungan kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, sudut pandang dunia kami. Kami sepakat bahwa intisari setiap budaya adalah semacam “agama,” bahkan jika itu adalah agama yang tidak religius seperti Marxisme. “Budaya adalah agama yang kelihatan” (J.H. Bavink). Dan “agama” adalah seluruh kelompok kepercayaan dan nilai-nilai dasar, yang merupakan alasan mengapa untuk tujuan kami, kami menggunakan “sudut pandang dunia” sebagai ungkapan yang setara. Pertobatan kepada Kristus yang sejati terikat, karenanya, untuk menyerang intisari warisan budaya kami. Yesus Kristus bersikeras mencabut dari pusat dunia kami berhala apapun yang memerintah di sana sebelumnya, dan menduduki tahta itu sendirian. Ini adalah perubahan kesetiaan yang radikal yang merupakan pertobatan, atau setidaknya awal dari pertobatan.Kemudian setelah Kristus telah mengambil tempat-Nya yang sah, segala sesuatu yang lain mulai beralih. Gelombang kejut mengalir dari pusat ke sekeliling. Petobat harus memikirkan kembali keyakinan-keyakinan mendasarnya. Ini adalah metanoia, “pertobatan” dipandang sebagai perubahan pikiran, penggantian “pikiran daging” dengan “pikiran Kristus.” Tentu saja, pengembangan sudut pandang dunia Kristen yang terintegrasi memakan waktu seumur hidup, namun itu ada pada dasarnya sejak awal. Jika itu bertumbuh, konsekuensi-konsekuensi bersifat meledak tidak bisa diprediksi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, perilaku kami. Ketuhanan Yesus menantang standar moral dan seluruh gaya hidup etika kami. Terus terang, ini bukanlah “pertobatan” melainkan “buah yang tepat dengan pertobatan” (Mat 3:8), perubahan tingkah laku yang keluar dari perubahan pandangan. Baik pikiran kami maupun kehendak kami harus tunduk pada ketaatan Kristus (lih. 2 Kor 10:5; Mat 11:29,30; Yoh 13:13). Mendengarkan studi kasus pertobatan, kami terkesan dengan keunggulan kasih dalam pengalaman petobat baru. Pertobatan memberikan baik dari pembalikan yang terlalu asyik dengan diri sendiri untuk repot-repot dengan orang lain maupun dari fatalisme yang menganggap adalah mustahil untuk membantu mereka. Pertobatan adalah palsu jika tidak membebaskan kami untuk mengasihi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, hubungan-hubungan kami. Meskipun petobat harus melakukan yang terbaik untuk menghindari perpecahan dengan bangsa, suku, dan keluarga, kadang-kadang konflik yang menyakitkan timbul. Jelas juga bahwa pertobatan melibatkan perpindahan dari satu komunitas ke komunitas yang lain, yaitu, dari kemanusiaan yang jatuh kepada kemanusiaan Allah yang baru. Itu terjadi sejak awal Hari Pentakosta: “Selamatkanlah dirimu dari angkatan yang jahat ini,” Petrus berseru.Jadi mereka yang menerima pesan-Nya dibaptis ke dalam masyarakat yang baru, mengabdikan diri mereka ke persekutuan yang baru, dan menemukan bahwa Tuhan terus menambahkan jumlah mereka tiap-tiap hari (Kis 2:40-47). Pada saat yang sama, “perpindahan” mereka dari satu kelompok ke kelompok lain berarti bahwa mereka secara rohani berbeda bukan berpisah secara sosial. Mereka tidak meninggalkan dunia. Sebaliknya, mereka memperoleh komitmen baru untuk itu, dan pergi ke dalamnya untuk bersaksi dan melayani.Kami semua harus menyemangati pengharapan besar dari pertobatan radikal yang demikian di zaman kami, melibatkan para petobat dalam pikiran yang baru, cara hidup yang baru, komunitas yang baru, dan misi yang baru, semua di bawah ketuhanan Kristus. Namun sekarang kami merasa perlu untuk membuat beberapa kualifikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Petobat dan Budayanya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertobatan tidak boleh “membudayakan” seorang petobat. Benar, sebagaimana kita telah melihat, Tuhan Yesus sekarang mempertahankan kesetiaan-Nya, dan segala sesuatu dalam konteks budaya harus ada di bawah pengawasan Tuhan. Hal ini berlaku untuk semua budaya, bukan hanya budaya Hindu, Budha, M, atau budaya animistik tetapi juga untuk budaya Barat yang semakin materialistis. Kritik ini dpat menyebabkan tabrakan, sebagai unsur dari budaya berada di bawah penghakiman Kristus dan harus ditolak. Pada titik ini, pada pantulan, para petobat mungkin malah mencoba untuk mengadopsi budaya penginjil; upaya haruslah tegas namun ditolak dengan lembut. Petobat harus didorong untuk melihat hubungannya dengan masa lalu sebagai kombinasi perputusan dan kelanjutan. Bagaimanapun para petobat sangat merasa mereka perlu untuk meninggalkan demi Kristus, mereka masih orang yang sama dengan warisan yang sama dan keluarga yang sama. “Pertobatan tidak merapikan; pertobatan membuat ulang.” Itu selalu tragis, meskipun dalam beberapa situasi tidak bisa dihindari, ketika pertobatan seseorang kepada Kristus ditafsirkan oleh orang lain sebagai pengkhianatan terhadap budaya aslinya sendiri. Jika mungkin, daripada konflik dengan budayanya sendiri, para petobat baru harus berusaha untuk mengidentifikasi dengan kebahagiaan, harapan, penderitaan dan pergumulan budaya mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kasus sejarah menunjukkan bahwa para petobat sering melewati tiga tahap: (1) ”penolakan” (ketika mereka melihat diri mereka sendiri sebagai “orang yang baru dalam Kristus” dan menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu); (2) “akomodasi” (ketika mereka menemukan warisan etnis dan budaya mereka, dengan godaan untuk mengkompromikan iman Kristen yang baru ditemukan dalam hubungan dengan warisan mereka); dan (3) “pembentukan kembali identitas” (ketika salah satu penolakan dari masa lalu atau akomodasi untuk itu dapat meningkatkan, atau lebih disukai, mereka bisa bertumbuh ke dalam kesadaran diri yang seimbang dalam Kristus dan dalam budaya). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertempuran Kuasa====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yesus adalah Tuhan” berarti lebih daripada bahwa Dia adalah Tuhan atas sudut pandang dunia, standar, dan hubungan-hubungan petobat secara individu, dan bahkan lebih daripada itu Dia adalah Tuhan atas budaya. Ini berarti bahwa Dia adalah Tuhan atas kuasa-kuasa, telah ditinggikan oleh Bapa atas kedaulatan universal; pemerintah-pemerintah dan kuasa-kuasa dibuat tunduk kepada-Nya (1 Ptr 3:22). Sebagian dari kami, terutama mereka yang dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin, telah berbicara baik tentang realitas kuasa iblis maupun perlunya untuk menunjukkan supremasi Yesus atas mereka. Karena pertobatan mencakup sebuah pertempuran kuasa. Orang-orang memberikan kesetiaan kepada Kristus ketika mereka melihat bahwa kuasa-Nya lebih tinggi daripada sihir atau guna-guna, kutukan dan berkat dari dukun, dan kedengkian roh-roh jahat, dan bahwa keselamatan-Nya adalah kebebasan yang nyata dari kuasa iblis dan kematian. Tentu saja, beberapa orang mempertanyakan pada hari ini apakah sebuah keyakinan dalam roh sesuai dengan pemahaman ilmu pengetahuan modern kita tentang alam semesta. Kami ingin menegaskan, karena itu, terhadap mitos mekanistik yang padanya sudut pandang dunia yang khas Baratterletak, realitas kepandaian iblis yang bersangkutan dengan segala cara, terbuka dan rahasia, untuk tidak mempercayai Yesus Kristus dan mencegah orang-orang datang kepada-Nya. Kami pikir adalah penting, dalam penginjilan di semua budaya, untuk mengajarkan realitas dan keseluruhan kuasa iblis, dan untuk menyatakan bahwa Allah telah meninggikan Kristus sebagai Tuhan dari semua dan bahwa Kristus, yang benar-benar memiliki segala kuasa, bagaimanapun kita mungkin gagal untuk mengetahui ini, bisa (ketika kita mewartakan Dia) menerobos sudut pandang dunia apapun dalam pikiran siapa saja untuk menjadikan ketuhanan-Nya dikenal dan menghasilkan perubahan hati dan pandangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami ingin menekankan bahwa kuasa adalah milik Kristus. Kuasa dalam tangan manusia selalu berbahaya. Kami telah mengingatkan tema yang berulang di dua surat Paulus kepada jemaat Korintus – bahwa kuasa Allah, yang jelas terlihat dalam salib Kristus, bekerja melalui kelemahan manusia (mis. 1 Kor 1:18-2:5; 2 Kor 4:7; 12:9,10). Orang duniawi menyembah kuasa; orang Kristen yang memilikinya tahu akan bahayanya. Lebih baik menjadi lemah, karena kemudian kami menjadi kuat. Kami secara khusus menghormati para martir Kristen masa kini (mis. Di Afrika Timur) yang telah meninggalkan cara kekuasaan, dan mengikuti jalan salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertobatan Individu dan Kelompok====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertobatan tidak harus dipahami sebagai selalu dan hanya pengalaman individu, meskipun itu telah menjadi pola harapan Barat selama bertahun-tahun. Sebaliknya, tema kovenan di Perjanjian Lama dam pembaptisan rumah tangga di Perjanjian Baru harus mengarahkan kami untuk menginginkan, bekerja bagi dan mengharapkan keduanya yaitu pertobatan keluarga dan kelompok.Banyak penelitian penting yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menjadi “gerakan rakyat” dari perspektif teologis dan juga sosiologis. Secara teologis, kami mengenali penekanan berdasarkan Alkitab pada solidaritas setiap etnos, yaitu negara atau bangsa. Secara sosiologis, kami mengenali bahwa setiap masyarakat terdiri dari berbagai sub-kelompok, sub-budaya atau unit-unit homogen. Jelas bahwa orang-orang paling siap menerima Injil ketika Injil diberikan kepada mereka dengan cara yang tepat – dan tidak asing – kepada budaya mereka, dan ketika mereka dapat merresponinya bersama dan di antara orang-orang mereka sendiri.Masyarakat yang berbeda memiliki prosedur yang berbeda dalam membuat keputusan kelompok, mis., dengan konsensus, oleh kepala keluarga atau oleh pemimpin kelompok. Kami mengakui keabsahan dimensi bersama dari pertobatan sebagai bagian dari proses keseluruhannya, serta kebutuhan bagi setiap anggota dari kelompok terutama untuk ambil bagian di dalamnya secara pribadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Apakah Pertobatan itu Tiba-Tiba atau Bertahap?====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertobatan lebih sering setahap demi setahap daripada yang ajaran penginjilan tradisional mungkinkan. Memang, mungkin ini hanyalah perbantahan tentang kata-kata. Pembenaran dan regenerasi, yang satu menyampaikan status baru dan yang lain menyampaikan hidup yang baru, adalah karya Allah dan terjadi seketika, meskipun kita tidak menyadarinya ketika itu terjadi. Pertobatan, di sisi lain, adalah tindakan kita sendiri (digerakkan oleh anugerah Allah) berpaling kepada Allah dalam penyesalan dan iman. Meskipun mungkin itu mencakup sebuah masa genting yang disadari, seringkali lambat dan kadang-kadang melelahkan. Terlihat pada latar belakang kosa kata Ibrani dan Yunani, pertobatan pada dasarnya adalah berpaling kepada Allah, yang berlanjut sampai seluruh bidang kehidupan dibawa ke dalam cara yang semakin radikal di bawah ketuhanan Kristus. Pertobatan mencakup perubahan sempurna dan pembaharuan total dalam pikiran dan karakter sesuai dengan rupa Kristus (Rm 12:1,2). Namun, kemajuan ini tidak selalu terjadi. Kami telah memberikan beberapa pemikiran untuk fenomena meyedihkan yang disebut “kembali ke kebiasaan lama” (diam-diam menjauh dari Kristus) dan “murtad” (penolakan terbuka akan Dia). Ini memiliki berbagai alasan. Beberapa orang beralih dari Kristus ketika mereka kecewa dengan Gereja; yang lain menyerah terhadap tekanan-tekanan sekularisme atau tekanan dari budaya mereka yang sebelumnya. Fakta-fakta ini menantang kita baik untuk mewartakan Injil sepenuhnya dan juga untuk lebih teliti dalam mengasuh para petobat dalam iman dan melatih mereka untuk pelayanan. Salah satu anggota Perundingan kami telah menjelaskan pengalamannya dalam hal berpaling yang pertama kepada Kristus (menerima keselamatan-Nya dan mengakui ketuhanan-Nya) yang kedua kepada budaya (menemukan kembali asal-usul alamiah dan identitasnya), dan yang ketiga kepada dunia (menerima misi yang diberikan padanya oleh Kristus). Kami setuju bahwa pertobatan seringkali adalah sebuah pengalaman yang rumit, dan bahwa bahasa Alkitab tentang “berbalik” digunakan dalam cara dan konteks yang berbeda. Pada saat yang sama, kami semua menekankan bahwa komitmen pribadi kepada Yesus Kristus adalah mendasar. Di dalam Dia saja kami mendapatkan keselamatan, hidup baru, dan identitas peribadi. Pertobatan juga pasti menghasilkan sikap dan hubungan yang baru, dan mendatangkan keterlibatan yang bertanggung jawab dalam gereja kami, budaya kami, dan dunia kami. Akhirnya, pertobatan adalah sebuah perjalanan, ziarah, dengan tantangan,yang sama sekali baru, keputusan, dan berpaling kepada Tuhan sebagai titik acuan yang konstan, sampai Dia datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Bedakan antara “regenerasi” dan “pertobatan” menurut Perjanjian Baru.&lt;br /&gt;
#	“Yesus adalah Tuhan.” Apakah artinya ini bagi Anda dalam budaya Anda sendiri? Apakah unsur-unsur warisan budaya Anda yang Anda rasakan? (a) Anda harus, dan (b) Anda tidak perlu, tinggalkan demi Kristus? &lt;br /&gt;
#	Apa yang tiba-tiba dan apa yang (atau mungkin) adalah bertahap dalam pertobatan Kristen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===8. Gereja dan Budaya===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam proses pembentukan gereja, seperti dalam komunikasi dan penerimaan Injil, pertanyaan tentang budaya adalah sangat penting. Jika Injil harus disesuaikan konteks, begitu juga gereja. Sesungguhnya, sub-judul dari Perundingan kami adalah “Kontekstualisasi Dunia dan Gereja dalam Sebuah Situasi Misionaris.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pendekatan Tradisional, Yang Lebih Lama====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama ekspansi misionaris di awal abad ke-19, secara umum dianggap bahwa gereja “pada misi lapangan” menjadi contoh untuk gereja “di rumah.” Kecenderungannya adalah untuk menghasilkan replika yang hampir persis. Arsitektur gothic, liturgi buku doa, pakaian kependetaan, alat musik, himne dan lagu, proses pengambilan keputusan, sinode dan komite, kepala dan pembantu gerejawi – semua diekspor dan secara jelas diperkenalkan ke dalam gereja-gereja baru yang didirikan oleh misi. Ditambahkan pula bahwa pola-pola ini juga sangat ingin diadopsi oleh orang-orang Kristen baru, bukan ditetapkan oleh teman-teman Barat mereka, yang kebiasaan dan cara ibadahnya telah diperhatikan. Namun semua ini didasarkan pada anggapan yang salah bahwa Alkitab memberikan instruksi secara rinci tentang hal-hal tersebut dan bahwa pola pengaturan, ibadah, pelayanan dan kehidupan gereja rumah itu sendiri adalah contoh. Dalam reaksi terhadap sistem ekspor yang monokultural ini, para pemikir perintis misionaris seperti Henry Venn dan Rufus Anderson di tengah-tengah abad ke-19 dan Roland Allen di awal abad ke-20 mempopulerkan konsep gereja “pribumi,” yanga akan “mengatur sendiri, mandiri, dan menyebarkan sendiri.” Mereka mengajukan kasus mereka dengan baik. Mereka menunjukkan bahwa kebijakan rasul Paulus adalah untuk mendirikan gereja, bukan untuk mendirikan pangkalan misi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka juga menambahkan argumen pragmatis sesuai Alkitab, yaitu bahwa kepribumian sangat diperlukan bagi pertumbuhan gereja dalam kedewasaan dan misi. Henry Venn dengan yakin menantikan hari ketika misi akan memberikan semua tanggung jawab kepada gereja-gereja nasional, dan ketika dia menyebut “misi mematikan untuk menyelamatkan” akan terjadi. Pandangan-pandangan ini diterima secara luas dan sangat berpengaruh.Namun, di zaman kami, mereka dikritik, bukan karena cita-cita itu sendiri, tetapi karena cara yang seringkali diterapkan. Beberapa misi, misalnya, telah menerima kebutuhan kepemimpinan pribumi dan kemudian telah merekrut dan melatih pemimpin lokal, mengindoktrin mereka (kata ini keras namun bukan curang) dalam cara berpikir dan prosedur Barat. Membuat pemimpin lokal menjadi kebarat-baratan ini lalu melestarikan gereja yang tampak sangat Barat, dan orientasi asing telah berlangsung, hanya sedikit terselubung dengan penampilan pribumi. Sekarang, oleh karena itu, konsep kehidupan gereja pribumi yang lebih radikal perlu dikembangkan, yang dengannya setiap gereja bisa menemukan dan mengungkapkan jati dirinya sebagai tubuh Kristus di dalam budayanya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Model Kesetaraan Dinamis====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan perbedaan antara “bentuk” dengan “arti,” dan antara “korespondensi formal” dengan “kesetaraan dinamis,” yang telah dikembangkan dalam teori terjemahan dan yang padanya kami telah memberikan komentar, disarankan bahwa sebuah analogi bisa ditarik antara penerjemahan Alkitab dengan formasi gereja. “Korespondensi formal” berbicara tentang peniruan yang membudak, entah dalam menerjemahkan kata ke dalam bahasa lain atau mengekspor contoh gereja ke budaya lain. Sama seperti terjemahan “kesetaraan dinamis”, bagaimanapun, berupaya untuk menyampaikan kepada pembaca sekarang, arti yang setara dengan yang disampaikan kepada pembaca aslinya, dengan menggunakan bentuk budaya yang tepat, demikian juga gereja “kesetaraan dinamis.” Itu akan melihat budayanya seperti terjemahan Alkitab yang baik melihat bahasanya. Itu akan mempertahankan arti dan fungsi yang mendasar yang Perjanjian Baru sebutkan tentang gereja, namun akan berusaha untuk mengungkapkan hal-hal ini dalam bentuk yang setara dengan aslinya dan pas dengan budaya lokal. Kami semua mendapati bahwa model ini bermanfaat dan meyakinkan, dan kami sangat menegaskan cita-cita yang berusaha untuk diungkapkan. Itusudah sepantasnya menolak impor dan tiruan asing, dan struktur yang kaku. Itu sudah sepatutnya melihat Perjanjian Baru untuk prinsip formulasi gereja, daripada melihat pada tradisi atau budaya, dan sama patutnya melihat pada budaya lokal untuk bentuk yang tepat dimana di dalamnya prinsip-prinsip ini harus diungkapkan. Kita semua (bahkan mereka yang melihat keterbatasan model ini) berbagi visi yang sedang dicoba untuk dijelaskan.Jadi, Perjanjian Baru menunjukkan bahwa gereja selalu merupakan komunitas yang beribadah, “imamat kudus untuk mempersembahkan persembahan rohani kepada Allah melalui Yesus Kristus” (1 Ptr 2:5), namun bentuk ibadah (termasuk ada atau tidak adanya berbagai jenis liturgi, upacara, musik, warna, drama, dll.) akan dikembangkan oleh gereja sesuai dengan budaya pribumi. Demikian pula, gereja selalu merupakan komunitas yang bersaksi dan melayani, namun metode penginjilan dan program keterlibatan sosialnya akan bervariasi. Sekali lagi, Allah menginginkan semua gereja untuk memiliki pengawasan pastoral, namun bentuk pengaturan dan pelayanan mungkin sangat berbeda, dan pemilihan, pelatihan, pentahbisan, pelayanan, pakaian, pembayaran dan pertanggungjawaban pendetanya akan ditetnukan oleh gereja sesuai dengan prinsip berdasarkan Alkitab dan cocok dengan budaya lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan yang diajukan tentang model “kesetaraan dinamis” adalah apakah dengan sendirinya cukup besar dan cukup dinamis untuk memberi semua panduan yang dibutuhkan. Analogi antara terjemahan Alkitab dengan formasi gereja tidaklah tepat. Dalam kontrol pekerjaan penerjemah sebelumnya, dan ketika tugas selesai adalah mungkin untuk membuat perbandingan dari dua teks. Setelahnya, bagaimanapun, yang asli yang kepadanya kesetaraan diusahakan bukanlah teks yang terperinci namun rangkaian sekilas pelaksanaan gereja mula-mula, membuat perbandingan lebih sulit, dan bukannya penerjemah yang mengontrol, seluruh komunitas iman haruslah terlibat. Selanjutnya, penerjemah bertujuan pada keobyektifan pribadi, namun ketika gereja lokal berusaha untuk menghubungkan dirinya sendiri secara tepat dengan budaya lokal, untuk menemukan keobyektifan hampir mustahil. Dalam banyak situasi terjebak dalam “sebuah pertemuan antara dua peradaban” (peradaban masyarakat itu sendiri dan peradaban misionaris).Selain itu, mungkin ada kesulitan yang besar dalam menanggapi suara-suara yang bertentangan di komunitas lokal. Beberapa menuntut adanya perubahan (dalam hal melek huruf, pendidikan, teknologi, pengobatan modern, industrialisasi, dll.) sedangkan yang lainnya bersikeras dengan budaya lama dan menolak datangnya zaman yang baru. Dipertanyakan apakah model “kesetaraan dinamis” cukup dinamis untuk menghadapi tantangan semacam ini. Tes ini atau model lain untuk membantu gereja-gereja berkembang dengan tepat, adalah entah bisa memampukan umat Allah untuk menangkap dalam hati dan pikiran mereka rancangan luar biasa gereja mereka yang adalah ekspresi lokal. Setiap model menyajikan hanya gambaran sebagian. Gereja lokal perlu untuk pada akhirnya mengandalkan tekanan dinamis dari sejarah Tuhan yang Hidup. Karena Dialah yang akan membimbing umat-Nya di setiap zaman untuk mengembangkan gereja mereka sedemikian rupa baik untuk mematuhi perintah yang telah diberikan-Nya dalam Kitab Suci maupun untuk merefleksikan unsur-unsur yang baik dari budaya lokal mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kebebasan Gereja====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika setiap gereja adalah untuk mengembangkan dengan kreatif sedemikian rupa untuk menemukan dan mengekspresikan dirinya sendiri, gereja haruslah bebas untuk melakukannya. Ini adalah hak asasinya. Karena setiap gereja adalah gereja Allah. Dipersatukan dengan Kristus, gereja adalah tempat tinggal Allah melalui Roh-Nya (Ef 2:22). Beberapa misi dan misionaris telah lambat mengenalinya dan menerima implikasinya dalam arah bentuk pribumi dan pelayanan setiap anggota. Ini merupakan satu dari banyak alasan yang telah mendatangkan Gereja-gereja Mandiri, terutama di Afrika, yang mengusahakan cara-cara pengekspresian diri yang baru dalam hal budaya lokal. Meskipun para pemimpin gereja juga kadang-kadang menghambat perkembangan pribumi, kesalahan utama terletak di tempat lain. Tidaklah adil untuk menggeneralisasi. Situasinya selalu beragam. Pada generasi awal, ada misi yang tidak pernah mewujudkan semangat dominasi. Di abad ini, beberapa gereja telah bermunculan yang tidak pernah ada di bawah pengawasan misionaris, telah menikmati pengaturan diri sendiri sejak awal. Di kasus lain misi telah tunduk total pada kuasa sebelumnya, sehingga beberapa misi mendirikan gereja sekarang sepenuhnya otonom, dan banyak misi sekarang bekerja dalam kemitraan yang sungguh-sungguh dengan gereja-gereja. Namun ini bukanlah gambaran seluruhnya. Gereja lain masih hampir sepenuhnya terhalangi dari mengembangkan identitas dan program mereka sendiri dengan kebijakan yang ditetapkan dari jauh, dengan pengenalan dan kelanjutan tradisi asing, dengan penggunaan kepemimpinan asing, dengan proses pengambilan keputusan asing, dan terutama dengan penggunaan uang yang manipulatif. Mereka yang mempertahankan kontrol tersebut dapat benar-benar tidak menyadari cara dimana tindakan mereka dihargai dan di sisi lain berpengalaman. Itu bisa dirasakan oleh gereja-gereja yang bersangkutan untuk menjadi tirani. Kenyataan bahwa ini tidak dimaksudkan ataupun disadari menggambarkan secara sempurna bagaimana kami semua (entah kami mengetahuinya atau tidak) terlibat dalam budaya yang telah menjadikan siapa diri kami. Kami sangat menentang “keasingan” seperti itu, dimanapun itu ada, sebagai hambatan serius terhadap kedewasaan dan misi, dan sebagai pemadaman Roh Kudus Allah. Dalam protes terhadap kelanjutan kontrol asing–lah beberapa tahun yang lalu panggilan itu dilakukan untuk menarik semua misionaris. Dalam debat ini beberapa dari kami mau menghindari kata “pertangguhan” karena telah menjadi istilah yang penuh emosi dan kadang-kadang menandakan sebuah kebencian terhadap konsep “misionaris” yang sama. Yang lainnya ingin mempertahankan kata itu untuk menekankan kebenaran yang diungkapkan. Bagi kami itu berarti bukan sebuah penolakan terhadap personil misionaris dan uang mereka, tetapi hanya penolakan terhadap penyalahgunaannya sedemikian rupa untuk mencekik inisiatif lokal. Kami semua setuju dengan pernyataan dari Kovenan Lausanne bahwa “pengurangan misionaris dan uang asing ... kadang-kadang mungkin diperlukan untuk menfasilitasi pertumbuhan gereja nasional dalam kemandirian...” (alinea 9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Struktur Kekuasaan dan Misi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang baru saja kami tulis adalah bagian dari permasalahan yang jauh lebih luas, yang tidak bisa kami abaikan. Dunia zaman sekarang tidak terdiri dari masyarakat atom yang terisolasi, namun merupakan sistem global yang saling terpadu dari ekonomi, politik, teknologi, dan ideologi struktur makro, yang pasti menghasilkan banyak eksploitasi dan penindasan. Apa kaitannya dengan misi? Dan mengapa kami mengangkatnya di sini? Sebagian karena konteks dimana Injil harus diberitakan kepada semua bangsa hari ini. Sebagian juga karena hampir semua dari kami baik di Dunia Ketiga, atau tinggal dan bekerja di sana, atau telah melakukan itu atau telah mengunjungi beberapa negara di situ. Jadi kami telah melihat dengan mata kami sendiri kemisikinan massa, kami merasa untuk mereka dan bersama mereka, dan kami mengerti bahwa penderitaan mereka adalah sebagian karena sistem ekonomi yang sebagian besar dikendalikan oleh negara-negara Atlantik Utara (meskipun negara lain sekarang juga terlibat). Kami yang merupakan warga negara Amerika Utara atau negara-negara Eropa tidak bisa menghindari beberapa perasaan malu, dengan alasan penindasan yang di dalamnya negara-negara kami dalam berbagai tingkat telah terlibat. Tentu saja, kami tahu bahwa terjadi penindasan di banyak negara hari ini, dan kami menentangnya dimana-mana. Namun sekarang kami membicarakan diri kami sendiri, negara kami sendiri dan tanggung jawab kami sebagai orang Kristen. Sebagian besar misionaris-misionaris dunia dan uang misionaris berasal dari negara-negara ini, seringkali dengan pengorbanan pribadi yang besar. Namun kami harus mengakui bahwa beberapa misionaris itu sendiri mencerminkan sikap neo-kolonial dan bahkan mempertahankannya, bersama dengan pos terdepan kekuasaan dan eksploitasi barat seperti Afrika Selatan.Jadi apa yang harus kami lakukan? Satu-satunya respons yang jujur adalah untuk mengatakan bahwa kami tidak tahu. Kursi kecaman berbau kemunafikan. Kami tidak mempunyai solusi yang siap pakai untuk ditawarkan bagi permasalahan seluruh dunia ini. Sesungguhnya, kami sendiri merasa menjadi korban dari sistem. Namun kami juga adalah bagian darinya. Jadi kami merasa hanya mampu membuat komentar-komentar ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, Yesus sendiri terus-menerus mengidentifikasi diri-Nya dengan orang miskin dan lemah. Kami menerima kewajiban untuk mengikuti jejak-Nya dalam hal ini seperti dalam hal lainnya. Setidaknya dengan kasih yang berdoa dan memberi, kami bermaksud untuk memperkuat solidaritas dengan mereka. Namun, Yesus berbuat lebih daripada mengidentifikasi. Dalam ajaran-Nya dan ajaran para rasul akibat wajar dari kabar baik terhadap orang yang tertindas adalah putusan penghakiman atas penindas (mis., Luk 6:24-26; Yak 5:1-6). Kami mengakui bahwa dalam situasi ekonomi yang rumit, tidaklah mudah untuk mengidentifikasi para penindas untuk mengecam mereka tanpa menggunakan retorika melengking yang tidak beresiko atau menyelesaikan apapun. Namun demikian, kami menerima bahwa ada saat-saat ketika itu adalah tugas kami sebagai orang Kristen untuk berbicara menentang ketidakadilan dalam nama Tuhan yang adalah Allah atas keadilan dan pembenaran. Kami akan mencari dari Dia keberanian dan hikmat untuk melakukannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, Perundingan telah menyatakan keprihatinannya tentang sinkretisme di gereja-gereja Dunia Ketiga. Namun kami tidak lupa bahwa gereja-gereja Barat menjadi korban dosa yang sama. Memang, mungkin bentuk yang paling berbahaya dari sinkretisme di dunia hari ini adalah usaha untuk mencampur Injil pengampunan peribadi dengan sikap (bahkan sifat setan) duniawi terhadap kekayaan dan kekuasaan.Kami sendiri tidak bersalah dalam hal ini. Namun kami ingin menjadi orang Kristen yang berintegrasi yang untuk mereka Yesus adalah benar-benar Tuhan atas semua. Jadi kami yang adalah bagian, atau berasal dari Barat, akan memeriksa diri kami sendiri dan berusaha untuk membersihkan diri kami dari sinkretisme gaya Barat. Kami setuju bahwa “keselamatan yang kami akui pasti akan mengubah kamu dalam totalitas peribadai dan tanggung jawab sosial kami. Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Kovenan Lausanne, alinea 5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bahaya dari Kedaerahan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami telah menekankan bahwa Gereja harus dimungkinkan untuk mempribumi, dan untuk “merayakan, bernyanyi dan menari” Injil dalam media budaya itu sendiri. Pada saat yang sama, kami ingin menjadi waspada dengan bahaya dari proses ini. Beberapa gereja di semua enam benua bersukacita dan bersyukur atas penemuan warisan budaya lokal mereka, namun tidak menjadi sombong karenanya (sebuah bentuk sovinisme) atau bahkan memutlakkannya (sebuah bentuk penyembahan berhala). Lebih umum daripada salah satu ekstrim-ektrim ini, bagaimanapun, adalah “kedaerahan,” yaitu, semacam tempat pengasingan diri ke dalam budaya mereka sendiri ketika mereka terpisah terkatung-katung dari Gereja yang lain dan dari dunia yang lebih luas. Ini merupakan sikap diri yang sering muncul di gereja-gereja Barat dan juga di Dunia Ketiga. Ini menyangkal Allah atas ciptaan dan penebusan. Ini untuk menyatakan kebebasan seseorang, yang hanya akan memasuki ikatan yang lainnya. Kami memperhatikan pada tiga alasan utama mengapa kami pikir sikap ini harus dihindari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, setiap gereja adalah bagian dari Gereja universal. Umat Allah oleh anugerah-Nya adalah komunitas multi-ras, multi-nasional, multi-budaya yang unik. Komunitas ini adalah ciptaan Allah yang baru, kemanusiaan-Nya yang baru, dimana Kristus telah menghapuskan semua hambatan (lihat Ef 2 dan 3). Karena itu tidak ada ruang bagi rasisme dalam masyarakat Kristen, atau bagi sukuisme – entah dalam bentuk kesukuan Afrika, atau dalam bentuk kelas-kelas sosial Eropa, atau sistem kasta India. Di sampingkegagalan gereja, visi tentang komunitas kasih supra-etnis ini bukanlah mimpi yang romantis, namun adalah perintah Tuhan. Oleh karena itu, sementara bersukacita dalam warisan budaya dan pengembangan bentuk-bentuk pribumi kami sendiri, kami harus selalu ingat bahwa identitas utama kami sebagai orang Kristen bukan pada budaya tertentu namun di dalam Tuhan dan Tubuh-Nya yang satu (Ef 4:3-6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, masing-masing gereja menyembah Allah yang Hidup, Allah atas keragaman budaya. Jika kami bersyukur kepada-Nya untuk warisan budaya kami, kami harus bersyukur kepada-Nya untuk warisan budaya-budaya lainnya juga. Gereja kami tidak pernah boleh menjadi begitu terikat budaya sehingga pengunjung dari budaya lain tidak merasa diterima. Sesungguhnya, kami percaya itu memperkaya orang Kristen, jika mereka memiliki peluang, untuk mengembangkan dwi-budaya dan bahkan adanya multi-budaya, seperti Rasul Paulus yang adalah seorang Ibrani karena keturunan Ibrani, sekaligus menguasai bahasa Yunani dan seorang warga negara Roma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, setiap gereja harus masuk ke dalam “kemitraan ...dalam memberi dan menerima” (Flp. 4:15). Tidak ada gereja, atau berusaha untuk menjadi, sanggup mencukupi keperluan dirinya sendiri. Jadi gereja-gereja harus berkembang dengan saling berhubungan dalam doa, persekutuan, pertukaran pelayanan dan kerja sama. Asalkan kami berbagi kebenaran sentral yang sama (termasuk ketuhanan Kristus yang tertinggi, otoritas Kitab Suci, perlunya pertobatan, percaya diri dalam kuasa Roh Kudus, dan kewajiban hidup kudus dan bersaksi), kami harus keluar dan tidak malu-malu mengusahakan persekutuan; dan kami harus berbagi karunia roh dan pelayanan, pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, dan sumber keuangan. Prinsip yang sama berlaku untuk gereja. Sebuah gereja harus bebas untuk menolak bentuk budaya asing dan mengembangkan budayanya sendiri; gereja juga harus bebas untuk meminjam dari yang lainnya. Dengan demikian ada kedewasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu contoh dari ini berkaitan dengan teologi. Para saksi lintas budaya tidak boleh berusaha untuk memaksakan tradisi teologis siap pakai kepada gereja dimana mereka melayani, baik melalui ajaran pribadi atau melalui literatur atau dengan mengontrol kurikulum seminari dan sekolah Alkitab. Karena setiap tradisi teologis mengandung dua elemen yang dipertanyakan secara alkitabiah dan telahmemecah-belah secara gerejawi dan menghilangkan unsur-unsur yang, mungkin ketika tidak berdampak besar di negara asalnya, mungkin kepentingan yang besar sekali dalam konteks lain. Pada saat yang sama, meskipun para misionaris seharusnya tidak memaksakan tradisi mereka sendiri pada yang lain, mereka juga seharusnya tidak menolak mereka masuk ke sana (dalam bentuk buku, pengakuan, katekismus, liturgi dan himne), karena diragukan kalau itu menyatakan sebuah warisan iman yang kaya. Selain itu, meskipun kontroversi teologis dari gereja yang lebih lama seharusnya tidak diekspor ke gereja-gereja yang lebih baru, namun pemahaman akan masalah, dan karya Roh Kudus dalam terungkapnya sejarah doktrin Kristen, seharusnya membantu untuk melindungi mereka dari pengulangan yang tidak menguntungkan dari pertempuran yang sama. Jadi kami harus berusaha dengan perhatian yang sama untuk menghindari imperialisme teologis atau kedaerahan teologis. Teologi gereja harus dikembangkan oleh komunitas iman dari Kitab Suci dalam interaksi dengan teologi-teologi lain di masa lalu dan masa kini, dan dengan budaya lokal serta kebutuhan-kebutuhannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bahaya Sinkretisme====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selagi gereja berusaha untuk mengungkapkan dirinya sendiri dalam bentuk budaya lokal, gereja segera harus menghadapi masalah tentang unsur-unsur budaya yang jahat atau memiliki hubungan yang jahat. Bagaimana seharusnya gereja menyikapi ini? Unsur-unsur yang pada hakekatnya adalah palsu atau jahat jelas tidak bisa diterima dalam Kekristenan tanpa terjerumus ke dalam sinkretisme. Ini adalah bahaya bagi semua gereja di semua budaya. Jika kejahatan ada dalam pergaulan saja, bagaimanapun, kami percaya adalah benar untuk berusaha “membaptis”nya dalam Kristus. Ini merupakan prinsip yang dilakukan William Booth ketika dia menciptakan kata-kata Kristen ke musik yang populer, mempertanyakan mengapa kejahatan harus memperoleh lagu-lagu yang terbaik. Maka banyak gereja Afrika sekarang memakai drum untuk mengajak orang beribadah, meskipun sebelumnya tidak bisa diterima, karena dikaitkan dengan tarian perang dan ritual pengantara. Namun prinsip ini menimbulkan masalah. Dalam reaksi yan tepat terhadap orang asing, bermain-main yang tidak tepat dengan unsur Iblis budaya lokal kadang-kadang terjadi. Maka gereja, yang adalah hamba Yesus Kristus yang pertama dan terutama, harus belajar untuk meneliti semua budaya, baik asing maupun lokal, dalam terang ketuhanan dan wahyu Allah. Dengan pedoman apakah, karenanya, sebuah gereja menerima atau menolak ciri-ciri budaya dalam proses konteksualisasi? Bagaimana gereja mencegah atau mendeteksi dan menghilangkan bid’ah (ajaran yang salah) dan sinkretisme (pembawaan bahaya dari cara hidup yang lama)? Bagaimana gereja dapat melindungi dirinya sendiri dari menjadi “gereja rakyat” yang di dalamnya gereja dan masyarakat hampir sama? Satu model tertentu yang kami pelajari adalah Gereja di Bali, Indonesia, yang sekarang sekitar 40 tahun usianya. Pengalamannya telah memberikan pedoman sebagai berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komunitas orang percaya pertama-tama mencari Kitab Suci dan belajar banyak kebenaran berdasarkan Alkitab yang penting. Kemudian mereka mengamati gereja-gereja lain (mis. Sekitar Mediterania) menggunakan arsitektur untuk melambangkan kebenaran Kristen. Ini penting karena orang Bali adalah orang yang sangat “visual” dan menghargai tanda-tanda visual. Jadi diputuskan, misalnya, untuk mengungkapkan penegasan iman mereka akan Trinitas, ada atap tingkat tiga bergaya Bali untuk bangunan gereja mereka. Lambang itu pertama-tama ditetapkan oleh dewan tua-tua yang, setelah mempelajari baik faktor-faktor alkitabiah maupun budaya, merekomendasikannya kepada jemaat lokal.Pendeteksian dan penghapusan bid’ah mengikuti pola yang sama. Ketika orang percaya mencurigai sebuah kesalahan dalam hidup atau ajaran, mereka akan melaporkannya kepada penatua, yang akan membawanya ke dewan para penatua. Setelah mempertimbangkan urusannya, mereka pada gilirannya akan menyampaikan rekomendasi kepada gereja lokal siapa yang memutuskan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah perlindungan yang paling penting dari gereja? Untuk pertanyaan ini jawabannya adalah: “kami percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Penguasa dari semua kuasa.” Dengan pemberitaan kuasa-Nya, “yang sama kemarin dan hari ini dan selama-lamanya,” dengan menekankan setiap waktu pada sifat normatif Kitab Suci, dengan mempercayai para penatua dengan kewajiban untuk merefleksikan Kitab Suci dan budaya, dengan menghancurkan semua rintangan terhadap persekutuan, dan dengan membangun ke dalam struktur, katekismus, bentuk seni, drama, dll., pengingat yang terus-menerus dari posisi Yesus Kristus yang ditinggikan, gereja-Nya telah bertahan dalam kebenaran dan kekudusan. Kadang-kadang, di berbagai bagian di dunia, unsur budaya bisa diadopsi yang sangat mengganggu hati nurani yang sangat sensitif, terutama dari para petobat baru. Ini adalah masalah “saudara yang lebih lemah”yang kepadanya Paulus menulis berkaitan dengan berhala-daging. Karena berhala itu bukan apa-apa, Paulus sendiri memiliki kebebasan hati nurani untuk makan daging-daging ini. Tetapi demi orang-orang Kristen “yang lebih lemah” dengan hati nurani yang kurang terdidik, yang akan tersinggung melihat dia makan daging, dia menahan diri, setidaknya dalam situasi khusus dimana ketersinggunggan tersebut beralasan. Prinsipnya masih berlaku hari ini. Kitab Suci memandang serius hati nurani dan memberitahu kita untuk tidak melanggarnya. Hati nurani perlu diajar supaya menjadi “kuat,” namun sementara hati nurani “lemah” haruslah dihormati. Hati nurani yang kuat akan membebaskan kita; namun kasih membatasi kebebasan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pengaruh Gereja Pada Budaya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menyesalkan pesimisme yang menyebabkan beberapa orang Kristen tidak menetujui keterlibatan budaya secara aktif dalam dunia, dan sikap menyerah yang membujuk orang Kristen lainnya bahwa hal-hal itu dapat berakibat tidak baik dan karenanya harus dalam ketidakaktifan menunggu Kristus untuk memperbaikinya ketika Dia datang. Banyak contoh historis yang bisa diberikan, diambil dari berbagai zaman dan negera, tentang pengaruh yang kuat yang – di bawah Allah – Gereja telah berikan pada budaya yang ada, membersihkan, menjahit, mempercantiknya untuk Kristus. Meskipun semua usaha tersebut telah memiliki kekurangan, tidaklah membuktikan kekeliruan keberanian untuk berusaha. Namun kami memilih, untuk mendasarkan tanggung jawab budaya Gereja pada Kitab Suci daripada pada sejarah. Kami telah mengingatkan diri kami sendiri bahwa saudara dan saudari kami diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, dan bahwa kami diperintahkan untuk menghormati, mengasihi dan melayani mereka dalam setiap bidang kehidupan. Untuk argumen dari penciptaan Allah ini kami menambahkan lagi dari kerajaan-Nya yang masuk ke dalam dunia melalui Yesus Kristus. Semua otoritas adalah milik Kristus. Dialah Tuhan alam semesta dan juga Gereja. Dan Dia telah mengutus kami ke dalam dunia untuk menjadi garam dan terang. Sebagai komunitas-Nya yang baru, Dia mengharapkan kami untuk menembus masyarakat.Jadi kami harus menantang apa yang jahat dan menegaskan apa yang baik; menerima dan berusaha untuk meningkatkan semua yang bermanfaat dan memperkaya dalam kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, pertanian, industri, pendidikan, pengembangan komunitas dan kesejahteraan sosial; mengecam ketidakadilan dan mendukung orang yang tidak berdaya dan tertindas; menyebarkan kabar baik Yesus Kristus, yakni kekuatan yang paling membebaskan dan manusiawi di dunia; dan terlibat secara aktif dalam pekerjaan baik dari kasih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun, dalam kegiatan sosial dan budaya seperti dalam penginjilan, kami harus menyerahkan hasilnya kepada Allah, kami yakin bahwa Dia akan memberkati upaya kami dan memakainya untuk mengembangkan komunitas kami kesadaran yang baru tentang apa yang “benar, mulia, adil, suci, indah, dan terhormat” (Flp. 4:8). Tentu saja, Gereja tidak bisa memaksakan standar-standar Kristen pada masyarakat yang tidak mau, namun dapat memberi komentar pada mereka baik argumen maupun teladan. Semua ini akan membawa kemuliaan bagi Allah dan kesempatan kemanusiaan yang lebih besar kepada sesama kami manusia yang Dia ciptakan dan kasihi. Sebagaimana Kovenan Lausanne menuliskannya, “gereja harus berusaha untuk mengubah dan memperkaya budaya, semuanya bagi kemuliaan Allah” (alinea 10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, optimisme yang naif adalah sama bodohnya dengan pesimisme yang gelap. Di keduanya, kami mencari realisme Kristen yang bijaksana. Di satu sisi, Yesus Kristus memerintah. Di sisi yang lain, Dia belum memusnahkan kekuatan iblis; mereka masih mengamuk. Jadi dalam setiap budaya orang Kristen mendapati diri mereka dalam sebuah situasi konflik dan seringkali menderita. Kami dipanggil untuk melawan “penghulu-penghulu dunia yang gelap ini” (Ef 6:12). Jadi kami saling membutuhkan. Kami harus mengenakan perlengkapan senjata Allah, dan terutama senjata perkasa dari doa orang percaya. Kami juga ingat peringatan Kristus dan rasul-rasul-Nya bahwa sebelum akhir zaman akan ada sebuah wabah kejahatan dan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beberapa kejadian dan perkembangan di dunia kami zaman sekarang menunjukkan bahwa roh Antikristus yang akan datang sedang bekerja bukan hanya di dunia non-Kristen, tetapi juga di masyarakat yang sebagian Kristen dan bahkan di gereja-gereja sendiri. “Karena itu kami menolak gagasan mimpi yang membanggakan diri sendiri bahwa orang dapat membangun suatu utopia di bumi.” (Kovenan Lausanne, alinea 15), dan fantasi tak beralasan bahwa masyarakat akan berkembang menuju kesempurnaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, sementara dengan penuh semangat bekerja di bumi, kami mengharapkan dengan penuh sukacita penantian kembalinya Kristus, dan pengharapan akan surga dan bumi yang baru dimana di dalamnya kebenaran akan berdiam. Lalu karenanya budaya tidak hanya akan diubah, ketika bangsa-bangsa akan membawa kemuliaan mereka ke dalam Yerusalem yang Baru (Why 21:24-26), tetapi juga seluruh ciptaan akan dibebaskan dari ikatan saat ini dari perbudakan yang sia-sia, pembusukan dan penderitaan, untuk ambil bagian dalam kebebasan anak-anak Allah yang mulia (Rm 8:18-25).Kemudian pada akhirnya, semua lutut akan bertelut kepada Kristus dan semua lidah akan mengakui bahwa Dia adalah Tuhan, kemuliaan bagi Allah Bapa (Flp. 2:9-11).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Apakah gereja lokal Anda “bebas” untuk mengembangkan keinginannya sendiri? Jika tidak, kekuatan apa yang menghalanginya?&lt;br /&gt;
#	Beberapa hal yang sulit telah dipaparkan dalam teks ini mengenai “struktur kekuasaan.” Apakah Anda setuju? Jika ya, dapatkah Anda berbuat sesuatu berkaitan dengan hal itu?&lt;br /&gt;
#	“Kedaerahan” dan “sinkretisme” keduanya adalah kesalahan gereja yang mencoba untuk mengungkapkan identitasnya dalam bentuk budaya lokal. Apakah gereja Anda melakukan salah satunya? Bagaimana kesalahan itu bisa dihindari tanpa menanggalkan budaya asli?&lt;br /&gt;
#	Haruskah gereja di negara Anda berbuat lebih untuk “mengubah dan memperkaya” budaya nasionalnya? Jika ya, dengan cara apa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===9. Budaya, Etika Kristen dan Gaya Hidup===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mempertimbangkan beberapa faktor budaya dalam pertobatan Kristen, kami akhirnya sampai pada hubungan antara budaya dan perilaku etis Kristiani. Karena kehidupan baru yang Kristus berikan kepada umat-Nya terkait dengan hal gaya hidup yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpusat Kepada Kristus dan Serupa Dengan Kristus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu tema yang dibahas dalam Perundingan kami adalah ketuhanan Yesus Kristus yang tertinggi. Dia adalah Tuhan atasalam semesta dan Gereja; Dia adalah juga Tuhan atas individu orang percaya. Kami mendapati diri kami dilingkupi oleh kasih Kristus. Itu merajut kami dan membuat kami tidak bisa lepas. Karena kami menikmati barunya hidup melalui kematian-Nya bagi kami, kami tidak memiliki alternatif (dan tidak ada keinginan) selain untuk hidup bagi Dia yang telah mati bagi kami dan bangkit kembali (2 Kor 5: 14,15). Loyalitas kami pertama adalah kepada-Nya, berusaha untuk menyenangkan Dia, menjalani hidup yang layak untuk Dia, dan menaati Dia.Hal ini memerlukan penolakan dari semua kesetiaan yang lebih rendah. Jadi kami dilarang untuk menyesuaikan diri sendiri dengan standar dunia ini; yaitu, dengan budaya apapun yang tidak menghormati Allah, dan diperintahkan untuk diubah dalam perilaku kami melalui pembaharuan pikiran yang melaksanakan kehendak Allah.Kehendak Allah ditaati secara sempurna oleh Yesus. Oleh karena itu hal yang paling menonjol dari seorang Kristen bukanlah budayanya, melainkan keserupaannya dengan Kristus.” Sebagaimana Letter to Diognetus pertengahan abad kedua menyatakannya: “Orang Kristen tidak dibedakan dari orang lain berdasarkan negara atau perkataan atau adat istiadat..mereka mengikuti adat istiadat negara dalam hal pakaian, makanan, dan kehidupan sehari-hari lainnya, tetapi kondisi kewarganegaraan yang mereka tunjukkan adalah indah...dengan kata lain, seperti jiwa di dalam tubuh, demikianlah orang Kristen di dalam dunia.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Standar Moral dan Praktek Budaya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya tidak pernah statis. Budaya bervariasi dari tempat ke tempat dan dari waktu ke waktu. Dan sepanjang sejarah gereja yang panjang di berbagai negara, Kekristenan, dalam ukuran tertentu, telah memusnahkan budaya, melestarikannya, dan akhirnya menciptakan budaya yang baru menggantikan yang lama. Jadi dimana pun orang Kristen perlu untuk berpikir dengan serius tentang bagaimana hidup baru mereka di dalam Kristus berkaitan dengan budaya zaman sekarang. Dalam tulisan Perundingan awal kami, dua model serupa ditetapkan di hadapan kami. Yang satu menyatakan bahwa ada beberapa kategori kebiasaan yang perlu dibedakan. Kategori pertama mencakup praktek-praktek yang akan diharapkan untuk segera ditinggalkan oleh petobat karena sama sekali tidak sesuai dengan Injil Kristen (mis., penyembahan berhala, kepemilikan budak, sihir dan ilmu gaib, perburuan kepala, permusuhan keluarga, ritual prostitusi, dan semua diskriminasi ras pribadi berdasarkan ras, warna kulit, kelas atau kasta). Kategori kedua mungkin mencakup kebiasaan lembaga yang bisa ditoleransi untuk sementara namun diharapkan akan hilang secara bertahap (mis., sistem kasta, perbudakan dan poligami). Kategori ketiga mungkin berhubungan dengan tradisi pernikahan, terutama pertanyaan dari kerabat, yang membuat gereja-gereja dibagi, sedangkan kategori keempat menempatkan “urusan yang sepele” yang berkaitan hanya dengan kebiasaan dan bukan dengan moral, dan karenanya bisa dipertahankan tanpa kompromi (mis., kebiasaan makan dan mandi, bentuk salam publik kepada lawan jenis, gaya rambut dan pakaian, dll.).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Model kedua yang telah kami anggap membedakan antara perjumpaan “langsung” dan “tidak langsung”antara Kristus dengan budaya, yang kira-kira sesuai dengan kategori pertama dan kedua dari model yang lain. Diterapkan di Fiji abad ke-19 dalam studi kasus yang disajikan kepada kami, diasumsikan bahwa akan ada “perjumpaan langsung” dengan praktek-praktek tidak manusiawi seperti kanibalisme, pembunuhan janda, bayi, ayah, dan diharapkan petobat meninggalkan kebiasaan ini berdasarkan pertobatan. Perjumpaan “tidak langsung” akan terjadi, bagaimanapun, baik ketika masalah moral tidak begitu jelas (mis., beberapa kebiasaan pernikahan, ritual permulaan, hari raya, perayaan musikal yang meliputi nyanyian, tarian dan alat musik) atau ketika itu menjadi kelihatan hanya setelah petobat mulai menerapkan iman barunya dalam kehidupan Kristen. Beberapa praktek ini tidak perlu dibuang, melainkan dibersihkan dari unsur najis dan diberi makna Kristen. Kebiasaan lama dapat diberi lambang yang baru, tarian yang lama bisa merayakan berkat yang baru dan kerajinan tua bisa digunakan untuk tujuan yang baru. Meminjam ungkapan dari Perjanjian Lama, pedang dapat ditempa menjadi bajak dan tombak menjadi pisau pemangkas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kovenan Lausanne menyatakan, Injil tidak mensyaratkan superioritas budaya manapun, tetapi mengevaluasi semua budaya menurut kriterianya sendiri tentang kebenaran dan kebajikan, dan bersikeras pada kemutlakan moral dalam semua budaya” (alinea 10). Kami ingin mendukung ini, dan menekankan bahwa bahkan dalam relativitas zaman sekarang ini, kemutlakan moral tetap. Sesungguhnya, gereja yang mempelajari Kitab Suci tidak boleh kesulitan untuk memilah apa yang menjadi bagian kategori pertama atau “perjumpaan langsung.” Prinsip-prinsip Kitab Suci di bawah bimbingan Roh Kudus juga akan menuntun mereka mengenai kategori “perjumpaan tidak langsung.” Sebuah tes tambahan adalah menanyakan apakah sebuah praktek meningkatkan atau mengurangi kehidupan manusia. Akan terlihat bahwa studi kami telah difokuskan terutama pada situasi dimana gereja-gereja yang lebih baru harus menentukan sikap moral terhadap kejahatan tertentu. Namun kami telah diingatkan bahwa Gereja perlu untuk melawan kejahatan dalam budaya Barat juga. Di Barat abad ke-20, seringkali contoh yang lebih rumit namun kurang mengerikan dari kejahatan yang ditentang oleh kehadiran Fiji di abad ke-19. Sejalan dengan kanibalisme adalah ketidakadilan sosial yang “memakan” orang miskin; pembunuhan janda, penindasan kaum wanita; pembunuhan bayi, aborsi; pembunuhan ayah, pengabaian keji terhadap warga senior; perang suku, Perang Dunia I dan II; ritual prostitusi, persetubuhan dengan siapa saja. Memikirkan paralelisme, perlu diingat baik rasa bersalah yang ditambahkan mengikuti bangsa-bangsa Kristen secara nominal, dan juga keberanian orang Kristen melawan kejahatan tersebut, dan besarnya (meskipun tidak sempurna) keberhasilan yang telah dimenangkan dalam mengurangi kejahatan-kejahatan ini. Kejahatan terdapat dalam banyak bentuk, namun universal, dan dimanapun kejahatan muncul orang Kristen harus melawan dan menolaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Proses Perubahan Budaya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah cukup bagi para petobat untuk membuat penolakan pribadi terhadap kejahatan di budaya mereka; seluruh gereja perlu bekerja untuk penghapusan kejahatan tersebut. Maka penting untuk menanyakan bagaimana budaya berubah di bawah pengaruh Injil. Tentu saja, kejahatan dan Iblis berakar kuat dalam sebagian besar budaya, namun Kitab Suci meminta pertobatan nasional dan reformasi, dan sejarah mencatat banyak kejadian perubahan budaya untuk yang lebih baik. Dalam beberapa kasus budaya tidaklah selalu menolak perubahan yang diperlukan seperti kelihatannya. Bagaimanapun, perhatian yang besar diperlukan, ketika berusaha untuk memulainya. Pertama, orang berubah karena dan jika mereka menginginkannya.” Ini terlihat aksiomatis (sudah jelas kebenarannya). Selanjutnya, mereka menginginkan perubahan hanya jika mereka merasakan keuntungan positif dari perubahan itu. Hal-hal ini akan perlu dengan seksama dibahas dan ditunjukkan dengan sabar, apakah orang Kristen menyarankan di negara berkembang keuntungan dari melek huruf atau pentingnya air yang bersih, atau di negara Barat pentingnya pernikahan dan kehidupan keluarga yang stabil. Kedua, saksi lintas budaya di Dunia Ketiga perlu untuk benar-benar menghormati dibangunnya mekanisme perubahan sosial pada umumnya, dan “prosedur inovasi yang benar” di setiap budaya tertentu. Ketiga, penting untuk diingat bahwa hampir semua kebiasaan melakukan fungsi pentingya di dalam budaya, dan bahwa bahkan praktek sosial yang tidak diinginkan bisa menjalankan fungsi “konstruksif.” Bahwa menjadi begitu, sebuah kebiasaan tidak boleh dimusnahkan tanpa pertama-tama memilah fungsinya dan kemudian mengganti dengan kebiasaan lain untuk menjalankan fungsi yang sama. Sebagai contoh, mungkin benar untuk ingin melihat hilangnya beberapa ritual pengenalan yang berkaitan dengan sunat remaja dan beberapa bentuk pendidikan seks yang menyertainya. Ini bukan untuk menyangkali bahwa ada banyak nilai dalam proses pengenalan; perhatian yang besar harus diberikan untuk melihat pengganti yang memadai tersedia untuk ritual dan bentuk pengenalan yang hati nurani Kristen akan ingin untuk melihatnya hilang. Keempat, adalah penting sekali untuk mengenali bahwa beberapa praktek budaya memiliki landasan teologis. Jika ini demikian, budaya hanya akan berubah jika teologinya berubah. Karena itu, jika janda dibunuh supaya suami mereka tidak bisa memasuki dunia berikutnya tanpa pengawasan, atau jika orang yang lebih tua dibunuh sebelum kepikunan menyerang, supaya di dunia berikutnya mereka bisa cukup kuat untuk bertarung dan berburu, maka pembunuhan demikian, karena didasaskan pada eskatologi yang salah, akan bisa dihapuskan jika sebuah alternatif yang lebih baik, harapan Kristen, diterima pada tempatnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pertanyaan untuk Diskusi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Dapatkah “keserupaan dengan Kristus” diakui dalam semua budaya? Apa unsur-unsurnya?&lt;br /&gt;
#	Dalam budaya Anda, apa yang Anda harapkan untuk segera ditinggalkan oleh para petobat baru?&lt;br /&gt;
#	Sebutkan beberapa “kebiasaan kelembagaan” di negara Anda yang orang Kristen harapkan akan “hilang secara bertahap” (mis., poligami, sistem kasta, perceraian yang mudah, atau beberapa bentuk penindasan). Langkah aktif apa yang harus dilakukan orang Kristen untuk membawa perubahan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kesimpulan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perundingan kami telah meninggalkan untuk kami pengertian , yang tidak diragukan lagi, mengenai pentingnya budaya yang meresap. Penulisan dan pembacaan Alkitab, pekabaran Injil, pertobatan, gereja dan perbuatan – semuanya dipengaruhi oleh budaya. Karena itu sangatlah penting bahwa semua gereja mengkontekstualisasikan Injil supaya mengabarkannya dengan efektif di budaya mereka sendiri.Untuk tugas penginjilan ini, kita semua tahu kebutuhan kita yang mendesak tentang pelayanan Roh Kudus. Dia adalah Roh Kebenaran yang bisa mengajar setiap gereja bagaimana menghubungkan budaya yang menyelubunginya. Dia juga adalah Roh kasih, dan kasih adalah “Bahasa – yang dimengerti di semua budaya manusia.” Jadi kiranya Allah memenuhi kita dengan Roh-Nya! Kemudian, berbicara kebenaran di dalam kasih, kita akan bertumbuh ke arah Kristus yang adalah Kepala dari Tubuh, bagi kemuliaan kekal Allah (Ef 4:15). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;CATATAN:&#039;&#039;&#039; Kutipan yang tidak dikaitkan dalam laporan ini diambil dari berbagai tulisan yang disajikan pada Perundingan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Makedonia_Baru:_Sebuah_Era_Baru_Revolusioner_Dalam_Misi_Dimulai&amp;diff=706</id>
		<title>Makedonia Baru: Sebuah Era Baru Revolusioner Dalam Misi Dimulai</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Makedonia_Baru:_Sebuah_Era_Baru_Revolusioner_Dalam_Misi_Dimulai&amp;diff=706"/>
		<updated>2013-12-18T14:54:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{ralph winter}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Donald McGavran berkomentar, “Di Kongres Internasional Penginjilan Dunia, Dr. Ralph Winter membuktikan melampaui keraguan yang masuk akal manapun bahwa di dunia saat ini [tahun 1974] 2.700.000.000 laki-laki dan perempuan mendengar Injil melalui ‘penginjilan tetangga dekat.’ Mereka bisa mendengarnya hanya dengan penginjil E-2 dan E-3 yang melintasi rintangan-rintangan budaya, linguistik, dan geografis, dengan sabar mempelajari budaya dan bahasa lain, selama beberapa dekade memberitakan Injil melalui perkataan dan perbuatan, dan melipatgandakan gereja-gereja Kristen yang reproduktif dan bertanggung jawab.” McGavran menambahkan, “Tidak ada yang dikatakan di Lausanne yang memiliki arti lebih daripada untuk perluasan Kekristenan antara sekarang dengan tahun 2000.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel berikut adalah teks pidato Winter, disampaikan pada Kongres Lausanne Juli 1974. Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah kesalahpahaman yang serius telah merayap ke dalam pemikiran banyak penginjil. Anehnya, hal itu berdasarkan pada sejumlah fakta yang sangat bagus. Injil sekarang telah sampai ke ujung bumi. Orang-orang Kristen sekarang telah memenuhi Amanat Agung setidaknya dalam pengertian geografis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada momen sejarah ini, kita dapat mengakui dengan penuh hormat dan kebanggaan, para penginjil dari setiap bangsa itu yang telah pergi sebelum kita dan yang usaha pengorbanan serta pencapaian heroik mereka, telah menjadikan Kekristenan sejauh ini agama terbesar dan agama yang paling tersebar luas di dunia, dengan gereja Kristen di setiap benua dan di hampir setiap negara. Ini bukanlah kemenangan hampa. Sekarang lebih dari kapan pun sejak Yesus berjalan di pantai Galilea, kita tahu dengan keyakinan penuh bahwa Injil adalah untuk semua orang, bahwa Injil masuk akal dalam bahasa apa pun dan bahwa Injil bukan sekadar sebuah agama dari Mediterania atau dari Barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini semua benar. Di sisi lain, banyak orang Kristen sebagai hasilnya memiliki kesan bahwa pekerjaan itu sekarang hampir selesai dan bahwa untuk menyelesaikannya kita hanya perlu untuk maju dalam penginjilan lokal sebagai peran dari gereja menjangkau seluruh dunia sekarang mencapai kemanapun pekerjaan itu telah dirintis. Banyak organisasi Kristen secara luas mulai dari Dewan Gereja Dunia sampai ke denominasi-denominasi Amerika Serikat, bahkan beberapa kelompok penginjilan, telah terburu-buru sampai pada kesimpulan bahwa kita sekarang boleh meninggalkan strategi misionaris tradisional dan mengandalkan orang-orang Kristen lokal dimanapun untuk menyelesaikan pekerjaan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena inilah mengapa penginjilan adalah satu-satunya kata teguran untuk kesatuan penginjilan hari ini. Tidak semua bisa sepakat mengenai strategi-strategi misi luar negeri, namun lebih banyak orang yang lebih daripada sebelumnya, sepakat mengenai penginjilan, karena hal itu tampaknya menjadi satu-satunya pekerjaan jelas yang harus terus dilakukan. Baiklah! Tidak ada yang salah dengan penginjilan. Sebagian besar pertobatan pastilah terjadi sebagai hasil kesaksian beberapa orang Kristen kepada tetangga yang dekat dan itu adalah penginjilan. Masalah yang besar adalah kebenaran tambahan bahwa sebagian besar orang-orang non-Kristen di dunia hari ini bukanlah tetangga-tetangga dekat secara budaya dari setiap orang Kristen dan bahwa itu akan membutuhkan penginjilan “lintas budaya” yang khusus untuk menjangkau mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===PENGINJILAN LINTAS BUDAYA: KEBUTUHAN YANG KRITIS===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Contoh Kebutuhan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Marilah kita mendekati subjek ini dengan beberapa ilustrasi grafis. Saya berpikir, misalnya, ratusan ribu orang Kristen di Pakistan. Hampir semua dari mereka adalah orang-orang yang belum pernah menjadi M dan tidak memiliki hubungan dengan komunitas M yang mendorong kesaksian. Namun mereka tinggal di negara yang 97% M!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
M, dari pihak mereka, memiliki sikap yang buruk terhadap lapisan masyarakat yang ditunjukkan oleh orang-orang Kristen. Satu kelompok Kristen telah berani menyebut dirinya Gereja Pakistan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelompok Kristen lain dikenal dengan nama Presbyterian Church of Pakistan. Sedangkan ini adalah gereja-gereja nasional dalam pengertian bahwa mereka adalah bagian dari negara mereka, mereka tidak dapat disebut gereja-gereja nasional jika frase ini menyiratkan bahwa mereka secara budaya terkait dengan blok besar orang-orang yang merupakan 97% lainnya dari negara, yaitu M. Jadi, meskipun M secara geografis adalah tetangga dekat orang-orang Kristen, mereka bukanlah tetangga dekat secara budaya dan dengan demikian penginjilan yang biasa tidak akan berfungsi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau Gereja India Selatan, sebuah gereja besar yang telah mengumpulkan usaha-usaha misionaris yang signifikan dari banyak gereja selama abad terakhir. Namun sementara itu disebut Gereja India Selatan, 95% anggotanya berasal dari lima diantara lebih dari 100 kelas sosial (kasta) di India Selatan. Penginjilan biasa dari pihak orang Kristen yang sudah ada akan mudah mengajak laki-laki dan perempuan dari lima kelas sosial yang sama. Namun, akan jauh lebih sulit – ini sebenarnya dalam jenis penginjilan lain – bagi gereja ini untuk membuat pencapaian besar di dalam 95 kelas sosial lain yang merupakan sebagian besar dari penduduknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau gereja besar Batak di Sumatra Utara. Ini adalah salah satu gereja terkenal di Indonesia. Para anggotanya telah melakukan banyak penginjilan di antara sesama orang Batak yang di antara mereka masih ada ribuan yang bisa mereka jangkau tanpa belajar bahasa asing, dan di antara orang-orang yang mereka bisa bekerja dengan efisiensi yang maksimal dari hubungan langsung dan pemahaman. Tetapi pada saat yang sama, sebagian besar dari semua orang di Indonesia bertutur bahasa-bahasa lain dan dari unit etnis yang lain. Bagi orang-orang Kristen Batak di Sumatra Utara, untuk memenangkan orang bagi Kristus dari bagian lain Indonesia akan menjadi semacam tugas yang jelas berbeda. Ini adalah penginjilan jenis lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau gereja besar Nagaland di timur laut India. Bertahun-tahun yang lalu, misionaris-misionaris Amerika dari dataran Assam menjangkau Bukit Naga dan memenangkan beberapa Naga Ao. Kemudian naga Ao ini memenangkan hampir semua suku mereka bagi Kristus. Hal berikutnya, Naga Ao memenangkan anggota suku Santdam Naga yang bertutur bahasa yang serumpun. Orang-orang Kristen Santdam Naga ini lalu mulai memenangkan hampir seluruh suku mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses ini terus berlangsung hingga mayoritas dari semua 14 suku Naga menjadi Kristen. Sekarang sebagian besar Nagaland adalah Kristen – bahkan pegawai pemerintahan dari pemerintah negara adalah Kristen – ada keinginan untuk bersaksi di tempat lain di India. Namun bagi orang-orang Kristen Nagaland, untuk memenangkan orang lain di India adalah tugas misi luar negeri yang sama seperti bagi orang Inggris, Korea, atau Brazil yang menginjili di India. Ini adalah satu alasan mengapa hal itu adalah suatu tugas baru dan belum pernah terjadi sebelumnya bagi orang-orang Naga untuk menginjili seluruh India. Kewarganegaraan India adalah salah satu keuntungan yang dimiliki orang Kristen Naga dibandingkan dengan orang dari negara lain, namun kewarganegaraan tidak membuatnya lebih mudah bagi mereka untuk belajar salah satu dari ratusan bahasa yang sama sekali asing di seluruh India.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, bagi orang-orang Naga menginjili orang lain di India, mereka akan perlu untuk menerapkan penginjilan jenis lain yang radikal. Jenis penginjilan yang termudah, ketika mereka menggunakan bahasa mereka sendiri untuk memenangkan bangsa mereka sendiri, sekarang sebagian besar di masa lampau. Jenis penginjilan kedua bukanlah lebih sulit – dimana mereka memenangkan orang-orang dari suku tetangga Naga, yang bahasanya adalah bahasa saudara yang serumpun. Penginjilan jenis ketiga, yang diperlukan untuk memenangkan orang-orang nun jauh di bagian India, akan jauh lebih sulit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Berbagai Jenis Penginjilan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita beri label untuk berbagai jenis penginjilan ini. Dimana seorang Naga Ao memenangkan Ao lainnya, mari kita menyebut itu penginjillan E-1. Dimana seorang Ao melintasi batas bahasa suku ke bahasa yang serumpun dan memenangkan Santdam, kita akan menyebutnya penginjilan E-2. (tugas E-2 tidak mudah juga dan membutuhkan teknik yang berbeda.) Namun kemudian jika seorang Naga Ao pergi ke daerah lain India, ke bahasa yang benar-benar asing, misalnya, Telugu, Korhu atau Bhili, tugasnya akan jauh lebih sulit daripada penginjilan E-1 atau bahkan E-2. Kita akan menyebutnya penginjilan E-3.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita mencoba terminologi ini di negara lain. Misalnya Taiwan. Ada juga, berbagai jenis bangsa. Mayoritas adalah Minnans, yang ada di sana sebelum makanan orang-orang bertutur bahasa Mandarin datang dari seberang dataran. Kemudian ada blok besar orang-orang yang bertutur bahasa Hakka yang datang dari dataran lebih awal. Di atas pegunungan, bagaimanapun, beberapa ratus ribu penduduk asli bertutur dialek bahasa Melayu-Polinesia yang sama sekali berbeda dari bahasa Tionghoa. Sekarang, jika seorang Kristen dari Tiongkok Dataran memenangkan orang lain dari dataran, itu adalah penginjilan E-1. Jika dia memenangkan orang Taiwan Minnan atau Hakka, itu adalah penginjilan E-2. Jika dia memenangkan orang dari suku-suku di bukit, itu adalah penginjilan E-3, dan ingat, E-3 adalah tugas yang jauh lebih rumit, dilakukan pada jarak budaya yang lebih besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejauh ini kita hanya mengacu pada perbedaan bahasa, namun untuk tujuan mendefinisikan strategi penginjilan, segala jenis tantangan, segala jenis hambatan komunikasi yang mempengaruhi penginjilkan adalah signifikan. Di Jepang misalnya, hampir semua orang bertutur bahasa Jepang, dan tidak ada dialek bahasa Jepang yang sangat berbeda dibandingkan dengan dialek bahasa Tionghoa. Namun terdapat perbedaan-perbedaan sosial yang membuat sangat sulit bagi orang-orang dari satu kelompok untuk memenangkan orang lain dari kelas sosial yang berbeda. Di Jepang, sama seperti di India, perbedaan sosial sering menjadi lebih signifikan dalam penginjilan daripada perbedaan bahasa. Sehingga orang Kristen Jepang tidak hanya memiliki lingkungan kontak E-1, tetapi juga lingkungan E-2 yang lebih sulit untuk dijangkau. Para misionaris yang pergi dari Jepang ke bagian dunia yang lain untuk bekerja dengan non-Jepang dengan bahasa yang berbeda total sedang melakukan tugas penginjilan berdasarkan E-3.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terakhir, ijinkan saya memberi contoh dari pengalaman saya sendiri. Saya bertutur bahasa Inggris sebagai bahasa pribumi. Selama sepuluh tahun, saya tinggal dan bekerja di Amerika Tengah, sebagian besar waktu di Guatemala, dimana Spanyol adalah bahasa resmi, namun dimana mayoritas orang bertutur beberapa dialek dari keluarga bahasa asli Maya. Saya punya dua bahasa untuk dipelajari. Spanyol memiliki 60% tumpang tindih dalam kosa kata dengan bahasa Inggris, jadi saya tidak kesulitan mempelajari bahasa tersebut. Seiring dengan belajar bahasa Spanyol, saya menjadi terbiasa dengan perluasan budaya Eropa ke Dunia Baru, dantidaklah terlalu sulit untuk memahami cara hidup kalangan orang yang bertutur bahasa Spanyol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, karena Spanyol begitu mudah dibandingkan, saya mendapati bahwa belajar bahasa Maya di daerah kami, sangat lebih sulit. Dalam pekerjaan kami sehari-hari, beralih dari bahasa Inggris ke Spanyol ke bahasa Maya membuat saya cukup sadar dengan tiga “jarak budaya” yang berbeda. Ketika saya berbicara tentang Kristus kepada seorang Tentara Perdamaian dalam bahasa Inggris, saya sedang melakukan penginjilan E-1. Ketika saya berbicara kepada seorang Guatemala dalam bahasa Spanyol, itu adalah penginjilan E-2. Ketika saya berbicara kepada seorang Indian dalam bahasa Maya, itu adalah penginjilan E-3 yang jauh lebih sulit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang saya tinggal di California Selatan, dimana sebagian besar kontak saya ada di lingkungan E-1, namun jika saya menginjili di antara jutaan orang yang bertutur bahasa Spanyol, saya harus memakai penginjilan E-2. Jika saya belajar bahasa Navajo dan berbicara tentang Kristus kepada 30.000 orang Indian Navajo yang tinggal di Los Angeles, saya melakukan penginjilan E-3. Menjangkau para pengungsi yang bertutur bahasa Kanton dari Hong Kong dengan Kabar Baik tentang Kristus, bagi saya, adalah juga tugas E-3. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan, bagaimana pun, bahwa apa yang bagi saya E-3 bisa hanya E-2 bagi orang lain. Orang Tiongkok kelahiran Amerika, yang memiliki keterbukaan yang signifikan terhadap sub-budaya bertutur bahasa Kanton, akan melihat pengungsi Hong Kong hanya sebuah tugas E-2. Semua orang yang ada di sini di Kongres ini memiliki lingkungan E-1 nya sendiri dimana dia bertutur bahasanya sendiri dan membangun di semua intuisi yang berasal dari pengalamannya dalam budayanya sendiri. Dan mungkin hampir semua dari kita adalah lingkungan E-2 – kelompok orang yang bertutur bahasa-bahasa yang sedikit berbeda, atau yang terlibat dalam pola budaya yang cukup berbeda dengan budaya kita sendiri ketika yang membuat komunikasi lebih sulit. Orang-orang demikian dapat dijangkau dengan sedikit susah payah dan dengan upaya yang tulus, namun itu akan membawa kita keluar dari cara kita untuk menjangkau mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih penting, mereka adalah orang-orang yang, sekali bertobat, tidak akan merasa nyaman di dalam gereja yang kita hadiri. Bahkan, mereka mungkin bertumbuh lebih cepat secara rohani jika mereka dapat menemukan persekutuan Kristen di antara kalangan mereka sendiri. Lebih signifikan untuk penginjilan, cukup mungkin bahwa dengan persekutuan mereka sendiri, mereka lebih mungkin untuk memenangkan orang lain dari kelompok sosial mereka sendiri. Akhirnya, setiap kita di sini di Lausanne memiliki lingkungan E-3: sebagian besar bahasa dan budaya di dunia sama sekali asing bagi kita; mereka ada pada jarak maksimum budaya. Jika kita berusaha untuk menginjili pada jarak E-3 ini, kita mempunyai pendakian bukit yang panjang untuk bisa masuk akal bagi siapa pun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkatnya, pola induk dari perluasan gerakan Kristen adalah pertama untuk usaha khusus E-2 dan E-3 untuk hambatan lintas budaya ke dalam komunitas baru dan mendirikan denominasi-denominasi yang kuat, berkelanjutan, dan penuh semangat menginjili, dan kemudian untuk gereja nasional meneruskan pekerjaan pada tingkat E-1 yang benar-benar berkekuatan tinggi. Dengan demikian kita dipaksa untuk percaya bahwa sampai semua suku dan bahasa memiliki gereja menginjili yang kuat dan berkuasa di dalamnya, dan dengan demikian, saksi E-1 di dalamnya, upaya-upaya E-2 dan E-3 yang datang dari luar masih penting dan sangat mendesak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===PENGINJILAN LINTAS BUDAYA: KEBUTUHAN YANG KRITIS===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada titik ini, mari kita tanyakan apa yang Alkitab katakan tentang semua ini. Apakah perbedaan-perbedaa budaya ini adalah sesuatu yang dicatat oleh Alkitab? Apakah ini adalah sesuatu yang harus memakan waktu dan perhatian kita? Apakah masalah jarak budaya ini adalah sesuatu yang begitu penting sehingga pantas masuk ke dalam Kongres seperti ini? Mari kita beralih ke Alkitab dan meihat apa yang dikatakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah Para Rasul 1:8 Sebuah Penekanan pada Jarak Budaya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita melihat bagian penting dalam pasal pertama Kisah Para Rasul, demikian sentral untuk Kongres ini secara keseluruhan, dimana Yesus menunjuk kepada murid-murid-Nya ruang lingkup seluruh dunia dari kepedulian Allah – “di Yerusalem, di seluruh Yudea, dan di Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Jika bukan karena bagian ini (dan semua bagian lain dalam Alkitab yang mendukungnya), kita bahkan tidak akan berkumpul di sini hari ini. Tanpa mandat berdasarkan Alkitab ini, tidak akan ada Kongres Penginjilan Dunia. Justru inilah tugasnya – tugas memuridkan semua bangsa – yang melibatkan kita semua dan menyatukan kita semua dalam satu usaha yang bertujuan sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan, bagaimanapun, bahwa Yesus tidak sekadar mencakup seluruh dunia. Dia membedakan antara bagian-bagian dunia yang berbeda dan membedakannya menurut jarak relatif dari bangsa-bangsa itu dari para pendengar-Nya. Di kesempatan yang lain Dia hanya berkata, “Pergilah ke seluruh dunia,” namun dalam bagian ini Dia telah membagi tugas itu ke dalam komponen-komponen yang signifikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada pandangan sekilas pertama, Anda mungkin berpikir bahwa Dia hanya berbicara secara geografis, namun dengan studi yang lebih teliti, tampak jelas bahwa Dia tidak sekadar berbicara tentang jarak geografis, tetapi tentang jarak budaya. Petunjuknya adalah munculnya kata Samaria dalam urutan ini. Untungnya, kita memiliki wawasan khusus mengenai apa yang Yesus maksud dengan Samaria, karena Perjanjian Baru mencatat dalam bagian yang banyak dengan tepat tentang permasalahan penginjilan yang dihadapi orang-orang Yahudi dalam usaha menjangkau orang-orang Samaria. Saya berbicara dari kisah yang terkenal tentang Yesus dan perempuan di sumur. Samaria tidaklah jauh secara geografis. Yesus harus lewat sana setiap kali Dia pergi dari Galilea ke Yerusalem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun ketika Yesus berbicara kepada perempuan Samaria ini, segera menjadi jelas bahwa dia menghadapi kendala budaya yang khusus. Sementara kelihatannya dia cukup dekat secara linguistik dengan Dia untuk bisa memahami perkataannya, jawabannya yang pertama terfokus pada perbedaan antara orang Yahudi dan Samaria – mereka beribadah di tempat yang berbeda. Yesus tidak menyangkali perbedaan yang menyolok ini, tetapi menerimanya dan melampauinya dengan menunjukkan keterbatasan budaya manusia baik cara ibadah Yahudi maupun Samaria. Dia berbicara ke hatinya dan melangkaui perbedaan-perbedaan budaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, para murid tampak bingung dan dalam kesukaran. Bahkan jika mereka mengerti bahwa Allah tertarik dengan orang-orang Samaria, mungkin mereka akan menghadapi kesulitan berjuang dengan perbedaan budaya. Bahkan jika mereka telah berusaha untuk melakukannya, mungkin mereka tidak cukup peka untuk melangkaui perbedaan-perbedaan tertentu dan langsung meunju inti masalahnya – yang adalah hati perempuan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus bertindak dengan prinsip yang sama ketika dia berusaha untuk menginjili orang-orang Yunani, yang bahkan berada pada jarak budaya yang lebih besar. Bayangkan betapa terkejutnya beberapa orang Kristen Yahudi yang setia ketika mereka mendengar desas-desus bahwa Paulus melewatkan sunat, salah satu perbedaan budaya yang paling penting bagi orang Yahudi, bahkan orang Yahudi Kristen, dan menuju ke inti masalahnya. Dia dilaporkan kepada mereka mengatakan, “ Baik sunat atau tidak bersunat tidak berarti apapun dibandingkan dengan ada di dalam Kristus, percaya kepada-Nya, dibaptis dalam nama-Nya, dipenuhi dengan Roh-Nya, menjadi anggota tubuh-Nya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada titik ini kita harus berhenti cukup lama untuk membedakan antara jarak budaya dengan dinding prasangka. Mungkin terdapat tembok tinggi dari prasangka yang ada, dimana orang Yahudi berhadapan dengan orang Samaria, namun jelas bahwa orang Yunani, yang bahkan tidak menyembah Allah yang sama, ada pada jarak budaya yang lebih jauh dengan orang Yahudi daripada orang-orang Samaria, yang jika dibandingkan adalah saudara sepupu dekat. Adalah mengherankan bahwa kadangkala orang-orang yang paling dekat dengan kita adalah yang paling sukar untuk dijangkau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, seorang Kristen Yahudi berusaha untuk menginjili akan mengerti seorang Samaria dengan lebih mudah daripada seorang Yunani, namun dia akan lebih cenderung dibenci oleh orang Samaria daripada Yunani. Di Belfast saat ini, misalnya, masalahnya lebih banyak bukan pada jarak budaya seperti prasangka. Misalkan seorang Protestan yang telah tumbuh besar di Belfast hendak bersaksi bagi Kristus kepada sejumlah Katolik Belfast dan Indian Timur. Dia akan lebih mudah memahami orang senegaranya yang Katolik, namun mungkin menghadapi prasangka yang lebih kecil dari orang Indian Timur. Secara umum, maka, jarak budaya lebih mudah untuk dilalui daripada tembok tinggi prasangka untuk dipanjat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kembali ke bagian sentral kita, jelaslah bahwa Yesus mengacu terutama bukan kepada geografi ataupun tembok-tembok prasangka ketika Dia menyebutkan Yudea, Samaria, dan ujung bumi. Jika Dia berbicara tentang prasangka, Samaria akan muncul terakhir. Dia akan mengatakan, “Di Yudea, di seluruh dunia dan bahkan di Samaria.” Kelihatannya Dia memperhitungkan jarak budaya sebagai faktor utama. Jadi, seperti kita saat ini berusaha keras untuk melakukan perintah kuno Yesus, kita juga peka terhadap jarak budaya. Pembedaan-Nya haruslah mendasari pemikiran strategis kita tentang penginjilan seluruh dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penginjilan di lingkungan Yerusalem dan Yudea akan menjadi apa yang kita sebut penginjilan E-1, dimana satu-satunya penghalang yang harus diseberangi oleh pendengarnya dalam usaha penginjilan yang diusulkan adalah batasan antara komunitas Kristen dengan dunia luar sekarang juga, melibatkan bahasa dan budaya yang sama. Ini adalah penginjilan “tetangga dekat.” Siapa pun kita, dimanapun kita tinggal di dunia, kita semua memiliki beberapa tetangga dekat yang kepadanya kita bisa bersaksi tanpa mempelajari bahasa asing apa pun atau mempertimbangkan perbedaan budaya khusus. Ini adalah jenis penginjilan yang biasa kita bicarakan. Ini adalah jenis penginjilan yang dibicarakan oleh sebagian besar pertemuan-pertemuan penginjilan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu perbedaan besar antara Kongres ini dengan semua kongres tentang penginjilan sebelumnya adalah penekanan yang ditentukan pada perbatasan lintas budaya dimana diperlukan untuk menginjili seluruh dunia. Mandat Kongres ini tidak memungkinkan kita untuk hanya fokus pada Yerusalem dan Yudea. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lingkungan kedua yang ditunjuk oleh Yesus adalah lingkungan Samaria. Catatan Alkitab menunjukkan bahwa meskipun cukup mudah bagi Yesus dan para murid-Nya untuk memahami orang Samaria, orang Yahudi dan Samaria dipisahkan oleh perbatasan yang terdiri dari perbedaan dialek dan beberapa perbedaan budaya yang signifikan. Ini adalah penginjilan E-2, karena melibatkan lintas perbatasan kedua. Pertama, melibatkan lintas perbatasan yang kita tujukan dalam memaparkan penginjilan E-1, perbatasan antara gereja dan dunia. Kedua, melibatkan lintas perbatasan yang terbentuk oleh bahasa dan budaya yang berbeda yang signifikan (tetapi tidak monumental). Jadi kita menyebutnya penginjilan E-2. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penginjilan E-3, seperti frase yang telah kita pakai, melibatkan bahkan jarak budaya yang lebih besar. Ini adalah jenis penginjilan yang diperlukan dalam lingkungan ketiga dari pernyataan Yesus, “ke ujung bumi.” Orang-orang perlu dijangkau dalam lingkungan ketiga ini tinggal, bekerja, dan berpikir dalam bahasa-bahasa dan pola-pola budaya yang sama sekali berbeda dengan milik penginjilnya. Rata-rata orang Kristen Yahudi, misalnya, tidak akan berpikir sama sekali untuk mulai berurusan dengan orang-orang melewati Samaria. Jika menjangkau orang Samaria tampak seperti menyeberangi dua perbatasan (maka disebut penginjilan E-2), menjangkau orang yang berbeda sama sekali pastilah tampak seperti menyeberangi tiga, dan masuk akal untuk menyebut tugas demikian sebagai penginjilan E-3.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petrus, Paulus mengenal dunia Yunani dengan jauh lebih baik. Menggunakan terminologi yang telah kita terapkan, dimana tugas E-1 dekat,  E-2 dekat, dan E-3 jauh (dalam jarak budaya, bukan geografis), kita dapat mengatakan bahwa menjangkau Yunani berarti bekerja pada jarak E-2 bagi Paulus; namun bagi Petrus itu berarti bekerja pada jarak E-3. Bagi Lukas, yang adalah seorang Yunani, menjangkau orang Yunani adalah bekerja hanya pada jarak E-1.Jadi, apa yang jauh bagi Petrus adalah dekatbagi Lukas. Dan sebaliknya: menjangkau orang Yahudi akan menjadi E-1 bagi Petrus, namun lebih mungkin E-3 bagi Lukas. Sangat mungkin bahwa Allah mengutus Paulus bukannya Petrus kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi sebagian karena Paulus lebih dekat secara budaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan cara yang sama, Paulus, bekerja di antara orang-orang Yunani pada jarak E-2, dihalangi oleh perbandingan dengan “warga negara” E-1 seperti Lukas, Titus dan Epafroditus; dan, sebagai masalah strategi penginjilan, dia dengan bijak mengubah hal-hal menjadi pekerja “nasional” secepat yang dia bisa.Paulus sendiri, sebagai seorang Yahudi, sering memulai pekerjaannya di kota yang baru dalam rumah ibadah Yahudi dimana dia sendiri ada pada dasar E-1 dan dimana, dengan komunikasi daya maksmimum E-1, dia mampu berbicara tegas tanpa aksen non-Yahudi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita terus terang mengakui di sini bahwa, semua hal lain adalah setara, pemimpin nasional selalu memiliki keunggulan komunikasi terhadap orang asing. Ketika penginjil pergi dari dataran Assam naik ke bukit Naga, pasti sangat jauh lebih sulit bagi mereka untuk memenangkan orang Naga Ao daripada bagi orang-orang Kristen Ao untuk melakukan hal yang sama, sebuah permulaan sudah dilakukan. Ketika misionaris Jerman pertama berkhotbah kepada orang-orang Batak, mereka pastilah mengalami masalah yang jauh lebih besar daripada ketika iman, sekali diberikan, ditularkan dari orang Batak ke orang Batak. Penginjilan E-1 – dimana seseorang berkomunikasi dengan bangsanya sendiri – jelas adalah jenis penginjilan yang paling ampuh. Orang-orang perlu mendengar Injil dalam bahasa mereka sendiri. Dapatkah kita percaya bahwa Allah menghendaki mereka untuk mendengarnya dari orang-orang yang berbicara tanpa aksen tiruan? Komunikator misionaris asing mungkin bagus, namun dia tidak cukup bagus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika begitu penting bagi orang Amerika untuk memiliki 30 terjemahan dari Perjanjian Baru untuk memilih dari, dan bahkan “Living Bible,” yang memungkinkan Alkitab untuk berbicara dalam bahasa Inggris sehari-hari, maka mengapa harus banyak bangsa di seluruh dunia menderita bersama dengan Alkitab yang diterjemahkan bagi mereka oleh seorang asing, dan dengan demikian hampir pasti berbicara kepada mereka dalam susunan kata yang terputus-putus? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah sebabnya mengapa sentakan kemajuan dalam penginjilan yang paling mudah dan jelas di dunia saat ini akan terjadi jika orang-orang percaya Kristen di semua bagian dunia digerakkan untuk menjangkau keluar gereja mereka dan memenangkan tetangga dekat secara budaya bagi Kristus. Mereka dapat melakukan itu lebih baik daripada misionaris asing. Ini merupakan penyimpangan tragis dari strategi Yesus jika kita terus mengutus misionaris untuk melakukan pekerjaan yang orang Kristen lokal dapat lakukan dengan lebih baik. Tidak ada alasan bagi seorang misionaris di mimbar ketika seorang warga negara dapat melakukan pekerjaan dengan lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada alasan bagi seorang misionaris melakukan penginjilan secara E-3, pada jarak E-3 dari orang-orang, ketika ada orang-orang Kristen lokal yang dengan efektif memenangkan orang yang sama sebagai bagian dari lingkungan E-1 mereka. Menurut kebenaran yang mendalam bahwa (hal-hal lain adalah setara) penginjilan E-1 lebih kuat daripada penginjilan E-2 atau E-3, mudah untuk melihat bagaimana beberapa orang telah salah menyimpulkan bahwa penginjilan E-3, karenanya, ketinggalan zaman, karena fakta yang hebat bahwa sekarang ada orang-orang Kristen si seluruh dunia. Dengan sudut pandang inilah banyak denominasi di Amerika Serikat, pada beberapa hal, bertindak berdasarkan alasan bahwa tidak dibutuhkan lagi misionaris jenis yang meninggalkan tempat asalnya pergi ke negeri asing dan berjuang dengan bahasa dan budaya yang sama sekali tidak dikenal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar pemikiran mereka adalah bahwa “sudah ada orang-orang Kristen di sana.” Dengan jatuhnya nilai dolas AS secara drastis dan menyusutnya anggaran gereja Amerika Serikat, beberapa denominasi Amerika Serikat harus membatsi kegiatan misionaris mereka ke perluasan yang luar biasa, dan mereka sebagian berusaha untuk menghibur diri sendiri dengan mengatakan bahwa inilah saatnya bagi gereja nasional untuk mengambil alih. Tanggapan kami tentang situasi ini, kita harus dengan senang setuju bahwa dimanapun ada orang Kristen yang menginjili dengan efektif, tidak ada yang lebih ampuh selain penginjilan E-1.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kebenaran tentang kekuatan superior penginjilan E-1 tidak boleh mengaburkan fakta yang jelas bahwa penginjilan E-1 secara harfiah tidak dimungkinkan, dimana tidak ada saksi dalam suatu bahasa tertentu atau kelompok budaya. Yesus, sebagai seorang Yahudi, tidak perlu bersaksi secara langsung kepada perempuan Samaria itu seandainya di sana sudah ada orang Samaria Kristen lokal yang telah menjangkau dia. Dalam kasus sida-sida Etiopia, kita dapat menduga bahwa mungkin lebih baik bagi orang Etiopia Kristen daripada Filipus untuk melakukan kesaksian, namun harus ada kontak pertama oleh orang non-Etiopia agar proses E-1 digerakkan. Pekerjaan awal dan berlipat ganda ini adalah tugas utama dari misionaris jika dia benar-benar memahami pekerjaannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia harus turun dan pemimpin nasional harus naik. Semoga kesaksian E-2 Yesus menggerakkan kesaksian E-1 di kota Samaria. Semoga kesaksian E-2 Filipus kepada orang Etiopia menggerakkan kesaksian E-1 kembali di Etiopia. Jika orang Etiopia itu adalah orang Etiopia Yahudi, komunitas E-1 kembali ke Etiopia mungkin tidak sangat besar, dan mungkin tidak menjangkau secara efektif orang-orang Etiopia non-Yahudi. Sesungguhnya, para ahli percaya bahwa gereja Etiopia saat ini adalah hasil dari dorongan misionaris setelahnya, yang menjangkau mereka dengan penginjilan E-3, jelas sampai kepada etnis Etiopia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, dalam Alkitab, seperti dalam ilustrasi kita sebelumnya dari sejarah misi modern, kita sampai pada kesimpulan yang sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E-1 ampuh, tetapi E-3 penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pola induk dari perluasan gerakan Kristen adalah pertama untuk upaya khusus E-2 dan E-3 terhadap rintangan lintas budaya ke dalam komunitas baru dan untuk mendirikan denominasi yang kuat, berkelanjutan, dan penuh semangat menginjili, dan kemudian bagi gereja nasional itu untuk meneruskan pekerjaan pada tingkat E-1 yang benar-benar berkekuatan tinggi.Dengan demikian kita dipaksa untuk percaya bahwa sampai semua suku dan bahasa memiliki gereja menginjili yang kuat dan berkuasa di dalamnya, dan dengan demikian, saksi E-1 di dalamnya, upaya-upaya E-2 dan E-3 yang datang dari luar masih penting dan sangat mendesak. Dari sudut pandang ini, seberapa besar tugas yang tersisa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===PENGINJILAN LINTAS BUDAYA: LUASNYA TUGAS===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, kebanyakan orang Kristen hanya memiliki ide yang tidak jelas tentang berapa banyak orang yang ada di dunia yang diantara mereka ada saksi E-1nya. Namun untungnya, studi persiapan untuk Kongres ini telah dengan serius memunculkan pertanyaan ini: apakah ada bahasa dan unit linguistik suku yang belum ditembus oleh Injil? Jika ya, dimana? Berapa banyak? Siapa yang bisa menjangkau mereka? Bahkan studi awal ini menunjukkan bahwa penginjilan lintas budaya masih harus menjadi prioritas paling tinggi. Jauh dari tugas yang sekarang ketinggalan zaman, kebenaran yang membukakan adalah bahwa setidaknya empat dari lima orang non-Kristen di dunia hari ini berada di luar jangkauan penginjilan E-1 orang Kristen siapa pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====“Kebutaan Orang-orang”====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa fakta ini tidak diketahui secara luas? Saya khawatir bahwa semua kegembiaraan kita mengenai fakta bahwa setiap negara di dunia telah ditembus, telah memungkinkan banyak orang beranggapan bahwa setiap budaya sekarang telah ditembus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesalahpahaman ini adalah penyakit yang begitu luas tersebar sehingga pantas memiliki sebutan khusus. Mari kita menyebutnya “kebutaan orang-orang” – yaitu, kebutaan terhadap keberadaan orang-orang yang terpisah di dalam negara-negara – kebutaan, saya tambahkan, yang kelihatannya lebih umum di AS dan diantara misionaris AS daripada di tempat lain. Alkitab yang dengan tepat diterjemahkan, akan membuat ini gamblang bagi kita. “Bangsa-bangsa” yang sering disebut oleh Yesus adalah terutama kelompok-kelompok etnisdi dalam struktur politik tunggal dari pemerintahan Romawi. Berbagai bangsa yang ditunjukkan pada hari Pentakosta adalah untuk sebagian besar dari bangsa, bukan negara. Dalam Amanat Agung yang terdapat di Matius, ungkapan “menjadikan semua bangsa(ethne)” tidak membiarkan kita lolos setelah kita memiliki gereja di setiap negara – Allah menginginkan gereja yang kuat di dalam setiap bangsa! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kebutaan orang-orang” adalah apa yang menghalangi kita dari melihat sub-kelompok di dalam suatu negara yang signifikan untuk pengembangan strategi penginjilan yang efektif. Masyarakat akan terlihat sebagai mosaik yang rumit, meminjam frase McGavran, begitu kita sembuh dari “kebutaan orang-orang.” Namun sampai kita semua sembuh dari kebutaan jenis ini, kita mungkin keliru dengan keinginan yang masuk akal untuk gereja atau kesatuan nasional atau tujuan tidak logis dari keseragaman. Allah tampaknya menyukai keanekaragaman jenis tertentu.Namun dalam hal apa pun keanekaragaman ini berarti penginjil harus bekerja lebih keras. Potongan-potongan etnis dan budaya yang kecil dari mosaik rumit masyarakat manusia adalah sub-divisi yang memisahkan empat dari lima orang non-Kristen di dunia hari ini dari kontak E-1 oleh orang-orang Kristen yang ada. Luasnya tugas lintas budaya dengan demikian terlihat dalam fakta bahwa di Afrika dan Asia saja, sebuah perhitungan menyatakan bahwa ada 1.993 juta orang hampir tanpa saksi. Luasnya tugas itu, bagaimanapun, tidak hanya terletak pada ukuran besarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kebutuhan akan Penginjilan E-2 di Amerika Serikat====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalahnya lebih serius daripada menerjemahkan ulang Amanat Agung sedemikian rupa sehingga bangsa-bangsa, bukan negara-negara, menjadi target penginjilan. Luasnya tugas lebih lanjut ditegaskan oleh rumitnya tugas E-2 dan E-3 yang lebih besar. Apakah kita di Amerika, misalnya, siap dengan adanya fakta bahwa sebagian besar orang non-Kristen belum dimenangkan bagi Kristus (bahkan di negara kita) tidak akan cocok masuk ke dalam jenis gereja yang sekarang kita miliki? Sebagian besar gereja-gereja Amerika di bagian Utara adalah kelas menengah, dan pekerja berkerah biru tidak akan mendekat pada mereka. Kebaktian kebangunan rohani mungkin menarik ribuan orang datang ke auditorium dan memenangkan orang-orang di rumah-rumah mereka melalui televisi, namun sebagian besar petobat baru, kecuali sudah terbiasa dengan gereja, dapat pergi begitu saja karena tidak ada gereja dimana mereka akan merasa diterima.Orang-orang Kristen Amerika zaman ini bisa menunggu selamanya di bangku dunia kelas menengah mereka yang nyaman, untuk datang kepada Kristus dan bergabung dengan mereka. Namun kecuali mereka mengadopsi metode E-2 dan mengejar orang-orang ini dan juga menolong mereka mendapatkan gereja mereka sendiri, penginjilan di Amerika akan menghadapi, dan sedang menghadapi, hasil yang terus semakin berkurang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda mungkin mengatakan bahwa masih ada banyak orang yang tidak pergi ke gereja dari latar belakang budaya yang sama seperti orang-orang di dalam gereja. Hal ini benar. Namun ada banyak, lebih banyak orang dari latar belakang budaya yang berbeda, yang bahkan jika mereka menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh, tidak akan merasa nyaman berada di gereja-gereja yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika AS – dimana Anda dapat berkendara 3.000 mil dan masih bertutur bahasa yang sama – tetaplah sebuah mosaik budaya dipandang secara penginjilan, maka pastilah sebagian besar negara lain menghadapi masalah serupa. Bahkan di AS, stasiun radio lokal memakai lebih dari 40 bahasa yang berbeda. Selain perbedaan-perbedaan bahasa, ada banyak perbedaan sosial dan budaya yang sama signifikannya. Perbedaan bahasa bukan berarti rintangan tertinggi bagi komunikasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebutuhan, dalam penginjilan E-2, bagi seluruh kelompok ibadah yang baru ditegaskan melalui fenomena umat Yesus, yang telah mendirikan ribuan jemaat baru. Gerakan Umat Yesus yang besar di AS tidak bertutur bahasa yang berbeda sebanyak melibatkan gaya hidup yang sangat berbeda dan dengan demikian gaya beribadah yang berbeda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak gereja Amerika telah berusaha untuk menggunakan musik gitar dan banyak karakteristik informasl dari Gerakan Yesus, namun ada batasan yang padanya satu jemaat dapat berjalan dengan bertutur banyak bahasa dan menerapkan banyak gaya hidup. Siapa yang tahu bahwa apa yang telah terjadi pada banyak “pemuda berskuter” dan “musisi rock” yang telah dimenangkan sebagai hasil dari Kebangunan Rohani London oleh Billy Graham?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di satu sisi, gereja-gereja yang ada tidak dipahami secara budaya oleh orang-orang demikian, dan di sisi lain, mungkin di sana pelaksanaan metode E-2 belum memadai sehingga menjadikan para petobat itu masuk ke jemaat yang benar-benar baru. Aspek penginjilan E-2 inilah yang membuat tugas lintas budaya semakin sulit. Namun itu perlu. Mari kita mengambil satu lagi contoh yang terkenal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika John Wesley menginjili para penambang Inggris, hasilnya dilestarikan dalam jemaat beribadah yang benar-benar baru. Mungkin tidak akan pernah terjadi sebuah gerakan Metodis jika dia tidak mendorong orang-orang kelas menengah ke bawah ini untuk bertemu dalam perkumpulan Kristen mereka sendiri, menyanyikan jenis lagu mereka sendiri dan bergaul dengan kalangan mereka sendiri. Selanjutnya, selain dari teknik E-2 ini, orang-orang demikian tidak akan bisa memenangkan orang-orang lain dan memperluas gerakan Kristen dalam tingkat masyarakat yang baru ini pada kecepatan yang mengagumkan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasil-hasilnya mengguncang dan mengubah Inggris secara permanen. Ini juga mengguncang gereja-gereja yang ada. Tidak terlalu banyak orang yang menyukai hubungan Wesley dengan para penambang. Lebih sedikit yang masih setuju bahwa para penambang harus memiliki gereja yang terpisah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sebuah Perbedaan Prosedural yang Jelas====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada titik ini kita mungkin dapat melakukan dengan baik untuk membuat perbedaan prosedural yang jelas antara penginjilan E-1 dan E-2. Kami telah mengamati bahwa lingkungan E-2 dimulai dimana orang-orang yang telah Anda jangkau adalah dari latar belakang yang cukup berbeda dari orang-orang dalam gereja-gereja yang sudah ada sehingga mereka perlu untuk membentuk jemaat beribadah mereka sendiri untuk dengan terbaik memenangkan orang lain dari kalangan mereka sendiri. Yoh 4 mengatakan kepada kita bahwa “banyak orang Samaria dari kota itu yang percaya kepada-Nya (Yesus) karena kesaksian perempuan itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus menginjili perempuan itu bekerja dengan kepekaan yang besar sebagai saksi E-2; dia berbalik dan menjangkau orang-orang lain di kotanya dengan komunikasi E-1 yang efisien. Misalkan Yesus mengatakan kepadanya bahwa dia harus pergi dan beribadah bersama orang-orang Yahudi. Bahkan jika dia mematuhi-Nya dan pergi beribadah dengan orang-orang Yahudi, dia akan berada pada dasar yang sangat merintangi dalam memenangkan orang-orang lain di kotanya. Yesus benar-benar telah menghindari masalah mengenai dimana harus beribadah dan dengan jarak seberapa berhubungan dengan orang-orang Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu akan muncul kemudian. Jadi orang-orang Samaria yang percaya pada kesaksian perempuan kemudian membuat langkah tambahan dengan mengundang seorang Yahudi untuk berada bersama mereka selama dua hari. Dia pun tidak berusaha membuat mereka menjadi orang Yahudi. Dia tahu Dia sedang bekerja pada jarak E-2, dan bahwa buah-buahnya dapat dilestarikan dengan yang terbaik (dan orang-orang terbaik tambahan akan dimenangkan) jika mereka diperbolehkan untuk membangun persekutuan iman mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan lebih lanjut mungkin bisa ditarik antara jenis perbedaan budaya yang Yesus kerjakan di Samaria dan jenis perbedaan sebagai hasil dari apa yang disebut “kesenjangan generasi.” Namun itu benar-benar tidak masalah, dalam penginjilan, apakah jaraknya secara budaya, linguistik, atau perbedaan usia. Tidak masalah apakah alasan untuk perbedaan atau tetapnya perbedaan itu, atau kebenaran yang dirasa atau kesalahan dari perbedaan, dinamika prosedural teknik penginjilan E-2 cukup mirip. Lingkungan E-2 dimulai bilamana perlu untuk mendirikan jemaat yang baru. Di Filipina kami mendengar kaum muda mendirikan gereja-gereja. Di Singapura kita tahu 10 gereja yang baru-baru ini mendirikan jemaat pemuda yangmelepaskan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga, pada akhirnya, jemaat yang fokus pada usia akan mendekat pada gereja-gereja yang ada, namun selama ada kesenjangan generasi dengan proporsi yang serius, persekutuan khusus seperti itu mampu memenangkan lebih banyak pemuda yang terpisah dengan benar-benar memperbolehkan berfungsi sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah tempat yang baik untuk memulai. Apapun yang kita putuskan tentang jenis penginjilan E-2 yang memungkinkan orang-orang yang berbeda untuk bertemu secara terpisah karena perbedaan usia yang sementara, faktor-faktor utama dalam luasnya tugas lintas budaya adalah perbedaan-perbedaan budaya yang lebih mendalam dan mungkin permanen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sini, juga, beberapa orang akan selalu mengatakan bahwa penginjilan lintas budaya yang sejati bertindak terlalu jauh. Pada titik ini kita harus mengambil resiko disalahmengerti supaya benar-benar jujur. Di seluruh dunia, usaha penginjilan khusus terus dilakukan yang seringkali menghancurkan rintangan lintas budaya. Orang-orang dari budaya lain ini dimenangkan, kadang-kadang hanya satu pada suatu waktu, kadang-kadang dalam kelompok kecil. Masalahnya bukan pada memenangkan mereka; masalahnya ada pada hambatan budaya untuk tindak lanjut yang tepat. Gereja-gereja yang ada dapat bekerja sama sampai pada sebuah maksud dengan kampanye penginjilan, namun mereka tidak mempertimbangkan organisasi penginjilan yang memungkinkan untuk tinggal lebih lama mengumpulkan orang-orang ini dalam gereja-gereja mereka sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka keliru berpikir bahwa bergabung bersama Kristus harus termasuk bergabung dengan gereja-gereja yang ada. Namun jika metode E-2 yang tepat digunakan, para petobat yang sedikit ini, yang hanya akan dianggap agak aneh bagi jemaat yang ada, dapat menjadi pemasukan kehidupan yang baru ke dalam kumpulan masyarakat yang benar-benar baru dimana gereja tidak ada sama sekali!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Lingkungan M dan Hindu====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain dari sektor dataran Tiongkok, dua lingkungan terbesar dimana ada kekurangan tragis dari penginjilan lintas budaya yang efektif adalah M dan Hindu. Kata-kata penutup kami akan berpusat dalam dua kelompok ini yang secara keseluruhannya, berjumlah lebih dari satu milyar orang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, seorang petobat M tidak akan merasa diterima di Gereja Presbiterian biasa di Pakistan. Kecurigaan selama berabad-abad di kedua pihak M-Hindu menjadikannya hampir mustahil bagi M, bahkan petobat M, untuk disambut ke dalam gereja masyarakat yang sebelumnya adalah Hindu. Orang-orang Pakistan Kristen sekarang (hampir semua sebelumnya Hindu) belum sama sekali berhasil dalam mengintegrasikan petobat M ke dalam jemaat mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, tidak mungkin bahkan untuk terjadi pada mereka bahwa M dapat bertobat dan membetuk jemaat sendiri yang terpisah. Tragedi yang besar adalah bahwa jenis kebuntuan penundaan serius penginjilan sepanjang baris E-2 ini dimanapun di dunia terdapat 664 juta M. Jauh di sebelah timur Mekkah, di bagian-bagian tertentu Indonesia, cukup banyak M telah menjadi Kristen sehingga mereka tidak dipaksa satu demi satu untuk bergabung dengan jemaat Kristen dari budaya lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh di sebelah barat Mekkah, di tengah-tengah Afrika pada beberapa pulau di Danau Chad, kami mendapat laporan bahwa beberapa orang yang dulunya M, dan sekarang Kristen, masih berdoa kepada Kristus lima kali sehari dan beribadah di gereja Kristen pada hari Jumat, hari ibadah M. Dua contoh terpisah ini menunjukkan bahwa M dapat menjadi Kristen tanpa harus mengalami terputusnya budaya yang serius dan sewenang-wenang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alam kesempatan baru yang luas mungkin terdapat di India, juga, dimana prasangka lokal dalam banyak kasus dapat mencegah penginjilan “tetangga dekat” yang efektif. Orang India yang berasal dari jarak yang lebih jauh mungkin dengan metode E-2 atau E-3 bisa melepaskan stigma lokal dan mendirikan gereja di dalam 100 atau lebih kelas-kelas sosial yang belum tersentuh. Ini merupakan kebodohan bagi penginjil untuk mengabaikan faktor prasangka demikian, dan keberadaan mereka sangat memperluas tugas kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prasangka semacam ini menambah kepada jarak budaya demikian hambatan penginjilan E-2, dimana prasangkanya dalam, sering lebih sulit daripada penginjilan E-3. Dengan kata lain, secara ilmiah, orang Kristen yang berpendidikan tinggi dari Nagaland atau Kerala mungkin lebih berhasil dalam menjangkau orang-orang Hindu kelas menengah di India Selatan dengan Injil daripada orang Kristen dari kelas rendah yang telah tumbuh di daerah itu dan bertutur bahasa yang sama, namun dinodai oleh hubungan-hubungan lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi siapa yang berani menunjukkan ini? Sungguh ironis bahwa orang Kristen nasional di seluruh dunia non-Barat semakin menyadari bahwa mereka tidak perlu kebarat-baratan untuk menjadi Kristen, namun mereka mungkin dalam beberapa hal menjadi lambat untuk merasakan bahwa tantangan penginjilan lintas budaya mengharuskan mereka untuk memungkinkan orang lain di daerah mereka sendiri untuk memiliki kebebasan penentuan nasib yang sama dalam mendirikan gereja-gereja mereka sendiri yang berbeda secara budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal apapun, peluang-peluang sama luasnya seperti tugas. Jika 600 juta M menantikan sebuah penginjilan yang lebih dicerahkan, ada juga 500 juta umat Hindu yang saat ini menghadapi hambatan monumental untuk menjadi Kristen yang lain dari faktor rohani yang mendalam yang melekat dalam Injil. Salah seorang pengamat yakin bahwa 100 juta Hindu kelas menengah menantikan peluang untuk menjadi Kristen – namun tidak ada gereja bagi mereka untuk dimasuki yang menghargai kebiasaan diet dan adat istiadat mereka. Apakah kerajaan Allah itu makanan dan minuman?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sampai pada upaya khusus yang dibutuhkan oleh penginjilan E-2 dan E-3 adalah untuk tidak menurunkan standar dan menjadikan Injil mudah – untuk memisahkan unsur-unsur yang tidak relevan dan untuk membuat Injil menjadi jelas. Mungkin setiap orang tidak dapat melakukan jenis pekerjaan khusus ini. Benar, lebih banyak penginjil E-1 yang akhirnya akan dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas itu. Namun prioritas tertinggi dalam penginjilan hari ini adalah untuk mengembangkan pengetahuan dan kepekaan lintas budaya terlibat dalam penginjilan E-2 dan E-3. Jika diperlukan, penginjil dari jauh harus dipanggil ke dalam tugas tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang harus membutakan kita terhadap fakta penting yang luas bahwa setidaknya empat per lima dari orang non-Kristen di dunia hari ini tidak akan pernah memiliki peluang terang-terangan untuk menjadi Kristen kecuali orang Kristen itu sendiri pergi lebih dari setengah jalan dalam tugas-tugas khusus penginjilan lintas budaya. Berikut adalah prioritas utama kami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===PERTANYAAN TENTANG SIFAT TEOLOGI DARI TUGAS===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan teologis utama, muncul lebih sering daripada pertanyaan yang lain, adalah begitu mendalam sehingga saya merasa harus menghabiskan sisa waktu saya untuknya. Pertanyaan dinyatakan dalam banyak cara dalam makalah tanggapan Anda, namun pada dasarnya adalah ini: “Akankah kesatuan di dalam Kristus musnah jika kita mengikuti konsep penginjilan lintas budaya yang mau mendirikan gereja-gereja terpisah bagi kelompok-kelompok yang berbeda secara budaya di dalam wilayah geografis yang sama?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan bersandar dengan rendah hati pada Roh Kudus untuk menghormati Firman Allah di atas pengaruh sekuler yang padanya kita semua tunduk, bahwa saya berani melanjutkan dengan sebuah perspektif yang saya sendiri tidak pahami atau terima sampai beberapa tahun yang lalu. Saya dibesarkan di Amerika Serikat, dimana bagi banyak orang, integrasi adalah hampir seperti agama sipil, dimana orang-orang seperti itu hampir secara otomatis menganggap bahwa pada akhirnya semua orang akan bertutur bahasa Inggris dan benar-benar tidak harus bertutur bahasa lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi saya, keanekaragaman budaya di antara negara-negara merupakan sebuah gangguan, namun keanekargaman budaya di dalam sebuah negara hanyalah sebuah kejahatan yang harus diatasi. Saya tidak berpikir untuk mengecualikan siapapun dari gereja manapun (dan saya masih tidak), namun saya secara tidak sadar menganggap bahwa hal terbaik yang bisa terjadi pada orang kulit hitam, kulit putih, Chicano, dll., adalah bahwa mereka semua akhirnya akan sampai menjadi orang kulit putih, Anglo-Saxon, gereja Protestan, dan belajar untuk melakukan hal-hal dengan cara yang saya rasa paling tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengikuti jenis budaya Amerika ini – Kekristenan, banyak misionaris telah beranggapan bahwa harus hanya ada satu gereja nasional di sebuah negara – bahkan jika ini berarti tidak ada satupun untuk sub-kelompok tertentu. Misionaris-misionaris demikian, dalam segala kesungguhan, telah beranggapan bahwa pluralisme denominasi dalam tempat asal mereka sendiri hanyalah sebuah dosa yang harus dihindari. Mereka telah menganggap bahwa Baptis Selatan tidak diperlukan di India Utara, meskipun, sesungguhnya, di Boston hari ini sebagian besar gereja-gereja Anglo telah duduk-duduk menunggu orang Arab dan Jepang untuk datang ke gereja mereka, dan itu membuat Baptis Selatan pergi ke Amerika Serikat bagian Utara dan mendirikan gereja-gereja orang Arab dan Jepang, gereja-gereja Portugis, dan gereja-gereja Yunani, dan gereja-gereja Polandia, tepat di bawah hidung ratusan kemauan baik gereja Anglo yang telah bersabar menantikan orang-orang ini untuk menerima cara hidup Anglo. Dengan satu atau dua pengecualian, gereja-gereja Anglo, dengan segenap semangat penginjilan mereka, sama sekali tidak memiliki wawasan untuk melakukan jenis penginjilan E-2 dan E-3 ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kesatuan Kristen dan Kebebasan Kristen====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi saya sendiri, setelah bertahun-tahun bergumul dengan pertanyaan ini, saya sekarang tidak kurang peduli daripada sebelumnya mengenai kesatuan dan persekutuan gerakan Kristen menyeberangi semua garis etnis dan budaya, namun saya sadar sekarang bahwa kesatuan Kristen tidak bisa sehat jika melanggar kebebasan Kristen. Dalam hal penginjilan, kita harus bertanya apakah upaya untuk memperluas, misalnya di Pakistan, bentuk eksternal ke dalam budaya M lebih penting daripada membuat Injil jadi jelas untuk orang-orang tersebut di dalam budaya mereka sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisakah kita tidak mengkondisikan keinginan kita untuk keseragaman dengan keinginan yang lebih besar untuk memberitakan Injil dengan efektif? Saya pribadi menjadi percaya bahwa kesatuan tidak harus menuntut keseragaman, dan saya percaya bahwa pasti ada semacam keanekaragaman yang sehat dalam masyarakat manusia dan dalam gereja Kristen dunia. Saya melihat Gereja dunia sebagai berkumpulnya sebuah simfoni orkestra besar dimana kita tidak membuat setiap orang yang baru datang bermain biola supaya cocok dengan yang lainnya. Kita mengundang orang-orang datang untuk memainkan lembaran musik yang sama – Firman Allah – namun memainkan alat musik mereka sendiri, dan dengan begini akan memunculkan suara surgawi yang akan berkembang dalam kemegahan dan kemuliaan Allah ketika masing-masing alat musik ditambahkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Contoh Rasul Paulus====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun beberapa dari kalian mengatakan, “Baik, jika itu yang Anda maksud, bagaimana dengan Rasul Paulus? Apakah dia mendirikan jemaat terpisah untuk tuan dan budak?” Saya benar-benar tidak tahu. Saya kira tidak. Namun tidak berarti bahwa itu tidak terjadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam monografi baru-baru ini oleh Paul Minear berjudul The Obedience of Faith, penulis menunjukkan bahwa di Roma mungkin ada lima jemaat Kristen yang terpisah, berjumlah total 3.000 dan surat Paulus kepada jemaat di Roma sebenarnya ditulis untuk sekelompok gereja di kota Roma. Dia juga menunjukkan bahwa gereja-gereja sangat berbeda satu dengan yang lain, beberapa terdiri dari hampir semuanya orang Kristen Yahudi, dan yang lain (mayoritas) hampir semuanya orang Kristen bukan Yahudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daripada membayangkan satu jemaat Kristen, oleh karena itu, kita harus selalu memperhitungkan kemungkinan bahwa di dalam daerah perkotaan dapat ditemukan bentuk-bentuk komunitas Kristen yang beragam, dan mungkin juga yang asing, seperti gereja-gereja di Galatia dan di Yudea. “Namun apapun kasus yang di Roma, Paulus dalam perjalanannya selalu berurusan dengan fenomena gereja rumah, dimana seluruh rumah tangga, tuan dan budak, sangat mungkin beribadah bersama-sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tidak bisa percaya dia pernah memisahkan orang-orang. Namun, kita tidak tahu bahwa dia bersedia untuk mengadopsi di tempat-tempat yang berbeda sebuah pendekatan lain yang radikal, sebagaimana dia katakan, “bagi orang-orang yang berada di bawah hukum Taurat dan bagi mereka yang tidak di bawah hukum Taurat.” Ketika, misalnya, dia mendirikan jemaat yang tampaknya bukan Yahudi di antara orang-orang Galatia, jelaslah berbeda, mungkin secara radikal berbeda dari jemaat Yahudi di tempat lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tahu ini karena orang Kristen Yahudi mengikuti Paulus ke orang-orang Galatia dan berusaha untuk membuat mereka menyesuaikan diri dengan pola Kristen Yahudi. Galatia adalah kasus yang jelas dimana tidak mungkin bagi Paulus untuk tunduk bersamaan pada ketentuan gaya hidup Kristen Yahudi sekaligus pada pola jemaat yang jelas-jelas Yunani (atau mungkin Celtic).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Surat Paulus kepada jemaat Galatia, selanjutnya, menunjukkan kepada kita bagaimana bertekadnya dia untuk memungkinkan orang-orang Kristen Galatia untuk mengikuti gaya hidup Kristen yang berbeda. Jadi, sementara kita tidak memiliki catatan tentang umatnya yang dipaksa untuk bertemu secara terpisah, kita berhadapan dengan semua keberanian suci Paulus menentang siapapun yang mau berusaha untuk mematenkan satu pola hidup Kristen secara normatif melalui imperialisme budaya yang bisa mencegah orang-orang dari menggunakan bahasa dan budaya mereka sendiri sebagai kendaraan untuk beribadah dan bersaksi.Di sini, kemudian, adalah kasus yang jelas tentang seorang pria dengan perspektif penginjilan lintas budaya melakukan segalanya di dalam kuasanya untuk menjamin kebebasan dalam Kristus kepada para petobat yang berbeda dari latar belakang sosialnya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang sama ini terlihat ketika Paulus menentang Petrus di Antiokhia. Petrus adalah seorang Yahudi Galilea yang mungkin sampai batas tertentu dwi-budaya. Dia mungkin setidaknya telah bisa memahami terutama gaya hidup Yunani dari gereja Antiokhia. Memang, dia tampaknya cocok sampai saat orang Kristen Yahudi lain muncul. Pada titik ini Petrus juga menemukan bahwa dalam situasi tertentu dia harus memilih antara mengikuti kebiasaan Yahudi atau Yunani. Pada titik ini dia menjadi ragu-ragu. Apakah dia tidak memiliki Roh Allah? Apakah dia tidak memiliki kasih Allah? Atau apakah dia gagal untuk memahami cara kasih Allah? Petrus tidak mempertanyakan validitas dari sebuah jemaat Yunani. Petrus telah mengakui ini sebelum rekan-rekan Yahudi datang. Intinya adalah Petrus terluka hatinya untuk orang lain untuk mengenal dia sebagai orang yang bisa bepindah dari satu komunitas ke komunitas yang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa artinya ini bagi kita hari ini adalah cukup jelas. Sebenarnya ada periode dalam Perjanjian Baru dua komunitas orang percaya yang berbeda secara signifikan. Petrus dianggap sebagai rasul untuk yang bersunat dan Paulus untuk yang tidak bersunat. Petrus lebih memihak kepada orang-orang Yahudi, dan tidak diragukan kesulitan menjelaskan kepada orang Yahudi tentang pengalamannya di rumah keluarga Kornelius, yaitu penemuannya bahwa jemaat Yunani harus dianggap sah. Paulus, sebaliknya, mampu berpihak pada jemaat Yunani. Mungkin mereka pada akhirnya adalah target utama misinya, meskipun dalam tempat yang diberikan dia selalu mulai dengan orang-orang Yahudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kesamaan dari Keanekaragaman====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu petunjuk untuk hari ini adalah fakta bahwa dimana Paulus menemukan beberapa orang Kristen untuk menjadi terlalu teliti mengenai makanan tertentu, dia menasihati orang-orang di situasi itu untuk mematuhi dengan ketat kepekaan terhadap mayoritas. Namun, selalu sulit untuk membuat paralel yang tepat pada situasi modern. Situasi Perjanjian Baru akan lebih mudah dibandingkan dengan India modern hari ini adalah kasusnya bahwa hanya orang Kristen di India yang adalah Brahmana (dan anggota lainnya dari kasta menengah) dengan diet mereka yang sangat ketat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka kita akan membayangkan orang Kristen Brahmana mendapati bahwa sulit untuk memungkinkan kelompok yang kurang membatasi makan daging untuk menjadi Kristen; namun situasi yang sebenarnya hampir kebalikannya. Di India hari ini mereka yang makan daginglah yang menjadi Kristen, dan masalahnya adalah bagaimana menerapkan strategi misi Paulus pada situasi ini. Berkenaan dengan pembatasan makanan, seolah-olah para Brahmana ada “di bawah hukum,” bukan orang Kristen sekarang. Dalam situasi ini dapatkah kita bayangkan Paulus mengatakan, “Bagi mereka yang ada di bawah hukum Taurat aku akan menjadi orang yang ada di bawah hukum Taurat jika dengan semua itu aku bisa memenangkan mereka”? Bisakah kita mendengar dia mengatakan sebagai penginjil E-2 atau E-3, “Jika daging membuat saudaraku tersinggung, aku tidak akan makan daging“? Dapatkah kita mendengar dia membela kelompok ibadah diantara para Brahmana terhadap saran atau permintaan bahwa mereka harus mengubah diet mereka atau bergabung dengan jemaat dari yang gaya hidupnya berbeda jauh supaya dapat diterima sebagai orang Kristen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terhadap tuduhan bahwa dia membagi gereja Kristus, bisakah kita mendengar Paulus mendesak bahwa “di dalam Kristus tidak ada orang Yahudi atau Yunani, kasta rendah atau kasta tinggi”? Bukankah ini kekuatan yang sebenarnya dari pernyataannya yang berulang kali bahwa jenis orang yang berbeda ini, mengikuti pola budaya mereka yang berbeda, semuanya sama-sama diterima oleh Allah? Apakah dia benar-benar sedang mengumumkan kebijakan tentang integrasi lokal, atau dia menekankan pada kesetaraan keanekaragaman?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan baik-baik bahwa perspektif ini tidak menegakkan (atau bahkan memungkinkan) sebuah kebijakan pemisahan, maupun jenis peringkat Kristen dalam kategori kelas pertama dan kedua. Ini lebih menjamin penerimaan yang sama terhadap tradisi-tradisi yang berbeda. Ini adalah kebijakan kerasulan yang jelas menentang pemaksaan orang Kristen dari satu gaya hidup untuk menjadi pengikut terhadap pola budaya lain. Inibukan masalah yang tidak pokok dalam Perjanjian Baru. Sunat yang sesungguhnya adalah sunat hati. Baptisan yang sesungguhnya adalah baptisan hati. Ini adalah tentang iman, bukan pekerjaan, kebiasaan, atau ritual. Dalam Kristus ada kemerdekaan dan kebebasan dalam hal ini – orang-orang harus bebas untuk mempertahankan atau meninggalkan bahasa dan gaya hidup asli mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus tidak akan mengijinkan siapapun untuk mengagungkan sunat atau tidak disunat. Dia benar-benar tidak memihak. Dia juga banyak disalahmengerti. Masalah utama Paulus adalah dalam hal memperoleh penerimaan dari orang Yahudi, dan itu adalah orang Yahudi Asia, mungkin orang Kristen, yang menunjukkan dalam bait Allah dan dengan demikian akhirnya menyebabkan kemartirannya karena kepercayaannya dalam kebebasan yang terpisah dari tradisi Kristen Yunani. Janganlah ada orang yang berusaha untuk menjadi misionaris dalam tradisi Rasul Paulus mengira bahwa bekerja diantara dua budaya akan mudah untuk dilakukan. Namun dia mendapat semangat dalam fakta bahwabahaya dari profesi adalah lebih daripada diberikan garis tepioleh tujuan urgen misionaris dari penginjil lintas budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika, misalnya, penginjil lintas budaya mendorong para anggota keluarga Brahmana untuk mulai beribadah di rumah mereka sendiri, apakah dia bersikeras bahwa mereka mengundang orang-orang dari kota seberang ke pertemuan pertama mereka? Di sisi lain, setiap Brahmana yang menjadi seorang Kristen dan yang mulai memahami Alkitab akan segera menyadari, apakah itu semuanya jelas sebelumnya atau tidak, bahwa dia sekarang menjadi bagian dari keluarga dunia yang di dalamnya terdapat banyak suku dan bahasa – memang, menurut Kitab Wahyu (Why 7:9), jenis keanekaragaman ini akan berlanjut terus sampai akhir zaman. Ketika penginjil lintas budaya memungkinkan pengembangan jemaat Brahmana, dengan demikian dia tidak mengusulkan pemisahan Brahmana dari gereja dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak mengatakan bahwa orang Kristen Brahmana menghindari orang Kristen lain, namun bahwa para Brahmana itu dimasukkan ke dalam gereja dunia. Dia hanya menegaskan kebebasan mereka di dalam Kristus untuk mempertahankan unsur-unsur gaya hidup mereka yang tidak bertentangan dengan Injil Kristus. Dia tidak menambah keterasingan mereka. Dia memberi mereka Firman Allah yang merupakan “kunci maling” untuk penghapusan terakhir dari segala macam prasangka, dan sudah menyatakan diri mereka ke dalam keluarga Kristen dunia yang mencakup semua bangsa, suku dan bahasa sebagai yang setara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Persatuan dan Keseragaman====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, saya menyesal bahwa hal ini begitu sulit, dan saya tidak akan memulainya jika hal itu tidak begitu signifikan bagi strategi-strategi penginjil praktis yang harus kita miliki jika kita hendak pergi untuk memenangkan dunia bagi Kristus. Saya bahkan tidak akan mengemukakannya. Namun saya harus mengatakan, saya percaya bahwa masalah ini adalah satu masalah yang paling penting dalam penginjilan hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang bertanya apa yang saya maksudkan dengan nilai strategis dari pembangunan gereja kaum muda. Penting untuk menyadari situasi pemuda adalah sama tingginya dengan situasi yang baru saja kita diskusikan. Hal ini tidak berarti sebuah kasus dimana kami menunjukkan bahwa orang-orang muda tidak diperbolehkan dalam ibadah orang dewasa. Kami tidak menyarankan pemisahan kaum muda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja-gereja kaum muda bukan tujuan, tetapi sarana. Kami tidak mengabaikan pemikiran bahwa orang-orang muda dan tua harus sering bersama-sama dalam ibadah yang sama. Kami hanya mendesak, dengan apa yang saya harap yaitu intuisi kerasulan, bahwa orang-orang muda memiliki kebebasan dalam Kristus untuk bertemu bersama di antara mereka sendiri jika mereka memilih untuk itu, dan terutama jika ini memungkinkan mereka menarik orang muda lain yang mungkin tidak akan datang kepada Kristus di dalam ibadah segala umur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah fakta yang mengherankan bahwa jenis penginjilan peka budaya yang telah saya bicarakan telah selalu diterima dimanapun orang-orang terisolasi secara geografis. Tidak ada yang keberatan jika orang Kristen Jepang berkumpul di Tokyo, atau orang Kristen bertutur bahasa Spanyol berkumpul di Meksiko, atau orang Kristen bertutur bahasa Tionghoa berkumpul di Hong Kong. Namun ada kebingunan dalam pikiran banyak orang apakah orang Kristen Jepang, Spanyol dan Tiongkok harus diperbolehkan atau didorong untuk berkumpul di Los Angeles.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat khusus, apakah strategi penginjilan yang baik untuk membangun jemaat terpisah di Los Angeles untuk menarik orang-orang seperti itu? Apakah orang non-Kristen bertutur bahasa Kanton membutuhkan jemaat bertutur bahasa Kanton untuk menarik mereka kepada iman dan persekutuan Kristen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Anda berbicara dengan orang-orang yang berbeda, Anda akan mendapatkan jawaban-jawaban yang berbeda. Menurut pendapat saya, pertanyaan tentang strategi penginjilan dalam pembentukan jemaat yang terpisah ini harus dianggap sebuah wilayah kebebasan Kristen, dan diberikan murni berdasarkan apakah atau tidak memungkinkan, Injil disajikan secara efektif kepada lebih banyak orang – yaitu, apakah itu strategis secara penginjilan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa setuju sejauh mengabulkan pemisahan jemaat berdasarkan bahasa, namun ragu-ragu ketika perbedaan-perbedaan di antara orang-orang adalah sosial dan non-linguistik. Entah bagaimana mereka merasa bahwa orang-orang mungkin dimaklumi untuk bertemu secara terpisah jika bahasa mereka berbeda, namun bahwa Injil mendesak kita untuk mengabaikan semua perbedaan budaya lain. Banyak orang secara harfiah tidak terima dengan pemikiran bahwa jemaat lokal secara sengaja akan berusaha untuk menarik orang-orang dari tingkat sosial tertentu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sementara tidak ada yang harus dikeluarkan dari gereja manapun dalam keadaan apapun, faktanya adalah dimana orang dapat memilih asosiasi gereja mereka dengan bebas, mereka cenderung untuk memilah sendiri menurut cara hidup mereka sendiri dengan cukup konsisten. Namun ini haruslah benar-benar merupakan pilihan bebas mereka sendiri. Kita tidak pernah menyarankan sebuah pemisahan yang dipaksakan. Sekalipun kita memiliki keanekaragaman yang kaya, mari kita memupuk persatuan dan persekutuan diantara jemaat-jemaat sama seperti kita sekarang lakukan di antara keluarga-keluarga daripada untuk mengajarkan kepada semua orang tentang ibadah seperti orang-orang Anglo-Amerika. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita merasa bangga bahwa keluarga Kristen dunia sekarang telah mencakup perwakilan-perwakilan dari bahasa dan budaya yang lebih berbeda daripada organisasi atau gerakan manapun dalam sejarah manusia. Amerika mungkin heran dan bingung dengan dunia keanekaragaman. Allah tidak. Mari kita merasa bangga bahwa Allah telah memungkinkan gaya hidup yang berbeda ada dalam bentuk-bentuk yang berbeda, dan fleksibilitas ini telah berlangsung sepanjang sejarah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita tidak puas dengan keterpisahan saja, namun mari kita senantiasa menekankan bahwa kekayaan besar dari tradisi Kristen kita hanya dapat disadari ketika cara hidup yang berbeda mempertahankan hubungan yang kreatif. Namun mari kita berhati-hati terhadap mempercepat keseragaman. Jika gereja di seluruh dunia bisa dikumpulkan menjadi satu jemaat, Minggu demi Minggu, pada akhirnya dan dipastikan akan ada kehilangan yang besar terhadap kekayaan keanekaragaman dari tradisi Kristen saat ini. Apakah Allah menginginkan ini? Apakah kita menginginkan ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus mati untuk orang-orang ini di seluruh dunia. Dia tidak mati untuk melestarikan gaya hidup Barat kita. Dia tidak mati untuk membuat M berhenti berdoa lima kali sehari. Dia tidak mati untuk membuat para Brahmana makan daging. Dapatkah Anda mendengar Paulus Si Penginjil berkata kita harus pergi kepada orang-orang ini di dalam sistemnya dimana sistem itu berlaku? Benar, inilah permohonan seorang penginjil lintas budaya, bukan pendeta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tidak bisa menjadikan semua gereja lokal cocok dengan pola semua gereja lokal lain. Namun kita harus memiliki upaya-upaya radikal baru untuk penginjilan lintas budaya untuk bersaksi dengan efektif kepada 2.387 juta orang, dan kita tidak bisa percaya bahwa kita bisa terus-menerus mengabaikan prioritas tertinggi ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Sejarah_Strategi_Misi&amp;diff=705</id>
		<title>Sejarah Strategi Misi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Sejarah_Strategi_Misi&amp;diff=705"/>
		<updated>2013-12-18T14:54:15Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{pierce beaver}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;Disadur dari Southwestern Journal of Theology, volume xII, Spring 1970, No. 2. Digunakan dengan ijin.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lima belas abad aksi misionaris mendahului munculnya misi dunia Protestan. Artikel ini akan menyajikan sejarah singkat tentang strategi misi sebelum munculnya usaha kaum Protestan dan secara singkat menelusuri strategi Protestan. Sayangnya, karena keterbatasan ruang, kami benar-benar akan menghilangkan referensi untuk misi Katolik Roma modern.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Boniface===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejadian pertama dari strategi misi yang berkembang dengan baik adalah yang dikerjakan oleh Boniface dalam misi Inggris ke benua Eropa di abad ke-8. Boniface berkhotbah kepada orang-orang kafir Jerman dalam bahasa yang begitu mirip dengan bahasa mereka sendiri sehingga mereka bisa memahaminya. Dia mengalahkan dewa-dewa mereka, menghancurkan kuil mereka, menebang pohon suci dan membangun gereja-gereja di daerah suci penyembah berhala. Dia membuat mereka bertobat, mendidik, dan menjadikan mereka beradab. Dia mendirikan biara-biara, yang tidak hanya memiliki program akademik, tetapi yang juga mengajarkan pertanian, penggembalaan, dan kesenian daerah. Ini memungkinkan terbentuknya masyarakat yang mapan, gereja yang mantap, dan pelestarian kekristenan yang baik. Boniface juga mendatangkan suster dari Inggris untuk mengangkat pegawai-pegawai lembaga ilmu secara akademis dan domestik. Ini adalah pertama kalinya, perempuan secara resmi dan terdaftar secara aktif dalam pekerjaan misi. Pendeta dan biarawan direkrut dari para petobat lokal. Boniface mengirimkan laporan dan permintaan kepada gereja “kembali pulang” di Inggris, dan mendiskusikan strategi dengan mereka juga. Para uskup Inggris, biksu, dan suster bergiliran mengirim uang dan kebutuhan-kebutuhan untuk Boniface sendiri. Mereka juga menopang misi dengan doa syafaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, misi pengutusan yang begitu sejati tidak ada lagi karena kerusakan yang didatangkan oleh penjajah Inggris. Misi di benua tersebut menjadi terlalu banyak ekspansi imperialnya. Para pemimpin politik dan gerejawi seperti raja-raja kaum Frank, penerus Jerman mereka, kaisar Bizantium dan misi Paus memanfaatkan misi untuk ambisi-ambisi pembangunan kerajaan mereka lebih lanjut. Akibatnya, raja-raja Skandinavia mencegah misionaris-misionaris masuk ke benua dan menginjili negara mereka dengan misionaris Inggris yang berdiri sendiri atau yang tidak memiliki hubungan politis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perang Salib===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rangkaian perang Eropa melawan Muslin, yang disebut Perang Salib, hampir tidak bisa dianggap sebagai bentuk sah dari misi. Sampai hari ini, Perang Salib telah membuat misi untuk M hampir mustahil, karena mereka meninggalkan warisan abadi tentang kebencian dunia M kepada dunia Kekristenan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun bahkan sebelum Perang Salib berakhir, Fransiskus dari Assisi telah pergi di dalam kasih memberitakan kepada Sultan Mesir, dan telah menciptakan sebuah kekuatan misionaris yang berkhotbah di dalam kasih dan perdamaian. Ramon Lull, pemimpin besar kaum Fransiskus, meletakkan jabatannya sebagai petinggi yang mulia di pengadilan Aragon dan mengabdikan hidupnya untuk menjangkau M sebagai “Orang dimabuk cinta.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia akan meyakinkan dan membuat orang bertobat dengan alasan, menggunakan instrumen perdebatan. Untuk tujuan ini dia menulis suratnya &#039;&#039;Ars Magna&#039;&#039;, yang dimaksudkan untuk menjawab dengan meyakinkan, pertanyaan atau keberatan apa saja yang diajukan oleh M atau orang kafir. Dia merencanakan suatu jenis mesin logika yang ke dalamnya berbagai macam faktor dapat dimasukkan dan jawaban yang benar akan keluar. Selama beberapa dekade sebelum kematiannya, Lull tidak henti-hentinya memohon kepada Paus dan raja untuk mendirikan perguruan tinggi untuk mengajar bahasa Arab dan bahasa-bahasa lainnya dan untuk pelatihan misionaris. Dia mendesak mereka untuk mempertimbangkan banyak ide dan proposal untuk mengirim misionaris ke luar negeri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ekspansi Kolonial===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama abad 16 hingga 18, Kekristenan menjadi agama seluruh dunia bersamaan dengan perluasan kerajaan Portugis, Spanyol, dan Perancis. Ketika Paus membagi negeri non-Kristen (baik yang sudah ditemukan maupun yang belum) antara mahkota Portugal dan Spanyol, dia memberikan kepada raja, kewajiban untuk menginjili penduduk di negeri-negeri itu, untuk mendirikan gereja dan memeliharanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misi dengan demikian membangun fungsi pemerintahan. Portugis membangun kerajaan perdagangan, dan kecuali Brazil, memiliki hanya wilayah kecil di bawah kekuasaan langsung. Mereka menekan agama-agama etnis, mengusir kelas atas yang menolak dan menciptakan komunitas Kristen yang terdiri dari campuran keturunan dan para petobat baru dari strata yang lebih rendah di masyarakat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Spanyol, sebaliknya, berusaha untuk memindahkan kekristenan dan peradaban, keduanya sesuai dengan model Spanyol. Eksploitasi kejam membunuh orang-orang Indian Karibia dan mendorong misionaris-misionaris seperti Bartholome de las Casas untuk berjuang dengan gagah berani demi hak-hak orang-orang Indian yang tersisa. Sejak itu, para misionaris memainkan peranan yang penting dalam melindungi penduduk pribumi dari eksploitasi oleh orang kulit putih dan pemerintah kolonial. Melalui usaha yang besar, para misionaris menghapuskan perbudakan dan pembaptisan yang dipaksakan, menjadikan mereka orang-orang yang memberikan peradaban dan juga para pelindung orang-orang Indian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah misi akan diadakan di sebuah perbatasan dengan pangkalan pusat di sekitar kota yang dihimpun dan orang-orang Indian yang didatangkan menjadi penduduk tetap. Biasanya ada garnisun tentara yang kecil untuk melindungi misionaris dan orang-orang Kristen India. Pangkalan-pangkalan satelit dan kota-kota kecil terhubung dengan pangkalan pusat. Orang-orang Indian diajar dan dibimbing oleh para imam dan dalam praktek-praktek keagamaan gereja. Mereka secara aktif mendaftar untuk melayani sebagai pembantu pendeta pada upacara misa, penyanyi, dan pemusik. Festival rakyat bernuansa Kristen, dan perayaan serta puasa Kristen diperkenalkan. Pegawai sipil Indian melaksanakan peran kepemimpinan yang cukup luas di bawah pengawasan ketat para misionaris.Pertanian dan peternakan dikembangkan dan orang-orang Indian diajarkan tentang semua hal berkenaan dengan penggembalaan dan pertanian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi orang-orang Indian diasuh, dijadikan beradab dan dikristenkan – tidak dibunuh atau diungsikan sebagaimana nantinya terjadi di Amerika Serikat. Sayangnya, ketika pemerintah memutuskan bahwa misi telah menjadikan orang-orang Indian beradab, misi “disekulerkan.” Pemerintah menggantikan misionaris dengan pendeta keuskupan, biasanya dengan kualitas rendah dan tidak memadai jumlahnya. Pegawai pemerintah sekuler datang sebagai penguasa di tempat para misionaris. Karena kurangnya kasih para misionaris kepada orang-orang, mereka membagi-bagikan tanah di antara penghuni tetap Spanyol. Orang-orang Indian secara berangsur-angsur diturunkan ke tingkat buruh harian yang tidak punya tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebijakan Perancis di Kanada adalah kebalikan dari kebijakan Spanyol. Hanya sebuah koloni kecil ditetapkan untuk menjadi dasar bagi perdagangan dan pertahanan melawan Inggris. Perancis menginginkan bulu binatang dan produk lainnya dari hutan dan, karena itu, peradaban Indian terganggu sesedikit mungkin. Para misionaris harus mengembangkan strategi yang konsisten dengan kebijakan ini. Oleh karena itu, mereka tinggal bersama orang-orang Indian di desa-desa mereka, sebisa mungkin beradaptasi dengan kondisinya. Mereka berkhotbah, mengajar, membaptis orang, melakukan ritual gereja dan memperbolehkan para petobat baru tetap menjadi orang-orang Indian. Beberapa kota yang permanen dengan gereja-gereja dan sekolah-sekolah didirikan di perbatasan-perbatasan pemukiman Perancis, namun sebagian besar penduduknya tidak tinggal di sana secara permanen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang Perancis juga terlibat di sisi lain dunia dalam apa yang kemudian menjadi Perancis Indo-China (sekarang Vietnam), dimana daerah itu ada di bawah kekuasaan Perancis sesudahnya. Alexander de Rhodes merancang sebuah strategi penginjilan baru yang radikal. Hal ini dibutuhkan karena para misionaris Perancis dianiaya dan diusir dari daerah itu untuk waktu yang lama. Penginjilan hanya bisa dilakukan dengan bekerja melalui agen-agen pribumi.Rhodes menciptakan sebuah tatanan penginjil awan pribumi yang hidup di bawah kekuasaan perintah agamawi. Mereka sukses besar, memenangkan ribuan petobat baru. Didorong oleh pengalaman ini, Rhodes dan rekan-rekannya mendirikan Masyarakat Misi Luar Negeri di Paris. Mereka diabdikan untuk kebijakan merekrut dan melatih pendeta keuskupan pribumi yang akan menjadi kepala agen-agen dalam menginjili negeri dan memberikan bimbingan pastoral gereja-gereja. Kebijakan ini berhasil dengan luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ahli Strategi Misi Abad ke-17===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ahli teori misi modern muncul di abad 17 seiring dengan ekspansi iman yang hebat. Mereka termasuk Jose de Acosta, Brancati, dan Thomas a Jesu yang menulis buku pedoman tentang prinsip dan praktek misionaris, menjabarkan kualifikasi misionaris, dan mengajar mereka tentang bagaimana berkerja bersama orang-orang. Di tahun 1622, sebuah organisasi dibentuk di Roma yang disebut Jemaat Suci untuk Propaganda Iman. Ini untuk memberikan arahan pusat untuk misi-misi Katolik Roma. Juga mendirikan lembaga-lembaga pelatihan misionaris. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Jesuit adalah inovator-inovator hebat dan berani pada periode ini. Mereka di antara banyak negera, pergi ke Timur melalui Portugis menentang perbatasan. Mereka adalah pelopor modern di dalam hal kaum pribumi – praktek akomodatif terhadap budaya setempat, mengambil petunjuk mereka dari bentuk-bentuk budaya dan adat istiadat setempat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usaha pertama adalah di Jepang dimana para misionaris tinggal di rumah-rumah bergaya Jepang, mengenakan pakaian Jepang dan mengikuti sebagian besar adat istiadat dan etiket sosial setempat. Bagaimana pun, mereka tidak memanfaatkan penggunaan istilah-istilah dan konsep Shinto dan Budha, bentuk-bentuk atau ritualnya dalam menyampaikan Injil dan mendirikan gereja. Mereka memanfaatkan pemakaian bahasa Jepang dalam membuat literatur tertulis Kristen tentang pers misioleh para petobat Jepang. Diaken dan guru agama Jepang menanggung beban paling berat dalam penginjilan dan pengajaran. Beberapa diasuh menjadi pendeta. Sebuah komunitas Kristen yang besar segera muncul. Ketika Shogun, takut akan agresi asing, menutup Jepang dari semua pihak luar dan menganiaya orang-orang Kristen di abad ke-17, ribuan yang meninggal sebagai martir. Kekristenan bergerak di bawah tanah dan bertahan sampai Jepang membuka dirinya kembali terhadap dunia barat dua abad kemudian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eksperimen kedua di Madurai di India Selatan berjalan lebih jauh. Robert de Nobili percaya bahwa Brahmana harus dimenangkan jika Kekristenan mau berhasil di India. Akhirnya, dia menjadi seorang Brahmana Kristen. Dia berpakaian seperti seorang guru atau guru agama, memperhatikan hukum-hukum kasta dan adat istiadat, dan belajar bahasa Sansekerta. De Nobili mengambil mata pelajaran filosofi Hindu dan menyajikan doktrin Kristen sebanyak mungkin dalam istilah-istilah Hindu. Dia adalah salah satu dari sangat sedikit penginjil yang memenangkan banyak petobat Brahmana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usaha yang paling terkenal pada akomodasi budaya adalah di Tiongkok, dimana strateginya disusun oleh Matteo Ricci dan dikembangkan oleh penerusnya, Schall dan Verbiest. Sama seperti di Jepang, para misionaris mengadopsi cara hidup dan dasar peradaban Tionghoa. Namun, mereka bertindak lebih jauh dan secara bertahap memperkenalkan prinsip-prinsip dan doktrin Kristen dengan menggunakan konsep Konfusianisme. Mereka mengijinkan para petobat untuk melakukan ritual-ritual leluhur dan negara, menganggap hal-hal ini dari sisi sosial dan sipil daripada karakter religius. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para misionaris mendapatkan pengaruh yang luar biasa selaku ahli matematika, astronom, pembuat peta dan ahli dalam berbagai ilmu. Mereka memperkenalkan pendidikan Barat kepada orang-orang Tiongkok, berteman dengan orang-orang yang berpengaruh dan memperoleh kesempatan secara pribadi untuk menyaksikan iman. Mereka melayani kaisar dalam banyak kapasitas. Semua ini dilakukan untuk satu tujuan, yaitu untuk membuka jalan bagi Injil. Strategi ini sangat berhasil, dan sebuah komunitas Kristen yang besar berkembang, termasuk orang-orang yang berpengaruh di kedudukan yang tinggi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misionaris lainnya, bagaimana pun, tidak bisa menghargai sesuatu yang tidak berbau Eropa. Mereka benar-benar memadukan istilah dan praktek Katolik Roma tradisional. Termotivasi oleh kecemburuan nasionalis dan partai, mereka menyerang kaum Jesuit dan mengajukan tuduhan terhadap mereka di Roma. Akhirnya Roma memerintahkan untuk menentang prinsip-prinsip Jesuit, melarang praktek mereka dan mengharuskan semua misionaris pergi ke Timur bersumpah untuk mematuhi putusan itu. Orang-orang Tionghoa Kristen dilarang untuk melakukan ritual keluarga dan negara. Sejak itu menjadi mustahil bagi orang Tionghoa Kristen untuk menjadi benar-benar Tionghoa dan Kristen pada saat yang sama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekristenan muncul untuk menyerang akar kesalehan anak, yang merupakan dasar yang sama dengan masyarakat Tionghoa. Dua abad kemudian, sumpah itu dihapuskan dan ritual yang diganti pun diijinkan. Kaum Jesuit kalah perang tetapi akhirnya memenangkan perang itu. Saat ini, hampir semua misionaris dari semua gereja mengakui perlunya akomodasi dan hal yang berhubungan dengan pribumi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Orang-Orang Puritan di New England:===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misi ke Indian Amerika Protestan mulai berpartisipasi dalam misi dunia di awal abad ke-17 dengan karya tentang penginjilan dari pendeta Perusahaan Hindia Belanda dan misi New England ke orang-orang Indian Amerika. Misi adalah sebuah fungsi dari perusahaan komersil, namun banyak dari pendetanya yang adalah para misionaris sejati. Mereka memiliki pengaruh yang kecil pada strategi misi berikutnya, namun misi Puritan ke orang-orang Indian Amerika-lah yang memberikan inspirasi dan contoh bagi pekerjaan misi di masa yang akan datang. Tujuan para misionaris adalah untuk menyampaikan Injil dengan begitu efektif sehingga orang-orang Indian bisa bertobat, secara pribadi menerima keselamatan dan dikumpulkan ke dalam gereja-gereja dimana mereka dapat dimuridkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuannya adalah untuk membuat orang-orang Indian menjadi orang Kristen dengan jenis dan karakter yang sama seperti anggota Puritan Inggris dari gereja jemaat. Ini meliputi menjadikan Indian beradab menurut model Inggris. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penginjilan adalah hal pertama di dalam strategi. Berkhotbah adalah metode utama, dilengkapi dengan pengajaran. Sebagian besar misionaris mengikuti John Eliot yang mulai berkhotbah di depan publik, meskipun Thomas Mayhew, Jr., yang sangat sukses di &#039;&#039;Martha’s Vineyard&#039;&#039;, mulai dengan pendekatan personil, individual, dan lambat. Para misionaris menyampaikan khotbah-khotbah yang sarat doktrin menekankan pada murka Allah dan penderitaan neraka, sama seperti khotbah-khotbah itu disampaikan kepada jemaat Inggris. Tetapi Davis Brainerd, yang menyukai orang-orang Moravia mengkhotbahkan kasih Allah, bukan murka-Nya, sangatlah efektif dalam menggerakkan orang-orang untuk bertobat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal kedua dalam strategi itu adalah untuk mengumpulkan para petobat ke dalam gereja. Namun, orang-orang Kristen yang baru pertama-tama dimasukkan melalui tahun-tahun masa percobaan yang lama sebelum gereja-gereja pertama diorganisasi. Sebaliknya, ketika fase kedua misi Indian dibuka di tahun 1730-an, penundaan ini tidak lagi diperlukan dan gereja-gereja dengan cepat dikumpulkan dan diorganisasi. Para petobat baru diajar dan didisiplin di dalam iman, baik sebelum maupun sesudah organisasi gereja-gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penekanan stragtegis ketiga adalah untuk membangun kota-kota Kristen. John Eliot dan rekan-rekannya percaya bahwa pemisahan dan pengasingan diperlukan untuk pertumbuhan rohani para petobat. Para petobat harus dikeluarkan dari pengaruh negatif dari sanak keluarga kafir dan orang-orang kulit putih yang buruk. Para misionaris mendirikan kota-kota Kristen murni “Indian Berdoa” agar para petobat baru dapat hidup bersama di bawah disiplin yang ketat dan pemeliharaan yang baik dari para misionaris dan pendeta serta guru Indian. Ini akan menjamin apa yang disebut oleh Cotton Mather sebagai “cara hidup yang lebih layak dan lebih Inggris.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kristenisasi dan menjadikan orang-orang percaya Indian beradab dilakukan secara bersamaan dan tidak terbedakan. Eliot menjadikan kota-kotanya di bawah bentuk pemerintahan yang berdasarkan Alkitab dari Keluaran 18, namun Pengadilan Umum Massachusetts, yang memberikan tanah dan membangun gereja dan sekolah, menunjuk komisaris-komisaris Inggris menguasai kota-kota itu di tahun 1658. Di dalam kota-kota itu, orang-orang Indian hidup bersama di bawah kovenan antara mereka dan Tuhan. Kehidupan pribadi maupun komunitas diatur oleh hukum-hukum dari Alkitab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar kota-kota Indian Berdoa tidak bertahan dari kehancuran akibat Perang Raja Philip di tahun 1674. Namun, strategi dari kota Kristen yang khusus itu diikuti lagi ketika John Sergeant mendirikan misi Stockbridge di tahun 1734. Stockbridge bukanlah sebuah tempat yang tertutup seperti kota-kota sebelumnya. Ada gerakan yang terus-menerus antara kota dan hutan, bahkan yang jauh jaraknya. Karena itu, orang-orang Kristen Stockbridge bisa menjadi agen penginjilan di dalam hubungan alamiah mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang mungkin telah dicapai dalam hal pengembangan rohani di kota-kota Kristen awal, penduduknya tidak memiliki pengaruh menginjili pada orang-orang Indian lainnya, karena mereka terputus dari kontak apapun. Sepanjang abad 19 dan awal abad 20, para misionaris untuk orang-orang Afrika primitif dan pulau-pulau terus tertawan dengan gagasan tentang menjaga kemurnian iman dan tingkah laku para petobat dengan memisahkan mereka ke dalam desa-desa Kristen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek yang lazim adalah mengasingkan orang-orang Kristen dari masyarakat mereka, dan menciptakan “orang bastar” sejenis masyarakat yang bukan pribumi dan bukan Eropa. Ini mencegah dampak penginjilan apapun pada orang-orang lain. Orang-orang yang terpisah tidak bisa menyebarkan iman pribadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;IndianCatechism&#039;&#039; oleh John Eliot adalah buku pertama yang pernah diterbitkan dalam bahasa Indian Amerika. Baik bahasa lokal maupun bahasa Inggris keduanya digunakan. Bahasa Inggris akan memungkinkan orang Indian untuk beradaptasi dengan masyarakat kulit putih dengan lebih baik, namun bahasanya sendiri lebih efektif dalam mengomunikasikan kebenaran Kristen. Eliot membuat buku-buku dalam dua bahasa. Membaca, menulis, dan aritmatika yang sederhana diajarkan bersamaan dengan pemahaman Alkitab dan perintah agama. Pertanian dan kerajinan domestik juga diajarkan agar cara hidup yang mapan dan beradab menjadi mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di abad kedua dari misi itu, pertimbangan-pertimbangan strategis membuat John Sergeant memperkenalkan asrama sekolah, sehingga para pemuda bisa sepenuhnya dipisahkan dari kehidupan yang lama dan dibesarkan di dalam hidup yang baru. Lembaga ini, juga, akan menjadi sumber daya yang strategis di misi abad ke-19.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi kepercayaan kaum Puritan New England, mereka tidak pernah meragukan perubahan kuasa Injil atau kemampuan potensial orang-orang Indian. Mereka mengharapkan bahwa beberapa dari mereka setidaknya dapat mencapai standar yang sama seperti orang-orang Inggris. Beberapa pemuda yang memberikan harapan, dikirim ke &#039;&#039;Boston Latin Grammar School,&#039;&#039; dan beberapa dikirim ke &#039;&#039;Indian College di Harvard College.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibadah, pelestarian dan pendidikan rohani semua menuntut bahwa literatur dalam bahasa lokal mencakup lingkup topik yang luas. Eliot menghasilkan Alkitab Massachusetts dan sebuah perpusatakaan literatur lainnya, yang ditambahkan beberapa oleh rekan-rekannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendasar bagi seluruh strategi misi New England adalah merekrut dan melatih pendeta-pendeta dan guru-guru pribumi. Baik para misionaris maupun para pendukung mereka keduanya menyadari bahwa hanya agen-agen pribumi yang dapat menginjili dan memberikan pelayanan pastoral dengan efektif kepada orang-orang mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya, kota-kota orang Indian lama-kelamaan menurun di bawah tekanan orang kulit putih yang terus-menerus dan pasokan pendeta serta guru juga menyusut sampai habis. Mungkin ada dua dampak yang abadi dari misi Indian di abad 17 dan 18. Pertama, kehidupan Eliot dan Brainerd menginspirasi banyak orang untuk menjadi misionaris di kemudian hari. Kedua, mereka diberkahi perusahaan luar negeri Protestan yang besar dengan rencana strategisnya: penginjilan melalui khotbah, perintisan gereja, pendidikan yang bertujuan untuk pemeliharaan orang-orang Kristen dan sosialisasi istilah-istilah Eropa, penerjemahan Alkitab, produksi literatur, penggunaan bahasa lokal dan perekrutan serta pelatihan pendeta-pendeta dan guru-guru pribumi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Misi Danish-Halle===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misi Amerika untuk Indian pribumi telah didukung oleh masyarakat misionaris yang diorganisasi di Inggris dan Skotlandia, namun para misionaris belum dikirim keluar dari Inggris. Misi pengutusan pertama dari Eropa adalah Misi Danish-Halle. Dimulai pada tahun 1705, Raja Denmark mengutus misionaris Lutheran Jerman ke koloni Tranquebar-nya di pantai tenggara India. Pemimpim pelopornya, Bartholomew Ziegenbalg, mengembangkan sebuah strategi yang nantinya diwariskan ke generasi misionaris berikutnya. Dalam beberapa hal dia jauh mendahului zamannya. Dia menekankan ibadah, khotbah, pendidikan, pekerjaan penerjemahan dan produksi literatur dalam bahasa lokal. Dia merintis penggunaan lirik Tamil dalam ibadah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia juga membuat jalan dalam studi filosofi dan agama Hindu, mengakui pentingnya pengetahuan demikian untuk penginjilan dan pertumbuhan gereja. Misi ini juga meliputi pekerjaan kesehatan di dalam programnya. Sayangnya, pihak berwenang di Jerman menentang strategi-stragtegi dan metode-metode ini. Yang paling terkenal dari misionaris Halle setelah Ziegenbalg adalah Christian Frederick Schwartz, yang melayani di bagian yang dikuasai Inggris di India Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memberikan pengaruh luar biasa kepada semua agama Indian dan beberapa negara Eropa, baik tentara maupun warga sipil. Strateginya unik dan tidak direncanakan. Meskipun masih seorang Eropa dari semua penampilannya, Schwartz benar-benar menjadi seorang guru atau guru rohani, dicintai dan dipercayai oleh semua orang. Orang-orang dari semua agama dan kasta berkumpul di sekitarnya sebagai murid-murid tidak peduli status mereka. Pelayanannya luar biasa dalam hal adaptasi dan akomodasi terhadap budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Misi Moravia===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Strategi paling khas yang berkembang di abad 18 adalah strategi &#039;&#039;Moravian Church&#039;&#039;, berkembang di bawah Count Zinzendorf dan Uskup Spangenberg. Para misionaris Moravia, mulai di tahun 1734, yang dengan sengaja dikirim ke orang-orang yang paling dibenci dan diabaikan. Para misionaris ini haruslah mandiri. Penekanan itu menyebabkan pengadaan industri-industri dan bisnis-bisnis, yang bukan saja mendukung pekerjaan mereka, tetapi juga menjadikan para misionaris ke dalam hubungan yang dekat dengan masyarakat. Bagaimana pun, kemandirian tidak bisa diperoleh di antara orang-orang Indian Amerika. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai hasilnya, pemukiman komunal (misalnya, Betlehem di Pennsylvania dan Salem di Carolina Utara) didirikan dengan beraneka kerajinan dan industri yang hasil keuntungannya untuk mendukung misi. Para misionaris Moravia diminta untuk tidak menerapkan “tolok ukur Herrnhut” (yaitu standar yang ditetapkan di markas misi Moravia di Jerman) kepada orang-orang lain. Mereka harus waspada dalam mengenali sifat-sifat, karakteristik, dan kekuatan berbeda yang diberikan Allah kepada orang-orang itu. Selanjutnya, mereka harus melihat diri mereka sebagai asisten Roh Kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka harus menjadi pembawa berita, penginjil, pengkhotbah yang tidak boleh menekankan doktrin teologis yang berat melainkan menceritakan kisah Injil yang sederhana. Dalam waktu Allah, Roh Kudus akan membawa para petobat ke dalam gereja dalam jumlah yang besar. Sementara itu para misionaris harus mengumpulkan buah-buah pertama. Jika tidak ada respons, mereka harus pergi ke tempat lain. Sebenarnya, para misionaris pergi hanya jika dianiaya atau diusir. Mereka sangat sabar dan tidak mudah menyerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Abad Besar Misi Protestan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari semua permulaan yang sebelumnya, muncullah perusahaan misionaris luar negeri Protestan yang besar di abad 19. Pertama di Inggris ketika William Carey mendirikan &#039;&#039;Baptist Missionary Society&#039;&#039; di tahun 1792. Organisasi kalangan misi telah mulai di Amerika di tahun 1787; sejumlah masyarakat terbentuk, semua memiliki sasaran menjangkau seluruh dunia. Namun, pemukiman dan perbatasan Indian menyerap semua sumber daya mereka. Akhirnya, sebuah gerakan mahasiswa di tahun 1810 memecah kebuntuan dan meluncurkan misi luar negeri melalui pembentukan Dewan Komisaris Amerika untuk Misi Perbatasan. &#039;&#039;Triennial Convention of the Baptist Denomination for Foreign Missions&#039;&#039; yang berikutnya diselenggarakan pada tahun 1814 diikuti oleh &#039;&#039;United Foreign Missionary Society&#039;&#039; di tahun 1816.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat dan yayasan baru memulai pekerjaan dengan perkiraan strategis dan metode yang diwarisi dari misi Indian Amerika dan MisiDanish-Halle. Selama bertahun-tahun, pemimpin-pemimpin di rumahmengira bahwa mereka tahu lebih baik bagaimana misi seharusnya dilakukan dan memberikan petunjuk terperinci kepada setiap misionaris ketika dia berlayar. Setelah setengah abad atau lebih, mereka menemukan bahwa para misionaris yang berpengalaman di lapangan adalah misionaris yang terbaik untuk merumuskan strategi dan kebijakan, yang kemudian mungkin disahkan oleh yayasan asalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan di negara-negara dengan budaya yang tinggi, seperti India dan Tiongkok, para misionaris Eropa menekankan sasaran “peradaban” sebanyak rekan-rekan mereka di daerah-daerah primitif karena mereka menganggap budaya lokal itu tidak bermoral dan bersifat takhayul – sebuah penghalang bagi Kristenisasi. Selama dekade-dekade awal tidak ada yang pernah mempertanyakan legitimasi fungsi menjadikan beradab dari misi. Para misionaris hanya memperdebatkan yang mana yang menjadi prioritas – Kristenisasi atau Peradaban? Beberapa percaya bahwa tahap peradaban tertentu pertama-tama dibutuhkan untuk memampukan orang-orang untuk memahami dan menerima iman. Beberapa yang lain percaya bahwa seseorang harus mulai dengan Kristenisasi karena Injil memiliki dampak menjadikan masyarakat beradab.Sebagian besar misionaris percaya bahwa keduanya saling berkaitan dan harus ditekankan secara setara dan bersamaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
India segera menerima perhatian terbesar dari yayasan dan kalangan misionaris, dan strategi serta taktik yang berkembang di sana ditiru di daerah-daerah lain. Pembaptis “Trio Serampore” yaitu Carey, Marshman dan Ward sangat berpengaruh di awal periode itu. Meskipun Carey mengupayakan pertobatan pribadi, dia ingin mendorong pertumbuhan gereja yang akan independen, ditopang dengan baik oleh orang-orang awam yang terpelajar dan membaca Alkitab, dan dikelola serta digembalakan oleh para pelayan pribumi yang terdidik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Carey tidak puas dengan mendirikan sekolah-sekolah dasar, tetapi juga mendirikan perguruan tinggi. Raja Denmark (Serampore adalah sebuah koloni Denmark) memberinya piagam perguruan tinggi yang bahkan mengijinkan mereka untuk memberikan gelar teologi. Ada sekolah-sekolah di Serampore untuk orang-orang India dan untuk anak-anak asing. Program besar penerjemahan dan pencetakan Alkitab mereka berkisar dari bahasa-bahasa Indian lokal sampai karya-karya dalam bahasa Tionghoa. Ini menjadikan prioritas tinggi terhadap pekerjaan serupa di antara semua misi Protestan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Trio Serampore juga menunjukkan bahwa penelitian adalah sangat penting dalam menentukan strategi dan pelaksanaan misi. Mereka membuat materi-materi linguistik yang dibutuhkan oleh semua misionaris dan menjadi yang pertama dalam mempelajari Hindu. Trio yang terkenal ini juga bekerja untuk perubahan sosial melalui dampak dari Injil. Mereka menjadi kekuatan besar untuk reformasi sosial, mengarahkan pemeluk Hindu untuk mencerahkan pandangan tentang praktek-praktek yang salah dan menekan pemerintah kolonial untuk menghapuskan &#039;&#039;suttee&#039;&#039; (pembakaran janda), kuil prostitusi dan adat istiadat yang tidak manusiawi lainnya. Carey juga memperkenalkan jurnalisme modern, penerbitan koran dan majalah baik dalam bahasa Bengali maupun Inggris. Dia mendorong kebangkitan literatur Bengali. Pekerjaan misi yang berbasis di Serampore ada dalam lingkup yang sangat komprehensif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Scotsman Alexander Duff juga bekerja di India selama periode ini. Seperti Robert de Nobili, dia percaya bahwa orang-orang India akan dimenangkan bagi Kristus hanya jika kasta Brahmana yang pertama-tama dijangkau. Dia berusaha untuk memenangkan para pemuda Brahmana melalui sebuah program pendidikan yang lebih tinggi dalam bahasa Inggris. Dia sangat berhasil namun usahanya mendatangkan penekanan luar biasa pada bahasa Inggris di sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi. Hal-hal ini menghasilkan sedikit petobat, namun membantu kesejahteraan gereja-gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah-sekolah juga menghasilkan staf bertutur bahasa Inggris untuk layanan sipil dan bisnis komersial, yang menyenangkan pendirian kolonial. Namun, lembaga-lembaga pendidikan tersebut segera mengeringkan banyak bagian dari sumber daya misi. Pada saat yang sama, tanpa ada rencana strategis, pangkalan misi pusat muncul dimana para petobat berkerumun dalam kemandirian misionaris secara finansial dan sosial. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecuali seorang petobat datang kepada kristus bersama seluruh kelompok sosialnya, dia akan diusir dari keluarganya dan akan kehilangan pekerjaannya. Untuk membuat para petobat demikian tetap bertahan hidup, para misionaris akan memberi mereka pekerjaan sebagai pelayan, guru, dan penginjil. Gereja menjadi terlalu dipekerjakan, dengan para anggota yang dibayar untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan sebagai sukarelawan. Praktek buruk ini menyebar kepada misi-misi di daerah-daerah lain. Di dalam sebuah pangkalan misi dengan gereja, sekolah, rumah sakit, dan seringkali percetakan pusat, seorang misionaris adalah pendeta dan pemimpin komunitas itu. Sistem tersebut memiliki tempat yang sedikit untuk pendeta pribumi, kebalikan dengan apa yang dimaksudkan oleh William Carey.Hanya ada khotbah, tidak ada gereja yang dikelola, di desa-desa sejauh lima puluh mil dan lebih di daerah-daerah pedalaman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini berubah di tahun 1854-55, ketika Rufus Anderson melanjutkan perutusan ke India dan Srilanka. Dia membuat misionaris yayasan Amerika membubarkan pangkalan pusat besar, untuk membentuk gereja-gereja desa dan untuk menahbiskan pendeta-pendeta pribumi. Dia menetapkan bahwa pendidikan dalam bahasa lokal harus menjadi aturan umum dan pendidikan dalam bahasa Inggris adalah pengecualian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Ahli Misi Abad ke-19.===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua ahli teori dan strategi misi terbesar di abad ke-19 adalah juga pejabat eksekutif agen-agen misi terbesar. Henry Venn adalah sekretaris umum dari &#039;&#039;Church Missionary Society &#039;&#039;di London. Rufus Anderson adalah sekretaris luar negeri dari &#039;&#039;American Board of Commissioners for Foreign Missions.&#039;&#039; Strategi misi Anderson mendominasi pekerjaan misi Amerika selama lebih dari satu abad, seperti halnya strategi Venn di Inggris. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua laki-laki itu mendatangkan secara terpisah prinsip-prinsip dasar yang sama secara praktis dan di tahun-tahun berikutnya saling memberikan pengaruh. Bersama-sama mereka merumuskan formula &#039;&#039;“tiga-sendiri”&#039;&#039; yang terkenal, yang menjadi tujuan strategis misi Protestan yang diakui dari pertengahan abad 19 sampai Perang Dunia II. Misi tujuan tiga-sendiri adalah untuk mendirikan dan mengembangkan gereja-gereja, yang akan mengatur-sendiri, mendukung-sendiri dan menyebarkan- sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anderson adalah seorang Kongregasionalis dan Venn adalah seorang Anglikan Episcopal, namun keduanya ingin membangun gereja regional dari bawah ke atas. Venn ingin melihat seorang uskup yang hanya ditahbiskan ketika gereja regional telah mencapai sebuah tahap dimana mereka telah memiliki pendeta pribumi yang memadai dan memiliki kemampuan untuk mendukung gereja mereka sendiri.Anderson memprotes penekanan besar pada “peradaban” dan usaha untuk mengubah masyarakat dalam semalam. Dia memiliki pandangan bahwa perubahan demikian merupakan hasil perlahan-lahan dari ragi Injil dalam kehidupan sebuah bangsa. Dia mendasarkan strateginya pada Rasul Paulus yang tidak berfokus pada perubahan sosial. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Anderson, tugas misionaris adalah untuk memberitakan Injil dan menghimpun para petobat ke dalam gereja. Dia selalu harus menjadi penginjil dan tidak pernah menjadi seorang pendeta atau penguasa. Gereja harus diorganisir seketika itu juga karena orang-orang yang menunjukkan pertobatan yang sejati tanpa menunggu mereka sampai mencapai standar yang diharapkan oleh anggota gereja dari masyarakat yang dikristenkan di dunia Barat. Gereja-gereja ini harus dipimpin oleh pendeta-pendeta pribumi dan harus mengembangkan struktur pemerintahan regional dan lokal mereka sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para misionaris adalah penasihat, pembimbing rohani untuk para pendeta dan orang-orang. Baik Anderson dan Venn keduanya mengajarkan bahwa ketika gereja-gereja berfungsi baik, para misionaris harus bergerak ke “daerah-daerah luar” dimana mereka bisa memulai proses penginjilan sekali lagi. Inti dari pendirian gereja adalah supaya gereja-gereja itu terlibat secara spontan dalam penginjilan lokal dan pengutusan misionaris ke orang-orang lain. Misi akan melahirkan misi. Dalam pandangan Anderson, pendidikan dalam bahasa orang-orang adalah hanya untuk tujuan melayani gereja, meningkatkan kualitas orang awan dan melatih para pelayan dengan memadai. Segala bentuk pekerjaan misi haruslah semata-mata untuk penginjilan dan mendirikan gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misi-misi Inggris menolak pandangan Anderson tentang pendidikan bahasa lokal. Misi-misi Amerika mengadopsi strateginya dan secara teori berpegang pada sistemnya selama lebih dari satu abad. Namun, setelah masa Anderson, mereka menekankan pendidikan menengah dan lebih tinggi dalam bahasa Inggris sampai jumlah yang lebih besar. Ini sebagian disebabkan oleh fakta bahwa sosial Darwinisme telah mengubah Amerika kepada doktrin kemajuan yang tidak terelakkan. Hal ini membuat penggantian eskatologi lama (doktrin Zaman Akhir) dengan gagasan bahwa Kerajaan Allah sedang datang melalui pengaruh lembaga-lembaga Kristen seperti sekolah-sekolah. Juga di akhir abad ke-19, sasaran strategis besar kedua telah ditambahkan ke formula tiga-sendiri, yaitu ragi dan transformasi masyarakat melalui dampak dari prinsip-prinsip Kristen dan semangat pelayanan Kristen. Sekolah tinggi dan perguruan tinggi sangat penting untuk tujuan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
John L. Nevius, misionaris Presbiterian di Shantung, merancang strategi yang agak memodifikasi strategi Anderson, meletakkan tanggung jawab yang lebih kepada orang-orang awam. Dia menganjurkan orang-orang awam untuk tetap berada dalam pekerjaan rutinnya sambil melayani sebagai penginjil sukarela, yang tidak dibayar. Nevius juga menganjurkan pemahaman Alkitab yang terus-menerus dan penatalayanan yang ketat bersama dengan pelayanan sukarela, dan mengusulkan sebuah pemerintahan gereja yang sederhana dan fleksibel. Rekan-rekannya di Tiongkok tidak mengadopsi sistemnya, namun para misionaris di Korea melakukannya dengan keberhasilan yang mengagumkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Sebuah Mentalitas Kolonialis===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain komitmen mereka yang diakui terhadap formula Anderson-Venn, misi-misi Protestan berubah drastis di dalam mentalitas mereka dan akibatnya di dalam strategi mereka pada kuartal terakhir abad ke-19.Di bawah Venn, misi-misi Inggris di Afrika barat, misalnya, memiliki dua tujuan: (1) pengadaan gereja yang mandiri dengan pendetanya sendiri, yang akan menginjili dalam benua, dan (2) pengadaan kaum elite Amerika, yaitu, kaum intelektual dan kelas menengah, yang bisa mendukung gereja itu dan misinya. Hampir segera setelah masa kepemimpinan Venn berakhir, misi eksekutif dan misionaris lapangan menganut pandangan kolonialis bahwa orang-orang Afrika lebih rendah dan karena itu tidak bisa ambil bagian dalam kepemimpinan dalam pelayanan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya, orang-orang Eropa dibutuhkan untuk mengisi posisi kepemimpinan. Pengusaha kelas menengah dan kaum intelektual Afrika dipandang rendah. Sudut pandang kolonialis ini adalah versi gereja dari naiknya teori “beban orang kulit putih” yang populer. Hal ini mengurangi gereja pribumi dan menjadi koloni pendirian gereja asing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah perkembangan yang mirip terjadi di India pada tahun 1880-an. Orang-orang Amerika dan barat memegang mentalitas kolonialis ini dari Inggris. Misi-misi Jerman, di bawah bimbingan para ahli strategis mereka yang terkemuka, Professor Gustav Warneck, juga bermaksud untuk menciptakan gereja-gereja nasional &#039;&#039;(Volkskirchen)&#039;&#039;, namun sampai mereka meraih pengembangan yang lengkap, gereja-gereja tetap diperbudak untuk misionaris. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paternalisme – memperlakukan gereja pribumi seperti anak kecil – menghambat perkembangan mereka. Semua misi yang menganut paternalisme dan kolonialis ada pada pergantian abad. Urusan yang tidak menyenangkan ini berlangsung sampai penelitian yang dilakukan untuk Konferensi Misionaris Dunia di Edinburgh pada tahun 1910 tiba-tiba menghancurkan kepuasan diri sendiri dan kelembaman. Mereka mengungkapkan bahwa gereja pribumi benar-benar kompeten dan resah di bawah dominasi yang bersifat paternal. Konferensi ini membawa arahan yang luar biasa bagi perubahan kuasa dari organisasi misi kepada gereja. Hampir semua yayasan dan kalangan mendukung gagasan ini, setidaknya di dalam teori.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Penginjilan, Pendidikan dan Kedokteran===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkatnya, misi strategi abad ke-19 (sampai Edinburgh tahun 1910) bertujuan untuk pertobatan pribadi, pendirian gereja dan perubahan sosial melalui tiga tindakan utama: penginjilan, pendidikan, dan kedokteran. Penginjilan meliputi berkhotbah dalam segala bentuknya, pengorganisasian dan pembinaan gereja, penerjemahan Alkitab, pengadaan literatur dan distribusi Alkitab dan literatur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bidang pendidikan, sekolah-sekolah kejuruan pada umumnya dilarang demi pendidikan akademis. Pada akhir abad, sistem pendidikan yang luas ada di Asia, mulai dari TK sampai perguruan tinggi, termasuk sekolah-sekolah medis dan teologis. Afrika, bagaimana pun, diabaikan dalam hal pendidikan menengah dan perguruan tinggi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para dokter misionaris pertama diutus terutama untuk merawat keluarga misionaris lainnya. Namun, mereka dengan cepat mendapati bahwa pelayanan medis menciptakan kehendak baik dengan orang-orang pribumi dan membuka peluang penginjilan. Oleh karena itu, pelayanan medis menjadi cabang utama dari pekerjaan misi. Tidak sampai pertengahan abad ke-20 misi-misi menyadari bahwa pelayanan medis di dalam nama Kristus adalah, di dalam dirinya sendiri, bentuk dramatis atas proklamasi Injil. Dengan semangat yang sama akan pertolongan dan kehendak baik, bersamaan dengan keinginan untuk meningkatkan dasar ekonomis gereja-lah para misionaris memperkenalkan unggas dan ternak yang dikembangkan, bibit dan tanaman baru yang lebih baik. Industri kebun besar di Shantung dimulai dengan cara ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkenaan dengan agama-agama lain, strategi misinya agresif, berupaya untuk menggantikan agama-agama itu dan mempertobatkan mereka dari agama-agama lain sepenuhnya.Sikap agresif ini menurun menjelang akhir abad ke-19. Para misionaris perlahan-lahan mulai menghargai karya Allah dalam kepercayaan-kepercayaan yang lain. Pada tahun 1910 banyak yang menganggap agama-agama lain sebagai “bias cahaya yang pecah” yang harus dijadikan utuh di dalam Kristus dan sebagai jembatan menuju Injil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebiasaan dari Timur membuat hampir tidak mungkin bagi misionaris laki-laki untuk menjangkau perempuan dan anak-anak dalam jumlah yang besar. Para istri misionaris bekerja mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan dan untuk masuk ke rumah-rumah, zenanas dan harems. Namun, mereka tidak memiliki cukup kebebasan dari urusan rumah tangga dan mengurus anak-anak dan tidak bisa bepergian dengan mudah. Strategi realistis menuntut bahwa ketentuan yang memadai harus dibuat untuk kaum perempuan dan anak-anak, tetapi yayasan dan masyarakat menolak mentah-mentah mengutus perempuan lajang sebagai misionaris. Dalam keputusasaan yang penghabisan, kaum perempuan di tahun 1860-an mulai mengorganisir kalangan mereka sendiri dan mengutus perempuan lajang. Sebuah dimensi yang benar-benar baru ditambahkan kepada strategi misi:keberanian berusaha yang besar untuk menjangkau kaum perempuan dan anak-anak dengan Injil, untuk mendidik anak-anak perempuan dan untuk memberikan perawatan medis yang memadai bagi kaum perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika perempuan datang ke gereja, anak-anak mereka mengikuti mereka. Pendidikan perempuan terbukti menjadi kekuatan yang paling efektif untuk membebaskan dan mengangkat sosial perempuan. Penekanan bahwa perempuan ditempatkan pada pelayanan medis membawa yayasan umum untuk menatar pekerjaan medis dan memberi penekanan yang lebih besar pada pendidikan medis. Sebagai hasilnya, perempuan Timur memperoleh akses ke karier yang bergengsi sebagai dokter, perawat, dan guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Sikap Hormat===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu keistimewaan dari strategi misi abad ke-19 harus didaftarkan. Ini adalah praktek sikap hormat – koordinasi dari organisasi-organisasi yang berbeda demi keuntungan bagi semua. &#039;&#039;Southern Baptists&#039;&#039; adalah di antara para pendiri dan pelaku sikap hormat. Penatalayanan yang baik atas pribadi dan dana merupakan prioritas tinggi di antara yayasan dan masyarakat. Limbah dibenci, dan ada keinginan yang kuat untuk merentangkan sumber daya sejauh mungkin. Praktek sikap hormat dimaksudkan untuk membuat beberapa entitas bertanggung jawab terhadap penginjilan setiap bagian akhir dari wilayah dan setiap bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu juga dimaksudkan untuk mencegah kelipatan agen dari menduplikasi usaha mereka di wilayah yang sama (kecuali kota besar). Dengan mengkoordinasikan strategi mereka, agen-agen misi dapat mencegah tumpang tindih program misi, dan menghilangkan persaingan serta perbedaan denominasi yang akan membingungkan orang-orang dan menghambat penginjilan. Penguasaan wilayah sebelumnya diakui, dan misi yang baru dilakukan di wilayah yang belum diduduki. Kebiasaan ini menghasilkan “denominasionalisme melalui geografi” (gereja dengan keanggotaan dari berbagai denominasi berdasarkan tempat mereka). Namun, gambaran ini diharapkan untuk berubah ketika para misionaris pindah ke “daerah-daerah seberang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para warga kemudian akan meletakkan potongan-potongan dikumpulkan ke dalam gereja nasional, yang mungkin berbeda dari gereja-gereja yang didirikan. Kelompok misi yang berbeda sepakat untuk mengakui satu terhadap yang lain sebagai cabang yang sah dari Gereja Kristus yang satu. Mereka setuju akan baptisan dan perpindahan keanggotaan, disiplin, gaji dan perpindahan pekerja-pekerja nasional. Kesepakatan ini membawa kepada kerjasama lebih lanjut dalam membentuk yayasan regional dan nasional sebagai penengah konflik di antara misionaris dan untuk mencapai tujuan bersama lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan-tujuan ini termasuk “serikat” proyek penerjemahan Alkitab, lembaga penerbitan, sekolah menengah dan perguruan tinggi, sekolah pelatihan guru, dan sekolah kedokteran. Strategi efektif menjawab lebih dan lebih terhadap kerjasama atas semua hal, yang dapat dicapai dengan lebih baik melalui usaha bersama. Konferensi misionaris kota, regional dan nasional di hampir setiap negara memberikan peluang bagi dialog dan perencanaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Perundingan dan Konferensi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerjasama misi lapangan membawa kepada perundingan yang lebih, kerja sama dan perencanaan di tempat asal. Konferensi Misionaris Dunia di Edinburgh pada tahun 1910 meresmikan serangkaian konferensi-konferensi besar: &#039;&#039;Jerusalem 1928, Madras 1938, Whitby 1947, Willingen 1952 dan Ghana 1957-58.&#039;&#039; Di konferensi-konferensi ini, arahan strategi secara luas ditentukan dan kemudian diterapkan secara lokal melalui studi lebih lanjut dan diskusi dalam badan-badan nasional dan regional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewan Misionaris Internasional didirikan pada tahun 1921, membawa bersama-sama konferensi misionaris nasional (misalnya, Konferensi Misi Luar Negeri di Amerika Utara, 1892) dan dewan Kristen nasional (misalnya, NCC Tiongkok). Karenanya kemudian didirikan sebuah sistem universal di berbagai tingkatan untuk mempelajari masalah dan merencanakan strategi bersama-sama oleh tuan rumahyayasan misi yang berkuasa. Pada tahun 1961 IMC menjadi Divisi Misi Dunia dan Penginjilan Dewan Gereja Dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak Edinburgh 1910 sampai Perang Dunia I, perkembangan strategi yang paling terkemuka adalah menempatkan gereja nasional di pusat, memberinya kemerdekaan penuh dan otoritas, dan mengembangkan kemitraan antara gereja-gereja Barat dengan gereja-gereja muda. “Gereja pribumi” dan “kemitraan dalam ketaatan” adalah semboyan yang mengungkapkan tujuan dari strategi yang berlaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para peserta dalam Konferensi Yerusalem pada tahun 1928 mendefinisikan gereja pribumi, menekankan akomodasi budaya. Konferensi Madras pada tahun 1938 mengemukakan kembali definisi itu, menekankan saksi bagi Kristus dalam “hubungan yang langsung, jelas, dan erat dengan warisan budaya dan agama negara(itu).” Konferensi Whitby tahun 1947 menegakkan cita-cita “kemitraan dalam ketaatan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Sejak Perang Dunia II===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Roland Allen menguraikan strategi misi berbeda secara radikal dalam bukunya &#039;&#039;Missionary Methods: St. Paul’s or Ours? dan The Spontaneous Expansion of the Church. &#039;&#039;Namun, dia tidak mempunyai pengikut sampai setelah Perang Dunia II, ketika misionaris dari misi iman bersatu untuk posisinya. Pada intinya, strateginya adalah: misionaris mengomunikasikan Injil dan meneruskan kepada komunitas para petobat baru, pengakuan iman yang sederhana, Alkitab, sakramen, dan prinsip pelayanan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kemudian bertindak sebagai penatua konseling sementara Roh Kudus memimpin gereja baru, mengatur diri sendiri dan mandiri, untuk mengembangkan bentuk-bentuk pemerintahan sendiri, pelayanan, ibadah dan kehidupan. Gereja demikian adalah bersifat misi secara spontan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori Allen berlaku pada perintis mula-mula yang baru sementara yayasan dan kalangan lama berhadapan dengan gereja-gereja yang sudah ada yang ditetapkan dalam cara mereka. Yang terakhir ini jarang berusaha untuk membuka ladang misi baru. Satu demi satu, organisasi misi di lapangan dilebur. Sumber daya ditempatkan di pembuangan gereja dan personil misionaris ditugaskan untuk mengarahkan mereka. Yayasan dan kalangan Barat memprakarsai strategi yang sangat kecil yang masih baru, namun berbuat banyak untuk mengembangkan metode yang baru: misi pertanian atau pengembangan pedesaan, beberapa pekerjaan industri perkotaan, komunikasi media masa, literatur yang lebih efektif. Ini adalah tahap terakhir dari dan era dari pekerjaan misi, yang telah mengalami kemajuan selama tiga ratus tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang dunia tidak lagi dipisah menjadi umat Kristen dan umat penyembah berhala. Tidak bisa lagi ada misi satu arah dari Barat ke sisa yang ada di dunia. Dasar bagi sebuah misi didirikan dalam hampir semua negeri, dan sekarang sudah ada gereja dan komunitas Kristen global dengan kewajiban untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Momen untuk sebuah misi dunia yang baru dengan strategi baru yang radikal telah tiba. Revolusi yang menyapu bagian non-Barat di dunia selama dan setelah Perang Dunia I jelas-jelas mengakhiri tatanan misi Protestan yang lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman yang baru dari misi, strategi-strategi baru, organisasi-organisasi baru, cara-cara baru, sarana-sarana dan metode-metode baru dituntut oleh dunia kita yang sedang berubah. Tugas utama dari gereja tidak akan pernah selesai sampai Kerajaan Allah datang di dalam segala kemuliaannya. Adalah akan membantu kita dalam tugas kita saat kita berdoa, belajar, berencana dan bereksperimen, jika kita tahu sejarah masa lalu dari strategi misi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Berkat_Berabistan:_Melakukan_Misi_dengan_Berbeda&amp;diff=704</id>
		<title>Berkat Berabistan: Melakukan Misi dengan Berbeda</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Berkat_Berabistan:_Melakukan_Misi_dengan_Berbeda&amp;diff=704"/>
		<updated>2013-12-18T14:54:05Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{nicole forcier}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman kami meletakkan cangkir tehnya, mencondongkan tubuh ke suami saya dan saya, dan serius mendesak kami, &amp;quot;Jadilah berbeda. Ayo memulai bisnis yang baik. &amp;quot; Dia adalah salah satu dari yang pertama dari bangsanya yang mengikuti Kristus dan adalah seorang pemimpin kunci dari gereja-gereja yang sedang berlangsung di Berabistan untuk pertama kalinya setelah perjuangan bertahun-tahun lamanya. Dia melanjutkan, &amp;quot;Begitu banyak yang datang ke sini untuk mendirikan gereja, tetapi mereka tidak memiliki peran di negara kami. &amp;quot;Kata-kata itu menegaskan apa yang suami saya, Jonathan, dan saya telah bekerja selama bertahun-tahun: untuk datang ke Berabistan sebagai orang bisnis, bekerja keras agar nama Kristus dihormati di sana dan supaya Berabians diberkati, baik secara rohani maupun ekonomis. Kami adalah perintis jemaat yang sungguh-sungguh, tapi bukannya sekedar antri pekerjaan untuk mendapatkan visa untuk masuk ke negara itu, kami berharap dpat diterima sebagai orang-orang bisnis yang giat, dipandang sebagai yang membawa sesuatu yang bernilai kepada masyarakat Berabistan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama tahun-tahun persiapan kami, gereja rumah kami telah memberi kami dukungan penuh. Teman-teman sering bergabung dengan kami selama sesi doa harian untuk Berabistan. Tua-tua Gereja kamimendorong kami. Kami merasa Allah berbicara kepada kami tentang visi kami bersamaan waktunya dengan rencana bisnis kami. Itu semua mengambil bentuk sebagai usaha Allah mengutus bukan hanya pelaku bisnis dengan misi sampingan. Semuanya memiliki ciri-ciri Kis 13.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami semakin dekat untuk meluncurkan bisnis dan kami menghabiskan enam bulan pertama bertugas di negara itu, kami duduk dengan para pemimpin gereja kami untuk mengerjakan rincian tentang bagaimana menghubungkan usaha bisnis dengan program misi gereja, dan bagaimana kami bisa memenuhi ideal mereka tentang seperti apa misionaris seharusnya. Ketika kami berbicara, menjadi jelas bahwa kami bekerja dengan model bagaimana orang-orang bisnis dapat memajukan Injil secara efektif yang sangat berbeda di tempat-tempat seperti Berabistan. Ada dua kelompok isu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Kontrol dan Kepemilikan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rencana bisnis kami meminta kami untuk memulai bisnis dengan modal yang sudah dikumpulkan secara independen. Hal ini akan berarti bahwa risiko, serta keuntungan, akan menjadi tanggung jawab yang harus kami pikul. Kami tidak meminta dukungan keuangan dari gereja atau dari keluarga gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk memasukkan kami dalam program sebagai misionaris gereja bonafid, para pemimpin kami mengatakan bahwa gereja entah bagaimana akan memiliki kepemilikan bisnis. Permintaan IRS untuk sumbangan dan peraturan non-profit disebutkan, tetapi tidak ada solusi yang jelas dengan isu-isu kompleks tentang mengendalikan kepemilikan dan operasi bisnis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Melayani “Penuh Waktu”===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berencana meluncurkan bisnis dengan segera, mengalokasikan porsi signifikan tahun awal kami dengan rencana agresif untuk menjadi lancar dalam bahasa setempat sebagai bagian dari interaksi sehari-hari dengan masyarakat. Kami tidak berencana untuk menutup perusahaan kami yang sudah berjalan di Amerika Serikat. Kelanjutan bisnis kami di Amerika Serikat adalah bagian kunci dari kredibilitas yang ingin kami publikasikan sebagai orang bisnis yang sukses. Rencana kami membuat kami berada di Berabistan hampir di sepanjang tahun, pulang dua atau tiga kali setahun, meskipun kami memiliki hubungan yang tetap dengan karyawan yang baru direkrut. Kami menyadari beberapa kekuatan dan kelemahan dari pendekatan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja merasa bahwa kami harus menjadi pekerja &amp;quot;penuh waktu &amp;quot;untuk menjadi misionaris resmi gereja. Untuk melakukan itu kami harus menghabiskan dua tahun pertama kami tanpa melakukan apa-apa kecuali belajar bahasa. Setelah itu, kami akan bebas untuk memulai bisnis. Dari sudut pandang kami, mereka tidak serius memikirkan apa yang akan meningkatkan pengaruh kami di Berabistan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketegangan ini menyebabkan perpecahan yang menghancurkan hati dengan rumah gereja kami. Kami masih mengasihi dan menghormati mereka, tapi kami bergabung dengan sebuah gereja yang memiliki pemahaman yang lebih fleksibel tentang bagaimana misi dapat dilakukan. Kami merasa terluka, tapi bahkan kami lebih sedih melihat orang-orang bisnis yang terampil duduk di bangku kami, merasa bahwa mereka tidak dapat berperan dalam Amanat Agung. Banyak dari mereka tidak akan pernah cocok menjadi  misionaris tradisional yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Menghasilkan Buah===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menekan. Kami pindah ke Berabistan dengan keluarga muda kami. Tidak mudah untuk pergi, dengan semua birokrasi dan penderitaan rohani yang kami perkirakan. Tetapi bisnis bersenandung terus selama beberapa bulan setelah kami tiba. Bisnis berkembang dengan cepat, membuat kami disukai oleh banyak pemimpin Berabistan. Bisnis kami menawarkan layanan yang menempatkan kami dalam kontak dengan seluruh keluarga. Banyak keluarga kami berurusan dengan orang kaya dan berpengaruh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami memiliki karyawan M yang setia yang telah membantu menempatkan bisnis pada pijakan yang kokoh.  Rekan-rekan yang berbakat, berpengalaman dari negara asal kami telah memainkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
peran kunci. Hubungan telah berkembang. Beberapa dari teman M kami telah mulai mendengar dan melihat Injil setiap hari. Bekerja dengan orang percaya nasional, kami sudah mulai melihat buah. Kami sudah menyaksikan transformasi orang-orang Berasbitan karena mereka menjadi pengikut Yesus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Mengembalikan_Peran_Bisnis_di_dalam_Misi&amp;diff=703</id>
		<title>Mengembalikan Peran Bisnis di dalam Misi</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Mengembalikan_Peran_Bisnis_di_dalam_Misi&amp;diff=703"/>
		<updated>2013-12-18T14:54:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{steve rundle}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disadur dari &#039;&#039;Great Commission Companies&#039;&#039; oleh Steve Rundle dan Tom Steffen. Copyright 2003. Digunakan dengan izin dari InterVarsity Press, Po Box 1400, Downers Grove, IL 60515. ivpress.com. Juga dari Business as Mission 2006, William Carey Library.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang karyawan diserang oleh sekelompok preman. Karena ini, Jeff, pendiri perusahaan dan CEO, menggunakan kesempatan untuk membantu karyawannya, seorang yang baru percaya, mengerti apa artinya &amp;quot;kasihilah musuhmu. &amp;quot;Kemudian mereka berdoa bersama agar Tuhan memberkati para pemuda yang menyerangnya. Seorang pengusaha lain bernama Patrick membantu karyawan M memahami konsep anugerah yang sulit dipercaya dan tidak wajar. Di lain kesempatan, ia menjelaskan mengapa perusahaan memberikan sepertiga dari yang keuntungan-melalui seorang karyawan yang mengelola dana - untuk badan amal lokal. Seorang pemilik bisnis Korea, Jung-Hyuk, percaya bahwa Allah ingin dia memindah perusahaannya dari Korea Selatan ke Tiongkok. Lima tahun kemudian seperempat dari 2.000 orang karyawannya mengikuti Kristus. Banyak yang mengambil keuntungan dari kelas-kelas yang disponsori perusahaan dalam komputer, Inggris, Korea, nutrisi, musik dan tari. Beberapa bahkan menerima beasiswa perusahaan untuk pelatihan pastoral secara formal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini hanya beberapa contoh bagaimana profesional bisnis memajukan perkara Kristus dalam bagian dunia yang sedikit terjangkau. Dengan kata lain, mereka adalah contoh bagaimana globalisasi membawa bisnis dan misi bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Misi-Panggilan Setiap Orang Percaya===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kebanyakan orang berpikir tentang globalisasi, mereka berpikir tentang mengurangi hambatan politik, sosial dan ekonomi yang pernah membuat sebagian besar negara dan budaya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
terpisah. Tapi ada hambatan lain menghadang-sesuatu yang konseptual- yang memiliki efek besar pada bagaimana Gereja memahami dan memenuhi  tujuannya. Penghalang ini adalah &amp;quot; hierarki pekerjaan rohani &amp;quot; tidak tertulis yang telah menguasai cara banyak orang berpikir tentang peran mereka dalam pelayanan Kristen. Hirarki ini meanganggap beberapa pekerjaan lebih memperkenan dan menghormati Allah daripada pekerjaan yang lain. Misalnya, pendeta dianggap melakukan pekerjaan yang lebih berarti di mata Allah daripada insinyur. Keperawatan adalah karir yang lebih terhormat daripada penjualan. Sehingga begitulah memprioritaskan ini berjalan. Implikasi dari pandangan yang sangat-mengakar ini adalah bahwa mereka yang paling tulus dengan komitmen mereka pada Kristus akan mendapatkan pelatihan kejuruan khusus, beralih karir dan masuk ke &amp;quot;pelayanan penuh waktu.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah mengenai pandangan ini adalah bahwa tidak ada dukungan Alkitabiah untuk itu. Sebagai teolog R. Paul Stevens menyatakan di dalam bukunya, &#039;&#039;The Other Six Days: Vocation, Work, and Ministry in Biblical Perspective”&#039;&#039; Misi diperuntukkan bagi pekerjaan dan keasyikan dari seluruh umat Allah, bukan sekedar beberapa perwakilan misionaris yang dipilih atau ditunjuk. &amp;quot;1  Panggilan dan karunia masing-masing kita mungkin berbeda, namun misinya adalah tetap tujuan utama dari seluruh tubuh Kristus. Perbedaan yang ada di antara pekerjaan yang&amp;quot;baik&amp;quot; dan &amp;quot;lebih baik&amp;quot; hanya membuat berkurangnya keefektifan Gereja karena banyak orang Kristen dengan begitu saja menganggap dirinya masuk ke status kelas dua, atau lebih buruk, menjadi benar-benar terlepas dari keterlibatan dalam pelayanan. Ed Silvoso menggunakan analogi sebuah Pertandingan Piala Dunia sepak bola untuk menggambarkan hal melepaskan ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejumlah pemain, semua sangat membutuhkan istirahat, berlari keliling lapangan sementara ratusan ribu penonton menyaksikan dari kursi yang nyaman. Para pemain adalah para pelayan Tuhan yang mengerahkan sebagian besar energinya, dan penonton mewakili orang awam yang terbatas partisipasinya pada peran sekunder, terutama membuat seluruh perusahaan layak secara finansial.2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laki-laki dan perempuan Kristen dalam bisnis ingin melakukan lebih dari sekedar menonton permainan misi. Mereka ingin melakukan lebih dari sekedar membagikan uang untuk membuat permainan layak secara finansial, mereka ingin berada di lapangan permainan. Mereka telah melayani di kepengurusan gereja, mereka menyaksikan Kristus di tempat kerja, mereka telah berpartisipasi dalam perjalanan misi jangka pendek, tetapi pesan yang tidak bisa keliru yang terus mereka terima adalah bahwa tidak ada apa pun yang lebih dibutuhkan selain perubahan karir. Ini adalah pil keras untuk ditelan oleh orang-orang yang kreatif dan bersumber daya secara alami, dan yang cukup menikmati tantangan bisnis. Untungnya, itu bukan lagi pil yang harus mereka telan karena hari ini bukan hanya mungkin, tapi diperlukan untuk para profesional bisnis Kristen dan perusahaan mereka untuk menjadi lebih aktif terlibat dalam misi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perubahan ini terjadi pada saat banyak bagian dari dunia tidak hanya menderita dan tidak terjangkau, tetapi semakin dibatasi bagi misionaris. Bisnis, di sisi lain, disambut hampir di mana-mana. Termotivasi dan dilengkapi dengan tepat, profesional bisnis dapat memiliki tidak hanya dampak ekonomi, tapi sosial, budaya dan dampak rohani juga. Mengenai yang terakhir, profesional bisnis Kerajaan yang efektif memahami bahwa Allah telah memanggil mereka ke dunia bisnis untuk tujuan, dan bahwa interaksi mereka dengan karyawan, pelanggan dan pemasok bukanlah mengalihkan pelayanan, melainkan, kesempatan yang  dirancang Tuhan, diberi oleh Roh untuk membangun hubungan dan memiliki pengaruh yang berarti dalam kehidupan manusia. Mereka tahu bahwa mereka melayani Tuhan yang sangat peduli dengan setiap dimensi kehidupan masyarakat, bukan hanya kondisi rohani mereka, dan bahwa bisnis memiliki peran penting untuk dilakukan dalam rencana penebusan holistik -Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Sebuah Ide Baru, Tidak-Begitu-Baru===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan bisnis sebagai kendaraan untuk misi dan pelayanan adalah tidak baru. Rasul Paulus, misalnya, adalah pekerja kulit penuh waktu selama karir misinya. Sebuah studi tentang surat-suratnya mengungkapkan bahwa ia melihat pekerjaan sebagai  bagian dari strategi pendirian gerejanya  yang sangat diperlukan, dan sama penting bagi kesaksiannya dan juga khotbahnya. (Lebih lanjut akan disebutkan tentang teladannya di bagian berikutnya) Di Zaman Pertengahan, biarawan Kristen mengintegrasikan pekerjaan dan pelayanan dengan cocok tanam, pembukaan hutan dan membangun jalan, sementara juga merawat orang sakit, yatim piatu dan narapidana, melindungi orang miskin dan mengajar anak-anak. Efek yang mengubahkan menjadi berarti dari waktu ke waktu. Ketika desa dan kota bermunculan di sekitar biara-biara, masyarakat sekitarnya ada dalam banyak keprihatinan sosial yang sama.3  Bahkan seawal abad ke-19, banyak Protestan awal seperti&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Moravia, Misi Masyarakat Basel dan William Carey mengintegrasikan bisnis dan pekerjaan sekular lainnya ke dalam strategi misi mereka.4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu mengapa hal ini tampak begitu baru dan tidak dikenal? Setidaknya ada tiga alasan mengapa misi komunitas hari ini enggan untuk bekerja sama dengan bisnis. Pertama, ada kepercayaan baru dan luas bahwa &amp;quot;bekerja&amp;quot; mengambil waktu &amp;quot;pelayanan.&amp;quot; Ironisnya, sebagaimana  YWAM Michael McLoughlin tunjukkan, adalah bahwa setelah orang berhenti dari pekerjaan mereka untuk masuk ke pelayanan sepenuh waktu, mereka menjadi terisolasi dari orang-orang yang dengan siapa mereka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pernah berhubungan sehari-harinya!5 Kedua adalah keyakinan yang terkait erat bahwa sebuah bisnis bisa melayani masyarakat atau membuat uang, tetapi tidak keduanya. Persepsi adalah bahwa kegiatan dengan nilai sosial atau rohani yang tinggi – pekerjaan pendidikan, kesehatan dan kemanusiaan- tidak cocok dengan motif keuntungan. Alasan ketiga bisnis misi jarang digabungkan dalam sejarah adalah bahwa di beberapa negara hal ini menciptakan komplikasi pajak. Jelas, siapa pun yang berpikir untuk menjadikan kegiatan nonprofit dan profit bersama-sama membutuhkan kompetensi hukum dan saran pajak. Tetapi mereka yang tidak kritis memberlakukan pendekatan nonprofit sebagai &amp;quot;cara yang selalu dilakukan &amp;quot;tidak tahu sejarah misi mereka dan merampas diri mereka sendiri dari alat yang ampuh untuk pelayanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Variasi Tema===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menggambarkan integrasi bisnis dan misi/pelayanan. Istilah-istilah ini sering digunakan secara sinonim, tapi pengamat yang cermat akan melihat perbedaan penting yang layak untuk dipakai secara terpisah.6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Membuat tenda&#039;&#039;&#039; sering digunakan untuk menggambarkan orang Kristen yang bekerja di konteks lintas-budaya, mengambil pekerjaan di sekolah-sekolah, rumah sakit atau bisnis, dll Ini bukan sebuah istilah bisnis khusus.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Pelayanan Tempat Umum&#039;&#039;&#039; digunakan dalam referensi organisasi pendamping Gereja yang memuridkan dan melatih profesional bisnis Kristen untuk menjadi saksi yang lebih efektif di tempat kerja. Semakin berkembang, istilah &amp;quot; Pelayanan Tempat Kerja&amp;quot; digunakan sebagai gantinya, yang memperluas fokus untuk mencakup semua pekerjaan profesional.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Bisnis sebagai Misi&#039;&#039;&#039; (BAM) mengacu pada usaha (sering disebut &amp;quot;Perusahaan Amanat Agung&amp;quot; atau &amp;quot; bisnis Kerajaan &amp;quot;) yang dibuat dan dikelola secara khusus untuk tujuan memajukan perkara Kristus di bagian dunia yang kurang dijangkau dan/atau kurang berkembang.&lt;br /&gt;
* &#039;&#039;&#039;Pengembangan Usaha Mikro Kristen&#039;&#039;&#039; berupaya untukmembantu orang-orang termiskin di dunia memulai dan menjalankan bisnis yang sukses, menghormati Allah, seringkali dengan bantuan pinjaman kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah &amp;quot;tentmaking&amp;quot; selama ini adalah yang paling lama. Ini jelas adalah referensi Rasul Paulus- perintis Misi Kristen-yang, pekerjaannya, seorang tukang kemah (Kisah Para Rasul 18:3). Sebuah studi yang cermat terhadap surat-suratnya mengungkapkan bahwa bekerja &amp;quot;belum tentu sebuah kejahatan&amp;quot; bagi Paulus, atau &amp;quot;penutup,&amp;quot; tetapi lebih merupakan bagian penting dari strategi misinya untuk beberapa alasan. Memberitakan Injil secara gratis (lihat 1 Korintus 9:12-18) menambahkan kredibilitas pesannya (2 Kor 2:17; Titus 1:10-11) dan melayani sebagai contoh pelayanan bagi para pengikutnya. &amp;quot;Dengan bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup, Paulus menetapkan pola saksi awam dan pelayanan oleh pekerja Kristen yang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
biasa, &amp;quot;catatan Dave English Global Opportunities. Dia &amp;quot;membuatnya sebagai perintah bagi setiap orang Kristen untuk memuridkan. &amp;quot;7  Bekerja bahu membahu dengan orang-orang lokal juga memberinya kesempatan untuk meneladankan etika kerja yang ilahi dan gaya hidup yang berpusat pada Kristus kepada mereka yang dulunya adalah penyembah berhala. (Lihat, misalnya, 2 Th 3:7-9; Ef 4:28-32, dan 1 Kor 4:12,16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentmaking dan BAM mirip dalam hal, seperti Paulus, minat utama mereka adalah bagi orang-orang yang belum terjangkau (Rom 15:20). Pelayanan Tempat Umum dan BAM membagikan keyakinan bahwa bisnis yang dikelola dengan baik dapat dengan sendirinya memberi pengaruh yang bersifat menebus di dalam masyarakat. Mereka adalah juga orang percaya yang bersemangat dalam doktrin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Imamat semua orang percaya.&amp;quot; Artinya, mereka mendorong pelaku bisnis pria dan wanita untuk melihat bisnis sebagai pelayanan mereka dan karyawan mereka, rekan kerja, pemasok dan pelanggan sebagai &amp;quot;kawanan&amp;quot; mereka. Pada risiko  terlalu menyederhanakan perbedaan istilah-istilah tersebut, penekanan Pelayanan Tempat Umum adalah pada pelayanan sesama, sedangkan fokus utama pada BAM adalah pelayanan lintas-budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin lebih dari istilah-istilah lainnya, BAM dan Pengembangan Usaha Mikro (MED) sering digunakan secara sinonim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun, hal ini beralasan, MED adalah tentang membantu bisnis makmur di bagian dunia termiskin dan yang paling tidak terjangkau. Namun, ada perbedaan signifikan yang pantas diberlakukan secara terpisah. Misalnya, MED berfokus pada membantu penduduk lokal untuk memulai usaha kecil, sementara BAM biasanya melibatkan bisnis lebih besar (kadang-kadang multinasional) yang dijalankan oleh perpaduan ekspatriat dan penduduk lokal. MED hampir selalu didanai oleh sumbangan amal dan dilakukan melalui organisasi nonprofit seperti Partners Worldwide atau Opportunity Internasional. Sebaliknya, sebagian besar pendukung BAM berharap usaha akan didanai oleh investor  swasta.8  Dari empat kategori yang berbeda, MED adalah yang paling sedikit terfokus pada mobilisasi misi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu keprihatinan yang sering dikutip (di kalangan misionaris) tentang tentmaking dan BAM adalah bahwa persyaratan kerja meninggalkan sedikit waktu untuk pelayanan. Namun, perspektif demikian kehilangan keindahan dan kekuatan teladan Paulus. Apa cara yang lebih baik untuk terlibat dalam dalam susunan masyarakat daripada bekerja bersama penduduk setempat, dan benar-benar melayani mereka melalui bisnis? Bekerja, terutama di bawah tekanan, bahkan kondisi  yang tidak ramah, memungkinkan seseorang untuk menunjukkan nilai Injil dengan cara yang lebih didengar daripada kata-kata. Tentu saja, lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, dan melakukannya dengan baik memerlukan pelatihan, pengalaman dan akuntabilitas, subyek yang sekarang kita beralih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mata-mata, Teroris atau Misionaris?===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu model yang sedikit memuji adalah pendekatan &amp;quot;misionaris dalam samaran &amp;quot;. Ini adalah pendekatan yang menggunakan sebuah bisnis hanya sebagai &amp;quot;penutup&amp;quot; bagi orang yang terus terang tidak tertarik dalam bisnis kecuali untuk kegunaannya sebagai strategi masuk ke negara-negara yang tidak terbuka bagi misionaris tradisional. Tujuannya adalah untuk melakukan jumlah pekerjaan sesedikit mungkin yang diperlukan untuk tampak sah (setidaknya di mata mereka sendiri; beberapa orang lain tertipu dengan begitu mudahnya). Sementara ada beberapa gereja yang didirikan dengan cara ini, banyak orang Kristen sekarang mengakui bahwa pendekatan &amp;quot;tujuan menghalalkan cara &amp;quot; untuk pelayanan memiliki masalah integritas yang serius dan merupakan kesaksian yang buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah bisnis yang tidak membuat kontribusi yang jelas untuk komunitas lokal akan dengan cepat meningkatkan kecurigaan. Mata-mata sering menggunakan bisnis samaran sebagai penutup. Orang asing sering dipandang sebagai mata-mata potensial atau subversif dan di negara-negara yang sudah memusuhi misionaris Kristen, ada sedikit pencegahan perusahaan demikian dengan diusir dari negara. Hal ini sangat disayangkan karena banyak negara yang sama yang cukup bersedia untuk mentolerir bisnis  sah yang dikelola orang Kristen. Kami telah menemukan bahwa bisnis Kerajaan yang paling efektif sebenarnya cukup terbuka tentang iman mereka dan bahkan memiliki reputasi untuk pekerjaan penginjilan. Apa yang membuat mereka dianiaya atau diusir? Nilai ditambahkan. Tanpa kecuali “platform”bisnis yang paling aman adalah perusahaan yang menguntungkan, menciptakan pekerjaan, dan membayar pajak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Beberapa Pertanyaan yang Belum Dijawab===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu hal yang luar biasa tentang BAM adalah bagaimana Roh Kudus mendorong orang-orang bisnis Kristen dari seluruh dunia untuk melihat usaha dan bakat mereka sebagai instrumen untuk misi global. Sedangkan di masa lalu mereka mungkin telah disarankan untuk meninggalkan bisnis dan pergi ke seminari, semakin hari mereka menentukan arah yang berbeda dan mengikuti pimpinan Roh Kudus dalam cara yang kreatif dan menakjubkan. Sementara ini adalah sesuatu yang pantas dirayakan, kita perlu menyadari beberapa masalah potensial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Akuntabilitas===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seseorang yang secara rutin berinteraksi dengan baik misi dan komunitas bisnis, saya dengan yakin dapat mengatakan bahwa beberapa hal yang paling menarik terjadi di arena BAM adalah di luar radar dari setiap badan misi atau gereja. Mungkin ada banyak alasan untuk ini, tapi saya bisa membuat beberapa generalisasi. Pertama, ketika karir orang bisnis melihat sebuah kesempatan,apakah itu pasar atau kesempatan pelayanan baru, tidak diprakondisikan untuk mendapatkan nasihat dari pendeta atau badan misi. Kedua, dan lebih buruk, banyak pelaku bisnis telah belajar untuk berhati-hati mengungkapkan terlalu banyak tentang ambisi pelayanan mereka sendiri karena kecenderungan pelayanan profesional telah mencoba menjadikan mereka untuk proyek pelayanan hewan peliharaan mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsekuensi disayangkan adalah bahwa banyak karir pelaku bisnis membuat program mereka sendiri tanpa keuntungan dari wawasan dan pengalaman gerakan misi. Sesuatu yang signifikan hilang ketika pelayanan profesional dikesampingkan (yang, ironisnya, adalah kebalikan dari  masalah sebelumnya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang datang dari latar belakang misi tradisional sering percaya bahwa solusi tersebut adalah untuk membawa orang-orang bisnis ke dalam lipatan misi lembaga. Saya tidak begitu yakin. Saya  percaya ada kebutuhan untuk jenis baru dari organisasi-organisasi misi,organisasi yang memberikan banyak layanan dari lembaga misi, tetapi juga memberikan nilai tambah layanan khusus untuk bisnis. Mereka juga akan menjadi sumber akuntabilitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Pelatihan===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebutuhan kritis lainnya adalah di bidang pelatihan. Mengembangkan sebuah bisnis yang sukses adalah sulit bahkan di dalam kondisi yang terbaik. Memulai satu bisnis di sebuah negara asing, kurang berkembang sangat jauh lebih sulit. Ditambah lagi dengan tantangan melakukan bisnis dengan cara yang menarik perhatian orang kepada Kristus, dan tidak mengherankan beberapa sarjana misi mengekspresikan keraguan tentang apakah BAM dapat hidup sesuai harapannya. Jelas, program pendidikan kita belum terjebak dengan perubahan kebutuhan. Saat ini, beberapa program bisnis Kristen menawarkan pelatihan bermanfaat di pelayanan lintas-budaya.9  Namun, ada hal-hal yang dapat dilakukan tanpa bantuan lembaga-lembaga pendidikan. Terutama penelitian menunjukkan bahwa mereka yang paling mungkin berhasil dalam konteks tentmaking atau BAM adalah mereka yang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*	memahami esensi mandat misi Allah yang telah diberikan kepada umat-Nya; &lt;br /&gt;
*	mengenali kaitan penting antara keberhasilan pelayanan dan keberhasilan bisnis mereka; &lt;br /&gt;
*	merasa nyaman dengan menyaksikan iman mereka dan memuridkan orang lain; &lt;br /&gt;
*	aktif di gereja lokal mereka;&lt;br /&gt;
*	menikmati berada di sekitar orang-orang dari budaya lain dan bersedia untuk bereksperimen dengan makanan asing&lt;br /&gt;
*	membangun hubungan sosial dengan orang asing, dan tidak menyerah setelah rasa malu atau kegagalan sebelumnya dalam lingkungan lintas budaya; dan &lt;br /&gt;
*	mau mempelajari bahasa dan keterampilan lainnya yang masih kurang mereka miliki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterampilan, pengalaman dan sikap ini tidak memerlukan pendidikan formal, dan dapat dipelihara cukup mudah olehgereja lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Masa yang Menyenangkan Di Depan&#039;&#039;&#039; Hal ini menjadi semakin jelas bahwa Injil tidak dapat dibawa ke seluruh dunia di punggung misi profesional sendirian. Juga tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi demikian. Saya percaya Tuhan menggunakan kekuatan-kekuatan globalisasi untuk membawa seluruh gereja, dan semua sumber daya, kembali ke misi. Pembagian yang ada diantara profesi suci dan duniawi yang telah lama mengesampingkan begitu banyak orang Kristen sedang diruntuhkan ketika pelaku bisnis dari semua ukuran sedang &#039;&#039;dikerahkan&#039;&#039; untuk berpikir secara global tentang rantai pemasaran dan pasokan mereka. Hal ini, pada gilirannya, menciptakan peluang yang baru bagi pelaku bisnis Kristen yang ingin memiliki peran lebih besar dalam perusahaan misionaris gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkinkah ini adalah globalisasi? Daripada yang diharapkan untuk &amp;quot;berdoa, berdoa dan tetap keluar dari jalan,&amp;quot; pelaku bisnis sedang didorong ke lapangan permainan, kebanyakan sepertinya mereka ada selama periode gereja mula-mula. Bagi mereka yang peduli untuk menyelesaikan Amanat Agung, ini adalah kabar yang menggembirakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Potensi_Mengagumkan_Bagi_Misi_Ditemukan_di_Gereja-gereja_Lokal&amp;diff=702</id>
		<title>Potensi Mengagumkan Bagi Misi Ditemukan di Gereja-gereja Lokal</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Potensi_Mengagumkan_Bagi_Misi_Ditemukan_di_Gereja-gereja_Lokal&amp;diff=702"/>
		<updated>2013-12-18T14:53:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{george miley}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah sedang melepaskan potensi Gereja-Nya ke dalam misi yang belum pernah sebelumnya. Sekarang, lebih dari yang pernah sebelumnya, Ia memanggil keindahan dan kapasitas yang mengagumkan yang Ia telah endapkan di antara umat-Nya di seluruh dunia. Tanggung jawab untuk penginjilan dunia telah terlalu lama jatuh di bahu orang-orang yang terlalu sedikit. Melihat Yesus dinyatakan, dipercaya dan disembah di antara semua bangsa di bumi adalah tindakan yang kompleks. Ini adalah proses yang memanggil keluar keragaman penuh karunia rohani dan keahlian praktis penduduk diantara umat Tuhan. Ini mengundang partisipasi dari setiap orang percaya. Sumber daya terbesar dari gereja lokal adalah orang-orangnya. Kita adalah harta Allah, ditempatkan bersama-sama di dalam komunitas yang ditebus. Dan potensi unik  yang diberikan Allah dalam setiap kita menjadi lebih efektif ketika itu dicampur bersama dan dinyatakan dalam harmoni dengan potensi unik dari saudara dan saudari kita yang diberikan Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja-gereja lokal mengandung spektrum karunia rohani dan pengalaman hidup terluas yang ditemukan di antara umat Allah. Karunia ketertiban administrasi dan memfasilitasi energi visioner. Karunia membedakan melindungi terhadap investasi kekuatan dan sumber daya yang tidak bijaksana. Kemampuan untuk menggembalakan dan menyembuhkan membebaskan orang-orang bagi pelayanan produktif. Pengusaha, ketika keterampilan mereka terfokus pada tujuan kerajaan, membuat perusahaan yang menjadi saluran untuk pelebaran kerajaan. Bahkan, seluruh jajaran keahlian kejuruan adalah sumber daya Kerajaan yang besar ketika merancang masukan strategi di antara bangsa-bangsa yang belum dijangkau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa gereja membuat kontribusi yang signifikan untuk misi, baik dengan menggabungkan keuangan mereka sebagai gereja dari keluarga denominasional atau dengan menerapkan bagian dari anggaran mereka untuk mendukung misionaris-misionaris secara individu. Mereka memiliki anggota yang setia berdoa untuk para misionaris dan mendorong mereka dalam setiap cara yang memungkinkan. Ini indah. Ini tepat bagi banyak gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi komunitas orang percaya (gereja) lain merindukan untuk berbuat lebih banyak. Fakta-fakta dunia menginspirasi mimpi yang besar. Ketika menjadi jelas bahwa penginjilan dunia akan selesai hanya ketika upaya-upaya baru lahir untuk mendirikan gereja-gereja di antara bangsa-bangsa yang belum terjangkau; ketika diketahui bahwa ada bangsa tertentu yang masih tanpa gereja, sesuatu yang menyalakan imajinasi orang-orang  lapar akan tangan-tangan yang lebih banyak dan partisipasi misi yang aktif. Mereka mendapati diri mereka sendiri bertanya-tanya jika mereka bisa melakukan hal-hal untuk membantu menghasilkan  gereja-gereja yang belum ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mereka berbalik untuk berdoa bagi Allah untuk melakukan apa yang hanya Dia yang bisa melakukannya, mereka mendapati bahwa pikiran mereka terkunci pada apa yang mereka &#039;&#039;mungkin&#039;&#039; bisa melakukannya. Mereka rindu untuk mengungkapkan siapa diri mereka dalam proses menggenapi misi Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Cukup sering&#039;&#039;&#039; semangat kerasulan ini diungkapkan dalam cara tradisional. Tapi kadang-kadang gereja-gereja secara keseluruhan mengakui bahwa Allah mempercayakan mereka sebuah bagian khusus dari tugas. Sebuah fokus muncul terhadap kelompok orang-orang tertentu: untuk melakukan apa pun untuk menghasilkan gerakan pendirian gereja di antara kelompok tertentu itu. Pola pikir strategis ini dapat menyerap jemaat, memunculkan pendirian badan hukum, pelebaran gereja yang mengemban tugas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika sesuatu membentuk dengan harapan yang diberikan Tuhan, itu menjadi soal kepemilikan bersama oleh seluruh gereja. Kepemilikan memicu investasi. Daripada mencari donor baru lagi, kita melihat gereja-gereja penuh dengan para pemilik misi. Mereka dapat melihat hasil akhir dan menikmati nilainya. Allah memanggil semua inovasi dan hikmat dari puluhan orang, dari semua bidang kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Saya telah&#039;&#039;&#039; melihat gereja-gereja lokal mengambil tugas dari Allah bagi orang-orang, tempat, kota, bahasa atau suku. Yang membedakan adalah bahwa gereja membawa lebih dari sekedar ambisi untuk pekerjaan misionari yang berbuah. Tubuh orang percaya membawa rasa percaya yang kudus dari Allah, bahwa Allah telah memberikan mereka tugas suci yang harus mereka kejar sampai selesai. Tahun lalu sebuah gereja di pinggiran utara Atlanta merasakan panggilan Allah bagi kaum M Bosnia. Mereka telah ada di dalam proses mengenal-Nya secara ekstensif  berkaitan dengan  keterlibatan misi mereka. Mereka berkomitmen untuk melakukan bagian strategis dalam penyelesaian penginjilan dunia. Mereka juga difokuskan pada multiplikasi gereja-gereja, baik di rumah dan di antara yang orang-orang yang belum terjangkau. Selain untuk memulai gereja di Atlanta, mereka bercita-cita untuk berperan aktif dalam memulai gereja-gereja di Bosnia. Untuk melakukannya hanya tampak seperti mengungkapkan siapa Allah sesungguhnya yang telah menjadikan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mencari nasihat dari pemimpin misi denominasi mereka, dari badan misi lain dan dari beberapa pemimpin gerejanasional di wilayah tersebut. Di depan gedung gereja mereka memasang penanda yang mengokohkan fakta bahwa, sebagai persekutuan orang percaya, mereka ada di Jalan ke Sarajevo &amp;quot;Ketika perang saudara pecah pada tahun 1992, mereka melihat itu sebagai pintu terbuka dari Tuhan. Mereka mulai mengirim tim dari orang-orang mereka untuk tinggal dan melayani di kamp pengungsian yang penuh dengan pengungsi yang melarikan diri dari kota target mereka.Dari tim-tim jangka pendek ini telah muncul kepemimpinan kompeten yang saleh, dan tim jangka panjang yang bertumbuh dari para pendiri gereja, bekerja dalam persekutuan dengan dan ketaatan pada gereja Bosnia yang muncul. Pemimpin-nasional menyaksikan bahwa para pekerja dari gereja ini adalah beberapa orang yang paling efektif dan dihormati di negara ini. Mengejar misi berfokus pada kelompok orang-orang merupakan proses yang kompleks. Setiap gereja berbeda. Setiap kelompok orang membutuhkan pendekatan yang unik. Tidak ada formula standar untuk bagaimana sebuah gereja harus mengejar upaya ini. Ada puluhan cara-cara yang dapat dilakukan dengan baik. Tetapi juga bisa dilakukan dengan buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Fokus Kelompok Suku yang Diraih dengan Buruk===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dengan niat baik, gereja bisa melakukannya dengan buruk. Berikut adalah beberapa faktor dimana gereja harus berhati-hati menjaga terhadap:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====1.	Sebuah Sikap Independen====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja mengandung potensi menakjubkan sebagai batu loncatan untuk meluncurkan inisiatif kerajaan. Tapi motivasi untuk menunjukkan apa yang bisa kita lakukan semua oleh diri kita sendiri, atau bahwa kita tidak membutuhkan orang lain, tidak layak Injil. Allah tidak dalam bisnis berkat sebuah semangat independen, yang dapat berakar dalam kesombongan dan ambisi mementingkan diri sendiri. Dimana Tuhan sedang bekerja dalam kekuasaan, ada kerendahan hati, suatu penghargaan dari yang lain yang lebih baik daripada diri kita sendiri dan kesatuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====2.	Sebuah Kegagalan untuk menghitung biaya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komitmen untuk memajukan kerajaan diantara orang-orang  yang belum terjangkau akan diperebutkan oleh setan di setiap langkah jalannya. Ini bukan kegiatan biasa, bukan sesuatu yang dimasuki dengan ringan atau tidak pantas. Apakah kita siap untuk membayar harga yang mungkin dibebankan atas impian kita? Jika gereja akan berkomitmen untuk mendirikan gereja di antara orang-orang yang belum terjangkau, terutama jika itu akan mengirimkan beberapa orang sendiri untuk melakukan hal ini (dan dengan demikian menempatkan mereka tempat yang rentan secara rohani, emosional dan fisik), kepemimpinan permanen gereja harus berkomitmen sama untuk orang-orang yang berinisiatif seperti mereka yang diutus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====3.	Sebuah Mentalitas Jangka Pendek====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjalanan misi jangka pendek, dilakukan dengan baik, dapat membawa hasil yang indah. Mereka dapat memberi orang-orang pemahaman yang jauh lebih dalam tentang tugas yang tersisa di antara orang-orang yang belum terjangkau. Mereka dapat menyalakan visi, doa mempercepat dan mengkatalisasi komitmen untuk keterlibatan yang lebih permanen. Tetapi setiap kegiatan jangka pendek menemukan nilainya yang terbesar ketika itu ada, bukan untuk keuntungannya sendiri, tetapi sebagai bagian integral dari proses jangka panjang. Hal ini memungkinkan buah dari misi jangka pendek untuk dievaluasi, dan yang baik untuk dipertahankan dan disalurkan. Upaya misi gereja lokal pasti gagal ketika mereka berpikir bahwa sekelompok orang bisa dijangkau dalam waktu satu atau dua tahun.&#039;&#039;&#039;Kurangnya Pelatihan.&#039;&#039;&#039; Sebuah gereja lokal dapat menjadi lingkungan yang indah untuk mentoring informal di penginjilan, pemuridan, melayani dan pembentukan karakter  yang sangat penting dalam pendirian gereja. Yesus melatih murid-Nya dalam konteks kehidupan nyata, di mana prinsip-prinsip berjalan dengan Tuhan bisa diamati dan ditularkan melalui kontak kehidupan intim antara guru dan murid. Namun, tidak ada gereja lokal yang memiliki semua sumber daya dan pengalaman yang diperlukan untuk lahan misi. Tubuh Kristus adalah lebih besar daripada salah satu dari kita. Gereja harus mencari perpaduan terbaik pelatihan misi formal, informal dan non-formal bagi para pekerja mereka, dan tujuan ini pada akhirnya akan memimpin mereka ke dalam hubungan dengan anggota komunitas Amanat Agung yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====4.	Kurangnya Perawatan yang Tepat.==== &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja-gereja lokal yang sehat sangat diberkati dengan potensi untuk merawat orang-orang mereka. Melalui persekutuan ada orang-orang yang termotivasi untuk menggembalakan, melindungi, merawat dan menyembuhkan. Namun kebutuhan ini harus dikenali sejak awal memulai, dan rencana diletakkan untuk berapa lama perawatan jangka panjang akan disediakan. Kita tidak bisa bersikap santai atau naif di daerah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Fokus Kelompok Suku yang Dilakukan dengan Baik===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah melihat gereja-gereja melakukan ini dengan baik. Berikut adalah beberapa sifat menonjol yang ditemukan di gereja-gereja demikian:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====1.	Belajar Berdoa.====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja-gereja yang telah berhasil dalam misi telah belajar untuk menantikan Tuhan. Mereka telah belajar untuk berdiam diri sampai mereka mendengar apa yang Allah katakan dan telah menguji bimbingan-Nya. Gereja-gereja ini memperpanjang jadwal waktu doa syafaat, berdoa tidak hanya untuk missionaris yang mereka dukung, tapi dengan maksud untuk kelompok orang yang akan mereka jangkau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====2.	Melakukan Untuk Hasil tangkapan yang Lama.====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja yang baik dalam misi sering merencanakan pelayanan untuk beberapa dekade. Ada komitmen untuk tetap dengan proyek misi sampai gerakan gereja berkembang telah didirikan atau Yesus datang kembali – yang mana yang datang lebih dahulu. Perencanaan jangka panjang ini memungkinkan waktu untuk melakukan hal-hal dengan baik. Ini menyediakan waktu untuk menanam impian untuk masa depan dalam pikiran anak-anak dan arah baru untuk masa pensiun di hati pasangan setengah baya. Ini memberikan waktu untuk membentuk kemitraan yang stabil dengan gereja-gereja dan lembaga misi lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====3.	Mengambil Kepemilikan.====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika semua orang dalam gereja mengambil kepemilikan sebuah proyek misi, ada investasi berkepanjangan pada bagian baik pemimpin gereja maupun anggota. Upaya misi jangka pendek tidak lagi berdiri sendiri. Ketika anggota melakukan perjalanan doa mengunjungi kelompok orang mereka, atau menghabiskan waktu menyemangati para misionaris mereka, mereka tahu bahwa mereka berinvestasi dalam masa depan baik gereja mereka sendiri maupun pekerjaan misi mereka. Visi mereka adalah diisi bahan bakar dan seluruh jemaat diperbarui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====4.	Memanfaatkan Struktur.====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja-gereja yang mendorong pada arah pendirian gereja yang berbuah melakukan salah satu dari dua hal berkenaan denfan struktur. Mereka membentuk struktur organisasi misi baru, yang berakar dan melompat keluar dari kehidupan bersama tubuh orang percaya. Struktur seperti ini terikat ke gereja secara relasional, dan berfungsi sebagai jalan mudah bagi ekspresi sempurna dari karunia rohani dan keahlian kejuruan para anggota. Atau, gereja mengembangkan kemitraan penting dengan lembaga misi yang berpengalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kedua kasus, beberapa kesatuan organisasi berfungsi sebagai saluran untuk peluncuran visi, energi dan kapasitas kelompok. Misi untuk orang-orang  yang belum terjangkau membutuhkan struktur apostolik. Gereja-gereja lokal terutama struktur pastoral. Gereja lokal ini dirancang untuk membina anggotanya. Fokusnya adalah pada perlindungan, kontinuitas, dan menghindari risiko membawa anggotanya menuju kedewasaan rohani.  Struktur jenis ini disebut &amp;quot;modalitas.&amp;quot; Struktur apostolik dirancang untuk melaksanakan misi memperluas Kerajaan. Ini berfokus pada inisiasi, berencana mengambil risiko dan bertekun melawan rintangan yang besar. Struktur jenis ini sering disebut &amp;quot;sodalitas/perkumpulan.&amp;quot; Modalitas dapat menempa kemitraan yang penting dengan sodalitas- sodalitas. Mereka juga bisa melahirkan sodalitas-sodalitas baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah gereja di Indiana mempersiapkan tim untuk pendirian gereja di antara kelompok masyarakat M di Asia Tengah. Dalam rangka melaksanakan misi mereka, mereka membentuk struktur apostolik terpisah. Mereka menciptakan 501 (c) (3) perusahaan. Pendeta senior dan pemimpin gereja lainnya ada dalam yayasan, yang diketuai oleh pebisnis yang merupakan anggota jemaat. Mereka juga mengundang orang-orang misi berpengalaman lainnya untuk melayani di yayasan yang bukan anggota gereja mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Organisasi ini telah melayani mereka dengan baik. Telah memberikan dasar untuk melibatkan kelompok orang sebagai tenaga medis dan pendidik. Ini telah memungkinkan gereja untuk mengakses sumber daya di luar persekutuan mereka sendiri, dan telah memberikan mereka akses menasihati/berunding yang melampaui diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin banyak gereja-gereja lokal dan badan misi yang didirikan menempa kemitraan yang efektif. Badan misi sedang mendekati gereja-gereja di mana visi dapat hidup dan bertanya bagaimana mereka dapat melayani tujuan gereja. Gereja mengidentifikasi daerah di mana mereka membutuhkan bantuan dan mendaftar pengalaman lembaga. Kemitraan yang tertulis sedang diukir dalam konteks komunikasi dan perencanaan yang seksama, mengidentifikasi bidang tanggung jawab yang akan diemban gereja dan daerah-daerah dimana itu akan bergantung pada lembaga tersebut. Ketika dilakukan dengan baik, semua orang menang melalui kerendahan hati yang indah semacam ini dan ketundukan satu sama lain dalam kasih, terutama demi orang-orang yang belum terjangkau. Dan Kristus dihormati di saat umat-Nya melayani, merendahkan diri satu sama lain dalam kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat melihat usaha misi berfokus pada kelompok orang dari gereja lokal berkembang di seluruh dunia. Gereja India mengirim sendiri orang-orangnya ke bagian lain India. Gereja-gereja Amerika Tengah meluncurkan tim ke Afrika Utara. Gereja-gereja di Minneapolis mengirim utusan mereka sendiri ke Asia Tengah. Ini adalah jam yang mendebarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami memiliki begitu banyak untuk belajar dari satu sama lain. Gereja bisa belajar banyak dari gereja-gereja lain dan dari lembaga misi yang sudah bekerja lintas-budaya di beberapa kasus selama beberapa generasi. Dan, ya, lembaga yang sama ini dapat  sangat diperkaya dengan bekerja bersama-sama dengan gereja-gereja. Lembaga misi yang menghargai gereja lokal akan melihat usaha mereka sendiri diperkuat dan pengaruh mereka meluas untuk kemuliaan Tuhan kita dan kemajuan kerajaan-Nya di seluruh bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Semua_atau_Tidak_Sama_Sekali%3F&amp;diff=701</id>
		<title>Semua atau Tidak Sama Sekali?</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Semua_atau_Tidak_Sama_Sekali%3F&amp;diff=701"/>
		<updated>2013-12-18T14:53:50Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{greg livingstone}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum lama ini, meninggalkan rumah untuk hidup sebagai seorang misionaris&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
di Baghdad, Brunei, atau Bengazi adalah sebuah keputusan &amp;quot;seluruh hidup Anda.&amp;quot; Tidak ada jalan untuk kembali. Tidak ada perubahan pikiran. Itu adalah semua atau tidak. Sekali Anda membuat komitmen, Anda tidak bisa kembali keluar!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian pada tahun 1963, yang tidak terpikirkan terjadi. Pesawat membuat misi jangka pendek menjadi mungkin. Seseorang bisa membantu perkara selama dua tahun, atau satu atau bahkan satu musim panas. (Beberapa orang pergi selama seminggu, tapi saya tidak bisa menyebut itu misi. Maaf.) Orang-orang yang hatinya terbuka yang sangat peduli dengan orang-orang yang terhilang sering mengaku, &amp;quot;Saya tidak punya beban bagi umat M.&amp;quot; Tentu saja Anda tidak. Siapa yang Anda memiliki berbeban untuk orang-orang yang belum pernah Anda temui? Kita cenderung tergerak di antara orang-orang kita pernah makan bersama, bertukar cerita dan tertawa dengannya. Sulit untuk menangkap hati Tuhan bagi orang yang belum pernah Anda lihat, jika Anda tidak tahu apa-apa kecuali kota asal Anda sendiri atau bangsa Anda sendiri. Bagaimana Anda bisa tahu apakah Anda seharusnya melayani orang di Pakistan jika Anda belum pernah ke sana?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan yang bagus, saya pikir. Mengapa tidak menghabiskan waktu antara orang-orang Pathan, Baluch, atau Gilgitis meminta Tuhan untuk memungkinkan Anda untuk melihat orang-orang sana sebagaimana Dia melihat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membenamkan diri di tengah-tengah kelompok masyarakat tidak bergereja untuk bahkan satu bulan dapat membawa Anda masuk ke sebuah petualangan &amp;quot;semakin dalam pada &amp;quot;apa yang Tuhan lakukan di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah saya Tipenya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sementara Anda sedang menguji diri terhadap ketidaknyamanan, atau bertanya-tanya bagaimana orang bisa meringankan kemiskinan yang begitu tinggi waspadalah bertanya pada diri sendiri pertanyaan yang salah: &amp;quot;Apakah saya bertipe misionaris? Apakah saya memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi pelopor pendirian gereja di kalangan Hindu, M atau Buddha? &amp;quot;Kebanyakan orang menyimpulkan, &amp;quot;Mungkin tidak, saya  bahkan tidak berbicara tentang Yesus dengan orang-orang non-Kristen di rumah. Saya pastilah bukan tipe misionaris. &amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jika Anda terus menginterogasi diri Anda sendiri tentang apa karunia Anda yang kurang, atau bagaimana lemah visi atau beban Anda, Anda bisa-bisa akan jatuh ke dalam dikotomi semua-atau-tidak sama sekali. Jika Anda berpikir bahwa Anda harus bersedia untuk hidup dalam kemiskinan seperti Ibu Teresa, atau melakukan eksploitasi seperti &amp;quot;evangelis Indiana Jones, &amp;quot;Anda mungkin akan mendiskualifikasi diri sendiri. Jadi, jangan bertanya pada diri Anda sendiri apakah Anda adalah seorang pelopor pendirian gereja. Tetapi tanyakanlah, &amp;quot;Mungkinkah saya memberikan kontribusi kepada tim pendirian gereja? &amp;quot;Bukan,&amp;quot; Apa yang kurang dari saya? &amp;quot;tetapi,&amp;quot; Apa yang bisa saya tambahkan ke dalam upaya sebuah tim? &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Kekuatan-Nya dan Kelemahan Anda&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa Allah mengatakan kepada Paulus misionaris yang besar dari Tarsus, &amp;quot;Kasih karunia-Ku  cukup untukmu. Kuasa-Ku sempurna di dalam kelemahanmu &amp;quot;? Karena Tuhan selalu menggunakan orang-orang lemah yang memiliki cita-cita untuk digunakan oleh Allah yang tidak pernah kekurangan! Sejarah misi adalah tentang orang-orang lemah hampir tidak memilikikemampuan yang percaya kepada Dia yang mengutus mereka, Dia yang mampu mencapai tujuan-Nya bahkan melalui orang-orang seperti mereka!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya ada dua jenis orang di dunia: orang lemah yang menyediakan diri bagi Allah dan orang lemah yang tidak bersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Keamanan atau Signifikan?&#039;&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit prestasi besar telah dilakukan oleh seseorang sendirian. Hal-hal besar terjadi ketika orang-orang biasa menggabungkan apa yang mereka miliki dengan orang lain. Bentangkanlah ambisi Anda untuk menyelesaikan sebuah proyek berukuran Allah. Berdoalah dengan beberapa teman Anda bagi masyarakat atau kota yang terabaikan dimana belum ada yang terjadi untuk menghormati dan menyembah Tuhan kita Yesus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serahkanlah ambisi kecil Anda. Carilah hikmat dari visioner yang lain. Mintalah Allah untuk menunjukkan bagaimana Anda dapat menjadi bagian dari memberlakukan sebuah bab baru dalam sejarah di antara orang-orang yang masih belum tahu apa-apa tentang Yesus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Terobosan_Orang-orang_Zaraban&amp;diff=700</id>
		<title>Terobosan Orang-orang Zaraban</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Terobosan_Orang-orang_Zaraban&amp;diff=700"/>
		<updated>2013-12-18T14:53:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
&amp;lt;big&amp;gt;&#039;&#039;ken harkin dan Ted Moore&#039;&#039;&amp;lt;/big&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
::Ken Harkin dan Ted Moore bekerja bersama sebagai bagian dari tim badan multi perwakilan yang didedikasikan untuk melihat pengikut-pengikut bagi Kristus ada diantara orang-orang Zaraban. Ted meninggal ketika melayani orang-orang Zaraban. Ken dan lainnya terus melanjutkan pekerjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Catatan berikut mengenai sebuah terobosan di negara M diceritakan dalam kata-kata seorang rekan misionaris, Ted Moore. Saya (Ken) menjabat sebagai anggota pekerja tim misi Ted yang telah berdoa dan bekerja di wilayah Zaraban sejak tahun 1991. Peristiwa-peristiwa yang diceritakan di sini terjadi pada tahun 1999. Nama orang-orang dan kelompok etnis telah diubah. Salah satu orang percaya pertama di Zaraban, seorang pria bernama Abdul mulai mengikuti Kristus di tahun 1980-an. Perlu diperhatikan bahwa sebagian besar kelompok orang Zaraban tinggal di daerah terpencil yang telah sangat mendukung pernyataan fundamentalis M. Pemuda dari daerah ini telah direkrut dan dilatih untuk bertempur dalam jihad, atau perang suci M, di negara-negara terdekat. Salah satu tokoh kunci dalam cerita ini adalah Rashad, salah satu saudara Abdul. Pada waktu cerita ini, Rashad baru kembali dari pelatihan sebagai seorang pejuang jihad di negeri tetangga.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Tidak lama setelah peristiwa ini, Ted tertular penyakit yang sulit untuk diobati di wilayah di mana dia bekerja. Ted meninggal dalam beberapa hari. Dia berusia empat puluhan. Berikut ini adalah versi  yang diedit dari salah satu laporan berkala terakhir untuk teman dan keluarga yang mendukungnya. Laporan ini tidak hanya mewakili pengamatan Ted dan saya sendiri, tetapi juga beberapa rincian seperti yang diceritakan kepada kita oleh keluarga pada hari-hari dan minggu-minggu berikutnya.&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pertama kali Abdul datang untuk tinggal di rumah kami, ayahnya meminta saya untuk mengambil peran membimbing dalam hidup anaknya. Saya setuju dan mengatakan kepadanya bahwa itu termasuk akan mengajar Abdul tentang iman dalam Yesus Sang Mesias, yang disetujui oleh ayahnya. Sejak saat itu, lima tahun yang lalu, visi dan doa kami adalah bahwa seluruh keluarga akan bergabung dengan Abdul menjadi pengikut Juruselamat. Demikian juga, Ken, rekan kerja saya yang terus memuridkan Abdul di tahun pertama itu, ketika Sarah dan saya ke luar negeri, memiliki keinginan dan visi yang sama untuk keluarga. Pernah dalam sebuah pesta pernikahan, anggota keluarga mengatakan kepada Ken bahwa mereka sangat berharap bahwa melalui &amp;quot;ghusl&amp;quot; (baptisan) di dalam nama Yesus mereka akan dibebaskan dari rasa takut terhadap &amp;quot;jin&amp;quot; (setan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama bertahun-tahun kami berteman dengan keluarga Abdul, Ken dan saya telah beberapa kali melakukan perjalanan dari kota dimana kami tinggal ke rumah keluarganya di daerah pedesaan yang terpencil. Sangatlah penting untuk bersama keluarganya selama liburan Idul Fitri ketika seekor hewan dipersembahkan untuk memperingati kerelaan Abraham mempersembahkan  anaknya. Berikut ini  adalah kisah kunjungan kami yang terbaru. Kami harus mengatasi penjadwalan berbeda yang sulit namun akhirnya dapat tiba pada hari Minggu pagi - sebelum liburan besar. Kami tiba tepat pada waktunya untuk melihat dan berpartisipasi dalam apa yang Allah telah lakukan di saat kami tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Surat dan Mimpi Rasyad===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami siap untuk perjalanan ini, kami telah merenungkan surat dari saudara Abdul, Rashad, yang telah saya terima dua minggu sebelumnya. Rasyad selalu ingin menjadi seorang pemimpin agama M. Suratnya penuh dengan pernyataan positif tentang bagaimana kita berdoa, seberapa sering kita berdoa dan Tuhan menjawab doa-doa kita. Dia menyebutkan perubahan dalam kehidupan dan karakter Abdul. Pada saat itu ia membaca &amp;quot;Biografi Yesus.&amp;quot; Kami yang ramah-M. Dia mengajukan beberapa pertanyaan khusus tentang kata-kata dari bagian tertentu dari Kitab Suci dan mengakhiri suratnya dengan kalimat berikut: &amp;quot;Saya ingin menjadi salah satu dari Anda. Tolong bimbing saya. &amp;quot; Kami tidak yakin apa yang sebenarnya dia maksudkan, mengingat beberapa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
perdebatan sengit kami dengan dia dalam pertemuan terakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pergi, Ken dan Abdul bersama-sama doa. Di tengah-tengah doa, keduanya merasa sangat tergerak untuk berdoa bagi Allah untuk pergi dengan cara yang khusus di perjalanan. Ken secara khusus merasa dipimpin untuk berdoa bagi suatu keajaiban yang akan membawa seluruh keluarga terdiri dari 16 orang beriman di dalam Yesus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mobil kecil kami melakukan tindakan heroik sekali lagi, mengantarkan kami di sana Sabtu larut malam. Perjalanan pribadi tanpa kendaraan roda empat yang kokoh biasanya tidak direkomendasikan di pedalaman daerah ini. Kami mengejutkan setiap orang dalam keluarga Abdul ketika kami tiba sekitar 6:45 pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sarapan, Rashad bersemangat untuk duduk-duduk dan mengobrol dengan kami tentang surat yang telah dia kirim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mulai dengan mengatakan kepada kita tentang mimpi yang baru saja dialami pada&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
malam sebelumnya, ketika kami masih dalam perjalanan. Dalam mimpi ia melihat seorang pria berpakaian putih dengan lengan yang terlentang. Pria itu mengatakan kepadanya bahwa ia memiliki bakat khusus untuknya dan mengirimkan utusan yang akan membimbingnya pada bakat itu. Dan sekarang di sinilaj kami di depannya! Rashad bercerita banyak hal kepada kami, termasuk kenyataan bahwa ia sekarang percaya jihad adalah salah, dan bahwa jalan cinta kasih adalah jalan kebenaran dan kekuasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Putusan: &amp;quot;Kita semua akan mengikuti jalan Yesus!&amp;quot;===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia berbicara tentang hal-hal yang Yesus katakan di dalam Kitab Suci mengenai ibadah palsu yang membuatnya terkesan - bagaimana ibadah kami tidak ada gunanya jika di tengah-tengah ibadah itu kita ingat ada saudara bersalah dan tidak meninggalkan ibadah kita untuk berdamai. Dia menegaskan bahwa ia ingin menjadi salah satu dari kami, mengikuti jalan Kristus dan meminta kami membimbingnya. Ken bertanya, &amp;quot;Apa yang Anda kira merupakan langkah berikutnya untuk mengikuti Yesus? &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasyad menjawab bahwa seluruh keluarga harus mendengar bahwa dia siap untuk mengikuti Yesus sehingga mereka dapat mengikuti-Nya juga. Ken dan saya saling memandang dengan tatapan tak percaya dan cukup pulih untuk mengatakan, &amp;quot;Eh, benar. Itu ide yang baik. Anda melakukan itu dan kami akan duduk di ruangan lain dan berdoa. &amp;quot;Keluarga - wanita, anak-anak, semua orang – dengan cepat berkumpul dan kami berdoa di ruangan lain. Segera, Rashad kembali dengan putusan: &amp;quot;Ya, kami semua akan mengikuti jalan Yesus Sang Mesias! &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Lebih Terkenal daripada Pepsi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, Rashad mengantar saya ke kota sehingga saya bisa menggunakan telepon untuk menelepon istri saya, Sarah. Dia bercerita tentang bagaimana ia telah mengumpulkan beberapa temannya dalam beberapa minggu terakhir menjelaskan kepada mereka tentang cara Mesias- terutama tentang doa yang nyata yang bukan hanya untuk pertunjukan. Banyak orang yang sangat tertarik. Lebih banyak orang yang terkejut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kami tiba di fasilitas telepon jarak jauh di desa, Rasyad menunjukkan tanda Pepsi di jalanan. Lalu ia berkata, &amp;quot;Anda tahu nama ini, Pepsi, lebih terkenal di seluruh dunia daripada nama Yesus. Kami harus mengatasi kelemahan kita dan bersaing dengan mereka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sehingga nama-Nya menjadi lebih terkenal daripada Pepsi. &amp;quot; Selama waktu itu keluarga yang memiliki perusahaan membawakan kita beberapa RC cola minuman dingin. Rashad mengatakan, &amp;quot;RC oke, tapi tidak ada Pepsi lagi untuk saya!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Momen Kritis===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara kami ada di desa, Ken telah memakai peluang untuk memberikan gambaran singkat dari Injil Markus kepada sisa keluarga (beberapa belum pernah mendengar banyak kisah kehidupan Yesus sebelumnya). Dia menjelaskan bahwa &amp;quot;ghusl&amp;quot; (baptisan) adalah salah satu langkah awal ketaatan untuk masuk ke dalam jalan Yesus Sang Mesias. Dia bertanya pada masing-masing individual apakah mereka mengerti dan bersedia untuk mengikuti jalan ini. Ayah, ibu, saudara perempuan dan saudara laki-laki - mereka semua berkata, &amp;quot;Ya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami tiba kembali sewaktu Ken selesai memberikan tur cepatnya tentang Injil Markus. Ken dan saya masih terus tertegun. Kami mulai merasakan beratnya apa yang akan terjadi selanjutnya. Seluruh kelompok orang secara signifikan meresap dengan Injil untuk pertama kalinya dalam sejarahnya yang panjang. Apa yang kita lakukan di saat-saat kritis kemungkinan akan terulang selama bertahun-tahun diantara orang-orang Zaraban tersebut. Apa yang kami dorong untuk mereka lakukan adalah menghiasi pesan Injil ataupun membuat blok sandungan bagi banyak orang lain yang akan berusaha untuk mengikuti Kristus di masa depan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami berdoa lagi. Ketaatan mereka harus sederhana dan langsung. Seharusnya relevan secara budaya dan bahasa. Seharusnya direproduksi secara lokal. Seharusnya untuk pribadi tetapi komunal-dalam rumah, tetapi tidak sebagai individu yang bertindak sendiri. Seharusnya merupakan tindakan penyembahan dan pujian penuh dengan ketergantungan pada kuasa Roh Kudus. Jadi kami mulai memetakan strategi kami untuk hari upacara baptisan selanjutnya bagi seluruh keluarga yang akan diadakan sebelum perayaan Idul Fitri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul tidak mengalami semua yang baru saja terjadi dalam keluarganya, karena ia telah pergi keluar kota untuk sebuah tugas. Ken dan saya sepakat untuk tidak mengatakan apa-apa sampai kakaknya punya kesempatan untuk memberitahu dia kabar baiknya. Ketika Rasyad memberitahu Abdul bagaimana semua keluarga telah memutuskan untuk mengikuti Yesus, Abdul tertegun. Setelah kakaknya pergi meninggalkan ruangan, Abdul memeluk kami dan memuji Tuhan dengan banyak air mata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi masih ada beberapa masalah. Seorang saudara lain dan istrinya tidak pernah hadir dalam selama ini. Ken dan saya mulai khawatir bahwa ia mungkin akan mencegah semua yang kami harapkan. Jadi kami mendesak Abdul untuk pergi berbicara dengan saudara ipar tentang semua ini karena kakak masih bekerja. Abdul membulatkan tekadnya dan pergi ke dapur (ruang berdinding lumpur dengan lubang api di tengah) untuk berbicara dengannya. Dia mulai dengan pembicaraan kecil, bermain dengan bayi dan gugup berputar kepada subjek. Dia menjawab santai, &amp;quot;Oh ya, ibumu dan saudara telah menjelaskan semuanya padaku. Aku bagian dari keluarga Anda dan siap untuk melakukan hal ini. &amp;quot;Ketika Abdul kembali, ia raut wajah keheranannya meyakinkan kami bahwa semua telah berjalan dengan baik, bahkan sebelum dia mengatakan kepada kami apa yang telah terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu orang terakhir yang harus diberitahu- saudara yang hilang. Sebelum kami bisa bertemu dengannya, pertama kami harus mengunjungi paman Abdul. Ini membutuhkan waktu beberapa jam. Ketika kami tiba di toko saudara laki-laki, Rashad sudah ada! Saya kira kami harus menebak. Dia sudah menjelaskan semuanya kepadanya, dan dia setuju tapi ingin bertanya satu pertanyaan di pagi hari setelah giliran malam dan sebelum upacara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mati terhadap Yang Lama, Hidup Dengan Yang Baru===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan paginya kami bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan penampungan air untuk baptisan. Saudara lain Abdul mengajukan pertanyaannya: &amp;quot;Apakah ini berarti kita menjadi orang-orang Kristen? &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul tahu apa maksudnya. Dia menjawab, &amp;quot;Tidak, kami tidak akan menjadi tukang minum alkohol, pemakan daging babi atau mencoba untuk bergabung dengan yang kelompok etnis berbeda. Kami akan mengikuti ajaran-ajaran dan kehidupan Yesus Sang Mesias. &amp;quot;Oh, bagus,&amp;quot; jawabnya. Jadi kami semua berkumpul untuk pembaptisan. Ken dan saya berbicara dalam bahasa nasional, dan Abdul menerjemahkan semuanya ke dalam dialek lokalnya. Saya memberitahu mereka tentang pengorbanan Mesias dan bagaimana Dia menawarkan pengampunan kepada kami. Ken mengatakan kepada mereka tentang kebangkitan dan kehidupan baru, kehidupan yang kekal. Kemudian Ken mengajukan tiga pertanyaan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#	Apakah Anda siap untuk mengikuti jalan Yesus Sang Mesias?&lt;br /&gt;
#	Apakah Anda bersedia untuk mematuhi perintah-Nya dengan iman untuk menerima &amp;quot;ghusl&amp;quot; (baptisan) dan bertobat?&lt;br /&gt;
#	Apakah Anda mengajak orang lain untuk mengikuti jalan ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abdul dan ayah Rashad, seorang pria pendiam yang biasa, memimpin dengan jawaban: &amp;quot;Ya, Puji Tuhan! Kami akan mengikuti jalan baru ini! Kami akan menerima &#039;ghusl. &amp;quot;Kami akan mengajak orang lain untuk bergabung dengan kami &amp;quot;bergabung! Semua orang lain mengikuti dengan sepenuh hati. Saya menjelaskan bagaimana baptisan melambangkan pencurahan Roh Kudus dalam hidup kita dan bahwa itu adalah langkah ketaatan, suatu tindakan penyembahan. Kami telah memutuskan bahwa Ken dan saya akan membaptis-ulang Abdul sehingga seluruh keluarga bisa melihat. Kemudian kami bertiga bersama-sama membaptis semua sisanya, menggunakan istilah Arab yang tepat sebagaimana layaknya di sebagian budaya M dalam urusan agama, bahkan jika mereka tidak berbicara bahasa Arab. Ken kemudian menyuruh mereka untuk mengganti pakaian mereka, dan saat mereka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
melakukannya, membayangkan diri mereka melepaskan kehidupan lamanya dan mengenakan yang baru. Penggambaran ini diulang lagi dan lagi oleh beberapa anggota keluarga selama dua hari berikutnya. Beberapa pertanyaan muncul lebih banyak. Ayah Abdul bertanya, &amp;quot;Haruskah kita pergi ke doa Idul Fitri seperti selalu kita lakukan atau haruskah  kita berhenti pergi? &amp;quot; Abdul menjawab bahwa sekarang doa-doa ini bisa dilakukan berdasarkan alasan yang benar, bukan untuk pamer pada orang lain, bukan sebagai sarana pengampunan dari dosa atau tugas, tapi karena kasih dan pujian bagi Allah yang menyelamatkan dan sebagai kesempatan untuk berdoa bagi komunitas kami. Kami semua pergi berdoa bersama. Kemudian tiba waktunya untuk ritual kurban anak domba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, Ken dan saya, dengan Abdul menerjemahkan, menjelaskan bagaimana kita tidak bisa merencanakan acara yang lebih sempurna untuk memasuki jalan Yesus Sang Mesias daripada hari kurban ini. Sungguh itu adalah saat yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Berlanjut di dalam Hidup yang Baru===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian di hari itu, keluarga mengadakan pertemuan lain di mana mereka memutuskan mana di antara mereka yang harus menerima lebih banyak pelatihan untuk mengajarkan mereka tentang kehidupan baru mereka. Sejak Abdul tinggal dan bekerja jauh, mereka memilih Rasyad untuk melayani mereka semua dengan cara ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia senang, karena dia selalu ingin menjadi pemimpin rohani. Kami menumpangkan tangan di atasnya dan memohonkan berkat Allah padanya untuk pekerjaan ini. Mereka juga memutuskan bahwa Rasyad dan saudarinya harus datang dan tinggal di rumah kami selama seminggu pada suatu waktu setiap beberapa bulan, sehingga saudarinya akan diperlengkapi untuk mengajar para wanita juga. Itu ide yang sangat baik – sekali lagi kami tertegun. Banyak hal lain yang terjadi dalam urusan hari itu. Beberapa mulai berbagi tentang rasa damai yang mereka miliki, yang lain berbicara menggambarkan kehidupan baru mereka. Salah satu saudara menari dan bernyanyi, &amp;quot;saya memiliki hidup baru ... saya memiliki hidup baru!&amp;quot; Kami tidak yakin berapa ratus doa-doa yang dijawab dalam waktu dua hari. Kami tidak pernah melihat perubahan hati sedramatis itu di begitu banyak umat M yang datang kepada Kristus bersama-sama pada satu waktu. Jadi kami tetap terkagum-kagum sampai hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:&#039;&#039;Peristiwa-peristiwa di dalam kisah ini menyentuh banyak masalah kepemimpinan dan kontekstualisasi yang kompleks dalam waktu yang sangat singkat. Dua hal yang perlu diperjelas. Pertama, peristiwa-peristiwa dalam kisah ini adalah puncak dari 10 tahun lebih kerja keras dan tekun dari anggota-anggota beberapa organisasi. Kedua, peristiwa-peristiwa ini telah dilanjutkan dengan bertahun-tahun kerja yang sungguh-sungguh untuk: mengembangkan pemimpin, menggali kitab suci secara mendalam, mengatasi masalah pemuridan dan kontekstualisasi yang sulit, semuanya di tengah-tengah menghadapi berbagai krisis. Telah ada terobosan yang luar biasa sekaligus kemunduran yang menyakitkan. Namun peristiwa-peristiwa dalam kisah yang dramatis ini seharusnya memberi kita alasan yang kuat untuk semangat. Ted mengakhiri suratnya dengan bersukacita di dalam kenyataan bahwa &amp;quot;Dia yang Bangkit&amp;quot; hadir di antara kita dan &amp;quot;yang dapat melakukan lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan &amp;quot;(Ef 3:20)!&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://perspektif.co/index.php?title=Gerakan_Orang_Dalam:_Mempertahankan_Identitas_dan_Kelanggengan_Komunitas&amp;diff=699</id>
		<title>Gerakan Orang Dalam: Mempertahankan Identitas dan Kelanggengan Komunitas</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://perspektif.co/index.php?title=Gerakan_Orang_Dalam:_Mempertahankan_Identitas_dan_Kelanggengan_Komunitas&amp;diff=699"/>
		<updated>2013-12-18T14:53:43Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;Perspektif: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{header}}&lt;br /&gt;
{{rebecca lewis}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerakan orang dalam dapat diartikan sebagai gerakan kepada iman yang taat di dalam Kristus yang tetap terintegrasi dengan atau di dalam komunitas alami mereka. Dalam setiap gerakan orang dalam ada dua dinamika yang sangat penting:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
# Komunitas yang berkelanjutan. Injil mengambil akar dalam komunitas atau jaringan sosial yang sudah ada sebelumnya sedemikian rupa sehingga tidak ada struktur sosial baru yang diperlukan, diciptakan atau diperkenalkan. Orang-orang percaya tidak dikumpulkan dari jaringan sosial yang beragam untuk menciptakan sebuah &amp;quot;gereja.&amp;quot; Sebaliknya, orang-orang percaya di komunitas yang sudah ada sebelumnya menjadi pernyataan utama dari &amp;quot;Gereja&amp;quot; dalam konteks itu.&lt;br /&gt;
# Identitas yang tetap dipertahankan. Orang-orang percaya mempertahankan identitas mereka sebagai anggota komunitas sosial-keagamaan mereka sementara hidup di bawah ketuhanan Yesus Kristus dan otoritas Alkitab.1&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah lebih dekat pada dua dinamika:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Dinamika Satu: Komunitas yang Sudah Ada Menjadi &amp;quot;Gereja&amp;quot;===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Injil bisa berakar di dalam komunitas yang sudah ada sedemikian rupa sehingga komunitas atau jaringan menjadi pernyataan utama dari &amp;quot;gereja&amp;quot; dalam konteks itu? Untuk memahami mengapa faktor ini adalah penting dalam gerakan orang-orang dalam, marilah kita mengontraskan mendirikan sebuah gereja dengan menanamkan sebuah gereja.2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mendirikan Gereja===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya, ketika orang &amp;quot;mendirikan gereja&amp;quot; mereka bekerja untuk membuat kelompok sosial baru. Orang percaya, seringkali menjadi orang asing satu sama lain, yang berkumpul bersama ke dalam sebuah persekutuan kelompok baru. Perintis jemaat mencoba untuk membantu orang-orang percaya ini menjadi seperti sebuah keluarga atau komunitas. Pola tanam &amp;quot;gereja berjumlah&amp;quot; bisa berjalan cukup baik dalam masyarakat Barat individualistik. Namun, dalam masyarakat berbasis komunitas, ketika orang percaya diambil keluar dari keluarga mereka masuk ke dalam struktur sosial baru, keluarga korban biasanya merasakan kelompok baru sebagai telah &amp;quot;mencuri&amp;quot; anggota keluarga mereka. Penyebaran Injil ini kemudian dianggap menentang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===&amp;quot;Penanaman&amp;quot; Injil===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan bagaimana gereja-gereja yang didirikan, gerakan orang-orang dalam dapat dianggap &amp;quot;ditanamkan&amp;quot; ketika Injil berakar dalam komunitas yang sudah ada sebelumnya. Seperti ragi, Injil menyebar di dalam komunitas. Tidak ada lagi membentuk kelompok gereja baru yang berusaha untuk menjadi seperti sebuah keluarga. Sebaliknya, orang-orang percaya dalam jaringan keluarga atau komunitas yang sudah ada secara bertahap belajar bagaimana menyediakan persekutuan rohani untuk satu sama lain. Jaringan orang percaya ini di dalam keluarga dan komunitas mereka membentuk inti dari sebuah gereja implan. Ikatan relasi yang kuat sudah ada; yang baru adalah komitmen mereka untuk Yesus Kristus. Gerakan implan tidak selalu lebih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;kontekstual&amp;quot; dari gereja yang didirikan. Bahkan jika gereja baru sangat dekat dengan budaya, penciptaan struktur baru sering tidak terlalu membuat jarak orang-orang percaya dari keluarga mereka.3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Melanjutkan Komunitas: Apakah Alkitabiah?===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anggota keluarga seperti milik Kornelius, Lidia dan sipir penjara di Filipi menjadi inti relasional dari banyak gereja yang kita temui dalam Perjanjian Baru. Ini dan contoh-contoh lain mengutamakan keluarga dan komunitas sosial yang lebih besar mengikut Kristus bersama-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa telah melihat penebusan dari komunitas yang sudah ada sebelumnya sebagai penggenapan janji Allah kepada Abraham bahwa dalam keturunannya semua keluarga akan diberkati (Kej 12:3, 28:14). Ketika seluruh keluarga dan klan tidak terputus, melainkan berubah dan dipenuhi oleh Kristus, masyarakat yang lebih luas di mana gerakan-gerakan ini berkembang dapat diberkati dan diubah dalam cara yang signifikan. Injil tidak dilihat sebagai ancaman dan karenanya mengalir dengan lebih mudah ke jaringan relasional tetangga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Dinamika Dua: Orang-orang Percaya Mempertahankan Identitas Sosial-Agama Mereka===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di banyak negara saat ini, hampir mustahil bagi pengikut Kristus yang baru untuk tetap dalam hubungan yang vital dengan komunitas mereka tanpa juga mempertahankan identitas sosial- agama mereka. Di tempat-tempat ini, kata &amp;quot;Kristen&amp;quot; tidak dipahami sebagai mengacu pada orang percaya yang tulus dalam Yesus Kristus. Sebaliknya, istilah &amp;quot;Kristen&amp;quot; memberitahu pikiran tentang kategori sosio-religio-politik. Identitas agama seseorang (M, Kristen, Hindu, dll) sering ditulis di kartu identitas seseorang saat lahir. Mengubah identitas seseorang dari &amp;quot;M&amp;quot; atau &amp;quot;Hindu&amp;quot; untuk &amp;quot;Kristen&amp;quot; biasanya dilihat sebagai pengkhianatan besar dari keluarga dan teman-teman seseorang. Membuat perubahan demikian seringkali ilegal atau tidak mungkin, atau paling banter, dianggap cukup memalukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, Injil dapat menyebar secara bebas di tempat-tempat seperti ini melalui gerakan orang dalam. Gerakan orang dalam memiliki identitas rohani yang baru, hidup di bawah ketuhanan Yesus Kristus dan otoritas Alkitab, tetapi mereka mempertahankan identitas sosio-religius mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===Mempertahankan Identitas: Apakah Alkitabiah?===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah seseorang harus melalui Kekristenan untuk memasuki keluarga Allah? Perjanjian Baru menjawab pertanyaan senada: &amp;quot;Apakah semua orang percaya dalam Yesus Kristus harus  melalui Yudaisme untuk memasuki keluarga Allah? &amp;quot;Adalah penting untuk menyadari bahwa terhadap kedua pertanyaan tersebut, sifat Injil itu sendiri yang dipertaruhkan. Artikel &amp;quot; Lingkaran Kerajaan &amp;quot; menggambarkan masalah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perempuan di sumur awalnya menolak tawaran Yesus akan hidup kekal karena sebagai orang Samaria, dia tidak bisa pergi ke bait suci atau menjadi seorang Yahudi. Tetapi Yesus membedakan iman yang sejati dengan persetujuan agama, mengatakan bahwa Allah mencari &amp;quot;penyembah-penyembah benar yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran &amp;quot;(Yohanes 4:19-24). Menyadari bahwa Yesus adalah &amp;quot;Juruselamat dunia&amp;quot; (ay 42) dan bukan hanya orang Yahudi, banyak orang Samaria di kota itu percaya. Berdasarkan apa yang Yesus katakan kepada wanita di sumur, sangat mungkin bahwa pengikut baru mereka mempertahankan komunitas dan identitas Samaria mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, Roh Kudus dinyatakan kepada para rasul bahwa orang percaya bukan Yahudi tidak harus melalui Yudaisme untuk memasuki keluarga Allah. Di Antiokhia, orang percaya Yahudi mengatakan kepada orang percaya bukan Yahudi bahwa mereka harus mematuhi budaya dan tradisi Yahudi agar sepenuhnya diterima oleh Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak setuju, Paulus membawa masalah ini kepada kepala rasul di Yerusalem. Masalah ini hangat diperdebatkan karena orang Yahudi telah percaya selama berabad-abad bahwa pertobatan ke agama Yahudi dituntut untuk bisa mendapat bagian menjadi umat Allah. Tetapi Roh Kudus menunjukkan kepada para rasul bahwa mereka tidak seharusnya &amp;quot;membebani&amp;quot; pengikut Kristus non-Yahudi dengan tradisi agama Yahudi (Kis 15).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk membuat keputusan ini, para rasul menggunakan dua kriteria:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pencurahan Roh Kudus kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi datang dari Kristus dan bimbingan dari Kitab Suci. Pertama, mereka mendengar bahwa Roh Kudus telah dicurahkan kepada orang-orang percaya bukan yahudi yang tidak mempraktekkan agama Yahudi. Kedua,mereka menyadari Kitab Suci telah menyatakan sebelumnya bahwa ini akan terjadi. Kedua kriteria ini sudah cukup bagi para rasul untuk menyimpulkan bahwa Allah berada di balik gerakan orang percaya baru ini yang mempertahankan budaya dan identitas bukan Yahudi mereka. Oleh karena itu, mereka tidak menentang atau menambah tuntutan atas perubahan agama. Jika kita menggunakan  dua kriteria yang sama ini, gerakan orang dalam menegaskan bahwa orang-orang tidak harus melalui agama Kristen. Sebaliknya, mereka hanya perlu melalui Yesus Kristus untuk memasuki keluarga Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus ingin orang-orang memahami bahwa kebenaran ini telah menjadi bagian dari Injil sejak semula. Dia menunjukkan bahwa Allah berjanji kepada Abraham bahwa semua kelompok orang akan menerima Roh melalui iman dalam Yesus Kristus saja (Gal 3:8-26). Akibatnya, ketika Petrus dan Barnabas menyetujui permintaan seorang tradisionalis yang bukan Yahudi untuk mengikuti kebiasaan Yahudi agama mereka, Paulus di depan publik memarahi mereka karena &amp;quot;tidak bertindak sesuai dengan kebenaran Injil &amp;quot;(Gal 2:14-21). Paulus memperingatkan bahwa untuk menambahkan pindah agama untuk mengikut Kristus akan menghapuskan Injil. Dia juga menegaskan bahwa bukan melalui agama apa pun, tetapi &amp;quot;melalui Injil orang-orang bukan Yahudi menjadi ahli waris bersama-sama di dalam janji Kristus Yesus &amp;quot;(Ef 3:6). Karenanya, seseorang dapat memperoleh identitas spiritual baru tanpa meninggalkan identitas kelahiran seseorang, tanpa memasang sebuah label &amp;quot;orang Kristen&amp;quot;, dan tanpa persetujuan dengan tradisi dan lembaga-lembaga Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarlah bangsa-bangsa bergirang bahwa mereka juga memiliki akses langsung ke Allah melalui Yesus Kristus! Ini adalah kekuatan dari Injil!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{footer}}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Perspektif</name></author>
	</entry>
</feed>